YT Leadership Foundation





contemplation_qrtlysp09Pengantar

Kontemplasi adalah “kekuatan imajinasi dengan kejernihan berpikir (berpikir dengan nalar bersih) dan kecerdasan otak (berpikir kritis, kreatif, inovatif) dalam mencari rahasia setiap substansi yang terbesit dari hasrat tersembunyi. Kontemplasi berawal dari berpikir bersih dan bercerdas otak melahirkan dinamika hasrat melalui kekuatan imajinasi.

Imajinasi adalah kreasi kecerdasan berpikir dengan penggunaan otak sebagai daya cipta mengkongkritkan gagasan dari hasrat tersembunyi. Imajinasi dalam hal ini adalah proses mewujudkan hasrat melalui kekuatan otak dengan nalar bersih dan kecerdasan  berpikir guna melahirkan daya cipta menjadi kenyataan faktuil dalam bentuk karya besar. Imajinasi melahirkan temuan hasrat menjadi “ada” sebagai suatu kenyataan, yang adalah dasar bagi karya besar yang konkrit

PROSES KONTEMPLASI
1. Nalar kritis menggali fakta hasrat tersembunyi
2. Imajinasi kritis mengkristal nalar dari hasrat secara kreatif
3. Asosiasi bebas penalaran menyentuh semua aspek secara inovatif menghadirkan temuan hasrat
4. Menetapkan temuan hasrat secara asertif menjadi “realitas ada”
5. Konstruksi imajinasi membuat sketsa realitas menjadikan yang ada dari temuan hasrat menjadi kenyataan
6. Menghadirkan hasil kenyataan yang ada dari temuan hasrat melalui tindakan nyata dengan karya besar
7. Menghadirkan ketrampilan dan kecerdasan untuk mengisi kehidupan dengan karya nyata

CARA BERKONTEMPLASI
1. Berimajinasi kritis-kreatif dengan membersihkan pikiran dan menyalakan kekuatan otak secara inovatif menggali hasrat batin dengan
pertanyaan-pertanyaan
2. Merasuk otak dengan hasrat batin melahirkan realitas “ada” secara asertif menjawab rentetan pertanyaan yang dilakukan
3. Mencipta realitas ada dari hasrat batin dalam suatu sketsa memproduksi kenyataan sebagai kekuatan memecahkan masalah atau menemukan hal baru dengan
jawaban tuntas
4. Mewujudkan sketsa melalui suatu perencanaan kerja yang matang untuk mengerjakan rencana “yang ada”
5. Memfokuskan upaya dengan kerja keras menghasilkan kenyataan dari “hasrat yang ada,” berbentuk karya besar didukung etos kerja, disiplin dan
motivasi serta keyakinan dan  optimisme tinggi kepada kualitas produk (Referensi: Abdul Waid, “Menguak Rahasia Cara Belajar Orang Yahudi.” Jogyakarta: Diva Press, 2014).

Leave a Reply