YT Leadership Foundation





Lihatlah Aku menjadikan segala sesuatu baru” (Wahyu 21:5b)

PENGANTAR

Natal kita rayakan ditengah kenyataan meredupnya gaung REFORMASI yang telah bersusia lebih dari satu decade. Tatkala mengadakan evaluasi mengenai gerakan reformasi yang bergulir sejak tahun 1998, setidak-tidaknya ada tiga pendapat yang dapat dikemukakan, yaitu antara lain: 1. Penilaian optimistik yang mengetengahkan bahwa reformasi telah berhasil dengan segudang bukti, antara lain tegaknya demokrasi, adanya keterbukaan, tingkat kehidupan ekonomi Negara semakin menguat, dan sebagainya. 2. Penilaian pesimistik yang mengatakan bahwa reformasi gagal total, dengan mengetengahkan sejumlah alasan antara lain, hukum belum dijunjung tinggi, korupsi masih mearajalela, kesejahteraan rakyat masih terabaikan, dsb; dan 3. Penilaian oportunistik yang mengetengahkan sikap: setuju OK, tidak setuju OK, yang penting kepentingan terpenuhi, apapun kondisinya. Penilaian ini sangat bersifat egoisme, yang dijetuskan oleh mereka yang selalu mengail di air keruh, mengail di tambak orang, dengan slogan, “yang penting saya, masa bodoh dengan yang lain, yang penting bukan saya yang menjadi korban.”

Dalam merayakan Natal tahun ini, kita diajak untuk merenung sejenak tentang bagaimana menempatkan posisi diri terhadap segala sesuatu yang terjadi di dalam kita, di antara kita, dan di luar kita secara inklusif.

Siapa saya, apakah saya orang optimistik atau pesimistik atau oportunistik? Kalau saya optimistik, bagamana dengan kenyataan tentang kekurangan-ketimpangan yang terjadi di republik ini. Kalau saya pesismistik, bagaimana dengan kenyataan perubahan maju yang terjadi secara sektoral? Apakah saya cukup jujur melihat kenyataan dengan kacamata positif? Kalau daya oportunistik, apakah saya adalah manusia Indonesia sejati yang memiliki rasa tanggung jawab tinggi, ataukah saya melihat diri sebagai figuran belaka, bukan sebagai pelakon utama, anak negeri pembangun bangsa. Apakah saya menyadari bahwa dengan sikap ini, saya sesungguhnya pelarian, cangkokan,  bukan anak negeri sejati?

Tatkala merayakan Natal, kita sesungguhnya diajak untuk membatinkan kenyataan kebenaran Firman yang mengetengahkan Sabda TUHAN YESUS, “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru.” Apa implikasinya bagi kita secara umum dan setiap diri secara individu? Sesungguhnya kebenaran Firman Allah ini menegaskan mengenai jaminan agar kita dapat menjadi pembawa pembaruan, pelakon utama pembangunan. Kebenaran ini juga memastikan bahwa reformasi – transformasi sejati dari Allah sedang bergulir yang memberikan optimisme positif bahwa “pembaruan sejati yang kita dambakan pasti terwujud di republik ini.”  Dalam upaya memahami kebenaran Firman Allah ini, maka ada beberapa kisi prinsipil yang akan kita renungkan, antara lain:

I.        NATAL MEMASTIKAN BAHWA PEMBARUAN SEJATI ADALAH ANUGERAH ALLAH YANG PASTI TERJADI

  • Apa sesungguhnya dapat dipahami dari kebenaran seputar Natal yang membawa pembaruan atau reformasi sejati yang merupakan anugerah Allah ini?

A.      Natal memastikan bahwa Allah menggenapi janji-Nya membebaskan umat manusia dari dosa (Matius 1:21), melalui Yesus Kristus, Juruselamat, Pembaharu Sejati (Kisah Para Rasul 4:12).

B.      Natal memastikan bahwa pembaruan “manusia berdosa” hanya terjadi karena Allah terlibat didalamnya, dengan memberikan FIRMAN AGUNGNYA menjadi “manusia sejati” guna bersolider, berpihak kepada manusia membawa pembaruan sejati melalui pengorbanan Yesus Kristus (Yohanes 1:1-3, 14, 29; Matius 1:22). Dunia terlampau besar untuk dibaharui oleh seorang manusia, apakah dia presiden negara adidaya sekalipun. Dunia terlampau kompleks dan rumit untuk diatur oleh sekelompok orang yang namanya kongres, DPR/ MPR sekalipun. Dunia terlampau kacau untuk ditangani oleh kekuatan sebesar apapun. Namun, semuanya pasti berakhir di dalam sang Putra Natal, Pendamai sejati (Yohanes 14:6; Yesaya 32:17).

C.      Natal meneguhkan jaminan dari Allah bahwa penyertaan-Nya akan meneguhkan pembaruan sejati bersinambung yang menyentuh manusia dan segala bidang kehidupan (Matius 1:23).

IMPLIKASI:

1.      Natal memastikan bahwa Yesus Kristus Penyelamat yang bersabda, Lihatlah Aku menjadikan segala sesuatu baru,” pasti melaksanakannya.

2.      Natal memastikan bahwa “pembaruan Allah atas manusia berdosa” memberikan dinamika untuk mejadi manusia pembangun yang bebas KKN, taat dan menjunjung tinggi hukum dan keadilan, yang dapat pembawa sejahtera yang seadil-adilnya.

3.      Natal memastikan bahwa Allah sendirilah yang menjamin bahwa pembaruan atau reformasi sejati pasti terjadi, kini, di sini, dan masa yang akan datang, sehingga dari pulau dan benua ada pujian bagi-Nya atas shalom yang dianugerahkan-Nya kepada segala bangsa.

II.      NATAL MENEGASKAN BAHWA PEMBARUAN SEJATI MERUPAKAN SUATU KENISCAYAAN YANG PASTI DIALAMI

  • Apa sebenarnya keniscayaan pembaruan sejati dari Allah bagi manusia dalam kehidupannya kini, di sini dalam menyiarahi sejarah serta melakoni tanggung jawabnya?

A.      Sesungguhnya Natal mempertegas bahwa pembaruan (reformasi-transformasi) sejati dari Allah, pasti di alami oleh setiap orang yang diperkenankan-Nya (Lukas 2:14).

B.      Natal mempertengas kepastian bahwa setiap orang yang diperkenankan Allah akan mengalami pembaruan sejati – yang tampak dalam “pembaruan diri, pembaruan budi menjadi manusia baru, manusia yang dimanusiakan Allah” (Roma 12:2a).

C.      Natal mempertegas tanggung jawab pengalaman pembaruan, yang meneguhkan menjadi agen pembaruan, yang membawa pembaruan sehingga dunia conform dengan “kehendak Allah, yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2b).

IMPLIKASI:

1.      Natal mempertegas, bahwa semua orang yang diperkenankan Allah pasti mengalami jamahan-Nya yang membawa pembaruan sejati (Yohanes 3:25).

2.      Natal mempertegas bahwa setiap orang yang telah diperbaharui Allah pasti mengalami pembaruan, sehingga ada pengalaman pembaruan yang membumi, kini dan di sini.

3.      Natal mempertegas bahwa setiap orang yang telah dibaharui pasti diteguhkan Allah menjadi agen pembaruan, yang membawa reformasi – transformasi yang telah dialaminya kepada dunia di makna ia diutus oleh TUHAN – Nya.

KESIMPULAN

Apa yang dinyatakan dan dijamin oleh Allah lewat Natal, diditeguhkan oleh Sabda-Nya, “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru.” Dalam kaitan ini, kebenaran Natal menyatakan dan menjamin bahwa:

  1. Dalam TUHAN Yesus Kritus yang bersabda, “Lihatlah Aku menjadikan segala sesuatu baru” pasti mengerjakan pembaruan (reformasi-transformasi) itu bagi kita yang diperkenankan-Nya, yang menyentuh manusia dan segala bidang hidup, sehingga reformasi – transformasi sejati pasti terjadi.
  2. Dalam TUHAN Yesus Kristus, pengalaman pembaruan (reformasi-transformasi) sejati akan kita alami, yang memberikan dinamika menjadi agen pembaruan, sehingga oleh pertolongan-Nya kita dapat mengamalkan reformasi – transformasi yang membawa shalom kepada semua orang dalam segala bidang hidup di tengah  masyarakat sipil di mana Allah mengutus dan menempatkan kita umat-Nya.

TUHAN Yesus memberkati. Selamat Natal dan Selamat menyongsong Tahun Baru 2011.

Jakarta, 16 Desember 2010

Pelayan Firman,

Pdt. Dr. Yakob Tomatala

Leave a Reply