YT Leadership Foundation





Archive for the ‘Puisi’ Category

Tapak Sandya Kala bertapak di Kawasan Luar dalam kelana Sang Janji, menjelang Hari Besar Pembebasan, di mana mata anak-anak Bapa Banyak Bangsa tertuju ke Kota Raja Besar mewujud rindu berteduh simpuh di pelataran Rumah Kudus

Dalam kelana Sang Janji, para pembelajar dan para yang jadi terhenyak ironi fakta menghancur jiwa, “rajutan hati berubah dari sakit menjadi mati, meremuk batin sesanak, di Rumah Pohon Ara”

Kini dari yang hidup, berjadi sakit dan mati, jadi taruhan Nama Besar Sang Janji:
Betapa tidak, kala ada mati, IA bicara tentang “penyakit yang tidak membawa kematian,” ada yang mati, IA bertutur tentang “mati sebagai tidur” yang senyatanya, “yang mati menghadirkan rasa hilang, pedih, gerir dan gunda” bagi para tercinta yang tertengarai cercah harap, “sekiranya Dikau ada, ia pasti tidak mati!”

Di tengah sedak senduh getir rasa dari galaunya rasa kelam, Sang Janji bertegas Sabda, “yang jadi yang di sapa Tuhan Penolongku sudah mati”
Mengapa? Hm …
“Mati bersading hidup, supaya Anak Allah di muliakan”
“Mati berpasang hidup, supaya kamu belajar percaya”
“Mati berpindah hidup, supaya berteguh kredo, ‘Ya TUHAN, aku percaya bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah’ “
“Mati berganti hidup, supaya kamu tahu bahwa AKU ada di tengah yang mati, untuk memberi hidup, karena AKU-lah Kebangkitan dan Hidup
Mati menjadi hidup supaya “anak-anak Bapa Banyak Bangsa” melihat kemuliaan Allah
Mati, menjadi hidup “supaya mereka percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” dan beroleh HIDUP

Dan, dalam seru keras “Lazarus, marilah ke luar! Yang mati, terbangkit hidup! Menggemparkan, memicu vanyak percaya!
Dan … merangsek gelombang gaduh!
Penghulu Besar Pembela Agama, berputus kata,
YANG HIDUP harus mati ganti yang mati dan semua yang mati” karena “lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa ini binasa”
Akhirnya “jejala terpasang, agar Sang Janji, Sang Kebangkitan dan Hidup mengalami mati untuk memberi hidup yang tidak terbinasa kepada yang mati dari segala bangsa, untuk semua kurun …
Semua dari Sang Janji yang mati untuk hidup dan memberi hidup, tersaksi sejarah Hari Besar Pembebasan …,
di Golgota … untuk mati dan bangkit memberi hidup tak terbinasakan … bagi banyak bangsa!

Salam kehidupan dari Sang Janji, bagi yang mati dan tahu bahwa ia mati dan terhidupkan oleh Sang Kebangkitan dan Pemilik Hidup

www.yakobtomatala.com

Tapak Sandya Kala bertapak di Kota Raja Besar, di Pelataran Rumah Sesembahan, pada Hari Suci Pentahbisan Rumah Kudus, dalam cuaca yang membangkitkan kuduk, menggemetar raga, menggelegar, mengharu jiwa …

Sandya Kala dalam hadir Sang Janji, bertutur tentang Kepemimpinan, Pemimpin dan Kepengikutan:

Bagi Sang Janji, kepemimpian adalah kehidupan yang memberi hidup
Kepemimpinan adalah kandang berpagar batu di hamparan padang pengembalaan sebagai tempat kehidupan dan hidup
Kepemimpinan dibangun di atas kesatuan allahi mengokoh karsa, meneguh karya

Kepemimpinan adalah otoritas kehidupan yang memberi hidup di dalam dan di luar kandang bagi yang ada serta yang akan ada
Kepemimpinan adalah Pintu kepada kehidupan dan hidup yang berselamat sejahtera bagi Pemimpin yaitu Gembala serta Pengikut, yaitu domba-domba dari kandang ke padang dan dari padang ke kandang

Dari kesatuan Allahi Sandya Kala Sang Sang Janji, datang impartasi otoritas kepemimpian

Pemimpin di panggil menjadi Pemberi Hidup, the life giving, dan the life serving bagi kehidupan
Karena itu:
“Pemimpin sejati masuk melalui pintu dan menjadi Pintu
Pemimpin sejati diberi otoritas memberi hidup bagi kehidupan yang berkelimpahan

Pemimpin sejati sadar bahwa ia adalah Gembala, yang harus memimpin dari integritas sebagai gembala yang baik dan komitmen berkorban dengan memberi nyawa serta memimpin dari bawah guna menjadi hidup dan memberikan kehidupan

Pemimpin sejati berjalan di depan menjadi segalanya bagi para yang jadi yaitu para domba, dalam kepengikutan

Pemimpin sejati mengenal dombanya dengan nama untuk disapa,
membuka pintu untuk dibawa masuk memperoleh selamat, dibawa ke luar serta menuntun menemukan padang hijau

Pemimpin sejati memimpin dari HATI berlandaskan KASIH dengan kekuatan KEBENARAN dan KEBAIKAN dari Sang Janji” Pemilik dan Pemberi Kehidupan …

Bagi Sang Janji, para yang jadi adalah pengikut dalam kepengikutan,
Para yang jadi adalah domba gembalaan

Domba gembalaan harus mengenal suara gembala,
harus mendengar suara gembala, dan
harus mengikuti gembala kepada kehidupan untuk memperoleh hidup dan kehidupan

Dasar bagi yang ini ialah:
Organisasi adalah organ persatuan bukan persaruan
Organisasi adalah gambaran persekutuan Sandya Kala Sang Janji, yang adalah Pintu kepada hidup abadi bersejahtera kekal
Organisasi dan kepemimpian adalah kandang aman bagi domba yang harus menjadi sembelian namun, menjadi hidup dalam kehidupan Sandya Kala yang tidak terbinasakan …

Semuanya adalah karena Sang Janji adalah Yang Diurapi, Yang Terutus, menjadi PINTU kepada hidup dan Gembala Baik Pemberi kehidupan kekal dan sejati untuk semua yang terpanggil …

Selamat mendengar Panggilan Gembala Baik untuk menjadi Pintu kepada keselamatan dan kesejahteraan dengan memimpin untuk menemukan rumput yang hidup, bagi kehidupan kekal, “yang tak lekang pada terik mentari, dan tak lapuk kala kebanjiran” …

Salam Kepemimpinan

www.yakobtomatala.com

Tapak Sandya Kala berdebam dalam hadir Sang Janji, di jalan ke Kota Raja Besar, dengan sederet pandangan mata menyentuh pengalaman piluh para yang jadi, memiluhkan rasa berlegam yang membuta …

Tapak itu bersenyap dalam siarah Sang Janji menyentuh pengalaman yang jadi, yang buta, yang nista, dinista dalam tenor cemoh senada yang menyakit bagi yang sakit, “siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya?”
Yang mana yang benar, yang kebenaran?

Yang tidak melihat, yang jatuh tertimpah tangga, tertopang Sabda Terang Dunia, Anak Manusia, yang bicara tentang kebenaran:
“Yang buta adalah wadah kerja Sandya Kala,
Yang buta adalah batu uji, siapa buta sungguh, siapa awas waras,
Yang buta adalah kompas Sang Janji Yang Terjanji, Jurukata, Yang Diurapi, yang dengan olesan tanah dan basuhan air Siloam, mencelik membuat melihat indahnya Buah Tangan Sandya Kala”
Ini mujizat …!

Namun, sang tercelik, mengundang debat Pembela Agama:
“Ini hari Suci, Sang Janji disangkahkan tertuduh, ‘Orang ini tidak datang dari Allah, sebab tidak hormat hari Suci,’
Siapa mengakui Dia sebagai Yang Diurapi, terkucil …”
Namun, lagi, yang sungguh melihat karena tercelik, tidak tercekik akal bulus, dan lantang menantang: “satu hal aku tahu, … aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat”
Saksi sang tercelik pengunci debat:
Mari, bicara kebenaran,
Adakah Sandya Kala mendengar orang bernoda?
Adakah yang tidak datang dari Sandya Kala memelekkan yang dari lahir bergelap mata dan bermujizat?
Pembela Agama yang kalah debat, menendang sang tercelik dalam hardikan kekalahan, … ke luar!

Sang Janji melerai, dan menegas kebenaran, “ini kerja Sandya Kala, yang menghadirkan Kuasa Anak Manusia, Sang Janji dengan tuntutan: Percayakah engkau …? Dan, bersambut: ‘Aku percaya, TUHAN!’.”
Mujizat adalah tanda hadir Sandya Kala dalam Sang Janji, yang bertegas Sabda: “Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta”

Apakah saya buta? Kalau saya melihat, maka saya buta!
Tetapi, jika saya buta, maka oleh Sang Janji saya dapat melihat keselamatan-Nya, dan percaya!
Inilah kebenaran, ini mujizat …

Selamat melihat kebenaran mujizat dari Sang Janji ….

www.yakobtomatala.com

Tapak Sandya Kala berkokoh di Kota Raja Besar, pada Pelataran Rumah Suci dalam kehadiran Sang Janji di dalam kurun yang berubah

Tapak Sandya Kala membahana bertutur tentang kebenaran … oleh Sang Janji yang menanggap kebenaran yang muncul terbalik …
Betapa tidak, tertuduh yang diciduk dari bordil, dituntut sebagai pelanggar, dan dengan melanggar “kebenaran hukum,” …

Namun Sang Janji yang berkutat memegang kebenaran sejati, tegar pada kebenaran … dan melakukan kebenaran dalam seru … :
“Barang siapa benar dan benar-benar benar, ‘hendaklah ia yang pertama melemparkan batu …’ dan ternyata kebenaran hukum yang salah terap oleh para Penuduh berkedok taat agama, menyisahkan perintah bersolusi, ‘Aku … tidak menghukum engkau, pergi, dan jangan berbuat dosa lagi …”

Sang Janji yang adalah kebenaran, bicara tentang diri-Nya, “Akulah terang dunia, para pengikut-Ku, akan mempunyai terang hidup, dan berjalan di dalam terang …”

Ini kesaksian tentang Anak Manusia, yang akan terbukti dalam peninggian-Nya yang menghadirkan “kebenaran yang memerdekakan …..”
Kebenaran yang memerdekakan memastikan “siapa-siapa sejatinya turunan Leluhur, Bapa Banyak Bangsa” … pewaris hidup abadi …
Karena, kebenaran sejati membebaskan dari maut, untuk tidak mengalami maut, dengan berkutat pada kebenaran, hidup dalam kebenaran … dari Sang Janji

Sang Janji adalah Petaruhan kebenaran, karena IA ada sebelum Leluhur Besar ada, Sang Penjamin yang memastikan bahwa yang benar yang sejati, akan taat kepada Sabda,
dan … tidak membiarkan Rumah Suci dikotori ketidak adilan, ketidak benaran …

Dengan kesaksian yang mengoncangkan ketidak benaran … walau pun Sang janji menghilang dan pergi, kebenaran tetap terpancar dari Rumah Suci …

Selamat berkutat dalam kebenaran yang menerangi hidup, untuk hidup menggusur yang gelap …

Salam kebenaran,

www.yakobtomatala.com

Tapak Sandya Kala menapak dalam hadirnya Sang Janji yang berkelana di utara, sampai ke Pelataran Kota Raja Besar pada Pesta Pondok Daun …

Kisah juang Sang Janji bergaung keras dimulai dari situs perhelatan air jadi anggur, penyucian Balai Sang Kekal, bincangan di ruang kuliah Guru Besar, konseling di sumur, penyembuhan anak sekarat, menapak di atas air, pencari sehat di kolam bergoyang, epok lima roti-dua ikan, … yang merebak kisah populer menghiruk, memperangah penjadi jelata, mengusik telinga Pengayom Iman, merong-rong Pemegang Tongkat Kuasa yang menggaruk kepala yang tak gatalan,
dan menyimpul, …….:

“Yang Ini harus dibasmi, karena merasuk hasut para penjadi, dengan disangka Jurukata Sang Kekal, Yang Diurapi Sandya Kala ….. Yang Dinanti Umat Terjanji,”
berita baik yang menggusar pencinta kuasa, penikmat status quo, kecemplung air panas …

Situasi panas adalah air keruh, bagi penebar pancing dari prinsip “tidak seorang pun berbuat sesuatu di tempat tersembunyi, jika ia mau diakui di muka umum”

Namun, Sang Janji tidak terpancing popularitas, karena: Karya-Nya berkisah tentang Ada-Nya Yang Abadi, yang dengan otoritas menyeru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!Barangsiapa percaya kepada-Ku, ….. Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup … karena Aku Sumber Air Hidup, Yang Diurapi, Aku Titisan Raja Besar, yang bernama yang tidak perlu nama”

Sang Janji Bernama Abadi Yang Oto-populer, yang mengabaikan “mencari nama,” karena IA adalah Kuasa Yang Tidak Terjamah, oleh pendeknya tangan kotor bermotif iman,

IA adalah Sumber dan Pemberi Air Hidup yang melegahkan pendahaga … oleh ancaman wabah … kapan pun dan di mana pun … datang, minum Air Hidup dan … sembuh

Selamat Minum Air Hidup untuk para Pendahaga, supaya hidup yang dari dalamnya mengalir aliran-aliran air hidup dari Pemberi Hidup bagi yang sekarat di bumi yang melarat …
Salam Paskha!

www.yakobtomatala.com

Tapak Sandya Kala, Sang Kekal, membumi dari pelataran Kota Raja Besar menelusuri setapak ke dalam keheningan beningnya sumber penglilang dahaga, berjejak di atas “gunung berkat”

Dahaga “para yang jadi” terbius “tanda ajaib” Sang Janji, memviral dari hunian para yang berada sampai ke gubuk tak perpunya
Berbondong menguntit Sang Janji, karena “tanda kekal di mata yang fana,” merongrong rasa menggerak karsa, memuncul tanya,
Apakah DIA Yang Terjanji dari Sandya Kala …….

Sang Janji, merangkum kata, penguji iman, “Di manakah kita dapat membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?”
Sebagai tanya berjawab penggugat iman, penguji takaran rasio, “untuk roti sepotong kecil?”
Terperangah sergah perintah, “Suruhlah orang-orang itu duduk”
Hm, …. duduk untuk sepotong kecil roti?
Namun, … dalam kuasa syukur Sang Janji, lima (5) roti jelai dan dua (2) ikan, mengenyangkan lima ribu (5000) dan tersisa dua belas (12) bakul potongan-potongan roti … semua merujuk jawab abadi, Akulah roti hidup; barang siapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barang siapa percaya kepada-Ku ia tidak akan haus lagi, “makanan yang bertahan sampai hidup kekal”, tanda meterai Sandya Kala, melebihi kuasa raja bumi …

Ini perintah iman …
Semua yang datang dan “duduk”, adalah pemberian Sandya Kala, Bapa Kekal
Semua yang melihat dan percaya, beroleh hidup kekal
Semua yang ditarik Sandya Kala, akan dibangkitkan Sang Janji, setelah semua yang fana berakhir …
Semua, karena Sang Janji adalah Roti Hidup yang turun dari Sorga, sehingga semua yang makan pasti hidup dan tinggal di dalam-Nya, hidup di dalam-Nya …

Yang berkerdil akal, pasti pergi …. dan binasa
Yang terundang dan duduk, pasti dikenyangkan Roti Hidup, dan menyanjung “Sang Janji”, Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah

Sepotong roti dalam tangan Sang Janji, Sang Penghidup bagi yang percaya, dan makan Roti Hidup, meneguhkan hidup abadi yang tidak dapat binasa …

Selamat duduk dan makan Roti Hidup untuk hidup abadi, dalam potongan roti Pemberian Sandya Kala, yang pasti akan tersisa banyak …

www.yakobtomatala.com

Tapak Sang Abadi berjejak kokoh di Kota Raja Besar, di Gunung Keselamatan, menyebar damai berkeadilan

Namun, Tapak Sandya Kala, YANG ESA, yang berjejak dalam hadir Sang Janji demi berbagi keadilan, didebati para “yang jadi”, yang sok tahu tentang Sang Abadi, Bapa Kekal, yang tertanda gugatan atas pelanggar martabat hari suci, dengan bangun, menggangkat tilam, berjalan dan sembuh …

Para sok tahu gagal sadar, bahwa Sang Janji, adalah Yang Terutus dengan Tugas Kekal, Penghadir rasa adil bagi para terpinggir
Ditanda Sapa Abadi, “… barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup

Karena Sang Janji adalah Pemegang Kuasa Anak Manusia
Dimana para sok tahu, dengan Sapa Abadi menjadi terdepak, “Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu” … dan yang mendakwa kamu adalah Musa, yang kepadanya kamu menaruh pengharapan ….

Sang Janji pada giliran-Nya memastikan bahwa “yang bangun, mengangkat tilam dan berjalan memperoleh keadilan dan hidup demi iman, sedangkan para sok tahu, pembaca Kitab Suci, terdepak oleh Tapak Sang Abadi karena tidak percaya … Fatal ….!

Selamat menyambut keadilan dari Sandya Kala dengan memperoleh hidup demi iman kepada Sapa Abadi Sang Janji

www.yakobtomatala.com

Tapak Sang Sandya Kala yang berurai diri, kembali menapak di Kota Raja Besar, Pusat Perjumpaan Suci

Tapak itu memijak bercak-bercak hitam menoda lorong ber-TUAN dengan “yang jadi” gagal melek, gagal jalan lurus, gagal bangun di atas kaki melunta, memelas harap, menanti tapak Sandya Kala, kala air bergoncang

Namun, rumput bergoyang gagal berkabar tentang desau tapak Sang Abadi menggoncang air, mendebat hati, memupus iman membelenggu harap menanti berjibun tahun, tersisih dalam antrian, menghilang asa, mengelam rasa menanti mendamba tak pasti jadi, datang-Nya Sang Kasap menggoncang air

Yang Abadi tak harus dikejar lewat goncangan air dari Yang Kasap …
Tapak-Nya berdebam dalam hadir Sang Janji dengan Sabda berjawab: “Maukah engkau sembuh?”
Lagi-lagi, percaya dan harap atas Sabda Sang Janji dengan “bangun, mengangkat tilam, berjalan” adalah sembuh

Yang pasti, percaya dan harap, atas Sabda Sang Janji, bangkit serta berjalan memelekkan untuk melihat, menegakkan untuk jalan lurus, mengokoh untuk berkuat di atas kaki Meleceh ulah pengidola “hari suci” gagal gugat “percaya, harap, bangkit dan berjalan, SEMBUH” dari kuasa Sang Abadi dalam Kata Kekal Sang Janji yang pasti jadi, tanpa air bergoncang
Namun besit Pesan Sang Janji, bagi yang sembuh, “jangan berbuat dosa lagi, agar sembuh dan sembuh …”

“Selamat percaya, berharap, bangun, mengangkat tilam, berjalan dan sembuh dalam Kuasa Sang Janji”

www.yakobtomatala.com

Tapak Sang Sandya Kala, Sang Abadi berurai diri di ruang-ruang kehidupan yang terang, yang gelap

Dari ruang gelap di tepi sumur, sampai ke hunian bekas hajatan, dan kini di lapak nelayan
Tapak itu menyampar di baringan pesakitan buah hati kuli istana

Tapak itu menapak ke dalam gelapnya hati, melihat gelap yang gelap, memasgulkan rasa atas yang sekarat, menoreh gundah menantang harap menggugah harapan melihat terang
Karena, tapak dalam hadir Sang Janji berjarak sehari langkahan kaki, menjerat rasa bimbang, melesap rasa percaya, menjerumus ke dalam gelap yang lain

Namun, tapak Sang Janji membesit harapan terang melintas jarak antara yang terang dan yang gelap dengan “percaya”
Percaya mendobrak kelam hati dari Sabda, “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya”
Percaya adalah “pergi” Pergi, adalah menyambut “hidup” dari Sang Janji yang menapak melangkahi jarak, menghadirkan Terang Pemberi Hidup, bagi yang sekarat di tempat gelap
Pergi, adalah jalan melihat hidup, karena Sang Janji adalah Terang Hidup, yang menghidupkan, membinar “Terang Hidup” dalam ruang gelap, “anakmu hidup” …….
Dan, percaya adalah jalan hidup, bagi diri dan keluarga, karena Sang Janji, Sang Terang Hidup sedang menapak masuk ke ruang gelap, memberi Terang bagi yang gelap …

Selamat percaya, pergi, dan menikmati Terang Hidup yang mengatasi gelapnya hidup …

www.yakobtomatala.com

Tapak Abadi Sang Sandya Kala berkelana di Kota Raja Besar di mana Penyuka Langit mencari Sang Langit, dengan bertandang ke hunian Guru Besar

Penyuka Langit, berceloteh tentang Langit, mencari Tapak-Nya bagai tanah berhasrat air dengan melangit dan menjadikan Langit Nan Abadi bersemi, bersemayam di benak nan kesempitan

Dalam Sang Janji, Sang Guru Besar,
Sandya Kala Berkuliah tentang menjadi Warga Langit yang hanya ditapak lewat rahim,
jalan yang memporanda nalar lurus

Hm, bagaimana mungkin…?
Iya, Langit tidak tertekuk
Langit adalah Desau Bayu, mengigau kuping, kasat dipandang, muskil dipaham
Namun, Langit terlihat pada Tapak Sandya Kala di padang gersang, sebagai solusi bagi kaum beringas yang meranggas dipatuk beludak karena mendebat Sang Langit
Di sini, si beludak tembaga yang dipandang, menyandang pengakuan kemenangan Sandya Kala atas pedusta besar
Dengan “menghadirkan kelepasan dari maut kepada hidup Anugerah Sang Langit”
Inilah jalan rahim yang tak kunjung dipaham

Sekarang, lihatlah Tapak Itu,
Welas Sandya Kala yang tak terukur kepada para yang jadi,
“tertapak dalam hadir Sang Janji, yang memijak lebur kepala beludak di Bukit Tengkorak dan bersabda, sudah selesai”
Inilah retasan jalan rahim ke Langit, dari Penjadi Para Warga Langit, di mana jalan rahim adalah “barang siapa percaya” untuk menapak ke Langit yang dipasti Sang Guru Besar bagi penyuka Langit yang mau berguru tentang Langit!

Masih tak terpaham?
Iya, jalan ke Langit hanya terlihat oleh yang terkasap mata menapak jalan rahim yang tertanda darah Sang Janji yang membuka pintu Langit untuk bercanda dengan Langit

Selamat diberkati, bagi “barang siapa” … yang matanya dicelikkan untuk masuk ke Langit, menapak Tapak Sandya Kala bersama Guru Agung, Sang Janji
Kiranya …

www.yakobtomatala.com