YT Leadership Foundation





Archive for April, 2020

Tapak Sandya Kala berkokoh di Kota Raja Besar, pada Pelataran Rumah Suci dalam kehadiran Sang Janji di dalam kurun yang berubah

Tapak Sandya Kala membahana bertutur tentang kebenaran … oleh Sang Janji yang menanggap kebenaran yang muncul terbalik …
Betapa tidak, tertuduh yang diciduk dari bordil, dituntut sebagai pelanggar, dan dengan melanggar “kebenaran hukum,” …

Namun Sang Janji yang berkutat memegang kebenaran sejati, tegar pada kebenaran … dan melakukan kebenaran dalam seru … :
“Barang siapa benar dan benar-benar benar, ‘hendaklah ia yang pertama melemparkan batu …’ dan ternyata kebenaran hukum yang salah terap oleh para Penuduh berkedok taat agama, menyisahkan perintah bersolusi, ‘Aku … tidak menghukum engkau, pergi, dan jangan berbuat dosa lagi …”

Sang Janji yang adalah kebenaran, bicara tentang diri-Nya, “Akulah terang dunia, para pengikut-Ku, akan mempunyai terang hidup, dan berjalan di dalam terang …”

Ini kesaksian tentang Anak Manusia, yang akan terbukti dalam peninggian-Nya yang menghadirkan “kebenaran yang memerdekakan …..”
Kebenaran yang memerdekakan memastikan “siapa-siapa sejatinya turunan Leluhur, Bapa Banyak Bangsa” … pewaris hidup abadi …
Karena, kebenaran sejati membebaskan dari maut, untuk tidak mengalami maut, dengan berkutat pada kebenaran, hidup dalam kebenaran … dari Sang Janji

Sang Janji adalah Petaruhan kebenaran, karena IA ada sebelum Leluhur Besar ada, Sang Penjamin yang memastikan bahwa yang benar yang sejati, akan taat kepada Sabda,
dan … tidak membiarkan Rumah Suci dikotori ketidak adilan, ketidak benaran …

Dengan kesaksian yang mengoncangkan ketidak benaran … walau pun Sang janji menghilang dan pergi, kebenaran tetap terpancar dari Rumah Suci …

Selamat berkutat dalam kebenaran yang menerangi hidup, untuk hidup menggusur yang gelap …

Salam kebenaran,

www.yakobtomatala.com

FIRMAN TUHAN:

“Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang” (Kolose 4:6; I Petrus 3:15-16)

Catatan: Ayat-ayat di atas ini adalah dasar bagi Teologi Apologetika. Dalam hubungan dengan diskursus Pengantar Teologi ini, maka setiap pengguna harus bertanya, “siapa yang berhak memakainya, bagaimana menerapkannya dan digunakan untuk apa serta kepada siapa?”

Pengantar

Berbicara tentang TUHAN Allah, dapat dianalogikan dengan empat orang buta yang memegang sesuatu dari seekor gajah (ekor, kaki, badan dan belalai) dan masing-masing mempercayai, menjelaskan serta mempertahankan apa yang mereka pegang sebagai kebenaran tentang sang gajah.

Dalam kaitan ini, mereka akan mempercayai, menjelaskan dan mempertahankan “apa yang mereka pikir” bahwa itu dan ini adalah segalanya tentang gajah. Apa yang terjadi? Mereka masing-masing benar, karena gajah memiliki ekor, kaki, badan dan belalai.

Namun mereka tidak benar semuanya, karena gajah tidak sekedar ekor, kaki, badan atau belalai. Gajah ternyata memiliki diri yang “lebih lengkap” dari apa yang dapat dipahami, dipercayai, dijelaskan dan dipertahankan.

Dengan analogi ini, dapat diajukan pertanyaan, “Apa dan bagaimana menjelaskan hubungan TUHAN ALLAH dan Covid-19?” Mengapa TUHAN seolah membiarkan Covid-19, serta seolah tidak mendengar doa dan mengatasinya bagi orang Kristen?

Sudah lama Steven Covey mengangkat pertanyaan sementara orang Kristen yang bertanya tatkala menghadapi ancaman hidup: “Apakah TUHAN menyembunyikan diri, tidak mau mendengar doa, bahkan tidak adil dan membiarkan orang Kristen menderita?” Dalam upaya menjawab pertanyaan ini, maka ada beberapa hal yang dapat direnungkan.

Pertama, TUHAN ALLAH YANG BERDAULAT DAN CARA MEMAHAMI DIA

TUHAN Allah Alkitab adalah berdaulat, yaitu “Allah yang ADA dan ber-ADA dengan sendiri-Nya serta IA-lah sumber dan penyebab azali dari semua yang telah ada, sedang ada dan yang akan ada.”

TUHAN Allah yang berdaulat adalah kekal abadi, Yang ESA, yang menyatakan diri sebagai TUHAN Allah – FIRMAN Allah – ROH Allah, Tritunggal yang ESA.

TUHAN Allah yang ESA, memiliki kehendak yang berdaulat, yang sama selaras dalam diri-Nya, kehendak-Nya, dan tindakan-Nya Yang sempurna.

TUHAN Allah yang berdaulat menyatakan hakikat-Nya (substansi, esensi, dan eksistensi) yang kekal dengan atribut-Nya yang Maha Sempurna dan Tindakan-Nya yang Maha Lengkap, yang menggungkapkan kesempurnaan diri-Nya.

TUHAN Allah adalah Maha Benar, Maha Adil, Maha Baik dan Maha Kasih Yang dinyatakan-Nya dalam kesempurnaan diri serta penyataan-Nya pada lintasan sejarah.

TUHAN Allah yang Maha Sempurna hanya dapat dipahami melalui penyataan diri-Nya (self revelation) yang sempurna untuk dan demi dipahami secara lengkap.

A. TUHAN Allah yang menyatakan diri

Melihat kebenaran tentang hakikat TUHAN Allah yang diuraikan sebelumnya, maka dapat ditegaskan bahwa TUHAN hanya dapat dipahami melalui penyataan diri-Nya (Self Disclosure) dan pernyataan-Nya (Self Discourse).

Pernyataan dan pernyataan TUHAN adalah sesuai kehendak-Nya yang berdaulat, yang dikerjakan-Nya melalui ROH-Nya yang Kudus, yang dinyatakan-Nya di dalam dan melalui konteks faktual (konteks hidup, konteks peradaban, sejarah, kebudayaan dan masyarakat serta konteks kerterjadian dan konteks perbahasaan serta pengalaman iluminatif) untuk dipahami secara benar dalam situasi kekinian sejarah masa lampau, di mana IA menyatakan diri dan berfirman kepada Para Nabi, Penulis dan Umat-Nya.

Puncak penyataan diri TUHAN Allah adalah TUHAN Yesus Kristus, FIRMAN Allah yang Kekal yang menjadi Manusia Kristus, yang berinkarnasi berkenosis secara kontekstual (Yohanes 1:1-18; Ibrani 1:1-4; Filipi 2:1-11), sebagai Penyataan Diri-Nya yang sempurna lengkap, dan tertinggi, serta terakhir (Wahyu 22:18-19).

B. Cara MANUSIA memahami TUHAN Allah

TUHAN Allah yang berdaulat dalam penyataan-Nya (revelation) bekerja di dalam dan melalui konteks kehidupan manusia. Penyataan TUHAN ini diwujudkan melalui penyataan-Nya (Self Disclosure) di mana IA membuka Diri kepada umat-Nya dalam konteks nyata, seperti kepada Adam, Nuh, Abraham, Samuel, Hakim-hakim, Saul, Daud, Salomo, Para Nabi, dan Para Rasul.

Pernyataan Diri TUHAN selalu disertai dengan Pernyataan-Nya (Sabda-Nya, Discourse-Nya), guna menyampaikan kehendak-Nya yang khusus pada situasi khusus, dengan cara yang kontekstual untuk dipahami secara nyata dalam konteks kehidupan penerima Firman yang disampaikan-Nya.

Dalam kaitan ini, cara penerima Sabda memahami TUHAN Allah adalah kontekstual, yang melibatkan “worldview, konsep, nilai dan cara pandang” yang juga kontekstual.

Sejalan dengan ini, cara memahami TUHAN Allah yang kontekstual juga menjelaskan bahwa penerima Firman Allah terkondisi oleh kebudayaan-Nya, sehingga perspektif pemahaman Sabda selalu antroposentris, antroposelfis, dan antropografis, yang nyata serta tampak melalui penulisan dan tulisan atau teks-teks suci dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Dari sini, para pembaca dan penafsir Alkitab harus mendekati Alkitab dengan bertanya, “Apa maksud kekal TUHAN Allah melalui teks Firman-Nya dalam suatu konteks sejarah di mana IA bersabda?

Bagaimana penerima atau penulis Firman memahami dan menulis Sabda TUHAN yang diterimanya dalam konteksnya? Apa konteks sejarah, budaya, masyarakat, dan peristiwa khusus di sekitar teks yang disabdakan-Nya?

Apa maksud TUHAN Allah yang tertuang dalam teks (bahasa) dengan perbahasaan (cara membahasakan) yang digunakan penerima atau penulis Firman dalam konteksnya?” Pertanyaan-pertanyaan ini dan jawabannya adalah cara memahami TUHAN Allah melalui teks-teks suci, dalam cara yang sepatutnya.

C. Kesepakaan dan ketidak sepakatan orang Kristen tentang TUHAN Allah

Berdasarkan observasi, kesepakatan dan ketidak sepakatan orang Kristen dalam berteologi tentang TUHAN Allah, didasarkan atas fakta berikut:

1) Pendekatan berteologi yang antropomorfisme, sehingga perbahasaan tentang TUHAN Allah terikat dengan analogi manusia yang digunakan untuk berbicara menjelaskan tentang TUHAN Allah seperti manusia (berteologi yang antropomorfisme);

2) Orientasi berteologi yang sudah berakar dan terpola dalam sejarah kekristenan, yang memperlihatkan adanya perbedaan ajaran (doktrin), cara pandang, tekanan dan sikap ortodoksi dan ortopraksis yang ketat;

3) Cara berteologi yang memberdaulatkan atau memutlakan ajaran (Doktrin atau Dogmatika) tentang TUHAN Allah bukan tentang TUHAN Allah, siapa DIA dan apa DIA ada-Nya sesuai Alkitab;

4) Pendekatan berteologi yang “antropologisme,” sebagai cara yang bertentangan dengan pendekatan berteologi yang “teologisme,” yang bertitik tumpuh awal pada TUHAN Allah sesuai kesaksian Alkitab tentang Penyataan dan Pernyataan Allah, bukan apa dan bagaimana pemahaman sektarian tentang TUHAN;

5) Kebiasaan berteologi yang tidak membedakan Teologi sebagai Ajaran (Teologi Dogmatika) yang sudah dipatrikan, diterima, dan diajarkan yang dipertahankan mati-matian, dan Teologi sebagai Ilmu (Teologi Ilmu dan atau Ilmu Teologi), yang terbuka bagi diskursus (discourses, dialogues, debating, etc) tentang fakta (premis) Alkitab dengan metodologi dan metode ilmu yang standar, berlandaskan Filsafat Ilmu (Scene of Philosophy, bukan Philosophy Science) untuk menemukan dan menetapkan proposisi (rumusan penyimpulan) teologi;

6) Ketidak pedulian yang tidak dapat membedakan “bahasa Iman” atas ajaran yang cenderung dimutlakkan, dan dipertahankan mati-matian, dibanding dengan “bahasa Teologi” sebagai ilmu yang mengandung probabilitas ilmiah yang dapat disiskusikan atau didebatkan.

7) Arogansi berteologi yang cenderung membenarkan diri, membela pandangan sendiri dan mendiskreditkan orang atas nama kemurnian ajaran Kristen dan kesucian TUHAN;

8) Akhirnya, perlu ditanyakan, “siapa yang memberi hak dan ororitas atas semua ini untuk bersikap dan mengklaim atas nama TUHAN ?”

Kedua, TUHAN ALLAH YANG BERDAULAT DAN TINDAKAN-NYA YANG SEMPURNA

TUHAN Allah yang berdaulat bekerja menurut rencana-Nya yang kekal dan mewujudkannya dengan sempurna.

A. TUHAN Allah yang berdaulat bekerja menurut rencana kekal-Nya
TUHAN Allah bekerja berdasarkan kedaulatan dan rencana-Nya yang kekal dan bertujuan. TUHAN Allah yang berdaulat dalam mewujudkan rencana-Nya yang kekal, “selalu menyatakan” (dalam Alkitab) dan atau “tidak menyatakan” (hanya ada pada diri-Nya, lihat Ulangan 29:29). Sebagai contoh:

1) TUHAN Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan umat-Nya, di mana salah satunya terlihat pada wabah Covid-19;

2) Maksud TUHAN tidak selalu dinyatakan “hitam-putih” untuk diketahui, antata lain: “Apakah wabah Covid-19 adalah hukuman dan murka TUHAN atas dosa satu atau sekelompok orang?

Apakah wabah Covid-19 adalah tanda terakhir akhir zaman? Apakah wabah Covid-19 adalah hukuman TUHAN atas orang Kristen yang tidak taat?

Apakah wabah Covid-19 adalah keputusan cara mati yang diizinkan TUHAN?

Apakah wabah Covid-19 adalah bencana yang akan menghancurkan dunia? Kalau pun Anda menjawab Anda tahu, siapa yang Memberi otoritas kepada Anda untuk bicara atas nama TUHAN?

Setiap jawaban berani atas pertanyaan-pertanyaan di atas adalah probabilitas yang kemungkinan salahnya besar, karena semua adalah rahasia TUHAN;

3) Orang Kristen diajar untuk berdoa, “kehendak-Mu jadilah, di bumi seperti di sorga,” yang ujungnya adalah kemuliaan bagi TUHAN Allah, karena itu, jangan mendahului Dia. Nantikanlah Dia yang akan bertindak pada waktu-Nya. Kenyataan dalam berteologi adalah “kita hanya mengerti kehendak TUHAN Allah yang kekal, sesudah kita mengalami pengalaman TUHAN dalam segala peristiwa, termasuk Covid-19”;

4) Orang Kristen harus berdoa, untuk berserah diri dan memohon belaskasihan serta perlindungan dan tindakan TUHAN atas ancaman Covid-19, dan TUHAN Allah yang menjamin perlindungan, dan berkusa mengadakan mujizat kesembuhan pada waktu-Nya;

5) Orang Kristen harus mempercayai TUHAN Allah, dimana percaya tidaklah sama dengan berusaha mengatur TUHAN dan cara-Nya bekerja melalui seperangkat doa, ajaran dan sikap iman, karena orang Kristen bertanggung jawab mengimani dan menanti jawaban Allah atas doanya secara sabar dan tekun.

B. TUHAN Allah yang berdaulat bekerja mengelola ciptaan-Nya secara universal, korporat dan prifat atau individu

Berdasarkan pemahaman tentang TUHAN Allah seperti yang telah diuraikan di atas, dapat dikatakan bahwa wabah Covid-19 adalah cara TUHAN Allah mengelola alam ciptaan-Nya, yang diwujudkan-Nya secara unik, universal untuk dialami dunia, korporat untuk dialami
kelompok masyarakat; dan partikular untuk dialami setiap pribadi.

Pemahaman cara dan maksud kerja TUHAN adalah “sesudah pengalaman berlalu” dan setiap orang memaknai serta membuat refleksi atas pengalaman Covid-19 sesuai pengalamannya, yang tidak bersifat normatif bagi orang lain.

C. Pertentangan kesetiaan berteologi yang historis

Kenyataan menunjukkan bahwa orang Kristen memiliki kecenderungan mempertahankan dan mendebatkan ajaran apa pun dari kesetiaan berteologi (theological allegiances) sesuai tradisi teologi, bukan membela kebenaran tentang TUHAN Allah “an sich” berdasarkan Alkitab.

Kesetiaan berteologi ini memiliki beberapa kecenderungan:
1) Memutlakkan Penafsiran sendiri yang seolah menggangap diri sebagai juru tafsir Alkitab yang lebih benar, lebih otoritatif, lebih berkuasa dari orang lain;
2) Seolah mengangkat diri menjadi “jurubicara” TUHAN yang memonopoli “hak berbicara atas nama Allah”;
3) Seolah mengangkat diri menjadi “nabi” untuk berbicara atas nama TUHAN;
4) Seolah mengangkat diri menjadi “hakim” untuk menghakimi atas nama Allah; menetapkan siapa benar (diri) dan siapa yang salah (orang lain)
5) Seolah kehilangan rasa kemanusiaan dan solidaritas kekristenan, dengan bertepuk dada, lupa bedoa, memohon berkat …
Akh, ini uraian yang berkepanjangan … namun, siapa yang memberi hak dan otoritas atas semua sikap ini?

KESIMPULAN
Uraian dalam diskursus ini tidak berkesimpulan, hanya mengandung keprihatinan untuk mengajak:

Pertama, Biarlah TUHAN Allah tetap TUHAN Allah, dan belajarlah untuk memahami Dia secara “an sich” Dia, siapa dan apa ADA-Nya menurut Dia dan Sabda-Nya, serta jangan mengecilkan Dia menjadi sesempit otak manusia yang karatan karena dosa.

Kedua, Belajarlah untuk tidak mengambil hak TUHAN Allah dengan memutlakan diri sebagai “nabi” yang berbicara atas nama-Nya dan atau menghakimi sebagai “hakim” yang cenderung membenarkan diri menyalahkan orang lain.

Ketiga, TUHAN Allah berdaulat dan Mahakuasa, dan IA dapat menghentikan wabah Covid-19, bahkan mengadakan mujizat sesuai kehendak-Nya, pada waktu-Nya.

Keempat, TUHAN Allah berdaulat menjawab doa dengan mengadakan mujizat atau tidak samasekali, dan semua terjadi atas kehendak-Nya, sehingga tidak ada yang berhak menghakimi sesama dengan mengambil hak TUHAN sambil mengatakan “harus terjadi” atau “tidak ada mujizat” …

Kelima, Covid-19 ada dalam tangan TUHAN Allah yang berdaulat, yang akan bertindak pada waktunya untuk menghentikan atau meneruskannya, demi mewujudkan rencana-Nya yang kekal bagi isi dunia, Anda dan saya.

Keenam, Sebisanya, janganlah menganggap diri sebagai nabi atau hakim, tetapi jadilah orang Kristen yang bijak, saleh dan setia, yang tidak menggurui atau menghakimi atas nama TUHAN.

Ketujuh, Bersiaplah senantiasa serta siaga menanti TUHAN yang akan beracara …!

Salam dan doa bagi kesehatan serta kesejahteraan dan keselamatan semua …

www.yakobtomatala.com

TUHAN Yesus Kristus bersabda: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5:9)

Shalom!

Beberapa catatan, menyikapi polemik Dogmatika di Medsos:

Sebagai Umat Allah, kita harus berbuka hati dan menyadari bahwa:

Pertama, Situasi Covid-19 dan keadaan dunia saat ini, membuat kondisi tidak kondusif untuk meresponi pernyataan dogmatis apa pun, satu kepada yang lain, dengan “berdebat atau menyerang” ajaran orang lain. Di sini tidak ada yang menang, karena “Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak” (Amsal 25:11, dan lagi, “Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang” (Amsal 16:24)

Kedua, Kalau pun masing-masing mengklaim kebenarannya, tetap saja kedua belah pihak sama-sama kalah dan pada gilirannya sama-sama salah serta sama-sama terluka, dan sama-sama kehilangan damai (Yesaya 32:17). Ingatlah bahwa “Debat Dogmatika (ajaran yang dianut) tidak akan selesai dengan menang – kalah”

Ketiga, Semua pihak harus menahan diri dan kembali ke basis, mewujudkan panggilan Gereja: Memelihara kesatuan, memupuk persekutuan, menguatkan kesaksian bersama, memurnikan pemberitaan, dan menjadi instrumen pembangunan guna membangun sesama dan menjadi berkat kepada dunia, dalam satu TUHAN, satu kasih, satu iman dan satu pengharapan dalam membangun Tubuh Kristus (Efesus 4:1-16), karena “Gereja ada di dalam dunia, gereja ada untuk menjadi berkat kepada dunia” (Yohanes 17:18: 20:21)

Keempat, Pilihan terbaik adalah bersikap bijaksana (dengan integritas teguh: benar, baik, adil, tulus, jujur, mengasihi dan lemah lembut), mengedepankan sikap bijak serta arif berpikir, berkata dan bertindak (Yesaya 32:8; Filipi 4:5,8-9), sehingga semua menjadi berkat satu kepada yang lain, supaya orang lain diberkati …

Kelima, Sebagai orang Kristen, kita harus mengedepankan kasih persaudaraan dan tanggung jawab menjaga perdamaian serta mengalahkan kejahatan, jangan saling membinasakan (Roma 12:9-22; 14:8-12; I Yohanes 4:7-12; Galatia 5:14-15), agar kita dapat memberi teladan iman dan menjadi berkat bagi dunia ke mana Gereja terutus oleh TUHAN-nya (Matius 28:18-20)

Dengan demikian, “kiranya kita bersabar hati satu dengan yang lain dan saling mengampuni di dalam Kristus Yesus TUHAN kita” (Kolose 3:12-13), lalu, “biarlah damai sejahtera Kristus memerintah hati kita demi memenuhi panggilan-Nya” karena: “Gereja ada di dalam dunia, gereja terutus untuk menjadi berkat kepada dunia” …
Kiranya …….!

Dalam doa untuk kedamain bagi semua, karena “jika kita membawa damai, kita memberkati sesama, dan kita pasti berbahagia” (Matius 5:9)

Bersatu demi memenangkan pertarungan atas Covid-19

Selamat Paskha 2020

www.yakobtomatala.com

Tapak Sandya Kala menapak dalam hadirnya Sang Janji yang berkelana di utara, sampai ke Pelataran Kota Raja Besar pada Pesta Pondok Daun …

Kisah juang Sang Janji bergaung keras dimulai dari situs perhelatan air jadi anggur, penyucian Balai Sang Kekal, bincangan di ruang kuliah Guru Besar, konseling di sumur, penyembuhan anak sekarat, menapak di atas air, pencari sehat di kolam bergoyang, epok lima roti-dua ikan, … yang merebak kisah populer menghiruk, memperangah penjadi jelata, mengusik telinga Pengayom Iman, merong-rong Pemegang Tongkat Kuasa yang menggaruk kepala yang tak gatalan,
dan menyimpul, …….:

“Yang Ini harus dibasmi, karena merasuk hasut para penjadi, dengan disangka Jurukata Sang Kekal, Yang Diurapi Sandya Kala ….. Yang Dinanti Umat Terjanji,”
berita baik yang menggusar pencinta kuasa, penikmat status quo, kecemplung air panas …

Situasi panas adalah air keruh, bagi penebar pancing dari prinsip “tidak seorang pun berbuat sesuatu di tempat tersembunyi, jika ia mau diakui di muka umum”

Namun, Sang Janji tidak terpancing popularitas, karena: Karya-Nya berkisah tentang Ada-Nya Yang Abadi, yang dengan otoritas menyeru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!Barangsiapa percaya kepada-Ku, ….. Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup … karena Aku Sumber Air Hidup, Yang Diurapi, Aku Titisan Raja Besar, yang bernama yang tidak perlu nama”

Sang Janji Bernama Abadi Yang Oto-populer, yang mengabaikan “mencari nama,” karena IA adalah Kuasa Yang Tidak Terjamah, oleh pendeknya tangan kotor bermotif iman,

IA adalah Sumber dan Pemberi Air Hidup yang melegahkan pendahaga … oleh ancaman wabah … kapan pun dan di mana pun … datang, minum Air Hidup dan … sembuh

Selamat Minum Air Hidup untuk para Pendahaga, supaya hidup yang dari dalamnya mengalir aliran-aliran air hidup dari Pemberi Hidup bagi yang sekarat di bumi yang melarat …
Salam Paskha!

www.yakobtomatala.com

Teks: Yosua 1:7-9; Mazmur 91; Wahyu 1:17-18

Pengantar

Takut dan rasa takut adalah hal yang normal bagi setiap orang. Pada sisi lain, ketakutan biasanya disebabkan oleh adanya sesuatu yang dianggap lebih besar serta lebih kuat yang mengancam, apakah dari dalam atau pun dari luar.

Hal terpenting yang harus ditegaskan adalah bagaimana kita menyikapinya dari perspektif Alkitab, sehingga kita dapat mengatasi ketakutan dalam kehidupan kita. Teks Alkitab dari Yosua dan Mazmur memberi landasan bagaimana mengatasi ketakutan, yaitu antara lain:

Pertama, MEMEGANG JAMINAN TUHAN MENGHADAPI KETAKUTAN (Yosua 1:7-8)

A. Jaminan TUHAN (Maz 46:2) adalah tempat perlindungan dan kekuatan kita, karena itu jangan takut, IA menyertai kita (Yosua 1:7-9)

B. Perlindungan TUHAN
TUHAN Allah adalah jaminan kekuatan dan perlindungan kita, karena itu jangan takut (Mazmur 91:9-13)

C. Kecukupan TUHAN adalah jaminan kecukupan kita, karena itu, jangan takut, “kuatkan dan teguhkan hati mempercayai Janji TUHAN” (Yesaya 33:15-16)

Implikasi:

TUHAN Allah yang Mahakuasa adalah jaminan perlindungan dan kekuatan serta kecukupan kita yang akan menyertai kita melewati tantangan apa pun, termasuk wabah Covid-19 (Mazmur 23:1-4).

Karena itu kita harus “menguatkan dan meneguhkan hati kita” dalam menghadapi tantangan Covid-19. Ingatlah TUHAN Allah melindungi kita, jadi, jangan kecut dan tawar hati (Amsal 24:10). Percayalah bahwa TUHAN Yesus menyertai kita, karena IA adalah IMANUEL, yang lebih berkuasa dari kuasa apa pun (Matius 1:23)

Kedua, TANGGUNG JAWAB MEMPERCAYAI PENYERTAAN TUHAN (Yosua 1:9)

A. Percaya kepada TUHAN Allah berarti mempercayai DIA dengan segenap hati, tidak bersandar pada kekuatan sendiri (Amsal 3:5-8)
B. Percaya pada TUHAN Allah berarti melakukan Firman-Nya dengan tekun, tidak melupakan serta memperkatakannya (Yosua 1:7-9; Amsal 3:1-4; Filipi 4:8-9)
C. Percaya kepada TUHAN adalah melakukan yang IA kehendaki, tidak sekedar mendengar, tetapi taat dan bertindak melakukan Firman dengan setia (Matius 7:24-27)

Implikasi:

Percaya kepada TUHAN Allah berarti bersandar kepada janji Firman-Nya dengan sungguh-sungguh. Kuasa dan kekuatan TUHAN meneguhkan yang menaati Firman-Nya dengan melakukan apa yang diperintahkan-Nya. Jika TUHAN bersabda, “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah” (Yohanes 5:7), maka yang percaya dan taat, akan dikuatkan untuk bangun, angkat tilam, berjalan dan sembuh!”

KESIMPULAN

Ada banyak ancaman hidup termasuk wabah Covid-19 yang dapat membuat kita takut serta ketakutan, tetapi TUHAN Allah memastikan bahwa ada jalan bagi kita untuk tidak takut dan tidak gentar.

Menghadapi ketakutan atas ancaman hidup serta ancaman Wabah Covid-19, TUHAN Allah memberikan jaminan yang meneguhkan pengharapan kita kepada, untuk tidak takut, karena:

Pertama, Kita diminta memegang jaminan TUHAN Allah yang Mahakuasa yang adalah tempat perlindungan dan kekuatan kita, sehingga DIA pasti memihak kita serta menjadikan kita sebagai Pemenang dalam menghadapi wabah Covid-19 (Roma 8:28-37)

Kedua, TUHAN Allah menghendaki agar kita mempercayai DIA yang menyertai kita dengan melakukan Firman-Nya serta bertindak, maka kita pasti dikuatkan untuk bangkit menghadapi tantangan dengan berani dan meraih kemenangan atas Covid-19 (Mazmur 60:14; 108:14)

Ingatlah Sabda TUHAN Yesus, “Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan alam maut” (Wahyu 1:17b-18).

“Dengan TUHAN Yesus Kristus yang bangkit, kita adalah pemenang atas Covid-19 dengan tetap berdiri teguh dan tidak goyah” (I Korintus 15:54-58). TUHAN Allah beserta kita.
Amin

Jakarta, 3 April 2020
Pelayanan Firman,
Pdt. Yakob Tomatala

www.yakobtomatala.com