YT Leadership Foundation





Nama baik lebih berharga dari kekayaan besar, dikasihi orang lebih berharga dari pada perak dan emas” (Amsal 22:1).

Pengantar

Salah satu syarat mutlak yang diberikan oleh Jitro kepada Musa tentang Pemimpin yang harus direkrutnya ialah bahwa Pemimpin dimaksud haruslah “orang yang dapat dipercaya” (Keluaran 18:21). Orang yang dapat dipercaya seperti ini disebut oleh Rasul Paulus sebagai “mempunyai  nama baik” (I Timotius 3:7). Persayaratan kepemimpinan ini sarat dengan muatan moral sosial, yang menjelaskan bahwa “seorang pemimpin, sejatinya adalah dia yang terhomat karena memiliki kehormatan, dalam kacamata masyarakat, di mana ia dikenal sebagai orang baik, yang hidup dalam kebenaran.” Pengakuan seperti ini dengan sendirinya membuat Pemimpin memperoleh penghormatan. Pengakuan terhadap Pemimpin sebagai “orang baik” menjelaskan tentang adanya penghormatan tentang oknum dimaksud karena ia telah membuktikan diri serta telah terbukti sebagai orang yang terkenal baik.

Pembuktikan diri Pemimpin sebagai orang baik, dimana ia terbukti dan diakui sebagai orang baik merupakan dua sisi dari matauang yang satu. Dua sisi mata uang yang sama yang menjelaskan adanya pembuktian dan adanya pengakuan ini memperlihatkan bahwa yang dimaksudkan dengan selembar atau sekeping uang itu, haruslah memiliki dua sisi yang tidak terpisahkan. Seseorang disebut baik atau dikenal sebagai baik, ialah apabila ia dapat membuktikan diri dan terbukti “memang baik.”

Kenyataan ini menegaskan bahwa setiap pemimpin yang sejati, memiliki tanggung jawab untuk membuktikan diri sebagai pemimpin yang baik,sebagai bagian dari kehormatan dirinya. Pembuktian diri ini merupakan dasar bagi pengakuan dari orang-orang lain di sekitarnya tentang integritas dirinya dari sisi sosial, sebagai individu yang dikenal orang “baik.” Mencermati kebenaran ini, maka ada dua hal yang akan dikembangkan dalam tulisan ini tentang integritas sosial yang menyangkut “hormat dan kehormatan dalam kepemimpinan,” yaitu antara lain: Pertama, Integritas Sosial dan Kehormatan; Kedua, Integritas Sosial dan Penghormatan, yang akan diakhiri dengan suatu rangkuman.

I.          INTERGRITAS SOSIAL DAN KEHORMATAN PEMIMPIN

 Integritas sosial menjelaskan tentang “Kepenuhan kebenaran[1] yang yang ditandai dengan kebaikan, keadilan, ketulusan, kejujuran, kesetiaan, ketaatan, kepatuhan, dan kepatutan yang mewarnai karakter individu, yang diekspresikan melalui sifat, sikap, pikiran, kehendak, perasaan, perkataan dan perbuatan yang bernilai positif di dalam lingkungan sosial atau masyarakat di mana seseorang hidup.” Dalam kaitan ini, integritas seorang individu baik sebagai pribadi mau pun sebagai pemimpin menjelaskan tentang “kehidupannya yang meliputi sifat, sikap, pikiran, kehendak, perasaan, perkataan, dan perbuatan yang dikuasai oleh kebenaran” sehingga bernilai postif.

Kehidupannya yang bernilai positif ini ditandakannya melalui kebaikan, keadilan, ketulusan, kejujuran, kesetiaan, ketaatan, kepatuhan, dan kepatutan yang dihidupi secara konsisten di tengah masyarakat di mana ia berada. Kehidupan seperti ini menggambarkan tentang rasa hormat dan kehormatan dirinya yang dinampakkan oleh pemimpin sebagai seorang pribadi.

Di sini sangatlah terlihat bahwa pemimpin sedang menampakkan adanya kehormatan dirinya yang anggun, yang menjelaskan tentang adanya nilai-nilai luhur dari kehidupannya. Nilai-nilai luhur yang dihidupi dalam kata dan praktek yang ajeg ini adalah alasan kuat, yang olehnya ia di dihormati sebagai Pemimpin Berbudi luhur (Yesaya 32:8). Kehidupan seperti ini digambarkan oleh Pengkhotbah sebagai “memiliki nama harum, yang terbukti lebih baik dari pada minyak yang mahal harganya” (Pengkhotbah 7:1).

  1. Nama baik ini mengandung implikasi kuat akan adanya pembuktian diri Pemimpin yang menampakkan bukti integritas sosial dalam kehidupannya.  Di sini ada pengandaian bahwa Pemimpin ternyata telah hidup dalam kebenaran dan membuktikan diri hidup di dalam kebenaran, yang terlihat pada adanya keselarasan antara kata dan perbuatannya di dalam kehidupan sehari-hari  (Roma 2:7).
  2. Dengan menghidupi hidupnya di dalam kebenaran seperti ini, ternyata Pemimpin sedang mendemonstrasikan kehidupan berkualitas. Melalui penandaan kehidupan berkualitas ini, pemimpin sedang menandakan sikap hormat dan  kehormatan dirinya (Amsal 3:35).
  3. Pada sisi lain,integritas sosial yang ditandakan dengan kehormatan dan penghormatan adalah kehormatan sosial yang menjadi “trade mark” atau “branding” dirinya sebagai Pemimpin berintegritas. Sebagai pemimpin berintegritas, ia sedang menghidupi kehidupan yang luhur, di mana ia terbukti berbudi luhur, karena ia hidup di dalam kebenaran (Yesaya 32:8, 1-2) secara konsisten.  Pembuktian diri seperti ini dengan sendirinya menggangkat serta meninggikan derajatnya (Amsal 14:34) sebagai seorang Pemimpin yang memiliki integritas sosial, sehinga ia patut dihormati (Amsal 21:21; I Timotius 5:17).

 

INTEGRITAS SOSIAL DAN PENGHORMATAN DALAM KEPEMIMPINAN

 

Telah diuraikan di atas bahwa hormat dan kehormatan diri seorang pemimpin berintegritas yang dihidupi secara konsisten merupakan “trade mark” atau “branding” dari Pemimpin sejati. Hormat dan kehormatan merupakan branding dari pemimpin sejati yang hidup di dalam kebenaran (Yehezkiel 18:5,9). Di sini sangatlah terlihat bahwa apabila Pemimpin dihormati, hal ini dikarenakan alasan mendasar, yaitu bahwa ia secara konsisten membuktikan diri sebagai pemimpin yang hidup di dalam kebenaran. Pemimpinn yang hidup di dalam kebenaran adalah Pemimpin berintegritas. Pemimpin yang hidup di dalam kebenaran akan teguh dimana ia akan terbukti secara konsisten mempertahankan integritas dirinya. Dari sisi lain, Pemimpin yang hidup di dalam kebenaran sedang membuktikan bahwa ia penuh hormat atas dirinya dimana ia hidup dengan mengekspresikan integritasnya secara ajeg. Pengekspresian integritas secara ajeg seperti ini akan berimbas kepada pengakuan orang terhadap dirinya. Pengakuan ini adalah penghormatan orang lain kepada Pemimpin. Dengan adanya pengakuan seperti ini, pemimpin sedang diakui sebagai Pemimpin yang berintegritas, karena ia terbukti hidup di dalam kebenaran. Pembuktian integritas diri seperti ini pada gilirannya akan memperoleh “nama baik” sebagai pengakuan dan penghormatan orang  di sekiranya  terhadap dirinya (I Timotius 3:7). Kepentingan dari integritas sosial dan penghormatan terhadap pemimpin memberikan kredensi kepadanya,  yang  meneguhkan otoritas kepemimpinannya.  Peneguhan otoritas kepemimpinan seperti ini memberikan keberanian kepada pemimpin untuk memimpin, karena ia mengetahui bahwa dengan penghormatan yang diberikan kepadanya ada dukungan bagi pelaksanaan upaya memimpinnya secara penuh. Implikasi dari integritas sosial yang berimbas kepada penghormatan yagn diterima pemimpin antara lain adalah:

  1. Pemimpin yang memperoleh kehormatan dan penghormatan adalah merupakan ganjaran atau reward dari integritas sosial yang telah dihidupi serta dibuktikan dalam sepanjang kehidupannya (Amsal 22:4).
  2. Pemimpin yang memperoleh penghormatan adalah karena ia telah membuktikan bahwa oleh integritas diri yang dihidupnya, orang yang dipimpinnya merasakan akan adanya imbasan berkat kepemipinannya atas mereka (Ibrani 5:4; I Tesalonika 5:12-13).
  3. Pemimpin yang memperoleh penghormatan di sini adalah merupakan bukti dan pembuktian bahwa Sang Pemimpin telah membayar harga kepemimpinan, dengan menempatkan setiap orang secara pas dalam hubungan-hubungan kepemimpinan yang diwujudkan melalui sikap hormat dalam sepanjang upaya memimpin yang dilakoninya.

IMPLIKASI KEPEMIMPINAN

  • Pemimpin yang memperoleh kehormatan serta penghormatan adalah dia yang telah membuktikan diri sebagai Pemimpin yang berbudi luhur, yang secara konsisten membuktikan bahwa ia hidup di dalam kebenaran yang terbukti melalui perkataan dan praktek kehidupannya yang selaras. Dari sinilah sang Pemimpin menuai kebenaran dari Kaidah Emas TUHAN Yesus yang menegaskan, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Matius 7:12). Tegasnya, Pemimpin dihormati dan memperoleh kehormatan, karena ia menghormati sesama secara tulus dalam kata dan praktik.
  • Pemimpin yang memperoleh kehormatan dan penghormatan adalah dia yang memperoleh imbasan pengakuan atas tindakannya yang berhikmat, dengan memperlakukan orang-orang yang dipimpinnya secara terhormat dan penuh penghargaan. Kebenaran ini menegaskan bahwa sang Pemimpin dengan sikap dan cara terhormat seperti ini membuktikan bahwa ia dapat mencipta sinergi, yang menjamin keberhasilan kepemimpinannya dengan menghargakan setiap orang yang dipimpinnya. Pemimpin yang menghargai dan menghargakan kapasitas orang-orangnya, dan menghargai cara kerja mereka serta kontribusi mereka adalah pemimpin yang pasti akan menuai keberhasilan dalam kepemimpinannya. Alasan kuat bagi kebenaran ini ialah karena penghormatan yang diberikan pemimpin maka orang-orang yang dipimpinnya memperoleh “pengakuan yang meneguhkan harga diri dan kemauan baik mereka untuk mengabdi serta berjuang bersama” meneguhkan kinerja organisasi. Di sini dapatlah ditegaskan bahwa Pemimpin yang menghormati dan dihormati akan menjamin keberhasilan upaya memimpin  yang diembannya, karena ia akan memperoleh dukungan yang penuh dari setiap komponen manusia dalam kepemimpinannya. Selamat membuktikan integritas sosial dengan kehormatan dan penghormatan yang menjamin keberhasilan kepemimpinan.

 

Salam dan doa,

Dr. Yakob Tomatala



[1] Dalam PL, istilah Kebenaran (Tsdaqah – sted_aw_kaw) berarti: Rigthness (Abtractly); Rectitude (Subjectively); Justice (Objectively); Virtue (Morally) dan Prosperity (Figuratively). Dalam PB, Kebenaran (Aletheia) berarti: Truth, True, Verity. Kebenaran juga berarti “in accord with fact” (Yohanes 18:37-38; 19:35). Sumber: e-Sword Bible Commentary and Dictionary.

One Response to “INTEGRITAS SOSIAL: KEHORMATAN DAN HORMAT DALAM KEPEMIMPINAN”

Leave a Reply