YT Leadership Foundation





Archive for the ‘Puisi’ Category

Rindu … dan harap … bersanak, berkerabat akrab, karip walau tak akur …

Rindu berceloteh dari jiwa gulana, terbabat nan goncang
Rindu menggalau didendang rayu siul dayuan seruling
Rindu bicara dari jiwa tercabik dan menyungsang
Rindu menatap hijauan mencari jawab dari gegunung
Rindu berceloteh mengajak bicara rumput bergoyang …
Namun, rindu merapuh serapuh rasa jiwa senduh tak berjawab dan tumbang …

Rindu, jika perpaling kepada “sang harap” menapak jalan yang kasap
Rindu yang menapak “jalan harap” melihat harapan di balik asap
Harapan bicara tentang Sang AKU ADA yang meng-ADA-kan
Harapan membebaskan dari kungkungan gunungan
Harapan berbagi tentang hari cerah pada esok walau senggang
Harapan melantang tentang pembebasan sekali pun terseok mengangkang …
Harapan, menolak bercakap dengan rumput bergoyang tak berjawab, sekali pun di goyang gancing
Harapan menampik rindu walau menggulung segunung
Harapan mendamai rindu dan harap ke arah gunung …

Rindu, dan harap jika bergandeng harapan, bersua jalan kepada Sang AKU yang Agung
Yang “Pada-Nya” nyata jawab bagi rindu nan berharapan
Karena, tidak keliru jalan pada harap yang menggapai asa kepada Sang ADA, melalui rindu berpengharapan demi berharap, menggapai harapan …

Selamat bergelayut rindu dan harap digendong harapan, bersua Sang ADA yang punya jawab …

Jakarta, 15 Juli 2020
Yakob Tomatala

www.yakobtomatala.com

Tapak Sandya Kala berjaya di kota Raja Besar dalam hadir Sang Janji, sementara menanti “saat terjanji”, sejalan syukuran Hari Perdamaian Besar, yang dihelat anak-anak Bapa Banyak Bangsa …

Sementara itu, Sang Janji telah bertutur tentang Perintah Baru yang harus dilakon dengan handuk dan baskom, …
Sang Janji pun telah memastikan jaminan kesejahteraan, kini, di sini dan di Rumah Abadi, melalui Diri-Nya, Yang Adalah “Jalan, Kebenaran dan Hidup”

Kini, IA angkat bicara soal “Cara Hidup Langit” yang harus ditandakan para Pembelajar dan para yang jadi, milik kesayangan-Nya …
Tegas-Nya, “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu”

Inilah dasar “cara hidup langit di bumi,” yang ditegas ulang, “Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain” …
Cara Hidup Langit itu niscaya …
Cara itu ialah, “hati welas asih, yang memberi tempat utama bagi sesama”, …
Hati yang rela tinggal di dalam Dia, di dalam kasih-Nya, yang melembakkan sukacita-Nya, meneguhkan sikap dan roh rela memberi nyawa, yaitu berbuat Perintah-Nya …

Ini bisa jadi, karena Sang Janji adalah “Pokok Anggur yang benar, dan Sandya Kala adalah Pengusaha” …
Para Pembelajar dan para yang jadi yang “jadi ranting”, pasti berbuah banyak …
Segala pinta didengar, semua damba terjawab, dan Sandya Kala dimuliakan …

Semua berkokoh karena Sandya Kala meneguhkan oleh Roh Penghibur, agar Para Pembelajar dan para yang jadi, yang terpilih bisa melakon peran saksi terutus, yang hadir dan memberkati pembenci yang meradang, meringgis, dan meranggas, yang meluber angkara …

Cara Hidup Langit mengukuh karsa lembut para saksi demi berkuat, bertahan sampai bersua Sang Janji di Rumah Abadi, …….

Selamat menghidupi Cara Hidup Langit dalam kefanaan, demi memuliakan Sandya Kala, Sang Abadi secara membumi … Salam

www.yakobtomatala.com

Sandya Kala masih bertapak di Kota Raja Besar dalam hadir Sang Janji yang meneguh berkat bagi yang terjanji … di tengah ancaman yang mengelisahkan

Sang Janji berbagi rasa dengan para Pembelajar, bertutur soal kegelisahan dan sejahtera langgeng di Rumah Abadi, Singgasana Sandya Kala … memenuhi kerinduan sejahtera dari para terjanji yang gelisah hati
Janganlah gelisah hatimu, percayalah kepada Sandya Kala, Sang Bapa dan percayalah kepada-Ku,” pungkas-Nya pasti
“Aku harus pergi dan kembali, ‘supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada’.” Jaminan-Ku adalah “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu.”

Dan semua terjamin “Sang Penolong, Roh Sandya Kala, Roh Kebenaran, Roh Penghibur” Yang menyertai dan diam dalam kamu. Dan ingatlah, “Aku pergi dan Aku akan datang kembali”

Bagi pengelisah ambigu yang gagal sadar, KU ulangi, ingat saja bahwa Aku pergi dan akan kembali
Dan, jika kegelisahan menghantui, sadarlah bahwa:
Aku adalah JALAN satu-satu-Nya kepada Sandya Kala, pokok sejahtera abadi Penghibur Peneguh Harapan;
Aku adalah KEBENARAN satu-satu-Nya, yang pada-Ku ada damai dan sejahtera berketenangan abadi;
Aku adalah HIDUP Abadi dari Sandya Kala, Pemberi Hidup Kekal, yang memberi hidup mengabadi di tengah kegersangan yang gerontang …
Batu ujinya adalah, Barang siapa melihat Aku, kamu melihat Sandya Kala, Bapa Kekal dalam kefanaan yang mengelisahkan sekali pun …

Tanyakan padamu dan jawablah dari dadamu, sikap terhadap Sang Janji, Sang Jalan, Kebenaran dan Hidup: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti Firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia”
Bukankah ini lebih dari cukup?
Karena itu, “yang terjanji, yang fana, yang mengalami Sang Janji akan ada di Jalan Benar, Kebenaran Benar, dan Hidup Benar dan menikmati sejahtera abadi di kekalutan yang mengelisahkan”
Karena “Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku, bangunlah, marilah kita pergi dari sini” …
Mari, teruslah terbangun bejalan bersama dalam sejahtera-Ku …
Masih ambigu?

Selamat bagi para pencari gelisah yang telah mengalami Sang Janji, Sang Jalan, Kebenaran dan Hidup Pemberi Sejahtera, dan setia taat berjalan terus di dalam DIA …

www.yakobtomatala.com

Tapak Sadya Kala merona sejarah dalam siarah Sang Janji menuntas kerja keterutusan, demi meruak, kembali ke Asal Dari Mana IA datang

Sang Janji di Kota Besar, dalam arakan syukuran Hari Raya Pembebasan Besar, bersama semua anak Bapa Banyak Bangsa …
Sang Janji bicara tentang Diri-Nya, Misi-Nya, bahwa “… saatnya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Sandya Kala, Sang Bapa” …
“Sandya Kala telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa IA datang dari Sandya Kala dan kembali kepada Sandya Kala” …
Sang Janji, dengan kuasa Pengutus, tertegas Sabda,
“Aku tahu, siapa yang telah kupilih”
“… barangsiapa menerima orang yang Ku-utus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku” …
Yang menerima, akan tahu dengan tepat:
Aku adalah TUHAN dan Aku adalah Guru, Pemberi bagian dalam Aku, kepada para terpilih;
Aku adalah TUHAN dan Aku adalah Guru, Pembersih ternoda legam demi berbesih diri, berbijak hati;
Aku adalah TUHAN dan Aku adalah Guru, Pemilik Hidup berteladan yang tidak lekang di panas dan tak hancur di hujan yang dilakon dalam sikap “kain lenan (handuk) dan basi (baskom) penanda pelayan (diakonos) dan hamba (doulos) demi hidup dalam kebenaran dan kebaikan; dikokoh “sikap berwelas asih yang rela berkorban dan menanggung akibat pengorbanan; rela memberi dengan menghargai penerima; dan rela menjamin tuntas dengan memikul beban yang dikasihi” …

Yang terpilih akan sadar, “kamu wajib saling membasuh kakimu” sebagai tanda hidup terpasak ke bumi demi kehidupan bersetia bertaat ke akhir …
Namun, yang gagal paham handuk dan baskom, yang pangling welas asih, gagal memberi hati dan menjadi “penyangkal”, diperolok kokokan ayam
Dan, yang tidak terpilih, tidak bersih diri, gagal melayani dan menghamba, tercerobos jadi “penghianat, pengangkang yang tegah membelakangi, menghianat, menjual yang Terjunjung” karena hati yang dirasuk IBLIS …

Yang terpilih akan eling, bersehat hati, berbijak sikap melakon Perintah Baru, “supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian, semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” …

Ini, demi menjejak tapak Sang Janji, berbagi siarah selama membumi demi memberkati yang terfana, menjejak langkah ke tempat DIA pergi, dengan bersudi jiwa memberi nyawa untuk memperolehnya kembali …, melayani, menghamba dalam welas asih berbagi hidup, memberkati …

Selamat mengenakan handuk, mengendong baskom, bertunduk diri dalam welas asih demi hidup bagi Sang Janji untuk memberkati, dan menantang penghianat yang gemar berhianat …

www.yakobtomatala.com

Tapak Sandya Kala bertapak di Kawasan Luar dalam kelana Sang Janji, menjelang Hari Besar Pembebasan, di mana mata anak-anak Bapa Banyak Bangsa tertuju ke Kota Raja Besar mewujud rindu berteduh simpuh di pelataran Rumah Kudus

Dalam kelana Sang Janji, para pembelajar dan para yang jadi terhenyak ironi fakta menghancur jiwa, “rajutan hati berubah dari sakit menjadi mati, meremuk batin sesanak, di Rumah Pohon Ara”

Kini dari yang hidup, berjadi sakit dan mati, jadi taruhan Nama Besar Sang Janji:
Betapa tidak, kala ada mati, IA bicara tentang “penyakit yang tidak membawa kematian,” ada yang mati, IA bertutur tentang “mati sebagai tidur” yang senyatanya, “yang mati menghadirkan rasa hilang, pedih, gerir dan gunda” bagi para tercinta yang tertengarai cercah harap, “sekiranya Dikau ada, ia pasti tidak mati!”

Di tengah sedak senduh getir rasa dari galaunya rasa kelam, Sang Janji bertegas Sabda, “yang jadi yang di sapa Tuhan Penolongku sudah mati”
Mengapa? Hm …
“Mati bersading hidup, supaya Anak Allah di muliakan”
“Mati berpasang hidup, supaya kamu belajar percaya”
“Mati berpindah hidup, supaya berteguh kredo, ‘Ya TUHAN, aku percaya bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah’ “
“Mati berganti hidup, supaya kamu tahu bahwa AKU ada di tengah yang mati, untuk memberi hidup, karena AKU-lah Kebangkitan dan Hidup
Mati menjadi hidup supaya “anak-anak Bapa Banyak Bangsa” melihat kemuliaan Allah
Mati, menjadi hidup “supaya mereka percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” dan beroleh HIDUP

Dan, dalam seru keras “Lazarus, marilah ke luar! Yang mati, terbangkit hidup! Menggemparkan, memicu vanyak percaya!
Dan … merangsek gelombang gaduh!
Penghulu Besar Pembela Agama, berputus kata,
YANG HIDUP harus mati ganti yang mati dan semua yang mati” karena “lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa ini binasa”
Akhirnya “jejala terpasang, agar Sang Janji, Sang Kebangkitan dan Hidup mengalami mati untuk memberi hidup yang tidak terbinasa kepada yang mati dari segala bangsa, untuk semua kurun …
Semua dari Sang Janji yang mati untuk hidup dan memberi hidup, tersaksi sejarah Hari Besar Pembebasan …,
di Golgota … untuk mati dan bangkit memberi hidup tak terbinasakan … bagi banyak bangsa!

Salam kehidupan dari Sang Janji, bagi yang mati dan tahu bahwa ia mati dan terhidupkan oleh Sang Kebangkitan dan Pemilik Hidup

www.yakobtomatala.com

Tapak Sandya Kala bertapak di Kota Raja Besar, di Pelataran Rumah Sesembahan, pada Hari Suci Pentahbisan Rumah Kudus, dalam cuaca yang membangkitkan kuduk, menggemetar raga, menggelegar, mengharu jiwa …

Sandya Kala dalam hadir Sang Janji, bertutur tentang Kepemimpinan, Pemimpin dan Kepengikutan:

Bagi Sang Janji, kepemimpian adalah kehidupan yang memberi hidup
Kepemimpinan adalah kandang berpagar batu di hamparan padang pengembalaan sebagai tempat kehidupan dan hidup
Kepemimpinan dibangun di atas kesatuan allahi mengokoh karsa, meneguh karya

Kepemimpinan adalah otoritas kehidupan yang memberi hidup di dalam dan di luar kandang bagi yang ada serta yang akan ada
Kepemimpinan adalah Pintu kepada kehidupan dan hidup yang berselamat sejahtera bagi Pemimpin yaitu Gembala serta Pengikut, yaitu domba-domba dari kandang ke padang dan dari padang ke kandang

Dari kesatuan Allahi Sandya Kala Sang Sang Janji, datang impartasi otoritas kepemimpian

Pemimpin di panggil menjadi Pemberi Hidup, the life giving, dan the life serving bagi kehidupan
Karena itu:
“Pemimpin sejati masuk melalui pintu dan menjadi Pintu
Pemimpin sejati diberi otoritas memberi hidup bagi kehidupan yang berkelimpahan

Pemimpin sejati sadar bahwa ia adalah Gembala, yang harus memimpin dari integritas sebagai gembala yang baik dan komitmen berkorban dengan memberi nyawa serta memimpin dari bawah guna menjadi hidup dan memberikan kehidupan

Pemimpin sejati berjalan di depan menjadi segalanya bagi para yang jadi yaitu para domba, dalam kepengikutan

Pemimpin sejati mengenal dombanya dengan nama untuk disapa,
membuka pintu untuk dibawa masuk memperoleh selamat, dibawa ke luar serta menuntun menemukan padang hijau

Pemimpin sejati memimpin dari HATI berlandaskan KASIH dengan kekuatan KEBENARAN dan KEBAIKAN dari Sang Janji” Pemilik dan Pemberi Kehidupan …

Bagi Sang Janji, para yang jadi adalah pengikut dalam kepengikutan,
Para yang jadi adalah domba gembalaan

Domba gembalaan harus mengenal suara gembala,
harus mendengar suara gembala, dan
harus mengikuti gembala kepada kehidupan untuk memperoleh hidup dan kehidupan

Dasar bagi yang ini ialah:
Organisasi adalah organ persatuan bukan persaruan
Organisasi adalah gambaran persekutuan Sandya Kala Sang Janji, yang adalah Pintu kepada hidup abadi bersejahtera kekal
Organisasi dan kepemimpian adalah kandang aman bagi domba yang harus menjadi sembelian namun, menjadi hidup dalam kehidupan Sandya Kala yang tidak terbinasakan …

Semuanya adalah karena Sang Janji adalah Yang Diurapi, Yang Terutus, menjadi PINTU kepada hidup dan Gembala Baik Pemberi kehidupan kekal dan sejati untuk semua yang terpanggil …

Selamat mendengar Panggilan Gembala Baik untuk menjadi Pintu kepada keselamatan dan kesejahteraan dengan memimpin untuk menemukan rumput yang hidup, bagi kehidupan kekal, “yang tak lekang pada terik mentari, dan tak lapuk kala kebanjiran” …

Salam Kepemimpinan

www.yakobtomatala.com

Tapak Sandya Kala berdebam dalam hadir Sang Janji, di jalan ke Kota Raja Besar, dengan sederet pandangan mata menyentuh pengalaman piluh para yang jadi, memiluhkan rasa berlegam yang membuta …

Tapak itu bersenyap dalam siarah Sang Janji menyentuh pengalaman yang jadi, yang buta, yang nista, dinista dalam tenor cemoh senada yang menyakit bagi yang sakit, “siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya?”
Yang mana yang benar, yang kebenaran?

Yang tidak melihat, yang jatuh tertimpah tangga, tertopang Sabda Terang Dunia, Anak Manusia, yang bicara tentang kebenaran:
“Yang buta adalah wadah kerja Sandya Kala,
Yang buta adalah batu uji, siapa buta sungguh, siapa awas waras,
Yang buta adalah kompas Sang Janji Yang Terjanji, Jurukata, Yang Diurapi, yang dengan olesan tanah dan basuhan air Siloam, mencelik membuat melihat indahnya Buah Tangan Sandya Kala”
Ini mujizat …!

Namun, sang tercelik, mengundang debat Pembela Agama:
“Ini hari Suci, Sang Janji disangkahkan tertuduh, ‘Orang ini tidak datang dari Allah, sebab tidak hormat hari Suci,’
Siapa mengakui Dia sebagai Yang Diurapi, terkucil …”
Namun, lagi, yang sungguh melihat karena tercelik, tidak tercekik akal bulus, dan lantang menantang: “satu hal aku tahu, … aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat”
Saksi sang tercelik pengunci debat:
Mari, bicara kebenaran,
Adakah Sandya Kala mendengar orang bernoda?
Adakah yang tidak datang dari Sandya Kala memelekkan yang dari lahir bergelap mata dan bermujizat?
Pembela Agama yang kalah debat, menendang sang tercelik dalam hardikan kekalahan, … ke luar!

Sang Janji melerai, dan menegas kebenaran, “ini kerja Sandya Kala, yang menghadirkan Kuasa Anak Manusia, Sang Janji dengan tuntutan: Percayakah engkau …? Dan, bersambut: ‘Aku percaya, TUHAN!’.”
Mujizat adalah tanda hadir Sandya Kala dalam Sang Janji, yang bertegas Sabda: “Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta”

Apakah saya buta? Kalau saya melihat, maka saya buta!
Tetapi, jika saya buta, maka oleh Sang Janji saya dapat melihat keselamatan-Nya, dan percaya!
Inilah kebenaran, ini mujizat …

Selamat melihat kebenaran mujizat dari Sang Janji ….

www.yakobtomatala.com

Tapak Sandya Kala berkokoh di Kota Raja Besar, pada Pelataran Rumah Suci dalam kehadiran Sang Janji di dalam kurun yang berubah

Tapak Sandya Kala membahana bertutur tentang kebenaran … oleh Sang Janji yang menanggap kebenaran yang muncul terbalik …
Betapa tidak, tertuduh yang diciduk dari bordil, dituntut sebagai pelanggar, dan dengan melanggar “kebenaran hukum,” …

Namun Sang Janji yang berkutat memegang kebenaran sejati, tegar pada kebenaran … dan melakukan kebenaran dalam seru … :
“Barang siapa benar dan benar-benar benar, ‘hendaklah ia yang pertama melemparkan batu …’ dan ternyata kebenaran hukum yang salah terap oleh para Penuduh berkedok taat agama, menyisahkan perintah bersolusi, ‘Aku … tidak menghukum engkau, pergi, dan jangan berbuat dosa lagi …”

Sang Janji yang adalah kebenaran, bicara tentang diri-Nya, “Akulah terang dunia, para pengikut-Ku, akan mempunyai terang hidup, dan berjalan di dalam terang …”

Ini kesaksian tentang Anak Manusia, yang akan terbukti dalam peninggian-Nya yang menghadirkan “kebenaran yang memerdekakan …..”
Kebenaran yang memerdekakan memastikan “siapa-siapa sejatinya turunan Leluhur, Bapa Banyak Bangsa” … pewaris hidup abadi …
Karena, kebenaran sejati membebaskan dari maut, untuk tidak mengalami maut, dengan berkutat pada kebenaran, hidup dalam kebenaran … dari Sang Janji

Sang Janji adalah Petaruhan kebenaran, karena IA ada sebelum Leluhur Besar ada, Sang Penjamin yang memastikan bahwa yang benar yang sejati, akan taat kepada Sabda,
dan … tidak membiarkan Rumah Suci dikotori ketidak adilan, ketidak benaran …

Dengan kesaksian yang mengoncangkan ketidak benaran … walau pun Sang janji menghilang dan pergi, kebenaran tetap terpancar dari Rumah Suci …

Selamat berkutat dalam kebenaran yang menerangi hidup, untuk hidup menggusur yang gelap …

Salam kebenaran,

www.yakobtomatala.com

Tapak Sandya Kala menapak dalam hadirnya Sang Janji yang berkelana di utara, sampai ke Pelataran Kota Raja Besar pada Pesta Pondok Daun …

Kisah juang Sang Janji bergaung keras dimulai dari situs perhelatan air jadi anggur, penyucian Balai Sang Kekal, bincangan di ruang kuliah Guru Besar, konseling di sumur, penyembuhan anak sekarat, menapak di atas air, pencari sehat di kolam bergoyang, epok lima roti-dua ikan, … yang merebak kisah populer menghiruk, memperangah penjadi jelata, mengusik telinga Pengayom Iman, merong-rong Pemegang Tongkat Kuasa yang menggaruk kepala yang tak gatalan,
dan menyimpul, …….:

“Yang Ini harus dibasmi, karena merasuk hasut para penjadi, dengan disangka Jurukata Sang Kekal, Yang Diurapi Sandya Kala ….. Yang Dinanti Umat Terjanji,”
berita baik yang menggusar pencinta kuasa, penikmat status quo, kecemplung air panas …

Situasi panas adalah air keruh, bagi penebar pancing dari prinsip “tidak seorang pun berbuat sesuatu di tempat tersembunyi, jika ia mau diakui di muka umum”

Namun, Sang Janji tidak terpancing popularitas, karena: Karya-Nya berkisah tentang Ada-Nya Yang Abadi, yang dengan otoritas menyeru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!Barangsiapa percaya kepada-Ku, ….. Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup … karena Aku Sumber Air Hidup, Yang Diurapi, Aku Titisan Raja Besar, yang bernama yang tidak perlu nama”

Sang Janji Bernama Abadi Yang Oto-populer, yang mengabaikan “mencari nama,” karena IA adalah Kuasa Yang Tidak Terjamah, oleh pendeknya tangan kotor bermotif iman,

IA adalah Sumber dan Pemberi Air Hidup yang melegahkan pendahaga … oleh ancaman wabah … kapan pun dan di mana pun … datang, minum Air Hidup dan … sembuh

Selamat Minum Air Hidup untuk para Pendahaga, supaya hidup yang dari dalamnya mengalir aliran-aliran air hidup dari Pemberi Hidup bagi yang sekarat di bumi yang melarat …
Salam Paskha!

www.yakobtomatala.com

Tapak Sandya Kala, Sang Kekal, membumi dari pelataran Kota Raja Besar menelusuri setapak ke dalam keheningan beningnya sumber penglilang dahaga, berjejak di atas “gunung berkat”

Dahaga “para yang jadi” terbius “tanda ajaib” Sang Janji, memviral dari hunian para yang berada sampai ke gubuk tak perpunya
Berbondong menguntit Sang Janji, karena “tanda kekal di mata yang fana,” merongrong rasa menggerak karsa, memuncul tanya,
Apakah DIA Yang Terjanji dari Sandya Kala …….

Sang Janji, merangkum kata, penguji iman, “Di manakah kita dapat membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?”
Sebagai tanya berjawab penggugat iman, penguji takaran rasio, “untuk roti sepotong kecil?”
Terperangah sergah perintah, “Suruhlah orang-orang itu duduk”
Hm, …. duduk untuk sepotong kecil roti?
Namun, … dalam kuasa syukur Sang Janji, lima (5) roti jelai dan dua (2) ikan, mengenyangkan lima ribu (5000) dan tersisa dua belas (12) bakul potongan-potongan roti … semua merujuk jawab abadi, Akulah roti hidup; barang siapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barang siapa percaya kepada-Ku ia tidak akan haus lagi, “makanan yang bertahan sampai hidup kekal”, tanda meterai Sandya Kala, melebihi kuasa raja bumi …

Ini perintah iman …
Semua yang datang dan “duduk”, adalah pemberian Sandya Kala, Bapa Kekal
Semua yang melihat dan percaya, beroleh hidup kekal
Semua yang ditarik Sandya Kala, akan dibangkitkan Sang Janji, setelah semua yang fana berakhir …
Semua, karena Sang Janji adalah Roti Hidup yang turun dari Sorga, sehingga semua yang makan pasti hidup dan tinggal di dalam-Nya, hidup di dalam-Nya …

Yang berkerdil akal, pasti pergi …. dan binasa
Yang terundang dan duduk, pasti dikenyangkan Roti Hidup, dan menyanjung “Sang Janji”, Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah

Sepotong roti dalam tangan Sang Janji, Sang Penghidup bagi yang percaya, dan makan Roti Hidup, meneguhkan hidup abadi yang tidak dapat binasa …

Selamat duduk dan makan Roti Hidup untuk hidup abadi, dalam potongan roti Pemberian Sandya Kala, yang pasti akan tersisa banyak …

www.yakobtomatala.com