YT Leadership Foundation





Pengantar

Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi”
(Matius 28:18)

Kuasa atau power adalah istilah yang sofistikasi, yang sering salah dimengerti dan keliru diterapkan dalam kepemimpinan. Alasan untuk ini ialah: Pertama, kuasa sering disamakan dengan kekuatan “dunamus” (walaupun di dalam kuasa ada kekuatan), sehingga artinya menjadi kabur. Kedua, kuasa di artikan sebagai kewenangan (walaupun di dalam kuasa ada kewenangan) secara sempit, sehingga orang sering menyalahgunakannya, khususnya dalam kepemimpinan, dimana pemimpin cenderung bersikap penakut, atau takabur dan bertindak “arogan” (karena berbagai alasan) dalam menjalankan kepemimpinannya.

A. Memahami makna kuasa

Kuasa yang dalam bahasa Yunani-nya ialah exousia, atau power (Inggris), pooir, pouvoir, podir (Perancis), atau potere (Latin) yang berarti to be able, atau used for, berasal dari kata posse, yang terbentuk dari kata potis (able) dan esse (to be). Berdasarkan pengertian dasar ini, kuasa dalam kepemimpinan diartikan sebagai ‘kemampuan seutuhnya untuk menyebabkan sesuatu terjadi.’ Dengan pengertian ini, dapatlah dipahami bahwa tatkala seseorang menjadi pemimpin, maka ia sesungguhnya memiliki, diakui, atau diberikan atau mencipta atau merampas kuasa yang olehnya ia dapat menyebabkan sesuatu terjadi.

B. Kuasa dari perspektif kepemimpinan

Menyoroti pengertian dan lingkup kuasa dari perspektif kepemimpinan, maka kuasa dapat dilihat sekurang-kurangnya dalam tiga aspek. Ketiga aspek itu ialah, kuasa individu, kuasa sosio-kultural, dan kuasa organisasi. Kuasa individu menjelaskan bahwa seseorang yang terlahir sebagai keturunan orang berdarah biru, atau karena perkembangan diri dan pencapaian hidup dan karir, sehingga diakui sebagai memiliki kuasa. Kuasa dari perspektif sosio-kultural menjelaskan bahwa masyarakat telah mendesignasi dan mengakui bahwa dalam suatu posisi sosial ada peran tertentu, yang menunjuk bahwa orang yang ada pada posisi dimaksud memiliki kuasa. Secara organisasi, kuasa kepemimpinan ada pada seseorang yang diakui, diangkat, dipilih, diteguhkan atau diwariskan sebagai pemimpin atau mencipta dan merampas kepemimpinan sehingga seseorang itu menjadi pemimpin. Kuasa di dalam organisasi ini memiliki enam kisi, yaitu: kuasa keahlian (expert power); kuasa penghargaan (referent power); kuasa mengimbali (reward power); kuasa bertindak tegas (coersive power); kuasa resmi (legitimate power); dan kuasa rohani (spiritual power).
Dari perspektif keorganisasian, seseorang menjadi pemimpin (dengan cara; dipilih, diangkat, diwariskan, ditunjuk, atau mecipta atau merampas) ditandai oleh adanya tugas, kewenangan, hak, kewajiban, tanggungjawab dan pertanggungjawaban – yang olehnya ia menjadi pemimpin dan dapat memimpin. Memimpin dalam pengertian ini berarti bahwa pemimpin memiliki kemampuan seutuhnya untuk menyebabkan sesuatu terjadi. Dalam kaitan ini, kepemimpinan dapat disebut sebagai “pengaruh” yaitu kemampuan untuk menggerakkan secara terencana, sehingga “sesuatu dapat terjadi” dalam upaya memimpin yang dilakukan oleh seorang pemimpin.

C. Prinsip penggunaan kuasa dalam kepemimpinan

Dengan adanya kuasa kepemimpinan, seorang pemimpin bukan saja menjadi pemimpin, tetapi juga memiliki kekuatan untuk mempengaruhi (memimpin) yang olehnya ia dapat memimpin dengan menyebabkan sesuatu terjadi secara terencana. Karena itu, dalam penerapan kuasa secara arif, ada beberapa prinsip penting yang harus diperhatikan oleh para pemimpin sejati, yaitu:

1. Dengan kuasa kepemimpinan, pemimpin dapat menyebabkan apa saja terjadi, sehingga tidak ada alasan bagi pemimpin untuk tidak dapat memimpin dengan benar, baik dan berkualitas.
2. Dengan kuasa kepemimpinan, pemimpin seharusnya memimpin dengan bijak untuk membawa kebaikan bagi diri, orang yang dipimpin dan situasi atau lingkungan di mana kepemimpinan dijalankan.
3. Dengan kuasa kepemimpinan, pemimpin seharusnya dapat memimpin dengan berani sebagai “pemimpin sejati yang baik hati” dimana tidak ada alasan bagi pemimpin untuk penakut, membela diri, menindas dan bersikap arogan dalam upaya memimpin.
Selamat menerapkan kuasa kepemimpinan dengan bijaksana.

Penjelasan rinci tentang pokok ini dapat dilihat dalam buku “Kepemimpinan yang Dinamis” atau menghubungi DR. Yakob Tomatala; email: yaktom@centrin.net.id.

Jakarta, Mei 2008

Comments are closed.