YT Leadership Foundation





Sandya Kala masih bertapak di Kota Raja Besar dalam hadir Sang Janji yang meneguh berkat bagi yang terjanji … di tengah ancaman yang mengelisahkan

Sang Janji berbagi rasa dengan para Pembelajar, bertutur soal kegelisahan dan sejahtera langgeng di Rumah Abadi, Singgasana Sandya Kala … memenuhi kerinduan sejahtera dari para terjanji yang gelisah hati
Janganlah gelisah hatimu, percayalah kepada Sandya Kala, Sang Bapa dan percayalah kepada-Ku,” pungkas-Nya pasti
“Aku harus pergi dan kembali, ‘supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada’.” Jaminan-Ku adalah “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu.”

Dan semua terjamin “Sang Penolong, Roh Sandya Kala, Roh Kebenaran, Roh Penghibur” Yang menyertai dan diam dalam kamu. Dan ingatlah, “Aku pergi dan Aku akan datang kembali”

Bagi pengelisah ambigu yang gagal sadar, KU ulangi, ingat saja bahwa Aku pergi dan akan kembali
Dan, jika kegelisahan menghantui, sadarlah bahwa:
Aku adalah JALAN satu-satu-Nya kepada Sandya Kala, pokok sejahtera abadi Penghibur Peneguh Harapan;
Aku adalah KEBENARAN satu-satu-Nya, yang pada-Ku ada damai dan sejahtera berketenangan abadi;
Aku adalah HIDUP Abadi dari Sandya Kala, Pemberi Hidup Kekal, yang memberi hidup mengabadi di tengah kegersangan yang gerontang …
Batu ujinya adalah, Barang siapa melihat Aku, kamu melihat Sandya Kala, Bapa Kekal dalam kefanaan yang mengelisahkan sekali pun …

Tanyakan padamu dan jawablah dari dadamu, sikap terhadap Sang Janji, Sang Jalan, Kebenaran dan Hidup: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti Firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia”
Bukankah ini lebih dari cukup?
Karena itu, “yang terjanji, yang fana, yang mengalami Sang Janji akan ada di Jalan Benar, Kebenaran Benar, dan Hidup Benar dan menikmati sejahtera abadi di kekalutan yang mengelisahkan”
Karena “Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku, bangunlah, marilah kita pergi dari sini” …
Mari, teruslah terbangun bejalan bersama dalam sejahtera-Ku …
Masih ambigu?

Selamat bagi para pencari gelisah yang telah mengalami Sang Janji, Sang Jalan, Kebenaran dan Hidup Pemberi Sejahtera, dan setia taat berjalan terus di dalam DIA …

www.yakobtomatala.com

Tapak Sadya Kala merona sejarah dalam siarah Sang Janji menuntas kerja keterutusan, demi meruak, kembali ke Asal Dari Mana IA datang

Sang Janji di Kota Besar, dalam arakan syukuran Hari Raya Pembebasan Besar, bersama semua anak Bapa Banyak Bangsa …
Sang Janji bicara tentang Diri-Nya, Misi-Nya, bahwa “… saatnya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Sandya Kala, Sang Bapa” …
“Sandya Kala telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa IA datang dari Sandya Kala dan kembali kepada Sandya Kala” …
Sang Janji, dengan kuasa Pengutus, tertegas Sabda,
“Aku tahu, siapa yang telah kupilih”
“… barangsiapa menerima orang yang Ku-utus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku” …
Yang menerima, akan tahu dengan tepat:
Aku adalah TUHAN dan Aku adalah Guru, Pemberi bagian dalam Aku, kepada para terpilih;
Aku adalah TUHAN dan Aku adalah Guru, Pembersih ternoda legam demi berbesih diri, berbijak hati;
Aku adalah TUHAN dan Aku adalah Guru, Pemilik Hidup berteladan yang tidak lekang di panas dan tak hancur di hujan yang dilakon dalam sikap “kain lenan (handuk) dan basi (baskom) penanda pelayan (diakonos) dan hamba (doulos) demi hidup dalam kebenaran dan kebaikan; dikokoh “sikap berwelas asih yang rela berkorban dan menanggung akibat pengorbanan; rela memberi dengan menghargai penerima; dan rela menjamin tuntas dengan memikul beban yang dikasihi” …

Yang terpilih akan sadar, “kamu wajib saling membasuh kakimu” sebagai tanda hidup terpasak ke bumi demi kehidupan bersetia bertaat ke akhir …
Namun, yang gagal paham handuk dan baskom, yang pangling welas asih, gagal memberi hati dan menjadi “penyangkal”, diperolok kokokan ayam
Dan, yang tidak terpilih, tidak bersih diri, gagal melayani dan menghamba, tercerobos jadi “penghianat, pengangkang yang tegah membelakangi, menghianat, menjual yang Terjunjung” karena hati yang dirasuk IBLIS …

Yang terpilih akan eling, bersehat hati, berbijak sikap melakon Perintah Baru, “supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian, semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” …

Ini, demi menjejak tapak Sang Janji, berbagi siarah selama membumi demi memberkati yang terfana, menjejak langkah ke tempat DIA pergi, dengan bersudi jiwa memberi nyawa untuk memperolehnya kembali …, melayani, menghamba dalam welas asih berbagi hidup, memberkati …

Selamat mengenakan handuk, mengendong baskom, bertunduk diri dalam welas asih demi hidup bagi Sang Janji untuk memberkati, dan menantang penghianat yang gemar berhianat …

www.yakobtomatala.com

Tapak Sandya Kala bertapak di Kawasan Luar dalam kelana Sang Janji, menjelang Hari Besar Pembebasan, di mana mata anak-anak Bapa Banyak Bangsa tertuju ke Kota Raja Besar mewujud rindu berteduh simpuh di pelataran Rumah Kudus

Dalam kelana Sang Janji, para pembelajar dan para yang jadi terhenyak ironi fakta menghancur jiwa, “rajutan hati berubah dari sakit menjadi mati, meremuk batin sesanak, di Rumah Pohon Ara”

Kini dari yang hidup, berjadi sakit dan mati, jadi taruhan Nama Besar Sang Janji:
Betapa tidak, kala ada mati, IA bicara tentang “penyakit yang tidak membawa kematian,” ada yang mati, IA bertutur tentang “mati sebagai tidur” yang senyatanya, “yang mati menghadirkan rasa hilang, pedih, gerir dan gunda” bagi para tercinta yang tertengarai cercah harap, “sekiranya Dikau ada, ia pasti tidak mati!”

Di tengah sedak senduh getir rasa dari galaunya rasa kelam, Sang Janji bertegas Sabda, “yang jadi yang di sapa Tuhan Penolongku sudah mati”
Mengapa? Hm …
“Mati bersading hidup, supaya Anak Allah di muliakan”
“Mati berpasang hidup, supaya kamu belajar percaya”
“Mati berpindah hidup, supaya berteguh kredo, ‘Ya TUHAN, aku percaya bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah’ “
“Mati berganti hidup, supaya kamu tahu bahwa AKU ada di tengah yang mati, untuk memberi hidup, karena AKU-lah Kebangkitan dan Hidup
Mati menjadi hidup supaya “anak-anak Bapa Banyak Bangsa” melihat kemuliaan Allah
Mati, menjadi hidup “supaya mereka percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” dan beroleh HIDUP

Dan, dalam seru keras “Lazarus, marilah ke luar! Yang mati, terbangkit hidup! Menggemparkan, memicu vanyak percaya!
Dan … merangsek gelombang gaduh!
Penghulu Besar Pembela Agama, berputus kata,
YANG HIDUP harus mati ganti yang mati dan semua yang mati” karena “lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa ini binasa”
Akhirnya “jejala terpasang, agar Sang Janji, Sang Kebangkitan dan Hidup mengalami mati untuk memberi hidup yang tidak terbinasa kepada yang mati dari segala bangsa, untuk semua kurun …
Semua dari Sang Janji yang mati untuk hidup dan memberi hidup, tersaksi sejarah Hari Besar Pembebasan …,
di Golgota … untuk mati dan bangkit memberi hidup tak terbinasakan … bagi banyak bangsa!

Salam kehidupan dari Sang Janji, bagi yang mati dan tahu bahwa ia mati dan terhidupkan oleh Sang Kebangkitan dan Pemilik Hidup

www.yakobtomatala.com

Tapak Sandya Kala bertapak di Kota Raja Besar, di Pelataran Rumah Sesembahan, pada Hari Suci Pentahbisan Rumah Kudus, dalam cuaca yang membangkitkan kuduk, menggemetar raga, menggelegar, mengharu jiwa …

Sandya Kala dalam hadir Sang Janji, bertutur tentang Kepemimpinan, Pemimpin dan Kepengikutan:

Bagi Sang Janji, kepemimpian adalah kehidupan yang memberi hidup
Kepemimpinan adalah kandang berpagar batu di hamparan padang pengembalaan sebagai tempat kehidupan dan hidup
Kepemimpinan dibangun di atas kesatuan allahi mengokoh karsa, meneguh karya

Kepemimpinan adalah otoritas kehidupan yang memberi hidup di dalam dan di luar kandang bagi yang ada serta yang akan ada
Kepemimpinan adalah Pintu kepada kehidupan dan hidup yang berselamat sejahtera bagi Pemimpin yaitu Gembala serta Pengikut, yaitu domba-domba dari kandang ke padang dan dari padang ke kandang

Dari kesatuan Allahi Sandya Kala Sang Sang Janji, datang impartasi otoritas kepemimpian

Pemimpin di panggil menjadi Pemberi Hidup, the life giving, dan the life serving bagi kehidupan
Karena itu:
“Pemimpin sejati masuk melalui pintu dan menjadi Pintu
Pemimpin sejati diberi otoritas memberi hidup bagi kehidupan yang berkelimpahan

Pemimpin sejati sadar bahwa ia adalah Gembala, yang harus memimpin dari integritas sebagai gembala yang baik dan komitmen berkorban dengan memberi nyawa serta memimpin dari bawah guna menjadi hidup dan memberikan kehidupan

Pemimpin sejati berjalan di depan menjadi segalanya bagi para yang jadi yaitu para domba, dalam kepengikutan

Pemimpin sejati mengenal dombanya dengan nama untuk disapa,
membuka pintu untuk dibawa masuk memperoleh selamat, dibawa ke luar serta menuntun menemukan padang hijau

Pemimpin sejati memimpin dari HATI berlandaskan KASIH dengan kekuatan KEBENARAN dan KEBAIKAN dari Sang Janji” Pemilik dan Pemberi Kehidupan …

Bagi Sang Janji, para yang jadi adalah pengikut dalam kepengikutan,
Para yang jadi adalah domba gembalaan

Domba gembalaan harus mengenal suara gembala,
harus mendengar suara gembala, dan
harus mengikuti gembala kepada kehidupan untuk memperoleh hidup dan kehidupan

Dasar bagi yang ini ialah:
Organisasi adalah organ persatuan bukan persaruan
Organisasi adalah gambaran persekutuan Sandya Kala Sang Janji, yang adalah Pintu kepada hidup abadi bersejahtera kekal
Organisasi dan kepemimpian adalah kandang aman bagi domba yang harus menjadi sembelian namun, menjadi hidup dalam kehidupan Sandya Kala yang tidak terbinasakan …

Semuanya adalah karena Sang Janji adalah Yang Diurapi, Yang Terutus, menjadi PINTU kepada hidup dan Gembala Baik Pemberi kehidupan kekal dan sejati untuk semua yang terpanggil …

Selamat mendengar Panggilan Gembala Baik untuk menjadi Pintu kepada keselamatan dan kesejahteraan dengan memimpin untuk menemukan rumput yang hidup, bagi kehidupan kekal, “yang tak lekang pada terik mentari, dan tak lapuk kala kebanjiran” …

Salam Kepemimpinan

www.yakobtomatala.com

Tapak Sandya Kala berdebam dalam hadir Sang Janji, di jalan ke Kota Raja Besar, dengan sederet pandangan mata menyentuh pengalaman piluh para yang jadi, memiluhkan rasa berlegam yang membuta …

Tapak itu bersenyap dalam siarah Sang Janji menyentuh pengalaman yang jadi, yang buta, yang nista, dinista dalam tenor cemoh senada yang menyakit bagi yang sakit, “siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya?”
Yang mana yang benar, yang kebenaran?

Yang tidak melihat, yang jatuh tertimpah tangga, tertopang Sabda Terang Dunia, Anak Manusia, yang bicara tentang kebenaran:
“Yang buta adalah wadah kerja Sandya Kala,
Yang buta adalah batu uji, siapa buta sungguh, siapa awas waras,
Yang buta adalah kompas Sang Janji Yang Terjanji, Jurukata, Yang Diurapi, yang dengan olesan tanah dan basuhan air Siloam, mencelik membuat melihat indahnya Buah Tangan Sandya Kala”
Ini mujizat …!

Namun, sang tercelik, mengundang debat Pembela Agama:
“Ini hari Suci, Sang Janji disangkahkan tertuduh, ‘Orang ini tidak datang dari Allah, sebab tidak hormat hari Suci,’
Siapa mengakui Dia sebagai Yang Diurapi, terkucil …”
Namun, lagi, yang sungguh melihat karena tercelik, tidak tercekik akal bulus, dan lantang menantang: “satu hal aku tahu, … aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat”
Saksi sang tercelik pengunci debat:
Mari, bicara kebenaran,
Adakah Sandya Kala mendengar orang bernoda?
Adakah yang tidak datang dari Sandya Kala memelekkan yang dari lahir bergelap mata dan bermujizat?
Pembela Agama yang kalah debat, menendang sang tercelik dalam hardikan kekalahan, … ke luar!

Sang Janji melerai, dan menegas kebenaran, “ini kerja Sandya Kala, yang menghadirkan Kuasa Anak Manusia, Sang Janji dengan tuntutan: Percayakah engkau …? Dan, bersambut: ‘Aku percaya, TUHAN!’.”
Mujizat adalah tanda hadir Sandya Kala dalam Sang Janji, yang bertegas Sabda: “Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta”

Apakah saya buta? Kalau saya melihat, maka saya buta!
Tetapi, jika saya buta, maka oleh Sang Janji saya dapat melihat keselamatan-Nya, dan percaya!
Inilah kebenaran, ini mujizat …

Selamat melihat kebenaran mujizat dari Sang Janji ….

www.yakobtomatala.com

Firman Allah:
“Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini” (Ulangan 29:29).

Pengantar

Sikap orang Kristen menghadap-hadapkan dan mempertentangkan doktrin atau ajaran yang dianut, telah berakar dalam sejarah yang panjang. Hal seperti ini terjadi, karena ada yang berpendapat, penafsiran saya atas Alkitab lebih benar dan menyalahkan pandangan yang lain. Pada sisi lain, dalam menyikapi wabah Covid-19, orang Kristen cenderung melihatnya dari beberapa sudut pandang dan dapat bersilih paham.

Ada yang percaya bahwa TUHAN Allah berdaulat, dan percaya akan kesembuhan illahi, namun menjadi bingung, karena doanya meminta mujizat seolah tidak terjawab. Ada yang percaya TUHAN, tetapi tidak percaya mujizat, dan menolak ajaran tentang mujizat kesembuhan illahi. Ada juga yang skeptis dan masa bodoh terhadap semua ini. Dalam upaya mendiskusikan pendapat-pendapat di atas, maka ada beberapa pokok yang akan dipercakapkan:

Pertama, PERSPEKTIF BAHASA, TUHAN, DAN IMAN

Melihat dari sudut pandang antropologi, segala sesuatu yang memiliki bentuk, melekatkan padanya arti atau makna, fungsi serta tujuan. Bentuk apa pun, memiliki “nama” yang adalah simbol bentuk, arti, fungsi dan tujuan. Dengan demikian, bentuk apa saja dalam setiap kebudayaan, telah diberi nama sebagai simbol bentuk dengan arti serta fungsi khusus yang melekat padanya. Bentuk ini pun telah diberi nilai yang dibakukan dalam worldview, yang adalah pusat pembakuan nilai.

Dari worldview ini terbentuklah model berpikir (paradigm) yang dari padanya ada titik atau sudut pandang (perspective) untuk melihat dan memaknai serta menyikapi diri dan segala sesuatu di sekitarnya. Dari sisi ini, bahasa adalah sejenis bentuk yang memiliki arti atau makna, fungsi dan tujuan yang melekat dalam worldview.

Bentuk, makna, fungsi dan tujuan “bentuk bahasa” telah menjadi milik korporat suatu masyarakat, dan menjadi realitas yang mendasari paradigma dan perspektif untuk melihat segala hal yang ada pada dirinya dan yang ada di luarnya. Karena itu, sudah dapat diduga bahwa “bentuk bahasa yang sama” dapat memiliki makna atau arti, fungsi dan tujuan berbeda dalam benak setiap orang. Dengan demikian, jika menyebut TUHAN, iman dan mujizat, tentu mengandung implikasi bentuk, arti, fungsi dan tujuan yang berbeda.

A. Perspektif Bahasa:

Melihat uraian di atas, dapat diduga bahwa tatkala berbicara tentang TUHAN, iman, dan mujizat, setiap orang sudah melekatkan arti, fungsi dan tujuan yang berbeda padanya. Orang menggunakan kata TUHAN, iman dan mujizat yang sudah diberikan arti, fungsi dan tujuan yang berbeda-beda, yang menjadi dasar bagi paradigma dan perspektif yang berbeda. TUHAN, iman dan mujizat dari perspektif teologisme dan dari perspektif antropomorfisme memiliki tekanan yang juga berbeda, yang beranjak dari realitas yang berbeda di dalam benak.

Perbedaan realitas dalam benak menghasilkan kesimpulan yang berbeda, dan mempengaruhi sikap yang juga berbeda. Dalam hubungan ini, dapat dikatakan bahwa bahasa TUHAN dalam Pikiran TUHAN adalah “an sic” TUHAN dan hanya dipahami TUHAN. Bahasa TUHAN dalam pengertian bahasa tentang TUHAN haruslah bersifat teologisme, yang bertitik anjak dari Diri-Nya, penyataan-Nya (self disclosure-Nya), pernyataan-Nya (self revelation) dan tindakan-Nya yang Mahalengkap sempurna, yang terdapat di dalam Alkitab (Firman TUHAN Allah). Dengan demikian, jika kita menegaskan bahwa TUHAN Allah berdaulat, maka seharusnya kita menerima bahwa tidak ada yang mustahil bagi DIA.

B. Perspektif TUHAN:

Uraian di atas menjelaskan bahwa pandangan tentang hakikat TUHAN dan cara mengurai pengetahuan tentang DIA yang menegaskan perbedaan ekspresi dengan pendapat yang berbeda. Sebagai contoh jika seseorang menggunakan pendekatan berpikir ilmu yang antropomorfisme tentang TUHAN, maka ia akan menjelaskan kata “Allah mengeraskan hati Firaun” (Keluaran 4:21; 3:19, dsb) dengan cara yang analog manusia, sehingga TUHAN dipahami secara keliru.

“TUHAN dianggap keras, dan bertanggung jawab atas sikap Firaun, karena IA tidak adil jika menghukum raja Mesir ini, sebab IA-lah yang mengeraskan hatinya.” Padahal, jika dilihat dari sudut pandang teologisme, dan perbahasaan, maka dapat dipahami bahwa TUHAN Allah yang berdaulat, memiliki atribut Mahatahu (Keluaran 3:19), Mahakuasa, Mahaadil, Mahabijak, Mahakasih, dsb., (atribut yang terkomunikasi) dan atribut Mahasempurna lainnya (atribut yang tidak terkomunikasikan) di mana IA pasti menetapkan apa pun, mengetahui apa pun, pasti adil dan pasti bijak (Roma 11:36).

TUHAN Allah yang Mahatahu, mengetahui bahwa Firaun akan berkeras dan mengeraskan hatinya (Keluaran 3:19), dan terbukti bahwa Firaun mengeraskan hatinya (Keluaran 4:21,30; 7:13,22-23; 8:15,19,32; 9:7,12,34-35; 10:20). Dengan demikian, istilah “TUHAN mengeraskan hati” seharusnya dijelaskan sebagai “IA membiarkan Firaun dalam kekerasan hati” (Mazmur 81:13; Roma 1:24), maka tatkala IA menghukum IA terbukti Mahaadil (Ibrani 3:7-11; Roma 1:18; 2:8; Pengkhotbah 12:14).

Perlu disadari, bahwa kebiasaan dan cara membahasakan apa pun yang bersumber dari worldview, cenderung menghadirkan perbedaan yang nampak pada sikap, kata serta tindakan nyata. Dalam kaitan ini, setiap upaya tafsir serta berpikir tentang TUHAN, iman dan mujizat, harus diawali dengan bertanya, “apakah saya berpikir seperti TUHAN Allah berpikir, atau saya berpikir seperti saya berpikir dengan kerangka realitas budaya dan kebiasaan tafsir di dalam benak saya?” Berpikir seperti TUHAN berpikir, adalah upaya yang maharumit, karena siapakah yang mengetahui pikiran TUHAN? (I Korintus 2:16; Roma 11:34).

Namun yang dimaksudkan di sini adalah jika berbicara tentang TUHAN, iman dan mujizat, maka titik tumpuh berpikir haruslah dimulai dari TUHAN, yang dimaknai secara tekstual dan kontekstual dalam proses penafsiran.

Disusul dengan membahasakan tentang TUHAN dari perspektif hakikat (substansi, esensi, eksistensi) dan atribut-atribut serta tindakan-tindakan-Nya yang Mahasempurna serta Mahalengkap, terencana dan terlaksana sempurna. Dari uraian di atas ini terlihat bahwa kesalah pahaman dan tafsir yang berbeda tentang TUHAN terletak pada titik tumpuh penalaran yang antropomorfisme atau yang teologisme.

C. Perspektif TUHAN, IMAN, DAN ILMU:

Bahasa TUHAN dan Bahasa Iman serta Bahasa Ilmu adalah hal yang berbeda. Bahasa TUHAN adalah bagaimana TUHAN memandang diri-Nya dan bagaimana seharusnya berbicara tentang TUHAN dengan pendekatan yang teologisme, seperti yang telah diuraikan di atas. Bahasa iman adalah membahasakan TUHAN dari sudut pandang apa yang dipercayai tentang TUHAN. Membahasakan apa yang dipercayai tentang TUHAN cenderung bersifat eksklusif dan diabsolutkan.

Dengan demikian, tatkala orang mengatakan bahwa “saya percaya, atau menurut keyakinan saya, dan seterusnya, … maka orang cenderung mempertahankannya, dan mengabaikan serta bisa merendahkan kepercayaan orang lain.”

Karena itu, sudah dapat diduga bahwa bahasa Iman inilah yang dapat menjadi faktor persilangan pendapat selama ini yang menyisahkan perbedaan sengit, “saya benar, Anda salah.” Pada sisi lain, perlulah disadari bahwa bahasa Iman dan bahasa Ilmu juga memiliki perbedaan substansial.

Bahasa Iman cenderung memutlakan apa yang dipercayai. Sedangkan, bahasa Ilmu dibangun di atas fenomena, fakta, premis dan kaidah ilmiah dengan terma-terma serta metodologi dan metode Ilmiah yang dimaknakan sesuai bidang ilmu, dan dengan proposisi yang berprobabilitas, yang dapat menjadi sarana penalaran dan dialog mencari titik temu.

Dengan demikian, dalam pendekatan berpikir, menalar dan menyimpulkan, setiap orang perlu bertanya, apakah saya sedang menggunakan bahasa TUHAN atau bahasa IMAN atau bahasa ILMU tentang TUHAN, iman dan mujizat?

Kedua, TUHAN, KESEMBUHAN ALLAHI DAN COVID-19

Patutlah diingat, bahwa TUHAN Allah yang berdaulat sedang dalam pengendalian atas semua ciptaan-Nya. Pada sisi lain, perlulah ditanyakan, apakah TUHAN mengisinkan wabah Covid-19 dan mengapa hal ini terjadi?

A. TUHAN dan wabah:

Dalam Alkitab, wabah telah dipahami sebagai bagian dari Covenant TUHAN dengan umat-Nya, yang melibatkan “berkat” (Ulangan 28:1-14) dan atau “hukuman” atau “kutuk” (Ulangan 28:15-68). Dari perspektif ini, wabah, secara khusus tercatat dalam Ulangan 28:21-22, sebagai hukuman TUHAN.

Di sini muncul pertanyaan, apakah Covid-19 adalah hukuman TUHAN atas dunia, umat manusia, masyarakat umum atau pribadi dan atau orang Kristen? (Ulangan 28:21-22; II Samuel 24:14; I Tawarikh 21:11-13).

Pertanyaan lain ialah, apakah Covid-19 ini adalah tanda akhir zaman? (Wahyu 6:8). Jawabannya ialah bahwa penghakiman serta penghukuman adalah hak TUHAN dan semua tindakan-Nya ada pada diri-Nya yang berdaulat. Bagi orang Kristen, jawaban “ya” yang kesusu, dapat berarti mengambil hak TUHAN Allah.

Karena patut ditanyakan, siapa yang berhak untuk mengangkat siapa, menjadi jurubicara Allah atau menjadi hakim atas nama TUHAN? Atau menjadi nabi yang bernubuat atas nama TUHAN? Perlulah disadari bahwa pengalaman Covid-19 ini terjadi dari pihak TUHAN untuk mewujudkan rencana-Nya yang kekal bagi umat-Nya dan seisi dunia.

Kita hanya diingatkan bahwa Covid-19 adalah “tanda-tanda TUHAN” dan kita bertanggung jawab menjadikannya sebagai pelajaran kehidupan, yang belajar dari hidup tentang hidup untuk hidup. Di samping itu, pengalaman ini juga membuat kita waspada dalam iman serta teguh dalam pengharapan akan kedatangan TUHAN Yesus Kristus.

Kita tidak berhak untuk mengambil hak TUHAN dengan menghakimi mereka yang tertular Covid-19. Semua tentu terjadi atas kehendak Allah (Roma 8:28) dan kemanfaatan dari pengalaman Covid-19 hanya dapat dipahami oleh mereka yang mengalaminya.

Covid-19 dapat juga dilihat sebagai cara TUHAN Allah memberkati dunia ciptaan-Nya (Common Grace) yang membawa pemulihan semesta, dan cara IA menuntun kehidupan umat-Nya (Special Grace) untuk menyiarahi anugerah-Nya demi mewujudkan Amanat Agung yang kekal guna memberkati dunia (Matius 28:18-20).

Pada sisi lain, Covid-19 bagi mereka yang meninggal adalah “cara wafat” yang telah ditetapkan TUHAN bagi semua orang sebagai makluk ciptaan-Nya. Di sini kita hanya dapat berkata, TUHAN memberi, TUHAN mengambil, segala puji bagi DIA (Ayub 1:21). Biarlah TUHAN Allah dimuliakan (Roma 11:36), dan kita terhindarkan dari sikap menghakimi sesama.

B. TUHAN dan kesembuhan allahi:

Perlulah ditegaskan bahwa TUHAN Allah berdaulat dan Mahakuasa, yang dapat melakukan apa pun sesuai kehendak-Nya. Masalah yang timbul adalah bahwa ada sementara orang Kristen yang tidak mempercayai mujizat dan menolak kesembuhan illahi (allahi). Dapat diduga bahwa pandangan ini tidak menempatkan TUHAN Allah sebagai berdaulat dalam arti yang sesungguhnya.

Pada sisi lain, ada orang Kristen yang mengklaim Janji TUHAN (Yohanes 14:12-14) sebagai janji kuasa melakukan hal besar, termasuk mujizat. Istilah “melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar” di sini, dapat menimbulkan perbedaan tafsir, yang mempengaruhi iman dan sikap. Bagi mereka yang menghubungkan pekerjaan besar dengan mujizat, harus disadari bahwa “mujizat adalah cara TUHAN Allah bekerja” dan pelayanan kesembuhan adalah bagian dari “karunia mujizat” yang dipercayakan TUHAN (I Korintus 12:9-10).

Dari sisi ini, setiap orang Kristen yang mengatakan bahwa ia dikaruniai karunia kesembuhan dan atau karunia mengadakan mujizat harus menyadari bahwa semua ini adalah sepenuhnya anugerah dan hak TUHAN.

Karena itu siapa pun yang mengklaim dikaruniai karunia kesembuhan dan karunia mengadakan mujizat, hendaklah bertanggung jawab melaksanakannya dengan hormat, rendah hati, dan takut akan TUHAN, karena pekerjaan ROH KUDUS tidak dapat dicopy paste. Sebaliknya mereka yang tidak menerima tafsir ini, kiranya berbijak hati untuk tidak menghakimi.

C. TUHAN dan Covid-19:

Dipahami, bahwa TUHAN Allah dapat mengadakan mujizat dan menghentikan atau membiarkan Covid- 19 menghancurkan dunia, bahwa semua ini adalah urusan-Nya, karena IA berdaulat ada-Nya. Dalam hubungan ini, jika TUHAN Allah menghendaki, IA dapat menghentikan Covid-19 sekarang, mau pun kapan-kapan, sesuai kehendak-Nya.

Apakah orang Kristen dapat berdoa dan memohon TUHAN menghentikan Covid-19? Ya, orang Kristen harus berdoa (I Tesalonika 5:17-18; Efesus 6:19-20), namun doanya haruslah doa iman yang menegaskan, “kehendak-Mu jadilah, di bumi seperti di sorga” (Matius 6:9-10), dan taat menunggu jawaban TUHAN.

Dalam kaitan ini, orang Percaya memiliki jaminan berdoa dan jawaban doa bagi perlindungan dari TUHAN Allah (Mazmur 91). Pada sisi lain, ada tanggung jawab yang harus dilakukan demi mengalami janji perlindungan-Nya dengan mempercayai dan mengharapkan pertolongan Allah.

Sebagai contoh, ada janji, “mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan kena celaka,” – orang Kristen yang menggunakan bahasa iman, dengan serta merta berkata, padaku ada kuasa, aku tidak takut dipagut ular dan tidak takut minum racun … sila! Lihat saja apa akibatnya. Iman kepada janji TUHAN selalu disertai dengan tanggung jawab taat demi berbuat kebenaran, yang tidak sama dengan mendemo kuasa atas nama TUHAN.

Ingatlah juga bahwa konteks janji di atas adalah dalam kaitan dengan “tanggung jawab taat menjalankan Amanat Agung , memberitakan Injil Yesus Kristus.” Dalam ketaatan kepada TUHAN-lah maka IA menggenapkan janji-Nya, melindungi dari racun mau pun sengatan ular (Banding: KPR 28:1-6).

Dengan demikian adalah merupakan tanggung jawab orang percaya untuk berdoa bagi kesembuhan dari Covid-19, bahkan mengharapkan mujizat TUHAN. Pada sisi lain ada juga tanggung jawab menjalankan peran sipil, menjaga jarak, menjaga kesehatan, melindungi diri dan tinggal di rumah, menanti jawaban TUHAN atas ancaman Covid-19. Semua ini punya tempat, berkepatutan dan sinkron satu kepada yang lainnya.

KESIMPULAN

Percakapan tentang TUHAN, iman, mujizat dan Covid-19 masih menyisahkan pertanyaan yang harus terus dikaji guna berbagi jawaban. Mencerahkan dan menggorak hubungan TUHAN, iman, mujizat kesembuhan dari Covid-19, maka ada beberapa catatan yang perlu ditoreh ulang:

Pertama, Kita harus selalu mempertanyakan diri sendiri, jika saya menggunakan istilah TUHAN, iman dan mujizat kesembuhan allahi atas Covid-19, apa yang saya maknakan, serta apa perbedaannya dengan orang lain? Jawaban positif atas pertanyaan di atas merupakan pencerminan sikap yang berterima, dan dapat menghadirkan sikap saling menghargai.

Kedua, TUHAN Allah adalah berdaulat, karena itu, IA dapat melakukan apa pun, termasuk mujizat kesembuhan dari Covid-19, bahkan menghentikan atau membiarkan Covid-19 berlanjut. Tanggung jawab Kristen adalah menghormati TUHAN, taat kepada-Nya, mengimani janji-Nya dan tekun berdoa memohon belas kasihan serta perlindungan-Nya dengan penuh keyakinan, bahwa mujizat dapat terjadi, Covid-19 pasti berlalu
pada waktu TUHAN, sehingga nama-Nya dimuliakan, dan janji-Nya genap atas umat-Nya. Semua ini mengimpartasi ajaran dari hidup dengan TUHAN, untuk hidup bagi DIA dan menjadi kesaksian kepada dunia.

Ketiga, Adalah merupakan tanggung jawab serta peran sipil Kristen yang tidak boleh diabaikan, yaitu taat kepada Pemerintah (Roma 13:-5), bekerja sama untuk menerapkan physical and social distancing, jaga kesehatan (pakai masker, cuci tangan, makan sehat) dan tinggal di rumah demi mengatasi Covid-19 secara bersama. Hm, perlu terus direnungkan dan dielaborasi …

Selamat memahami TUHAN dengan cara TUHAN melalui iman dan pengharapan yang teguh bahwa Covid-19 pasti berlalu …

Salam kerja sama,

www.yakobtomatala.com

Tapak Sandya Kala berkokoh di Kota Raja Besar, pada Pelataran Rumah Suci dalam kehadiran Sang Janji di dalam kurun yang berubah

Tapak Sandya Kala membahana bertutur tentang kebenaran … oleh Sang Janji yang menanggap kebenaran yang muncul terbalik …
Betapa tidak, tertuduh yang diciduk dari bordil, dituntut sebagai pelanggar, dan dengan melanggar “kebenaran hukum,” …

Namun Sang Janji yang berkutat memegang kebenaran sejati, tegar pada kebenaran … dan melakukan kebenaran dalam seru … :
“Barang siapa benar dan benar-benar benar, ‘hendaklah ia yang pertama melemparkan batu …’ dan ternyata kebenaran hukum yang salah terap oleh para Penuduh berkedok taat agama, menyisahkan perintah bersolusi, ‘Aku … tidak menghukum engkau, pergi, dan jangan berbuat dosa lagi …”

Sang Janji yang adalah kebenaran, bicara tentang diri-Nya, “Akulah terang dunia, para pengikut-Ku, akan mempunyai terang hidup, dan berjalan di dalam terang …”

Ini kesaksian tentang Anak Manusia, yang akan terbukti dalam peninggian-Nya yang menghadirkan “kebenaran yang memerdekakan …..”
Kebenaran yang memerdekakan memastikan “siapa-siapa sejatinya turunan Leluhur, Bapa Banyak Bangsa” … pewaris hidup abadi …
Karena, kebenaran sejati membebaskan dari maut, untuk tidak mengalami maut, dengan berkutat pada kebenaran, hidup dalam kebenaran … dari Sang Janji

Sang Janji adalah Petaruhan kebenaran, karena IA ada sebelum Leluhur Besar ada, Sang Penjamin yang memastikan bahwa yang benar yang sejati, akan taat kepada Sabda,
dan … tidak membiarkan Rumah Suci dikotori ketidak adilan, ketidak benaran …

Dengan kesaksian yang mengoncangkan ketidak benaran … walau pun Sang janji menghilang dan pergi, kebenaran tetap terpancar dari Rumah Suci …

Selamat berkutat dalam kebenaran yang menerangi hidup, untuk hidup menggusur yang gelap …

Salam kebenaran,

www.yakobtomatala.com

FIRMAN TUHAN:

“Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang” (Kolose 4:6; I Petrus 3:15-16)

Catatan: Ayat-ayat di atas ini adalah dasar bagi Teologi Apologetika. Dalam hubungan dengan diskursus Pengantar Teologi ini, maka setiap pengguna harus bertanya, “siapa yang berhak memakainya, bagaimana menerapkannya dan digunakan untuk apa serta kepada siapa?”

Pengantar

Berbicara tentang TUHAN Allah, dapat dianalogikan dengan empat orang buta yang memegang sesuatu dari seekor gajah (ekor, kaki, badan dan belalai) dan masing-masing mempercayai, menjelaskan serta mempertahankan apa yang mereka pegang sebagai kebenaran tentang sang gajah.

Dalam kaitan ini, mereka akan mempercayai, menjelaskan dan mempertahankan “apa yang mereka pikir” bahwa itu dan ini adalah segalanya tentang gajah. Apa yang terjadi? Mereka masing-masing benar, karena gajah memiliki ekor, kaki, badan dan belalai.

Namun mereka tidak benar semuanya, karena gajah tidak sekedar ekor, kaki, badan atau belalai. Gajah ternyata memiliki diri yang “lebih lengkap” dari apa yang dapat dipahami, dipercayai, dijelaskan dan dipertahankan.

Dengan analogi ini, dapat diajukan pertanyaan, “Apa dan bagaimana menjelaskan hubungan TUHAN ALLAH dan Covid-19?” Mengapa TUHAN seolah membiarkan Covid-19, serta seolah tidak mendengar doa dan mengatasinya bagi orang Kristen?

Sudah lama Steven Covey mengangkat pertanyaan sementara orang Kristen yang bertanya tatkala menghadapi ancaman hidup: “Apakah TUHAN menyembunyikan diri, tidak mau mendengar doa, bahkan tidak adil dan membiarkan orang Kristen menderita?” Dalam upaya menjawab pertanyaan ini, maka ada beberapa hal yang dapat direnungkan.

Pertama, TUHAN ALLAH YANG BERDAULAT DAN CARA MEMAHAMI DIA

TUHAN Allah Alkitab adalah berdaulat, yaitu “Allah yang ADA dan ber-ADA dengan sendiri-Nya serta IA-lah sumber dan penyebab azali dari semua yang telah ada, sedang ada dan yang akan ada.”

TUHAN Allah yang berdaulat adalah kekal abadi, Yang ESA, yang menyatakan diri sebagai TUHAN Allah – FIRMAN Allah – ROH Allah, Tritunggal yang ESA.

TUHAN Allah yang ESA, memiliki kehendak yang berdaulat, yang sama selaras dalam diri-Nya, kehendak-Nya, dan tindakan-Nya Yang sempurna.

TUHAN Allah yang berdaulat menyatakan hakikat-Nya (substansi, esensi, dan eksistensi) yang kekal dengan atribut-Nya yang Maha Sempurna dan Tindakan-Nya yang Maha Lengkap, yang menggungkapkan kesempurnaan diri-Nya.

TUHAN Allah adalah Maha Benar, Maha Adil, Maha Baik dan Maha Kasih Yang dinyatakan-Nya dalam kesempurnaan diri serta penyataan-Nya pada lintasan sejarah.

TUHAN Allah yang Maha Sempurna hanya dapat dipahami melalui penyataan diri-Nya (self revelation) yang sempurna untuk dan demi dipahami secara lengkap.

A. TUHAN Allah yang menyatakan diri

Melihat kebenaran tentang hakikat TUHAN Allah yang diuraikan sebelumnya, maka dapat ditegaskan bahwa TUHAN hanya dapat dipahami melalui penyataan diri-Nya (Self Disclosure) dan pernyataan-Nya (Self Discourse).

Pernyataan dan pernyataan TUHAN adalah sesuai kehendak-Nya yang berdaulat, yang dikerjakan-Nya melalui ROH-Nya yang Kudus, yang dinyatakan-Nya di dalam dan melalui konteks faktual (konteks hidup, konteks peradaban, sejarah, kebudayaan dan masyarakat serta konteks kerterjadian dan konteks perbahasaan serta pengalaman iluminatif) untuk dipahami secara benar dalam situasi kekinian sejarah masa lampau, di mana IA menyatakan diri dan berfirman kepada Para Nabi, Penulis dan Umat-Nya.

Puncak penyataan diri TUHAN Allah adalah TUHAN Yesus Kristus, FIRMAN Allah yang Kekal yang menjadi Manusia Kristus, yang berinkarnasi berkenosis secara kontekstual (Yohanes 1:1-18; Ibrani 1:1-4; Filipi 2:1-11), sebagai Penyataan Diri-Nya yang sempurna lengkap, dan tertinggi, serta terakhir (Wahyu 22:18-19).

B. Cara MANUSIA memahami TUHAN Allah

TUHAN Allah yang berdaulat dalam penyataan-Nya (revelation) bekerja di dalam dan melalui konteks kehidupan manusia. Penyataan TUHAN ini diwujudkan melalui penyataan-Nya (Self Disclosure) di mana IA membuka Diri kepada umat-Nya dalam konteks nyata, seperti kepada Adam, Nuh, Abraham, Samuel, Hakim-hakim, Saul, Daud, Salomo, Para Nabi, dan Para Rasul.

Pernyataan Diri TUHAN selalu disertai dengan Pernyataan-Nya (Sabda-Nya, Discourse-Nya), guna menyampaikan kehendak-Nya yang khusus pada situasi khusus, dengan cara yang kontekstual untuk dipahami secara nyata dalam konteks kehidupan penerima Firman yang disampaikan-Nya.

Dalam kaitan ini, cara penerima Sabda memahami TUHAN Allah adalah kontekstual, yang melibatkan “worldview, konsep, nilai dan cara pandang” yang juga kontekstual.

Sejalan dengan ini, cara memahami TUHAN Allah yang kontekstual juga menjelaskan bahwa penerima Firman Allah terkondisi oleh kebudayaan-Nya, sehingga perspektif pemahaman Sabda selalu antroposentris, antroposelfis, dan antropografis, yang nyata serta tampak melalui penulisan dan tulisan atau teks-teks suci dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Dari sini, para pembaca dan penafsir Alkitab harus mendekati Alkitab dengan bertanya, “Apa maksud kekal TUHAN Allah melalui teks Firman-Nya dalam suatu konteks sejarah di mana IA bersabda?

Bagaimana penerima atau penulis Firman memahami dan menulis Sabda TUHAN yang diterimanya dalam konteksnya? Apa konteks sejarah, budaya, masyarakat, dan peristiwa khusus di sekitar teks yang disabdakan-Nya?

Apa maksud TUHAN Allah yang tertuang dalam teks (bahasa) dengan perbahasaan (cara membahasakan) yang digunakan penerima atau penulis Firman dalam konteksnya?” Pertanyaan-pertanyaan ini dan jawabannya adalah cara memahami TUHAN Allah melalui teks-teks suci, dalam cara yang sepatutnya.

C. Kesepakaan dan ketidak sepakatan orang Kristen tentang TUHAN Allah

Berdasarkan observasi, kesepakatan dan ketidak sepakatan orang Kristen dalam berteologi tentang TUHAN Allah, didasarkan atas fakta berikut:

1) Pendekatan berteologi yang antropomorfisme, sehingga perbahasaan tentang TUHAN Allah terikat dengan analogi manusia yang digunakan untuk berbicara menjelaskan tentang TUHAN Allah seperti manusia (berteologi yang antropomorfisme);

2) Orientasi berteologi yang sudah berakar dan terpola dalam sejarah kekristenan, yang memperlihatkan adanya perbedaan ajaran (doktrin), cara pandang, tekanan dan sikap ortodoksi dan ortopraksis yang ketat;

3) Cara berteologi yang memberdaulatkan atau memutlakan ajaran (Doktrin atau Dogmatika) tentang TUHAN Allah bukan tentang TUHAN Allah, siapa DIA dan apa DIA ada-Nya sesuai Alkitab;

4) Pendekatan berteologi yang “antropologisme,” sebagai cara yang bertentangan dengan pendekatan berteologi yang “teologisme,” yang bertitik tumpuh awal pada TUHAN Allah sesuai kesaksian Alkitab tentang Penyataan dan Pernyataan Allah, bukan apa dan bagaimana pemahaman sektarian tentang TUHAN;

5) Kebiasaan berteologi yang tidak membedakan Teologi sebagai Ajaran (Teologi Dogmatika) yang sudah dipatrikan, diterima, dan diajarkan yang dipertahankan mati-matian, dan Teologi sebagai Ilmu (Teologi Ilmu dan atau Ilmu Teologi), yang terbuka bagi diskursus (discourses, dialogues, debating, etc) tentang fakta (premis) Alkitab dengan metodologi dan metode ilmu yang standar, berlandaskan Filsafat Ilmu (Scene of Philosophy, bukan Philosophy Science) untuk menemukan dan menetapkan proposisi (rumusan penyimpulan) teologi;

6) Ketidak pedulian yang tidak dapat membedakan “bahasa Iman” atas ajaran yang cenderung dimutlakkan, dan dipertahankan mati-matian, dibanding dengan “bahasa Teologi” sebagai ilmu yang mengandung probabilitas ilmiah yang dapat disiskusikan atau didebatkan.

7) Arogansi berteologi yang cenderung membenarkan diri, membela pandangan sendiri dan mendiskreditkan orang atas nama kemurnian ajaran Kristen dan kesucian TUHAN;

8) Akhirnya, perlu ditanyakan, “siapa yang memberi hak dan ororitas atas semua ini untuk bersikap dan mengklaim atas nama TUHAN ?”

Kedua, TUHAN ALLAH YANG BERDAULAT DAN TINDAKAN-NYA YANG SEMPURNA

TUHAN Allah yang berdaulat bekerja menurut rencana-Nya yang kekal dan mewujudkannya dengan sempurna.

A. TUHAN Allah yang berdaulat bekerja menurut rencana kekal-Nya
TUHAN Allah bekerja berdasarkan kedaulatan dan rencana-Nya yang kekal dan bertujuan. TUHAN Allah yang berdaulat dalam mewujudkan rencana-Nya yang kekal, “selalu menyatakan” (dalam Alkitab) dan atau “tidak menyatakan” (hanya ada pada diri-Nya, lihat Ulangan 29:29). Sebagai contoh:

1) TUHAN Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan umat-Nya, di mana salah satunya terlihat pada wabah Covid-19;

2) Maksud TUHAN tidak selalu dinyatakan “hitam-putih” untuk diketahui, antata lain: “Apakah wabah Covid-19 adalah hukuman dan murka TUHAN atas dosa satu atau sekelompok orang?

Apakah wabah Covid-19 adalah tanda terakhir akhir zaman? Apakah wabah Covid-19 adalah hukuman TUHAN atas orang Kristen yang tidak taat?

Apakah wabah Covid-19 adalah keputusan cara mati yang diizinkan TUHAN?

Apakah wabah Covid-19 adalah bencana yang akan menghancurkan dunia? Kalau pun Anda menjawab Anda tahu, siapa yang Memberi otoritas kepada Anda untuk bicara atas nama TUHAN?

Setiap jawaban berani atas pertanyaan-pertanyaan di atas adalah probabilitas yang kemungkinan salahnya besar, karena semua adalah rahasia TUHAN;

3) Orang Kristen diajar untuk berdoa, “kehendak-Mu jadilah, di bumi seperti di sorga,” yang ujungnya adalah kemuliaan bagi TUHAN Allah, karena itu, jangan mendahului Dia. Nantikanlah Dia yang akan bertindak pada waktu-Nya. Kenyataan dalam berteologi adalah “kita hanya mengerti kehendak TUHAN Allah yang kekal, sesudah kita mengalami pengalaman TUHAN dalam segala peristiwa, termasuk Covid-19”;

4) Orang Kristen harus berdoa, untuk berserah diri dan memohon belaskasihan serta perlindungan dan tindakan TUHAN atas ancaman Covid-19, dan TUHAN Allah yang menjamin perlindungan, dan berkusa mengadakan mujizat kesembuhan pada waktu-Nya;

5) Orang Kristen harus mempercayai TUHAN Allah, dimana percaya tidaklah sama dengan berusaha mengatur TUHAN dan cara-Nya bekerja melalui seperangkat doa, ajaran dan sikap iman, karena orang Kristen bertanggung jawab mengimani dan menanti jawaban Allah atas doanya secara sabar dan tekun.

B. TUHAN Allah yang berdaulat bekerja mengelola ciptaan-Nya secara universal, korporat dan prifat atau individu

Berdasarkan pemahaman tentang TUHAN Allah seperti yang telah diuraikan di atas, dapat dikatakan bahwa wabah Covid-19 adalah cara TUHAN Allah mengelola alam ciptaan-Nya, yang diwujudkan-Nya secara unik, universal untuk dialami dunia, korporat untuk dialami
kelompok masyarakat; dan partikular untuk dialami setiap pribadi.

Pemahaman cara dan maksud kerja TUHAN adalah “sesudah pengalaman berlalu” dan setiap orang memaknai serta membuat refleksi atas pengalaman Covid-19 sesuai pengalamannya, yang tidak bersifat normatif bagi orang lain.

C. Pertentangan kesetiaan berteologi yang historis

Kenyataan menunjukkan bahwa orang Kristen memiliki kecenderungan mempertahankan dan mendebatkan ajaran apa pun dari kesetiaan berteologi (theological allegiances) sesuai tradisi teologi, bukan membela kebenaran tentang TUHAN Allah “an sich” berdasarkan Alkitab.

Kesetiaan berteologi ini memiliki beberapa kecenderungan:
1) Memutlakkan Penafsiran sendiri yang seolah menggangap diri sebagai juru tafsir Alkitab yang lebih benar, lebih otoritatif, lebih berkuasa dari orang lain;
2) Seolah mengangkat diri menjadi “jurubicara” TUHAN yang memonopoli “hak berbicara atas nama Allah”;
3) Seolah mengangkat diri menjadi “nabi” untuk berbicara atas nama TUHAN;
4) Seolah mengangkat diri menjadi “hakim” untuk menghakimi atas nama Allah; menetapkan siapa benar (diri) dan siapa yang salah (orang lain)
5) Seolah kehilangan rasa kemanusiaan dan solidaritas kekristenan, dengan bertepuk dada, lupa bedoa, memohon berkat …
Akh, ini uraian yang berkepanjangan … namun, siapa yang memberi hak dan otoritas atas semua sikap ini?

KESIMPULAN
Uraian dalam diskursus ini tidak berkesimpulan, hanya mengandung keprihatinan untuk mengajak:

Pertama, Biarlah TUHAN Allah tetap TUHAN Allah, dan belajarlah untuk memahami Dia secara “an sich” Dia, siapa dan apa ADA-Nya menurut Dia dan Sabda-Nya, serta jangan mengecilkan Dia menjadi sesempit otak manusia yang karatan karena dosa.

Kedua, Belajarlah untuk tidak mengambil hak TUHAN Allah dengan memutlakan diri sebagai “nabi” yang berbicara atas nama-Nya dan atau menghakimi sebagai “hakim” yang cenderung membenarkan diri menyalahkan orang lain.

Ketiga, TUHAN Allah berdaulat dan Mahakuasa, dan IA dapat menghentikan wabah Covid-19, bahkan mengadakan mujizat sesuai kehendak-Nya, pada waktu-Nya.

Keempat, TUHAN Allah berdaulat menjawab doa dengan mengadakan mujizat atau tidak samasekali, dan semua terjadi atas kehendak-Nya, sehingga tidak ada yang berhak menghakimi sesama dengan mengambil hak TUHAN sambil mengatakan “harus terjadi” atau “tidak ada mujizat” …

Kelima, Covid-19 ada dalam tangan TUHAN Allah yang berdaulat, yang akan bertindak pada waktunya untuk menghentikan atau meneruskannya, demi mewujudkan rencana-Nya yang kekal bagi isi dunia, Anda dan saya.

Keenam, Sebisanya, janganlah menganggap diri sebagai nabi atau hakim, tetapi jadilah orang Kristen yang bijak, saleh dan setia, yang tidak menggurui atau menghakimi atas nama TUHAN.

Ketujuh, Bersiaplah senantiasa serta siaga menanti TUHAN yang akan beracara …!

Salam dan doa bagi kesehatan serta kesejahteraan dan keselamatan semua …

www.yakobtomatala.com

TUHAN Yesus Kristus bersabda: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5:9)

Shalom!

Beberapa catatan, menyikapi polemik Dogmatika di Medsos:

Sebagai Umat Allah, kita harus berbuka hati dan menyadari bahwa:

Pertama, Situasi Covid-19 dan keadaan dunia saat ini, membuat kondisi tidak kondusif untuk meresponi pernyataan dogmatis apa pun, satu kepada yang lain, dengan “berdebat atau menyerang” ajaran orang lain. Di sini tidak ada yang menang, karena “Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak” (Amsal 25:11, dan lagi, “Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang” (Amsal 16:24)

Kedua, Kalau pun masing-masing mengklaim kebenarannya, tetap saja kedua belah pihak sama-sama kalah dan pada gilirannya sama-sama salah serta sama-sama terluka, dan sama-sama kehilangan damai (Yesaya 32:17). Ingatlah bahwa “Debat Dogmatika (ajaran yang dianut) tidak akan selesai dengan menang – kalah”

Ketiga, Semua pihak harus menahan diri dan kembali ke basis, mewujudkan panggilan Gereja: Memelihara kesatuan, memupuk persekutuan, menguatkan kesaksian bersama, memurnikan pemberitaan, dan menjadi instrumen pembangunan guna membangun sesama dan menjadi berkat kepada dunia, dalam satu TUHAN, satu kasih, satu iman dan satu pengharapan dalam membangun Tubuh Kristus (Efesus 4:1-16), karena “Gereja ada di dalam dunia, gereja ada untuk menjadi berkat kepada dunia” (Yohanes 17:18: 20:21)

Keempat, Pilihan terbaik adalah bersikap bijaksana (dengan integritas teguh: benar, baik, adil, tulus, jujur, mengasihi dan lemah lembut), mengedepankan sikap bijak serta arif berpikir, berkata dan bertindak (Yesaya 32:8; Filipi 4:5,8-9), sehingga semua menjadi berkat satu kepada yang lain, supaya orang lain diberkati …

Kelima, Sebagai orang Kristen, kita harus mengedepankan kasih persaudaraan dan tanggung jawab menjaga perdamaian serta mengalahkan kejahatan, jangan saling membinasakan (Roma 12:9-22; 14:8-12; I Yohanes 4:7-12; Galatia 5:14-15), agar kita dapat memberi teladan iman dan menjadi berkat bagi dunia ke mana Gereja terutus oleh TUHAN-nya (Matius 28:18-20)

Dengan demikian, “kiranya kita bersabar hati satu dengan yang lain dan saling mengampuni di dalam Kristus Yesus TUHAN kita” (Kolose 3:12-13), lalu, “biarlah damai sejahtera Kristus memerintah hati kita demi memenuhi panggilan-Nya” karena: “Gereja ada di dalam dunia, gereja terutus untuk menjadi berkat kepada dunia” …
Kiranya …….!

Dalam doa untuk kedamain bagi semua, karena “jika kita membawa damai, kita memberkati sesama, dan kita pasti berbahagia” (Matius 5:9)

Bersatu demi memenangkan pertarungan atas Covid-19

Selamat Paskha 2020

www.yakobtomatala.com

Tapak Sandya Kala menapak dalam hadirnya Sang Janji yang berkelana di utara, sampai ke Pelataran Kota Raja Besar pada Pesta Pondok Daun …

Kisah juang Sang Janji bergaung keras dimulai dari situs perhelatan air jadi anggur, penyucian Balai Sang Kekal, bincangan di ruang kuliah Guru Besar, konseling di sumur, penyembuhan anak sekarat, menapak di atas air, pencari sehat di kolam bergoyang, epok lima roti-dua ikan, … yang merebak kisah populer menghiruk, memperangah penjadi jelata, mengusik telinga Pengayom Iman, merong-rong Pemegang Tongkat Kuasa yang menggaruk kepala yang tak gatalan,
dan menyimpul, …….:

“Yang Ini harus dibasmi, karena merasuk hasut para penjadi, dengan disangka Jurukata Sang Kekal, Yang Diurapi Sandya Kala ….. Yang Dinanti Umat Terjanji,”
berita baik yang menggusar pencinta kuasa, penikmat status quo, kecemplung air panas …

Situasi panas adalah air keruh, bagi penebar pancing dari prinsip “tidak seorang pun berbuat sesuatu di tempat tersembunyi, jika ia mau diakui di muka umum”

Namun, Sang Janji tidak terpancing popularitas, karena: Karya-Nya berkisah tentang Ada-Nya Yang Abadi, yang dengan otoritas menyeru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!Barangsiapa percaya kepada-Ku, ….. Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup … karena Aku Sumber Air Hidup, Yang Diurapi, Aku Titisan Raja Besar, yang bernama yang tidak perlu nama”

Sang Janji Bernama Abadi Yang Oto-populer, yang mengabaikan “mencari nama,” karena IA adalah Kuasa Yang Tidak Terjamah, oleh pendeknya tangan kotor bermotif iman,

IA adalah Sumber dan Pemberi Air Hidup yang melegahkan pendahaga … oleh ancaman wabah … kapan pun dan di mana pun … datang, minum Air Hidup dan … sembuh

Selamat Minum Air Hidup untuk para Pendahaga, supaya hidup yang dari dalamnya mengalir aliran-aliran air hidup dari Pemberi Hidup bagi yang sekarat di bumi yang melarat …
Salam Paskha!

www.yakobtomatala.com