YT Leadership Foundation





RENUNGAN

“… orang yang menghendaki jabatan penilik (pemimpin) jemaat menginginkan pekerjaan yang indah” (I Timotius 3:1).

Teks        : I Timotius 3:1-7 (Keluaran 18:17-23)

Tema       : “Menjadi Seorang Pemimpin Gereja yang tidak tercela dan dihormati.”

Sub-tema : Rahasia hidup sebagai Pemimpin gereja yang memiliki integritas teguh

PENGANTAR

Seorang pemimpin sejati, sejatinya memiliki integritas yang teguh. Secara umum telah dibuktikan bahwa faktor integritas ternyata menentukan delapan puluh lima persen dari keberhasilan seorang pemimpin. Kini kita bertanya, apa sesungguhnya makna integritas itu? Arti dasar dari integritas atau integrity ialah “jujur dan dapat dipercaya.” Integritas juga menunjuk kepada arti “quality of being complete,” suatu kualitas hidup yang sempurna dan lengkap. Dalam perspektif Alkitab berdasarkan pandangan Rasul Paulus, integritas berbicara tentang adanya “semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan, dan patut dipuji, …..” (Filipi 4:8), sehingga kedekatannya dengan TUHAN dan kebaikannya diketahui (Filipi 4:5). Kebenaran ini menegaskan tentang hakikat dan indikator integritas seorang pemimpin sebagai kualitas hidup rohani. Kualitas hidup rohani ini adalah dasar bagi kehidupan seluruhnya. Perjanjian Lama, dalam Keluaran 18:21 secara khusus menegaskan tentang kisi integritas yang harus ada pada seorang pemimpin, yaitu “integritas diri” (cakap), “integritas rohani” (takut akan Allah), “integritas sosial” (dapat dipercaya), “integritas ekonomi” (benci pengejaran suap), dan “integritas kerja” (menjadi pemimpin). Di sini sangatlah terlihat betapa integritas itu penting bagi seorang pemimpin, khususnya pemimpin rohani.

Mengingat begitu pentingnya integritas yang harus ada pada seorang pemimpin, khususnya pemimpin gereja yang adalah pemimpin rohani, maka adalah bijak untuk mempertanyakan, bagaimana sepatutnya seorang pemimpin itu membuktikan diri memiliki integritas teguh? Dengan integritas teguh ini maka kehidupan pemimpin tidak tercela dan olehnya ia dihormati oleh orang-orang yang dipimpinnya. Rasul Paulus dalam surat penggembalaannya kepada anak binaannya, Timotius, mengungkapkan rahasia tentang bagaimana membangun integritas seorang pemimpin rohani. Kebenaran ini dituangkan di dalam I Timotius 3:1-7, yang rahasianya dapat diungkapkan sebagai berikut:

  1. I. IA HARUS MEMBANGUN INTEGRITAS DIRI DENGAN MENYAMBUT PELAYANAN PEMIMPIN GEREJA SEBAGAI SESUATU YANG MULIA
  • Apa makna dari kebenaran bahwa setiap pemimpin gereja harus memulai membangun dirinya dengan menyambut pelayanan memimpin sebagai suatu kehormatan? (ayat 1).

A.   Setiap pemimpin rohani harus menyadari bahwa menjadi pemimpin dalam gereja adalah sesuatu pelayanan yang mulia di hadapan Allah.

  1. Setiap pemimpin rohani harus membangun kesadaran bahwa pelayanannya sebagai pemimpin gereja adalah suatu pilihan yang mulia.
  2. Setiap pemimpin rohani haruslah memastikan bagi dirinya bahwa pelayanannya sebagai pemimpin adalah sesuatu yang memiliki nilai tinggi.

D.   Setiap pemimpin rohani yang melayani sebagai pemimpin gereja haruslah meneguhkan sikapnya bahwa pelayanannya adalah suatu kesempatan yang mulia.

IMPLIKASI:

  1. Setiap pemimpin harus membangun integritas dirinya dengan mengingat bahwa ia ada dalam pelayanan yang mulia di hadapan Allah.
  2. Setiap pemimpin harus membangun integritas dirinya dengan menyadari sepenuhnya bahwa ia telah membuat suatu pilihan yang mulia di hadapan Allah.
  3. Setiap pemimpin harus membangun integritas dirinya dengan mematutkan bahwa pelayanannya memiliki nilai yang tinggi.
  4. Setiap pemimpin harus membangun integritas dirinya dengan menyikapi pelayanannya sebagai suatu kesempatan yang mulia di hadapan Allah.
  • Bagaimana Anda mewujudkan kebenaran ini di dalam hidup dan pelayananmu? Perlu di tekankan bahwa: “Anda yang melayani TUHAN adalah suatu kehormatan yang harus dipertanggungjawabkan, dengan hidup beintegritas di hadalan Allah.”
  1. II. IA HARUS MENEGUHKAN INTEGRITAS DIRI SEBAGAI PEMIMPIN KELUARGA YANG TERHORMAT
  • Apa sesungguhnya arti dari kebenaran tentang meneguhkan integritas diri sebagai pemimpin keluarga yang terhornat itu? (Ayat: 2 – 5).

A.   Pemimpin harus meneguhkan integritas diri sebagai seorang kepala keluarga yang terhormat melalui pengusaan diri dengan: tidak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka menolong, cakap mengajar.

  1. Pemimpin harus meneguhkan integritas diri sebagai seorang kepala keluarga yang terhormat melalui sikap terpuji, yaitu: bukan peminum, bukan pemarah tetapi peramah, pendamai, dan bukan hamba uang.
  2. Pemimpin harus meneguhkan integritas diri sebagai seorang kepala keluarga yang berwibawa dengan cara: menjadi kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati anak-anak, dapat memimpin keluarga dengan hikmat.

IMPLIKASI:

  1. Pemimpin rohani yang berintegritas ialah pemimpin yang menguasai dirinya, sehingga ia terbukti sebagai kepala keluarga yang tidak bercacat.
  2. Pemimpin rohani yang berintegritas ialah pemimpin yang membuktikan diri sebagai kepala keluarga yang terhormat, disegani dan dihormati di dalam rumah tangganya.
  3. Pemimpin rohani yang berintegritas ialah pemimpin yang membuktikan kewibawaannya yang dapat memimpin dengan benar dan baik sebagai kepala keluarga.
  • Bagaimana Anda membuktikan kebenaran ini di dalam kehidupan dan pelayananmu? Sadarilah bahwa “Anda bertanggungjawab untuk konsisten membuktikan diri sebagai seorang kepala keluarga yang hidup benar di hadapan Allah mulai di dalam rumah tangga Anda sendiri.” Sadarilah pula bahwa “Pemimpin yang baik adalah kepala rumah tangga yang baik.”
  1. III. IA HARUS MEMBUKTIKAN INTEGRITAS DIRI MELALUI KEDEWASAAN SIKAP TERPUJI
  • Apa sesungguhnya maksud dari pernyataan bahwa Anda hanya dapat menghidupi kehidupan yang berintegritas dengan membuktikan bahwa Anda memiliki kedewasaan sikap yang terpuji itu? (Ayat 6-7)

A.   Pemimpin rohani harus membuktikan integritasnya dengan penuh kesadaran bahwa ia adalah pemimpin yang telah bertobat. Pertobatannya ini harus diikuti dan dibuktikan dengan sikap redah hati.

  1. Pemimpin rohani harus membuktikan integritasnya dengan sikap benar, baik dan hubungan-hubungan sehat, yang olehnya ia dihormati oleh orang luar, yaitu anggota masyarakat umum, sehingga kepemimpinannya tidak dapat digugat orang.

IMPLIKASI:

  1. Pemimpin rohani hanya dapat membuktikan integritas dirinya dengan pertobatan sejati, dan kerendahan hati.
  2. Pemimpin rohani hanya dapat membuktikan integritas dirinya dengan hidup dalam kebenaran, kebaikkan dan hubungan-hubungan yang sehat, yang olehnya ia mendapat nama baik dari orang luar sebagai afirmasi kepemimpinannya.
  • Bagaimana Anda membuktikan integritas Anda sebagai seorang pemimpin rohani? Anda harus memastikan bahwa “Anda telah bertobat, sehingga kehidupan rohani Anda sejati, yang dibuktikan melalui sikap rendah hati, yang olehnya Anda mampu hidup benar, baik dan sehat, yang membuat Anda dihormati.

KESIMPULAN

Seorang pemimpin gereja yang adalah pemimpin rohani yang sejati, hanya dapat membuktikan bahwa ia layak dihormati, ia tidak tercela melalui kesadaran dan sikap berikut:

  1. Ia harus menyambut pelayanan sebai pemimpin dengan penuh kesadaran bahwa ini adalah suatu pelayanan mulia yang harus dihidupi dengan penuh penghormatan.
  2. Ia harus membuktikan dirinya sebagai seorang kepala keluarga yang berwiwaba dan dihormati, sehingga ia terebukti layak meimpin jemaat.
  3. Ia harus membuktikan dirinya sebagai pemimpin rohani yang dewasa melalui pertobatan sejati yang dihidupi dengan rendah hati dalam kebenaran dan kebaikan serta hubungan sehat, yang olehnya ia mendapat penghargaan dari Allah dan manusia.
  • Cobalah renungkan, sejauhmana Anda menyadari kebenaran tentang kepemimpinan rohani yang Anda hidupi, serta implikasinya bagi kehidupan serta pengabdian yang Anda emban.

Selamat membuktikan panggilan dan pelayanan kepemimpinan rohani di dalam Jemaat sebagai seorang pemimpin yang tidak tercela dan dihormati. TUHAN Yesus memberkati.

Pelayan Firman

Pdt. Yakob Tomatala

One Response to “Pemimpin Tidak Tercela”

  • Ni Nyoman Priskila:

    Seorang pemimpin harus memilih bagi dirinya sebuah gaya hidup yang akan dihidupinya sebagai bukti panggilannya sebagai pemimpin. Gaya hidup yang tidak terpuji akan mendiskualifikasi sang pemimpin dari tempatnya. Setuju….integritas harus melekat padanya.

Leave a Reply