YT Leadership Foundation





Judul             : PEMIMPIN BERKARAKTER LUHUR

Penulis         : Dr. Yakob Tomatala

Media           : HUT 80 STT  Jaffray Makassar

Jumlah kata : 3316

ABSTRAK

Firman Allah menegaskan bahwa “….. orang yang berbudi luhur merancang hal-hal yang luhur, dan ia selalu bertindak demikian” (Yesaya 32:8). Kebenaran dalam nubuatan Nabi Yesaya ini berbicara tentang pribadi yang berbudi luhur, yang berpikir luhur, bersikap luhur dan bertindak luhur yang akan terwujud dengan sendirinya secara konsisten. Penekanan  ini menerangkan tentang seseorang pribadi, yang apabila ia berbudi luhur, ia akan membuktikannya dengan sifat, sikap, kata serta tindakan yang luhur yang akan selalu menyatakan keluhurannya sebagai karakteristik dirinya. Pada sisi lain, dalam kaitan ini dapat dilihat bahwa seorang individu sesungguhnya memiliki kepribadian utuh yang ditandakan dengan karakter[1] yang menjelaskan tentang karakteristik kepripadian individu dimaksud. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kepribadian diekspresikan melalui karakter dan karakter yang dibangun di atas sejumlah faktor menunjukkan kadar nilai dari kepribadian. Jadi dapatlah dikatakan bahwa apabila pemimpin memiliki karakter yang disebut “berbudi luhur” maka pada tahap pertama, ia telah membangun kepribadiannya di atas nilai yang luhur, dan dari nilai luhur ini, ia mengekspresikan karakternya yang berkarakteristik “berbudi luhur” dimaksud dalam keseharian melalui pikiran, sikap, sifat, kata serta perbuatannya. Dalam upaya menjelaskan hubungan yang integral antara pemimpin dan karakternya, maka tulisan ini akan membahas beberapa pokok penting, yaitu antara lain., Satu, Fondasi karakter individu yang luhur; Kedua, Dinamika mengembangkan karakter yang luhur; yang diakhiri dengan suatu rangkuman.

FONDASI KARAKTER INDIVIDU YANG LUHUR

Telah disinggung sebelumnya, bahwa karakter sangat erat hubungannya dengan kepribadian setiap individu. Substansi kepribadian setiap orang memiliki ego (diri, hakikat diri), yang dibangun di attas temperamen yang merupakan bawaan lahir. Ego memiliki (dimiliki) tubuh, jiwa, roh yang menjadikan manusia sebagai manusia (yang hidup, yang bukan binatang), dengan kesatuan psiko-somatik (jiwa/roh/tubuh) utuh tidak terpisahkan. Ego yang dimotori oleh temperamen mempengaruhi kepribadian yang melibatkan pikiran (intelek/ kognisi), perasaan (emosi) dan kehendak (volisi) yang beroperasi secara mekanis dan integral. Di sini jelas terlihat bahwa secara substatif, manusia disebut manusia karena ia memiliki ego yang ada menyatu pada tubuh/jiwa/roh, yang olehnya manusia adalah seorang pribadi dengan kepribadian utuh. Ego diwarnai oleh temperamen[2] yang merupakan bawaan lahir, yang memberi pengaruh dasar awal terhadap sifat, sikap, pikiran, perasaan dan kehendak serta tindakan setiap individu.  Kenyataan manusia seperi inilah yang menjadikannya manusia berpribadi, dengan kepribadian sepesifik, khas serta unik. Pada  tataran selanjutnya, perlu disadari bahwa “Kepribadian seseorang sangat dipengaruhi oleh faktor genetika yang nampak pada temperamen atau bawaan lahir, lingkungan, dan pengalaman hidup individu.”[3] Di sini terlihat bahwa ada faktor kepribadian dan pengaruh terhadap kepribadian setiap orang yang tidak dapat diubah atau dipengaruhi, karena merupakan destini. [4] Faktor-faktor dimaksud secara dominan mempengaruhi kepribadian, tanpa dapat diubah, karena sifatnya yang tetap, namun hanya dapat disikapi.

Menghubungkan kepribadian dengan karakter, perlu diawali dengan menegaskan bahwa ego (ke-AKU-an) yang membentuk seseorang sebagai manusia pribadi adalah bagian dari genetika dan bawaan lahir setiap orang yang menjadikan kepribadian dengan temperamen yang permanen dan tidak berubah. Tatkala seorang individu mengekspresikan dirinya, maka ia sedang menyatakan “karakteristik kepribadiannya” yang dari padanya dapat terlihat karakter khusus yang dimilikinya. Dari sisi ini terlihat faktor pengaruh terhadap kepribadian setiap individu yang dialami, diperoleh dan dijalani dalam lingkungan kehidupan di mana setiap orang berada dan dibesarkan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kepribadian yang permanen itu ditandakan dengan karakter khas yang dipengaruhi sejumlah faktor. Kepribadian yang didominasi oleh karakter inilah yang menyebabkan karakter memiliki sifat “dapat berubah.”[5] Dengan adanya sifat ini pada karakter, maka karakter setiap orang dapat dikembangkan menjadi lebih baik dari apa yang ada padanya, karena karakter adalah ekspresi dari kepribadian.[6] Dalam upaya mengembangkan karakter menjadi lebih baik, maka landasan yang kuat yang harus dipahami adalah otoritas nilai[7] yang menjadi anutan setiap orang. Otoritas bagi nilai ini adalah antara lain, TUHAN, keluarga, guru, pemimpin atau atasan, sahabat baik, dan sebagainya, yang menjelaskan bahwa “sesuatu yang dominan baik positif atau pun negatif” akan mempengaruhi karakter individu.[8] Nilai-nilai agung yang dapat dijadilakan landasan dan tolok ukur bagi “pribadi yang berbudi luhur” dapat diidentifikasi pada aspek berikut di bawah ini.

  1. Kebenaran yang berperan sebagai dasar bagi kepercayaan (iman atau kredo), serta landasan etika dan moral (sikap hati sebagai penggrak  perbuatan atau agenda). Landasan utama bagi nilai individu mau pun masyarakat yang berakar dari adalah kepercayaan atau apa yang dipercayai, ini sangat berhubungan dengan kebenaran sebagai dasar bagi iman. Dalam kaitan ini, kebenaran macam apa pun yang dipercayaai akan sangat mempengaruhi kadar kepercayaan atau iman yang berujung pada terwujudnya integritas[9] diri. Mencermati dari perspektif Kristen, kebenaran yang adalah dasar kepercayaan dapat diuraikan sebagai berikut. Pertama, Kebenaran azali adalah milik TUHAN (YHWH) Allah (Elohim) dan yang hanya ada pada Allah. Kebenaran azali milik Allah ini adalah “kudus” (Imamat 11:44-45; I Petrus 1:15-16). Kebenaran azali TUHAN Allah ini adalah bagian dari hakikat (essence), sifat khas (attributes) dan tindakan TUHAN Allah. Kebenaran azali ini hanya ada pada manusia karena diimpartasi oleh TUHAN.[10]
  2. Inkulturasi keluarga dan masyarakat. Tatkala seseorang individu berada di dalam rahim ibunya, ia dapat saja dipengaruhi oleh faktor “psikologi ibu” melalui prenatal influnces yang diimpartasi sang ibu. dapat dikatakan bahwa dari sisi psikologi ibu ini, nilai bawaan dasar pribadi ditanamkan, namun secara kultural, sasng bayi belumlah menjadi manusia budaya. Setelah sang bayi lahir, ia mulai memasuki proses budaya dengan dibudayakan dan berbudaya, sehingga ia menjadi manusia budaya dari suatu kelompok masyarakat. Pada tatanan ini, mulailah terlihat adanya pengaruh kebudayaan terhadap pembentukkan diri individu yang disebut inkulturasi atau enkulturasi,[11] yang dimulai dari pengaruh orang tua dan lingkungan keluarga. dalam kaitan ini, dapatlah dikatakan bahwa salah satu faktor dominan yang mempengaruhi kepribadian seseorang adalah keluarga dan masyarakat yang diwujudkan melalui inkulturasi ini.[12]
  3. Pendidikan umum, yang mewarnai kecakapan berpikir. Di samping faktor inkulturasi, faktor pendidikan umum juga sangat mewarnai dasar, khasana, kemampuan dan cara berpikir setiap orang. Dengan demikian dapatlah dilihat bahwa pendidikan umum yang ditekuni seseorang sampai pada level apa pun dengan cara apa pun akan mewarnai serta mempengaruhi kepribadiannya secara umum pula. Dari sinilah akan terlihat bahwa kecenderunga berpikir, bersikap, berkata dan berbuat akan memperlihatkan keterpengaruhan pendidikan formal ini.
  4. Pergaulan yang mewarnai hubungan-hubungan sosial. Faktor sosial dasar yang juga berpengaruh atas kepribadian seseorang dan setiap orang adalah pergaulan dengan teman sepermainan atau peer. Di samping faktor sosial yang diwariskan dari pengaruh kehidupan keluarga, pergaulan dengan peer juga memiliki kontribusi dalam pembentukan kepribadian individu. Karena itu, pengaruh atas kepribadian seseorang dapat ditelusuri balik kepada pergaulan dengan peer dalam lingkungan masyarakat di mana ia hidup dan berada pada awalnya.

Dalam hubungan dengan uraian di atas ini, dapatlah dikatakan bahwa kebiasaan pribadi yang menunjuk kepada bagaimana seseorang berpikir, bersifat, bersikap atau berkehendak, berperasaan, berkata dan bertindak, dapat ditelusuri balik kepada pengaruh-pengaruh yang melingkupi dirinya terutama pada masa kanak-kanak, dari usia bayi, sampai masa remaja dan pemuda. Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa kadar keluhuran budi seseorang akan ditentukan oleh pengaruh nilai iman, keluarga, pendidikan umum, pergaulan dan hubungan-hubungan di mana ia hidup dan di besarkan. Dari sisi lain dapatlah dikatakan bahwa pengaruh-pengaruh di atas inilah yang membentuk dan mengubah kepribbadian seseorang sehingga ia menjadi apa adanya pada saat ini dengan ekpresi dirinya yang unik dan khas.

 

DINAMIKA MENGEMBANGKAN KARAKTER YANG LUHUR

Telah diungkapkan bahwa karakter memiliki sifat khas “dapat berubah” yang olehnya karakter dapat dikembangkan dan berkembang menjadi positif atau dibiarkan untuk dipengaruhi sehingga menjadi negatif.[13] Dengan demikian, dalam upaya mengembangkan “karakter menjadi luhur” maka ada dua aspek yang akan disinggung, antara lain yaitu: Pertama, Menata perkembangan format diri; dan Kedua, Pencitraan diri yang positif.

  1. Menata perkembangan format diri

Dalam upaya mengembangkan karakter luhur, setiap individu dan pemimpin Kristen perlu manyadari dengan dalam bahwa menurut Alkitab, “semua orang (manusia) telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23). Kebenaran ini menegaskan bahwa secara natur, manusia adalah berdosa, dan tidak memiliki kekuatan untuk mengembangkan diri menjadi luhur dalam arti yang sebenarnya. Ini tidak berarti bahwa secara umum, manusia tidak dapat “berpikir positif yang alami,” karena pada dasarnya, manusia memiliki kebaikan umum, yang olehnya secara sosial manusia sejahat apapun dia, pasti akan bersikap baik terhadap isteri, suami, atau anak-nya. Namun, kebaikan seperti ini bernilai positif tidak penuh, karena dosa, sehingga manusia sebaik apa pun dia, ia akan membenci musuhnya (ia tentu memiliki musuh) dan dimusuhi orang lain.[14] Hal ini berarti secara umum, manusia dapat saja berbicara tentang berpikir positif, tetapi dalam sifat yang tidak murni, karena dosa yang ada padanya (Roma 6:23). Pada sisi lain, bagi orang Kristen, tatkala ia di dalam Kristus, sesungguhnya ia telah menjadi “manusia baru” (II Korintus 5:17), dimana manusia lama (natur keberdosaan) telah diselesaikan TUHAN (I Korintus 15:1-5), sehingga ia telah mengalami pembaruan hidup (Kolose 3:5-11), menjadi “manusia baru” (ciptaan baru) dalam Kristus (II Korintus 5:17). Dalam kaitan ini, tatkala orang Kristen hidup sesuai dengan panggilannya dengan cara hidup “rendah hati, lemah lembut, sabar, mengasihi, memelihara kesatuan dalam ikatan damai sejahtera” (Efesus 4:1-3) dan hidup dalam kasih serta menjauhkan diri dari perbuatan kegelapan dan hidup sebagai anak-anak terang dengan arif sesuai kehendak Allah (Efesus 5:1-18), dan memiliki belas kasihan dengan  sifat serta kata-kata yang membangun (Kolose 3:12-17), kemudian “membangun pikirannya di atas “apa yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, dengan kebajikan dan tindakan yang patut dipuji” (Efesus 4:8), maka ia telah “bersikap, berpikir, dan bertindak positif” dalam arti yang sejati. Dengan berlandaskan kebenaran ini, orang Kristen dapat mengembangkan diri ke arah kedewasaan penuh (Efesus 4:13-16) yang menandakan bahwa ia sedang berada dalam suatu proses perkembangan diri yang formatif.[15]

Sebagai seorang individu pemimpin, perkembangan seperti yang dijelaskan di depan ini harus diupayakan sedemikian rupa, sehingga terfokus kepada sasaran: “mejadi kompeten” dengan integritaskredibilitas karakter tinggi (Formasi Rohani); kapasitas pengetahuan yang komprehensif dan khas lebih (Formasi Pelayanan) dan kapabilitas sosial (kemampuan mengembangkan hubungan positif yang luas), ekonomi (naluri dan kecakapan ekonomi) dan teknis (kecakapan memimpin dengan memanejemeni secara andal), yang berkembang secara ajeg ke arah kovergensi menjadi pemimpin tangguh.[16] Seorang individu pemimpin yang berkembang secara formatif seperti ini menjelaskan bahwa ia sedang membangun karakternya yang dilandasi nilai etika – moral agung (Roma 12:1-2; Mazmur 1; Yeremia 9:23-24; 17:7-8; Yesaya 32:1-3,8, Daniel 12:3), yang memberikan kepadanya landasan kuat untuk berbudi luhur. Perkembangan formatif ini ditandai oleh kemampuan untuk mengendalikan diri dengan “menjaga hati” (Amsal 4:23), yang olehnya dari dalam dirinya mengalir air hidup (Yohanes 7:38), sehingga orang lain yang ada di sekitarnya diberkati TUHAN. Oleh pertolongan Roh Kudus, ia sedang ada dalam “kemampuan tinggi” yang dinyatakan dengan “keagungan hidup berlandaskan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahblembutan, dan penguasaan diri” (Galatia 5:22-23’ I Korintus 13; Yohanes 13:34-35). Cara hidup (lifeway) seperti ini menjelaskan bahwa orang Kristen/ pemimpin Kristen sedang hidup seperi Kristus TUHAN-nya (I Yohanes 2:6). Di sini ia sedang membuktikan diri memiliki keluhuran budi (Yesaya 32:8) yang ditanda-buktikan dengan memimpin banyak orang kepada kebenaran dan damai sejahtera (Daniel 12:3; Yesaya 32:17; Yohanes 14:27). Dalam kaitan dengan pengembangan diri menjadi pemimpin kompeten dengan keluhuran budi seperti ini, setiap individu Kristen/ Pemimpin Kristen harus dengan penuh kesadaran dan secara terencana membangun suatu strategi “pengembangan diri” diawali dengan sikap siap menjadi pembelajar sepanjang hidup yang terus menerus mengembangkan diri melalui belajar secara introspektif (mengkaji pengaman hidup secara internal), retrospektif (mengkaji nilai pengalaman masa lalu bagi kehidupan sekarang)  dan belajar secara vikariat (vicarious learning, yaitu belajar dengan menggunakan pemimpin Alkitab, pemimpn historis yang telah berlalu dari sejarah, dan pemimpin kontempoter) sebagai model  atau patron pembelajaran. Dengan menata perkembangan diri seperti ini, pemimpin sedang dan akan terus berkembang ke arah kepenuhan diri menjadi kompeten, yang ditandai oleh kenyataan bahwa ia terus menghidupi dirinya dengan karakter agung[17] di mana ia menjadi berkat kepada lebih banyak orang dari berbagai kalangan. Pemenuhan format diri harus didukung oleh kesadaran bahwa sang pemimpin sedang menghidupi karakter dan menjalankan kepemimpinannya dengan “cara hidup bijak.”  Pada sisi lain kesadaran ini harus ditopang oleh penemuan diri (secara subyektif) bahwa sang pemimpin sedang berkembang dan adanya pengakuan dari orang lain (konfirmasi) bahwa pemimpin sedang menjadi berkat bagi banyak orang. Sang pemimpin dalam kaitan ini tidak dapat bertepuk sebelah tangan (membuat klaim secara sepihak) dengan mengatakan bahwa “saya adalah kompeten dan sedang berkembang,” karena kompetensi dan perkembangan diri seorang pemimpin harus dibuktikan dengan adanya pengakuan dari orang lain secara positif bahwa ia sedang berkembang dengan adanya bukti bahwa ia “menjadi berkat” kepada lebih banyak orang. Pengakuan seperi ini harus disambut oleh pemimpin dengan mawas diri dan berendah hati, agar ia tidak terjebak kepada keangkuhan dan menjadi takabur.

  1. Pencitraan diri yang positif

Kesadaran diri pemimpin secara subyektif bahwa ia sedang berkembang hanya dapat dipastikan melalui pencitraan dirinya. Pencitraan diri positif yang sejati dibangun di atas kompetensi diri yang kuat, antara lain, karakter (Etika-moral = SQ) yang teguh, pengetahuan yang komprehensif dan khas lebih (yang dalam, luas, dan khas atau spesial = IQ) serta kecakapan sosial-ekonomi-teknis (ScETQ) yang andal. Pencitraan diri dalam kaitan ini adalah suatu sikap sadar bertanggung jawab seorang individu. Sikap ini diwujudkan dalam mengekspresikan dirinya yang ditandai oleh pikiran, sikap, kata serta tindakan yang positif yang mewarnai lingkungan pribadi serta kinerja dengan membangun orang lain yang ada di sekirarnya dan membawa keuntungan bagi kepemimpinannya. Pencitraan diri diwali dengan adanya integritas karakter Kristen yang kuat,  yang olehnya pemimpin yang membuktikan diri dengan etika moral luhur, akan diakui sebagai kredibel. Pencitraan diri dari sisi karakter ini di awali dari membangun self esteem (sikap penghargaan obyektif terhadap diri) yang mengakui bahwa dirinya berharga di mata TUHAN yang telah memilih dan menetapkannya menjadi seorang pribadi dan seorang pemimpin (Yeremia 1:5). Sikap seperti ini meneguhkan diri dengan kepercayaan yang teguh, yang melahirkan self confidence (rasa percaya diri) yang kuat sebagai pemimpin yang telah dipanggil TUHAN. Self esteem pada sisi lain akan meneguhkan self dignity (kewibawaan diri), sehingga pemimpin dapat berdiri tegak menghadapi kepemimpinannya yang ditandai oleh berbagai gelombang tantangan. Dengan sikap dasar seperti ini, pemimpin dengan sendirinya ditopang untuk berpikir, bersikap, berkata dan bertindak positif terhadap tugasnya (terstruktur objektif) orang lain (konsiderat-altruistik) dan segala sesuatu yang dihadapi (pragmatis-optmistik). Berdasarkan sikap seperti yang telah disinggung di atas, pemimpin akan diteguhkan dengan jiwa positif (hidup benar, baik hati, tulus, jujur, adil, setia, arif) yang olehnya ia memiliki mentalitas positif (keteguhan, ketekunan, kesetiaan, kerajinan, keuletan) yang memberikan kepadanya gaya proaktif (asertif, inovatif, antisipatif, partisipatif, adaptif) dalam menyikapi dan menindaki segala sesuatu.  Pencitraan diri dari sisi pengetahuan akan terlihat pada kapasitas diri sebagai narasumber dengan kemampuan intelektual cemerlang. Pada sisi ini, pemimpin telah membangun dirinya dengan perangkat falsafah kehidupan yang lengkap, serta pengetahuan know how yang membuatnya cerdas dengan kemampuan menanggapi segala sesuatu secara cemerlang. Pecitraan diri dari segi kecakapan akan terlihat pada kapabilitas kinerja dari sisi sosial, dimana pemimpin piawai dalam mengelola dan membangun hubungan-hubungan dengan jejaringan yang luas pada segala aras., dan  mampu memanejemeni tanggungungjawab kepemimpinan secara efektif, efisien, dan sehat yang produktif optimal.[18]

Pada tataran lain, pencitraan diri secara praksis hanya akan bernilai positif apabila pemimpin secara bertanggungjawab menghidupi diri serta kepemimpinannya sebegitu rupa sehingga ia menandakan adanya kualitas karakter lebih. Karakter lebih ini pertama-tama ditandakan dengan adanya  keagungan budi. Keagungan  budi yang sejati dibangun di atas kebenaran, kebaikan, keadilan, ketulusan, kesetiaan, ketekunan dan ketahanan, yang menunjukkan adanya integritas dan kredibilitas karakter. Kedua, karakter lebih ini ditunjang oleh adanya komitmen tinggi kepada disiplin serta penguasan diri, kebijaksanaan dan kearifan dalam membangun sikap terhadap orang lain, serta adanya kesetiaan, keuletan dan ketekunan kerja berkualitas (efektif-efisien-sehat-optimal) yang membawa keuntungan bagi diri, orang yang dipimpin, dan organisasi serta masyarakat di mana kepemimpinannya dijalankan.  Ketiga, karakter lebih ini ditandai dengan adanya kearifan dalam melaksanakan upaya memimpin, dengan sikap terbuka, konsiderat serta lugas terhadap orang yang dipimpin dan pekerjaan yang dijalankan. Keempat, karakter lebih pada sisi lain, nampak pada pencitraan diri yang baik dan benar yang diekspresikan melalui pikiran, sikap, kata dan tindakan yang mengangkat dan meneguhkan, sehingga dengan sendirinya akan berimbas kepada adanya pengakuan akan kualitas diri lebih yang ada pada pemimpin. Pengakuan ini merupakan imbasan berupa penghargaan obyektif tulus atas diri pemimpin sebagai refleksi orang lain atas pencitraannya. Dari sisi inilah akan terbukti sejauh mana pemimpin memiliki karakter yang luhur yang ditandai dengan adanya pengakuan dan penghargaan yang diberikan kepadanya.

 

 

RANGKUMAN

 

Pemimpin Kristen yang memiliki karakter luhur hanya ada karena anugerah Allah yang telah menyelamatkannya, dan menjadikannya sebagai manusia baru (II Korintus 5;17; Yesaya 32:1-2,8,17; Daniel 12:3). Manusia baru yang adalah ciptaan Allah memberikan kepada pemimpin vitalitas yang meneguhkannya untuk membangun diri ke arah kedesawaan sesuai dengan rencana Allah. Secara khusus, keluhuran karakter pemimpin dibangun di atas keluhuran budi, dengan komitmen kuat untuk taat dan setia kepada TUHAN. Dari tataran praktis, keluhuran diri pemimpin akan tampak pada karakternya yang berintegritas tinggi (benar, baik, suci, adil, jujur, tulus, setia, tabah, tekun, tangguh, indah, mulia – Lihat Filipi 4:5,8), kapasitas pengetahuannya yang komprehensif (luas) dan khas lebih (pilihan unggulan); yang menempatkannya pada tataran atas dan lini depan dalam percaturan intelektualitas; serta kapabilitas sosial, ekonomi dan teknis yang andal yang meneguhkan pribadi entrepreneur mandiri yang memiliki basis sosial berjejaring luas serta keandalan memanejemeni secara strategis taktis tinggi, yang membawanya unggul dalam kinerja serta pencapaian. Semua ini akan terwujud melalui pencitraan diri dan tindakan proaktif yang berimbas kepada pengakuan positif dari banyak orang tentang keandalan pemimpin. Keandalan pemimpin ini terbukti karena ia memiliki karakter yang luhur, yang membawa keberhasilan dalam kehidupan serta karirnya yang ditandai dengan keberadaannya yang memberkati banyak orang. Selamat menghidupi diri dengan karakter luhur.

 

Jakarta, Maret 2012

Pdt. Dr. Yakob Tomatala



[1] Lihat Buku Manusia Sukses: Teologi Sukses Menurut Alkitab. Tahun 1988 karangan Yakob Tomatala tentang Faktor Karakter yang menentukan 85 % keberhasilan seorang pemimpin.

[2] Temperamen atau bawaan lahir lebih bersifat permanen, karena terkait pada faktor genetika.

[3] Lihat penjelasan Yakob Tomatala dalam buku Manusia Sukses, tahun1998 halaman 31-32.

[4] Temperamen atau bawaan lahir, lingkungan dan pengalaman khas berbekas adalah dasar kepribadian yang tidak dapat diubah.  Faktor-faktor dasar bagi pembentukan karakter ini adalah destini karunia Sang Pencipta yang bersifat permanen, di mana faktor ini hanya dapat disikapi secara positif atau negatif.

[5] “Karakter Anda terwujud oleh sejumlah faktor. Ada faktor yang tidak mungkin diubah oleh siapa saja, tetapi ada faktor yang dapat dikembangkan dengan “proses positivisasi” untuk menjadikannya positif.” Ibid.

[6] Karakter adalah hakikat, sifat, dan ekspresi kepribadian seseorang yang dinyatakan melalui pikiran, perasaan, kehendak, pembicaraan serta perilaku dalam lingkungan atau konteks di mana ia hidup. Ibid.

[7] Lihat buku Anda juga Bisa menjadi Pemimpin Visioner, tahun 2007 karangan Yakob Tomatala tentang Otoritas Nilai. Halaman 51-79.

[8] Amsal 22:24-25, “Jangan berteman dengan orang yang lekas gusar, ……. supaya engkau jangan menjadi biasa dengan tingkah lakunya ….”

[9] Integritas menurut David K. Hatch, “adalah garis merah yang mempertahankan setiap prinsip lain dalam Kehebatan Sehari-hari. Jika dianggap tidak jujur, misalnya, orang yang pemberani akan ditakuti dan dihindari. Jika dipandang sebagai tidak etis, orang yang menampilkan sikap dermawan akan dianggap dalang yang mementingkan diri sendiri. … Orang yang penuh integritas adalah orang yang ucapannya sesuai dengan perbuatannya, dan perilakunya mencerminkan nilai-nilai luhur yang dianutnya.” (2011:149). Banding Bab II.

 

[10] Lihat uraian Rasul Paulus di dalam Galatia 2:15-20; dan II Korintus 5:17).

[11] Lihat buku karangan Teologi Kontekstualisasi dan Antropologi Kebudayaan karya Yakob Tomatala tentang pokok inkulturasi atau enkulturasi atau sosialissi atau pendidikan dalam kebudayaan ini.

[12] Lihat tulisan Yakob Tomatal dalam buku: Dr. Marthin Billa: Pemimpin Visioner, Transformator, Futuristik. Tahun 2012 tentang pengaruh keluarda dalam pembesaran.

[13] Salomo menasihatkan agar “tidak bergaul dengan orang jahat” karena akan dipengaruhi oleh karakter mereka (Lihat: Amsal 1:10-16; 23:20; dan Rasul Paulus mengatakan, “Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik” (I Korintus 15:33).

[14] Orang Kristen sejati dapat saja dibenci oleh orang lain, namun kesejatiannya hanya sejati benar bila ia tidak membenci, dan tidak memusuhi siapapun (Kolose 3:12-13; I Yohanes 2:11, 29; 3:7-10, 13-15).

[15] Kenyatan ini disebut Formasi Rohani dalam kepemimpinan.

[16] Sebagai upaya pembelajaran lanjutan untuk mengembangkan diri, dapat dilihat dalam buku Pemimpin yang Handal dan Manajeman Pengembangan Sumber Daya manusia Pemimpin Kristen, karya Yakob Tomatala.

[17] Dengan karakter agung seperi ini, pemimpin dapat berada di atas dengan tidak mengatas-ataskan diri dan merendahkan orang lain, ia bisa besar, namun tidak terjebak membesar-besarkan diri dengan mengecilkan orang lain, ia bisa benar tetapi tidak mebenar-benarkan diri dan melecehkan orang lain, karena ia menyadari bahwa sebagai pemimpin, ia adalah hamba-pelayan, yang memiliki komitmen untuk mengabdi dan memberikan diri untuk melayani bukan untuk dilayani (Markus 10:35-45; Matius 20:20-28; Lukas 17:10)., dimana ia harus hidup bagi TUHAN-Nya dan memberkati orang lain (Amsal 19:11; 21;1-3; 24:5; 29:4; 28:16, 20, 25-28).

[18] Lihat buku Kepemimpinan yang Dinamis karya Yakob Tomatala tentang pokok ini.

Leave a Reply