PEMIMPIN SEJATI MEMBUKTIKAN DIRI SEBAGAI SEJATI

 “Dengan keadilan seorang raja menegakkan negerinya” (Amsal 29:4a)

 Pengantar

Judul pembahasan “Pemimpin Sejati Membuktikan Diri sebagai Sejati” kelihatannya paradoks karena menggandaikan bahwa ada pemimpin yang sejati dan ada pemimpimpin yang tidak sejati.

Dari sini dapat dikatakan bahwa sejatinya, Pemimpin itu Sejati, namun ada gejala di mana pemimpin tidak dapat membuktikan diri sebagai pemimpin sejati. Melihat gejala ini, kini timbul pertanyaan, apa sesungguhnya makna pemimpin sejati itu, dan apa pula indikatornya? Menjawab pertanyaan ini, perlulah diawali dari penegasan makna pemimpin sejati itu.

Pemimpin sejati adalah pemimpin yang tahu dan menyadari bahwa “ia di panggil TUHAN sebagai Pemimpin, yang diwujudkan dengan membuktikan diri sebagai pemimpin yang menjalankan tugas (task), kewenangan (authority), hak (right/ privilege), kewajiban (obligation), tanggung jawab (responsibility) dan pertanggungjawaban (accoutability) kepemimpinan dengan benar (efektif), baik (efisien) dan sehat (hubungan-hubungan kerja, sosial internal dan bisnis, sosial eksternal yang kondusif), sehingga membawa keuntungan bagi pemimpin, bawahan, organisasi dan lingkungan di mana kepemimpinan dijalankan.“ Pemimpin sejati yang dipanggil TUHAN ini diteguhkan-Nya dengan kompetensi tinggi (yang ditandai oleh integritas karakter, etika dan moral – SQ, kapasitas pengetahuan yang komprehensif dan khas lebih – IQ dan kapabilitas kecakapan sosial,  eknomi/ entrepreneurial, teknis/ manajemen-administratif dalam kerja – ScETQ) untuk memimpin yang didukung visi yang jelas dan kepiawaian merencanakan dan melaksanakan upaya memimpin (mengimpartasi pengaruh dengan menggerakkan) secara strategis taktis yang membawa keberhasilan (sukses)  dalam kepemimpinan bagi banyak pihak. Melihat uraian di atas tentang makna kepemimpinan sejati,  maka  indikator pemimpin sejati yang membuktikan diri sebagai sejati, yang dapat dilihat dari aspek berikut ini:

 

  1. Pemimpin sejati membuktikan diri sebagai sejati dengan menyadari panggilannya untuk menjadi pemimpin rohani (Yohanes 3:27;  Yeremia 1:5; Yesaya 49:1b; Roma 12:8c), yang diwujudkannya secara konsisten. Dari perspektif rohani, pemimpin menyadari panggilan TUHAN, di mana dalam hal ini ia selalu sadar bahwa karena anugerah TUHAN, ia dipercayakan Allah menjadi pemimpin. Dari perspektif pribadi, pemimpin hidup dalam kesadaran bahwa menjadi pemimpin baginya adalah penghargaan yang harus dihargainya secara tulus. Dari perpektif sosial, ia sadar bahwa ia diberikan penghargaan oleh orang-orang di sekitarnya untuk menjadi pemimpin. Dari perspektif kepemimpinan, ia diberikan kuasa (leadership power) untuk memimpin (mengatur, memerintah, menggunakan fasilitas, dan berkuasa atas orang lain). Dari perspektif bawahan, mereka menggantungkan kepercayaan, harapan hidup, masa depan dan kehidupan mereka kepadanya.   Dari perspektif umum, ia dianggap kompeten sebagai pemimpin bagi organisasinya dan menerima hormat kepemimpinan dari masyarakat.  Kalau ternyata seorang pemimpin berada dalam situasi membelakangi prinsip ini, ia sedang menandakan diri sebagai tidak sejati, karena selusin alasan karena ……; yang ditandakannya.
  2. Pemimpin sejati adalah dia yang menyadari diri bahwa panggilan TUHAN Allah baginya, adalah kekuatan untuk menjadi kompeten. Menjadi kompeten akan terbukti dengan adanya spiritualitas etika, moral dan tindakan yang memper lihatkan adanya integritas karakter, sebagai sisi pertama (SQ). Integritas ini meneguhkan pemimpin, di mana ia diakui sebagai baik, benar, jujur, adil, setia, teguh, tabah, tekun, yang singkatnya menampakkan ketahanan dan kedewasaannya.[1] Kompetensi pemimpin sejati akan terlihat pada kapasitas dirinya yang terlihat pada kadar berpikir (komprehensif), isi berpikir (khas lebih), cara berpikir, sikap dan tindakan yang positif, proaktif, antisipatif, asertis, kritis, inovatif, praktis dan dinamis (pragmatis). Kapasitas pemimpin ini akan terlihat pada pengendalian diri, sikap dewasa dan tindakan yang bermartabat.  Kompetensi pemimpin pun akan nampak  pada kapabilitas (keandalan bertindak melakukan tugas atau pekerjaan) pemimpin dari sisi sosial (hubungan sehat dalam kerja dan hubungan sosial – ScQ), keandalan dari sisi ekonomi dan entrepreneurial (EQ), keandalan kerja (TQ) menjalankan tugas secara manajerial dan administratif. Pemimpin yang mendapati dirinya kurang dari ini, akan menampakkan ketidaksejatian yang akan menurunkan kualitas kepemimpinannya, sehingga ia terlihat sebagai pemimpin yang tidak sejati.
  3. Pemimpin sejati meneguhkan diri bahwa ia adalah pemimpin dengan menjadi dan melaksanakan tugas,  kewenangan, hak, kewajiban, tanggung jawab dan pertanggungjawaban dengan benar, baik dan sehat. Dalam hal ini, pemimpin sadar bahwa menjadi pemimpin baginya adalah tugas penting yang harus dilakukan dari hati, berlandaskan kasih dan dengan kekuatan kebenaran dan kebaikan.[2] Pemimpin yang sejati dengan ini memahami tugasnya sebagai pemimpin yang dilakukannya sebagai pemimpin.[3] Pemimpin berpikir, bersikap dan bertindak sebagai pemimpin yang kualitasnya nampak dalam efektivitas, efisiensi dan kesehatan kepemimpinannya. Ujung dari sikap, cara dan tindakan pemimpin seperti ini adalah membawa kebaikan bagi dirinya, bagi orang yang dipimpin, bagi organisasi dan bagi lingkungan sosial di mana ia menjalankan kepemimpinannya.  Kebenaran dari prinsip ini ialah bahwa akan ada konfirmasi dan afirmasi dari banyak orang bahwa pemimpin telah membuktikan diri sebagai andal dengan berbagi kemanfaatan kepemimpinan, yaitu sukses yang dinikmati bersama. Pemimpin yang membelakangi prinsip ini sedang membuktikan diri sebagai tidak sejati.  Hmm.

 

RANGKUMAN

 

Pemimpin sejati harus secara sadar mengingatkan diri bahwa ia dipanggil TUHAN karena itu, ia harus membuktikan diri, menyadari diri dan meneguhkan diri sebagai pemimpin sejati yang selalu ingat bahwa oleh anugerah TUHAN ia menjadi pemimpin, oleh perkenanan orang ia didukung dan menjadi pemimpin, karena itu ia memiliki tanggung jawab besar untuk “terus menjadi sejati” dengan kebenaran dan kebaikan hati, serta tindakan yang menyenangkan, mengangkat serta membawa keuntungan bagi banyak pihak. Hal ini dapat dilakukan dengan mengingat dan mempertahankan nasihat TUHAN Allah, “Dengan keadilan seorang raja menegakkan negerinya” yaitu meneguhkan integritas diri (hati) dalam pikiran, sikap, kata dan tindakan yang memberkati orang lain, sehingga kesejatian diri sebagai pemimpin terbukti langgeng. Selamat.



[1] Kompetensi akan membawa pemimpin ke atas, ke depan dan menjadi besar, tetapi integritas akan meneguhkan sehingga pemimpin akan terus naik ke atas, maju ke depan dan menjadi besar, namun tidak merendahkan orang, tidak membelakangkan dan tidak membelakangi orang serta tidak membesarkan diri dengan memperkecil orang lain atau membesarkan diri di atas pengecilan dan perendahan orang lain.

[2] Konsep ini tertuang dalam buku karya Y. Tomatala, “Par-excellence Leadership: Memimpin Seperti Yesus Kristus.”

[3] Tugas pemimpin sebagai pemimpin berbeda dengan tugas non-pemimpin. Tugas utama pemimpin adalah “berpikir sebagai pemimpin dan memanajemeni tugasnya dengan memanajemeni, serta menyentuh level manajerial,” di mana tugas lain melewati batas ini adalah tugas non-pemimpin.

Pemimpin Sejati
Comments (2)
Add Comment
  • Ester Waruwu

    syallom pak dan selamat siang.
    pak saya mau bertanya bagaimana dengan Yohanes pasal 13:4-17 pak? apakah di situ Yesus sebagai pemimpin sejati atau Dia seorang hamba? tolong pak di jelaskan. terima kasih Tuhan Yesus memberkati.

    salam Ester waruwu

  • Yakob Tomatala

    Shalom Ester:

    Dalam Kepemimpinan, ada tiga unsur dasar, yaitu: Pemimpin (Leader),Orang-orang yang dipimpin (Followers) dan situasi kepemimpinan (Leadership Situations). Ketiga unsur inilah yang menjadikan kepemipinan itu ada (Baca buku: Kepemipinan yang Dinamis). Dalam tataran ini, Yesus Kristus adalah Pemimpin, di mana dalam kepemimpinan, IA menerapkan gaya “Kepemimpinan Pelayan Hamba” yang memiliki kekuatan memimpin dari bawa ke atas (bottom up) – atas ke bawah (top down). Gaya kepemimpinan ini dinampakan dengan falsafah “kain lenan dan basi” (handuk dan baskom) sehingga kepemimpinan-Nya adalah memimpin dengan melayani, sebagai model terbaik. Terimakasih

    Salam doa,
    Bapa Yakob Tomatala