YT Leadership Foundation





Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekejaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di depan orang hina ” (Amsal 22:29).

PENGANTAR

Ada pernyataan menarik, “jangan mengharapkan bahwa sesuatu akan terjadi apabila Anda tidak melakukan apa pun.” Kalau begitu, dengan tidak melakukan apa-apa, tidak ada apa-apa yang terjadi. Dan dapat juga dikatakan bahwa, dengan tidak melakukan apa-apa maka sesuatu sedang terjadi, yaitu, tidak terjadi apa-apa. Pernyataan di atas menyiratkan kebenaran bahwa “ada tempat bagi kerja, ada waktu bagi kerja, ada peran bagi kerja, ada guna bagi kerja.” Di sini dapat ditegaskan bahwa dengan bekerja sajalah maka Anda akan melihat ada sesuatu yang terjadi. Sesuatu yang terjadi ini dapat berupa proses, mulai berjalanberakhir dan produk dari kerja, yang dapat dilihat serta dipahami dari berbagai sudut pandang. Dalam kaitan dengan kepemimpinan, kerja bagi pemimpin adalah “upaya memimpin” (leading attempt). Upaya memimpin ini merupakan tugas dan peran penting yang harus dilaksanakan oleh setiap pemimpin. Pemimpin yang melaksanakan upaya memimpin berati ia sedang bekerja dengan memimpin. Dalam hubungan dengan upaya memimpin ini, pemimpin yang memimpin berpikir, bersikap berkata dan bertindak sebagai pemimpin, karena memimpin adalah kerjanya pemimpin.

Pemimpin dalam hal ini harus membuktikan keandalan memimpin dengan upaya memimpin optimal (optimum leading attempt) melalui tindakan atau pekerjaan memimpin yang tangguh. Dari sudut pandang yang sangat khusus, pemimpin yang melaksanakan upaya memimpin berarti ia memanejemeni SDM dan semua sumber dengan efektif, efisien, sehat dan produktif. Memimpin dalam perspektif ini berarti pemimpin memasuki kawasan manajemen, memimpin dengan memanajemeni yang terfokus kepada pencapaian tujuan organisasi. Upaya memimpin ini dibangun di atas sinergi dan simultanitas kerja unggul yang terfokus kepada kepada hasil besar, yang mengantar organisasinya ke arah keberhasilan besar. Upaya memimpin seperti ini dibangun di atas strategi, taktik dan pendekatan kepemimpinan yang kuat, yang kadar kompetitifnya tinggi. Dalam kaitan ini, pemimpin yang berhasrat untuk melaksanakan upaya memimpin berkualitas yang optimal, haruslah memimpin dengan pendekatan yang dinamis, komprehensif dan progresif. Memimpin dari sudut pandang ini berarti pemimpin sedang dan terus berupaya menempatkan diri serta organisasinya untuk tetap  berada di depan dalam percaturan lokal, regional, nasional mau pun global. Inilah indikator utama dari pemimpin yang tahu bekerja dengan melaksanakan upaya memimpin yang berkualitas.

  1. MAKNA UPAYA MEMIMPIN. Apa sesungguhnya makna dari upaya memimpin atau leading attempt itu? Upaya memimpin dapat dipadankan dengan actuating, atau “mengaktualisasikan pekerjaan memimpin.” Actuating di sini menjelaskan tentang pemimpin yang sedang berinisiasi, bergerak, menggerakkan, mengarahkan, mendukung, mengawasi dan mempertahankan dinamika kepemimpinan melalui memimpin. Memimpin dalam kaitan ini berarti pemimpin “bekerja sama, memenuhi kebutuhan, mempengaruhi, merangkum menyampaikan perintah (berkomunikasi), membangun peta masa depan organisasi (menyiapkan perencanaan strategis) dan menggunakan semua sumber.”  Upaya memimpin di sini juga berarti pemimpin memanajemeni atau mengelola kepemimpinannya yang menyentuh peran koordinasi (mengkoordinasi), perencanaan (merencanakan), pengorganisasian (mengorganisasikan), memimpin (actuating) dan mengawasi (supervising, evaluating, refining). Memanajemeni secara khusus di sini berarti mengelola hubungan kemanusiaan guna mewujudkan kerja kepemimpinan. Makna dari memanejemeni hubungan kemanusiaan ini ialah mewujudkan kerja sama melalui “pemenuhan kebutuhan, mempengaruhi secara terencana, berkomunikasi, dalam melaksanakan tugas berdasarkan perencanaan strategis membawa organisasi memasuki masa depan melalui penggunaan semua sumber pendukung.” Sumber-sumber itu adalah antara lain, men (manusia), machine (teknologi), material (materi atau bahan-bahan), money (uang), market (pasar), methods (metode-metode), moment (waktu), dan management systems (sistem manajemen). Pada sisi lain, upaya memimpin juga berarti influencing, yaitu “mempengaruhi secara terencana” yang diawali dengan menciptakan kondisi kondusif yang bertujuan untuk memberikan peluang dan menggerakkan bawahan, sehingga olehnya pekerjaan terlaksana secara sinergis dan simultan. Upaya memimpin secara padat berarti “pemimpin sedang bekerja dengan memimpin.” Bekerja dengan memimpin berarti pemimpin mengerahkan diri, semua komponen SDM dan sumber-sumber untuk melaksanakan tugas organisasi yang diwujudkan dengan menggunakan metode, strategi dan taktik unggul yang bersasaran membawa keberhasilan dalam seluruh proses kepemimpinan.
  1. UPAYA MEMIMPIN DAN DIRI SENDIRI. Pemimpin yang memimpin harus memastikan hal terpenting, yaitu bahwa ia kompeten bagi upaya memimpin itu. Pemimpin kompeten dalam upaya memimpin berarti ia memenuhi kriteria baik secara formal mau pun profesional serta kepribadian yang olehnya ia dapat bekerja sebagai pemimpin. Bagaimana pemimpin mewujudkan upaya memimpin dengan bekerja sebagai pemimpin itu? Dalam kaitan ini, pemimpin yang bekerja sebagai pemimpin harus mengawali dengan berpikir sebagai pemimpin, bersikap sebagai pemimpin, berkata dan bertindak sebagai pemimpin yang membedakannya dari para bawahan. Berpikir sebagai pemimpin menjelaskan bahwa sang pemimpin harus memikirkan hal besar dan inklusif bagi kepemimpinannya. Bersikap sebagai pemimpin menjelaskan bahwa ia memahami siapa dirinya dan apa perannya. Di sini sang pemimpin tahu sejauh mana serta sebesar apa kuasa kepemimpinan yang ada padanya, serta bagaimana menerapkannya secara bijak dalam kepemimpinan. Berkata sebagai pemimpin berarti pemimpin berbicara sebagai pemimpin dengan berbijak hati, berbijak sikap serta berbijak cara bicara. Bertindak sebagai pemimpin berarti ia melakukan apa pun berdasarkan pertimbangan matang dan keputusan teguh. Dalam mewujudkan upaya memimpin, langkah utama yang harus diambil di sini adalah  sang pemimpin secara sadar mengelola perilaku (behavior) dan pola (style) kepemimpinannya. Di sini pemimpin menggelola behavior dan style-nya yang khas guna memastikan bagaimana ia mempengaruhi, sehingga orang yang dipimpin bergerak secara terencana dengan melaksanakan tugas (task/ duty) berdasarkan kewenangan (authority), hak (privilege), kewajiban (obligation), tanggung  jawab (responsibility), dan pertanggungjawaban (accountability) yang melekat pada setiap tugas yang dipercayakan kepada bawahannya pada semua jenjang dalam struktur organisasi. Pemimpin secara khusus harus mematutkan kuasa kepemimpinan lengkap (complete leadership power, yaitu kemampuan seutuhnya untuk menyebabkan sesuatu terjadi) yang ada padanya sehingga ia dapat melaksanakan upaya memimpin secara pasti dan bertanggung jawab. Dalam kaitan ini, pemimpin haruslah memastikan kompetensi (karakter – integritas tinggi; pengetahuan – kapasitas teguh dan kecakapan – kapabilitas andal) dirinya yang terus berkembang. Pemastian kompetensi dirinya ini bertujuan meneguhkan sang pemimpin, sehingga ia terbukti mampu dan dapat melaksanakan upaya memimpin secara efektif (berkualitas – “do the right thing” – mengerjakan hal benar), efisien (berkuantitas – “do the right thing rightly” – mengerjakan hal benar secara baik), sehat (healthy relations – mewujudkan hubungan sehat yang organisasional dan personal) dan produktif (optimum productivity), sehingga upaya memimpinnya dapat berjalan dengan berhasil, langgeng dan finishing well dalam seluruh proses kepemimpinannya.

  1. UPAYA MEMIMPIN DAN ORANG YANG DIPIMPIN. Dalam melaksanakan upaya memimpin, pemimpin harus memastikan “sikapnya” (attitude) terhadap orang-orang yang ada padanya. Di sini, pemimpin harus membangun sikap positif yang menempatkan semua komponen manusianya (SDM) atau orang yang dipimpin sebagai subyek, yaitu rekan sepenanggung jawaban dan rekan kesewarisan keberhasilan. Sikap dasar yang terpenting dari pemimpin di sini adalah menghargai dan mempercayai orang-orangnya. Menghargai dan mempercayai di sini menjelaskan bahwa pemimpin memperlakukan setiap orangnya secara patut, dengan memberi tempat yang patut serta pas guna mewujudkan kapasitas mereka. Pemimpin dalam kaitan ini haruslah memberikan kredit (pengakuan) kepada kapasitas, cara kerja dan kontribusi mereka secara objektif. Sebagai langkah kongkrit mewujudkan tanggung jawab ini, pemimpin harus mengembangkan bawahannya ke arah kematangan (maturity) yaitu kematangan psikologis (yang olehnya mereka willing to work) dan kematangan kerja (able to do/ perform the job) dalam seluruh proses kepemimpinan. Pengembangan kapasitas bawahan ini dapat dilakukan pemimpin melalui pendekatan modeling, on the job training, mentoring, equipping dan developing, atau pun pelatihan keahlian khusus. Pemimpin juga harus mempercayai bawahannya dengan mempercayakan (mendelegasikan) tugas, kewenangan, hak, kewajiban, tanggung  jawab dan pertanggungjawaban secara sepadan. Kesepadanan ini dibuktikan melalui adanya pemercayaan tugas secara penuh yang diteguhkan melalui tindakan membangun komunikasi, memberikan dukungan (backing), memonitor (monitoring) dan mengawasi secara nyata guna memastikan akan keterlibatan bawahannya secara penuh dalam seluruh proses kepemimpinan.
  1. UPAYA MEMIMPIN DAN SITUASI KEPEMIMPINAN. Dalam mewujudkan kepemimpinannya, pemimpin harus membangun upaya memimpin dengan bertanggung jawab menetapkan dan mencipta situasi kondusif bagi organisasinya. Situasi kondusif ini menyangkut beberapa faktor penting, antara lain., Pertama, Pemimpin harus mencipta atmosfir terbuka yang menyenangkan untuk kerja. Kedua, Pemimpin juga harus menyediakan keluasan cakupan otoritas yang diberikan dan diizinkan bagi setiap bawahan mengikuti pendelegasian yang telah dilakukannya. Ketiga, Pemimpin pun harus mematutkan kondisi organisasi dengan situasi kontekstual dalam lingkungan di mana kepemimpinan dijalankan, sehingga kepemimpinannya dapat berjalan sesuai dengan tuntutan situasi secara menyeluruh. Di sini pemimpin harus memastikan bahwa ia sedang bertanggung jawab merekayasa kondisi organisasi “yang menyenangkan” dengan mencipta situasi kondusif yang mewadahkan pelaksanaan upaya memimpin dalam kepemimpinannya. Indikator penting dari terciptanya situasi kondusif ini ialah bahwa setiap komponen orang mengalami adanya suasana keterbukaan dan keleluasaan bergerak, dan berkreasi serta berinovasi yang dinampakkan dalam sikap serta kinerja yang dinamis. Suasana keterbukaan dan keleluasaan ini memberikan apresiasi, kesenangan serta gairah bagi bawahan untuk bekerja. Bawahan senang karena mereka merasa dipercayai dengan adanya kondisi menyenangkan dan keluasan otoritas yang memungkinkan mereka untuk mengeksplorasi segala kemungkinan dan mengekspresikan kemampuan diri dengan mengerahkan seluruh kemampuan dan kapasitasnya. Para bawahan juga merasa terdukung oleh atasan dengan adanya keleluasaan menggunakan cara kerja khas terbaik dari setiap personel. Keleluasaan otoritas dan cara kerja ini membuka ruang yang mendorong bawahan untuk memberikan partisipasi terbaik dalam mewujudkan sinergi dan simultanitas kerja karena mereka menyadari sepenuhnya bahwa kontribusi mereka dihargai oleh sang pemimpin.

  1. UPAYA MEMIMPIN DAN PELAKSANAAN TUGAS KEPEMIMPINAN. Upaya memimpin sangat berkaitan dengan manajemen, yang merupakan praksis kepemimpinan. Dalam mewujudkan tugas kepemimpinan secara berkualitas, pemimpin harus mengawali dengan meneguhkan paradigma kualitas bagi organisasinya. Paradigma kualitas ini dilakukan dengan menerapkan pendekatan Total Qualitay Management (TQM). Berkaitan dengan ini, pemimpin harus meletakkan dasar-dasar membangun budaya kualitas untuk memanejemeni dengan mengkoordinasi, merencanakan, mengorganisir, memimpin dan mengawasi seluruh pengerjaan tugas dalam proses kepemimpinan. Pemimpin dalam hal ini harus mengawali upaya membangun budaya kualitas dengan menetapkan “falsafah kualitas, konsep kualitas, cara kualitas, perangkat kualitas, proses kualitas, dan produk kualitas yang merupakan kebiasaan unggulan.” Pemimpin dalam mewujudkan budaya kualitas ini harus meneguhkan komitmen seluruh komponen SDM kepada kualitas, disiplin dan performansi tinggi yang dinyatakan secara berkualitas dalam seluruh proses kepemimpinan. Di sini, upaya memimpin sang pemimpin sedang dibangun di atas budaya kualitas seutuhnya, yang mewadahkan kepemimpinan berkualitas. Budaya kualitas ini harus nyata dalam seluruh proses, cara dan produk kepemimpinannya. Pada sisi yang lain, pemimpin yang melaksanakan upaya memimpin sedang memanejemeni dengan performansi tinggi (High Performance Management) yang harus diwujudkan melalui penerapan strategi dan taktik memimpin yang unggul. Pemimpin dalam hal ini harus mewujudkan sikap dan cara memimpin berkualitas. Sikap pemimpin dan cara memimpin berkualitas ini dapat dianalogikan sebagai tanah (tempat berpijak yang kokoh), air (kemurnian, kejernihan dan kelenturan), api (kekuatan dan daya), udara (penyemangat) dan kehampaan (peluang untuk segala kemungkinan).[1] Mewujudkan semua ini, sang pemimpin harus piawai dalam memilih medan untuk bergerak, menggunakan kekuatan kerahasiaan, membuktikan supremasi, mempraktekkan kecepatan gerak dan memberikan tindakkan pungktual yang menentukan.[2] Pemimpin harus membuktikan diri sebagai sangat berkapasitas dalam pikiran, sikap, kata dan tindakan strategis taktis yang jitu serta pas untuk setiap situasi. Dalam hubungan ini, pemimpin harus memastikan bahwa ia sedang mengelola sikapnya sebagai pemenang, dan bersikap seperti nahkoda, maestro, dan panglima pasukan komando yang bergaya strategos taktis sehingga ia akan selalu berada di atas, dan di depan, dalam percaturan, dengan mengerjakan yang terbenar – terbaik, dan berhasil yang membawa keuntungan besar bagi organisasi, staf, bawahan, lingkungan dan diri. Dari hubungan ini, pemimpin harus dapat membuktikan diri bahwa ia adalah seorang strategos taktisian yang andal yang mampu memimpin secara unggul. Pemimpin harus membuktikan diri bahwa ia memiliki sikap percaya diri tinggi, dengan mewujudkan gerakan memimpin terpadu dan tindakan gebrakan kerja yang pasti yang akhirnya menghasilkan sukses yang akan dinikmati banyak pihak. Upaya memimpin yang menghasilkan seperti ini akan membawa pemimpin dan organisasinya pada tempat di mana ia akan memperoleh pengakuan dan penghargaan yang tinggi dari banyak kalangan. Pengakuan ini hanya ada karena sang pemimpin telah membuktikan diri sebagai pemimpin yang kompeten yang telah terbukti dalam seluruh proses upaya memimpin dan produk kepemimpinannya.

IMPLIKASI

Perlu ditegaskan bahwa kepemimpinan, organisasi, para bawahan, proses dan produk dari suatu upaya memimpin membayangi kualitas diri seorang pemimpin. Pemimpin yang berhasrat melaksanakan upaya memimpin secara berkualitas harus mematutkan aspek berikut:

  • Pemimpin harus memastikan bahwa ia telah membangun dirinya menjadi kompeten dengan pembuktian karakter tangguh (ada integritas yang diakui sebagai kredibel), ada pengetahuan teguh (kapasitas yang komprehensif dan khas lebih yang memberi kemampuan berpikir berkualitas), ada kecakapan andal (kapabilitas sosial – hubungan-hubungan dan kapabilitas teknis – yang meneguhkan aspek manajerial dengan kecakapan know how yang andal) yang berkembang dan diimplementasikan secara konsisten di dalam diri pemimpin.
  • Pemimpin secara khusus perlu memastikan bahwa ia mampu dan telah membangun hubungan dengan seluruh unsur manusia secara sehat dan responsif. Hubungan sehat dan responsif ini dibangun di atas sikap penghargaan, kepercayaan dan keterbukaan terhadap kapasitas, cara kerja dan kontribusi setiap unsur SDM dalam tugas yang dipecayakan.
  • Pemimpin harus memastikan bahwa ia telah menyiapkan kondisi kondusif, membangun sistem organisasi menjadi organisasi pembelajar dengan budaya organisasi berkualitas – yang terbukti  efektif, efisien, sehat, dan produktif yang terus dipertahankan secara konsisten melampaui kepemimpinan sekarang, memasuki estafet kepemimpinan masa depan.
  • Pemimpin harus memastikan bahwa ia mengelola sikapnya sebagai pemenang, dan bersikap seperti nahkoda, maestro, dan panglima pasukan komando yang bergaya strategos taktis andal, sehingga ia akan selalu berada di depan, mengerjakan yang terbenar – terbaik, dan berhasil dengan membawa keuntungan besar bagi organisasi, staf, bawahan, lingkungan dan diri.
  • Pemimpin harus dapat membuktikan diri bahwa ia adalah seorang strategos taktisian yang andal dan mampu. Keandalan dan kemampuan ini harus dibuktikan secara konsisten dengan sikap percaya diri tinggi, gerakan terpadu dan tindakkan yang pasti yang diwujudkan melalui gebrakan yang menghasilkan sukses langgeng yang memperoleh pengakuan banyak kalangan dalam seluruh proses dan produk kepemimpinannya.
  • Selamat menjadi pemimpin yang mampu memimpin secara andal yang konsisten.

Catatan:

Sebagai upaya pembelajaran lanjutan, Anda dapat membaca buku-buku: Kepemimpinan Yang Dinamis; Kepemimpinan Kristen; Menjadi Manusia Sukses; Mastering Planning, Pengembangan SDM Pemimpin Kristen,Memimpin Seperti Yesus Kritus., dsb.

Jakarta, Juli 2010

Dr. Yakob Tomatala


[1] Falsafah strategi pedang Jepang, yang dipakai dalam kemiliteran,  bisnis dan bidang strategis lain. Prinsip ini dapat dipakai sebagai sikap taktis strategis dengan moralitas positif, yang dapat diterapkan dalam segala bidang. Falsafah ini dapat dipakai dalam lingkungan Kristen dengan makna dan fungsi yang ditransformasi  sehingga menjadi positif, baik secara etika, moral, sifat, sikap, kata, tindakan, serta cara dan akibatnya.

[2] Falsafah strategi perang Tiongkok klasik yang juga dipakai dalam dunia militer, bisnis dan bidang lain, yang dapat diterapkan sebagai sikap taktis strategis dalam menjalankan upaya memimpin.

Leave a Reply