TUJUH AKSIOMA PEMIMPIN AUTENTIK


Orang yang hidup dalam kebenaran, ….. dialah sperti orang yang tinggal di tempat aman di tempat-tempat  tinggi, ” (Yesaya 33:15-16; daniel 12:3).

Tujuh aksioma kepemimpinan autentik adalah the non-negotiable principles yang harus dipahami dan ada pada seorang pemimpin guna menopangnya mewujudkan kepemimpinan yang sejati. Faktor pemimpin adalah wajib ada dalam kepemimpinan, dimana aksioma ini menempatkan 5 hukum  (1-5) yang berkepentingan dengan pemimpin, 1 hukum (6) bekaitan dengan kepentingan hubungan-hubungan, dan 1 hukum (7) berkaitan erat dengan pelaksanaan tugas kepemimpinan.

  1. PANGGILAN KEPEMIMPINAN. Pemimpin harus dengan rendah hati menerima dan memegang keyakinan kuat bahwa ia dipanggil serta terpanggil TUHAN Allah (leadership calling) untuk masuk ke dalam tugas kepemimpinan yang pasti (Yeremia 1:5), yang diteguhkan dengan kuasa kepemimpinan (leadership power) yang pasti, serta visi, misi, dan fokus yang pasti, guna mengambil tanggungjawab kepemimpinan yang pasti. Keyakinan ini harus didukung oleh pemahaman bahwa sebagai pemimpin, ia dipanggil TUHAN Allah untuk terlibat dalam kepemimpinan (Markus 10:41-42). Pemimpin harus dapat berkata: “Saya yakin TUHAN memanggil dan menempatkan saya dalam tugas kepemimpinan ini, IA memberikan potensi tinggi kepada saya, untuk menjalankan kepemimpinan dengan benar, baik, dan sehat mewujudkan sukses sejati.”
  2. KOMPETENSI KEPEMIMPINAN. Pemimpin harus memiliki serta membuktikan kompetensi kepemimpinan yang tinggi dengan integritas (Formasi Rohani – Etika – moral yang benar dan baik, jujur, tulus, setia, taat, disiplin, komital); kapasitas (Formasi Pelayanan – Pengetahuan komprehensif dan khas lebih); dan kapabilitas (Formasi Strategis – kecakapan sosial/ hubungan baik-kondusif-meluas dan kecakapan teknis/ manajerial yang tangguh), yang menopang dirinya sebagai pemimpin yang andal, berwibawa, dan cakap yang dapat memimpin dengan benar, baik dan produktif. Pemimpin seperti ini adalah pembelajar sejati dengan postur belajar sepanjang hidup yang membuatnya terus berkembang dan mampu menjadikan oraganisasinya sebagai organisasi pembelajar, yang memiliki budaya kualitas yang terbuka, progresif dengan penyesuaian diri yang tinggi menanggapi perubahan serta menyiasati tantangan, menggapai peluang, mencipta tekad serta upaya memimpin yang berhasil. Di sini pemimpin harus mampu menegaskan: “Saya yakin akan potensi pemberian TUHAN kepada saya untuk memimpin dengan berhasil.”
  3. KOMITMEN KEPEMIMPINAN. Pemimpin harus mempertahankan dedikasi dan komitmen teguh kepada TUHAN Allah (setia); kepada Gereja (organisasi) dan kepada tugas (task – duty) dengan komitmen kerja kepada disiplin tangguh (dedicated to self, familyf and disciplines), kualitas total (total quality), dan mengelola dengan kinerja tinggi (high performance management) yang menjamin terwujudnya keberhasilan memimpin yang optimal serta produktif tinggi. Pemimpin harus mempertahankan sikap yang menegaskan: “Saya berdedikasi untuk komitmen tinggi kepada TUHAN, dan komitmen teguh kepada disiplin, kualitas hidup dan kinerja serta performasi tinggi” yang melahirkan keberhasilan.
  4. TANGGUNGJAWAB KEPEMIMPINAN. Pemimpin harus menyadari  akan tanggungjawabnya dan memahami (mengapa ia ada sebagai pemimpin) dan mengetahui (untuk apa ia berada) dengan tugas (task/ duty) – kewenangan (authority) – hak (right/ privilege) – kewajiban (obligation) – tanggungjawab (responsibility) – pertanggung jawaban (accountability) kepemimpinan yang ada padanya, serta memiliki kemampuan serta keandalan dengan visi besar, misi besar dan fokus besar untuk bekerja (tahu bagaimana bekerja efektif – doing the right thing; efisien – doing the right thing rightly; dan sehat – healthy spirit, healthy relarionship) guna memimpin yang membawa keuntungan besar bagi organisasi (bawahan, staf, dan pemimpin) dan lingkungan di mana kepemimpinan dijalankan. Di sini pemimpin harus bertekad kuat mengamalkan tanggungjawab dengan mengelola sikap serta perilaku berkualitas dengan mengatakan: “Saya bertanggungjawab memimpin dengan sasaran berhasil, karena saya mampu memimpin secara berkualitas.”
  5. KEMATANGAN KEPEMIMPINAN. Pemimpin harus mengedepankan kematangan diri yang tinggi sebagai pemimpin berhikmat (yang dewasa yang mampu memanejemeni/ mengelola perilaku/ behaviour serta pola/  style kepemimpinannya). Ia memiliki self esteem tinggi dengan sikap proaktif yang menjadi pemimpin model yang dapat diteladani dalam iman (karakter), tugas (ketaatan – ketekunan) dan pengabdian (benar, baik, setia danberhasil). Ia harus membuktikan diri sebagai pemimpin bertanggungjawab atas tugas,  orang yang dipimpin (staf dan bawahan), serta keberhasilan kepemimpinan. Pemimpin seperti ini memiliki jiwa entrepreneur dengan mental mandiri (pikiran unggul – kreatif, inovatif, asertif, cerdas, cepat, tangguh; keberanian unggul; dengan cara unggul), didukung oleh gaya  keterbukaan kepada segala kemungkinan berhasil dalam kinerjanya. Disini pemimpin harus membuktikan kemampuan mengelola personalitas, karakter, perilaku dan sikapnya dengan kebiasaan berkualitas yang ditopang oleh sikap: “Saya mampu mengelola diri dan menanggapi segala sesuatu dengan berhati besar (terbuka menerima dengan memaknai semua secara positif), berkepala dingin (mengerti dengan benar segala implikasi) dan bertangan panas (mampu menyikapi dan menangani tugas secara luar biasa, proporsional dan berhasil).”
  6. HUBUNGAN-HUBUNGAN KEPEMIMPINAN. Pemimpin harus membangun diri sebagai pemimpin arif yang mengutamakan, menghargai serta mengembangkan hubungan-hubungan sehat berkualitas (dengan sikap altruis) dalam kepemimpinan secara internal dan eksternal, yang mampu membuat diri dapat didekati (terbuka, lugas dan arif). Pemimpin harus sedia bekerja sama dan dapat mendekati dan diterima orang (dengan benar serta baik) yang dibuktikan melalui sikap menghargai potensi dan andil sesama yang diwujudkan dalam kemampuan menyediakan kondisi kondusif dan membiasakan budaya hubungan berkualitas yang responsif guna menggairahkan semua SDM untuk aktif sinergis terlibat dalam kepemimpinannya. Pemimpin harus mengembangkan hubungan eksternal lugas, mencipta jejaringan kerja yang meluas untuk melebarkan pengaruh mewadahkan ekspansi kerja yang strategis. Pemimpin dalam kaitan ini harus mampu menegaskan: “Saya menghargai semua yang menaru minat terhadap keberhasilan saya, dengan menghargai potensi mereka dan saya mampu menempatkan diri serta bekerja sama dengan semua orang secara benar, baik dan serasi kerah sukses bersama.”
  7. UPAYA KEPEMIMPINAN. Pemimpin harus membuktikan keandalan memimpin dengan upaya memimpin optimal (leading attempt melalui tindakan atau pekerjaan memimpin) yang tangguh (memanejemeni SDM dan semua sumber dengan efefktif, efisien dan produktif) di atas strategi, taktik dan pendekatan kepemimpinan yang sinergis unggul, terfokus kepada hasil besar, yang mengantar organisasinya ke arah keberhasilan besar. Pemimpin harus meimpin dengan pendekatan yang simultan, progresif dan berada di depan dalam percaturan lokal, regional, nasional dan global. Pemimpin dalam hal ini harus memastikan beberapa unsur penting:
    1. Memastikan bahwa ia telah membangun dirinya menjadi kompeten.
    2. Memastikan bahwa ia telah membangun hubungan dengan seluruh unsur manusia secara sehat dan responsif.
    3. Memastikan bahwa ia telah menyiapkan kondisi kondusif, membangun sistem organisasi menjadi organisasi pembelajar dengan budaya organisasi berkualitas – yang terbukti  efektif, efisien dan sehat.
    4. Memastikan bahwa ia menglola sikapnya sebagai pemengang, dan bersikap seperti nahkoda, maestro, dan panglima pasukan komando yang bergaya strategos taktis sehingga ia akan selalu berada di depan, mengerjakan yang terbenar – terbaik, dan berhasil dengan membawa keuntungan besar bagi organisasi, staf, bawahan, lingkungan dan diri.
    5. Pemimpin harus dapat membuktikan diri bahwa ia adalah seorang strategos taktisian yang mampu, dengan sikap percaya diri tinggi, gerakan terpadu dan tindakkan yang pasti dengan gebrakan yang menghasilkan sukses yang memperoleh pengakuan banyak kalangan. Pemimpin harus membuktikan diri sebagai sangat berkapasitas dalam pikiran, sikap, kata dan tindakan dengan menegaskan: “Oleh anugerah TUHAN, Saya mampu !”

7 Aksioma  Pemimpin Autentik (sejati) atau the non-negotiable principles of authentic leadership (kepemimpinan autentik) seperti di atas adalah kebenaran yang harus dialami dan dibangun oleh setiap pemimpin dalam dirinya. Setiap pemimpin yang berhasrat untuk berhasil harus menetapkan tekad kuat “menjadi pembelajar sepanjang hidup” dengan berupaya menemukan diri dan mengembangkan potensi, serta membuat dirinya diperhitungkan. Ia harus berupaya membangun hubungan responsif yang luas; dan dapat memimpin dengan mengelola semua sumber secara efektif, efisien dan sehat. Pemimpin seperti ini akan terus berkembang dalam sepanjang kehidupan serta membawa dampak positif dalam pengabdiannya yang meneguhkan dirinya sebagai pemimpin yang sukses. Selamat membuktikan diri sebagai Pemimpin Sejati, dengan kepemimpinan autentik.

Catatan:

Untuk pembelajaran lanjutan, Anda dapat membaca buku-buku: Kepemimpinan Yang Dinamis; Kepemimpinan Kristen; Menjadi Manusia Sukses; Mastering Planning, Pengembangan SDM Pemimpin Kristen, dsb. Yang berminat, hubungi email: yaktom@centrin.net.id.

Jakarta, 17 November 2009

Dr. Yakob Tomatala

7 aksioma pemimpin autentik
Comments (1)
Add Comment
  • Pn Aw Twee Leng

    Salam sejahtera Doktor Yakob Tomatala/bagi pihak Doktor Tomatala:

    Saya Pn Aw Twee Leng, pelajar USM, Malaysia, kini ingin membuat penyelidikian berkenaan Kepemimpinan Autentik dan hubungannya dengan komitmen guru dan efikasi organisasi.

    Soalan saya, adakah buku-buku terjemahan Bahasa Melayu bertajukkan kepemimpinan autentik. Saya berhajat nak beli daripada doktor jika ada.

    Sekian, terima kasih.

    Ikhlas daripada
    Aw TL