YT Leadership Foundation





Pengantar

Ralph W. Emerson mengatakan bahwa “Anda akan selamanya menjadi apa yang Anda katakan.” Prinsip ini menegaskan bahwa “apa saja yang Anda katakan, itulah hati Anda, jiwa Anda, roh Anda, itulah Anda sebenarnya.

Pada sisi lain, “kata dan kata-kata adalah bertuah dan berdampak,” sehingga Raja Salomo mengungkapkan rahasia kekuatan kata-kata, “Dengan mulutnya orang fasik membinasakan sesama manusia” (Amsal 11:9a).

Kebenaran ini menggarisbawahi kenyataan, “jika kata-kata Anda membangun, maka Anda adalah orang bijak” (Amsal 10:20a,21a). Sedangkan “jika kata-kata Anda membinasakan, Anda adalah orang fasik.”

Dalam hubungan dengan kata-kata yang membicarakan Covid-19, terlihat adanya orang yang bersikap tidak peduli dan menyebarkan kata-kata “hoax” yang menimbulkan social phobia dan membuat kuatir serta menghancurkan semangat hidup. Dari sini sudah dapat diramalkan bahwa orang seperti ini berjiwa fasik.

Pada sisi lain, jika Anda adalah orang bijak yang berbudi luhur, Anda tentu memilih untuk menggunakan kata-kata yang membangun sesama (Yesaya 32:8). Kini timbul pertanyaan, bagaimana menggunakan kata-kata bijak yang membangun iman, dan pengharapan demi menguatkan semangat serta keberanian untuk bertarung menghadapi dan mengatasi social phobia dan ancaman Covid-19?

Pertama, GUNAKAN KATA-KATA TUHAN YANG MEMBERKATI
Kata-kata TUHAN Allah yang memberkati, mengadung janji dan jaminan Allah yang menguhkan iman dan harapan umat-Nya.

A. Janji JAMINAN: “Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau ke mana pun engkau pergi” (Yosua 1;9b)

B. Janji PEMULIHAN DARI PERTOBATAN:
“Telah Ku dengar doamu dan telah Ku pilih tempat ini bagi-Ku sebagai Rumah Persembahan. Bilamana Aku menutup langit, sehingga tidak ada hujan, dan bilamana Aku menyuruh belalang memakan habis hasil bumi, dan bilamana Aku melepaskan penyakit sampar di antara umat-Ku, dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka” (II Tawarikh 7:13-14)

C. Janji PENEGUH IMAN DAN HARAPAN: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah Firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yeremia 29:11); dan lagi, “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!” (Yeremia 17:7), karena “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; ….. TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap pada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia” (Ratapan 3:22-23,25)

D. Janji PERLINDUNGAN DAN PERTOLONGAN: “TUHAN itu baik; IA adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; IA mengenal orang-orang yang berlindung pada-Nya dan menyeberangkan mereka pada waktu banjir” (Nahun 1:7-8a)

E. Janji KELEPASAN: “Pecobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu IA tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai IA akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya ( I Korintus 10:13); “Karena itu, ….. berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan TUHAN! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan TUHAN jerih payahmu tidak sia-sia” (I Korintus 15:58)

Ingatlah bahwa: “Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang (Amsal 16:24; 17:22; 18:14a). Ingatlah juga bahwa “dengan Kata-kata TUHAN yang memberkati, Anda memberkati diri sendiri dan menjadi berkat bagi banyak orang!”

Hindarilah janji iman picisan yang memberanikan seperti “jangan takut, mengapa harus mengganti ibadah gedongan dengan ibadah rumah, mengapa harus berhenti berjabat tangan? Karena janji iman tanpa disertai rasa tanggung jawab sipil untuk memutuskan mata rantai Covid-19, dengan gereja keluarga di rumah, jaga kesehatan dan jarak sosial yang aman, adalah janji kecap-kecapan Yang memberikan harapan semu. Dengan demikian, perkatakalah Firman dari hati yang bijak, sehingga TUHAN Allah dimuliakan dan banyak orang diberkati.

Kedua, HINDARI KATA-KATA YANG MENGHIDUPKAN SOCIAL PHOBIA
Phobia adalah kekuatan pengaruh suatu penyebab (apa pun bentuknya) atas jiwa yang menyebabkan rasa takut berlebihan dan kepanikan yang eksesif serta irasional. Dengan demikian social phobia dapat disebut sebagai suatu aspek sosial yang membawa pengaruh yang mengancam, yang menimbulkan rasa takut serta kepanikan yang berlebihan dan tidak masuk akal.

Pemahaman seperti ini juga dapat dikenakan pada Covid-19 sebagai sumber ancaman, yang diserbar gencarkan oleh media sosial, sehingga menimbulkan kepanikan serius dalam masyarakat, sehingga dapat disebut Covid Phobia atau Corona Phobia.

Dalam menyikapi Covid Phobia sebagai suatu gejala sosial yang menimbulkan rasa takut dan panik dalam masyarakat, maka ada dua pilihan. 1) Besikap tidak sensitif dengan membesar-besarkan berita Covid-19 yang menimbulkan social phobia; atau 2) Bersikap bijak dengan menyampaikan berita benar tentang Covid-19 secara arif demi membangun semangat serta keberanian untuk hidup. Dengan demikian, jika Anda memilih untuk bersikap bijak, maka Anda adalah orang yang berbudi luhur (Yesaya 32:8).

Dalam meminimalisir social phobia karena Covid-19, maka langkah berikut dapat ditempuh:
A. Katakan kebenaran demi kebenaran yang berkeadilan yang membawa damai (Yesaya 32:17; Daniel 12:3).

B. Hindari penyebaran berita yang sumbernya tidak jelas, atau berita hoax (Amsal 12:17-19), karena “Perkataan orang fasik menghadang darah, tetapi mulut orang jujur menyelamatkan orang” (Amsal 22:6)

C. Sebelum Anda menyebarkan berita apa pun, ingatlah kata bijak ini: “Berpikirlah tiga kali sebelum bicara satu kali” karena “Anda punya dua mata, dua telinga, dua lubang hidung dan satu mulut!” Berpikirlah enam kali baru bicaralah satu kali, jika Anda mau memberkati orang dengan kata-katamu. Jangan diobral kata-katanya sebelum dipikirkan, karena: “Juga orang bodoh akan disangka bijak kalau ia berdiam diri dan disangka berpengertian kalau ia mengatupkan bibirnya” (Amsal 17:28).

Ingatlah bahwa jika Anda mengatakan kata-kata kebenaran dengan menghindari berita hoax atau berita yang sumbernya tidak jelas dan berpikir sebelum mengumbar kata-kata, maka Anda telah menolong banyak orang mengatasi social phobia atau Covid Phobia, yang membuat mereka bersemangat dan bangkit berjuang bersama mengatasi Covid-19.

Ketiga, SEBARKAN KATA-KATA PEMENANG IMAN

Ingatlah kebenaran Firman ini, “Sebab itu …. Jika Allah dipihak kita, siapakah yang akan melawan kita? ….. Tetapi dalam semuanya kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh DIA yang telah mengasihi kita” (Roma 8:31,37).

Dengan demikian, dalam menolong dan meneguhkan sesama, gunakanlah kata-kata Pemenang yang menimbulkan keberanian dan semangat juang, “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. ….. karena aku tahu kepada siapa Aku percaya dan aku yakin bahwa DIA berkuasa nemeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari TUHAN” (II Timotius 1:7,12b). Karena itu, bangkitkanlah semangat dan keberanian sesama dengan mengatakan kata-kata pemenang, antara lain, yaitu:
A. Allah semesta langit Dialah yang membuat kami berhasil melewati tatangan Covid-19 (Nehemia 2:20)
B. Katakan kepada Covid-19, “… aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam Allah barisan ‘umat-Nya’ yang kau tantang itu. Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau …” (I Samuel 16:45-46).

REFLEKSI:
Dalam upaya menolong sesama menghadapi tulah Covid-19 dengan mengatasi Social Phobia Covid-19, maka renungkanlah kebenaran ini:

Pertama, Perkatakanlah Firman TUHAN Allah secara benar, yang meneguhkan iman, pengharapan dan menguatkan semangat serta keberanian untuk hidup dalam siarah iman. Ingatlah bahwa “untuk hidup semua orang memerlukan keberanian, karena mati tidak harus berani, dimana takut dapat berarti mati!”

Kedua, Upayakan untuk selalu menghindari kata-kata yang mencipta social phobia yang menimbulkan kepanikan, kekecutan, ketakutan dan kegentaran atas ancaman Covid-19, seperti, “mengerikan, Covid-19 telah menewaskan jutaan orang diseluruh dunia!” Gunakanlah kata-kata informatif yang benar dan dapat dipertanggung jawabkan.

Ketiga, Hidupkanlah kata-kata pemenang yang menguatkan semangat juang untuk bertegar hati, mempercayai TUHAN Allah bahwa “badai pasti berlalu, peperangan pasti berakhir, dengan kememenangan dari pihak TUHAN Allah, bagi kebahagiaan umat-Nya”
Haleluya!!!

Selamat berbijak hati untuk menghidupkan semangat serta keberanian menghadapi Covid-19 mengatasi Social Phobia, dengan kata-kata arif!

www.yakobtomatala.com

Leave a Reply