MENCARI TUHAN

Firman Allah:
“Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui, …”
(Yesaya 56:6a).

Pengantar
Mencari TUHAN sering didorong oleh masalah dalam kehidupan. Mencari seperti ini bisa beranjak dari motif yang keliru, yang sukar disadari. Namun, kenyataannya ialah bahwa apa pun terjadi dalam hidup, itu adalah karena TUHAN Allah menghendaki kita “menjadi” sesuai kehendak-Nya.

MENCARI DAN MENJADI

Perlulah disadari bahwa pengalaman sukar dalam hidup adalah cara TUHAN mencari untuk menjadikan kita sesuai tencana-Nya. Alasan utamanya ialah “Karena Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia” (Roma 8:28a).

Berdasarkan kebemaran ini, jika kita merasa gagal, ini adalah dasar untuk berbalik untuk menjadi. Di sini, “Menjadi lebih penting dari pada mencari. Mencari seperti tidak memerdulikan motif, memberi bisa dilakukan walau hati tidak sudi, mencari bisa mendapat walau dengan hati curang.”

Sedangkan menjadi yang dihasratkan TUHAN bagi kita di sini melibatkan harkat yang menyentuh motif dan sikap hati yang harus selaras dengan kehendak Allah. Dengan demikian menjadi seperti yang dikehendaki Allah diawali dari pengalaman TUHAN (dalam segala cara dan bentuk) yang membaharui hidup, di mana tatkala kita memberi diri kepada-Nya maka ini adalah sikap sukarela untuk “mengalami yang menjadi” yang sesuai rencana Allah.

MENCARI DAN MENGALAMI TUHAN Berdasarkan uraian sebelumnya, dapat dikatakan bahwa “Mencari yang mengalami TUHAN bukanlah suatu pelarian, tetapi dari hati yang tulus yang sedianya memerlukan Allah.”

Mencari seperti ini ditopang oleh keberanian melihat ke dalam jiwa sendiri yang karenanya ada pembaruan kesadaran diri akan ketidak berdayaan untuk bergantung pada diri sendiri.

Kesadaran ini mendorong hasrat mencari Allah dengan segenap hati sehingga ada pengalaman TUHAN yang bersinambung. Pengalaman TUHAN inilah yang memberikan nilai tambah bagi diri untuk terus menjadi yang terbaik dari dan bagi Allah.

Nilai tambah seperti ini akan meneguhkan diri sehingga akan menjadi pencari dan penemu TUHAN yang mengalami Dia serta menjadi seperti yang dikehendaki-Nya dalam menyiarahi pengembaraan hidup.

MENJADI YANG SEJATI
Menjadi pada sisi lain harus diisi dengan penuh kesadaran karena dapat menjadi jerat narkisme yang egois. Menjadi yang narkistis dapat terjadi karena “menjadi berarti kepenuhan hidup yang di atas dan yang besar.”

Menjadi yang di atas dan yang besar dapat membuat orang lupa diri dan lupa tempat pijakan, sehingga ia terjebak keangkuhan dan keserakahan. Keangkuhan dan keserakahan membuat orang memandang serta menempatkan yang lain di bawah, sehingga dapat dijadikan alas pijakan.

Keserakahan membuat orang mengumpulkan apa saja termasuk yang tidak diperlukannya, sehingga menjadi pemboros yang tidak berguna bagi diri dan orang lain.

Karena itu, menjadi yang menjadi, sejatinya menjadi bagi orang lain sehingga terus menjadi yang besar tanpa terjebak mengecilkan dan menjadi yang di atas dengan tidak mengataskan diri dan memijak kepala orang lain. Inilah menjadi yang sejati dengan mencari Dia yang membuat menjadi yang adalah penjadi sejati, pemberi berkat kepada sesama. Kiranya …

Sebuah Perenungan
29 Desember 2013
www.yakobtomatala.com

Comments (0)
Add Comment