YT Leadership Foundation





Archive for the ‘Puisi’ Category

Tapak Sang Abadi berjejak kokoh di Kota Raja Besar, di Gunung Keselamatan, menyebar damai berkeadilan

Namun, Tapak Sandya Kala, YANG ESA, yang berjejak dalam hadir Sang Janji demi berbagi keadilan, didebati para “yang jadi”, yang sok tahu tentang Sang Abadi, Bapa Kekal, yang tertanda gugatan atas pelanggar martabat hari suci, dengan bangun, menggangkat tilam, berjalan dan sembuh …

Para sok tahu gagal sadar, bahwa Sang Janji, adalah Yang Terutus dengan Tugas Kekal, Penghadir rasa adil bagi para terpinggir
Ditanda Sapa Abadi, “… barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup

Karena Sang Janji adalah Pemegang Kuasa Anak Manusia
Dimana para sok tahu, dengan Sapa Abadi menjadi terdepak, “Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu” … dan yang mendakwa kamu adalah Musa, yang kepadanya kamu menaruh pengharapan ….

Sang Janji pada giliran-Nya memastikan bahwa “yang bangun, mengangkat tilam dan berjalan memperoleh keadilan dan hidup demi iman, sedangkan para sok tahu, pembaca Kitab Suci, terdepak oleh Tapak Sang Abadi karena tidak percaya … Fatal ….!

Selamat menyambut keadilan dari Sandya Kala dengan memperoleh hidup demi iman kepada Sapa Abadi Sang Janji

www.yakobtomatala.com

Tapak Sang Sandya Kala yang berurai diri, kembali menapak di Kota Raja Besar, Pusat Perjumpaan Suci

Tapak itu memijak bercak-bercak hitam menoda lorong ber-TUAN dengan “yang jadi” gagal melek, gagal jalan lurus, gagal bangun di atas kaki melunta, memelas harap, menanti tapak Sandya Kala, kala air bergoncang

Namun, rumput bergoyang gagal berkabar tentang desau tapak Sang Abadi menggoncang air, mendebat hati, memupus iman membelenggu harap menanti berjibun tahun, tersisih dalam antrian, menghilang asa, mengelam rasa menanti mendamba tak pasti jadi, datang-Nya Sang Kasap menggoncang air

Yang Abadi tak harus dikejar lewat goncangan air dari Yang Kasap …
Tapak-Nya berdebam dalam hadir Sang Janji dengan Sabda berjawab: “Maukah engkau sembuh?”
Lagi-lagi, percaya dan harap atas Sabda Sang Janji dengan “bangun, mengangkat tilam, berjalan” adalah sembuh

Yang pasti, percaya dan harap, atas Sabda Sang Janji, bangkit serta berjalan memelekkan untuk melihat, menegakkan untuk jalan lurus, mengokoh untuk berkuat di atas kaki Meleceh ulah pengidola “hari suci” gagal gugat “percaya, harap, bangkit dan berjalan, SEMBUH” dari kuasa Sang Abadi dalam Kata Kekal Sang Janji yang pasti jadi, tanpa air bergoncang
Namun besit Pesan Sang Janji, bagi yang sembuh, “jangan berbuat dosa lagi, agar sembuh dan sembuh …”

“Selamat percaya, berharap, bangun, mengangkat tilam, berjalan dan sembuh dalam Kuasa Sang Janji”

www.yakobtomatala.com

Tapak Sang Sandya Kala, Sang Abadi berurai diri di ruang-ruang kehidupan yang terang, yang gelap

Dari ruang gelap di tepi sumur, sampai ke hunian bekas hajatan, dan kini di lapak nelayan
Tapak itu menyampar di baringan pesakitan buah hati kuli istana

Tapak itu menapak ke dalam gelapnya hati, melihat gelap yang gelap, memasgulkan rasa atas yang sekarat, menoreh gundah menantang harap menggugah harapan melihat terang
Karena, tapak dalam hadir Sang Janji berjarak sehari langkahan kaki, menjerat rasa bimbang, melesap rasa percaya, menjerumus ke dalam gelap yang lain

Namun, tapak Sang Janji membesit harapan terang melintas jarak antara yang terang dan yang gelap dengan “percaya”
Percaya mendobrak kelam hati dari Sabda, “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya”
Percaya adalah “pergi” Pergi, adalah menyambut “hidup” dari Sang Janji yang menapak melangkahi jarak, menghadirkan Terang Pemberi Hidup, bagi yang sekarat di tempat gelap
Pergi, adalah jalan melihat hidup, karena Sang Janji adalah Terang Hidup, yang menghidupkan, membinar “Terang Hidup” dalam ruang gelap, “anakmu hidup” …….
Dan, percaya adalah jalan hidup, bagi diri dan keluarga, karena Sang Janji, Sang Terang Hidup sedang menapak masuk ke ruang gelap, memberi Terang bagi yang gelap …

Selamat percaya, pergi, dan menikmati Terang Hidup yang mengatasi gelapnya hidup …

www.yakobtomatala.com

Tapak Abadi Sang Sandya Kala berkelana di Kota Raja Besar di mana Penyuka Langit mencari Sang Langit, dengan bertandang ke hunian Guru Besar

Penyuka Langit, berceloteh tentang Langit, mencari Tapak-Nya bagai tanah berhasrat air dengan melangit dan menjadikan Langit Nan Abadi bersemi, bersemayam di benak nan kesempitan

Dalam Sang Janji, Sang Guru Besar,
Sandya Kala Berkuliah tentang menjadi Warga Langit yang hanya ditapak lewat rahim,
jalan yang memporanda nalar lurus

Hm, bagaimana mungkin…?
Iya, Langit tidak tertekuk
Langit adalah Desau Bayu, mengigau kuping, kasat dipandang, muskil dipaham
Namun, Langit terlihat pada Tapak Sandya Kala di padang gersang, sebagai solusi bagi kaum beringas yang meranggas dipatuk beludak karena mendebat Sang Langit
Di sini, si beludak tembaga yang dipandang, menyandang pengakuan kemenangan Sandya Kala atas pedusta besar
Dengan “menghadirkan kelepasan dari maut kepada hidup Anugerah Sang Langit”
Inilah jalan rahim yang tak kunjung dipaham

Sekarang, lihatlah Tapak Itu,
Welas Sandya Kala yang tak terukur kepada para yang jadi,
“tertapak dalam hadir Sang Janji, yang memijak lebur kepala beludak di Bukit Tengkorak dan bersabda, sudah selesai”
Inilah retasan jalan rahim ke Langit, dari Penjadi Para Warga Langit, di mana jalan rahim adalah “barang siapa percaya” untuk menapak ke Langit yang dipasti Sang Guru Besar bagi penyuka Langit yang mau berguru tentang Langit!

Masih tak terpaham?
Iya, jalan ke Langit hanya terlihat oleh yang terkasap mata menapak jalan rahim yang tertanda darah Sang Janji yang membuka pintu Langit untuk bercanda dengan Langit

Selamat diberkati, bagi “barang siapa” … yang matanya dicelikkan untuk masuk ke Langit, menapak Tapak Sandya Kala bersama Guru Agung, Sang Janji
Kiranya …

www.yakobtomatala.com

Jejak kelana Sang Sandya Kala teruntai dari ruang ke ruang,
dari bilik tanpa gerisik, ke pasar gemerisik
Dari lapak tukang kayu ke situs hajatan, menelusur hunian nelayan, berhajat suci ke Kota Raja Besar

Hasrat mengebu berteduh hati, bersimpuh di bawah bayang Sang Abadi, di Rumah Suci
Namun, Sang Janji berbelalak mata, bertegun jiwa,
yang lurus terbengkok di pelupuk, yang kudus dionari hasrat berkaya diri, ternyata …,
Langit tak dijunjung, “yang kudus” terpijak kaki-kaki fana, menabur aroma kong kali kong, dengan bicara yang membirukan dan memerahkan mata

Di sini, di Rumah Suci, Tapak Sang Kudus harus berpijak,
Mazmur harus didendangkan,
Tuturan Sang Suci harus dilafal,
Amsal dan ibarat harus direnungkan, mengkayakan hidup, mengabadi jiwa
Namun, aroma kongkol mengkongkol tersebar pekat
Sadar, Tapak Sang Sandya Kala harus mengabadi di “bayang abadi” dan memfanakan yang fana
Namun, semua difanakan menjadi pasar, menghalal yang fana di Ruang Abadi, Rumah Suci

Bagi Sang Janji, demi mensakral yang sakral, rotan adalah jalan mengorak yang fana,
menyapu Ruang Abadi dengan mencecerkan yang receh sampai yang menyilaukan, dan menghalau yang galau, yang buta sampai yang patah kaki, demi berbersih-bersih di depan Sang Abadi

Akh, yang biasa pasti terkaprah salah …,
Sang Janji hanya mendahulukan Yang Abadi sebagai misal bagi yang getol
Karena, Langit adalah Langit, yang harus dijunjung di tempat berlangit
Dari sini, rotan bicara berkilah tentang Tapak Kekal yang harus bertapak di Ruang Abadi
Urusan mulut, perut dan periuk harus bergelut di ruang para yang jadi, di pasar, tempat yang jadi menggulati kehidupan
Semua, demi mengabadi yang Abadi di tempat Abadi, bagi Nama Besar Sang Abadi
Semua yang fana dihargai di kefanaan dengan urusan beras, tahu dan tempe

Di sini, Kisah Suci Sang Janji di Tempat Sang Langit harus menjadi pantas di tempat Ruang Abadi, agar “para yang jadi” berlurus hati di depan Penjadi Agung
Karena Yang Suci harus dipantaskan di Rumah Suci, yang fana tetap dipantaskan, di mana rupiah dikejar untuk urusan mulut, periuk dan perut
Semoga …..

Doa berkat dari Tingkap Ketujuh, bagi penghasrat di empat penjuru
www.yakobtomatala.com

Tapak Sandya Kala berjejak dari lapak tukang kayu yang senyap tidak bersenyap, dengan jejak-jejak ke Hajatan Bahagia
Merangkai kisah Sang Sadya Kala,
Sang Janji, berkelana menapak persada, dari ruang ke ruang, dari lapak ke hajatan, menyusupi dunia hura-hura, lorong-lorong tempat yang lara dan cicipan penghangat penghajat dan penjadi
demi yang lara serasa istana, yang papa serasa jaya dalam kefanaan

Dalam hajatan,
Sang Sandya Kala bersabda Sang Janji bicara, “AKU ada di suka, siap menyambut duka”
Kala suka, para penjadi terkikik, merona dalam nikmat kesementaraan, terlelap dalam gemerlap kesementaraan
Namun terperangah, kala kesementaraan berganti dalam bisikan lara, “mereka kehabisan” …,
Bisikan lara pencoreng wajah berpupur, penyemai gunda dalam canda penghajat

Di sini, tapak kelal dari Sang Janji berjejak di ruang kesementaraan,
dengan “segelas anggur asli”, demi penghajat naik kelas
Segelas anggur pencelik mata berdecak lidah
Segelas Anggur bicara tentang Sang Janji,
IA Sang ADA, Yang ADA dan Ber-ADA kekal, Penjadi Kekal dari semua yang terjadi,
yang ADA dalam keabadian, berjejak dalam kesementaraan, demi menjadikan yang sementara mengabadi

Dari Tapak Kekal yang Berjejak dalam hajatan, dan Segelas Anggur sebagai saksi,
Sang Abadi berwujud dalam kesementaraan, demi bicara, tidak ada yang mustahil Jika Tapak Kekal berjejak dalam ruang kehidupan, bagiku, bagimu, … kini, di sini, dan di semua ruang, di suka, di duka, sehingga semua … “berselamat dan bahagia, bersulang bersama Sang Janji” di pesta mau pun di rumah kesenduhan! Selamat …

Sahabat dalam suka, kerabat dalam duka
www.yakobtomatala.com

Tapak Sang Sandya Kala telah menjejaki bumi, tertoreh dalam arakan kisah suci, berpuncak pada hadirnya Sang Janji, dengan cerita emas dari Rumah Roti, yang hadir senyap di Lapak Tukang Kayu

Dari sini muncul tanya berjawab, “mengapa”?
Sang Sandya Kala punya racikan, Sang Janji adalah Puncak Tapak-Nya di persada
Sang Janji yang pada mula-Nya ADA, dan Yang ADA, adalah Sang Sandya Kala, yang Abadi dari Keabadian, Yang Penjadi dari semua “yang jadi” dan “semua yang ter-ada”

Sang Janji adalah Penyataan Sang Sandya Kala, Yang Hidup untuk menghidupkan, Yang Terang untuk menerangi hidup, dengan menjadi “yang jadi” untuk menjadikan “yang jadi” untuk menjadi …..

Namun, persada berbuta mata, tidak melihat, dan “yang jadi”, yang milik-Nya, yang kepadanya Sang Janji berwujud, ogah menerima-Nya …
Tetapi, “yang jadi” yang tercelik dan berbuka hati, mengalami, melihat Terang dan Hidup, sehingga terhidupkan menjadi abadi untuk keabadian”

Mengapa? Lanjut tanya berjawab, karena Sang Janji adalah “Yang Diurapi”, “Yang Sandya Kala”, “Yang Menjadi Yang Jadi” sebagai “Sembahan” untuk menuju pejagalan ke bukit derita …
demi membebaskan “yang jadi” menjadi abadi, …

Dari sini, Sang Janji yang dari lapak senyap merengkuh yang lapuk, menghadirkan Terang dan Hidup di persada, sehingga semua “yang jadi” punya cerita abadi, “mengabadi bersama Sang Janji” …

“Selamat Berbahagia bersama Sang Janji”!

Jakarta, Januari 2020
www.yakobtomatala.com

Tapak yang Sandya Kala itu membumi, mengabadi di tanah, meninggalkan jejak-jejak dalam siarah zaman

Jejak-jejak itu tertapak, kala Sang Sandya Kala, Sang Kekal bersabda “jadilah, … maka semua jadi”, termasuk “yang jadi”, yang analog, sesempurna diri Sang Abadi
Namun, jejak dalam “yang jadi” itu terkotori di taman suci, yang menggerogoti “yang jadi” sehabis-habis dan melumatkannya, sampai melesapkan daya
Namun, Sang Sandya Kala menyusulkan janji pembebasan “Aku akan mengadakan …” dengan Sang Janji sebagai taruhan …

Janji tentang “Sang Janji” tertapak dan ditelisik oleh para “jurukata”, bahwa Sang Janji adalah Sang Kekal yang Penasehat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa Kekal, Raja Damai, Sang Imanuel, …
akan ada di hunian Raja Besar, dibesarkan di lapak tukang kayu,
dimeriahkan di pesta nikah, disyukuri dalam kesembuhan, dikisahkan di jalan raya ibu kota, dipercakapkan di lorong-lorong kampung nelayan, diguncingkan di tengah derap bajak petani, dipertanyakan di kerumunan penghuni lahan sampah, dan menimbulkan tanya risau menggalaukan tak berujung di antara penguasa, sampai memuncakkan-Nya di Bukit Tengkorak,
dan … ujungnya, pada Sabda Kemenangan Sang Janji, “sudah selesai …”

Kini, di sini Sang Sandya Kala, Sang Janji, Pembasuh semua yang terkotori, sedang mencari jejak-Nya, … adakah jejak-Nya tertapak di hati, di jiwa, di roh, terukir dalam kata, terkata dalam kerja yang aromanya terendus pada tiap hembusan nafas … dari “yang jadi?”

Para terjamah Sang Kekal sajalah yang terkuatkan dan sadar bahwa “jejak tapak itu tertanda 12 bulan, 52 minggu, 365 hari, 8760 jam, 525600 menit dan 31536000 detik, pada setiap tarikan nafas, kata dan kerja dan …” terulang, sampai ke suatu akhir

Pada ujungnya,
Tapak Kekal itu tersaksi dalam kefanaan yang dibaharui dan dibaharui
Terdanda dalam nada “haleluyah dan syukur”
Teralami dalam berkat kekal di hidup, di kerabat dan di setiap tetesan keringat
Terjalani dari pagi ke petang, dan berjejak di malam pada helaan nafas akhir, kala Sang Kekal bersabda, “pulanglah!”
Jejak itu terus tertanda sampai Sang Abadi menghadirkan keabadian yang abadi untuk dipestai dalam kekekalan …
Selamat

Selamat Tahun Baru 2020
www.yakobtomatala.com

Tapak itu di tapaki sandya kala dalam rancang abadi
Tapak itu nyata, kala Sang Kekal mencipta jagat dengan Sabda Abadi ….
Untaian emas penghubung tapak-tapak itu nyata dalam sejarah suci, dengan “Sang Janji” sebagai Poros-Nya

Dari Para Jurukata Sang Kekal,
tapak-tapak itu diperjelas, bahwa “Sang Janji” adalah: Dia Yang Diurapi,
Sang Kekal,
Sang Raja Damai,
Sang Terutus
ke dalam ciptaan

Tapak TUHAN oleh Sang Janji, Sang Terutus, senyap ditapaki, sekalipun di Rumah Raja Besar
Yang saksi tapak TUHAN oleh Sang Janji, adalah sepasang anak Adam, dan mereka yang tak bernama
Namun, Tapak TUHAN oleh Sang Janji diperjelas oleh Para Malak dengan Pujian,
“Hari ini telah lahir bagimu, Juruselamat” …
Karena Sang Janji adalah Puncak Tapak TUHAN yang menjejak bumi, bagi pembebasan dunia

Dan, Tapak itu semakin jelas kala Sang Janji Bersabda, “Aku diurapi, Aku diutus untuk menghadirkan pembebasan,
untuk menghimpun bagi Sang Khalik suatu Umat Kudus”

Puncak Tapak TUHAN dari Sang Janji akhirnya menuju ke Bukit Tengkorak,
di sana dengan tetesan darah suci, Sang Janji menyelesaikan masalah dunia melalui penyerahan Diri-Nya yang ditanda Sabda, “Sudah Selesai” …

Kini, kala Tapak itu diorak baru dalam Natal, timbul tanya gemas:
“Apakah pembebasan Sang Janji terbaharui?
Adalah Tapak itu tertanda dalam jiwa Para Peraya Natal?
Adakah Tapak itu tertanda dengan Damai Abadi untuk ditapaki ke dalam dunia?”

Akhirnya, Natal Bicara,
“Jadilah Tapak-tapak TUHAN, demi membawa damai ke dalam kekelaman”

Selamat Natal ….

Jakarta, 29 November 2019
Yakob Tomatala
www.yakobtomatala.com

Ibunda…..
Tidak banyak hal yang kupahami tentang dikau
Tidak banyak rasa yang kuselami dari hatimu
Tidak banyak ceritamu yang kuresapi, bahkan tidak dapat kuhayati senangmu …, sedihmu …!

Tetapi,
ADA-ku … adalah hebatmu …
Majuku adalah tabahmu dan kerjamu …
Betapa tidak,
Demi menyenangkan … dikau rela bungkam
Demi menyemangati dikau rela senyum tatkala hari kelam dan hati sedang terajang sembilu …

Sadarku, …
Kehebatan IBUNDA adalah: “komitmen, kesetiaan, ketabahan, ketekunan, kegigihan, kecintaan, kerajinan, kesabaran dan semua yang hebat dalam menopang AYAHANDA mengayomi, memelihara serta melindungi keluarga, membesarkan buah-buah hati.”

Ibunda …
Hebatmu … membuat hidup jadi bermakna
Tangguhmu … menempatkan para penetek di masa depan yang berjaya
Harga semua jerihmu tidak akan terbayar
Hanya, kujunjung di pucak ubun dengan kata bermakna: “Terimakasih Ibunda, …”
Kata yang tidak pernah terlambat diucapkan, kapanpun, untuk… Ibunda ….!

Jakarta, 30 Mei 2017
Yakob Tomatala
Anakmu …