YT Leadership Foundation





Archive for January, 2020

Jejak kelana Sang Sandya Kala teruntai dari ruang ke ruang,
dari bilik tanpa gerisik, ke pasar gemerisik
Dari lapak tukang kayu ke situs hajatan, menelusur hunian nelayan, berhajat suci ke Kota Raja Besar

Hasrat mengebu berteduh hati, bersimpuh di bawah bayang Sang Abadi, di Rumah Suci
Namun, Sang Janji berbelalak mata, bertegun jiwa,
yang lurus terbengkok di pelupuk, yang kudus dionari hasrat berkaya diri, ternyata …,
Langit tak dijunjung, “yang kudus” terpijak kaki-kaki fana, menabur aroma kong kali kong, dengan bicara yang membirukan dan memerahkan mata

Di sini, di Rumah Suci, Tapak Sang Kudus harus berpijak,
Mazmur harus didendangkan,
Tuturan Sang Suci harus dilafal,
Amsal dan ibarat harus direnungkan, mengkayakan hidup, mengabadi jiwa
Namun, aroma kongkol mengkongkol tersebar pekat
Sadar, Tapak Sang Sandya Kala harus mengabadi di “bayang abadi” dan memfanakan yang fana
Namun, semua difanakan menjadi pasar, menghalal yang fana di Ruang Abadi, Rumah Suci

Bagi Sang Janji, demi mensakral yang sakral, rotan adalah jalan mengorak yang fana,
menyapu Ruang Abadi dengan mencecerkan yang receh sampai yang menyilaukan, dan menghalau yang galau, yang buta sampai yang patah kaki, demi berbersih-bersih di depan Sang Abadi

Akh, yang biasa pasti terkaprah salah …,
Sang Janji hanya mendahulukan Yang Abadi sebagai misal bagi yang getol
Karena, Langit adalah Langit, yang harus dijunjung di tempat berlangit
Dari sini, rotan bicara berkilah tentang Tapak Kekal yang harus bertapak di Ruang Abadi
Urusan mulut, perut dan periuk harus bergelut di ruang para yang jadi, di pasar, tempat yang jadi menggulati kehidupan
Semua, demi mengabadi yang Abadi di tempat Abadi, bagi Nama Besar Sang Abadi
Semua yang fana dihargai di kefanaan dengan urusan beras, tahu dan tempe

Di sini, Kisah Suci Sang Janji di Tempat Sang Langit harus menjadi pantas di tempat Ruang Abadi, agar “para yang jadi” berlurus hati di depan Penjadi Agung
Karena Yang Suci harus dipantaskan di Rumah Suci, yang fana tetap dipantaskan, di mana rupiah dikejar untuk urusan mulut, periuk dan perut
Semoga …..

Doa berkat dari Tingkap Ketujuh, bagi penghasrat di empat penjuru
www.yakobtomatala.com

Tapak Sandya Kala berjejak dari lapak tukang kayu yang senyap tidak bersenyap, dengan jejak-jejak ke Hajatan Bahagia
Merangkai kisah Sang Sadya Kala,
Sang Janji, berkelana menapak persada, dari ruang ke ruang, dari lapak ke hajatan, menyusupi dunia hura-hura, lorong-lorong tempat yang lara dan cicipan penghangat penghajat dan penjadi
demi yang lara serasa istana, yang papa serasa jaya dalam kefanaan

Dalam hajatan,
Sang Sandya Kala bersabda Sang Janji bicara, “AKU ada di suka, siap menyambut duka”
Kala suka, para penjadi terkikik, merona dalam nikmat kesementaraan, terlelap dalam gemerlap kesementaraan
Namun terperangah, kala kesementaraan berganti dalam bisikan lara, “mereka kehabisan” …,
Bisikan lara pencoreng wajah berpupur, penyemai gunda dalam canda penghajat

Di sini, tapak kelal dari Sang Janji berjejak di ruang kesementaraan,
dengan “segelas anggur asli”, demi penghajat naik kelas
Segelas anggur pencelik mata berdecak lidah
Segelas Anggur bicara tentang Sang Janji,
IA Sang ADA, Yang ADA dan Ber-ADA kekal, Penjadi Kekal dari semua yang terjadi,
yang ADA dalam keabadian, berjejak dalam kesementaraan, demi menjadikan yang sementara mengabadi

Dari Tapak Kekal yang Berjejak dalam hajatan, dan Segelas Anggur sebagai saksi,
Sang Abadi berwujud dalam kesementaraan, demi bicara, tidak ada yang mustahil Jika Tapak Kekal berjejak dalam ruang kehidupan, bagiku, bagimu, … kini, di sini, dan di semua ruang, di suka, di duka, sehingga semua … “berselamat dan bahagia, bersulang bersama Sang Janji” di pesta mau pun di rumah kesenduhan! Selamat …

Sahabat dalam suka, kerabat dalam duka
www.yakobtomatala.com

Tapak Sang Sandya Kala telah menjejaki bumi, tertoreh dalam arakan kisah suci, berpuncak pada hadirnya Sang Janji, dengan cerita emas dari Rumah Roti, yang hadir senyap di Lapak Tukang Kayu

Dari sini muncul tanya berjawab, “mengapa”?
Sang Sandya Kala punya racikan, Sang Janji adalah Puncak Tapak-Nya di persada
Sang Janji yang pada mula-Nya ADA, dan Yang ADA, adalah Sang Sandya Kala, yang Abadi dari Keabadian, Yang Penjadi dari semua “yang jadi” dan “semua yang ter-ada”

Sang Janji adalah Penyataan Sang Sandya Kala, Yang Hidup untuk menghidupkan, Yang Terang untuk menerangi hidup, dengan menjadi “yang jadi” untuk menjadikan “yang jadi” untuk menjadi …..

Namun, persada berbuta mata, tidak melihat, dan “yang jadi”, yang milik-Nya, yang kepadanya Sang Janji berwujud, ogah menerima-Nya …
Tetapi, “yang jadi” yang tercelik dan berbuka hati, mengalami, melihat Terang dan Hidup, sehingga terhidupkan menjadi abadi untuk keabadian”

Mengapa? Lanjut tanya berjawab, karena Sang Janji adalah “Yang Diurapi”, “Yang Sandya Kala”, “Yang Menjadi Yang Jadi” sebagai “Sembahan” untuk menuju pejagalan ke bukit derita …
demi membebaskan “yang jadi” menjadi abadi, …

Dari sini, Sang Janji yang dari lapak senyap merengkuh yang lapuk, menghadirkan Terang dan Hidup di persada, sehingga semua “yang jadi” punya cerita abadi, “mengabadi bersama Sang Janji” …

“Selamat Berbahagia bersama Sang Janji”!

Jakarta, Januari 2020
www.yakobtomatala.com

Tapak yang Sandya Kala itu membumi, mengabadi di tanah, meninggalkan jejak-jejak dalam siarah zaman

Jejak-jejak itu tertapak, kala Sang Sandya Kala, Sang Kekal bersabda “jadilah, … maka semua jadi”, termasuk “yang jadi”, yang analog, sesempurna diri Sang Abadi
Namun, jejak dalam “yang jadi” itu terkotori di taman suci, yang menggerogoti “yang jadi” sehabis-habis dan melumatkannya, sampai melesapkan daya
Namun, Sang Sandya Kala menyusulkan janji pembebasan “Aku akan mengadakan …” dengan Sang Janji sebagai taruhan …

Janji tentang “Sang Janji” tertapak dan ditelisik oleh para “jurukata”, bahwa Sang Janji adalah Sang Kekal yang Penasehat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa Kekal, Raja Damai, Sang Imanuel, …
akan ada di hunian Raja Besar, dibesarkan di lapak tukang kayu,
dimeriahkan di pesta nikah, disyukuri dalam kesembuhan, dikisahkan di jalan raya ibu kota, dipercakapkan di lorong-lorong kampung nelayan, diguncingkan di tengah derap bajak petani, dipertanyakan di kerumunan penghuni lahan sampah, dan menimbulkan tanya risau menggalaukan tak berujung di antara penguasa, sampai memuncakkan-Nya di Bukit Tengkorak,
dan … ujungnya, pada Sabda Kemenangan Sang Janji, “sudah selesai …”

Kini, di sini Sang Sandya Kala, Sang Janji, Pembasuh semua yang terkotori, sedang mencari jejak-Nya, … adakah jejak-Nya tertapak di hati, di jiwa, di roh, terukir dalam kata, terkata dalam kerja yang aromanya terendus pada tiap hembusan nafas … dari “yang jadi?”

Para terjamah Sang Kekal sajalah yang terkuatkan dan sadar bahwa “jejak tapak itu tertanda 12 bulan, 52 minggu, 365 hari, 8760 jam, 525600 menit dan 31536000 detik, pada setiap tarikan nafas, kata dan kerja dan …” terulang, sampai ke suatu akhir

Pada ujungnya,
Tapak Kekal itu tersaksi dalam kefanaan yang dibaharui dan dibaharui
Terdanda dalam nada “haleluyah dan syukur”
Teralami dalam berkat kekal di hidup, di kerabat dan di setiap tetesan keringat
Terjalani dari pagi ke petang, dan berjejak di malam pada helaan nafas akhir, kala Sang Kekal bersabda, “pulanglah!”
Jejak itu terus tertanda sampai Sang Abadi menghadirkan keabadian yang abadi untuk dipestai dalam kekekalan …
Selamat

Selamat Tahun Baru 2020
www.yakobtomatala.com