YT Leadership Foundation





Archive for June, 2010

….. Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya mejadi tebusan bagi banyak orang

(Matius 20:28; Makus 10:45).

PENGANTAR

Memimpin dengan melayani secara umum terlihat sebagai dua hal yang “paradoks.” Betapa tidak, memimpin menjelaskan tentang pemimpin yang posisinya di atas, karena dalam kepemimpinan, tempat pemimpin akan selalu berada di atas. Sedangkan, melayani pada sisi lain, menunjuk kepada tugas pelayan, yang sering dianggap sebagai pekerjaan rendahan. Dari sudut pandang ini, terlihat adanya paradoks yang disinggung di atas. Dari sini orang dapat berkata, “mana mungkin seorang pemimpin memimpin dengan melayani? Pemimpin kan berada di atas, dimana ia dapat melakukan apa saja, termasuk menggunakan tangan besi” (Matius 20:25; Markus 10:42). Namun, dilihat dari perspektif ajaran Yesus Kristus, “memimpin dengan melayani” adalah kebenaran kepemimpinan-Nya yang hakiki, yang memiliki sifat yang “par-excellence” (kepemimpinan terbaik yang tidak ada bandingannya). Memimpin dengan melayani adalah pendekatan falsafah yang menjelaskan tentang suatu kebenaran secara “abiding paradox.”[1] Pendekatan ini menyatakan kebenaran yang terlihat sebagai bertentangan, namun pada dasarnya tidaklah bertentangan karena memiliki makna tersirat.[2] Alasan kuat bagi pemahaman ini ialah bahwa falsafah yang abiding paradox ini sesungguhnya adalah kebenaran yang mengandung makna yang sangat dalam. Kebenaran mengenai pendekatan ini terlihat dalam pernyataan Yesus Kristus yang dapat dipadatkan melalui anak kalimat “memimpin dengan melayani.” Ayo, mari kita maknakan! Read the rest of this entry »


Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak ,….. ” (Amsal 13:20).

PENGANTAR

Manusia telah diciptakan TUHAN Allah untuk memiliki hubungan dengan sesamanya. Hubungan-hubungan ini bersifat pribadi dan sosial. Hubungan ini bersifat pribadi karena itu, harus disikapi untuk diamalkan. Hubungan ini juga bersifat sosial karena beroperasi dalam matriks masyarakat dengan kebudayaan yang unik. Pada aspek yang lebih khusus, hubungan sosial ini berkaitan dengan kerja. Dari perspektif ini, dapat dikatakan bahwa kepemimpinan adalah hubungan, karena kepemimpinan mewadahkan manusia-manusia yang saling berhubungan, yang beroperasi dalam matriks suatu organisasi. Di sini, hubungan-hubunganlah yang memberi indikator kadar kekuatan kepemimpinan yang berkualias dan menghasilkan. Alasan kuat bagi kebenaran ini ialah karena dengan hubungan-hubungan sajalah seorang pemimpin menapaki keberhasilan dalam memimpinnya. Dengan demikian, adalah beralasan untuk menggumuli implikasi kepentingan hubungan-hubungan bagi kepemimpinan yang berkualitas. Diyakini, bahwa olehnya pemimpin akan mampu melaksanakan upaya memimpin yang berkualitas dan berhasil. Selamat berkelana! Read the rest of this entry »