YT Leadership Foundation





ARTIKEL:

URGENSI ETIKA PELAYANAN BAGI HAMBA TUHAN MASA KINI[1]

Pengantar

Pokok percakapan seputar “Urgensi Etika Pelayanan bagi Hamba Tuhan Masa Kini,” adalah sangat tepat waktu. Alasan utamanya ialah bahwa etika pelayanan hamba Tuhan adalah begitu urgen, karena faktor-faktor mundialistis.[2] Faktor pertama menunjuk pada adanya pengaruh dunia global dengan kekuatan kompleks yang menekan gereja sebagai suatu komunitas. Pengaruh dunia global ini dimotori teknologi informasi yang semakin canggih yang ternyata merasuk seluruh sendi kehidupan masyarakat. Kenyataan ini menuntut adanya suatu forma etika yang dapat mejamin keteguhan hidup. Faktor kedua, merujuk kepada pengaruh eksternal yang domestik, yang turut menyodorkan tantangan etika dan moral bagi para hamba Tuhan. Di sini ada ekspektasi kuat dari masyarakat umum dan orang Kristen tentang standar kehidupan hamba Tuhan yang harus dipenuhi. Kepentingan etika pelayanan di sini berhubungan dengan faktor khas, yaitu yang berkaitan erat dengan makna dan penerapan etika itu secara khusus. Faktor khas ini menjelaskan bagaimana hamba Tuhan seharusnya hidup. Kenyataan inilah yang akan menopang setiap hamba Tuhan yang olehnya mereka dapat memenuhi tuntutan di atas secara penuh tanggung jawab.

Sebagai upaya awal, pertanyaan penting yang harus dikembangkan ialah apa sesungguhnya etika itu, dan apa hubungannya dengan etika pelayanan, serta etos, kode etik dan etiket pelayanan itu. Pertanyaan tentang etika, etika pelayanan, etos, kode etik dan etiket pelayanan menjadi begitu penting, karena etika berhubungan dengan inner being, yang merupakan dinamika batin. Dinamika batin ini mengandung nilai yang mewarnai karakter dan ekpresi lahiriahnya dari setiap orang. Etika juga dapat disebut sebagai dasar dan tolok ukur dari ketangguhan karakter. Dengan melihat ekspresi lahiriah berupa sikap, kata dan tindakkan seseorang, orang lain dapat menerka karakter macam apa yang ada di dalam dirinya. Sehubungan dengan ini, perlu ditegaskan bahwa, secara mendasar etika berhubungan erat dengan tiga hal penting, yaitu, Pertama: norma-norma dan Kedua: sikap batin yang dibangun di atas norma-norma dimaksud, serta Ketiga: tindakan moral yang termotivasi oleh kekuatan nilai etika itu. Nilai-nilai etika ini memotori moral (ekspresi etika) dan moralitas (sifat dari moral), sikap dan tindakan setiap individu. Etika yang memotori moralitas ini akan selalu dinampakkan dalam sifat, kebiasaan, pikiran, perasaan, kehendak, kata-kata, sikap dan perilaku, serta membayang-bayangi ekspresi kepribadian. Pada tataran ini, kadar etika dan ekspresi moral-lah yang akan menggambarkan nilai integritas seseorang. Nilai integritas ini adalah dasar bagi seseorang untuk berhasil dalam kepemimpinan.

Hubungan etika dan moral serta kaitannya dengan karakter seperti digambarkan di atas adalah penting bagi setiap orang secara umum, dan secara khusus bagi para pelayan TUHAN. Karena itu, tatkala oleh ilham Allah, Rasul Paulus mengatakan: “Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau” (I Timotius 4:16), ia sedang mengatakan keterkaitan di antara inner being (nilai diri) hamba Tuhan yang terkontrol dan ekspresi lahiriahnya (ajaran-mu), yang sangat berhubungan dengan orang yang dilayani. Kebenaran ini menjelaskan tentang urgensi etika pelayanan bagi para hamba Tuhan yang berperan untuk menuntun mereka dalam pelayanan. Dalam upaya mengembangkan gagasan urgensi etika pelayanan ini, maka ada tiga pokok yang akan menjadi diskursus, yaitu: Pertama, membangun etika pelayanan yang Alkitabiah; Kedua, Etika pelayanan, etos, kode etik  dan etiket hamba TUHAN; dan Ketiga menerapkan etika dan moral pelayanan secara bertanggungjawab.

  1. I. MEMBANGUN SUATU ETIKA PELAYANAN ALKITABIAH

Dalam upaya memahami pokok seputar etika pelayanan, maka di sini akan diuraikan mengenai makna dari etika, etika pelayanan, etos, kode etik dan etiket., yang berperan untuk memberikan pemahaman dasar.

A.Memaknai Etika dan Etika Pelayanan

    Apa sesungguhnya etika itu, apa perbedaannya dengan istilah moral dan, apa hubungannya dengan etos, kode etik, etiket serta etika pelayanan itu.

    1. Terminologi Etika.

    Penggunaan istilah “etika atau ethics (Inggris) yang dikonstruksikan dalam bentuk singular berasal dari kata ethique yang pengetiannya ialah “studi moral; atau suatu sistem standar moral dari agama, dsb.” Atau, studi tentang standard dari tindakan yang patut dan penetapan sikap moral; atau pembahasan tentang studi moral.[3] Kata etika, dalam istilah Latin adalah ethica, dan istilah Yunani ethike. Ada dua bentuk istilah etika yang diangkat dari kata Yunani ethike, yaitu ethos atau ta ethika dan ‘ethos atau ta ‘ethika.  Istilah ethos artinya., biasa, kebiasaan, adat (habit, custom, lihat: Lukas 22:39; Yohanes 19:40; Kisah Para Rasul 16:21; 25:16; Ibrani 10:25). Arti lain dari istilah ethos ini yang dirujuk secara sempit ialah “adat yang tertentu, atau peraturan atau norma” (Banding: Lukas 1:9; 2:42; Kisah para Rasul 6:14; 15:1; 21:1; 26:3; 28:17). Sedangkan, istilah ‘ethos, memiliki dua arti dasar, yaitu: tempat tinggal yang biasa (home, abode); dan kebiasaan, atau adat (Banding: I Korintus 15:33). Tekanan khusus dari kata ‘ethos ini “lebih berarti kesusilaan, perasaan batin, atau kecenderungan hati dengan mana seseorang melakukan suatu perbuatan” (Johannes Verkuyl, 1985:15).

    2. Etika dan moral.

      Dalam bahasa Latin, istilah ‘ethos dan ‘ethikos di atas disebut dengan kata “mos” dan “moralitas.” Faktor inilah yang menyebabkan istilah etika sering disamakan dengan moral. Menurut Johannes Verkuyl, “dalam penggunaannya secara ilmu pengetahuan, kata mos, mores, atau moral hanya berarti kelakuan lahir seseorang, sedangkan “etika” tidak hanya menyinggung perbuatan lahir saja, tetapi senantiasa menyinggung juga kaidah dan motif-motif perbuatan seseorang yang lebih dalam” (Ibid). Dalam bahasa Indonesia, padanan kata etika ialah kesusilaan, dari kata sila yang berarti “norma (kaidah), peraturan hidup, perintah dan juga berarti sikap, keadaan, siasat batin, perikelakuan, sopan santun, dsb” (Vekuyl, Ibid., hal. 16).[4] Dapat pula dikatakan bahwa “etika bertalian dengan norma dan sikap batin terhadap norma itu” (Ibid). Pengertian ini menjelaskan bahwa etika itu bersifat normatif, yang olehnya kita dituntut untuk memberikan jawaban secara bertanggungjawab. Dari perspektif Kristen, “etika dapat dijelaskan sebagai studi kesusilaan yang dibangun di atas Alkitab, yang merupakan landasan normatif bagi  iman (sikap batin terhadap Allah), dan tindakan Kristen (sikap terhadap diri, sesama, dan semua hal lain) baik secara verbal mau pun non-vebal.

      3. Etika, Etos dan Kode Etik dan Etiket Pelayanan.

        Etos dapat dikatakan sebagai moral kerja. Etos merupakan ekspresi etika dalam lingkup tugas. Kebenaran ini menegaskan bahwa setiap pelayan Tuhan haruslah memegang etika pelayanan yang Alkitabiah dan mengekspresikannya dalam segala bidang kehidupan, yang secara khusus berkenan dengan tugas pelayanan yang diemban. Kode etik pelayanan pada sisi lain merupakan kesepakatan etis yang dibuat bersama yang berfungsi untuk menuntun hubungan pelayan dan dirinya, sesama pelayan, pelayan dan pelayanan, serta orang yang dilayani dan aspek terkait lainnya dalam seluruh kehidupan serta pelayanan. Sedangkan etiket pelayanan adalah ekpresi etika secara estetis yang diwujudkan dalam pergaulan, dalam bentuk hubungan resmi (protokoler), tatakrama atau sopan santun (hubungan umum) di dalam masyarakat. Etiket pelayanan lebih bersifat sosial kultural, dan merupakan penerapan etika melalui kesopan-santunan.

        4. Etika dan ciri-cirinya

          Melihat dari sisi substansi dan praktek etika, maka etika memiliki beberapa ciri penting. Ciri-ciri etika itu ialah antara lain:

          1. Etika mengandung norma yang menjadi dasar pertimbangan “yang benar” dan “yang salah,” “apa yang baik” dan “apa yang jahat.”  Dalam etika Kristen, Alkitab yang adalah Firman Allah merupakan landasan normatif bagi pertimbangan dan keputusan etis. Etika dalam kaitan ini “menghubungkan kita dengan sesama kita dan hal-hal lain dalam kehidupan (agenda)[5] nyata.”
          2. Etika menuntut tanggung jawab untuk membuat pertimbangan dan keputusan. Di sini, etika Kristen menuntut adanya kesadaran akan tanggung jawab dalam beretika. Pada sisi lain, etika juga menuntut adanya tanggung jawab  pertimbangan dan keputusan yang dilakukan berdasarkan Alkitab. Di sini ada penegasan bagaimana orang Kristen bertanggungjawab memilih yang benar, adil, baik, jujur, atau salah, curang, buruk atau jahat.
          3. Etika berhubungan dengan sikap batin serta tindakan dalam kehidupan nyata. Hubungan ini meliputi segala aspek dan semua segi hidup. Etika Kristen yang dibangun di atas Alkitab mengandung kebenaran yang normatif dan mutlak berlaku bagi segala segi kehidupan. Kebenaran normatif ini adalah landasan bagi sikap batin Kristen yang berkaitan dengan pertimbangan dan keputusan etis menjawab situasi serta kondisi kehidupan nyata.

          5.   Etika Pelayanan

          Melihat uraian tentang arti etika seperti di atas, dapat dikatakan bahwa “etika pelayanan adalah norma Alkitab tentang pelayanan Kristen yang menjadi landasan bagi sikap batin, pertimbangan dan keputusan etis dari pelayan Kristen.” Hakikat dan praktek etis yang Alkitabiah ini seharusnya ada pada, serta dipraktekkan para pelayan dan terhadap orang-orang yang dilayani dalam setiap organisasi, mau pun dalam lingkungan kehidupan umum yang lebih luas di mana orang Krisen ada dan mengabdi. Etika pelayanan dengan sendirinya menegaskan bahwa Alkitab adalah landasan normatif bagi kepelayanan Kristen yang dipraktekkan pada organisasi dan seluruh proses kepelayanan.

          B.Menggagas Landasan Etika Pelayanan bagi Hamba TUHAN

            Melihat kebenaran seputar etika dan etika pelayanan di atas, dapat dikatakan bahwa adalah beralasan untuk mengembangkan suatu etika kepelayanan bagi para hamba TUHAN. Etika pelayanan ini berperan sebagai pedoman dan dinamika bagi sikap batin, sifat dan perilaku hamba Tuhan dalam pelayanan Kiristen. Pilar-pilar prinsipil penting yang perlu diperhatikan dalam membangun suatu etika pelayanan Kristen adalah:

            1. Etika Pelayanan Kristen harus dibangun di atas Alkitab sebagai landasan iman dan norma tertinggi  bagi perilaku serta pelayanan Kristen  (II Timotius 3:15-17; Mazmur 1).
            2. Etika Pelayanan Kristen haruslah dibangun di atas idealisme teologi kerajaan Allah (Kingdom  Ethics) yang terfokus kepada “Kemuliaan bagi TUHAN Allah” (Matius  5, 6, 7; Roma 11:36).
            3. Etika Pelayanan Kristen harus dibangun di atas Kehidupan dan Ajaran TUHAN Yesus Kristus (I Yohanes 2:6; Filipi 2:5-11).
            4. Etika Pelayanan secara khusus haruslah diwujudkan berdasarkan ketaatan kepada kehendak Allah., tuntunan Roh Kusus, kasih kepada sesama., dan tindakan kebenaran-kebaikkan yang membawa keadilan serta shalom, yang adalah kebaikkan tertinggi (summum bonum) yang merupakan tujuan praksis etika pelayanan (Roma 8:13-17, 26; Efesus 5:1; Yohanes 13:33-35; I Yohanes 2:10; 3:16, 18;4:7-21).
            5. Etika Pelayanan haruslah dibangun diatas komitmen  menerapkan sikap tanggung jawab. Sikap tanggung jawab ini haruslah diwujudkan dalam hubungan-hubungan patut kepada TUHAN, gereja dan masyarakat secara konsisten. Dalam kaitan ini, Etika Pelayanan haruslah melibatkan upaya bertanggungjawab untuk membawa kebaikan tertinggi kepada sesama manusia, khususnya terhadap mereka yang dilayani (Kolose 3:23; Galatia 6:1-10).

            II. ETIKA PELAYANAN, ETOS DAN KODE ETIK HAMBA TUHAN

              Melihat uraian tentang hubungan etika, etos, kode etik, dan etiket pelanan di atas, maka adalah penting untuk menegaskan prinsip-prinsip dasar etika pelayanan hamba Tuhan, bagi hal-hal dimaksud.

              A. Etika dan Etos Pelayanan

                Dalam menerapkan etika dan moral Kristen dalam tugas, sangat diperlukan adanya suatu etos atau moralitas etis sebagai penuntun kerja, yang dapat dikembnagkan sebagai berikut:

                1. Hamba Tuhan harus melihat dan mengambil tugas pelayanan sebagai anugerah Allah yang disikapi dengan penuh syukur serta dilakukan dengan rendah hati, penuh semangat,  serta bertanggungjawab (I Korintus 9:14, 16: II Korintus 4:1-2).
                2. Hamba Tuhan haruslah melaksakanan tugas dengan penuh kesadaran bahwa tugasnya adalah pengabdian kepada TUHAN, sehingga setiap orang yang dilayani merasa tersentuh secara berkualitas (Kolose 3:17, 23).
                3. Hamba Tuhan haruslah mengambil keputusan dan menetapkan setiap kebijakan dengan penuh kesadaran bahwa ia bertanggungjawab kepada TUHAN, gereja dan masyarakat, sehingga ada kearifan dalam setiap langkah yang diambil (Yesaya 32:8).
                4. Hamba Tuhan haruslah menerapkan prioritas berdasarkan pertimbangan yang matang atas kepentingan, kegunaan serta kelayakan dan ketersediaan yang perlu ada untuk melakukannya (I Korintus 8:8; 10:23).
                5. Hamba Tuhan harus mewujudkan sikap, kata dan tindakan dalam kebenaran dan kebaikkan. Sikap ini harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab dalam hubungan dengan atasan, bawahan dan sesama pada lingkup tugas. Sikap ini haruslah diwujudkan hamba Tuhan secara konsisten dalam kata dan perbuatan kapan saja serta di mana saja, sehingga nama Tuhan Yesus dipermualitakan  (Yesaya 32:1-2; 33:15-16).

                B. Etika Pelayanan dan  Kode Etik Hamba Tuhan

                  Dalam menerapkan etika-moral, dan etos pelayanan, sangat diperlukan adanya suatu kode etik pelayan atau kode etik hamba Tuhan, yang memberikan kepada semua pelayan landasan yang menuntun kehidupan, hubungan dengan sesama serta pelayanannya dalam lingkup penyentuhan yang utuh. Kode etik hamba Tuhan ini haruslah memperhitungkan penyentuhan aspek-aspek kehidupan berikut:

                  1. Hamba Tuhan dan kehidupan moral pribadinya yang bersih di hadapan TUHAN (I Petrus 1:15-16; Imamat 11:44-45; 19:2; Ibrani 12:14). Ia harus penuh dengan Roh (Efesus 5:18-21; Galatia 5:16-22; 6:8) yang olehnya ia memiliki integritas yang teguh terhadap diri sendiri , secara rohani, sosial, ekonomi, dan kerja (Keluaran 18:21; Kisah Para Rasul 5:5; II Timotius 6:10; Ibrani 13:5).
                  2. Hamba Tuhan dan hubungan dengan rumah tangganya yang harus bersih moral dan harmonis di hadapan TUHAN, sesama anggota keluarga dan masyarakat (Mazmur 128; I Timotius 3:1-13; Efesus 5:22-33; 6:1-4).
                  3. Hamba Tuhan dan hubungan kerja haruslah dilakukan dengan penuh hikmat (I Raja-raja 3:12, 28; Yakobus 3:13-17) dalam hubungan dengan atasan (Ibrani 13:7, 17; I Petrus 2:17-21), bawahan dan sesama rekan sepelayanan (Titus 2:2-3; Kolose 4:5-6) serta adanya sikap kesetiaan terhadap organisasi dengan menjaga perilaku serta kerahasiaan tugas secara bertanggungjawab.
                  4. Hamba Tuhan dan hubugan moral dengan sesama yang berlainan jenis kelamin dalam kerja dan dalam hubungan pribadi (Titus 2:1-10; Ibrani 13:4).
                  5. Hamba  Tuhan dan hubungan kerja yang harus diwujudkan dengan penuh komitmen,  dedikasi dan tanggung jawab  (Kolose 3:17,23).
                  6. Hamba Tuhan dan hubungan dengan pemerintah, penguasa politik, bisnis, dan unsur lain dalam kehidupan nyata di tengah masyarakat ( Roma 13:1-7; Titus 3:1).
                  7. Hamba Tuhan dan perkembangan diri dalam kepemimpinan serta kesiapan membangun pemimpin dan kepemimpinan bagi kesinambungan kehidupan ornganisasi masa depan (II Timotius 2:2; 4:1-7; Titus 1:5-16).
                  8. Hamba Tuhan dan sikap altruis terhadap kehidupan umum dalam pelayananan yang sedang diemban yang diwujudkan secara arif (Galatia 6:9-10; Efesus 5:8-18; Kolose 4:5).
                  9. Hamba Tuhan dan kehidupan gereja yang diwujudkan dengan mengutamakan membangun sesama dan membesarkan organisasi (Efesus 4::1-16).
                  10. Hamba Tuhan dan kesetiaan mengabdi serta tekad untuk mengakhiri dengan benar dan baik serta menjadi berkat bagi lebih banyak orang di dalam gereja, lintas batas gereja dan masuk ke dalam masyarakat umum (II Timotius 4:7; 2:2; I Timotius 5:17; 6:11-14; Kolose 4:5-6).

                  III. MENERAPKAN ETIKA MORAL PELAYANAN SECARA BERTANGGUNGJAWAB

                    Uraian di atas memberikan landasan pemahaman bagi penerapan etika Kristen dalam pelayanan oleh para hambaTuhan.  Penerapan etika moral ini menyentuh kisi-kisi kehidupan berikut:

                    A. Etika dan Moral Pribadi Hamba Tuhan

                      Berdasarkan pemahaman akan etika dan moral pelayanan Kristen di depan, maka beberapa sikap yang harus ada pada pribadi Hamba TUHAN adalah sebagai berikkut:

                      1. Hanba Tuhan harus taat kepada Allah dan Firman-Nya dengan bertekad menjadi pelaku Firman  (Yakobus 1:22-23; II Timotius 4;1-2).
                      2. Hamba Tuhan harus hidup dalam kesucian batin yang nampak dalam pikiran, sikap, kata, dan perbuatan yang membawa kemuliaan bagi Allah dan membawa berkat bagi sesama, khususnya orang yang dilayani (Amsal 4:23).
                      3. Hamba Tuhan harus memiliki komitmen bertanggungjawab yang untuk hidup dalam kebenaran, yang diwujudkan secara nyata dalam hubungan dengan sesama, dengan membawa damai sejahtera pada sepanjang pelayanan (I Samuel 24:6-8; 26:9-11).
                      4. Hamba Tuhan harus mempertahankan kesetiaan mengabdi dengan menjadi berkat kepada sesama, melalui sikap dan tindakan yang menggangkat dan memberkati mereka yang dilayani (II Timotius 4:5-7).
                      5. Hamba Tuhan haruslah mepertahankan ketekunan dalam pengabdian dengan mengerjakan semua pelayanan secara berkualitas. Dengan demikian, setiap pelayanan yang diemban akan terlaksana secara benar, baik, dan sehat. Dalam kaitan ini, ketekunan etis ini akan menyebabkan semua pelayanan dari para hamba TUHAN  membawa kemuliaan bagi TUHAn Allah, dan menjadi berkat bagi sesama (I Petrus 5:1-4).

                      B. Etika dan Moral Hamba Tuhan dalam Pelayanan

                        Mencermati prinsip-prinsip yang dibentangkan di atas, dapat dikatakan bahwa adalah sangat beralasan bagi setiap hamba Tuhan untuk mengembangkan dan melaksanakan pelayanannya secara bertanggungjawab. Kisi-kisi etis yang harus dicermati dan dipraktekkan adalah sebagai perikut:

                        1. Para hamba Tuhan harus menetapkan komitmen untuk memuliakan Allah dalam segala bidang kehidupan dan pelayanan, yang diwujudkan melalui pikiran, perasaan, kehendak, sikap, kata dan tindakan dalam hidup keseharian dan pengabdian (Roma 11:36).
                        2. Para hamba Tuhan harus menjaga kemurnian iman sebagai landasan etika, dengan hidup dalam kesucian, kebenaran, dan kebaikkan sambil memperhatikan bagaimana hidup sebagai orang beriman, khususnya seorang pelayan Tuhan yang mempertahankan karakter luhur dalam setiap konteks masyarakat  (Efesus 5:15-17).
                        3. Para hamba Tuhan harus menjaga sikap terpuji dengan secara bertanggungjawab membina dan melaksanakan hubungan-hubungan altruis yang bersih etika moral terhadap sesama pelayan, orang yang dilayani, dan semua perangkat lain yang terkait dalam pelayanan seorang hamba Tuhan (Galatia 6:1-10).
                        4. Para hamba Tuhan harus menyikapi tugas yang diemban dengan setia dan tekun yang dibangun di atas komitmen yang tinggi kepada kualitas pelananan, disiplin tinggi, serta kinerja tinggi yang bermutu, yang ditandai dengan adanya penyentuhan berkat atas setiap orang yang dilayani (II Korintus 4:1-15).
                        5. Para hamba Tuhan harus melaksanakan setiap keputusan dan tindakan dengan penuh hikmat serta kearifan, melalui ketanggapan memperhatikan seluruh situasi terkait, dan mengambil tindakan yang membawa berkat serta memuliakan Allah, sehingga  membawa kebaikkan tertinggi yang olehnya ada kesaksian pribadi, masyarakat dan orang yang dilayani tentang ketepatan sikap dan tindakan pribadi sang pelayan (Efesus 5:18-21; Titus 1:5-16; 2:1-10).

                        KESIMPULAN

                        Sangatlah disadari bahwa adalah begitu urgen untuk mengembangkan etika pelayanan khusus bagi para hamba Tuhan. Kesadaran ini berkaitan erat dengan adanya tuntutan, tantangan yang memerlukan tanggung jawab khusus bagi setiap hamba Tuhan untuk menghidupi prinsip serta kebenaran Alkitab secara praksis. Tuntutan adanya etika pelayanan Alkitabiah bagi para hamba TUHAN adalah begitu penting dan bersifat mundialistis. Kepentingan adanya etika pelayanan yang Alkitabiah bagi para hamba Tuhan ini ialah karena  kompleksitas kehidupan masa kini yang menyediakan perangkap etis yang membahayakan.

                        Kompleksitas kehidupan ini sekaligus menyodorkan tantangan etis yang harus disikapi dan dijawab secara bertanggungjawab pula. Dengan demikian, urgensi adanya etika pelayanan para hamba Tuhan ini harus disikapi secara serius.  Sikap menempatkan kepentingan adanya etika pelayanan ini dengan sendirinya akan meneguhkan setiap pelayan dengan memberikan tuntunan untuk mewujudkan pelayanannya secara benar, baik dan sehat. Sangatlah diyakini bahwa dengan etika pelayanan yang Alkitabiah ini, setiap pelayan Tuhan akan tertuntun dan mampu menghidupi kehidupan serta pelayanannya secara bertanggungjawab sehingga membawa kemuliaan bagi TUHAN Allah, serta menjadi berkat bagi sesama, khususnya mereka yang dilayani. Deo volente.

                        Jakarta, 6 Februari 2010

                        Pdt. Dr. Yakob Tomatala, M.Div.,M.I.S.,M.A.,D.Miss


                        [1] Orasi yang disampaikan pada tanggal 6 Februari 2010, dalam Wisuda Sarjana STT Sunsugos, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

                        [2] Faktor mudialistis (< mundus),  yang berarti pertaning to the world, yang menjelaskan bahwa etika pelayanan itu sangat diperlukan karena adanya tantangan dan tuntutan dunia di sekitar, secara khusus terhadap para pelayan Tuhan.

                        [3] Webster’s New Universal Dictionary of English Language 1976.

                        [4] Lihat penjelasan Malcolm Brownlee, “Pengambilan Keputusan Etis” tahun 1981, hal. 16.

                        [5] Sangatlah disadari bahwa tidak semua pertimbangan dan keputusan adalah pertimbangan dan keputusan etika secara khusus, namun etika berhubungan dan mendasari nilai-nilai dari pertimbangan dan keputusan kita dalam bidang kehidupan yang lain.

                        Leave a Reply