“Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi (pemimpin) bagi bangsa-bangsa”
(Yeremia 1:5).
PENGANTAR:
Panggilan Kepemimpinan merupakan faktor dasar terpenting bagi seseorang menjadi pemimpin. Firman Allah dengan tegas memberikan tempat utama kepada panggilan TUHAN Allah (God’s leadership calling) bagi seseorang untuk masuk ke dalam tugas kepemimpinan (Yeremia 1:5). Panggilan kepemimpinan ini begitu penting karena akan selalu disertai oleh faktor-faktor penunjang utama bagi seseorang untuk menjadi pemimpin yang berhasil. Faktor-faktor berikut adalah:
Panggilan kepemimpinan dan kuasa lengkap. Panggilan kekepemimpinan bagi seorang pemimpin akan selalu diteguhkan dengan adanya kuasa kepemimpinan lengkap (complete leadership power). Dalam kuasa kepemimpinan lengkap ini ada tugaskepemimpinan (leadership task, atau task position), kewenangan (orotoritas), hak (privilese), kewajiban (obligasi), tanggungjawab (responsibilitas) dan pertanggung-jawaban (akuntabilitas), guna mengambil peran kepemimpinan yang pasti. Kesadaran ini harus didukung oleh pemahaman bahwa sebagai pemimpin, ia dipanggil TUHAN Allah untuk terlibat dalam kepemimpinan (Markus 10:41-42), sehingga ia dapat memimpin dengan benar, baik dan sehat, serta berkualitas.
Panggilan kepemimpinan dan visi. Panggilan TUHAN bagi pemimpin diteguhkan oleh adanya innerwill atau visi yang teguh. Yang dimaksudkan dengan innerwill adalah kehendak suci yaitu jatidiri seseorang yang meneguhkan kesejatian diri dan kepastian panggilan kepemimpinan bagi pemimpin. Innerwill ini adalah visi pribadi yang ditanamkan TUHAN di dalam jiwa pemimpin, yang memberikan kepadanya tujuan (sense of purpose). Innerwill (visi) yang memberikan kesadaran kuat akan tujuan dalam panggilan Allah ini, diteguhkan dengan adanya afirmasi tanggungjawab kepemimpinan yang di dalamnya pemimpin membuktikan outerwill-nya, yang diwujudkan dalam upaya memimpin yang berkualitas. Outerwill yang dibuktikan dengan pelaksanaan kerja yang berkualitas adalah afirmasi bagi panggilan otentik dari TUHAN Allah atas pemimpin, yang olehnya ia mampu membuktikan bahwa innerwill yang menunjuk kepada tujuan yang memberi fokus pencapaian yang jelas akan menuntun kepada keberhasilan kepemimpinan (Matius 4:19, 18-22; Markus 1:16-20; Lukas 5:1-11). Baca Selengkapnya… »
Sadar atau pun tidak, Tahun Baru, sering disikapi sebagai sesuatu yang baru, yang berbeda dari yang lama, khususnya tahun yang telah berlalu. Namun, dari segi realitas serta esensi, apa yang disebut “tahun baru” sesungguhnya dapat dikatakan bahwa tidak ada yang baru dalam arti benar-benar baru. Kenyataan ini dipertegas dengan kebenaran Firman Allah: “Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tidak ada sesuatu yang baru di bawah matahari” (Pengkhotbah 1:9).
Kenyataan ini memberikan kepada kita sentuhan untuk menyadari bahwa sesungguhnya yang dimaksudkan dengan tahun baru itu adalah peluang baru serta momentum baru dalam suatu rentang waktu 12 bulan, 52 minggu dan 365 hari di depan. Momentum baru ini ternyata tetap berhubungan dengan hal-hal yang lama yang pernah terjadi serta telah berlalu, namun selalu memiliki pengaruh pada masa kini dan masa depan.
Dengan demikian, pertanyaan yang harus digumuli ialah apa sesugguhnya yang harus kita lakukan untuk mengisi peluang dan momentum baru di depan ini dengan kehidupan yang lebih berarti. Menjawab pertanyaan ini maka pokok perenungan kali ini ialah “bagaimana kita mengisi tahun 2010 dengan semangat hidup baru, yang memberi arti kepada diri dan orang lain dalam penyiarahan hidup”. Baca Selengkapnya… »
Natal : The Miracle of Love – Keajaiban Kasih (Yohanes 3:16)
PENGANTAR
Natal yang kini telah berusia 2009 tahun lebih, sudah dipatenkan dan dianggap ekskulif Kristen. Natal yang eksklusif Kristen ini beranjak dari pandangan bahwa Natal adalah suatu hari raya agama belaka. Namun, patut dipertanyakan, apakah benar, bahwa Natal itu eksklusif Kristen dan sekedar hari raya agama? Atau, ada makna lain yang terkandung di dalam Natal itu. Karena inti berita Natal yang berbunyi “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya tidak bisasa melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16), menjelaskan tentang adanya suatu rahasia besar dalam Natal itu. Apa artinya ini? Bukankah ini adalah suatu keajaiban (miracle) yang menegaskan bahwa Allah sesungguhnya mengendaki bahwa Natal itu inklusif bagi semua orang dan spesifik bagi setiap orang. Bagaimana memahami bahwa Natal itu adalah miracle dan bagaimana pula mamaknainya dalam hidup secara individu? Simaklah rahasianya, bahwa sesungguhnya Natal itu adalah MIRACLE dengan melihat kebenaran berikut.
Natal dalam kaleder umum telah bersusia 2009 tahun lebih. Dalam perkembangannya, Natal telah menjadi eksklusif Kristen, karena dianggap milik orang Kristen, yang dirayakan sebagai hari raya keagamaan. Dalam kaitan ini, Natal telah memasuki fase kristalisasi – institusionalisasi, yang menyebabkan orang mengaitkannya dengan kekristenan secara eksklusif. Tidaklah mengherankan bahwa orang memberinya “cap Kristen” yang disikapi dengan perbagai macam serta sikap, baik yang positif mau pun yang negative terhadap Natal itu.
Dalam mensyukuti Natal tahun 2009 ini, kita dipanggil untuk mendasarkan perenungan kita di atas Injil menurut Lukas, Pasal 2 ayat 10-14; yang mendorong kita mempertanyakan ulang sikap terhadap Natal yang telah dirayakan selama ini; dengan bertanya, “apakah Natal itu hanyalah untuk kita (ekslusif),” ataukah “Natal itu adalah untuk semua (inklusif)?” Alkitab dengan tegas menjawab pertanyaan kita ini dengan ungkapan syair pujiaan Para Malaikat-Nya: “Jangan takut, aku memberiktakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa.” Dan lagi, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Baca Selengkapnya… »
Buku Konselor Kompeten: Pengantar Konseling Terapi untuk Pemulihan karya Dr. Magdalena Tomatalamenguraikan tentang dasar-dasar Alkitab untuk membangun diri menjadi konselor Kristen yang kompeten. Buku ini secara gamblang mengetengahkan landasan Alkitab bagi konseling Kristen, yang dibangun di atas kebenaran Firman Allah, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Buku ini menguraikan secara jelas tentang pengertian konseling, konseling Kristen, bimbingan dan penyuluhan serta kepentingan konseling bagi kehidupan dan pelayanan Kristen. Pokok-pokok penting yang dibahas secara gamblang adalah: Dasar Alkitrab tentang hakikat konseling Kristen; Bagaimana mengembangkan dan menyiapkan diri menjadi konselor yang kompeten; Bagaimana menyiapkan diri untuk melaksanakan tugas konseling dengan efektif yang membawa pemulihan; Bagaimana menjalankan koseling terapi; Bagaimana menolong konseli mengalami pemulihan; dan Pendekatan konseling terapi Model Yesus Kristus; yang diakhiri dengan suatu contoh pelaksanaan konseling terapi menghadapi kasus yang aktual.
Buku ini sangat bermanfaat bagi para pelayan Kristen yang berhasrat untuk terlibat dalam pelayanan Konseling di dalam Gereja lokal dan pelayanan umum lainnya, dimana dengan mempelajari prinsip-prinsip Konseling Alkitabiah yang ditawarkan di sini, sangat diyakini bahwa Anda akan mampu melaksanankan tugas pelayanan dengan benar dan baik, yang membawa pemulihan bagi konseli yang dilayani. Selamat belajar. Buku ini setebal 131 halaman, ukuran 14 x 21 cm.
Anda yang berhasrat memiliki buku ini, dapat memperoleh informasi selengkapnya dari email: yaktom@centrin.net.id.
Anda tentu bertanya, apa sesungguhnya keunikan dari buku Pengantar Antropologi Kebudayaan: Dasar-dasar Pelayanan Lintas Budaya ini, dibandingkan dengan buku-buku lain yang telah terbit sebelumnya. Keunikan dari buku ini ialah bahwa buku ini menyoroti Antropologi Kebudayaan secara obyektif dengan melihatnya sebagai the total life way dari sekelompok orang, yang telah berkembang unik untuk jangka waktu yang panjang. Tesis utama buku ini ialah bahwa manusia budaya hanya dapat dipahami dengan mengamati the total life way berkenan dengan apa yang mereka pikirkan, apa sikap mereka, apa yang mereka katakan dan apa yang mereka lakukan dalam mengelola lingkungan untuk memenuhi kebutuhan keseharian di mana mereka hidup.
Inti dari tulisan ini menegaskan bahwa manusia budaya hanya dapat dipahami melalui pengamatan akan kebudayaan mereka yang dibangun di atas seperangkat world view atau pandangan hidup baku sebagai pusat penggerak kehidupan. Dalam memahami worldview ini pokok-pokok yang dibahas adalah: Model Kebudayaan; Konsep Realitas dalam Kebudayaan; World view sebagai Perpetaan Realitas Masyarakat; Kebudayaan, Allah, Manusia dan Kepercayaan; Individu, Keluarga, Pengelompokan dan Siklus Hidup dalam Masyarakat; Kebudayaan, Seni-Estetika, Teknologi dan Ekonomi; Komunikasi, Pendidikan, Peran dan Kontrol Sosial dalam Kebudayaan; serta Perubahan Kebudayaan, yang menjelaskan tentang dinamika budaya dan perubahan yang terjadi dalam setiap kebudayaan secara menyeluruh.
Tujuan utama penulisan buku ini ialah untuk meletakkan landasan guna membangun pendekatan lintas budaya (cross culture approach) dalam upaya memuluskan komunikasi dengan kelompok orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda. Buku ini khususnya disiapkan guna menolong para Pelayan Lintas Budaya untuk membangun strategi pelayanan lintas budaya. Buku ini setebal 279 halaman, ukuran 15 x 23 cm.
Anda yang berhasrat memiliki buku ini, dapat memperoleh informasi secara lengkap melalui email: yaktom@centrin.net.id. Terimakasih.