YT Leadership Foundation





Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan, ia menguatkan lengannya. Ia tahu bahwa pendapatannya menguntungkan, pada malam hari pelitanya tidak padam

(Amsal 31:17-18).

PENGANTAR

Istilah entrepreneur dan entrepreneurship sangat populer belakangan ini. Dalam memahami entrepreneur dan entrepreneurship, kita perlu bertanya, “siapa dan apa sesungguhnya entrepreneur dan atau entrepreneurship itu, serta apa hubungannya dengan wirausaha atau kewirausahaan?” Secara umum, entrepreneur telah dipadankan dengan wirausaha, dan entrepreneurship telah dipadankan dengan kewirausahaan, yang cenderung berkaitan hanya dengan dunia bisnis[2] dan pelaku usaha bisnis. Setelah mengadakan pengkajian yang lebih terbuka terhadap entrepreneur dan entrepreneurship, penulis menghasilkan kesimpulan bahwa setiap orang yang sukses sampai ke puncak, sesungguhnya adalah dia yang memiliki jiwa entrepreneur.[3] Menguraikan pokok seputar Entrepreneur Sejati, maka ada tiga hal yang akan dibahas, yaitu antara lain: Satu, Memaknai Entrepreneur dan entrepreneurship; Dua, Ciri-ciri entrepreneur; dan Tiga, Membangun budaya entrepreneurship.

MEMAKNAI ENTREPRENEUR DAN ENTREPRENEURSHIP

Telah dikatakan bahwa selama ini, istilah entrepreneur dan entrepreneurship telah dipadankan dengan wirausaha dan kewirausahaan. Di sini dapat dikatakan bahwa “wirausaha” artinya “berani berusaha, atau berani menjalankan sesuatu usaha secara mandiri sehingga mendatangkan keberhasilan atau keuntungan. Dalam pengertian di atas, dapatlah dikatakan bahwa “Kewirausahaan adalah upaya mengembangkan pengaruh dengan mengelola suatu bisnis atau usaha sebegitu rupa secara mandiri, sehingga mendatangkan keuntungan.” Selanjutnya, dapat dikatakan bahwa kewirausahaan dalam kaitan ini berarti “proses yang ditandai oleh keberanian memulai, mengelola dan menjalankan suatu usaha khusus secara mandiri yang berorientasi kepada keberhasilan atau keuntungan.” Menurut Pietra Sarosa wirausahawan/ wati adalah “Seseorang yang mempunyai visi, semangat dan tindakan-tindakan nyata dalam usaha menciptakan dan mengembangkan sendiri sumber-sumber income-nya tanpa bergantung semata-mata kepada orang lain.

Selanjutnya, istlah entrepreneur dan entrepreneurship yang berasal dari istilah entreprendre, berarti “menjalankan, yang menjelaskan tentang adanya seseorang yang mengorganisir dan menjalankan suatu usaha secara berani dengan tujuan memperoleh keuntungan.” Di sini dapat dikatakan bahwa entrepreneur adalah seseorang yang mandiri dan berani  melakukan sesuatu yang membawa keuntungan dan memberikan keuntungan.  Entrepreneurship dalam kaitan ini berarti “proses yang ditandai oleh keberanian memulai, mengelola dan menjalankan suatu usaha khusus secara mandiri yang berorientasi kepada keberhasilan atau keuntungan, sehingga dapat menguntungkan secara lebih luas.” Menyimak pemahaman entrepreneur dan entrepreneur seperti di atas ini, dapat dikatakan bahwa konsep entrepreneur ini bersifat terbuka, yang dapat meliputi segala bidang kehidupan, yang menjelaskan bahwa seorang entrepreneur itu dapat “siapa aja” dalam bidang “apa saja,” karena yang terpenting ialah bahwa ia memiliki jiwa entreprenur dengan ciri, sikap dan tindakan yang jelas, yang menunjukkan adanya kemandirian tinggi padanya.[4]

 

CIRI-CIRI ENTREPRENEUR

Memahami konsep entrepreneur secara terbuka, dapat dikatakan bahwa seorang entrepreneur memiliki ciri-ciri khusus yang unik. [5] Ciri-ciri entrepreneur yang unik itu adalah antara lain:

 

  1. Entrepreneur adalah seorang yang kompeten. Kompetensi ini menegaskan bahwa entrepreneur memiliki kepenuhan-kelengkapan diri yang bersifat individu, profesional dan formal. Kompetensi enterpreneur ini dibangun diatas faktor berikut:

 

  1. Menemukan visi sebagai dasar membangun kompetensi. Seorang entrepreneur harus memulai dengan menemukan, membangun dan meneguhkan visi (keingin suci, keinginan sejati)[6] sebagai dasar untuk mengembangkan diri serta karirnya.
  2. Meneguhkan budaya kualitas. Kompetensi diri entrepreneur menjelaskan bahwa ia berhasil membangun diri dalam life way berkualitas, yang menegaskan bagaimana ia mengembangkan paradigma, perspektif, sifat, sikap; dan cara unggul.
  3. Membangun kompetensi, mewujudkan INTEGRITAS karakter, sehingga ia dapat dipercayai; KAPASITAS pengetahuan yang komprehensif dan khas lebih sehingga ia dapat diharapkan; dan KAPABILITAS (kecakapan) sosial dan teknis andal, sehingga ia dapat diandalkan.

 

  1. Entrepreneur adalah seorang mandiri. Aspek kemandirian ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

 

  1. Entrepreneur memiliki Keunggulan Pikiran dan Berpikir yang membuatnya andal mengungguli orang kebanyakan (orang rata-rata) di lingkungannya. Keunggulan pikiran dan berpikir ini ditandai oleh keandalan menggunakan pikirannya, dimana ia dapat berpikir dan bersikap terbuka; berpikir dan bersikap kreatif dan inovatif; berpikir dan bersikap asertif; berpikir dan bersikap proaktif – antisipatif; berpikir dan bersikap besar, berpikir dan bersikap benar; berpikir dan bersikap sinergis simultan; serta berpikir dan bersikap kemungkinan.
  2. Entrepreneur memiliki Keunggulan Keberanian yang menjelaskan bahwa ada kebiasaan unggulan. Kebiasaan unggulan inilah yang menyebabkan seorang entrepreneur itu berani menentukan sikap; berani menemukan, mencipta, mengejar dan menangkap peluang; berani mengubah peluang menjadi produk; berani menanggung akibat dari keputusan; berani mengambil resiko dan petaruhan; berani terbuka melibatkan orang lain untuk bekerja sama dengan penuh kepercayaan serta  penghargaan guna mencipta peluang menjadi uang.
  3. Entrepreneur memiliki Keunggulan MEREKAYASA CARA  yang memberikan keandalan kepadanya. Keunggulan ini membuatnya andal untuk bertindak strategis dan bertindak taktis yang dibuktikan dengan bekerja cakap; bertindak dengan cara unik dan penuh perhitungan, efektif, efisien, sehat, produktif; bertindak dengan gairah penuh; dan bertindak terfokus dan konsisten.
  4. Enterpreneur adalah seorang yang bermental investor.[7] Sejatinya, seorang entrepreneur adalah dia yang memiliki kedewasaan dengan mentalitas investor. Mentalitas investor menjelaskan bahwa ia selain memiliki kestabilan income, ia bebas untuk mengembangkan usaha berciri the second, the third atau the fourth income dst., dengan membiarkan uang bekerja baginya. Dalam hubungan ini, sang entrepreneur hanya bekerja dengan orang yang andal, dapat diharapkan dan dapat dipercaya dengan penerapan manajemen yang tidak rumit dan dapat disupervisi secara menyenangkan.

 

  1. Enterpreneur adalah strategos taktisian andal. Sebagai strategos taktisian, enterepreneur adalah seorang eksekutor atau pelaksana yang pemberani. Gerakannya selalu memperhitungkan bagaimana ia memilih, meraih, mencipta peluang, bersikap tidak terbaca; berani menunjukkan keunggulan; melangkah terus berada di depan orang lain, dengan melangkah cepat; dan bertindak tepat.
  2. Entrepreneur adalah pribadi yang harus membawa keuntungan bagi banyak orang. Seorang enterpreneur pada akhirnya memiliki ciri kemanfaatan tinggi, yaitu ia akan selalu membawa keuntungan dan manfaat yang dapat dinikmati oleh lebih banyak orang ia dapat hidup untuk memberi, hidup untuk menolong dan membuktikan diri sebagai the life giving leader.

 

MEMBANGUN BUDAYA ENTREPRENEURSHIP

Mengapa membangun individu-individu berjiwa entrepreneur[8] itu sangat penting bagi sebuah negara atau suatu bangsa? Dr. Ir. Ciputra[9] senantiasa bertanya, mengapa Indonesia masih tertinggal secara ekonomi dari Singapura, Taiwan, Hongkong, Jepang, apalagi Amerika Serikat? Dan apa yang ditemukannya cukup mengejutkan, yaitu karena Indonesia terlalu sedikit mempunyai wirausaha entrepreneur.[10] Pertanyaan Bapak Ciputra ini haruslah disambut sebagai tantangan untuk dijawab sebagai anak bangsa. Dalam upaya menjawab pertanyaan ini, “Sosiolog Pembangunan, David McLelland  menemukan bahwa suatu negara akan makmur apabila mempunyai wirausaha atau entrepreneur sedikitnya 2% dari jumlah penduduk negara itu. TAHUN 2005, Singapura memiliki entrepreneur 7.2% dari total penduduknya, padahal tahun 2001 hanya ada 2.1%. PADA TAHUN 1983, Amerika yang berpenduduk 280 juta memiliki 6 juta entrepreneur, atau sekitar 2.14% dari total penduduknya.[11] Berdasarkan observasi Ciputra dan temuan McLelland ini, dapatlah ditegaskan beberapa kebenaran seputar urgensi dan kepentingan membangun budaya entrepreneurship.

 

  1. Kepentingan membangun Budaya Entrepreneurship. Menjadi seorang entrepreneur sejatinya adalah melibatkan cara hidup unggul yang menuntut adanya suatu budaya entrepreneurship.

 

  1. Kadar entrepreneur menjelaskan tentang kualitas kemandirian suatu masyarakat yang menggungkapkan tentang kualitas intelektualitas, kualitas sikap dan kualitas tindakan setiap individu. Kadar kemandirian ini menunjuk tentang sejauh mana suatu masyarakat itu dapat mengisi kehidupannya secara berkualitas, dan muncul sebagai ungul dalam persalingan antar kelompok, mau pun antar bangsa.
  2. Kadar entrepreneurship menjelaskan tentang kualitas kebudayaan yang menunjuk kepada the total lifeway dari suatu kelompok masyarakat atau suatu bangsa yang menjelaskan bagaimana mereka berpikir, bersikap, berkata dan bertindak dalam upaya melanjutkan serta mempertahankan eksistensinya. Di sini akan nampak keunggulan berpikir inovatif, kreatif mengembangkan serta menggunakan teknologi; berpikir asertif, proaktif, antisipatif, menggunakan teknologi bagi pengembangan ekonomi; berpikir dan bersikap sosiatif, energetik, sinegetik dan simultan sebagai landasan menggunakan teknologi untuk bertindak mewujudkan praksis ekonomi yang kompetitif serta unggul.
  3. Kadar entrepreneurship menjelaskan tentang kualitas nilai suatu kelompok atau bangsa yang menunjuk kepada sejauh mana proses inkulturasi dijalankan untuk meneguhkan kehidupan kelompok yang menjelaskan tentang daya juang dan daya tahannya; daya saing dan daya jualnya; yang membuktikan keunggulan kelompok dimaksud yang kompetitif.

 

  1. Pendekatan membangun Budaya Entrepreneurship. Dari perspektif kebudayaan, worldview yang membakukan nilai-nilai agung suatu kelompok, semuanya ini dibangun melalui proses inkulturasi atau enkulturasi, yaitu hakikat dan cara pendidikan dalam kebudayaan setiap masyarakat.[12] Dalam perpektif ini, dapat dikatakan bahwa budaya entrepreneur dapat dibangun melalui proses inkulturasi, yaitu pendidikan yang bersifat informil, non-formil dan formil, untuk mencipta, meneruskan dan membakukan nilai-nilai menjadi suatu worldview. Dari sudut pandang inkulturasi atau pendidikan dalam kebudayaan ini, pendekatan membangun budaya entrepreneur menyentuh aspek-aspek berkut:

 

  1. Fokus pendidikan – mewadahkan nilai-nilai ke dalam worldview yang berorientasi entrepreneurship untuk mengembangkan manusia mandiri.
  2. Sistem pendidikan – melibatkan pelaksana didik dan nara didik dengan semangat entrepreneurship yang menggunakan falsafah tranformasi – entrepreneuris yang bermuara kepada pembentukan pribadi peserta didik yang  berjiwa entrepreneur.
  3. Wadah pendidikan – membagi (sharing) nilai entrepreneurship melalui mekanisme pendidikan masyarakat atau keluarga (non-formil); pendidikan ketrampilan sosial dan teknis (informil) dan pendidikan umum atau sekolah (formil) yang harus dilakukan secara berkualitas serta konsisten.
  4. Proses pendidikan – menyentuh interaksi nilai-nilai yang merupakan upaya membentuk falsafah hidup dengan worlview entrepreneurship.
  5. Produk pendidikan – menghasilkan “output” berupa manusia mandiri yang berjiwa entrepreneur dengan kemandirian tinggi yang kompetitif, sehingga mereka dapat berkiprah dalam karir apa pun secara unggul, kompetitif dan sukses di market place.

 

RANGKUMAN

Telah diuraikan tiga hal penting dalam bahasan seputar entrepreneur dan entrepreneurship. Pemahaman tentang entrepreneur dan entrepreneurship menegaskan tentang adanya seseorang yang berjiwa entrepreneur dengan kemandirian tinggi, sehingga ia dapat berkiprah di market place dalam bidang kehidupan apa pun yang sesuai jatidirinya (inner will) yang merupakan dasar bagi visi dan karir yang ditekuninya.

Telah ditegaskan pula bahwa seorang entrepreneur memiliki ciri-ciri khas, yaitu ia haruslah kompeten dengan integritas karakter dengan etika moral teguh yang membuat ia dapat dipercaya; dan Kapasitas Pengetahuan yang komprehensif dan khas lebih, yang membuat ia dapat diharapkan dan Kapabilitas Kecakapan Sosial dan Teknis yang membuatnya dapat diandalkan. Secara lebih khusus, ujung dari kompetensi entrepreneur adalah “kemandirian tinggi” yang mewadahkan – keandalan penggunaan pikirannya (Pikiran Unggul); keandalah kebiasaan entrepreneur yang nampak pada keberanian membuat keputusan terhadap peluang (Keberanian Unggul); dan keandalan merekayasa cara (Cara Unggul), sehingga sang entrepreneur dapat membuktikan diri menjadi pelaku yang terus berkiprah kepada keberhasilan yang membawa keuntungan yang menguntungkan diri serta orang lain dalam hidup serta karirnya. Selamat membangun dan membuktikan diri sebagai entrepreneur sejati.

 

Salam doa,

Dr. Yakob Tomatala


[1] Pokok ini tidak diberikan judul “wirausahawan sejati,” untuk menegaskan bahwa konsep entrepreneurship bersifat terbuka, dan juga untuk menghindari konotasi bahwa entrepreneur hanyalah milik mereka yang berkiprah dalam dunia bisnis saja.

[2] Lihat pendapat Dr. Ir. Ciputra yang mengatakan, “Indonesia hanya memiliki sekitar 400 ribu wirausaha real entrepreneur, atau sekitar 0.18% dari penduduk. Memang pelaku bisnis tercatat ada 50 juta orang, tetapi yang lain itu bukan entrepreneur yang sesungguhnya, mereka hanya melakukan kegiatan mencari nafkah subsisten. Indonesia memerlukan 12 kali real entrepreneur lebih banyak dari yang ada hari ini,  atau sekitar 4.6 JUTA ORANG.”

[3] Lihat gagasan ini yan gdikemukakan oleh Levi Bracman dan Sam Jaffe dalam buku Sukses Bisnis Cara Yahudi.

[4] Konsep entrepreneur dan entrepreneurshi ini dapat dipelajari dalam buku, “Entrepreneur Rohani” (Spiritual Entrepreneur) karya Y. Tomatala, terbitan YT Leadership Foundation, terbitan tahun 2010.

[5] Menurut Ciputra, ada tiga ciri penting dalam diri seorang wirausaha (real entrepreneur), yaitu : (1) Penciptaan peluang opportunity creating; (2) Melakukan inovasi innovating; dan (3) Mengambil resiko yang terukur calculated risk taking. Selanjutkan dikatakan bahwa wirausahawan atau entrepreneur adalah mereka yang memiliki keandalan mengubah sampah menjadi emas.

[6] Pokok tentang visi sebagai “keinginan suci” ini dapat dipelajari dalam buku “Anda juga dapat menjadi Pemimpin Visioner,” karya Y. Tomatala

[7] Gagasan mental investor ini dapat dipelajari dari karya tulis Robert T. Kyosaki.

[8] Penyebutan “berjiwa entrepreneur” digunakan di sini untuk menegaskan pendapat bahwa entrepreneurship dan entrepreneur itu bersifat terbuka, mencakup usaha dalam segala bidang kehidupan.

[9] Dr. Ir. ciputra dapat dinobatkan sebagai Bapak Entrepreneur Indonesia.

[10] Data ini diperoleh dari seorang rekan lain, yang sumbernya tidak tercantum.

[11] Ibid.

[12] Pokok ini dapat dipelajari dalam buku Antropologi Kebudayaan, karya Y. Tomatala.

4 Responses to “ENTREPRENEUR SEJATI”

  • ahmar abyad:

    Tulisan ini sangat bagus dan juga menarik. karena itu saya mohon izin untuk menjadikanya sebagai bahan kajian dalam tugas saya yang akan saya posting pada ‘ahmarabyad.blogspot.com’. ada juga yang akan saya copy pada blog saya itu. sumber akan saya cantumkan.

    namun jika Bapak DR.Yakob Tomatala kurang berkenan dapat menghubungi saya di ‘ahmarabyad@gmail.com’
    Terimakasih..

  • Bara:

    Bagus sekali Pak tulisannya.. Tapi pada akhir tulisan saya masih merasa menggantung karena dalam tulisan tidak ada contoh konkret bagaimana membudayakan entrepreneurship itu sendiri.. apakah berwirausahakah atau bagaimana?

  • Salam Bro Bara:

    Terimakasih atas komentar yang baik. Dalam tulisan yang terdahulu, saya memberikan landasan untuk memahami konsep entrepreneur rohani, yang intinya membangun pribadi mandiri dengan perangkat indikator yang telah diuraikan secara singkat. Tulisan ini dapat disimak lebih jauh dalam buku saya: “Spiritual Entrepreneur.” Tentang pertanyaan bagaimana membudayakan entrepreneur rohani ini, dapat dilakukan melalui sharing, dialog, seminar, workshop atau pun pendidikan formal. Terimakasih

    Salam,
    Y. Tomatala

  • Arnol:

    Tulisan ini sangat bagus dan sangat memotivasi, ijin untuk saya pakai dalam memotivasi generasi muda kristen yang lagi dalam pembekalan supaya kiranya muncul generasi Kristen yang cemerlang sesudah kita, amin!

Leave a Reply