YT Leadership Foundation





“… engkau akan menamakan dia Yesus, karena Dia-lah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Matius 1:21b)

PENGANTAR

Keselamatan, adalah istilah yang kelihatannya eksklusif agama. Betapa tidak, tatkala orang Kristen berbicara tentang keselamatan, maka pikirannya terarah kepada “penebusan dari dosa” yang  dilakukan oleh Yesus Kritus, dimana Firman Allah menegaskan, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya  kita dapat diselamatkan” (Kisah para Rasul 4:12).

Kebenaran Alkitab menegaskan bahwa TUHAN Allah mengaruniakan keselamatan kepada “mereka yang dipilih-Nya dari semula, mereka yang ditentukan-Nya, mereka yang dipanggil-Nya, mereka yang dibenarkan-Nya, mereka yang dimuliakan-Nya (Roma 8:29-30). Mereka yang diselamatkan inilah yang dikaruniai Allah hak istimewa untuk menjadi Umat Kesayangan-Nya serta memiliki hidup yang kekal pemberian-Nya (I Petrus 2:9-10; Yohanes 3:27; 10:28-29; 6:47; 15:16; Efesus 2:8-10).

Pada sisi lain, “keselamatan”  dari TUHAN Allah ini sesungguhnya bersifat inklusif. Penggunaan kata soteriologi dalam teologi Kristen yang berarti ilmu keselamatan, pada dasarnya memberi ruang kepada pemahaman yang inklusif ini. Soteriologi yang berasal dari istilah Yunani, soterios., berakar pada kata salubrious (salubris, salus, salutis, Latin) dan logi. Istilah salubris ini menyentuh arti “kesehatan” yang sifatnya “menyeluruh” (salubrity, salubritas – wholesomeness, healthfulness). Keselamatan yang menyeluruh ini meliputi “salubrious air, salubrious water, salubrious climate,” dan lebih luas lagi. Istilah soteria secara spesifik berakar dari kata bahasa Yunani, saos, yang kata dasarnya ialah sozo, yang memiliki arti yang dalam, yang dapat berarti “dilepaskan, dilindungi dari bahaya” (Kisah Para Rasul 7:25; 27:31; Ibrani 11:7). Istilah ini dapat pula berarti “sejahtera penuh, atau sehat,” (secara badani – Lihat: Markus 5:34; Yakobus 5:15). Secara literal, kata ini bisa berarti, damai, sehat, sukacita, atau pun selamat dalam konotasi agama, atau kesembuhan fisik atau mau pun rohani (Mazmur 2:17; Lukas 4:18-19). Dalam bahasa Ibrani, istilah keselamatan ialah “yasa” yang artinya longgar, bebas dari tekanan, dan diluputkan. Secara literal istilah ini dapat berarti diselamatkan dari bahaya, tekanan atau pun musuh. Istilah ini secara khusus dipakai untuk menjelaskan bebas dari perhambaan di Mesir (Keluaran 14:13; 15:2; Yesaya 46:13; 52:10-11; Mazmur 106:10; Ulangan 20:4; Hakim-Hakim 3:31). Arti lain dari kata yasa ini ialah  “dibebaskan dari kemerosotan moral, dsb., (Hosea 1:7; Ayub 30:15; Mazmur 28:9). Melihat penjelasan istilah soteriologi ini, dapat dikatakan bahwa adalah absah untuk mengatakan bahwa “keselamatan dari Allah adalah untuk semua” yang penjabarannya menyentuh dua sisi penting.

PERTAMA, KESELAMATAN SEBAGAI ANUGERAH UMUM UNTUK SEMUA

Keselamatan dari Allah yang diuntukkan bagi semua ciptaan-Nya adalah bersifat inklusif. Keselamatan inkusif ini dapat disebut anugerah umum atau common grace. Keselamatan yang inklusif ini meliputi tindakan TUHAN Allah yang mencipta, mengelola, memelihara dan mengendalikan jagad ciptaan-Nya. Keselamatan inklusif ini didasarkan atas hakikat (esse, asensi) yang berdaulat, sifat khas (attibutes) yang “maha …..” dan tindakan (actum) sempurna dari TUHAN Allah yang “Maha Agung dan Maha Sempurna.” Keselamatan inklusif ini menjelaskan bahwa TUHAN Allah Mahakasih, karena “Ia adalah kasih” (I Yohanes 4:8b), maka Ia mengaruniakan panas dan hujan kepada “orang yang benar” dan “orang berdosa/ orang jahat” (Matius 5:45). Ia juga menentukan “musim” untuk dinikmati oleh semua anak manusia (Mazmur 104:19-20). TUHAN Allah bahkan memberikan tempat khusus bagi “manusia sebagai makluk ciptaan-Nya yang mulia” dengan mengindahkannya serta memberikan otoritas serta peran khusus baginya (Mazmur 8:4-7). Melalui penghargaan dan otoritas dari TUHAN Allah ini, manusia dikaruniai hak untuk berkuasa atas semua ciptaan-Nya yang lain (Mazmur 8:8-9).

Dalam kaitan ini, dapatlah dikatakan bahwa keselamatan yang inklusif ini menjelaskan tentang kepedulian TUHAN Allah kepada manusia dan semua makhluk, yang diwujudkannya dengan mencipta, mengelola, memelihara dan mengendalikan seluruh jagad ciptaan-Nya. Keselamatan inklusif ini memberikan tempat bagi semua manusia, untuk mengambil peran dalam karya ciptaan Allah. Kebenaran yang dapat ditegaskan di sini ialah bahwa TUHAN Allah oleh kedaulatan dan kasih-Nya yang kekal “menyelamatkan” semua makhluk ciptaan-Nya dengan menyediakan semua yang dibutuhkan bagi kelangsungan kehidupan manusia serta jagad secara teratur serta bersinambung.

Dalam keselamatan yang inklusif ini nyata kebaikan TUHAN Allah yang memelihara, mengelola serta mengendalikan jagad ciptaan-Nya sehingga semuanya berjalan sesuai dengan “hukum” yang telah ditetapkan oleh-Nya, sehingga bumi dan jagad akan terus berputar secara dinamis. Ia pun membuktikan kesetiaan-Nya dalam memelihara umat manusia dari dosa dan kejahatan,  sehingga dalam kondisi sejahat-jahatnya moral manusia, dunia akan terus terpelihara oleh anugerah Allah. Secara lebih khusus, TUHAN Allah meneguhkan, memelihara, menuntun dan memaknai kehidupan setiap individu untuk menjalani tujuan kekal yang telah ditetapkannya (Yeremia 1:5; Yesaya 49:1; Mazmur 145:8-9; Pengkhotbah 3:111, 14; 8:17; I Petrus 2:9; Ayub 42:2; Amsal 16:4).

Melihat uraian di atas, dapatlah dikatakan bahwa dalam anugerah umum, keselamatan dari Allah adalah untuk seisi jagad dan semua manusia ciptaan-Nya. Di sini terlihat bahwa keselamatan yang didasarkan atas anugerah Allah yang umum ini, adalah sepasti hakikat, sifat khas dan tindakan-Nya. Kesemuanya ini  menegaskan bahwa keselamatan dari Allah ini ditujukan kepada semua ciptaan Allah untuk menikmati kebaikan-Nya yang kekal.

KEDUA, KESELAMATAN SEBAGAI ANUGERAH KHUSUS

Kebenaran tentang keselamatan sebagai “anugerah khusus” atau special grace menjelaskan tentang rancangan kekal serta tindakan TUHAN Allah menyelamatkan manusia berdosa melalui Yesus Kristus (Efesus 1:4-14). Istilah anugerah yang diangkat dari Alkitab seperti yang dipercakapkan di atas, pada dasarnya menunjuk kepada kebenaran yaitu bahwa anugerah adalah atribut Allah, dan hanya ada pada-Nya satu anugerah yang sempurna sebagai bahagian dari hakikat, sifat khas dan tindakan-Nya yang maha sempurna. Dilihat dari hubungan Allah dengan segenap ciptaan-Nya secara khusus maka dapat dikatakan bahwa anugerah adalah “berkat-berkat yang dicurahkan Allah secara melimpah dan diberikan secara cuma-cuma kepada manusia berdosa tanpa memperhitungkan jasa apa pun atau kondisi mereka.”[2] Di sini, anugerah tetap merupakan bahagian dari hakikat, sifat khas dan tindakan Allah yang sempurna, yang dinyatakan-Nya kepada segenap ciptaan-Nya. Dari sisi ini, anugerah dapat dikatakan sebagai “penyataan Allah yang maha sempurna dan maha kasih kepada segenap ciptaan-Nya, umat manusia secara umum dan umat Allah secara khusus.”

Keselamatan di sini sepenuhnya merupakan bahagian dari Rencana Shalom Allah yang kekal. Dalam rancangan shalom yang kekal itu, keselamatan ditetapkan selengkapnya oleh Oknum AllahYang Esa. Keselamatan ini kemudian dilaksanakan seutuh-Nya oleh Yesus Kristus, Juruselamat (Matius 1:21-23) dan diterapkan sepenuhnya oleh Roh Kudus (Roma 8:15-17). Belandaskan kebenaran ini, dapat dikatakan bahwa keselamatan sepenuhnya dilakukan oleh Allah Yang Esa, melalui karya Yesus Kristus yang menyerahkan nyawa-Nya mati di atas kayu salib menggantikan manusia berdosa (I Korintus 15:1-4; II Korintus 5:13-14) dan diterapkan oleh Roh Kudus. Perlulah ditekankan bahwa “keselamatan” yang diuraikan di sini adalah merupakan pengungkapan tentang bagaimana peroses “penyelamatan itu dilaksanakan oleh Allah,” yang di dalamnya setiap orang berdosa yang telah di tetapkan-Nya memperoleh bahagian dan mengalami secara subyektif akan karya agung-Nya ini (Lihat: Kisah Para Rasul 13:48b), yaitu mereka yang telah ditentukan dan dipanggil-Nya menjadi percaya (Banding: Roma 8:29-30). Keselamatan yang khusus ini menjelaskan rencana Allah yang spesial yaitu “Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa” (II Petrus 3:9b)., dimana “Semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal menjadi percaya” (Kisah Para Rasul 13:48b). Di sini dapat ditegaskan bahwa keselamatan pemberian anugerah Allah itu (Yohanes 10:28-29) membawa manusia berdosa kepada pertobatan dan perpalingan (II Petrus 3:9c; II Korintus 7:10; I Yohanes 5:13-15); dan iman (Yohanes 6:47; Ibrani 11:1), yang olehnya setiap orang yang percaya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:6). Keselamatan pemberian Allah ini begitu khas, yang memberikan pengalaman subjektif bagi orang percaya, yaitu ada kelahiran baru (Yohanes 3:3-8; II Korintus 5:17), pembenaran (Keluaran 23:7; Ulangan 25:1; Amsal 17:15; Yesaya 5:25; Yeremia 3:11; Yehezkiel 16:50-51; Matius 12:37; Lukas 7:29; Roma 3:4), pengangkatan (Yohanes 1:12; Galatia 4:1-5; 3:29), pengudusan (Keluaran 15:11, 12; 19:6; Yesaya 5:24; 6:3; 10:17; Yehezkiel 20:39-44; Hosea 11:9; Matius 6:9; 5:48; Lukas 11:2; I Petrus 3:15), persatuan dengan Kristus (Yohanes 16:14; 15:58; Roma 5:15-19), ketekunan (Filipi 2:12-13; Roma 7:21-26; Ibrani 6:17-20; 12:1-2), dan pemuliaan di dalam Kristus (I Timotius 3:6; II Timotius 2:11-13; Ibrani 2:5-13).

Tindakan Allah yang menyelamatkan di dalam Yesus Kritus ini dan pengalaman khas akan keselamatan dari TUHAN itu memberikan kepastian kepada orang percaya akan hidup kekal yang telah diterima dari Allah (Yohanes 10:28-29). Hidup kekal ini meneguhkan, karena olehnya orang percaya menjadi umat kesayangan TUHAN Allah (Keluaran 19:4-6; II Petrus 2:9-10). Umat kesayangan TUHAN ini adalah Umat Perjanjian Berkat Allah (Ulangan 28:1-14; Galatia 3:29), kini di sini, di seluruh dunia, meliputi orang pilihan Allah dari semua bangsa pada segala abad, sekarang dan selama-lamanya. Selamat menjadi Umat Kesanyangan TUHAN Allah, yang diberi hak memiliki hidup yang kekal, sekarang dan abadi selamanya.


[1] Artikel ini dibuat untuk Mimbar Agama Kristen TVRI Pusat Jakarta yang disponsori PGI Jakarta dan direkam pada tanggal 14 April 2010 untuk disiarkan pada tanggal 24 April 2010. Terimakasih untuk PGI dan TVRI.

[2] Lihat: Y. Tomatala, Yesus Kristus Juruselamat Dunia, Jakarta: YTLF, tahun 2004,  halaman  126-133.

Leave a Reply