YT Leadership Foundation





Archive for the ‘Karakter Kepemimpinan’ Category

“….. apapun yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana” (Kejadian 11:6b).

Pengantar

Strategi adalah seni kejenderalan mewujudkan upaya memimpin unggul menyikapi ketidakpastian untuk mengeliminasi penghambat dalam membuat keputusan yang benar dan tepat guna memenangkan upaya memimpin. Kepentingan strategi adalah untuk memberi kepastian tindakan hebat tepat apa yang harus diambil oleh Pemimpin menyikapi kondisi penyimpangan. Kondisi persimpangan menunjuk pada adanya ketidakpastian multi dimensi yang harus ditangani Pemimpin mewujudkan upaya memimpin yang unggul. Read the rest of this entry »

Firman Allah:
“… when He saw the multitudes, He was moved with compassion on them” (KJV). “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka” (Matius 9:36).

Pengantar
Pemimpin selalu berada di atas karena kuasa kepemimpinan atau “leadership power” yang ada padanya. Pada dasarmya, kuasa kepemimpinan ditambah dengan faktor lain membuat Pemimpin menjadi “sangat kuat” atau “powerful” yang dapat bersifat positif dan digunakan untuk kebaikan. Read the rest of this entry »

yaktomHUKUM EQUAL RECOMPENCE DALAM KEPEMIMPINAN

“Equal Recompence Law in Leadership”

FALSAFAH DASAR

Falsafah dasar bagi Hukum Equal Recompence berbunyi, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Yesus Kristus – Matius 7:12).
Read the rest of this entry »

hplLANDASAN
“Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mendahului dalam memberi hormat. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah TUHAN” (Roma 12:9-11).

Pengantar
Noccolo Machiavelli mengatakan, “Manusia cenderung memiliki hati yang jahat, karena itu ia harus didekati dengan dua pendekatan. Pertama, Pendekatan Binatang; dan Kedua, Pendekatan Manusia. Pendekatan binatang adalah sikap dan tindakan yang keras. Sedangkan, pendekatan manusia adalah sikap dan tindakan berdasarkan hukum atau aturan. Dalam kaitan dengan kepemimpinan organisasi, orang cenderung mempertahankan kepemimpinannya dengan cara-cara yang dapat digolongkan sebagai “gaya binatang.” Read the rest of this entry »

pembelajar

AJAKAN MENJADI PEMBELAJAR
“Pikullah kuk yang Ku-pasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Matius 11:29; Banding: Matius 5:5; Sefanya 2:3; Mikha 6:8; Amsal 39:23; 22:4; 18:12; 15:33; Mazmur 37:11; Yesaya 50:4). Pengantar Pemimpin sejati adalah Pembelajar. Alasan terpenting dari kebenaran ini ialah bahwa “pekerjaan Pemimpin yang utama adalah berpikir, yang menuntut keharusan belajar.” Read the rest of this entry »

SERVANT LEADERSHIP:

MEMIMPIN SEBAGAI PELAYAN DENGAN MELAYANI[1]

Anak manusia juga datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani dan memberikan nyawanya bagi banyak orang

(Mtius 20:28; Markus 10:45)

Pengantar

Pemimpin akan selalu berada pada tempat atas. Pernyataan tentang Pemimpin sebagai yang akan selalu dan tetap berada di atas atau “the leader will always be at the top” ini menjelaskan bahwa secara prinsip dan kenyataan, tempat Pemimpin akan selalu berada di atas pada puncak kerucut kepemimpinan suatu dan setiap oraganisasi. Tempat Pemimpin yang di atas sebagai “top leader” atau “top executive leader” ini mengandung implikasi bahwa kapan pun dan di mana pun sutu organisasi itu ada, Pemimpin akan selalu berada di atas. Read the rest of this entry »

MEMBAYAR HARGA MENJADI PRIBADI BERBUDI LUHUR:

DENGAN INTEGRITAS, PENGHORMATAN DAN PENATALAYANAN YANG MEMBUMI

Person of Integrity, Respect and Servanthood Stewardship

….. orang yang berbudi luhur merancang hal-hal yang luhur, dan ia selalu bertindak demikian

(Amsal 13:20a).

Pengantar

Seorang pribadi yang luhur, akan selalu menampakkan keluhurannya melalui “pikiran, sikap, kata dan perbuatan.” Pikiran, sikap, kata dan perbuatan dari pribadi yang luhur mengandaikan bahwa pribadi di maksud membangun dirinya di dalam kebenaran, di mana Sabda mengatakan bahwa: “Di mana ada kebenaran, di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya” (Yesaya 32:17). Read the rest of this entry »

Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” (Filipi 4:8; banding Yehezkiel 18:5).

PENGANTAR

Telah diuraikan sebelumnya[1] bahwa istilah integritas yang digunakan selama ini berasal dari kata “integrity” (Latin integritas < integer) yang berarti ‘tidak tersentuh’ (untouched), atau ‘menyeluruh’ (whole) atau keseluruhan (entire). Read the rest of this entry »

 “Dengan keadilan seorang raja menegakkan negerinya” (Amsal 29:4a)

 Pengantar

Judul pembahasan “Pemimpin Sejati Membuktikan Diri sebagai Sejati” kelihatannya paradoks karena menggandaikan bahwa ada pemimpin yang sejati dan ada pemimpimpin yang tidak sejati.

Dari sini dapat dikatakan bahwa sejatinya, Pemimpin itu Sejati, namun ada gejala di mana pemimpin tidak dapat membuktikan diri sebagai pemimpin sejati. Melihat gejala ini, kini timbul pertanyaan, apa sesungguhnya makna pemimpin sejati itu, dan apa pula indikatornya? Menjawab pertanyaan ini, perlulah diawali dari penegasan makna pemimpin sejati itu. Read the rest of this entry »

Lihatlah, Aku menjadikan segala seuatu baru” (Wahyu 21:5)

 PENGANTAR

Dunia di mana kita berada ditandai dengan perubahan yang sangat pesat serta dahsyat. Perubahan yang terjadi menyentuh seluruh segi dan aspek kehidupan dari semua kelompok orang di segala penjuru, termasuk kita sebagai bagian dari komunitas makro. Gagasan perubahan ini dilukiskanoleh Alvin dan Heidy Toffler dengan menggambarkan bagaimana peradaban dunia mengalami perubahan yang berkembang dalam tiga tahap. Pertama, dunia dengan peradaban pertanian (disimbolkan dengan pacul) memakan waktu sekitar tiga ribu tahun; Read the rest of this entry »