YT Leadership Foundation





“….. akar segala kejahatan ialah cinta uang” (I Timotius 6:10a).

Pengantar

Uang adalah alat tukar (medium of exchange) atau alat transaksi yang telah ditemukan ribuan tahun lamanya.   Fungsi uang yang utama adalah sebagai instrumen ekonomi. Sebagai intrumen ekonomi, uang adalah alat transaksi, di mana dalam proses transaksi nilai uang (satuan hitung) disamakan atau equal dengan barang dan atau jasa dalam setiap transaksi. Sebagai alat tukar atau alat transaksi, uang menyimpan nilai (valuta) di dalam dirinya sendiri. Jika seseorang yang menghendaki untuk memperoleh sesuatu berupa barang mau pun jasa, ia dapat menukarkannya dengan sejumlah uang yang nilainya ditentukan sebagai equal atau sepadan dengan barang atau jasa yang dikehendakinya. Pada sisi lain, uang juga memiliki fungsi turunan.

Fungsi turunan dari uang antara lain, yaitu: “sebagai alat pembayaran yang sah, alat pembayaran utang, alat penimbun kekayaan, alat pemindah kekayaan, dan alat pendorong kegiatan ekonomi, yang sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Di sini terlihat bahwa uang memiliki peran ekonomi yang penting dalam hubungan transaksif ekonomis antar manusia. Namun, mengapa uang disebut sebagai berpengaruh terhadap kehidupan manusia, dan sejauh mana pengaruh uang dari sisi positif mau pun sisi negatif dalam kehidupan manusia itu?

Sebagai jawaban awal, dapat dikatakan bahwa uang dalam nilai intrinsik (nilai bahan) mau pun nilai nominal (nilai tercantum pada mata uang) adalah netral, namun sikap manusia terhadap uang memiliki kecenderungan-kecenderungan yang dapat menjadi keberhasilan atau masalah bagi dirinya sendiri. Hal inilah yang menyebabkan adanya penegasan dalam Firman, “akar segala kejahatan ialah cinta uang” (I Timotius 6:10). Kini timbul pertanyaan yang baru, apa hubungan cinta akan uang dan integritas ekonomi serta sejauh mana hal ini berkaitan dengan kualitas kepemimpinan seorang pemimpin?

 

  1. SIKAP TERHADAP UANG DAN KADAR KUALITAS KEPEMIMPINAN

Telah diuraikan sebelumnya bahwa uang dalam nilainya, baik secara intrinsik mau pun secara nominal adalah netral. Namun sikap terhadap uang akan sangat menentukan bagaimana memperlakukan uang. Sikap terhadap uang dan perlakuan terhadap uang sehubungan dengan fungsinya dapat dilihat dalam bagaimana orang memberlakukan uang. Sikap ini terlihat pada kenyataan, apakah uang dilihat sebagai alat, atau pun apakah uang disikapi sebagai tujuan.

Orang yang memberlakukan uang sebagai alat akan melihatnya sebagai instrumen pencapaian tujuan organisasi. Sedangkan orang yang memberlakukan uang sebagai tujuan akan cenderung mengejar uang, menimbun, dan memperkaya diri. Di sini sangat terlihat bahwa sikap terhadap uanglah yang menggambarkan dan membuktikan harkat diri seorang pemimpin. Kalau ia memberlakukan uang sebagai tujuan, akan terlihat bahwa ia akan cenderung mengelola atau memanajemeni uang secara  gelap. Ada indikator kuat bahwa apabila pemimpin melihat uang sebagai tujuan, akan ada kecenderungan mengejar uang, menimbun uang untuk memperkaya diri dan konsekwensinya akan merugikan lembaga dan orang lain yang ada di bawah kepemimpinannya.

Sedangkan apabila Pemimpin melihat uang sebagai alat, maka ia akan memanajemeninya secara bertanggung jawab dalam mendukung organisasi mencapai tujuan yang telah dicanangkan bersama.  Dalam hubungan inilah, Jitro memberikan Nasehat kepada Musa sewaktu ia dianjurkan untuk merekrut Pemimpin berintegritas, dengan mengatakan, “Pilihlah orang yang benci pengejaran suap” (Keluaran 19:21, Pemimpin yang memiliki integritas ekonomi).

Alasan terpenting dari penegasan TUHAN Allah ini dinyatakan Alkitab yang dengan tegas yang mengatakan bahwa “suap membuat buta mata orang-orang yang melihat” (Keluaran 23:8); suap membuat buta mata orang-orang yang bijaksana” (Ulangan 16:19). Setidaknya, sangatlah terlihat bahwa sikap memberlakukan uang sebagai tujuan menampakkan adanya kebutaan, yang olehnya pemimpin tidak dapat melihat kebenaran dan keadilan serta kehilangan kebijaksanaan.

Dari sini dapat dikatakan, bahwa apabila Pemimpin itu buta karena uang, maka ia cenderung egois, dimana akan terlihat bahwa pikiran, sikap, kata serta tindakannya akan berorientasi kepada “mengejar uang,” matanya berbinar serta silau melihat uang, dan ia kalap. Semuanya ini menggambarkan sikap Pemimpin yang telah tumpul, ditumpulkan oleh “cita uang,” dan menjadi “tumpul terhadap kebenaran dan keadilan.” Alhasil, Pemimpin cenderung tertutup, tidak transparan dan cenderung mencari cara apa saja untuk mengejar dan menimbun uang. Bagi Pemimpin yang dibutakan uang, korupsi menjadi santapan empuk, dan sarapan pagi yang lesat. Dari perspektif integritas, “cita akan uang” yang yang olehnya Pemimpin memberlakukannya sebagai tujuan menyebabkan ia beretika (sikap batin) dan bermoral (ekspresi batin) yang cenderung rendah serta negatif.

Di sini sudah dapat diduga bahwa cinta akan uang membuat kualitas Pemimpin sebagai seorang individu cenderung rendah, karena ia diperhamba oleh uang dan ditaklukkan oleh kekayaan. Akibatnya, Pemimpin meruntuhkan dirinya sendiri, dan menghancurkan kredibilitas dirinya, seperti yang disabdakan TUHAN, “Sungguh, pemerasan membodohkan orang berhikmat dan suap merusak hati” (Pengkhotbah 7:7). Dan lagi, “Siapa loba akan keuntungan gelap, mengacaukan rumah tangganya, tetapi siapa membenci suap akan hidup” (Banding: Yesaya 33:15-16).

Nanti terlihat bahwa Pemimpin yang cinta uang – akan mewarnai pikiran, sikap, kata dan perbuatannya yang tadinya bijak, akan rendah belaka; “kata-katamu yang manis kau sia-siakan” (Amsal 23:8), karena HATI Pemimpin rusak dan dibutakan oleh cinta akan uang. Pengkhotbah secara gamblang mengatakan, “Siapa mencintai uang, tidak akan puas dengan uang dan siapa mencintai kekayaan, tidak akan puas dengan penghasilannya” (Pengkhotbah 5:10). TUHAN Yesus menegaskan “di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Matius 6:21). Hm, apa jadinya dengan Pemimpin yang hatinya seperti ini? Dapat dikatakan bahwa, ini adalah gambaran kualitas Pemimpin yang rendah, yang cinta uang!!!

 

  1. SIKAP TERHADAP UANG DAN KINERJA SERTA KEBERHASILAN KEPEMIMPINAN

Dari uraian di atas, terlihat bahwa konsekwensi sikap Pemimpin yang memberlakukan uang sebagai tujuan adalah bahwa secara pribadi, ia akan buta terhadap kebenaran dan keadilan. Hal-hal yang telah disinggung di atas sesungguhnya memperlihatkan kualitas seorang Pemimpin. Kualitas diri pemimpin seperti inilah yang akan mempengaruhi kinerja kepemimpinannya secara negatif. Kenyataan yang paling terlihat adalah bahwa apabila Pemimpin cinta akan uang, maka ia dengan sendirinya akan terpengaruh untuk melakukan tindakan yang bodoh, salah dan keliru.

Sikap seperti ini akan sangat mempengaruhi kinerja dan hasil kepemimpinannya. Semua sikap dan konsekwensinya ini dapat terjadi karena Pemimpin terbukti tidak takut akan TUHAN (II Tawarikh 19:7). Sikap pemimpin yang tidak takuat akan TUHAN mengakibatkan konsekwensi pengaruh terhadap kinerja dan keberhasilan kepemimpinannya yang dapat dijelaskan dari dua sisi, antara lain yaitu

A. Pemimpin yang cinta uang dan Kinerjanya

Pengaruh sikap Pemimpin yang memberlakukan uang sebagai tujuan akan sangat terlihat dari pikiran, sikap, katra dan perbuatannya yang memberikan indikasi berikut ini.

  1. Pemimpin akan terjebak berbuat kebodohan (Pengkhotbah 7:7); ia dengan sendirinya akan memutarbalikkan kebenaran dan keadilan, ia akan memandang buluh, mengejar laba, memberontak, bersekongkol dengan pencuri, menerima suap, mengejar sogok, memungut bunga uang atau mengambil riba dan merugikan sesama (Ulangan 16:19; I Samuel 8:3; Yesaya 1:23; Yehezkiel 22:12).

  2. Pemimpin seperti ini akan cenderung terjebak pada memutuskan hukum karena suap, memberi pengajaran karena bayaran dan menenung karena uang (Mikha 3:11).

  3. Pemimpin seperti ini akan cekatan berbuat jahat; dapat disuap dan menyuap, memberi putusan sekehandaknya, dan memutarbalikkan hukum (Mikha 7:3; Amsal 17:8, 23).

  4. Pemimpin seperti ini akan cenderung berbuat mesum dan gampang menerima suapan (Mazmur 26:27) dan bersikap munafik (Amsal 17:8).

  5. Pemimpin cenderung menjepit orang benar dan mempersalahkannya (Amos 5:12), membenarkan orang fasik dan memungkiri hak orang benar (Yesaya 5:23).

Akibat dari semua sikap ini adalah bahwa kebenaran serta keadilan akan muncul terbalik atau sungsang yang dengan sendirinya akan berakibat negatif. Akibat negatif ini akan menciderai  jatidiri serta integritas Pemimpin dan kinerjanya yang akan terbukti meresahkan serta merugikan diri sendiri dan orang yang dipimpinnya. Semua kenyataan ini dapat membuat kinerja kepemimpinan sang Pemimpin menjadi lemah, menurun bahkan bisa berujung ambruk.

B. Pemimpin yang cinta uang dan keberhasilannya

Menyimak uraian di atas, sudah dapat diramalkan bahwa sikap Pemimpin yang gagal dalam integritas ekonomi akan membawanya kepada kenyataan berdampak seperi berikut ini.

  1. Pemimpin yang cinta uang akan gagal secara etika dan moral, karena ia tidak dapat menjadi teladan atau model hidup yang benar dalam kepemimpinannya sehingga ia cenderung merusak akhlak orang-orangnya sendiri (I Samuel 8:3; Banding Ibrani 13:7,17).

  2. Pemimpin yang cinta uang dengan sendirinya akan terjebak, dimana sikap dan kinerja buruknya akan gampang terbaca (Nehemia 6:12-13). Sikap dan kinerja buruk Pemimpin yang terbaca seperti ini akan mengoyahkan moral orang-orangnya, sehingga pasti ada yang terpicu untuk meniru, bersikap masa bodoh mau pun menjadi oposan yang mengganggu kepemimpinannya, sehingga menjadi morat-marit.

  3. Pemimpin yang cinta uang dinyatakan Firman Allah sebagai “orang fasik” dimana sudah dipastikan bahwa ia pasti tidak akan berhasil, dan api akan memakan habis kemah-kemah orang yang menerima atau makan suap (Ayub 15:34). Pemimpin yagn cinta uang akan disilapkan, sehingga ia tertipu, karena “Hadiah suapan adalah seperti mestika di mata yang memberinya, ke mana pun juga ia memalingkan muka, ia beruntung” (Amsal 17:8),  yang “disangka lurus, pada hal ujungnya menuju maut” (Amsal 14:2; 16:25).

  4. Pemimpin yang cinta uang disebut terkutuk, karena ia akan terjebak dan bertindak kejam dengan “membunuh orang yang tidak bersalah” (Ulangan 27:25)

  5. Pemimpin yang cinta uang dengan sindirinya akan mengacaukan kepemimpinannya. Ia “tidak tulus dan tidak jujur” serta sedang terjebak karena dirinya sendiri dan pasti tidak akan berhasil dalam upaya memimpinnya (Bilangan 14; Lihat aya 41-42).

Menyimak uraian ini, dapat ditegaskan bahwa Pemimpin yang memimpin dengan sikap cinta uang, akan melanggar dan meremukkan kebenaran dan keadilan. Konsekwensi logis dari sikap ini adalah bahwa Pemimpin menjadi tertipu, ditipu oleh dirinya sendiri. Wajahnya akan buruk terpuruk. Ia pada sisi lain menyangka bahwa ia sedang berhasil, pada hal ia sedang membunuh diri, meruntuhkan diri serta kepemimpinannya. Ngeri!!!

KESIMPULAN

Menyimak balik akan uraian tentang integritas ekonomi seorang pemimpin, sangatlah disadari bahwa TUHAN menghendaki agar setiap pemimpin memimpin dalam kebenaran dan keadilan sehingga ia dapat mewujudkan keberhasilan dalam kepemimpinannya. Indikator keberhasilan ini dapat dilihat dalam kenyataan berikut:

  1. Pemimpin menolak cinta uang, dapat membuktikan diri sebagai Pemimpin yang berbudi luhur, karena ia hidup dalam kebenaran dan keadilan (Yesaya 32:8; Daniel 12:3), sehingga ia sendiri hidup dalam kecukupan dan anugerah TUHAN (Yesaya 33:16-16; Ulangan 28:1-14).

  2. Pemimpin yang menolak cinta uang, akan terbukti dapat membawa shalom dan memberkati orang yang dipimpin dalam kepemimpinannya, karena ia memimpin dalam kebenaran dan keadilan, sehingga ada kedamaian serta sejahtera (Yesaya 32:1-2,17).

  3. Pemimpin yang menolak cinta uang, akan memimpin dalam kebenaran dan keadilan yang olehnya ia akan menikmati berkat penyertaan TUHAN dalam kehidupan serta kepemimpinannya. Penyertaan TUHAN ini adalah jaminan bahwa ia akan terus berhasil serta berhasil dan beruntung dalam melaksanakan upaya memimpin, yang pada gilirannya akan membawa berkat dalam seluruh proses kepemimpinannya (Yesaya 33:15-16; Yosua 1:7-9; Lihat Yusuf dalam Kejadian 39:2-3;23).

Melihat kebenaran tentang integritas ekonomi ini, dapatlah dikatakan bahwa setiap Pemimpin sewajarnya memahami bahwa ia perlu mematutkan sikap terhadap uang dengan memberlakukannya sebagai alat, bukannya tujuaan. Sikap seperti ini hanya akan terwujud apabila sang Pemimpin mengandalkan TUHAN dengan hidup dalam kebenaran dan keadilan, sehingga ia dapat tegak berdiri, berbagi dan memberkati sesama serta orang yang dipimpin dalam sepanjang kinerja kepemimpinannya. Kenyataan ini meneguhkan integritas pemimpin dimana ia dimampukan TUHAN Allah untuk hidup sebagai pemimpin model yang kredibel. Pemimpin yang hidup dalam integritas ekonomi sesungguhnya menyadari bahwa “cinta akan kebenaran dan keadilan adalah akar segala kebaikan”(Kebalikan dari I Timotius 6:10; Bandingkan: Yesaya 32:1-2; 33:15-16), sehigga ia pasti menuai keberhasilan dalam kepemimpinannya sehingga akan ada kesaksian, “Telah nyata kepadaku bahwa TUHAN memberkati aku karena engkau” (Kejadian 30:27). Selamat membuktikan diri sebagai Pemimpin yang memiliki integritas ekonomi.

Jakarta – Solo, 28 Mei 2013

Dr. Yakob Tomatala

Leave a Reply