Leadership, Thoughts, Books, Writing !

BELAJAR MENGENAL TUHAN DARI HATI

0 121

Upaya mengenal TUHAN dengan akal atau rasio, adalah bagaikan “mencari jarum dalam tumpukan jerami pada malam gulita.” Pencarian akan TUHAN dalam cara seperti ini adalah perbuatan yang sia-sia. Alasan terutamanya adalah bahwa TUHAN Allah adalah berdaulat, yang memiliki sifat khas (atribut) yang Mahasempurna, Mahakudus, di mana TUHAN hanya dapat dipahami dengan cara TUHAN (Ayub 36:26; Keluaran 33:20; Mazmur 139:16-17; Yesaya 30:8; 34:16). Dari sisi manusia, manusia telah berdosa dan kehilangan hak istimewa untuk menemukan TUHAN Allah yang Mahakudus (Roma 3:23).

Cara TUHAN Allah untuk membuat diri-Nya dikenal adalah dengan “menyatakan diri-Nya” (Roma 1:19; I Timotius 3:16; Kejadian 1:1; 12:7; 17:1; 18:1; 28:10-19; 35:1; Keluaran 3:1-2; Mazmur 19:2; 50:6; Keluaran 9:16; Habakuk 2:24; Mazmur 119:130; Ibrani 1:1-4). Karena itu, tidaklah mengherankan, tatkala Firman Allah menegaskan, “Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: “Dia yang telah menyatakan diri dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan”.” (I Timotius 3:16). Kebenaran ini menegaskan bahwa TUHAN Allah yang berdaulat, menetapkan untuk menyatakan diri dalam rupa manusia, yaitu Yesus Kristus agar Dia dikenal dengan benar (Yohanes 1:14; Ibrani 1:1-4; Kolose 1:3-29). Pengenalan akan TUHAN seperti ini, hanya akan terjadi jika TUHAN memilih untuk menyatakan diri, agar dialami, barulah dipahami.

Mengenal TUHAN Allah dari perspektif Allah (Theoprospetiva). Dari perspektif Allah, mengalami TUHAN Allah dan mengenal Dia, adalah hak istimewa yang merupakan anugerah-Nya dalam
sejarah (Efesus 2:8-10). Dalam hal ini, pengenalan akan TUHAN dimulai dari Dia yang memilih di mana Yesus Kristus bersabda, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” (Yohanes 15:16), “dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka, dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya… (Yohanes 10:28a), karena “Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga” (Yohanes 3:27). “Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya” (Roma 8:30). “dan semua orang yang ditentukan untuk hidup yang kekal menjadi percaya” (Kisah Para Rasul 13:48b). “Dan barang siapa yang berseru kepada nama TUHAN akan diselamatkan, sebab di gunung Sion dan di Yerusalem akan ada keselamatan, seperti yang telah difirmankan TUHAN; dan setiap orang yang dipanggil TUHAN akan termasuk orang-orang yang terlepas” (Yoel 2:32). Inilah dasar untuk mengenal TUHAN Allah yang benar, yaitu penyataan diri-Nya (self disclosure, self revelation) yang menyelamatkan melalui serta berdasarkan Karya Yesus Kristus dan pengorbanan-Nya di salib, kematian, kebangkitan, kenaikkan-Nya ke Sorga dan kedatangan-Nya kali kedua ke bumi.

Mengenal TUHAN Allah dari perpektif manusia (Anthroprospetiva). Mengenal TUHAN Allah dari perspektif manusia bertumpuh pada anugerah TUHAN Allah dalam sejarah, yang hanya dapat dipahami dengan mengalami Dia yang membebaskan dari dosa dan maut. Mengalami TUHAN dalam arti sesunggunya menjelaskan bahwa ada pengalaman hati yang dikerjakan oleh Roh Kudus yang membawa kepada kebenaran (Yohanes 16:7-10), dan menuntun kepada Yesus Kristus yang menyelamatkan (Yohanes 10:28-29).

Kebenaran tentang pengalaman hati ditegaskan Firman, “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan” (Roma 20:9-10). Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa “mengenal TUHAN adalah anugerah yang menyelamatkan, dan memahami TUHAN terwujud dari mengalami Dia dari hati.” Dari sini dapat dilihat bahwa “mengenal TUHAN adalah pengalaman hati” dimana dengan hatilah orang percaya dan mengalami keselamatan, dan dibenarkan.

Kebenaran di atas, adalah cara otentik untuk mengenal dan memahami TUHAN Allah dari perspektif manusia (anthropoprospectiva) yang harus dibaca dengan optik manusia (anthropo pro-optike). Dengan demikian, adalah hak istimewa bagi setiap orang untuk mengenal TUHAN Allah secara benar. Karena itu, tanyakan hati Anda, apakah ada sentuhan TUHAN Allah yang menyelamatkan? Ini adalah cara dan bukti otentik, bahwa Anda mengenal Dia dari hati.

Selamat mengenal TUHAN Allah dari hati.

Salam,
Yakob Tomatala
www.yakobtomatala.com

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.