YT Leadership Foundation





Pengantar

Melihat praksis Presiden Joko Widodo “yang memberi penghargaan Negara kepada 52 Tokoh Bangsa dari perspektif Kepemimpinan”, menjelaskan bahwa beliau sedang menerapkan Pygmalion Effect (PE).

Pygmalion Effect atau “Law of Attraction”, atau “Law of Equal Recompence” (Matius 7:12; Lukas 6:31) adalah “gaya kepemimpinan dengan efek balik yang positif”. Pygmalion Effect ini ditandai dengan pola berpikir; berpraduga; dan berharap yang positif, dengan gaya positif proaktif, yang memandang segala sesuatu dari sudut pandang yang baik, melalui pikiran, sikap, kata serta tidakan.

Alasan kuat untuk sikap ini adalah:

Pertama, Ada kepentingan yang lebih besar yang harus ditangani, melalui langkah penting yang kecil demi mengendalikan “faktor x” yang dapat memicu ledakan sosial melalui pendekatan PE.

Kedua, Pendekatan PE ini memberi ruang meredam “pertentangan sosial” demi memfokuskan upaya kepada hal positif yang lebih besar.

Ketiga, Pendekatan PE adalah upaya menciptakan dan menghadirkan keseimbangan sikap pribadi, mau pun sosial

Keempat, Langkah PE adalah Pendekatan sosial berefek kuat, demi mengendalikan “meme” yang terpelintir di media sosial demi membalik keuntungan di pihak Pemimpin.

Kelima, Gaya Kepemimpinan PE yang diterapkan adalah strategi jitu yang meneguhkan kedudukan Pemimpin di atas oposan, dan menempatkannya di depan dalam percaturan.

Keenam, Strategi PE adalah taktik terbaik untuk mempertahankan momentum positif, dengan membalikan yang negatif ke arah positif.
Ketujuh, Gaya Kepemimpinan PE adalah cara dan pendekatan terbaik untuk memimpin dengan efek yang dapat ditebak, demi memisahkan “domba dari kambing” untuk dikendalikan. Salam Kepemimpinan

www.yakobtomatala.com

Rindu … dan harap … bersanak, berkerabat akrab, karip walau tak akur …

Rindu berceloteh dari jiwa gulana, terbabat nan goncang
Rindu menggalau didendang rayu siul dayuan seruling
Rindu bicara dari jiwa tercabik dan menyungsang
Rindu menatap hijauan mencari jawab dari gegunung
Rindu berceloteh mengajak bicara rumput bergoyang …
Namun, rindu merapuh serapuh rasa jiwa senduh tak berjawab dan tumbang …

Rindu, jika perpaling kepada “sang harap” menapak jalan yang kasap
Rindu yang menapak “jalan harap” melihat harapan di balik asap
Harapan bicara tentang Sang AKU ADA yang meng-ADA-kan
Harapan membebaskan dari kungkungan gunungan
Harapan berbagi tentang hari cerah pada esok walau senggang
Harapan melantang tentang pembebasan sekali pun terseok mengangkang …
Harapan, menolak bercakap dengan rumput bergoyang tak berjawab, sekali pun di goyang gancing
Harapan menampik rindu walau menggulung segunung
Harapan mendamai rindu dan harap ke arah gunung …

Rindu, dan harap jika bergandeng harapan, bersua jalan kepada Sang AKU yang Agung
Yang “Pada-Nya” nyata jawab bagi rindu nan berharapan
Karena, tidak keliru jalan pada harap yang menggapai asa kepada Sang ADA, melalui rindu berpengharapan demi berharap, menggapai harapan …

Selamat bergelayut rindu dan harap digendong harapan, bersua Sang ADA yang punya jawab …

Jakarta, 15 Juli 2020
Yakob Tomatala

www.yakobtomatala.com

Tapak Sandya Kala berjaya di kota Raja Besar dalam hadir Sang Janji, sementara menanti “saat terjanji”, sejalan syukuran Hari Perdamaian Besar, yang dihelat anak-anak Bapa Banyak Bangsa …

Sementara itu, Sang Janji telah bertutur tentang Perintah Baru yang harus dilakon dengan handuk dan baskom, …
Sang Janji pun telah memastikan jaminan kesejahteraan, kini, di sini dan di Rumah Abadi, melalui Diri-Nya, Yang Adalah “Jalan, Kebenaran dan Hidup”

Kini, IA angkat bicara soal “Cara Hidup Langit” yang harus ditandakan para Pembelajar dan para yang jadi, milik kesayangan-Nya …
Tegas-Nya, “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu”

Inilah dasar “cara hidup langit di bumi,” yang ditegas ulang, “Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain” …
Cara Hidup Langit itu niscaya …
Cara itu ialah, “hati welas asih, yang memberi tempat utama bagi sesama”, …
Hati yang rela tinggal di dalam Dia, di dalam kasih-Nya, yang melembakkan sukacita-Nya, meneguhkan sikap dan roh rela memberi nyawa, yaitu berbuat Perintah-Nya …

Ini bisa jadi, karena Sang Janji adalah “Pokok Anggur yang benar, dan Sandya Kala adalah Pengusaha” …
Para Pembelajar dan para yang jadi yang “jadi ranting”, pasti berbuah banyak …
Segala pinta didengar, semua damba terjawab, dan Sandya Kala dimuliakan …

Semua berkokoh karena Sandya Kala meneguhkan oleh Roh Penghibur, agar Para Pembelajar dan para yang jadi, yang terpilih bisa melakon peran saksi terutus, yang hadir dan memberkati pembenci yang meradang, meringgis, dan meranggas, yang meluber angkara …

Cara Hidup Langit mengukuh karsa lembut para saksi demi berkuat, bertahan sampai bersua Sang Janji di Rumah Abadi, …….

Selamat menghidupi Cara Hidup Langit dalam kefanaan, demi memuliakan Sandya Kala, Sang Abadi secara membumi … Salam

www.yakobtomatala.com

Sandya Kala masih bertapak di Kota Raja Besar dalam hadir Sang Janji yang meneguh berkat bagi yang terjanji … di tengah ancaman yang mengelisahkan

Sang Janji berbagi rasa dengan para Pembelajar, bertutur soal kegelisahan dan sejahtera langgeng di Rumah Abadi, Singgasana Sandya Kala … memenuhi kerinduan sejahtera dari para terjanji yang gelisah hati
Janganlah gelisah hatimu, percayalah kepada Sandya Kala, Sang Bapa dan percayalah kepada-Ku,” pungkas-Nya pasti
“Aku harus pergi dan kembali, ‘supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada’.” Jaminan-Ku adalah “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu.”

Dan semua terjamin “Sang Penolong, Roh Sandya Kala, Roh Kebenaran, Roh Penghibur” Yang menyertai dan diam dalam kamu. Dan ingatlah, “Aku pergi dan Aku akan datang kembali”

Bagi pengelisah ambigu yang gagal sadar, KU ulangi, ingat saja bahwa Aku pergi dan akan kembali
Dan, jika kegelisahan menghantui, sadarlah bahwa:
Aku adalah JALAN satu-satu-Nya kepada Sandya Kala, pokok sejahtera abadi Penghibur Peneguh Harapan;
Aku adalah KEBENARAN satu-satu-Nya, yang pada-Ku ada damai dan sejahtera berketenangan abadi;
Aku adalah HIDUP Abadi dari Sandya Kala, Pemberi Hidup Kekal, yang memberi hidup mengabadi di tengah kegersangan yang gerontang …
Batu ujinya adalah, Barang siapa melihat Aku, kamu melihat Sandya Kala, Bapa Kekal dalam kefanaan yang mengelisahkan sekali pun …

Tanyakan padamu dan jawablah dari dadamu, sikap terhadap Sang Janji, Sang Jalan, Kebenaran dan Hidup: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti Firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia”
Bukankah ini lebih dari cukup?
Karena itu, “yang terjanji, yang fana, yang mengalami Sang Janji akan ada di Jalan Benar, Kebenaran Benar, dan Hidup Benar dan menikmati sejahtera abadi di kekalutan yang mengelisahkan”
Karena “Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku, bangunlah, marilah kita pergi dari sini” …
Mari, teruslah terbangun bejalan bersama dalam sejahtera-Ku …
Masih ambigu?

Selamat bagi para pencari gelisah yang telah mengalami Sang Janji, Sang Jalan, Kebenaran dan Hidup Pemberi Sejahtera, dan setia taat berjalan terus di dalam DIA …

www.yakobtomatala.com

Tapak Sadya Kala merona sejarah dalam siarah Sang Janji menuntas kerja keterutusan, demi meruak, kembali ke Asal Dari Mana IA datang

Sang Janji di Kota Besar, dalam arakan syukuran Hari Raya Pembebasan Besar, bersama semua anak Bapa Banyak Bangsa …
Sang Janji bicara tentang Diri-Nya, Misi-Nya, bahwa “… saatnya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Sandya Kala, Sang Bapa” …
“Sandya Kala telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa IA datang dari Sandya Kala dan kembali kepada Sandya Kala” …
Sang Janji, dengan kuasa Pengutus, tertegas Sabda,
“Aku tahu, siapa yang telah kupilih”
“… barangsiapa menerima orang yang Ku-utus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku” …
Yang menerima, akan tahu dengan tepat:
Aku adalah TUHAN dan Aku adalah Guru, Pemberi bagian dalam Aku, kepada para terpilih;
Aku adalah TUHAN dan Aku adalah Guru, Pembersih ternoda legam demi berbesih diri, berbijak hati;
Aku adalah TUHAN dan Aku adalah Guru, Pemilik Hidup berteladan yang tidak lekang di panas dan tak hancur di hujan yang dilakon dalam sikap “kain lenan (handuk) dan basi (baskom) penanda pelayan (diakonos) dan hamba (doulos) demi hidup dalam kebenaran dan kebaikan; dikokoh “sikap berwelas asih yang rela berkorban dan menanggung akibat pengorbanan; rela memberi dengan menghargai penerima; dan rela menjamin tuntas dengan memikul beban yang dikasihi” …

Yang terpilih akan sadar, “kamu wajib saling membasuh kakimu” sebagai tanda hidup terpasak ke bumi demi kehidupan bersetia bertaat ke akhir …
Namun, yang gagal paham handuk dan baskom, yang pangling welas asih, gagal memberi hati dan menjadi “penyangkal”, diperolok kokokan ayam
Dan, yang tidak terpilih, tidak bersih diri, gagal melayani dan menghamba, tercerobos jadi “penghianat, pengangkang yang tegah membelakangi, menghianat, menjual yang Terjunjung” karena hati yang dirasuk IBLIS …

Yang terpilih akan eling, bersehat hati, berbijak sikap melakon Perintah Baru, “supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian, semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” …

Ini, demi menjejak tapak Sang Janji, berbagi siarah selama membumi demi memberkati yang terfana, menjejak langkah ke tempat DIA pergi, dengan bersudi jiwa memberi nyawa untuk memperolehnya kembali …, melayani, menghamba dalam welas asih berbagi hidup, memberkati …

Selamat mengenakan handuk, mengendong baskom, bertunduk diri dalam welas asih demi hidup bagi Sang Janji untuk memberkati, dan menantang penghianat yang gemar berhianat …

www.yakobtomatala.com

Tapak Sandya Kala bertapak di Kawasan Luar dalam kelana Sang Janji, menjelang Hari Besar Pembebasan, di mana mata anak-anak Bapa Banyak Bangsa tertuju ke Kota Raja Besar mewujud rindu berteduh simpuh di pelataran Rumah Kudus

Dalam kelana Sang Janji, para pembelajar dan para yang jadi terhenyak ironi fakta menghancur jiwa, “rajutan hati berubah dari sakit menjadi mati, meremuk batin sesanak, di Rumah Pohon Ara”

Kini dari yang hidup, berjadi sakit dan mati, jadi taruhan Nama Besar Sang Janji:
Betapa tidak, kala ada mati, IA bicara tentang “penyakit yang tidak membawa kematian,” ada yang mati, IA bertutur tentang “mati sebagai tidur” yang senyatanya, “yang mati menghadirkan rasa hilang, pedih, gerir dan gunda” bagi para tercinta yang tertengarai cercah harap, “sekiranya Dikau ada, ia pasti tidak mati!”

Di tengah sedak senduh getir rasa dari galaunya rasa kelam, Sang Janji bertegas Sabda, “yang jadi yang di sapa Tuhan Penolongku sudah mati”
Mengapa? Hm …
“Mati bersading hidup, supaya Anak Allah di muliakan”
“Mati berpasang hidup, supaya kamu belajar percaya”
“Mati berpindah hidup, supaya berteguh kredo, ‘Ya TUHAN, aku percaya bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah’ “
“Mati berganti hidup, supaya kamu tahu bahwa AKU ada di tengah yang mati, untuk memberi hidup, karena AKU-lah Kebangkitan dan Hidup
Mati menjadi hidup supaya “anak-anak Bapa Banyak Bangsa” melihat kemuliaan Allah
Mati, menjadi hidup “supaya mereka percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” dan beroleh HIDUP

Dan, dalam seru keras “Lazarus, marilah ke luar! Yang mati, terbangkit hidup! Menggemparkan, memicu vanyak percaya!
Dan … merangsek gelombang gaduh!
Penghulu Besar Pembela Agama, berputus kata,
YANG HIDUP harus mati ganti yang mati dan semua yang mati” karena “lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa ini binasa”
Akhirnya “jejala terpasang, agar Sang Janji, Sang Kebangkitan dan Hidup mengalami mati untuk memberi hidup yang tidak terbinasa kepada yang mati dari segala bangsa, untuk semua kurun …
Semua dari Sang Janji yang mati untuk hidup dan memberi hidup, tersaksi sejarah Hari Besar Pembebasan …,
di Golgota … untuk mati dan bangkit memberi hidup tak terbinasakan … bagi banyak bangsa!

Salam kehidupan dari Sang Janji, bagi yang mati dan tahu bahwa ia mati dan terhidupkan oleh Sang Kebangkitan dan Pemilik Hidup

www.yakobtomatala.com

Tapak Sandya Kala bertapak di Kota Raja Besar, di Pelataran Rumah Sesembahan, pada Hari Suci Pentahbisan Rumah Kudus, dalam cuaca yang membangkitkan kuduk, menggemetar raga, menggelegar, mengharu jiwa …

Sandya Kala dalam hadir Sang Janji, bertutur tentang Kepemimpinan, Pemimpin dan Kepengikutan:

Bagi Sang Janji, kepemimpian adalah kehidupan yang memberi hidup
Kepemimpinan adalah kandang berpagar batu di hamparan padang pengembalaan sebagai tempat kehidupan dan hidup
Kepemimpinan dibangun di atas kesatuan allahi mengokoh karsa, meneguh karya

Kepemimpinan adalah otoritas kehidupan yang memberi hidup di dalam dan di luar kandang bagi yang ada serta yang akan ada
Kepemimpinan adalah Pintu kepada kehidupan dan hidup yang berselamat sejahtera bagi Pemimpin yaitu Gembala serta Pengikut, yaitu domba-domba dari kandang ke padang dan dari padang ke kandang

Dari kesatuan Allahi Sandya Kala Sang Sang Janji, datang impartasi otoritas kepemimpian

Pemimpin di panggil menjadi Pemberi Hidup, the life giving, dan the life serving bagi kehidupan
Karena itu:
“Pemimpin sejati masuk melalui pintu dan menjadi Pintu
Pemimpin sejati diberi otoritas memberi hidup bagi kehidupan yang berkelimpahan

Pemimpin sejati sadar bahwa ia adalah Gembala, yang harus memimpin dari integritas sebagai gembala yang baik dan komitmen berkorban dengan memberi nyawa serta memimpin dari bawah guna menjadi hidup dan memberikan kehidupan

Pemimpin sejati berjalan di depan menjadi segalanya bagi para yang jadi yaitu para domba, dalam kepengikutan

Pemimpin sejati mengenal dombanya dengan nama untuk disapa,
membuka pintu untuk dibawa masuk memperoleh selamat, dibawa ke luar serta menuntun menemukan padang hijau

Pemimpin sejati memimpin dari HATI berlandaskan KASIH dengan kekuatan KEBENARAN dan KEBAIKAN dari Sang Janji” Pemilik dan Pemberi Kehidupan …

Bagi Sang Janji, para yang jadi adalah pengikut dalam kepengikutan,
Para yang jadi adalah domba gembalaan

Domba gembalaan harus mengenal suara gembala,
harus mendengar suara gembala, dan
harus mengikuti gembala kepada kehidupan untuk memperoleh hidup dan kehidupan

Dasar bagi yang ini ialah:
Organisasi adalah organ persatuan bukan persaruan
Organisasi adalah gambaran persekutuan Sandya Kala Sang Janji, yang adalah Pintu kepada hidup abadi bersejahtera kekal
Organisasi dan kepemimpian adalah kandang aman bagi domba yang harus menjadi sembelian namun, menjadi hidup dalam kehidupan Sandya Kala yang tidak terbinasakan …

Semuanya adalah karena Sang Janji adalah Yang Diurapi, Yang Terutus, menjadi PINTU kepada hidup dan Gembala Baik Pemberi kehidupan kekal dan sejati untuk semua yang terpanggil …

Selamat mendengar Panggilan Gembala Baik untuk menjadi Pintu kepada keselamatan dan kesejahteraan dengan memimpin untuk menemukan rumput yang hidup, bagi kehidupan kekal, “yang tak lekang pada terik mentari, dan tak lapuk kala kebanjiran” …

Salam Kepemimpinan

www.yakobtomatala.com

Tapak Sandya Kala berdebam dalam hadir Sang Janji, di jalan ke Kota Raja Besar, dengan sederet pandangan mata menyentuh pengalaman piluh para yang jadi, memiluhkan rasa berlegam yang membuta …

Tapak itu bersenyap dalam siarah Sang Janji menyentuh pengalaman yang jadi, yang buta, yang nista, dinista dalam tenor cemoh senada yang menyakit bagi yang sakit, “siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya?”
Yang mana yang benar, yang kebenaran?

Yang tidak melihat, yang jatuh tertimpah tangga, tertopang Sabda Terang Dunia, Anak Manusia, yang bicara tentang kebenaran:
“Yang buta adalah wadah kerja Sandya Kala,
Yang buta adalah batu uji, siapa buta sungguh, siapa awas waras,
Yang buta adalah kompas Sang Janji Yang Terjanji, Jurukata, Yang Diurapi, yang dengan olesan tanah dan basuhan air Siloam, mencelik membuat melihat indahnya Buah Tangan Sandya Kala”
Ini mujizat …!

Namun, sang tercelik, mengundang debat Pembela Agama:
“Ini hari Suci, Sang Janji disangkahkan tertuduh, ‘Orang ini tidak datang dari Allah, sebab tidak hormat hari Suci,’
Siapa mengakui Dia sebagai Yang Diurapi, terkucil …”
Namun, lagi, yang sungguh melihat karena tercelik, tidak tercekik akal bulus, dan lantang menantang: “satu hal aku tahu, … aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat”
Saksi sang tercelik pengunci debat:
Mari, bicara kebenaran,
Adakah Sandya Kala mendengar orang bernoda?
Adakah yang tidak datang dari Sandya Kala memelekkan yang dari lahir bergelap mata dan bermujizat?
Pembela Agama yang kalah debat, menendang sang tercelik dalam hardikan kekalahan, … ke luar!

Sang Janji melerai, dan menegas kebenaran, “ini kerja Sandya Kala, yang menghadirkan Kuasa Anak Manusia, Sang Janji dengan tuntutan: Percayakah engkau …? Dan, bersambut: ‘Aku percaya, TUHAN!’.”
Mujizat adalah tanda hadir Sandya Kala dalam Sang Janji, yang bertegas Sabda: “Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta”

Apakah saya buta? Kalau saya melihat, maka saya buta!
Tetapi, jika saya buta, maka oleh Sang Janji saya dapat melihat keselamatan-Nya, dan percaya!
Inilah kebenaran, ini mujizat …

Selamat melihat kebenaran mujizat dari Sang Janji ….

www.yakobtomatala.com

Firman Allah:
“Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini” (Ulangan 29:29).

Pengantar

Sikap orang Kristen menghadap-hadapkan dan mempertentangkan doktrin atau ajaran yang dianut, telah berakar dalam sejarah yang panjang. Hal seperti ini terjadi, karena ada yang berpendapat, penafsiran saya atas Alkitab lebih benar dan menyalahkan pandangan yang lain. Pada sisi lain, dalam menyikapi wabah Covid-19, orang Kristen cenderung melihatnya dari beberapa sudut pandang dan dapat bersilih paham.

Ada yang percaya bahwa TUHAN Allah berdaulat, dan percaya akan kesembuhan illahi, namun menjadi bingung, karena doanya meminta mujizat seolah tidak terjawab. Ada yang percaya TUHAN, tetapi tidak percaya mujizat, dan menolak ajaran tentang mujizat kesembuhan illahi. Ada juga yang skeptis dan masa bodoh terhadap semua ini. Dalam upaya mendiskusikan pendapat-pendapat di atas, maka ada beberapa pokok yang akan dipercakapkan:

Pertama, PERSPEKTIF BAHASA, TUHAN, DAN IMAN

Melihat dari sudut pandang antropologi, segala sesuatu yang memiliki bentuk, melekatkan padanya arti atau makna, fungsi serta tujuan. Bentuk apa pun, memiliki “nama” yang adalah simbol bentuk, arti, fungsi dan tujuan. Dengan demikian, bentuk apa saja dalam setiap kebudayaan, telah diberi nama sebagai simbol bentuk dengan arti serta fungsi khusus yang melekat padanya. Bentuk ini pun telah diberi nilai yang dibakukan dalam worldview, yang adalah pusat pembakuan nilai.

Dari worldview ini terbentuklah model berpikir (paradigm) yang dari padanya ada titik atau sudut pandang (perspective) untuk melihat dan memaknai serta menyikapi diri dan segala sesuatu di sekitarnya. Dari sisi ini, bahasa adalah sejenis bentuk yang memiliki arti atau makna, fungsi dan tujuan yang melekat dalam worldview.

Bentuk, makna, fungsi dan tujuan “bentuk bahasa” telah menjadi milik korporat suatu masyarakat, dan menjadi realitas yang mendasari paradigma dan perspektif untuk melihat segala hal yang ada pada dirinya dan yang ada di luarnya. Karena itu, sudah dapat diduga bahwa “bentuk bahasa yang sama” dapat memiliki makna atau arti, fungsi dan tujuan berbeda dalam benak setiap orang. Dengan demikian, jika menyebut TUHAN, iman dan mujizat, tentu mengandung implikasi bentuk, arti, fungsi dan tujuan yang berbeda.

A. Perspektif Bahasa:

Melihat uraian di atas, dapat diduga bahwa tatkala berbicara tentang TUHAN, iman, dan mujizat, setiap orang sudah melekatkan arti, fungsi dan tujuan yang berbeda padanya. Orang menggunakan kata TUHAN, iman dan mujizat yang sudah diberikan arti, fungsi dan tujuan yang berbeda-beda, yang menjadi dasar bagi paradigma dan perspektif yang berbeda. TUHAN, iman dan mujizat dari perspektif teologisme dan dari perspektif antropomorfisme memiliki tekanan yang juga berbeda, yang beranjak dari realitas yang berbeda di dalam benak.

Perbedaan realitas dalam benak menghasilkan kesimpulan yang berbeda, dan mempengaruhi sikap yang juga berbeda. Dalam hubungan ini, dapat dikatakan bahwa bahasa TUHAN dalam Pikiran TUHAN adalah “an sic” TUHAN dan hanya dipahami TUHAN. Bahasa TUHAN dalam pengertian bahasa tentang TUHAN haruslah bersifat teologisme, yang bertitik anjak dari Diri-Nya, penyataan-Nya (self disclosure-Nya), pernyataan-Nya (self revelation) dan tindakan-Nya yang Mahalengkap sempurna, yang terdapat di dalam Alkitab (Firman TUHAN Allah). Dengan demikian, jika kita menegaskan bahwa TUHAN Allah berdaulat, maka seharusnya kita menerima bahwa tidak ada yang mustahil bagi DIA.

B. Perspektif TUHAN:

Uraian di atas menjelaskan bahwa pandangan tentang hakikat TUHAN dan cara mengurai pengetahuan tentang DIA yang menegaskan perbedaan ekspresi dengan pendapat yang berbeda. Sebagai contoh jika seseorang menggunakan pendekatan berpikir ilmu yang antropomorfisme tentang TUHAN, maka ia akan menjelaskan kata “Allah mengeraskan hati Firaun” (Keluaran 4:21; 3:19, dsb) dengan cara yang analog manusia, sehingga TUHAN dipahami secara keliru.

“TUHAN dianggap keras, dan bertanggung jawab atas sikap Firaun, karena IA tidak adil jika menghukum raja Mesir ini, sebab IA-lah yang mengeraskan hatinya.” Padahal, jika dilihat dari sudut pandang teologisme, dan perbahasaan, maka dapat dipahami bahwa TUHAN Allah yang berdaulat, memiliki atribut Mahatahu (Keluaran 3:19), Mahakuasa, Mahaadil, Mahabijak, Mahakasih, dsb., (atribut yang terkomunikasi) dan atribut Mahasempurna lainnya (atribut yang tidak terkomunikasikan) di mana IA pasti menetapkan apa pun, mengetahui apa pun, pasti adil dan pasti bijak (Roma 11:36).

TUHAN Allah yang Mahatahu, mengetahui bahwa Firaun akan berkeras dan mengeraskan hatinya (Keluaran 3:19), dan terbukti bahwa Firaun mengeraskan hatinya (Keluaran 4:21,30; 7:13,22-23; 8:15,19,32; 9:7,12,34-35; 10:20). Dengan demikian, istilah “TUHAN mengeraskan hati” seharusnya dijelaskan sebagai “IA membiarkan Firaun dalam kekerasan hati” (Mazmur 81:13; Roma 1:24), maka tatkala IA menghukum IA terbukti Mahaadil (Ibrani 3:7-11; Roma 1:18; 2:8; Pengkhotbah 12:14).

Perlu disadari, bahwa kebiasaan dan cara membahasakan apa pun yang bersumber dari worldview, cenderung menghadirkan perbedaan yang nampak pada sikap, kata serta tindakan nyata. Dalam kaitan ini, setiap upaya tafsir serta berpikir tentang TUHAN, iman dan mujizat, harus diawali dengan bertanya, “apakah saya berpikir seperti TUHAN Allah berpikir, atau saya berpikir seperti saya berpikir dengan kerangka realitas budaya dan kebiasaan tafsir di dalam benak saya?” Berpikir seperti TUHAN berpikir, adalah upaya yang maharumit, karena siapakah yang mengetahui pikiran TUHAN? (I Korintus 2:16; Roma 11:34).

Namun yang dimaksudkan di sini adalah jika berbicara tentang TUHAN, iman dan mujizat, maka titik tumpuh berpikir haruslah dimulai dari TUHAN, yang dimaknai secara tekstual dan kontekstual dalam proses penafsiran.

Disusul dengan membahasakan tentang TUHAN dari perspektif hakikat (substansi, esensi, eksistensi) dan atribut-atribut serta tindakan-tindakan-Nya yang Mahasempurna serta Mahalengkap, terencana dan terlaksana sempurna. Dari uraian di atas ini terlihat bahwa kesalah pahaman dan tafsir yang berbeda tentang TUHAN terletak pada titik tumpuh penalaran yang antropomorfisme atau yang teologisme.

C. Perspektif TUHAN, IMAN, DAN ILMU:

Bahasa TUHAN dan Bahasa Iman serta Bahasa Ilmu adalah hal yang berbeda. Bahasa TUHAN adalah bagaimana TUHAN memandang diri-Nya dan bagaimana seharusnya berbicara tentang TUHAN dengan pendekatan yang teologisme, seperti yang telah diuraikan di atas. Bahasa iman adalah membahasakan TUHAN dari sudut pandang apa yang dipercayai tentang TUHAN. Membahasakan apa yang dipercayai tentang TUHAN cenderung bersifat eksklusif dan diabsolutkan.

Dengan demikian, tatkala orang mengatakan bahwa “saya percaya, atau menurut keyakinan saya, dan seterusnya, … maka orang cenderung mempertahankannya, dan mengabaikan serta bisa merendahkan kepercayaan orang lain.”

Karena itu, sudah dapat diduga bahwa bahasa Iman inilah yang dapat menjadi faktor persilangan pendapat selama ini yang menyisahkan perbedaan sengit, “saya benar, Anda salah.” Pada sisi lain, perlulah disadari bahwa bahasa Iman dan bahasa Ilmu juga memiliki perbedaan substansial.

Bahasa Iman cenderung memutlakan apa yang dipercayai. Sedangkan, bahasa Ilmu dibangun di atas fenomena, fakta, premis dan kaidah ilmiah dengan terma-terma serta metodologi dan metode Ilmiah yang dimaknakan sesuai bidang ilmu, dan dengan proposisi yang berprobabilitas, yang dapat menjadi sarana penalaran dan dialog mencari titik temu.

Dengan demikian, dalam pendekatan berpikir, menalar dan menyimpulkan, setiap orang perlu bertanya, apakah saya sedang menggunakan bahasa TUHAN atau bahasa IMAN atau bahasa ILMU tentang TUHAN, iman dan mujizat?

Kedua, TUHAN, KESEMBUHAN ALLAHI DAN COVID-19

Patutlah diingat, bahwa TUHAN Allah yang berdaulat sedang dalam pengendalian atas semua ciptaan-Nya. Pada sisi lain, perlulah ditanyakan, apakah TUHAN mengisinkan wabah Covid-19 dan mengapa hal ini terjadi?

A. TUHAN dan wabah:

Dalam Alkitab, wabah telah dipahami sebagai bagian dari Covenant TUHAN dengan umat-Nya, yang melibatkan “berkat” (Ulangan 28:1-14) dan atau “hukuman” atau “kutuk” (Ulangan 28:15-68). Dari perspektif ini, wabah, secara khusus tercatat dalam Ulangan 28:21-22, sebagai hukuman TUHAN.

Di sini muncul pertanyaan, apakah Covid-19 adalah hukuman TUHAN atas dunia, umat manusia, masyarakat umum atau pribadi dan atau orang Kristen? (Ulangan 28:21-22; II Samuel 24:14; I Tawarikh 21:11-13).

Pertanyaan lain ialah, apakah Covid-19 ini adalah tanda akhir zaman? (Wahyu 6:8). Jawabannya ialah bahwa penghakiman serta penghukuman adalah hak TUHAN dan semua tindakan-Nya ada pada diri-Nya yang berdaulat. Bagi orang Kristen, jawaban “ya” yang kesusu, dapat berarti mengambil hak TUHAN Allah.

Karena patut ditanyakan, siapa yang berhak untuk mengangkat siapa, menjadi jurubicara Allah atau menjadi hakim atas nama TUHAN? Atau menjadi nabi yang bernubuat atas nama TUHAN? Perlulah disadari bahwa pengalaman Covid-19 ini terjadi dari pihak TUHAN untuk mewujudkan rencana-Nya yang kekal bagi umat-Nya dan seisi dunia.

Kita hanya diingatkan bahwa Covid-19 adalah “tanda-tanda TUHAN” dan kita bertanggung jawab menjadikannya sebagai pelajaran kehidupan, yang belajar dari hidup tentang hidup untuk hidup. Di samping itu, pengalaman ini juga membuat kita waspada dalam iman serta teguh dalam pengharapan akan kedatangan TUHAN Yesus Kristus.

Kita tidak berhak untuk mengambil hak TUHAN dengan menghakimi mereka yang tertular Covid-19. Semua tentu terjadi atas kehendak Allah (Roma 8:28) dan kemanfaatan dari pengalaman Covid-19 hanya dapat dipahami oleh mereka yang mengalaminya.

Covid-19 dapat juga dilihat sebagai cara TUHAN Allah memberkati dunia ciptaan-Nya (Common Grace) yang membawa pemulihan semesta, dan cara IA menuntun kehidupan umat-Nya (Special Grace) untuk menyiarahi anugerah-Nya demi mewujudkan Amanat Agung yang kekal guna memberkati dunia (Matius 28:18-20).

Pada sisi lain, Covid-19 bagi mereka yang meninggal adalah “cara wafat” yang telah ditetapkan TUHAN bagi semua orang sebagai makluk ciptaan-Nya. Di sini kita hanya dapat berkata, TUHAN memberi, TUHAN mengambil, segala puji bagi DIA (Ayub 1:21). Biarlah TUHAN Allah dimuliakan (Roma 11:36), dan kita terhindarkan dari sikap menghakimi sesama.

B. TUHAN dan kesembuhan allahi:

Perlulah ditegaskan bahwa TUHAN Allah berdaulat dan Mahakuasa, yang dapat melakukan apa pun sesuai kehendak-Nya. Masalah yang timbul adalah bahwa ada sementara orang Kristen yang tidak mempercayai mujizat dan menolak kesembuhan illahi (allahi). Dapat diduga bahwa pandangan ini tidak menempatkan TUHAN Allah sebagai berdaulat dalam arti yang sesungguhnya.

Pada sisi lain, ada orang Kristen yang mengklaim Janji TUHAN (Yohanes 14:12-14) sebagai janji kuasa melakukan hal besar, termasuk mujizat. Istilah “melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar” di sini, dapat menimbulkan perbedaan tafsir, yang mempengaruhi iman dan sikap. Bagi mereka yang menghubungkan pekerjaan besar dengan mujizat, harus disadari bahwa “mujizat adalah cara TUHAN Allah bekerja” dan pelayanan kesembuhan adalah bagian dari “karunia mujizat” yang dipercayakan TUHAN (I Korintus 12:9-10).

Dari sisi ini, setiap orang Kristen yang mengatakan bahwa ia dikaruniai karunia kesembuhan dan atau karunia mengadakan mujizat harus menyadari bahwa semua ini adalah sepenuhnya anugerah dan hak TUHAN.

Karena itu siapa pun yang mengklaim dikaruniai karunia kesembuhan dan karunia mengadakan mujizat, hendaklah bertanggung jawab melaksanakannya dengan hormat, rendah hati, dan takut akan TUHAN, karena pekerjaan ROH KUDUS tidak dapat dicopy paste. Sebaliknya mereka yang tidak menerima tafsir ini, kiranya berbijak hati untuk tidak menghakimi.

C. TUHAN dan Covid-19:

Dipahami, bahwa TUHAN Allah dapat mengadakan mujizat dan menghentikan atau membiarkan Covid- 19 menghancurkan dunia, bahwa semua ini adalah urusan-Nya, karena IA berdaulat ada-Nya. Dalam hubungan ini, jika TUHAN Allah menghendaki, IA dapat menghentikan Covid-19 sekarang, mau pun kapan-kapan, sesuai kehendak-Nya.

Apakah orang Kristen dapat berdoa dan memohon TUHAN menghentikan Covid-19? Ya, orang Kristen harus berdoa (I Tesalonika 5:17-18; Efesus 6:19-20), namun doanya haruslah doa iman yang menegaskan, “kehendak-Mu jadilah, di bumi seperti di sorga” (Matius 6:9-10), dan taat menunggu jawaban TUHAN.

Dalam kaitan ini, orang Percaya memiliki jaminan berdoa dan jawaban doa bagi perlindungan dari TUHAN Allah (Mazmur 91). Pada sisi lain, ada tanggung jawab yang harus dilakukan demi mengalami janji perlindungan-Nya dengan mempercayai dan mengharapkan pertolongan Allah.

Sebagai contoh, ada janji, “mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan kena celaka,” – orang Kristen yang menggunakan bahasa iman, dengan serta merta berkata, padaku ada kuasa, aku tidak takut dipagut ular dan tidak takut minum racun … sila! Lihat saja apa akibatnya. Iman kepada janji TUHAN selalu disertai dengan tanggung jawab taat demi berbuat kebenaran, yang tidak sama dengan mendemo kuasa atas nama TUHAN.

Ingatlah juga bahwa konteks janji di atas adalah dalam kaitan dengan “tanggung jawab taat menjalankan Amanat Agung , memberitakan Injil Yesus Kristus.” Dalam ketaatan kepada TUHAN-lah maka IA menggenapkan janji-Nya, melindungi dari racun mau pun sengatan ular (Banding: KPR 28:1-6).

Dengan demikian adalah merupakan tanggung jawab orang percaya untuk berdoa bagi kesembuhan dari Covid-19, bahkan mengharapkan mujizat TUHAN. Pada sisi lain ada juga tanggung jawab menjalankan peran sipil, menjaga jarak, menjaga kesehatan, melindungi diri dan tinggal di rumah, menanti jawaban TUHAN atas ancaman Covid-19. Semua ini punya tempat, berkepatutan dan sinkron satu kepada yang lainnya.

KESIMPULAN

Percakapan tentang TUHAN, iman, mujizat dan Covid-19 masih menyisahkan pertanyaan yang harus terus dikaji guna berbagi jawaban. Mencerahkan dan menggorak hubungan TUHAN, iman, mujizat kesembuhan dari Covid-19, maka ada beberapa catatan yang perlu ditoreh ulang:

Pertama, Kita harus selalu mempertanyakan diri sendiri, jika saya menggunakan istilah TUHAN, iman dan mujizat kesembuhan allahi atas Covid-19, apa yang saya maknakan, serta apa perbedaannya dengan orang lain? Jawaban positif atas pertanyaan di atas merupakan pencerminan sikap yang berterima, dan dapat menghadirkan sikap saling menghargai.

Kedua, TUHAN Allah adalah berdaulat, karena itu, IA dapat melakukan apa pun, termasuk mujizat kesembuhan dari Covid-19, bahkan menghentikan atau membiarkan Covid-19 berlanjut. Tanggung jawab Kristen adalah menghormati TUHAN, taat kepada-Nya, mengimani janji-Nya dan tekun berdoa memohon belas kasihan serta perlindungan-Nya dengan penuh keyakinan, bahwa mujizat dapat terjadi, Covid-19 pasti berlalu
pada waktu TUHAN, sehingga nama-Nya dimuliakan, dan janji-Nya genap atas umat-Nya. Semua ini mengimpartasi ajaran dari hidup dengan TUHAN, untuk hidup bagi DIA dan menjadi kesaksian kepada dunia.

Ketiga, Adalah merupakan tanggung jawab serta peran sipil Kristen yang tidak boleh diabaikan, yaitu taat kepada Pemerintah (Roma 13:-5), bekerja sama untuk menerapkan physical and social distancing, jaga kesehatan (pakai masker, cuci tangan, makan sehat) dan tinggal di rumah demi mengatasi Covid-19 secara bersama. Hm, perlu terus direnungkan dan dielaborasi …

Selamat memahami TUHAN dengan cara TUHAN melalui iman dan pengharapan yang teguh bahwa Covid-19 pasti berlalu …

Salam kerja sama,

www.yakobtomatala.com

Tapak Sandya Kala berkokoh di Kota Raja Besar, pada Pelataran Rumah Suci dalam kehadiran Sang Janji di dalam kurun yang berubah

Tapak Sandya Kala membahana bertutur tentang kebenaran … oleh Sang Janji yang menanggap kebenaran yang muncul terbalik …
Betapa tidak, tertuduh yang diciduk dari bordil, dituntut sebagai pelanggar, dan dengan melanggar “kebenaran hukum,” …

Namun Sang Janji yang berkutat memegang kebenaran sejati, tegar pada kebenaran … dan melakukan kebenaran dalam seru … :
“Barang siapa benar dan benar-benar benar, ‘hendaklah ia yang pertama melemparkan batu …’ dan ternyata kebenaran hukum yang salah terap oleh para Penuduh berkedok taat agama, menyisahkan perintah bersolusi, ‘Aku … tidak menghukum engkau, pergi, dan jangan berbuat dosa lagi …”

Sang Janji yang adalah kebenaran, bicara tentang diri-Nya, “Akulah terang dunia, para pengikut-Ku, akan mempunyai terang hidup, dan berjalan di dalam terang …”

Ini kesaksian tentang Anak Manusia, yang akan terbukti dalam peninggian-Nya yang menghadirkan “kebenaran yang memerdekakan …..”
Kebenaran yang memerdekakan memastikan “siapa-siapa sejatinya turunan Leluhur, Bapa Banyak Bangsa” … pewaris hidup abadi …
Karena, kebenaran sejati membebaskan dari maut, untuk tidak mengalami maut, dengan berkutat pada kebenaran, hidup dalam kebenaran … dari Sang Janji

Sang Janji adalah Petaruhan kebenaran, karena IA ada sebelum Leluhur Besar ada, Sang Penjamin yang memastikan bahwa yang benar yang sejati, akan taat kepada Sabda,
dan … tidak membiarkan Rumah Suci dikotori ketidak adilan, ketidak benaran …

Dengan kesaksian yang mengoncangkan ketidak benaran … walau pun Sang janji menghilang dan pergi, kebenaran tetap terpancar dari Rumah Suci …

Selamat berkutat dalam kebenaran yang menerangi hidup, untuk hidup menggusur yang gelap …

Salam kebenaran,

www.yakobtomatala.com