YT Leadership Foundation





Tapak Sang Sandya Kala yang berurai diri, kembali menapak di Kota Raja Besar, Pusat Perjumpaan Suci

Tapak itu memijak bercak-bercak hitam menoda lorong ber-TUAN dengan “yang jadi” gagal melek, gagal jalan lurus, gagal bangun di atas kaki melunta, memelas harap, menanti tapak Sandya Kala, kala air bergoncang

Namun, rumput bergoyang gagal berkabar tentang desau tapak Sang Abadi menggoncang air, mendebat hati, memupus iman membelenggu harap menanti berjibun tahun, tersisih dalam antrian, menghilang asa, mengelam rasa menanti mendamba tak pasti jadi, datang-Nya Sang Kasap menggoncang air

Yang Abadi tak harus dikejar lewat goncangan air dari Yang Kasap …
Tapak-Nya berdebam dalam hadir Sang Janji dengan Sabda berjawab: “Maukah engkau sembuh?”
Lagi-lagi, percaya dan harap atas Sabda Sang Janji dengan “bangun, mengangkat tilam, berjalan” adalah sembuh

Yang pasti, percaya dan harap, atas Sabda Sang Janji, bangkit serta berjalan memelekkan untuk melihat, menegakkan untuk jalan lurus, mengokoh untuk berkuat di atas kaki Meleceh ulah pengidola “hari suci” gagal gugat “percaya, harap, bangkit dan berjalan, SEMBUH” dari kuasa Sang Abadi dalam Kata Kekal Sang Janji yang pasti jadi, tanpa air bergoncang
Namun besit Pesan Sang Janji, bagi yang sembuh, “jangan berbuat dosa lagi, agar sembuh dan sembuh …”

“Selamat percaya, berharap, bangun, mengangkat tilam, berjalan dan sembuh dalam Kuasa Sang Janji”

www.yakobtomatala.com

Tapak Sang Sandya Kala, Sang Abadi berurai diri di ruang-ruang kehidupan yang terang, yang gelap

Dari ruang gelap di tepi sumur, sampai ke hunian bekas hajatan, dan kini di lapak nelayan
Tapak itu menyampar di baringan pesakitan buah hati kuli istana

Tapak itu menapak ke dalam gelapnya hati, melihat gelap yang gelap, memasgulkan rasa atas yang sekarat, menoreh gundah menantang harap menggugah harapan melihat terang
Karena, tapak dalam hadir Sang Janji berjarak sehari langkahan kaki, menjerat rasa bimbang, melesap rasa percaya, menjerumus ke dalam gelap yang lain

Namun, tapak Sang Janji membesit harapan terang melintas jarak antara yang terang dan yang gelap dengan “percaya”
Percaya mendobrak kelam hati dari Sabda, “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya”
Percaya adalah “pergi” Pergi, adalah menyambut “hidup” dari Sang Janji yang menapak melangkahi jarak, menghadirkan Terang Pemberi Hidup, bagi yang sekarat di tempat gelap
Pergi, adalah jalan melihat hidup, karena Sang Janji adalah Terang Hidup, yang menghidupkan, membinar “Terang Hidup” dalam ruang gelap, “anakmu hidup” …….
Dan, percaya adalah jalan hidup, bagi diri dan keluarga, karena Sang Janji, Sang Terang Hidup sedang menapak masuk ke ruang gelap, memberi Terang bagi yang gelap …

Selamat percaya, pergi, dan menikmati Terang Hidup yang mengatasi gelapnya hidup …

www.yakobtomatala.com

Tapak Sang Abadi tertapak diri di ruang-ruang kehidupan
Tapak lakonan Sang Janji berhengkang dari Kota Damai, menyasar tepi sumur, tempat begundal mengumpet, tergusur …
Dari arena sang kuasa yang satu, ke lahan dipertuan yang lain, melintas petuanan gondokan kebuyutan

Tapak-tapak Sang Abadi mengendus “aroma diskriminasi”
menyusup ruang terata tanah, tepian sumur …
menyentuh rasa rusuh, dalam pinta, “Berilah Aku minum”

Minum…?
Minum, pengorak tabir kisah kasak kusuk lusuh diskriminatif …
“Orang-ku, orang-mu tidak bergaul ….”
Minum, menunjuk Air Hidup, memuas pencari keabadian
Minum, mengurai welas asih Sang Janji, menggilas diskriminasi
Minum, pemuas haus demi mengabadi
Minum, menguak kiat Penyelamat menggapai yang sekarat, mengkangkangi diskriminasi
Minum, merujuk jabat pendamain Sang Abadi, menuntas keperihan keletihan nurani para tersisih
Minum, penguras runyaman rerata keluarga, menjernih pekat rasa rusuh hati berjernih jiwa
Minum, penghadir bebas sang pendosa ditanda kata saksi, “nyata sekarang padaku, bahwa Engkau Jurukata Sang Abadi, Penyelamat Terjanji”
Minum, mematri hati Penyembah dalam Roh, dari yang jadi sang pendosa
Minum, menuntas lerai diskriminasi, menghadir tanya berjawab, “Mungkinkah Dia Yang Diurapi itu?”
Minum, menghubung serpihan diskriminasi berjawab bagi Sang Janji, “Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kau katakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia”

Minum, merujuk “welas non-diskriminatif Sang Abadi”, Keselamatan karya Sang Janji menuntas rasa pahit sang terpinggir, menjadi “Sahabat Sang Abadi” tanpa embel diskriminasi …

“Selamat berjabat damai dengan Sang Janji, Sang Abadi – di ruang tanpa diskriminasi” …

www.yakobtomatala.com

Tapak Abadi Sang Sandya Kala berkelana di Kota Raja Besar di mana Penyuka Langit mencari Sang Langit, dengan bertandang ke hunian Guru Besar

Penyuka Langit, berceloteh tentang Langit, mencari Tapak-Nya bagai tanah berhasrat air dengan melangit dan menjadikan Langit Nan Abadi bersemi, bersemayam di benak nan kesempitan

Dalam Sang Janji, Sang Guru Besar,
Sandya Kala Berkuliah tentang menjadi Warga Langit yang hanya ditapak lewat rahim,
jalan yang memporanda nalar lurus

Hm, bagaimana mungkin…?
Iya, Langit tidak tertekuk
Langit adalah Desau Bayu, mengigau kuping, kasat dipandang, muskil dipaham
Namun, Langit terlihat pada Tapak Sandya Kala di padang gersang, sebagai solusi bagi kaum beringas yang meranggas dipatuk beludak karena mendebat Sang Langit
Di sini, si beludak tembaga yang dipandang, menyandang pengakuan kemenangan Sandya Kala atas pedusta besar
Dengan “menghadirkan kelepasan dari maut kepada hidup Anugerah Sang Langit”
Inilah jalan rahim yang tak kunjung dipaham

Sekarang, lihatlah Tapak Itu,
Welas Sandya Kala yang tak terukur kepada para yang jadi,
“tertapak dalam hadir Sang Janji, yang memijak lebur kepala beludak di Bukit Tengkorak dan bersabda, sudah selesai”
Inilah retasan jalan rahim ke Langit, dari Penjadi Para Warga Langit, di mana jalan rahim adalah “barang siapa percaya” untuk menapak ke Langit yang dipasti Sang Guru Besar bagi penyuka Langit yang mau berguru tentang Langit!

Masih tak terpaham?
Iya, jalan ke Langit hanya terlihat oleh yang terkasap mata menapak jalan rahim yang tertanda darah Sang Janji yang membuka pintu Langit untuk bercanda dengan Langit

Selamat diberkati, bagi “barang siapa” … yang matanya dicelikkan untuk masuk ke Langit, menapak Tapak Sandya Kala bersama Guru Agung, Sang Janji
Kiranya …

www.yakobtomatala.com

Jejak kelana Sang Sandya Kala teruntai dari ruang ke ruang,
dari bilik tanpa gerisik, ke pasar gemerisik
Dari lapak tukang kayu ke situs hajatan, menelusur hunian nelayan, berhajat suci ke Kota Raja Besar

Hasrat mengebu berteduh hati, bersimpuh di bawah bayang Sang Abadi, di Rumah Suci
Namun, Sang Janji berbelalak mata, bertegun jiwa,
yang lurus terbengkok di pelupuk, yang kudus dionari hasrat berkaya diri, ternyata …,
Langit tak dijunjung, “yang kudus” terpijak kaki-kaki fana, menabur aroma kong kali kong, dengan bicara yang membirukan dan memerahkan mata

Di sini, di Rumah Suci, Tapak Sang Kudus harus berpijak,
Mazmur harus didendangkan,
Tuturan Sang Suci harus dilafal,
Amsal dan ibarat harus direnungkan, mengkayakan hidup, mengabadi jiwa
Namun, aroma kongkol mengkongkol tersebar pekat
Sadar, Tapak Sang Sandya Kala harus mengabadi di “bayang abadi” dan memfanakan yang fana
Namun, semua difanakan menjadi pasar, menghalal yang fana di Ruang Abadi, Rumah Suci

Bagi Sang Janji, demi mensakral yang sakral, rotan adalah jalan mengorak yang fana,
menyapu Ruang Abadi dengan mencecerkan yang receh sampai yang menyilaukan, dan menghalau yang galau, yang buta sampai yang patah kaki, demi berbersih-bersih di depan Sang Abadi

Akh, yang biasa pasti terkaprah salah …,
Sang Janji hanya mendahulukan Yang Abadi sebagai misal bagi yang getol
Karena, Langit adalah Langit, yang harus dijunjung di tempat berlangit
Dari sini, rotan bicara berkilah tentang Tapak Kekal yang harus bertapak di Ruang Abadi
Urusan mulut, perut dan periuk harus bergelut di ruang para yang jadi, di pasar, tempat yang jadi menggulati kehidupan
Semua, demi mengabadi yang Abadi di tempat Abadi, bagi Nama Besar Sang Abadi
Semua yang fana dihargai di kefanaan dengan urusan beras, tahu dan tempe

Di sini, Kisah Suci Sang Janji di Tempat Sang Langit harus menjadi pantas di tempat Ruang Abadi, agar “para yang jadi” berlurus hati di depan Penjadi Agung
Karena Yang Suci harus dipantaskan di Rumah Suci, yang fana tetap dipantaskan, di mana rupiah dikejar untuk urusan mulut, periuk dan perut
Semoga …..

Doa berkat dari Tingkap Ketujuh, bagi penghasrat di empat penjuru
www.yakobtomatala.com

Tapak Sandya Kala berjejak dari lapak tukang kayu yang senyap tidak bersenyap, dengan jejak-jejak ke Hajatan Bahagia
Merangkai kisah Sang Sadya Kala,
Sang Janji, berkelana menapak persada, dari ruang ke ruang, dari lapak ke hajatan, menyusupi dunia hura-hura, lorong-lorong tempat yang lara dan cicipan penghangat penghajat dan penjadi
demi yang lara serasa istana, yang papa serasa jaya dalam kefanaan

Dalam hajatan,
Sang Sandya Kala bersabda Sang Janji bicara, “AKU ada di suka, siap menyambut duka”
Kala suka, para penjadi terkikik, merona dalam nikmat kesementaraan, terlelap dalam gemerlap kesementaraan
Namun terperangah, kala kesementaraan berganti dalam bisikan lara, “mereka kehabisan” …,
Bisikan lara pencoreng wajah berpupur, penyemai gunda dalam canda penghajat

Di sini, tapak kelal dari Sang Janji berjejak di ruang kesementaraan,
dengan “segelas anggur asli”, demi penghajat naik kelas
Segelas anggur pencelik mata berdecak lidah
Segelas Anggur bicara tentang Sang Janji,
IA Sang ADA, Yang ADA dan Ber-ADA kekal, Penjadi Kekal dari semua yang terjadi,
yang ADA dalam keabadian, berjejak dalam kesementaraan, demi menjadikan yang sementara mengabadi

Dari Tapak Kekal yang Berjejak dalam hajatan, dan Segelas Anggur sebagai saksi,
Sang Abadi berwujud dalam kesementaraan, demi bicara, tidak ada yang mustahil Jika Tapak Kekal berjejak dalam ruang kehidupan, bagiku, bagimu, … kini, di sini, dan di semua ruang, di suka, di duka, sehingga semua … “berselamat dan bahagia, bersulang bersama Sang Janji” di pesta mau pun di rumah kesenduhan! Selamat …

Sahabat dalam suka, kerabat dalam duka
www.yakobtomatala.com

Tapak Sang Sandya Kala telah menjejaki bumi, tertoreh dalam arakan kisah suci, berpuncak pada hadirnya Sang Janji, dengan cerita emas dari Rumah Roti, yang hadir senyap di Lapak Tukang Kayu

Dari sini muncul tanya berjawab, “mengapa”?
Sang Sandya Kala punya racikan, Sang Janji adalah Puncak Tapak-Nya di persada
Sang Janji yang pada mula-Nya ADA, dan Yang ADA, adalah Sang Sandya Kala, yang Abadi dari Keabadian, Yang Penjadi dari semua “yang jadi” dan “semua yang ter-ada”

Sang Janji adalah Penyataan Sang Sandya Kala, Yang Hidup untuk menghidupkan, Yang Terang untuk menerangi hidup, dengan menjadi “yang jadi” untuk menjadikan “yang jadi” untuk menjadi …..

Namun, persada berbuta mata, tidak melihat, dan “yang jadi”, yang milik-Nya, yang kepadanya Sang Janji berwujud, ogah menerima-Nya …
Tetapi, “yang jadi” yang tercelik dan berbuka hati, mengalami, melihat Terang dan Hidup, sehingga terhidupkan menjadi abadi untuk keabadian”

Mengapa? Lanjut tanya berjawab, karena Sang Janji adalah “Yang Diurapi”, “Yang Sandya Kala”, “Yang Menjadi Yang Jadi” sebagai “Sembahan” untuk menuju pejagalan ke bukit derita …
demi membebaskan “yang jadi” menjadi abadi, …

Dari sini, Sang Janji yang dari lapak senyap merengkuh yang lapuk, menghadirkan Terang dan Hidup di persada, sehingga semua “yang jadi” punya cerita abadi, “mengabadi bersama Sang Janji” …

“Selamat Berbahagia bersama Sang Janji”!

Jakarta, Januari 2020
www.yakobtomatala.com

Tapak yang Sandya Kala itu membumi, mengabadi di tanah, meninggalkan jejak-jejak dalam siarah zaman

Jejak-jejak itu tertapak, kala Sang Sandya Kala, Sang Kekal bersabda “jadilah, … maka semua jadi”, termasuk “yang jadi”, yang analog, sesempurna diri Sang Abadi
Namun, jejak dalam “yang jadi” itu terkotori di taman suci, yang menggerogoti “yang jadi” sehabis-habis dan melumatkannya, sampai melesapkan daya
Namun, Sang Sandya Kala menyusulkan janji pembebasan “Aku akan mengadakan …” dengan Sang Janji sebagai taruhan …

Janji tentang “Sang Janji” tertapak dan ditelisik oleh para “jurukata”, bahwa Sang Janji adalah Sang Kekal yang Penasehat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa Kekal, Raja Damai, Sang Imanuel, …
akan ada di hunian Raja Besar, dibesarkan di lapak tukang kayu,
dimeriahkan di pesta nikah, disyukuri dalam kesembuhan, dikisahkan di jalan raya ibu kota, dipercakapkan di lorong-lorong kampung nelayan, diguncingkan di tengah derap bajak petani, dipertanyakan di kerumunan penghuni lahan sampah, dan menimbulkan tanya risau menggalaukan tak berujung di antara penguasa, sampai memuncakkan-Nya di Bukit Tengkorak,
dan … ujungnya, pada Sabda Kemenangan Sang Janji, “sudah selesai …”

Kini, di sini Sang Sandya Kala, Sang Janji, Pembasuh semua yang terkotori, sedang mencari jejak-Nya, … adakah jejak-Nya tertapak di hati, di jiwa, di roh, terukir dalam kata, terkata dalam kerja yang aromanya terendus pada tiap hembusan nafas … dari “yang jadi?”

Para terjamah Sang Kekal sajalah yang terkuatkan dan sadar bahwa “jejak tapak itu tertanda 12 bulan, 52 minggu, 365 hari, 8760 jam, 525600 menit dan 31536000 detik, pada setiap tarikan nafas, kata dan kerja dan …” terulang, sampai ke suatu akhir

Pada ujungnya,
Tapak Kekal itu tersaksi dalam kefanaan yang dibaharui dan dibaharui
Terdanda dalam nada “haleluyah dan syukur”
Teralami dalam berkat kekal di hidup, di kerabat dan di setiap tetesan keringat
Terjalani dari pagi ke petang, dan berjejak di malam pada helaan nafas akhir, kala Sang Kekal bersabda, “pulanglah!”
Jejak itu terus tertanda sampai Sang Abadi menghadirkan keabadian yang abadi untuk dipestai dalam kekekalan …
Selamat

Selamat Tahun Baru 2020
www.yakobtomatala.com

Pengantar

Konsep dan gagasan HD harus dipahami dan dirumuskan secara benar dan tepat, sebagai landasan bagi tindakan yang benar. Dengan demikian Pemahaman Alkitabiah tentang HD adalah sebagai berikut:

Pertama, HD didasarkan pada Mandat Shalom yang adalah SATU yang menyeluruh (holistik) sehingga dapat disebut “Mandat Pemuridan, Mandat Rohani, Mandat Sosial, Mandat Politik, Mandat Ekonomi, Mandat Pendidikan, Mandat Kebudayaan, Mandat Teknologi, Mandat Bisnis”, dan seterusnya yang memberi otoritas bagi pelayanan gereja dalam segala bidang hidup.

Kedua, Dengan demikian, HD harus dipahami sebagai “Pemuridan Menyeluruh yang melengkapi gereja menjadikan semua warganya MURID Kristus, guna melaksanakan Amanat Agung dalam segala bidang kehidupan”.

Ketiga, HD harus meneguhkan gereja melaksanakan panggilannya yang melibatkan: Persekutuan (bersekutu, bersatu dalam iman dan pengharapan); Pelayanan – (melayani sesama dan yang lain) berlandaskan kasih untuk saling memberkati; Kesaksian – bersaksi (mengamalkan kehidupan berdasarkan ajaran dan cara hidup Kristus di tengah keluarga dan masyarakat); Pemberitaan – memberitakan (Menyebarkan Injil Yesus Kristus memenangkan jiwa dalam keluarga, gereja dan masyarakat); dan Pembangunan (membangun dalam segala bidang: rohani, sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan, politik, bisnis, dst).

Keempat, Semua program gereja harus “terfokus pada Penginjilan” (Misi, PI, Penanaman Gereja, Pertumbuhan Gereja), dengan memuridkan semua anggota Gereja guna menerapkan dan mewujudkan panggilan membawa shalom dalam semua bidang hidup.

Kelima, HD harus dilaksanakan dengan menjawab kebutuhan nyata pada setiap konteks, semisal: “Jika ada orang lapar, beri dia makan, sebagai cara hidup ber-PI, menghadirkan cara hidup Yesus, yang menyiapkan jalan bagi pemberitaan Injil”. Jangan dibalik, jangan dimanipulasi!

Keenam, HD mengharuskan kehadiran gereja dengan menyiapkan (training) komponen “Human Capital Kristen 4.0” sebagai aktivis untuk berkipra dalam segala bidang hidup, termasuk dalam bidang politik, mewujudkan partisipasi bersinergi dengan Pemerintah, menjadi Wakil Rakyat di Parlemen, menjadi Pengurus Partai Politik, dsb, menandahadirkan kesaksian Kristen.

Ketujuh, HD sebagai “Cara hidup total Gereja” meneguhkan orang Kristen untuk Menyadari, “Siapa dirinya (utusan Kristus); mengapa dia ada (terutus oleh Allah); untuk apa (memberitakan Injil); mau ke mana (membawa orang kepada Kristus); dan bagaimana (secara holistik dalam semua bidang hidup, di mana saja ia berada), sehingga Gereja memenuhi panggilan misionernya. Kiranya!

Salam Amanat Agung
www.yakobtomatala.com

Pengantar

Holistic Discipleship (HD) adalah “pemuridan holistik”, yang hakikat, cara, dan penerapannya juga bersifat holistik (menyeluruh dan total). Jika dipahami bahwa Discipleship adalah holistik (holistic), maka turunannya haruslah juga holistik. Dalam kaitan ini, “Holistic Discipleship” harus dipahami sebagai panggilan tugas Gereja, karena alasan berikut:

Pertama, HD bersumber dari Mandat Shalom, Mandat Misi yang SATU, yang menyentuh segala bidang hidup (Kejadian 1:28; Matius 28:18-20). Kedua, HD dengan ini harus dipahami dan didefinisikan secara holistik, yang mewadahkan penyentuhan segala bidang hidup.

Ketiga, HD melibatkan tugas besar mewujudkan Amanat Agung Yesus Krisus, melalui Panca Tugas Gereja, yaitu: Bersekutu, melayani, bersaksi, memberitakan dan membangun.

Keempat, HD dalam penerapannya yang menyentuh semua bidang hidup harus terfokus pada Penginjilan melalui Gereja, dan Penanaman Gereja yang menghasilkan pertumbuhan Gereja.

Kelima, HD dalam penerapannya dengan pendekatan holistik, harus meresponi tuntutan kebutuhan konteks lokal, regional, nasional dan internasional.

Keenam, HD dari sudut pandang di atas ini mengharuskan Gereja merumuskan peran dan respon tanggung jawabnya, termasuk dalam bidang politik.

Ketujuh, HD pada gilirannya harus mencapai idealisme TUHAN Allah, yang mengharuskan Gereja menerapkan HD sebagai cara hidup total (the total life way) untuk menghadirkan misi shalom yang holistik secara mendunia serta membumi, karena “gereja ada di dalam dunia, dan terutus kepada dunia” untuk menghadirkan Yesus Kristus, Juruselamat, Pemilik Shalom (Yohanes 17:18, 20-21; 20:21; 14:6, 27; Matius 1:21; 5:9; KPR 4:12).

Salam Amanat Agung!
www.yakobtomatala.com