YT Leadership Foundation





Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bingtang-bintang tetap untuk selama-lamanya

(Daniel 12:3).

PENGANTAR

Dalam upaya menjawab apakah Anda adalah pemimpin kompeten ataukah tidak, simaklah uraian ini. Seorang pemimpin yang disebut kompeten, menjelaskan bahwa ia memiliki kapasitas penuh. Dengan kapasitas penuh inilah maka ia dapat  memimpin sebagai pemimpin. Telah diuraikan dalam pokok Panggilan Kepemimpinan, bahwa tatkala seseorang terpanggil oleh TUHAN Allah ke dalam tanggungjawab kepemimpinan, maka ia terbukti memiliki tugas, kewenangan, hak, kewajiban, tanggungjawab dan pertanggungjawaban keorganisasian. Di sini ada asumsi kuat bahwa bila seseorang menjadi pemimpin maka sang pemimpin tentulah dianggap kompeten. Karena ia dianggap kompeten maka ia menjadi pemimpin (diakui, diangkat, dipilih, dsb) secara legitimate. Istilah kompeten itu sendiri berasal dari kata “competent” < competens, competere (Latin) yang artinya “menjadi penuh atau lengkap sehingga dapat menjawab kebutuhan atau tuntutan.”  Apabila seseorang itu adalah pemimpin kompeten, maka  maknanya ialah:

  1. Ia dapat menjawab semua persyaratan, cocok, puas dan memadai untuk suatu tujuan kepemimpinan.
  2. Ia telah memenuhi semua kualifikasi dan kapasitas yang dituntut untuk mengerjakan suatu pekerjaan.
  3. Ia sangatlah sesuai untuk mengerjakan pekerjaan, dan telah memenuhi semua ketentuan legal untuk menjadi pemimpin guna melaksanakan upaya memimpin.

Dapat ditegaskan di sini bahwa seorang pemimpin itu dianggap kompeten berarti, ia telah mencapai kualifikasi dan kapasitas lengkap dimana ia dapat memenuhi persyaratan yang dituntut untuk menjadi, serta melaksanakan tugas sebagai seorang pemimpin.  Segi lain dari makna kompeten ini menjelaskan bahwa individu dimaksud memahami ia adalah pemimpin yang dapat memimpin (menggerakkan) / membimbing bawahannya ke arah pemenuhan hidup mereka. Aspek lain dari kompetensi ini ialah  Pemimpin terbukti kompeten dengan adanya integritas karakter (Formasi Rohani yang terfokus kepada pembentuhakan karakter Kristen yang tangguh – dengan Etika – moral yang luhur, benar dan baik, jujur, tulus, setia, taat, disiplin, berdedikasi, dan komital). Ia juga memiliki kapasitas (Formasi Pelayanan – dengan pengetahuan yang  komprehensif dan khas lebih). Ia pun mampu membuktikan diri memiliki kapabilitas andal (Formasi Strategis – dengan kecakapan sosial/ hubungan baik-kondusif-meluas, responsif; dan ia juga memiliki kecakapan teknis/ keandalan manajerial yang tangguh). Tolok kompetensi pemimpin dapat dipahami dengan mencermati kebenaran berikut.

  1. 1. PEMIMPIN KOMPETEN DAN POSISI TUGAS KEPEMIMPINAN. Pada tahap yang paling awal, seorang pemimpin yang kompeten akan selalu dilengkapi dengan kuasa kepemimpinan yang utuh. Kuasa kepemimpinan ini menjelaskan bahwa ia memiliki posisi tugas keorganisasian yang di dalamnya terdapat peran yang meneguhkannya sebagai pemimpin. Menjadi pemimpin  secara formil menggandaikan bahwa ia kompeten dengan ada padanya posisi tugas. Posisi tugas ini dilengkapi dengan kewenangan, hak, kewajiban, tanggungjawab dan pertanggungajawaban untuk memimpin. Posisi tugas melekatkan peran kepemimpinan padanya. Dengan melakonkan perannya secara patut, sang pemimpin akan diakui sebagai pemimpin oleh bawahannya. Pengakuan ini tidak harus selalu berarti setuju atau pun mendukung. Karena itu, apabila pemimpin itu kompeten, maka tugas-peran pemimpin selebihnya adalah berupaya memperoleh pengakuan dan dukungan riil dari semua komponen SDM dalam organisasi untuk meneguhkan kepemimpinannya.
  1. 2. PEMIMPIN KOMPETEN DAN KEWIBAWAAN KEPEMIMPINAN. Upaya pemimpin meneguhkan pengaruhnya dari perspektif positif akan membangun kewibaannya. Kewibawaan adalah dinamika kuasa kepemimpinan dalam perspektif keorganisasian. Kewibawaan ini berkembang dalam diri pemimpin karena ada kuasa dan posisi-peran tugas kepemimpinan lengkap padanya, yang menopangnya melaknanakan upaya memimpin. Kewibawaan dari aspek ini merupakan perkembangan dan pengakuan sosio-psikologis kepada pemimpin, karena ia adalah pemimpin. Sebagai pemimpin, ia memiliki privilese untuk berada di atas, dan diakui sebagai pemimpin. Di sini setiap bawahannya adalah tanda bahwa pemimpin adalah pemimpin. Dengan demikian, seorang pemimpin sejati haruslah menyadari bahwa kepemimpinannya adalah hak istimewa, bukan bawaan lahir, yang karenanya ia patut menyikapinya secara bertanggungjawab. Para bawahan yang ada padanya adalah mereka yang rela secara formil untuk mengakui kuasa kepemimpinan sang pemimpin. Pengakuan bawahan karena mereka rela secara formil ini tidak selalu berarti setuju atau pun mendukung. Karena itu, pemimpin harus berupaya sebegitu rupa untuk memperoleh persetujuan dan dukungan riil para bawahan yang akan menambah kewibawaan kepemimpinan kepada dirinya. Dengan kewibawaan inilah maka akan ada nilai tambah yang mendongkrak upaya memimpin sang pemimpin ke tingkat yang lebih tinggi. Kegagalan pemimpin memperoleh pengakuan dan dukungan riil bawahan ini akan menurunkan dinamika upaya memimpin sang pemimpin ke tingkat yang lebih rendah, dimana ia pada akhirnya akan kehilangan pengaruh.
  2. 3. PEMIMPIN KOMPETEN DAN KEPIAWAIAN KEPEMIMPINAN. Kepiawaian pemimpin menjelaskan tentang kemampuan mewujudkan seni memimpin. Kemampuan mewujudkan seni memimpin ini diawali dengan upaya sang pemimpin memimpin dengan meningkatkan pengaruhnya. Pengaruh (influence) di sini adalah aspek dinamis dari kuasa kepemimpinan. Dengan pengaruh ini pemimpin memiliki daya memimpin dengan kemampuan menggerakkan (memimpin) para bawahannya. Pemimpin yang memimpin dengan hikmat serta memakai pendekatan positif, mewadahkan pengaruh positif yang berkembang dalam dirinya.  Pengaruh positif ini akan menyentuh para bawahan dan mewarnai budaya organisasi yang dipimpinnya. Kepiawaian pemimpin selanjutnya akan terbukti dengan adanya pelaksanaan kerja secara efektif (berkualitas – do the right things), efisien (berkuantitas – do the ringht things rightly), dan sehat (hubungan responsif yang positif) yang menopang upaya memimpin secara sinergis dengan gerakan simultan. Upaya memimpin seperti inilah  yang akan menghasilkan secara optimal (sukses).
  3. 4. PEMIMPIN KOMPETEN DAN PERKEMBANGAN FORMAT KEPEMIMPINAN. Pemimpin kompeten adalah suatu kahikat dan proses menjadi. Hakikat dan proses menjadi ini perlu disikapi pemimpin secara proaktif. Sebagai hakikat, pemimpin telah membuktikan kompetensi diri, dan diakui serta menjadi pemimpin secara resmi (legitimate). Sebagai proses menjadi, pemimpin bertanggungjawab untuk mengembangkan dirinya secara bersinambung dalam sepanjang kehidupannya melalui kepemimpinan yang diembannya. Pemimpin seperti ini adalah pembelajar sejati yang memiliki postur belajar sepanjang hidup. Postur belajar inilah yang membuatnya terus berkembang menggapai format kepemimpinan yang teguh. Sebagai pembelajar, sang pemimpin terbukti memiliki budaya kualitas yang terbuka, progresif dengan daya penyesuaian diri yang tinggi. Daya suai ini memberi kekuatan untuk menanggapi perubahan serta menyiasati tantangan, menggapai peluang, mencipta tekad serta upaya memimpin yang berhasil. Dalam kaitan ini, pemimpin haruslah  terus menerus berupaya untuk menemukan dan mengembangkan format dirinya secara terfokus yang meneguhkan postur kepemimpinannya. Format diri dalam pengertian ini adalah pembentukan, peningkatan dan pembakuan kapasitas kepemimpinan sang pemimpin. Format diri ini ditandai secara subjektif dengan adanya pembakuan nilai-nilai unggul; penghayatan falsafah pelayanan unggul; dan penguasaan keilmuaan unggul dan penerapannya secara praksis yang terus berkembang. Perkembangan format diri pemimpin secara subjektif dapat terjadi dengan proses pembelajaran vikariat, retrospektif dan introspektif yang positif serta inovatif. Secara objektif, perkembangan format diri pemimpin akan terbukti dengan adanya afirmasi (pengakuan- persetujuan) bawahan yang memberikan penguatan kepada basis sosial pemimpin. Format diri pemimpin inilah yang akan meneguhkan pemimpin dengan kemandirian tinggi yang memastikan keandalannya.
  4. 5. PEMIMPIN KOMPETEN DAN PENCITRAAN KEPEMIMPINAN. Secara ideal, seorang pemimpin kompeten haruslah tercitrakan secara praksis, yang membuktikan kompetensinya. Dalam kaitan ini, kompetensi pemimpin dengan sendirinya merekatkan daya pencitraan pada diri pemimpin. Daya pencitraan ini menyebabkan adanya kemampuan mencitrakan diri secara subjektif. Secara objektif, efek dari pencitraan ini akan menimbulkan kekaguman para bawahan atas kelebihan yang ada pada pemimpin. Sikap kagum inilah yang menyebabkan mereka mengikuti (memberi diri) dipimpin secara sadar dan bekerja. Sikap kepengikutan bawahan tentu didasarkan pada berbagai faktor, termasuk ambisi, motivasi, dan tujuan khusus pribadi, baik nyata maupun terselubung. Kekaguman yang tulus akan diikuti oleh penghargaan yang lekat, sedangkan kekaguman semu akan berujung kepada upaya menjilat terhadap pemimpin (ingratiation). Pemimpin yang berhikmat, tidak akan mengurus motivasi, ambisi, tujuan maupun kepentingan siapa saja, dan tidak membiarkan diri dijilat. Pemimpin yang arif tidak memiliki “anak emas” karena anak emas dapat sewaktu-waktu berubah menjadi “serigala dewasa” yang tidak pernah kenyang. Pemimpin yang berbudi akan bertanggungjawab dan sadar untuk mencitrakan diri secara proaktif yang diwujudkan dengan rendah hati. Pencitraan seperti ini akan menggambarkan sang pemimpin sebagai berbayangan besar, yang  menguak simbol kekuatan pengayom. Pencitraan sesungguhnya mewadahkan praktek kewibawaan, yang olehnya pemimpin perlu menyikapinya secara sadar, berhikmat dan terencana. Pencitraan seperti ini akan membawa pengaruh positif yang semakin teguh, yang menguatkan upaya memimpin sang pemimpin kearah keberhasilan yang pasti.
  5. 6. PEMIMPIN KOMPETEN DAN KECAKAPAN KEPEMIMPINAN. Kompetensi pemimpin pada sisi lain mengandaikan adanya kecakapan lebih pada diri pemimpin. Dalam kaitan ini pemimpin diandaikan sebagai seorang strategos (Jenderal) yang memiliki kelebihan di atas mereka yang rata-rata. Kelebihan ini akan nampak melalui keandalan strategi, daya taktis dan performa tinggi yang menempatkan kepemimpinannya pada tataran atas dan depan yang tidak tersaingi. Pemimpin strategos memiliki daya suai tinggi, keteguhan tinggi, kerahasiaan tinggi, kecepatan tinggi,  dengan daya penyelesaiaan tuntas  tinggi, yang menyebabkannya selalu tangguh.
  6. 7. PEMIMPIN KOMPETEN DAN KEBERHASILAN KEPEMIMPINAN. Pemimpin kompeten pada akhirnya memiliki kemandirian tinggi. Kemandirian tinggi menjelaskan bahwa pemimpin memiliki jiwa entrepreneur yang menjadikannya unggul. Kemandirian tinggi ini nampak pada pikiran strategisnya yang unggul (memiliki innerwill / visi yang teguh); keberanian menyikapi peluang, mengambil keputusan dan menghadapi menyambut setiap resiko yang timbul; dan kepiawaian merekayasa cara unggul tidak tersaingi dalam menjalankan upaya memimpin mewujudkan outerwill yang tidak dapat diungguli lawan. Pemimpin akan selalu berjiwa energetik, dengan daya revitalisasi dan motivasi yang tinggi. Ia pantang menyerah, dan tetap terfokus serta tepat arah. Pemimpin seperti ini tahu momentum tepat. Ia tahu hal tepat untuk dilakukan. Ia menguasai cara tepat yang diambil. Ia piawai melakukan tindakan tepat yang akan menghasilkan. Ia akan bertindak dengan penuh keyakinan, penuh perhitungan, dan dengan kekuatan penuh untuk mencipta keberhasilan kerja. Ia adalah pemimpin kompeten yang pasti berhasil (Nehemia 2:20).

Apakah Anda memenuhi tolok ukur ini? Selamat membuktikan diri sebagai pemimpin kompeten.

Salam dan doa,

Yakob Tomatala

Rekan sekepemimpinan

Leave a Reply