YT Leadership Foundation





Amaran:
“… janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan mendengki” (Galatia 5:26)

Pengantar
Menjadi Pemimpin ditandai adanya “Leadership Power” yang bersifat “formal” atau “legitimate” yang memberikan “tugas, otoritas, privilese, obligasi, tanggung jawab dan pertanggung jawaban” kepada Pemimpin untuk menjalankan Kepemimpinan. Leadership Power dengan sendirinya memberi “kapasitas penuh” bagi Pemimpin untuk menyebabkan “apa saja terjadi” (baik positif mau pun negatif) dalam upaya memimpin.

Pemimpin dalam hal ini memiliki kekuatan untuk menetapkan apakah ia menggunakan kuasa secara positif atau pun negatif. Pada sisi lain, dalam kenyataan, didapati adanya Pemimpin yang berupaya mempertahankan kepemimpinan, melakukan dan merebutnya dengan cara licik. Kini timbul pertanyaan, “Apa sesunguhnya penyebab yang membuat orang bersikap demikian negatif?”

PEMIMPIN DAN PENYAKIT KUASA Pemimpin mudah terjebak kepada penyakit “gila hormat” karena “ia akan selalu di atas” (Galatia 5:26). Karena itu, ingatlah:

Menjadi Pemimpin berarti diakui karena pembuktian diri dengan memperjuangkan integritas (Keluaran 18:21) sepanjang hidup (expert power).

Pemimpin yang menuntut pengakuan adalah tidak tahu diri, sehingga menggerus kewibawaan. Menjadi Pemimpin berarti dihormati karena “siapa ia adanya” dengan pengakuan sosial (refferent power). Pemimpin yang menuntut untuk dihormati adalah tidak tahu diri, sehingga menjadi sangat tidak pantas.

Menjadi Pemimpin berarti diberi otoritas “sehingga ia dapat melakukan apa saja” (legitimate power). Pemimpin yang sok berkuasa adalah tidak tahu diri, sehingga menjadi arogan.

Menjadi Pemimpin adalah “hak istimewa” yang diberi sehingga dapat mengatur apa saja (reward & reprimend power). Pemimpin yang menuntut hak adalah tidak tahu diri, sehingga menjadi serakah.

Menjadi pemimpin adalah “kewajiban mulia” untuk memimpin dengan melayani (serving power). Pemimpin yang menuntut untuk dilayani adalah tidak tahu diri, sehingga bergaya “bossy” yang menciderai harga diri. Menjadi Pemimpin adalah “tanggung jawab istimewa” (responsibility power) yang harus dipertanggung jawabkan (accountability power). Pemimpin yang hanya duduk manis di puncak dan mengeruk untung “menggunakan organisasi bagi kepentingan diri” adalah tidak tahu diri, dan meruntuhkan kepemimpinannya dengan membuatnya “menjadi kurus.” Ini penyakit “libido kuasa kepemimpinan!”

HATI JAHAT SUMBER KEJAHATAN KEPEMIMPINAN
Apa rahasia bagi adanya Pemimpin yang mengidap penyakit “libido kuasa kepemimpinan” ini? TUHAN Yesus berkata: “Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaan hatinya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya meluap dari hatinya” (Lukas 6:45).

Karena itu, Pemimpin sejati menjalankan Firman ini: “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. …. Jadi … semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” (Filipi 4:5,8).

Kebenaran Firman ini adalah kekuatan dan indikator pemimpin yang bebas penyakit “libido kuasa.” Selamat membuktikan diri sebagai Pemimpin yang hatinya sehat (Amsal 4:23).

Jakarta, Maret 2017
Salam Kepemimpinan,
Yakob Tomatala www.yakobtomatala.com

Leave a Reply