YT Leadership Foundation





Archive for March, 2011

Kamu sendiri mengatakan bahwa Aku lah Anak Allah

(Lukas 14:70; 66-71)

Aku bukan siapa-siapa. Namaku bahkan tidak penting bagi siapa-siapa. Namaku selalu disebutkan sejalan dengan tugasku. Aku, sekali pun namaku tidak disebut, orang sudah tahu., karena aku adalah aku yang selalu mengerjakan kepentingan majikanku. Itu saja, karena ada banyak hal yang tidak penting mengenai aku. Yang paling penting bagiku ialah begini, “aku ada di lingkungan orang besar” karena itu, pekerjaanku, peranku, dan namaku menjadi penting, tetapi, aku tetap aku yang selalu identik dengan pekerjaanku. Read the rest of this entry »

Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya melebihi orang yang merebut kota” (Amsal 16:32).

PENGANTAR

Sabar? Sabar sepertinya memberi indikator kalah, menurut pandangan sementara orang. Kata sabar ini bisa menjengkelkan bagi yang tidak menyukai dan melawannya. Karena, sabar mengekang jiwa dan membakar emosi, yang bila tidak diledakkan akan menggetirkan diri. Betapa tidak, pada sisi lain, orang yang sabar sering dianggap kalah, rendah, tidak memiliki kekuatan dan seterusnya. Karena itu, sabar itu adalah hal yang memalukan. Inilah dia. Sabar sudah diberikan arti yang “keliru dan sumbang.” Mengapa? Sabar telah diberi bobot negatif, pesimis dan permisif. Read the rest of this entry »

“…. Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang

(Matius 20:28; Markus 10:45).

PENGANTAR

Perlulah disadari bahwa sesungguhnya kepemimpinan dan manajemen serta administrasi memiliki hubungan yang integral. Sebagai Ilmu, Kepemimpinan adalah ilmu induk yang di dalamnya terkait Ilmu Manajemen dan Ilmu Administrasi. Sebagai seni, Kepemimpinan mewadahi Manajemen dan Administrasi, dimana Manajemen adalah “fungsi umum kepemimpinan” yang menjelaskan bahwa tatkala kepemimpinan dijalankan, maka pemimpin memasuki kawasan manajemeni dan memanejemeni. Pada saat yang sama, tatkala Manejer memanejemeni, ia memasuki kawasan administrasi, yang merupakan “fungsi khusus kepemimpinan” yang menyentuh pekerjaan operasional di lapangan. Dalam kaitan ini dapat dikatakan bahwa tatkala pemimpin melaksanakan upaya memimpin (leading attempt) maka ia memanejemeni atau menerapkan manajemen dalam kinerja. Melihat kaitan di atas ini, kini timbul pertanyaan, apa sesunguhnya cara yang terbaik, dan bagaimana pemimpin memimpin, yang olehnya ia dapat mewujudkan upaya memimpin yang berkualitas serta dapat memimpin dengan benar, baik, sehat dan produktif. Read the rest of this entry »

Telah nyata kepadaku, bahwa TUHAN memberkati aku karena engkau” (Kejadian 30:27).

PENGANTAR

Kepemimpinan dapat dipahami dari berbagai sudut pandang. Salah satu sudut pandang tentang kepemimpinan adalah bahwa kepemimpinan itu melibatkan proses, pengaruh (influence), dan hubungan-hubungan. Karena itu, dapatlah dikatakan bahwa memimpin berarti mengisi proses upaya memimpin (leading attempt/ actuating) kepemimpinan dengan mempengaruhi orang yang dipimpin dalam hubungan-hubungan keorganisasian. Dari sini dapatlah dikatakan bahwa pengaruh secara spesifik beranjak dari kepribadian pemimpin,yang kalau karakternya positif, akan menularkan pengaruh positif, dan sebaliknya bila karakternya didominasi oleh unsur negatif, maka pengaruhnya tentu akan negatif. Philip Pulaski berkata, “Orang yang berpengaruh andalah dia yang membawa dampak dalam kehidupan orang lain.” Kalau begitu, kita tentu bertanya, bagaimana kita dapat membawa pangaruh positif yang memberkati orang lain dalam kepemimpinan kita? Dalam upaya menjawab pertanyaan ini, marilah kita memaknakan bagaimana kita dapat memimpin dengan membawa pengaruh positif yang memberkati.

1.       MEMBAWA PENGARUH POSITIF DARI HATI YANG BIJAK. Seorang pemimpin yang arif memahami bahwa  menjadi pemimpin baginya adalah suatu kehormatan. Kesadaran ini dibangun di atas kenyataan bahwa adalah kehendak TUHAN bagi seseorang untuk menjadi pemimpin dalam setiap organisasi, apa pun alasan dan caranya (Yohanes 3:27). Dari sudut pandang yang lain, menjadi seorang pemimpin dibangun di atas pembuktian diri sebagai seseorang individu yang kompeten. Ujung dari pembuktian diri ini ialah adanya pengakuan dari orang-orang yang memberikannya penghargaan dan kesempatan baginya menjadi pemimpin melalui berbagai macam cara (memilih, mewariskan, mengangkat, mencipta, dan atau merampas, dsb). Read the rest of this entry »