PEMIMPIN DAN POLITIK: PENDETA MENJADI POLITISI ATAU POLITISI MENJADI PENDETA

Firman TUHAN Allah:
“…. kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama”
(I Korintus 12:7).

Pengantar

Apakah Pendeta dapat menjadi Politisi? Sebaliknya, apakah Politisi dapat menjadi Pendeta? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas dapat berbeda dari seorang ke orang lainnya.

Namun yang pasti Pendeta pada saat yang sama tidak dapat berperan sebagai Politisi dan Politisi pada saat yang sama tidak mungkin berperan sebagai Pendeta. Dalam upaya menguraikan jawaban atas pertanyaan di atas, maka hal-hal yang perlu ditegaskan adalah antara lain:

PANGGILAN PENDETA SERTA POLITISI

Posisi dan panggilan setiap orang dalam Gereja diulas secara unik di dalam Alkitab. Secara spesifik, Alkitab memberikan ulasan yang unik tentang Gereja yang dianalogikan dengan “tubuh” (I Korintus 12:12-31) di mana setiap organ tubuh merupakan bagian dari tubuh yang satu dan yang sama. Analogi ini menjelaskan bahwa pada tubuh ada organ-organ yang saling berhubungan dan saling bergantung yang terlibat pada satu tubuh yang satu dan yang sama ini.

Organ-organ tubuh merupakan bagian utuh dari tubuh, di mana setiap organ berfungsi dalam tubuh dan bagi tubuh. Analogi tubuh ini menjelaskan bahwa Gereja adalah “Tubuh Kristus” di mana Yesus Kristus adalah kepalanya yang menyatukan dan mempersatukan (I Korintus 12:27; Efesus 4:15-16).

Pada tubuh yang satu ini, ada penyataan Roh yang khas (kharisma Roh yang khusus) bagi setiap anggota yang menegaskan tempat dan peran masing-masing sebagai anggota tubuh.

Berdasarkan kebenaran tentang Gereja dan peran setiap anggota yang ada padanya, kini timbul pertanyaan, “apakah setiap dan semua orang dalam Gereja adalah Pendeta atau Politisi?” Rasul Paulus dengan nada yang mirip, menanyakan “Apakah semua anggota tubuh adalah kaki?” (I Korintus 12:14-29).

Jawabannya tentu tidak. Kaki adalah kaki dan tangan adalah tangan, sama seperti Pendeta adalah Pendeta dan

Politisi adalah Politisi. Mengapa demikian? Jawabannya tidaklah sukar, yaitu tidak mungkin semua orang adalah Pendeta atau semua orang adalah Politisi.

Pendeta dan Politisi memiliki panggilan masing-masing kepada tugas dan peran sebagai Pendeta atau Politisi. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa jika Anda terpanggil sebagai Pendeta, Anda adalah Pendeta, Anda bukan Politisi.

Sebaliknya jika Anda terpanggil sebagai Politisi, Anda adalah Politisi, Anda bukan Pendeta. Secara lebih spesifik dapat ditegaskan tentang perbedaan khas antara panggilan tugas Pendeta dan Politisi sebagai berikut:

Pertama, “Panggilan tugas Pendeta adalah pelayanan rohani yang holistik, di mana Pendeta melayani siapa saja pada bidang apa saja, termasuk melayani para Politisi. Politisi pada sisi lain hanya berkutat pada bidang politik, dan tidak dapat melayani pada bidang rohani, sekali pun Politisi dapat mempengaruhi bahkan memanipulasi para rohaniawan.”

Kedua, “Falsafah, cara atau metode dan pelayanan rohani sangatlah berbeda dengan bidang politik sehingga mencipta paradigma dan perspektif yang berbeda. Kebenaran ini terlihat pada kenyataan bahwa jika Pendeta berpolitik dengan cara Pendeta maka ia merusak diri dan menghancurkan gereja. Sebaliknya jika Politisi campur tangan dalam urusan Gereja maka ia akan bergaya politik dan merusak diri bahkan Gereja.”

Ketiga, “Visi, tujuan, sasaran, dan fokus serta isi pekerjaan rohani dan politik berbeda sejauh Timur dari Barat. Dapat diduga bahwa jika Pendeta menjadi Politisi maka akibatnya sudah dapat diramal atau Politisi menjadi Pendeta maka sudah dapat ditebak bahwa ia akan bergaya politisi dalam pelayanan rohani yang olehnya sudah dapat diduga akibat yang ditimbulkannya.

Dalam hal ini dapat ditegaskan bahwa panggilan sebagai Pendeta adalah untuk menjadi Pendeta dan panggilan sebagai Politisi adalah untuk menjadi Politisi, tidak dapat ditukar atau dibarter, hanya dapat dimanipulasi jika mau.

TEMPAT DAN PERAN PENDETA SERTA POLITISI

Telah ditegaskan di atas bahwa Pendeta adalah Pendeta dan Politisi adalah Politisi berdasarkan panggilan yang unik berbeda. Dalam kaitan ini, perlulah disadari bahwa panggilan tugas Pendeta dan panggilan tugas Politisi adalah sangat berbeda, yang dilengkapi dengan falsafah serta peran tugas atau pekerjaan yang juga berbeda.

Semua orang tahu bahwa untuk menjadi Pendeta, setiap orang harus terpanggil untuk peran tugas Pendeta, di mana untuk melengkapi kapasitas dasarnya, mereka yang terpanggil sebagai Pendeta harus belajar pada Sekolah Alkitab atau Sekolah Teologi, bukan Sekolah Politik.

Sebaliknya, setiap orang yang terpanggil menjadi Politisi harus belajar di Sekolah Politik, bukan di Sekolah Alkitab. Alasan mendasarnya adalah Teologi dan Politik adalah dua bidang kerja yang berbeda dengan panggilan serta fungsi yang unik berbeda. Dalam kaitan ini, jika seorang Pendeta berkata saya memiliki kapasitas menjadi politisi, maka ia sedang menganggap bahwa ia mahabisa.

Dari sini sudah dapat diduga bahwa akan terjadi “campur aduk kepentingan rohani dan politik” yang cenderung membawa kebingungan. Akibatnya sudah terlihat. Dengan demikian, apabila seorang Pendeta berhasrat menjadi politisi, maka ada beberapa pertanyaan mendasar yang perlu dicamkan serta dijawab, antara lain:

Pertama, “Ia harus membersihkan motivasinya dan bertanya, ‘apalah ia terpanggil’ menjadi Politisi.” Panggilan menjadi politisi ini meneguhkan visi, otoritas diri dan komitmen untuk mengabdi sebagai Politisi Kristen.

Kedua, “Apakah ia memahami bahwa menjadi politisi itu berbeda dengan menjadi seorang Pendeta?” Pemahaman ini membuat ia siap membayar harga dan keputusan serta menanggung konsekwensi berpindah dari pelayanan Pendeta menjadi Politisi.

Ketiga, “Apakah ia yakin akan kompetensi dirinya untuk menjadi Politisi?” Keyakinan akan kompetensi dirinya memberi kekuatan untuk bertahan dalam pengabdian sebagai Politisi.

Keempat, “Apakah ia siap berkorban dengan mengorbankan dirinya bagi kepentingan banyak orang, atau ia nanti mencuci tangan dan mengorbankan orang lain demi ambisinya?”

Kelima, “Apakah ia siap menaati norma-norma
politik tanpa mengorbankan norma Alkitab?”

Keenam, “Apakah ia didukung oleh keluarga dan siap menanggung risiko sebagai Keluarga?

Ketujuh, “Apakah ia bersedia tidak menunggangi dan tidak mengorbankan gereja demi kepentingan politik?”

Kedelapan, “Apakah ia mengerti bahwa dengan berpindah ke karir politik ia telah mengorbankan karir Pendeta yang dibina sejak muda?”

Kesembilan, “Apakah ia siap menaati norma dan ketentuan gereja dan tidak mengganggu kepentingan Kristen demi karir politik?”

Kesepuluh, “Apakah ia siap menaati norma dan ketentuan politik tanpa mengorbankan prinsip Kristen yang dianutnya dengan tidak berkompromi?”

Pertanyaan-pertanyaan ini adalah upaya untuk memastikan bahwa jika seseorang Pendeta berhasrat menjadi Politisi, maka harus mengerti bahwa hasratnya berisiko yang harus ditanggungnya.

REFLEKSI

TUHAN telah mengaruniakan talenta yang unik dan berbeda kepada setiap orang Kristen untuk melayani demi kepentingan bersama.

Panggilan dan talenta sebagai Pendeta atau Politisi sama-sama berguna di dalam membangun gereja sebagai tubuh Kristus. Karena itu, para Pendeta harus melengkapi semua anggota bagi tugas pelayanan termasuk para Politisi.

Pendeta haruslah secara terencana mendorong anggota yang terpanggil dalam bidang politik untuk mengabdi bagi kepentingan bangsa dan negara.

Pendeta juga harus mendorong para anggota untuk taat berpolitik sebagai warga negara dan menghindari sikap partisan politik yang memecah belah gereja. Dengan demikian, beberapa pertimbamgan yang perlu dikedepankan adalah:

Pertama, “Jadilah Pendeta atau Politisi sesuai panggilan masing-masing guna membela kepentingan besama sebagai bagian dari tanggung jawab panggilan gereja.

Kedua, “Janganlah berpindah karir jika tidak ada visi dan panggilan khusus.”

Ketiga, “Jadilah Pendeta yang taat azas pelayanan, dan jadilah Politisi yang taat azas politik.”

Keempat, “Jadilah Pendeta atau Politisi untuk membela kehidupan banyak orang, bukan mencari hidup dan keuntungan diri sendiri.”

Kelima, “Jadilah Pendeta dan jadilah Politisi yang hidup serta matinya adalah untuk kemuliaan TUHAN Allah” (Roma 11:36). Kiranya!

Salam Kepemimpinan
www.yakobtomatala.com

Comments (0)
Add Comment