YT Leadership Foundation





Archive for the ‘Puisi’ Category

Tapak Sandya Kala berjejak dari lapak tukang kayu yang senyap tidak bersenyap, dengan jejak-jejak ke Hajatan Bahagia
Merangkai kisah Sang Sadya Kala,
Sang Janji, berkelana menapak persada, dari ruang ke ruang, dari lapak ke hajatan, menyusupi dunia hura-hura, lorong-lorong tempat yang lara dan cicipan penghangat penghajat dan penjadi
demi yang lara serasa istana, yang papa serasa jaya dalam kefanaan

Dalam hajatan,
Sang Sandya Kala bersabda Sang Janji bicara, “AKU ada di suka, siap menyambut duka”
Kala suka, para penjadi terkikik, merona dalam nikmat kesementaraan, terlelap dalam gemerlap kesementaraan
Namun terperangah, kala kesementaraan berganti dalam bisikan lara, “mereka kehabisan” …,
Bisikan lara pencoreng wajah berpupur, penyemai gunda dalam canda penghajat

Di sini, tapak kelal dari Sang Janji berjejak di ruang kesementaraan,
dengan “segelas anggur asli”, demi penghajat naik kelas
Segelas anggur pencelik mata berdecak lidah
Segelas Anggur bicara tentang Sang Janji,
IA Sang ADA, Yang ADA dan Ber-ADA kekal, Penjadi Kekal dari semua yang terjadi,
yang ADA dalam keabadian, berjejak dalam kesementaraan, demi menjadikan yang sementara mengabadi

Dari Tapak Kekal yang Berjejak dalam hajatan, dan Segelas Anggur sebagai saksi,
Sang Abadi berwujud dalam kesementaraan, demi bicara, tidak ada yang mustahil Jika Tapak Kekal berjejak dalam ruang kehidupan, bagiku, bagimu, … kini, di sini, dan di semua ruang, di suka, di duka, sehingga semua … “berselamat dan bahagia, bersulang bersama Sang Janji” di pesta mau pun di rumah kesenduhan! Selamat …

Sahabat dalam suka, kerabat dalam duka
www.yakobtomatala.com

Tapak Sang Sandya Kala telah menjejaki bumi, tertoreh dalam arakan kisah suci, berpuncak pada hadirnya Sang Janji, dengan cerita emas dari Rumah Roti, yang hadir senyap di Lapak Tukang Kayu

Dari sini muncul tanya berjawab, “mengapa”?
Sang Sandya Kala punya racikan, Sang Janji adalah Puncak Tapak-Nya di persada
Sang Janji yang pada mula-Nya ADA, dan Yang ADA, adalah Sang Sandya Kala, yang Abadi dari Keabadian, Yang Penjadi dari semua “yang jadi” dan “semua yang ter-ada”

Sang Janji adalah Penyataan Sang Sandya Kala, Yang Hidup untuk menghidupkan, Yang Terang untuk menerangi hidup, dengan menjadi “yang jadi” untuk menjadikan “yang jadi” untuk menjadi …..

Namun, persada berbuta mata, tidak melihat, dan “yang jadi”, yang milik-Nya, yang kepadanya Sang Janji berwujud, ogah menerima-Nya …
Tetapi, “yang jadi” yang tercelik dan berbuka hati, mengalami, melihat Terang dan Hidup, sehingga terhidupkan menjadi abadi untuk keabadian”

Mengapa? Lanjut tanya berjawab, karena Sang Janji adalah “Yang Diurapi”, “Yang Sandya Kala”, “Yang Menjadi Yang Jadi” sebagai “Sembahan” untuk menuju pejagalan ke bukit derita …
demi membebaskan “yang jadi” menjadi abadi, …

Dari sini, Sang Janji yang dari lapak senyap merengkuh yang lapuk, menghadirkan Terang dan Hidup di persada, sehingga semua “yang jadi” punya cerita abadi, “mengabadi bersama Sang Janji” …

“Selamat Berbahagia bersama Sang Janji”!

Jakarta, Januari 2020
www.yakobtomatala.com

Tapak yang Sandya Kala itu membumi, mengabadi di tanah, meninggalkan jejak-jejak dalam siarah zaman

Jejak-jejak itu tertapak, kala Sang Sandya Kala, Sang Kekal bersabda “jadilah, … maka semua jadi”, termasuk “yang jadi”, yang analog, sesempurna diri Sang Abadi
Namun, jejak dalam “yang jadi” itu terkotori di taman suci, yang menggerogoti “yang jadi” sehabis-habis dan melumatkannya, sampai melesapkan daya
Namun, Sang Sandya Kala menyusulkan janji pembebasan “Aku akan mengadakan …” dengan Sang Janji sebagai taruhan …

Janji tentang “Sang Janji” tertapak dan ditelisik oleh para “jurukata”, bahwa Sang Janji adalah Sang Kekal yang Penasehat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa Kekal, Raja Damai, Sang Imanuel, …
akan ada di hunian Raja Besar, dibesarkan di lapak tukang kayu,
dimeriahkan di pesta nikah, disyukuri dalam kesembuhan, dikisahkan di jalan raya ibu kota, dipercakapkan di lorong-lorong kampung nelayan, diguncingkan di tengah derap bajak petani, dipertanyakan di kerumunan penghuni lahan sampah, dan menimbulkan tanya risau menggalaukan tak berujung di antara penguasa, sampai memuncakkan-Nya di Bukit Tengkorak,
dan … ujungnya, pada Sabda Kemenangan Sang Janji, “sudah selesai …”

Kini, di sini Sang Sandya Kala, Sang Janji, Pembasuh semua yang terkotori, sedang mencari jejak-Nya, … adakah jejak-Nya tertapak di hati, di jiwa, di roh, terukir dalam kata, terkata dalam kerja yang aromanya terendus pada tiap hembusan nafas … dari “yang jadi?”

Para terjamah Sang Kekal sajalah yang terkuatkan dan sadar bahwa “jejak tapak itu tertanda 12 bulan, 52 minggu, 365 hari, 8760 jam, 525600 menit dan 31536000 detik, pada setiap tarikan nafas, kata dan kerja dan …” terulang, sampai ke suatu akhir

Pada ujungnya,
Tapak Kekal itu tersaksi dalam kefanaan yang dibaharui dan dibaharui
Terdanda dalam nada “haleluyah dan syukur”
Teralami dalam berkat kekal di hidup, di kerabat dan di setiap tetesan keringat
Terjalani dari pagi ke petang, dan berjejak di malam pada helaan nafas akhir, kala Sang Kekal bersabda, “pulanglah!”
Jejak itu terus tertanda sampai Sang Abadi menghadirkan keabadian yang abadi untuk dipestai dalam kekekalan …
Selamat

Selamat Tahun Baru 2020
www.yakobtomatala.com

Tapak itu di tapaki sandya kala dalam rancang abadi
Tapak itu nyata, kala Sang Kekal mencipta jagat dengan Sabda Abadi ….
Untaian emas penghubung tapak-tapak itu nyata dalam sejarah suci, dengan “Sang Janji” sebagai Poros-Nya

Dari Para Jurukata Sang Kekal,
tapak-tapak itu diperjelas, bahwa “Sang Janji” adalah: Dia Yang Diurapi,
Sang Kekal,
Sang Raja Damai,
Sang Terutus
ke dalam ciptaan

Tapak TUHAN oleh Sang Janji, Sang Terutus, senyap ditapaki, sekalipun di Rumah Raja Besar
Yang saksi tapak TUHAN oleh Sang Janji, adalah sepasang anak Adam, dan mereka yang tak bernama
Namun, Tapak TUHAN oleh Sang Janji diperjelas oleh Para Malak dengan Pujian,
“Hari ini telah lahir bagimu, Juruselamat” …
Karena Sang Janji adalah Puncak Tapak TUHAN yang menjejak bumi, bagi pembebasan dunia

Dan, Tapak itu semakin jelas kala Sang Janji Bersabda, “Aku diurapi, Aku diutus untuk menghadirkan pembebasan,
untuk menghimpun bagi Sang Khalik suatu Umat Kudus”

Puncak Tapak TUHAN dari Sang Janji akhirnya menuju ke Bukit Tengkorak,
di sana dengan tetesan darah suci, Sang Janji menyelesaikan masalah dunia melalui penyerahan Diri-Nya yang ditanda Sabda, “Sudah Selesai” …

Kini, kala Tapak itu diorak baru dalam Natal, timbul tanya gemas:
“Apakah pembebasan Sang Janji terbaharui?
Adalah Tapak itu tertanda dalam jiwa Para Peraya Natal?
Adakah Tapak itu tertanda dengan Damai Abadi untuk ditapaki ke dalam dunia?”

Akhirnya, Natal Bicara,
“Jadilah Tapak-tapak TUHAN, demi membawa damai ke dalam kekelaman”

Selamat Natal ….

Jakarta, 29 November 2019
Yakob Tomatala
www.yakobtomatala.com

Ibunda…..
Tidak banyak hal yang kupahami tentang dikau
Tidak banyak rasa yang kuselami dari hatimu
Tidak banyak ceritamu yang kuresapi, bahkan tidak dapat kuhayati senangmu …, sedihmu …!

Tetapi,
ADA-ku … adalah hebatmu …
Majuku adalah tabahmu dan kerjamu …
Betapa tidak,
Demi menyenangkan … dikau rela bungkam
Demi menyemangati dikau rela senyum tatkala hari kelam dan hati sedang terajang sembilu …

Sadarku, …
Kehebatan IBUNDA adalah: “komitmen, kesetiaan, ketabahan, ketekunan, kegigihan, kecintaan, kerajinan, kesabaran dan semua yang hebat dalam menopang AYAHANDA mengayomi, memelihara serta melindungi keluarga, membesarkan buah-buah hati.”

Ibunda …
Hebatmu … membuat hidup jadi bermakna
Tangguhmu … menempatkan para penetek di masa depan yang berjaya
Harga semua jerihmu tidak akan terbayar
Hanya, kujunjung di pucak ubun dengan kata bermakna: “Terimakasih Ibunda, …”
Kata yang tidak pernah terlambat diucapkan, kapanpun, untuk… Ibunda ….!

Jakarta, 30 Mei 2017
Yakob Tomatala
Anakmu …

Jika waktu itu datang, …
Janganlah meratap tentang kematian …
Janganlah bersedih tentang perpisahan …
Janganlah berpahit hati tentang ketiadaan …
Janganlah perputus asa tentang kepergian abadi …

Tetapi,
Bernyanyilah dengan hati riang
Berdendanglah tentang kebahagiaan Bergembiralah karena sukacita kehidupan
Bertempiklah sebab panggilan surgawi itu datang
Di mana di dalamnya ada HIDUP KEKAL bersama Juruselamat
Ada perjumpaan bersama para kekasih yang telah berjalan dahulu Ada sukacita tidak terkatakan karena imbalan dari Juruselamat
Dengan kedamaian abadi duduk di kaki-Nya
Menatap wajah-Nya
Bergembira bersama para saleh Menikmati harapan dari kefanaan
Di dalam pelukan cinta Juruselamat Dalam hidup mengabadi bersama-Nya ……

Jakarta, 29 Mei 2017
Yakob Tomatala
Ayah, Kakek, Guru,
Kekasihmu

Kalau,
DIA dapat dimengerti,
maka hidup di tangan sendiri
Kalau,
DIA bertakdir ria,
maka hidup laksana robot

Namun,
Dari DIA, ”
“AKU adalah AKU,” “ALPHA-OMEGA,” Berdaulat, Mahakuasa, Mahakasih, Mahabenar, Mahaadil, Mahakekal, Mahapencipta, Mahahadir, Mahabijak, semua ADA ……

AKU,
AKU tahu
engkau siapa,
mengapa engkau ada,
untuk apa,
mau ke mana, dan
bagaimana …
Sehingga kefanaan berhingga, mengabadi pada-KU

AKU,
Mahatahu, Perakhmat rindu para malak
Mahapenyedia, Pemberi untuk digapai, tanpa keringat
dari sadar nurani

MENCARI UNTUK DICARI
AKU,
dari isi Hati, yang mencari,
ditemukan untuk ditemui, menghadirkan AKU di jalanmu menghasrat jawab
lebih dari yang diperlu …
Cukup …….!

Jakarta, Maret 2017
Yakob Tomatala www.yakobtomatala.com

Negeri ini adalah cerita tentang air mata dan darah
Air mata dari hasrat kebebasan yang harus dibayar dengan darah

Air mata yang relah mengorbankan diri untuk bermandi darah
Air mata yang sejatinya adalah cita kebebasan yang taruhannya adalah tumpahan darah

Cita kebebasan sejatinya diperjuangkan dengan airmata sampai tetesan darah terakhir
Cita kebebasan yang diperjuangkan seperti ini tidak menumpahkan darah orang yang diikuti tetesan air mata

Cita kebebasan adalah nurani komunitas yang harus diperjuangkan bersama dengan bercucur air mata dan berkeringat darah bersama
Cita ini adalah kerja-kerja-kerja demi menggapai kebebasan dari belenggu kemiskinan agar tidak ada lagi tumpahan darah dan tetesan air mata

Gapaian cita ini adalah rengkuhan asa mengubah air mata menjadi mata air di Tanah Tumpah Darah
di mana tidak akan ada lagi tumpahan darah dan air mata

Jakarta, Maret 2017

TUHAN,
Dari Sabda-Mu, kami tercelik bahwa toleransi berarti sikap yang memandang sesama sebagai sesama manusia
Tatkala manusia membinatangkan sesamanya dengan mencurigai, memusuhi, merusuhi, bahkan  mengambil nyawa, sadarkanlah kami bahwa sikap ini adalah manusia yang tidak manusiawi, karena menganggap sesamanya sebagai binatang, dan dia berjiwa … sekeji binatang Read the rest of this entry »

LORD 

I know that hope is an END

For nothing is beyond HOPE

Hope means all that exist have perished,

For nothing exist after all have fadeth

Read the rest of this entry »