Leadership, Thoughts, Books, Writing !

TEOPRENEURSHIP: MEMBANGUN USAHA DAN PERKONOMIAN DENGAN PENDEKATAN ALKITAB

0 487

Pengantar

Ggagasan Teopreneurship terlihat dalam Firman Allah yang menegaskan tentang sikap Laban terhadap Yakub dengan mengatakan bahwa “Telah nyata kepadaku bahwa TUHAN memberkati aku karena engkau” (Kejadian 30:27b).

Dalam hubungan ini, Alkitab memberi kesaksian tentang pemahaman dan pemanfaatan “pendekatan Teopreneurship” dalam membangun usaha dan perekonomian yang berhasil. Gagasan ini akan dikembangkan dalam Diskusi tentang Teopreneurship (Theo-preneurship) yang melibatkan: Membangun Usaha dan Perekonomian dengan Perspektif Alkitab dengan harapan agar para Pembelajar dapat meneguhkan diri sebagai  Pemimpin Teopreneur (Theo-preneur Leader) yang mampu membangun usaha dan ekonomi cara Alkitab secara berhasil. Tujuan khusus dari percakapan ini adalah agar para Pembelajar kompeten untuk:

Pertama, Memaknai Teopreneruship dalam membangun kapasitas sebagai entrepreneur rohani yang berjiwa, berpotensi, bermentalitas dan berkecakapan entrepreneur.

Kedua, Meneguhkan Peran Teopreneur membangun Usaha dan Ekonomi dengan pendekatan Alktabiah yang relevan dan berhasil.

Ketiga, Mendukung Tugas Pemimpin Teopreneur membangun Usaha Ekonomi dengan cara yang andal.

Mengembagkan percakapan ini, perlu disadari bahwa setiap orang tentu ingin berhasil dalam usaha dan perkonomian, tetapi ada pendapat teologis yang harus disikapi. Pertama, Orang Kristen dipanggil untuk setia melayani dan harus rela menderita. Kedua, Uang adalah mammon, sehingga berupaya menjadi kaya adalah dosa. Ketiga, Pelayan tidak boleh berbisnis. Keempat,

Orang Kristen harus makmur karena kemiskinan adalah tanda tidak beriman. Melihat pernyataan-pernyataan ini, kini muncul pertanyaan lain, apa seharusnya sikap terhadap isu-isu teologis yang dikemukakan ini untuk membangun pemahaman yang sehat terhadap hal-hal dimaksud? Pertanyaan terpenting adalah apakah orang Kristen mempunyai hak untuk hidup sejahtera, dan bagaimana cara menggapainya?

Menjawab pertanyaaan ini, Alkitab membuka rahasia, tentang cara TUHAN Allah meneguhkan umat-Nya, dengan menjadikan setiap individu “Pribadi yang berjiwa, berpotensi, bermentalitas, dan berkecakapan entrepreneur, (Theo-preneurship) yang dapat membangun usaha dan perekonomian” seperti Abraham, Isak dan Yakub (Kejadian 12-30), Bapa leluhur Israel.

Cara TUHAN ini menjelaskan bahwa IA berkuasa menetapkan dan menjadikan setiap individu umat-Nya menjadi pribadi yang berjiwa, berpotensi, bermentalitas dan berkecakapan entrepreneur (Teopreneur) sebagai individu mandiri yang visioner dan berhasil membangun usaha dan perekonomian sesuai kapasitas yang dikaruniakan-Nya (Roma 12:3-8).

Menyikapi hal dimaksud, kini muncul pertanyaan baru, “apa kepentingannya dan apa dasarnya bagi orang Kristen untuk membangun usaha dan perekonomian?” Kemudian, bagaimana membangun diri sebagai usahawan ekonom entrepreneur (Teopreneur) untuk menjadi berkat kepada setiap orang, sehingga ada yang berkata: “Telah nyata kepadaku bahwa TUHAN memberkati aku karena engkau?” (Kejadian 30:27b).

Bagaimana dan apa caranya menyikapi kebenaran ini? Dalam upaya menjawab pertanyaan-pertanyaan di depan, maka Pokok-Pokok Pembelajaran yang akan didiskusikan adalah: Pertama, Panggilan Teopreneur Mewujudkan Mandat Ekonomi; Kedua, Peran Teopreneur Memenuhi Mandat Ekonomi; dan Ketiga, Tugas Pemimpin Teopreneur membangun usaha dan perekonomian dengan cara yang andal; yang diakhiri dengan kesimpulan.

PANGGILAN TEOPRENEUR MEWUJUDKAN MANDAT EKONOMI

Panggilan mejadi Teopreneur, diungkapkan dalam Firman Allah yang menegaskan, “Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong” (Kejadian 45:7). Kebenaran ini mengendaikan bahwa “Teopreneur adalah pribadi yang dipanggil TUHAN Allah menjadi pribadi MANDIRI untuk tugas penyelamatan dan pembangunan. Di samping itu, Teopreneur yang terpanggil menujukkan indicator adanya jiwa, potensi, mentalitas dan kecakapan entrepreneur.

Panggilan Teopreneur. Panggilan Teopreneur ke dalam dunia usaha menjelaskan bahwa Teopreneur (usahawan rohani) adalah seorang yang dipanggil TUHAN Allah ditandai beberapa indikator:

1. Adanya visi dan kapasitas dasar untuk berkembang menjadi pribadi yang memiliki jiwa, potensi, mentalitas serta kecakapan entrepreneur; dan

2. Adanya kompetensi lengkap (Integrity – SQ; Capacity – IQ; and Capability – SEETQ); serta

3. Adanya kemandirian (dengan visi, yang nyata pada keberanian berpikir, bersikap, bertindak) dan kuasa (power) untuk menjalankan usaha yang berhasil; dan

4. Adanya usaha yang melibatkan tugas, kewenangan, hak, kewajiban, tanggung jawab dan pertangung jawaban membangun kehidupan ekonomi.

Indikator Teopreneur. Indicator dasar bagi seorang Teopreneur adalah,

1. Teoreneur memiliki jiwa, potensi, mentalitas dan kecakapan entrepreneur dengan keberanian berpikir (VISI), keberanian memutuskan (MISI), keberanian mengelola (TINDAKAN) suatu usaha secara mandiri, yang berorientasi kepada keberhasilan, yang menguntungkan diri, sesama, dan organisasi serta lingkungan secara timbal balik”.

2. Teopreneur adalah PRIBADI MANDIRI, yang memiliki kebiasaan: “Berani berpikir besar (VISI besar), berani bersikap (MISI besar, membuat keputusan tentang suatu usaha) dan berani melaksanakan usahanya dengan cara khusus (TINDAKAN besar) yang mendatangkan keberhasilan” (Kejadian 30:27).

Teopreneur dan Mandat Ekonomi. Mandat Ekonomi bagi Teopeneur mencakup:

1) Dasar Mandat Ekonomi. Mandat Ekonomi didasarkan atas Mandat Penjanjian Berkat (Covenant Mandate) yang melibatkan unsur Spiritual, Sosial dan Ekonomi yang bersifat holistik, integral, kontekstual dan berkelanjutan. Firman TUHAN sebagai Landasan Mandat Mandat Ekonomi menegaskan: “Allah memberkati mereka (SPIRITUAL), lalu Allah berfirman kepada mereka: ‘Beranakcuculah dan bertambah banyak (SOSIAL); penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi’ (EKONOMI).” (Kejadian 1:28; 12:1-3; 15:1-21; 17:1-8; 28:10-15).

2) Lingkup Mandat Ekonomi. Mandat Ekonomi adalah Perintah Otoritatif TUHAN untuk mengelola (peran-tugas) Usaha Ekonomi, guna membawa shalom secara holistik (holistic), terintegrasi (integrated), kontekstual (contextual), dan bersinambung (sustainable)

Mandat Ekonomi mengharuskan adanya kesadaran akan panggilan TUHAN (Perintah Otoritatif)  – Aspek Rohani (Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu); Aspek Sosial (untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi); Aspek Ekonomi (dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong); yang dimandatkan untuk menjalankan peran Teopreneur (Kejadian 45:7) yang menjelaskan tentang Yusuf sebagai Teopreneur.

Perintah Kerja dan Lingkup Pekerjaan. Mandat Ekonomi berkaitan dengan KERJA, PEKERJAAN, dan KEBIASAAN KERJA dalam semua lingkup dan aspek melibatkan manusiateknologiekonomi. Aspek-aspek dimaksud adalah antara lain:

1) Manusia telah diciptakan sebagai makluk pekerja (homo laborans) dan makluk ekonomi (homo economicus), karena itu ia harus bekerja, sesuai dengan perintah kerja untuk “mengusahakan dan memelihara kehidupan” (Kejadian 1:27-28; 2:15; Kel 20:9). Pada sut laing,

2) Perintah kerja ini ditopang oleh adanya kreativitas manusia dalam kerja, yang melibatkan inovasi teknologi, berinovasi untuk efektifitas, efisiensi, kesehatan, dan optimalisasi kerja (Ams 31:13-19).

3) Perintah KERJA berhubungan dengan unsur terbiasa bekerja dengan senang, mengubah kutuk menjadi berkat dalam menjawab kebutuhan ekonomi (II Tesalonika 3:10-12; Mazmur 126; 127; 128; Amsal 31;10-31).

PERAN TEOPRENEUR MEMENUHI MANDAT EKONOMI

Firman TUHAN yang menjadi landasan bagi peran TEopreneur memenuhi Perintah Kerja menegaskan, “Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata. Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan. Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya. Ia mencari bulu domba dan rami, dan senang bekerja dengan tangannya. Ia serupa kapal-kapal saudagar, dari jauh ia mendatangkan makanannya. Ia bangun kalau masih malam, lalu menyediakan makanan untuk seisi rumahnya, dan membagi-bagikan tugas kepada pelayan-pelayannya perempuan. Ia membeli sebuah ladang yang diingininya, dan dari hasil tangannya kebun anggur ditanaminya. Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan, ia menguatkan lengannya. Ia tahu bahwa pendapatannya menguntungkan, pada malam hari pelitanya tidak padam” (Amsal 31:10-18; 10-31). Kebenaran ini menegaskan bahwa Teopreneur adalah pribadi yang cakap mengelola usaha ekonomi dengan berkualias, sehingga mendatangkan hasil.

Peran Teopreneur dan Tugas Ekonomi. Peran Teopreneur dan Tugas Ekonomi, mencakup aspek-aspek berikut:

1) Meneguhkan KEBEBASAN kehidupan ekonomi dan sosial dengan Integritas kuat, ditandai indikator: Teopreneur adalan pribadi yang cakap, dapat dipercaya, selalu berbuat baik; bekerja rajin dan berinvestasi (Amsal 31:10-15).

2) Memanajemeni kerja dengan KEBIASAAN efektif, efisien, sehat, optimal dan produktif: Teopreneur piawai dalam MANAJEMEN: Waktu – Bangun kalau masih malam; logistik – menyediakan makanan untuk seisi rumah; kerja – membagi-bagi tugas; bisnis investasi – membeli ladang dan mengelolanya; pelaksanaan kerja dengan bekerja keras – mengikat pinggang dengan kekuatan; produksi (penyimpanan, pemasaran, distribusi, konsumsi) dengan  melakukan pekerjaan yang menguntungkan  secara ekonomi (Amsal 31:16-18).

Peran Teopreneur Mengelola Usaha Ekonomi.

1) Teopreneur mengelola usaha ekonomi dengan etika moral teguh, sebagai kebiasaan etos bekerja: a) Bekerja sebagai Ibadah kepada Allah: Kolose 3:17; b) Bekerja sebagai Pengabdian kepada TUHAN: Kolose 3:23; c) Bekerja demi meringankan beban sesama: Efesus 4:28; d) Bekerja guna meneguhkan kehidupan komunitas: Kisah Para Rasul 2:41-47; e) Bekerja untuk memenuhi kebutuhan sendiri : II Timotius 2:6; II Tessalonika 3:7-8; f) Bekerja agar dapat memenuhi kebutuhan keluarga (Amsal 31:10-31).

2) Teopreneur memiliki komitmen, dedikasi dan disiplin yang teguh sebagai kebiasaan dalam mengelola tugas usaha ekonomi: a) Bekerja dengan penuh ketaatan sebagai Prajurit: II Timotius 2:3-4; b) Bekerja dengan penuh disiplin sebagai Olahragawan: II Timotius 2:5; c) Bekerja dengan penuh komitmen dan dedikasi kepada kualitas dan produksi bagaikan seorang Petani yang bekerja keras-cerdas: II Timotius 2:6.

Teopreneur Memanajemeni Usaha Ekonomi Pola Alkitab. Alkitab secara spesifik menjelaskan tentang pola-pola dan cara-cara mengelola usaha perekonomian decara khas. Dari perspektif ini, Teopreneur berperan memanajemeni Usaha Ekonomi Pola Alkitab, berdasarkan model-model berikut:

1) Manajemen Usaha Ekonomi Pola Abraham, Ishak dan Yakub. Manajemen Entrepreneur – Bisnis Keluarga – Socio-preneurFamily Enterprise.

2) Manajemen Usaha Ekonomi Pola Yusuf Ekono-preneur. Manajemen Bisnis Ekono-preneur – berskala Nasional – Internasional – Econo-Business Enterprise.

3) Manajemen Usaha Ekonomi Pola Musa dan Daud. Manajemen Entrepreneur Nomaden: Nomad – enterprise.

4) Manajemen Usaha Ekonomi Pola Salomo. Manajemen Entrepreneur Negara: Bisnis Kenegaraan – State Business Management.

5) Manajemen Usaha Ekonomi Pola Gereja Rasuli . Manajemen Entrepreneur Komunitas Gereja: Bisnis komunitas – Socio-community Business.

6) Manajemen Usaha Ekonomi Pola Rasul Paulus. Manajemen Entrepreneur Tugas Misi: Bisnis Missio-preneur – Missiopreneur -enterprise.

TUGAS PEMIMPIN TEOPRENEUR MEMBANGUN USAHA EKONOMI

Tugas Pemimpin Teopreneur membanung usaha perekonomian, dibanun berdasarkan apa yagn dungkapak dalam Alkitab, yang dapat dilihat sebagai berikut. Alkitab menegaskan bahwa Teopreneur adalah pribadi yang andal membangun usaha ekonomi yang berhasil, di mana “Ia mengikat pinggangnya, dengan kekuatan, ia menguatkan lengannya. Ia tahu bahwa pendapatannya menguntungkan, pada malam hari pelitanya tidak padam” (Amsal 31:17-18). Tugas membangun usaha perekonomian ini diwujudkan dengan memperhatikan Langkah-langkah berikut:

Memulai dengan memaknai dan menemukan visi serta bidang usaha.

1. Memaknai VISI. Visi adalah “inner will” yaitu “jati diri” (innerwill – pnimiyut ha-ratzon, hasrat batin) individu yang telah diteguhkan oleh Sang Pencipta di dalam diri setiap individu. Di sini, Inner will adalah VISI, sebagai dasar bagi “misi” dan “karir” (chizoniyut ha-ratson) pribadi mau pun usaha dalam segala bidang. Dalam kaitan ini, “VISI ialah suatu keinginan suci (innerwill – pnimiyut ha-ratzon, hasrat batin) yang ditulis oleh Sang Pencipta di dalam batin (untuk menjawab kebutuhan) yang berkaitan erat dengan pemenuhan hidup seseorang atau setiap individu (bagi diri mau pun organisasi yang dipimpinnya).” Di sini, Visi “adalah kemampuan untuk melihat serta memahami keinginan suci yang ditulis oleh Allah di dalam batin, tentang usaha ekonomi yang ditekuninya, dengan mata yang tidak dimiliki oleh orang biasa.”

2. Menemukan VISI. Bagaimana menemukan VISI. Andy Stanley mengatakan: “Visi-visi lahir dalam jiwa seorang pria atau perempuan yang dihadapkan kepada ketegangan tentang apa sebenarnya yang ada dan apa yang dapat terjadi.” Visi mulai terlihat dari adanya kebutuhan terasa, dihadapkan dengan kondisi yang tidak memuaskan (hari ini); ….. yang kemudian berkembang menjadi suatu gambaran mental yang jelas tentang apa yang dapat terjadi dari apa yang ada (keinginan KUAT yang mengkristal tentang hari esok), yang dilandaskan atas suatu keyakinan yang kuat, tentang feasibilitas suatu usaha ekonomi, yang sesuai.

Menemukan VISI diwujudkan dengan cara:

a. Memulai dengan pencarian kontemplatif di hadapan Allah.

b. Dimaknakan dengan pencarian introspektif ke dalam jiwa.

c. Diteguhkan dengan pemastian retrospektif dalam perjalanan hidup.

d. Dibuktikan dengan konfirmasi TUHAN secara internal, dan afirmasi sosial.

e. Diwujudkan dengan penemuan bidang usaha yang pas (timely).

f.  Dipastikan dengan menetapkankan bidang usaha yang sesuai, antara lain:

i) Menetapkan bidang usaha yang pas, melalui menyesuaikan hasrat batin (pnimiyut ha-ratzon) dengan hasrat terlihat – chizoniyut ha-ratzon / “anugerah hasrat”) dengan bidang usaha ekonomi.

ii) Meneguhkan Tujuan Teopreneur: “Memberi meneguhkan semakin banyak orang.”

iii) Menerapkan KEMANDIRIAN TEOPRENEUR dengan cara: Berpikir unggul – berani berpikir (VISI BESAR); Bersikap unggul – berani memutuskan (MISI BESAR); Menerapkan cara unggul – berani bertindak dengan cara dan kebiasaan berkualitas menggapai sukses.

Mewujudkan Semangat Kerja Teopreneur.

Semangat kerja Teopreneur diwujudkan dengan cara:

1) Mempertahankan kompetensi  tinggi: Integritas Karakter (SQ), Kapasitas  Pengetahuan (IQ) , dan Kapabilitas Kecakapan (SEETQ) dalam kerja.

2) Memberikan komitmen kuat kepada kualitas, disiplin dan kinerja efektif, efisien, sehat, optimal, dan produktif;

3) Membangun SDM dengan kebiasaan berkualitas: Pikiran Unggul; Keberanian Unggul, Cara Kerja yang Berkualtias dan Unggul untuk berkerja unggul.

4)  Membangun Organisasi menjadi wadah mengerjakan usaha ekonomi dengan budaya hidup (kebiasaan) dan kerja berkualitas: Pemimpin dan kepemimpinan  berkualitas, pikiran berkualitas, bahasa berkualitas, definisi berkualitas, sistem  berkualitas, standar bekualitas, pengukuran  berkualitas, biaya berkualitas, produk  berkualitas – guna membawa kepuasaan konsumen.

5) Menerapkan kerja unggul dengan langkah: a) Meditasi memadukan pikiran, sikap dan tindakan; b) Meneguhkan sinergi dengan berbagi visi ; c) Bertindak dengan: Kehendak kuat, pikiran cerdas dan emosi yang menyemangati untuk melaksanakan pekerjaan secara efektif, efisien, sehat, optimal, dan produktif; d) Mengedepankan Mentalitas INVESTOR, mendukung pengerjaan KERJA secara berkualitas.

Membangun Usaha Ekonomi Meningkatkan Kualitas Hidup. Tujuan dan sasaran dari membangun usaha perekonomian adalah untuk meningkatkan kualitas hidup, yang dapat dilakukan dengan cara:

1. Menerapkan FALSAFAH TONGKAT MUSA. Hal ini dilakukan dengan: Memulai dengan beradaptasi mengubah CARA PANDANG (Paradigma dan Perspektif) untuk berpikir kreatif, kritis, inovatif dan kontemplatif, bagaimana memanfaatkan disrupsi peradaban dengan TK (CT), TI (IT) dan IB (AT) kekinian menjalankan usaha ekonomi. Menetapkan APA YANG ADA dan merekayasa dengan memberi NILAI EKONOMI bagi USAHA EKONOMI yang yang timely dan sesuai kebutuhan konsumer masa kini dan membawa KEUNTUNGAN bagi jejaring usaha ekonomi.

2. Bekerja sama bersinergi secara KOOPERATIF, yang diwujudkan dengan cara: Memanajemeni POLA KERJA BERSAMA yang SALING MENGUATKAN membangun kekuatan lintas usaha. Mendorong UPAYA BERSAMA yang SALING MENGUNTUNGKAN masa kini dan masa depan. Bekerja  ber-JEJARING, membuka PASAR yang luas. Membagi SEMANGAT BERUSAHA dan PENGALAMAN KEUNTUNGAN BERSAMA pola bisnis masa kini. Saling menyemangati dengan CONTOH dan MODEL Usaha EKONOMI sukses masa kini.

3. Membangun USAHA EKONOMI Jangka Panjang, yagn diterapkan dengan cara: Merekayasa USAHA EKONOMI yang MENGUNTUNGKAN dengan orientasi masa depan. Membangun KEKUATAN EKONOMI BERBASIS PASAR JANGKA PANJANG menjawab kebutuhan customer. Menguatkan EKONOMI dengan KERJA SAMA dan PEMASARAN pola masa kini secara konsisten. Memanfaatkan teknologi usaha ekonomi kekinian mencipta peluang bisnis (investasi valuasi).

4. Membangun USAHA EKONOMI dengan merencanakan Kesejahteraan Bersama secara Rohani, Sosial dan Ekonomi, yang dilakukan dengan cara: Menetapkan tujuan nyata USAHA EKONOMI dalam membangun KEHIDUPAN: SEHAT ROHANI-JASMANI; KUAT SOSIAL; serta CERDAS EKONOMI. Melangkah MASUK KE SEGALA BIDANG HIDUP untuk berkiprah mengambil peluang usaha ekonomi pola kerja masa kini, yang holistik, kontekstual, terintegrasi, dan bersinambung bertahan ke masa depan.

5. Mengelola USAHA EKONOMI dengan menerapkan Kepemimpinan dan Manajemen yang BENAR, BAIK serta SEHAT yang dikerjakan dengan cara: Mencipta Sistem Pengelolaan Usaha Ekonomi yang Manageable, Akuntabel dan Trasparan. Membangun Perencanaan yang BENAR untuk semua aspek. Menyiapkan Pencatatan dan Pelaporan yang BENAR. Memastikan pelaksanaan Supervisi dan akuntabilitas yang BENAR, guna memastikan bahwa semua usaha perekonomian berjalan sesuai dengan visi, misi, tujuan dan perencanaan yagn benar, baik, sehat, optimal dan produktif.

KESIMPULAN

Pokok-Pokok yang telah dipelajari. Pokok-pokok yang telah dipelajari dalam diskusi tentang  “Teopreneurship (Theo-preneurship): Membangun Usaha dan Perekonomian dengan Perspektif Alkitab” adalah:

1) Menemukan Panggilan Teopreneur Mewujudkan Mandat Ekonomi;

2) Memastikan Peran Teopreneur Memenuhi Mandat Ekonomi:

3) Mewujudkan Tugas Pemimpin Teopreneur membangun usaha ekonomi dengan cara yang andal.

Gagasan-gagasan yang dapat dipelajari. Gagasan-gagasan yang dapat dipelajari dari diskusi ini adalah:

1) Bagaimana Menemukan VISI (Inner Will) untuk membangun kekuatan sebagai Pemimpin Teopreneur dengan visi besar (Inner Will), guna menemukan dan menjalankan usaha perekonomian yang timely.

2) Bagaimana Memastikan Kemandirian Theopreneurship: Berani Berpikir, Berani Bersikap dan Berani Bertindak dalam menjalankan usaha perekonomian timely yang telah ditetapkan.

3) Bagaimana Meneguhkan (Outer Will) dengan pekerjaan yang pas didukung jiwa, potensi, mentalitas dan kecakapan Teopreneur dengan kompetensi, kualitas, disiplin bekerja cerdas dan keras dengan komitmen serta semangat tinggi ke target kerja yang jelas, sehingga mendatangkan keberhasilan.

4) Bagaimana Menemukan  Kekuatan Sendiri Membangun Usaha Ekonomi secara Mandiri melalui kebiasaan baru: a) Penggunaan FALSAFAH TONGKAT MUSA; b) Ber- KOOPERASI BERKOLABORASI BEKERJA SAMA; c)  Membuat dan melaksanakan RANCANGAN PEMBANGUNAN Usaha Ekonomi Jangka Pajang; d) Membagi Kemanfaatan PEMBANGUNAN Usaha EKONOMI untuk memperoleh dukungan; e) Mengelola proses EKONOMI dengan teknikalitas dan teknologi yang sesuai (pas), efektif, efisien, sehat, dan optimal, sehingga membawa keberhasilan usaha perekonomian yang dicanangkan.

Tindakan Konkrit Usaha Perkonomian. Tidakan konkrit melaksanakan uasaha perkonomian, dapat dilakukan dengan langkah berikut:

1) Meneguhkan VISI atau “inner will” untuk membuktikan diri sebagai “PEMIMPIN TEOPRENEUR yang visoner” – dan “Mandiri” dengan KERJA yang pas;

2) Fokuskan untuk “Mengembangkan diri menjadi Pemimpin Teopreneur yang KOMPETEN dengan Integritas -SQ; Kapasitas – IQ; dan kapabilitas andal SEETQ, untuk menjalankan peran kepemimpin secara efektif, efisien, sehat, optimal; dan produktif.”

3) Memimpin dengan bersinergi berlandaskan ETOS yang kuat (Kolose 3:17,23), sehingga mewujudkan gerakan kerja simultan yang efektif, efisein, sehat, optimal dan produktif, yang membawa sejahtera kepada diri, keluarga dan masyarakat.

Jakarta, Juli 2022

Dr. Yakob Tomatala

 

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.