MEMANAJEMENI PRIORITAS: MENGELOLA SUMBER-SUMBER

….. mulai dari sekarang, apa pun juga yang mereka rencanakan tidak ada yang tidak dapat terlaksana” (Kejadian 11:6c).

PENGANTAR

Telah ditegaskan sebelumnya bahwa tatkala pemimpin memimpin, maka ia melaksanakan kepemimpinan dengan memasuki kawasan manajemen. Dan lagi, telah ditegaskan bahwa pemimpin yang memimpin perlu mengawali dengan memanejemeni diri-nya. Pemimpin yang memanajemeni diri-nya berarti ia mengelola serta mencitrakan perilaku (behavior) dan pola (style) kepemimpinannya sebagai landasan untuk menjalankan kepemimpinannya (influencing).  Selanjutnya, pemimpin dalam menjalankan upaya memimpin (leading attempt) atau bekerja dengan memimpin seperti ini, harus mewujudkannya melalui pengelolaan sumber-sumber kepemimpinan. Dalam kaitan ini, pemimpin yang melaksanakan tugas menajerial berdasarkan manajemen prima yang telah diterangkan sebelumnya, mengharuskannya untuk menyadari bahwa di dalamnya ada lima (5) matra manajerial, tiga (3) posisi peran manajemen dan delapan (8) aspek sumber-sumber yang perlu dimanajemeni, dengan membangunnya bertulang punggungkan satu (1) orientasi, serta empat (4) langkah siklus implementasi manajemen dalam kepemimpinan yang harus diterapkannya secara strategis dan taktis. Sebagai upaya untuk melajutkan diskusi seputar pemimpin yang memimpin dengan memanejemeni ini, maka pokok percakapan yang akan dibentangkan adalah “mengelola sumber-sumber” dalam kepemimpinan. Selamat mengembara bersama! Read the rest of this entry »

CERMATI, PEMIMPIN SEJATI JANGAN BERCABANG LIDAH

Buanglah mulut serong dari padamu dan jauhkanlah bibir yang dolak-dalik dari padamu.”  (Amsal 4:24).

PENGANTAR

Bercabang lidah, apa pula ini? Makluk yang bercabang lidah adalah ular dan satwa reptil sejenis. Bercabang lidah adalah bagian utuh dari harkat makluk yang satu ini. Bercabang lidah pada sisi lain, adalah juga terma sinistik bagi orang yang suka bercabang kata. Bercabang kata bersumber dari “hati yang tidak selaras dengan kata-kata yang diucapkan.” Hal ini seperti yang diungkapkan dalam Amsal 10:11b, “mulut orang fasik menyembunyikan kelaliman” yang tersembunyi di lubuk hatinya. Di sini ia bicara A, di sana bicara B. Bicara A dan B  ini bukanlah A alias A yang lurus, atau B alias B yang lurus, tetapi A yang dibengkokkan, B yang dipelintirkan, yang dimaknai sesuka hati yang bercabang. Tindakan ini sesungguhnya dilakukan untuk maksud bercabang yang pasti berdampak mencabang-cabangi, mengharu birukan dan menghancurkan hubungan-hubungan dalam kepemimpinan. Dalam kaitan ini, mengingat bahwa “kata-kata pemimpin itu bertuah,” maka pemimpin yang bijak harus menjauhkan diri dari sikap bercabang lidah dengan menyadari bahwa “Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran” (Amsal 21:23), karena “Jika orang benar bertambah, bersukacitalah rakyat, tetapi jika orang fasik memerintah, berkeluhkesahlah rakyat” (Amsal 29:2).  Karena itu, marilah kita simak bersama, bagaimana menjadi pemimpin yang mampu menolak sikap bercabang lidah ini! Read the rest of this entry »

MENTOR-KONSELOR: PEMIMPIN ARIF MEMERLUKAN PENDAMPING BIJAK

Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran” (Amsal 17:17)

PENGANTAR

Anda tentu telah mendengar kata “mentor” dan “mentoring.” Apa sesungguhnya makna dari istilah-istilah ini? Istilah mentor, diangkat dari nama diri sahabat karib Odyseus[1] dan Telemachus, yang namanya Mentor yang dimaknakan sebagai “a wise friend” (sahabat yang bijak) dan “faithful counselor” (konselor yang setia). Berdasarkan pemaknaan dasar kata mentor inilah, maka dapat dikatakan bahwa mentoring adalah “proses membangun persahabatan yang diwujudkan di atas sikap bijak, setia dan dapat dipercaya sebagai dasar untuk memberikan pendampingan, konseling atau pembimbingan.” Berlandaskan konsep ini, mentor haruslah seseorang yang dapat membuktikan diri sebagai sahabat yang arif dan setia, yang dinyatakan melalui pembuktian diri sebagai “dapat dipercaya.” Dari perspektif ini, seorang mentor yang adalah sahabat yang bijak dan setia yang membuktikan diri sebagai dapat dipercaya sajalah yang bisa menjalankan perannya sebagai konselor yang baik. Dalam memahami sejauh mana seseorang pemimpin memerlukan seorang mentor yang pada gilirannya pemimpin dimaksud akan menjadi mentor kelak, simaklah uraian berikut: Read the rest of this entry »

SYAHADAT KEPEMIMPINAN YESUS KRISTUS

Yang mau hidup harus mati, yang tidak kalah tidak akan menang. Lebih dahulu merasakan hati yang hancur, barulah batin merasa senang

(“Yang mau hidop harus mati, yang seng kalah, seng manang. Dolo rasa picah hati, baru batin pun sanang”)

Kutipan yang diingat dari: Mazmur dan Tahlil

Anda harus mati untuk hidup

Pemimpin sejati adalah pemimpin pemberi hidup, karena itu, ia harus hidup untuk dapat memberi hidup

Kalau ia memberi hidup, ia akan disalah-mengerti dan dituduh mencari muka, mencari nama

Bagaimanapun juga, ia harus tetap memberikan hidup untuk memberi hidup Read the rest of this entry »

MANAJEMEN PRIMA

Ia bangun kalau masih malam, lalu menyediakan makanan untuk seisi rumahnya, dan membagi-bagikan tugas kepada pelayan-pelayannya …… ” (Amsal 31:15).

PENGANTAR

Pemimpin adalah pemimpin. Pemimpin  juga dapat disebut manajer dan administrator. Prinsip ini menegaskan bahwa seorang pemimpin haruslah menyadari bahwa ia adalah pemimpin yang memahami peran dan tugas manajemen prima (primer), yaitu manajemen dan administrasi yang adalah seni kepemimpinan. Perlu disadari bahwa tatkala pemimpin memimpin, maka ia melaksanakan upaya memimpin yaitu memasuki kawasan manajemen. Di sini manajemen adalah seni kepemimpinan. Dapat dikatakan bahwa tatkala pemimpin memimpin maka ia sedang memanejemeni dengan mewujudkan seni memimpin. Hal pertama dan terpenting dari seni memimpin ini ialah bahwa setiap pemimpin harus memanejemeni diri-nya, yaitu mengelola dan mencitrakan perilaku (behavior) dan pola (style) kepemimpinannya sebagai landasan untuk menjalankan kepemimpinan. Read the rest of this entry »

MEMBANGUN SIKAP: MENGAPA HARUS MENJADI PEMIMPIN PEMBAWA DAMAI

Berbahagialah orang yang membawa damai….” (Matius 5:9a)

PENGANTAR

Damai, peace adalah kata yang merupakan dambaan semua orang. Namun, apa sesungguhnya makna damai itu, dilihat dari sisi hakikat, sifat dan dinamikanya? Menjawab pertanyaan ini, dapatlah dikatakan bahwa secara hakikat, damai adalah “a state of peaceful” yang holistik dengan sifat dan dinamikanya yang kuat. Damai secara substansial adalah keadaan sejahtera yang penuh (whole/ holistic) yang dibangun di atas dan di dalam kebenaran (Yesaya 32:17). Damai yang substansial ini sifatnya teguh karena melekat pada harkat Allah dan atribut-Nya, yang olehnya kehadiran-Nya adalah kehadiran damai, karena IA adalah sumber damai sejati. Dengan demikian, tatkala Allah hadir dalam kehidupan dan pengalaman setiap orang, maka di situ ada damai dalam arti yang sebenarnya (Yohanes 8:31-32). Read the rest of this entry »

AWAS, PEMIMPIN JANGAN MEMBIARKAN DIRI DIJILAT-JILAT

Orang yang menjilat sesamanya membentangkan jerat di depan kakinya”  (Amsal 29:5).

PENGANTAR

Kepemimpinan melibatkan banyak orang, mulai dari pemimpin puncak dan para pemimpin, para manajer, para administrator serta semua bawahan. Orang-orang ini terhimpun dalam suatu organisasi yang juga melibatkan berbagai kepentingan. Kepentingan-kepentingan ini dapat digolongkan dalam dua sisi, yaitu 1. Kepentingan organisasi, yang merupakan kepentingan utama, kepentingan bersama yang harus diutamakan. 2. Kepentingan pribadi, dari setiap unsur manusia terkait dalam organisasi. Untuk kepentingan pertama, orang cenderung membuktikan secara umum bahwa mereka mementingkan organisasi dengan “bekerja keras” misalnya. Namun, soal pementingan kepentingan organisasi ini akan teruji dengan mencaritahu sejauh mana kepentingan pribadi terkait di dalamnya. Dalam hubungan inilah akan terlihat siapa sesungguhnya yang memperjuangkan kepentingan organisasi dan siapa sesungguhnya yang pemperjuangkan kepentingan pribadi. Pada sisi yang kedua inilah akan terbukti siapa pejuang organisasi yang sejati, siapa manusia asal jadi, siapa penggembira, siapa penonton, dan siapa penjilat. Mencermati semua ini, kini muncul pertanyaan, “apakah pantas bagi pemimpin membiarkan dirinya dijilat-jilat oleh penjilat?” Marilah kita simak bersama:

Read the rest of this entry »

MANAJEMEN DALAM KEPEMIMPINAN

Rancangan terlaksana oleh pertimbangan, sebab itu berperanglah dengan siasat ” (Amsal  20;18).

Pengantar

Manajemen adalah bagian integral dari kepemimpinan. Sesungguhnya, dapatlah dikatakan bahwa manajemen tidak bisa dipisahkan dari kepemimpinan, dan sebaliknya. Dalam kaitan ini, berbicara tentang manajemen berarti berbicara tentang kepemimpinan, karena pada saat pemimpin melaksanakan upaya memimpin, ia memanejemeni.  Penjelasan ini berhubungan dengan uraian terdahulu di mana telah dibentangkan tentang makna, sejarah dan unsur manajemen. Uraian kali ini akan membahas pokok tentang hubungan kepemimpinan dengan manajemen atau “tempat manajemen dalam kepemimpinan,” sebagai upaya untuk menegaskan mekanisme integral dari kepemimpinan dan manajemen seperti yang telah tekankan di atas. Dalam upaya memperjelas mekanisme keterhubungan dimaksud, di sini akan diulas tujuh hal penting seputar hubungan manajemen dan kepemimpinan, yaitu antara lain: 1. Tempat manajemen dalam kepemimpinan; 2. Pemimpin dan manajemen; 3. Manajer dan manajemen; 4. Administrator dan manajemen dalam kepemimpinan; 5. Bawahan dan manajemen; 6. Manajemen dalam organisasi; dan 7. Manajemen dan upaya memimpin. Selamat berkelana! Read the rest of this entry »

MEMBANGUN SIKAP: CURIGA, APAKAH PATUT BAGI PEMIMPIN UNTUK MENCURIGAI

Hendaklah engkau bertindak-hati-hati ….”  (Yosua 1:8).

PENGANTAR

Apakah Anda pernah curiga dan mencurigai seseorang? Curiga dan mencurigai tentu ada alasan mendasarnya.  Namun, pertanyaannya ialah, apa yang menjadi dasar bagi Anda untuk curiga dan mencurigai itu? Apakah Anda mencurigai dari hati Anda atau mencurigai dari benak Anda? Apa makna mencurigai dari hati dan mencurigai dari benak ini? Pertanyaan berikutnya, mengapa Anda mencurigai seseorang itu? Apakah ada alasan khususnya sehingga Anda mencurigainya? Apa indikator kuat yang dapat diambil sebagai alasan bagi Anda untuk mencurigainya? Adakah Anda telah mempertimbangkan keuntungan dan kerugian mencurigai yang biasa Anda sikapi ini? Semua pertanyaan ini tentu memerlukan jawaban dari Anda. Karena itu, Anda harus mencari tahu alasan-alasan mendasar tentang curiga dan mencurigai ini. Simaklah:

Read the rest of this entry »

Spiritualitas Pemimpin Kristen

“….. kamu yang rohani harus memimpin orang … ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut….” (Galatia 6:1b)

PENGANTAR

Tajuk “Spiritualitas Pemimpin Kristen” bersifat tepat waktu.” Unsur tepat waktu dari tema ini didukung oleh kenyataan bahwa kondisi dunia yang berubah dan penuh dengan tantangan ini menuntut adanya pemimpin Kristen dengan kadar spiritualitas tangguh untuk memimpin. Disadari bahwa pemimpin Kristen sesungguhnya adalah pemimpin rohani, yang harus membuktikan kadar kerohaniannya sebagai dasar integritas dirinya yang merupakan kekuatan moral yang menopang diri serta kepemimpinannya. Pada sisi lain, integritas pemimpin tergantung sepenuhnya pada kadar spiritualitasnya, yang menunjuk kepada kepentingan keteguhan spiritualitas pada pemimpin Kristen. Kenyataan ini mendorong untuk bertanya, apa sesungguhnya spiritualitas itu dan seberapa pentingnya spiritualitas bagi seorang pemimpin Kristen? Dalam upaya menjawab pertanyaan ini, maka ada tiga pokok penting yang akan dipercakapkan dalam diskursus ini, yaitu antara lain: Pertama, Memaknai Spiritualitas Pemimpin; Kedua, Dinamika Spiritualitas Pemimpin Kristen sebagai dasar bagi otoritas kepemimpinan; Ketiga, Kadar Spiritualitas Pemimpin Kristen sebagai tolok ukur kualitas kepemimpinan. Read the rest of this entry »

YT Leadership Foundation
May 2012
M T W T F S S
« Jun    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031