YT Leadership Foundation





Archive for November, 2010

Pengantar

Oleh kemurahan TUHAN Allah, YT Leadership Foundation, Jakarta berkesempatan menyelenggarakan Market Place Leadership Workshop, yang mengetengahkan pokok: “Epiritual EntrepreneurshipAnda juga bisa Menjadi Entrepreneur Kompeten, pada tanggal 27 November 2010, jam 10:00 – 14:00., bertempat di Gedung GKII Bukit Zaitun, Jl. Jamrud No. 24, Jakarta Pusat.

  • ENTREPRENEUR DAN ENTREPRENEURSHIP ROHANI
  • Anda tentu bertanya, apakah ada Entrepreneur Rohani dan Entrepreneurship Rohani? Kalau ada, apa kesamaannya serta apa perbedaannya dengan entrepreneur umum? Simaklah komentar dari Levi Brackman dan Sam Jaffe yang mengatakan, “Kewirausahaan spiritual memandang bisnis sebagai sarana untuk meraih tujuan ketimbang menjadi tujuan itu sendiri. …. Kewirausahaan spiritual sebaliknya, memandang keseluruhan bisnis penghasil uangnya melalui kacamata yang lebih tinggi untuk melihat lebih pada apa yang bisa dilakukan dengan uang. ….. Mereka melihat kekayaan sebagai berkah dari TUHAN yang menjadikan mereka sebagai penjaga kekayaan tersebut. Mereka merasa bertanggung jawab untuk menggunakan uang mereka untuk kepentingan yang lebih tinggi …. ” Melihat ini tentu kita sepakat bahwa ada entrepreneur rohani, tetapi dengan ini, muncul pertanyaan yang lain, “Apakah istilah entrepreneur hanyalah untuk pebisnis Kristen saja dan apakah seorang pelayan dapat disebut entrepreneur rohani?”
  • Temukanlah jawaban untuk pertanyaan ini melalui Market Place Leadership Workshop, yang mengetengahkan pokok: “Spiritual Entrepreneurship: Anda juga bisa menjadi Entrepreneur Kompeten, pada tanggal 27 November 2010, jam 10:00 – 14:00., bertempat di Gedung Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII)  Bukit Zaitun, Jl. Jamrud No. 24, Jakarta Pusat.
  • Pembicara: Pdt. Dr. Yakob Tomatala,  pakar kepemimpinan lulusan Fuller Theological Seminary, California USA., Pendiri Institut Filsafat Theologi dan Kepemimpinan Jaffray Jakarta.

Jakarta, 15 November 2010

Administrator,

Yahya Mailelak, S.Th

….. mulai dari sekarang, apa pun juga yang mereka rencanakan tidak ada yang tidak dapat terlaksana” (Kejadian 11:6c).

PENGANTAR

Telah ditegaskan sebelumnya bahwa tatkala pemimpin memimpin, maka ia melaksanakan kepemimpinan dengan memasuki kawasan manajemen. Dan lagi, telah ditegaskan bahwa pemimpin yang memimpin perlu mengawali dengan memanejemeni diri-nya. Pemimpin yang memanajemeni diri-nya berarti ia mengelola serta mencitrakan perilaku (behavior) dan pola (style) kepemimpinannya sebagai landasan untuk menjalankan kepemimpinannya (influencing).  Selanjutnya, pemimpin dalam menjalankan upaya memimpin (leading attempt) atau bekerja dengan memimpin seperti ini, harus mewujudkannya melalui pengelolaan sumber-sumber kepemimpinan. Dalam kaitan ini, pemimpin yang melaksanakan tugas menajerial berdasarkan manajemen prima yang telah diterangkan sebelumnya, mengharuskannya untuk menyadari bahwa di dalamnya ada lima (5) matra manajerial, tiga (3) posisi peran manajemen dan delapan (8) aspek sumber-sumber yang perlu dimanajemeni, dengan membangunnya bertulang punggungkan satu (1) orientasi, serta empat (4) langkah siklus implementasi manajemen dalam kepemimpinan yang harus diterapkannya secara strategis dan taktis. Sebagai upaya untuk melajutkan diskusi seputar pemimpin yang memimpin dengan memanejemeni ini, maka pokok percakapan yang akan dibentangkan adalah “mengelola sumber-sumber” dalam kepemimpinan. Selamat mengembara bersama! Read the rest of this entry »

Buanglah mulut serong dari padamu dan jauhkanlah bibir yang dolak-dalik dari padamu.”  (Amsal 4:24).

PENGANTAR

Bercabang lidah, apa pula ini? Makluk yang bercabang lidah adalah ular dan satwa reptil sejenis. Bercabang lidah adalah bagian utuh dari harkat makluk yang satu ini. Bercabang lidah pada sisi lain, adalah juga terma sinistik bagi orang yang suka bercabang kata. Bercabang kata bersumber dari “hati yang tidak selaras dengan kata-kata yang diucapkan.” Hal ini seperti yang diungkapkan dalam Amsal 10:11b, “mulut orang fasik menyembunyikan kelaliman” yang tersembunyi di lubuk hatinya. Di sini ia bicara A, di sana bicara B. Bicara A dan B  ini bukanlah A alias A yang lurus, atau B alias B yang lurus, tetapi A yang dibengkokkan, B yang dipelintirkan, yang dimaknai sesuka hati yang bercabang. Tindakan ini sesungguhnya dilakukan untuk maksud bercabang yang pasti berdampak mencabang-cabangi, mengharu birukan dan menghancurkan hubungan-hubungan dalam kepemimpinan. Dalam kaitan ini, mengingat bahwa “kata-kata pemimpin itu bertuah,” maka pemimpin yang bijak harus menjauhkan diri dari sikap bercabang lidah dengan menyadari bahwa “Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran” (Amsal 21:23), karena “Jika orang benar bertambah, bersukacitalah rakyat, tetapi jika orang fasik memerintah, berkeluhkesahlah rakyat” (Amsal 29:2).  Karena itu, marilah kita simak bersama, bagaimana menjadi pemimpin yang mampu menolak sikap bercabang lidah ini! Read the rest of this entry »