YT Leadership Foundation





Firman Allah:
“Hatiku meluap dengan kata-kata indah, aku hendak menyampaikan sajakku kepada raja; lidahku adalah pena seorang jurutulis yang mahir” (Mazmur 45:2).

Pengantar
Gagasan belajar dengan pendekatan kontemplasi dianjurkan oleh filsuf Yahudi, Maimonides atau Rabi Mozes ben Maimon atau sering disapa Rambam yang lahir di Fustat, Mesir pada tahun 1135 dan meninggal pada 13 Desember 1204. Apa sesungguhnya pendekatan belajar kontemplasi ini?

Kontemplasi adalah “kekuatan imajinasi dengan kejernihan berpikir (berpikir dengan nalar bersih) dan kecerdasan otak (berpikir kritis, kreatif, inovatif dan inspiratif) dalam mencari rahasia setiap substansi yang terbesit dari hasrat tersembunyi.” Kontemplasi juga dapat disebut sebagai “belajar dengan berpikir ketat.”

Kontemplasi berawal dari berpikir bersih dan bercerdas otak melahirkan dinamika hasrat melalui kekuatan imajinasi. Imajinasi adalah kreasi kecerdasan berpikir dengan penggunaan otak sebagai daya cipta mengkongkritkan gagasan dari hasrat tersembunyi.

Imajinasi dalam hal ini adalah proses mewujudkan hasrat melalui kekuatan otak dengan nalar bersih dan kecerdasan berpikir guna melahirkan daya cipta menjadi kenyataan faktuil dalam bentuk karya pikir besar. Imajinasi melahirkan temuan hasrat menjadi “ada” sebagai suatu kenyataan, yang adalah “dasar bagi karya besar yang konkrit.”

Di sini dapat dikatakan bahwa hasil berpikir besar yang cerlang sebagai suatu temuan hebat yang memproduksikan tindakan dan hasil kerja hebat dilakukan secara kontemplatif.

PROSES KONTEMPLASI
Apa sesungguhnya dasar bagi proses kontemplasi dan bagaimana mewujudkannya?

Pertama, Gunakan Nalar kritis menggali fakta hasrat tersembunyi (pnimiyut ha-ratzon atau inner will) di dalam jiwa atau batin.

Kedua, Lakukan Imajinasi kritis mengkristalkan hasrat tersembunyi menjadi ide atau gagasan yang konkrit.

Ketiga, Gunakan nalar untuk menganalisa mencernah gagadan dari hasrat tersembunyi secara kreatif.

Keempat, Kembangkan Asosiasi bebas penalaran menyentuh semua aspek secara inovatif inspiratif menghadirkan temuan hasrat dalam suatu konsep utuh yang merupakan temuan pengetahuan dari gagasan hasrat tersembunyi dimaksud. Pengetahuan ini adalah kebenaran tentang hasrat tersembunyi dimaksud.

Kelima, Menetapkan temuan hasrat secara asertif menjadi “realitas ada dalam bentuk teori temuan.”

Keenam, Konstruksikanlah imajinasi membuat sketsa realitas menjadikan yang ada dari temuan hasrat menjadi kenyataan berbentuk himpunan teori atau teorema.

Ketujuh, Menghadirkan hasil kenyataan yang ada dari temuan hasrat dalam bentuk “ilmu pengetahuan.” Kedelapan, Menghadirkan ilmu melalui tindakan nyata dengan karya besar dengan ketrampilan dan kecerdasan untuk mengisi kehidupan dalam bentuk karya nyata yang produktif.

CARA BERKONTEMPLASI
Bagaimana cara yang dapat digunakan untuk berkontemplasi?

Pertama, Berimajinasi secara kritis-kreatif dengan membersihkan pikiran dan menyalakan kekuatan otak secara inovatif menggali hasrat batin dengan pertanyaan-pertanyaan penyelidikan (siapa, apa, mengapa, untuk apa, ke mana, bagaimana, dst).

Kedua, Merasuk otak dengan hasrat
batin melahirkan realitas “ada” secara asertif menjawab rentetan pertanyaan yang diakukan tersebut.

Ketiga, Mencipta “realitas ada” dari hasrat batin dalam suatu sketsa memproduksi kenyataan sebagai kekuatan memecahkan masalah atau menemukan hal baru dengan jawaban tuntas.

Keempat, Mewujudkan sketsa melalui suatu perencanaan kerja yang matang untuk mengerjakan
rencana “yang ada”

Kelima, Memfokuskan upaya dengan kerja keras menghasilkan
kenyataan dari “hasrat yang ada,” berbentuk karya besar didukung etos kerja, disiplin dan motivasi serta keyakinan dan optimisme tinggi kepada kualitas produk dengan kerja efektif (doing the right thing), efisien (doing the right thing rightfully), sehat (healthy professional and social relations), dan produktivitas optimum (optimum productions).

Epilog:
Kontribusi besar yang hebat dalam bidang ilmu pengetahuan sesungguhnya merupakan produk dari pendekatan belajar secara kontemplasi ini.

Dalam hubungan ini, dapat dikatakan bahwa setiap pemikir besar dengan karya besar telah menggunakan pendekatan belajar kontemplatif dengan hasil yang cemerlang yang dinikmati oleh kalangan luas. Selamat berkontemplasi!

Jakarta, Juli 2017
Yakob Tomatala
www.yakobtomatala.com

Referensi:
Abdul Waid, “Menguak Rahasia Cara Belajar Orang Yahudi.” Jogyakarta: Diva Press, 2014.

Leave a Reply