YT Leadership Foundation





Teks: Yosua 1:7-9; Mazmur 91; Wahyu 1:17-18

Pengantar

Takut dan rasa takut adalah hal yang normal bagi setiap orang. Pada sisi lain, ketakutan biasanya disebabkan oleh adanya sesuatu yang dianggap lebih besar serta lebih kuat yang mengancam, apakah dari dalam atau pun dari luar.

Hal terpenting yang harus ditegaskan adalah bagaimana kita menyikapinya dari perspektif Alkitab, sehingga kita dapat mengatasi ketakutan dalam kehidupan kita. Teks Alkitab dari Yosua dan Mazmur memberi landasan bagaimana mengatasi ketakutan, yaitu antara lain:

Pertama, MEMEGANG JAMINAN TUHAN MENGHADAPI KETAKUTAN (Yosua 1:7-8)

A. Jaminan TUHAN (Maz 46:2) adalah tempat perlindungan dan kekuatan kita, karena itu jangan takut, IA menyertai kita (Yosua 1:7-9)

B. Perlindungan TUHAN
TUHAN Allah adalah jaminan kekuatan dan perlindungan kita, karena itu jangan takut (Mazmur 91:9-13)

C. Kecukupan TUHAN adalah jaminan kecukupan kita, karena itu, jangan takut, “kuatkan dan teguhkan hati mempercayai Janji TUHAN” (Yesaya 33:15-16)

Implikasi:

TUHAN Allah yang Mahakuasa adalah jaminan perlindungan dan kekuatan serta kecukupan kita yang akan menyertai kita melewati tantangan apa pun, termasuk wabah Covid-19 (Mazmur 23:1-4).

Karena itu kita harus “menguatkan dan meneguhkan hati kita” dalam menghadapi tantangan Covid-19. Ingatlah TUHAN Allah melindungi kita, jadi, jangan kecut dan tawar hati (Amsal 24:10). Percayalah bahwa TUHAN Yesus menyertai kita, karena IA adalah IMANUEL, yang lebih berkuasa dari kuasa apa pun (Matius 1:23)

Kedua, TANGGUNG JAWAB MEMPERCAYAI PENYERTAAN TUHAN (Yosua 1:9)

A. Percaya kepada TUHAN Allah berarti mempercayai DIA dengan segenap hati, tidak bersandar pada kekuatan sendiri (Amsal 3:5-8)
B. Percaya pada TUHAN Allah berarti melakukan Firman-Nya dengan tekun, tidak melupakan serta memperkatakannya (Yosua 1:7-9; Amsal 3:1-4; Filipi 4:8-9)
C. Percaya kepada TUHAN adalah melakukan yang IA kehendaki, tidak sekedar mendengar, tetapi taat dan bertindak melakukan Firman dengan setia (Matius 7:24-27)

Implikasi:

Percaya kepada TUHAN Allah berarti bersandar kepada janji Firman-Nya dengan sungguh-sungguh. Kuasa dan kekuatan TUHAN meneguhkan yang menaati Firman-Nya dengan melakukan apa yang diperintahkan-Nya. Jika TUHAN bersabda, “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah” (Yohanes 5:7), maka yang percaya dan taat, akan dikuatkan untuk bangun, angkat tilam, berjalan dan sembuh!”

KESIMPULAN

Ada banyak ancaman hidup termasuk wabah Covid-19 yang dapat membuat kita takut serta ketakutan, tetapi TUHAN Allah memastikan bahwa ada jalan bagi kita untuk tidak takut dan tidak gentar.

Menghadapi ketakutan atas ancaman hidup serta ancaman Wabah Covid-19, TUHAN Allah memberikan jaminan yang meneguhkan pengharapan kita kepada, untuk tidak takut, karena:

Pertama, Kita diminta memegang jaminan TUHAN Allah yang Mahakuasa yang adalah tempat perlindungan dan kekuatan kita, sehingga DIA pasti memihak kita serta menjadikan kita sebagai Pemenang dalam menghadapi wabah Covid-19 (Roma 8:28-37)

Kedua, TUHAN Allah menghendaki agar kita mempercayai DIA yang menyertai kita dengan melakukan Firman-Nya serta bertindak, maka kita pasti dikuatkan untuk bangkit menghadapi tantangan dengan berani dan meraih kemenangan atas Covid-19 (Mazmur 60:14; 108:14)

Ingatlah Sabda TUHAN Yesus, “Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan alam maut” (Wahyu 1:17b-18).

“Dengan TUHAN Yesus Kristus yang bangkit, kita adalah pemenang atas Covid-19 dengan tetap berdiri teguh dan tidak goyah” (I Korintus 15:54-58). TUHAN Allah beserta kita.
Amin

Jakarta, 3 April 2020
Pelayanan Firman,
Pdt. Yakob Tomatala

www.yakobtomatala.com

Pengantar

Ralph W. Emerson mengatakan bahwa “Anda akan selamanya menjadi apa yang Anda katakan.” Prinsip ini menegaskan bahwa “apa saja yang Anda katakan, itulah hati Anda, jiwa Anda, roh Anda, itulah Anda sebenarnya.

Pada sisi lain, “kata dan kata-kata adalah bertuah dan berdampak,” sehingga Raja Salomo mengungkapkan rahasia kekuatan kata-kata, “Dengan mulutnya orang fasik membinasakan sesama manusia” (Amsal 11:9a).

Kebenaran ini menggarisbawahi kenyataan, “jika kata-kata Anda membangun, maka Anda adalah orang bijak” (Amsal 10:20a,21a). Sedangkan “jika kata-kata Anda membinasakan, Anda adalah orang fasik.”

Dalam hubungan dengan kata-kata yang membicarakan Covid-19, terlihat adanya orang yang bersikap tidak peduli dan menyebarkan kata-kata “hoax” yang menimbulkan social phobia dan membuat kuatir serta menghancurkan semangat hidup. Dari sini sudah dapat diramalkan bahwa orang seperti ini berjiwa fasik.

Pada sisi lain, jika Anda adalah orang bijak yang berbudi luhur, Anda tentu memilih untuk menggunakan kata-kata yang membangun sesama (Yesaya 32:8). Kini timbul pertanyaan, bagaimana menggunakan kata-kata bijak yang membangun iman, dan pengharapan demi menguatkan semangat serta keberanian untuk bertarung menghadapi dan mengatasi social phobia dan ancaman Covid-19?

Pertama, GUNAKAN KATA-KATA TUHAN YANG MEMBERKATI
Kata-kata TUHAN Allah yang memberkati, mengadung janji dan jaminan Allah yang menguhkan iman dan harapan umat-Nya.

A. Janji JAMINAN: “Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau ke mana pun engkau pergi” (Yosua 1;9b)

B. Janji PEMULIHAN DARI PERTOBATAN:
“Telah Ku dengar doamu dan telah Ku pilih tempat ini bagi-Ku sebagai Rumah Persembahan. Bilamana Aku menutup langit, sehingga tidak ada hujan, dan bilamana Aku menyuruh belalang memakan habis hasil bumi, dan bilamana Aku melepaskan penyakit sampar di antara umat-Ku, dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka” (II Tawarikh 7:13-14)

C. Janji PENEGUH IMAN DAN HARAPAN: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah Firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yeremia 29:11); dan lagi, “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!” (Yeremia 17:7), karena “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; ….. TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap pada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia” (Ratapan 3:22-23,25)

D. Janji PERLINDUNGAN DAN PERTOLONGAN: “TUHAN itu baik; IA adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; IA mengenal orang-orang yang berlindung pada-Nya dan menyeberangkan mereka pada waktu banjir” (Nahun 1:7-8a)

E. Janji KELEPASAN: “Pecobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu IA tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai IA akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya ( I Korintus 10:13); “Karena itu, ….. berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan TUHAN! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan TUHAN jerih payahmu tidak sia-sia” (I Korintus 15:58)

Ingatlah bahwa: “Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang (Amsal 16:24; 17:22; 18:14a). Ingatlah juga bahwa “dengan Kata-kata TUHAN yang memberkati, Anda memberkati diri sendiri dan menjadi berkat bagi banyak orang!”

Hindarilah janji iman picisan yang memberanikan seperti “jangan takut, mengapa harus mengganti ibadah gedongan dengan ibadah rumah, mengapa harus berhenti berjabat tangan? Karena janji iman tanpa disertai rasa tanggung jawab sipil untuk memutuskan mata rantai Covid-19, dengan gereja keluarga di rumah, jaga kesehatan dan jarak sosial yang aman, adalah janji kecap-kecapan Yang memberikan harapan semu. Dengan demikian, perkatakalah Firman dari hati yang bijak, sehingga TUHAN Allah dimuliakan dan banyak orang diberkati.

Kedua, HINDARI KATA-KATA YANG MENGHIDUPKAN SOCIAL PHOBIA
Phobia adalah kekuatan pengaruh suatu penyebab (apa pun bentuknya) atas jiwa yang menyebabkan rasa takut berlebihan dan kepanikan yang eksesif serta irasional. Dengan demikian social phobia dapat disebut sebagai suatu aspek sosial yang membawa pengaruh yang mengancam, yang menimbulkan rasa takut serta kepanikan yang berlebihan dan tidak masuk akal.

Pemahaman seperti ini juga dapat dikenakan pada Covid-19 sebagai sumber ancaman, yang diserbar gencarkan oleh media sosial, sehingga menimbulkan kepanikan serius dalam masyarakat, sehingga dapat disebut Covid Phobia atau Corona Phobia.

Dalam menyikapi Covid Phobia sebagai suatu gejala sosial yang menimbulkan rasa takut dan panik dalam masyarakat, maka ada dua pilihan. 1) Besikap tidak sensitif dengan membesar-besarkan berita Covid-19 yang menimbulkan social phobia; atau 2) Bersikap bijak dengan menyampaikan berita benar tentang Covid-19 secara arif demi membangun semangat serta keberanian untuk hidup. Dengan demikian, jika Anda memilih untuk bersikap bijak, maka Anda adalah orang yang berbudi luhur (Yesaya 32:8).

Dalam meminimalisir social phobia karena Covid-19, maka langkah berikut dapat ditempuh:
A. Katakan kebenaran demi kebenaran yang berkeadilan yang membawa damai (Yesaya 32:17; Daniel 12:3).

B. Hindari penyebaran berita yang sumbernya tidak jelas, atau berita hoax (Amsal 12:17-19), karena “Perkataan orang fasik menghadang darah, tetapi mulut orang jujur menyelamatkan orang” (Amsal 22:6)

C. Sebelum Anda menyebarkan berita apa pun, ingatlah kata bijak ini: “Berpikirlah tiga kali sebelum bicara satu kali” karena “Anda punya dua mata, dua telinga, dua lubang hidung dan satu mulut!” Berpikirlah enam kali baru bicaralah satu kali, jika Anda mau memberkati orang dengan kata-katamu. Jangan diobral kata-katanya sebelum dipikirkan, karena: “Juga orang bodoh akan disangka bijak kalau ia berdiam diri dan disangka berpengertian kalau ia mengatupkan bibirnya” (Amsal 17:28).

Ingatlah bahwa jika Anda mengatakan kata-kata kebenaran dengan menghindari berita hoax atau berita yang sumbernya tidak jelas dan berpikir sebelum mengumbar kata-kata, maka Anda telah menolong banyak orang mengatasi social phobia atau Covid Phobia, yang membuat mereka bersemangat dan bangkit berjuang bersama mengatasi Covid-19.

Ketiga, SEBARKAN KATA-KATA PEMENANG IMAN

Ingatlah kebenaran Firman ini, “Sebab itu …. Jika Allah dipihak kita, siapakah yang akan melawan kita? ….. Tetapi dalam semuanya kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh DIA yang telah mengasihi kita” (Roma 8:31,37).

Dengan demikian, dalam menolong dan meneguhkan sesama, gunakanlah kata-kata Pemenang yang menimbulkan keberanian dan semangat juang, “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. ….. karena aku tahu kepada siapa Aku percaya dan aku yakin bahwa DIA berkuasa nemeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari TUHAN” (II Timotius 1:7,12b). Karena itu, bangkitkanlah semangat dan keberanian sesama dengan mengatakan kata-kata pemenang, antara lain, yaitu:
A. Allah semesta langit Dialah yang membuat kami berhasil melewati tatangan Covid-19 (Nehemia 2:20)
B. Katakan kepada Covid-19, “… aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam Allah barisan ‘umat-Nya’ yang kau tantang itu. Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau …” (I Samuel 16:45-46).

REFLEKSI:
Dalam upaya menolong sesama menghadapi tulah Covid-19 dengan mengatasi Social Phobia Covid-19, maka renungkanlah kebenaran ini:

Pertama, Perkatakanlah Firman TUHAN Allah secara benar, yang meneguhkan iman, pengharapan dan menguatkan semangat serta keberanian untuk hidup dalam siarah iman. Ingatlah bahwa “untuk hidup semua orang memerlukan keberanian, karena mati tidak harus berani, dimana takut dapat berarti mati!”

Kedua, Upayakan untuk selalu menghindari kata-kata yang mencipta social phobia yang menimbulkan kepanikan, kekecutan, ketakutan dan kegentaran atas ancaman Covid-19, seperti, “mengerikan, Covid-19 telah menewaskan jutaan orang diseluruh dunia!” Gunakanlah kata-kata informatif yang benar dan dapat dipertanggung jawabkan.

Ketiga, Hidupkanlah kata-kata pemenang yang menguatkan semangat juang untuk bertegar hati, mempercayai TUHAN Allah bahwa “badai pasti berlalu, peperangan pasti berakhir, dengan kememenangan dari pihak TUHAN Allah, bagi kebahagiaan umat-Nya”
Haleluya!!!

Selamat berbijak hati untuk menghidupkan semangat serta keberanian menghadapi Covid-19 mengatasi Social Phobia, dengan kata-kata arif!

www.yakobtomatala.com

Pengantar

Pemazmur dalam Mazmur Nomor 136 menyanyikan kidung pujian yang mengagungkan kebaikan TUHAN Allah kepada umat-Nya dalam lintasan sejarah. Pemazmur mengawali dengan ajakan, “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” (ayat 1). Alasan penting untuk bersyukur kepada TUHAN antara lain, adalah:

Pertama, TUHAN Allah Sang Pencipta adalah Penjamin yang memastikan jaminan bagi kehidupan umat-Nya (ayat 1-9).

Kedua, TUHAN Allah Pencipta, membuktikan bahwa Ia adalah Pembebas yang telah membebaskan umat-Nya dari penindasan di Mesir dan membawa ke Tanah Perjanjian (ayat 10-15).

Ketiga, TUHAN Allah membuktikan bahwa Ia setia memenuhi janji-Nya mengaruniakan tanah terjanji, melindungi dan memberi kemenangan bagi umat-Nya (ayat 16-22).

Keempat, TUHAN Allah membuktikan bahwa Ia adalah Pemelihara dan Pencukup keperluan hidup umat-Nya, dengan terus membebaskan serta mencukupkan (ayat 23-25). Karena itu, ada alasan kuat untuk berseru, “Bersyukurlah kepada Allah semesta langit! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” (ayat 25).

REFLEKSI:
Memahami kebenaran tentang TUHAN Allah Sang Mahabaik ini, maka tatkala menghadapi ancaman Covid-19, kita diingatkan oleh Nabi Nahum yang mengarahkan perhatian kita kepada TUHAN Allah dengan menegaskan, “TUHAN itu baik; IA adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; IA mengenal orang-orang yang berlindung pada-Nya dan menyeberangkan mereka pada waktu banjir” (Nahum 1:7-8a).

Camkanlah bahwa Covid-19 adalah pengingat bagi kita untuk bersandar pada TUHAN Allah, guna meneguhkan iman dan pengharapan kita, karena Ia adalah tempat pengungsian kita dari ancaman kesusahan karena Covid-19.

Ia adalah Pelindung kita, Ia mengenal kita yang berlindung pada-Nya, dan menyeberangkan kita melewati ancaman banjir kekuatan Covid-19, membawa kita ke seberang dengan selamat. Karena itu, jangan kecut hati, jangan takut, TUHAN Allah beserta kita (Yosua 1:9), dan menjadikan kita lebih dari pemenang (Roma 8:37).

Selamat menikmati kebaikan TUHAN Allah Sang Pelindung yang sedang menggendong, menyeberangkan kita melewati ancaman Covid-19. Salam

www.yakobtomatala.com

Pengantar

Ada pernyataan sementara orang bahwa “Gereja dilumpuhkan oleh Covid-19.” Betapa tidak, katanya, “Ini buktinya! Lihatlah, ibadah-ibadah gereja besar pun menjadi lumpuh.” Hm, ini pernyataan yang super skeptis, dan ignoran akan “TUHAN Allah yang berdaulat” dan yang “bekerja dalam segala sesuatu demi kebaikan umat-Nya, di mana segala sesuatu terjadi sempurna pada waktu-Nya” (Roma 8:28; Pengkhotbah 3:1-8). Ha, ha, ha, ….

Ironis memang, yang terjadi adalah “kantong persembahan menipis, dan pendeta serta pengurus gereja mulai ketar ketir, tentang bagaimana membiayai pengeluaran gereja yang wah …, dan cara hidup yang berlawanan dengan pola Yesus Kristus, yaitu: “memikul salib di atas mobil mercy dan berpelesir atas nama tuhan serta berboros prioritas hidup atas nama dan demi pelayanan” (Lihat: Matius 16:24-26; Markus 10:45).

Ternyata yang benar adalah, Covid-19 adalah “cara dan tangan TUHAN Allah yang secara keras menempeleng gereja agar kembali ke jalan-Nya untuk berjalan sesuai kehendak-Nya.” Covid-19 juga diizinkan TUHAN guna “memberi peluang bagi Gereja menikmati dan menjadi berkat dengan cara yang benar.”

TUHAN Allah yang bekerja dalam segala sesuatu ternyata menghendaki agar umat-Nya memahami Dia dan melihat dunia dengan cara baru, yang selaras dengan kehendak-Nya. Kini timbul pertanyaan, bagaimana memahami TUHAN Allah dengan benar dan melihat dunia dengan cara baru yang berselaras dengan kehendak-Nya?

Pertama, GEREJA TEGUH DAN TIDAK BERUBAH DALAM SEJARAH.

Kenyataan yang terjadi sekarang akibat Covid-19 adalah cara TUHAN Allah untuk membuktikan bahwa Gereja Yesus Kristus teguh dan tidak berubah menyiarahi sejarah dunia. Kebenaran ini telah ditegaskan TUHAN Yesus yang bersabda, “Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasai-Nya” (Matius 16:18). Gereja yang dibangun di atas TUHAN Yesus tidak berubah sedikit pun atas pengaruh Covid-19, karena: “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin, maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibrani 13:8; Wahyu 1:17-18).

Perlulah ditegaskan bahwa “di tengah ancaman Covid-19, Gereja yang hakikatnya kudus tetap kudus, esa, universal (am) dan misioner” (I Petrus 2:9-10; Yohanes 17:18; 20:21). Kebenaran ini memastikan bahwa: “Kehidupan dan ibadah gereja yang rohani, imani, dan sosial kultural tetap sama di tengah dunia serta peradaban yang ter-disrupsi pada Abad XXI” dengan ancaman Covid-19 (Yohanes 4:21-24; Ibrani 10:19-25; 12:28-29).

Kedua, GEREJA DILENGKAPI MENJADI RELEVAN PADA SEGALA ZAMAN.

Covid-19 membuat orang tercengang, karena semua berubah. Tidak ada jabat tangan mesra, yang ternyata munafik. Tidak ada ibadah hura-hura yang ternyata memuaskan hasrat ego. Tidak ada kolekte besar-besaran yang ternyata demi memperkaya, bukan melayani. Gereja dalam hal ini ternyata dipaksa oleh TUHAN untuk menjadi relevan melalui Covid-19, agar kehidupan, iman, dan etika-moral serta misinya kembali sesuai kehendak TUHAN Allah (I Petrus 1:13-16; Imamat 11:44-45).

Melalui pengalaman ini ternyata, Covid-19 adalah cara TUHAN Allah untuk membuat gereja menjadi relevan dengan kembali kepada harkatnya guna menjawab panggilan-Nya “bersekutu (koinonia), melayani (diakonia), bersaksi (marturia), memberitakan Injil (kerygma) dan membangun secara holistik (oikodomen)” dalam dunia yang berubah secara drastis, karena IA bekerja dalam segala sesuatu.

Dalam hubungan ini, Gereja dan orang Kristen harus melihat Covid-19 sebagai cara TUHAN Allah mengelola dan mengkritisi kehidupan umat-Nya agar tetap relevan dalam dunia yang berubah. Orang Kristen harus bertanya, apakah iman dan etika moral saya kudus di tengah dunia yang tidak kudus? Apakah kehidupan gereja menggambarkan adanya tanda TUHAN yang kudus, esa, am dan misioner? Apakah gereja sedang taat dan setia pada panggilannya untuk “bersekutu, melayani, bersaksi, memberitakan Injil serta membangun komunitas umat Allah?”

Covid-19 membuat gereja menjadi sadar dan relevan di hadapan TUHAN Allah, dengan berani mengkritisi diri, mengintrospeksi diri, dan “tidak menghakimi orang lain.” Covid-19 ternyata adalah tangan TUHAN yang membentuk gereja-Nya supaya menjadi kudus, adil serta jujur dengan iman berpengharapan dalam menjalani kehidupannya di bumi secara membumi, sambil menantikan kedatangan TUHAN Yesus yang Ke-2 ke Dunia ini.

Ketiga, GEREJA DIKUATKAN MENJAWAB PANGGILANNYA.

Pada gilirannya, TUHAN Allah memakai Covid-19 untuk menguatkan serta memberkati gereja mengisi dan menikmati kehidupan berkat sesuai Perjanjian Berkat-Nya (Covenant) yang dijanjikan Allah (Ulangan 28:1-14; Galatia 3:29). Dapat dikatakan bahwa Covid-19 adalah “blessings in disguise” dari TUHAN Allah bagi Gereja-Nya.

Lihatlah, bagaimana Covid-19 digunakan Allah guna “merevitalisasi” hubungan orang Kristen dengan TUHAN Allah-nya dengan cara yang semakin mendalam di mana milyaran orang mencari TUHAN secara intens (Mazmur 62:2-3) dengan cara yang benar dalam Roh serta kebenaran (Yohanes 4:23-24) dan sesuai zaman (Yoel 2:28-29; KPR 2).

Ada ibadah keluarga sebagai inti gereja, di mana telah muncul jutaaan pengkhotbah baru dari keluarga dan hubungan dan peran keluarga yang menjadi semakin mesra dan jujur.

Dengan Covid-19, TUHAN juga merevitalisasi semesta, alam, tanah (ekonomi), cara hidup beradab dalam masyarakat, dst. Covid-19 menyadarkan bahwa ternyata dalam kehidupan manusia yang rapuh, ada berjibun kebaikan serta berkat TUHAN yang dapat dilihat dan dinikmati melalui ancaman sampar yang diizinkan ini (Mazmur 136).

Akhirnya, melalui Covid-19, “Amanat Agung Yesus Kristus” terlaksana secara baru dengan dinamika dan jangkauan baru bagi kemuliaan TUHAN Allah (Matius 28:18-20; Roma 11:31). Haleluya!!!

REFLEKSI

Apa yang dapat dipelajari dari Pengalaman Gereja menghadapi Covid-19 ini? Gereja harus belajar dari “pengalaman TUHAN dalam hidup, tentang hidup untuk hidup,” bahwa Covid-19 adalah ikhtiar TUHAN Allah untuk memberkati Gereja-Nya supaya mampu hidup selaras kehendak-Nya dan dapat menikmati serta menjadi berkat dalam arti yang sebenarnya.”

Dengan demikian, dalam menghadapi Covid-19, janganlah panik, jangan takut, dan ingatlah bahwa “jika Anda tawar hati dalam masa kesukaran, maka kekuatanmu menjadi kecil dan rapuh” (Amsal 24:10). “Larilah kepada TUHAN, maka Anda akan memperoleh pertolongan pada waktu-Nya” (Amsal 18:10).

Camkanlah kebenaran ini dalam menghadapi Covid-19:
C = Carilah TUHAN selama IA berkenan ditemui
O = Orang benar akan memperoleh pertolongan TUHAN pada waktu-Nya
V = Vitalisasi TUHAN akan menguatkan untuk menghadapi tantangan
I = Intesitas hubungan dengan TUHAN akan meneguhkan iman, etika moral dan pengharapan
D = Dalam tangan TUHAN kita akan selalu aman dan damai di tengah badai
1 = Angka SATU mutlak adalah SATU TUHAN, SATU Allah, SATU iman, dan SATU pengharapan yang memerdekakan
9 = Angka SATUAN TERBESAR adalah jaminan bekat TUHAN yang melimpah bagi Gereja-Nya melalui Covid-19.

Selamat menikmati berkat TUHAN Allah melalui ancaman Covid-19

www.yakobtomatala.com

Teks bacaan:
Roma 8:28; 11:6; I Raja-raja 22:1-40; Mazmur 91; Yesaya 33:15-16; Ibrani 13:6.

Pengantar
Ada kias dalam dunia militer yang mengatakan bahwa “peluru punya mata”. Apa artinya ini? Sederhana, maknanya ialah, “tidak sembarangan orang akan mati dalam pertempuran.” Jika dilihat dari perspektif Alkitab, kita diajarkan bahwa TUHAN Allah kita berdaulat, dimana IA telah menetapkan segala sesuatu untuk terjadi pada waktunya (Pengkhotbah 3:1-8), untuk memenuhi tujuan-Nya yang kekal.

Tidak terkecuali, ini termasuk Covid-19 yang menakutkan dunia, tetapi “tidak semua dan sembarang orang akan terkena, dan mati.” Lihatlah, Raja Israel Ahab yang menyamar dalam peperangan, tetapi “seseorang yang menarik panah dan menembak dengan sembarangan saja dan mengenai raja Israel (Ahab), dan menewaskannya” (I Raja-raja 22).

Hm … Apakah panah memiliki mata? Karena itu, timbul pertanyaan lain, “Apa yang patut diketahui untuk meneguhkan sikap orang percaya di dalam TUHAN Yesus Kristus menghadapi horor Covid-19 ini?

Pertama, Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, maka IA akan meluruskan jalanmu (Amsal 3:5) dan serahkanlah hidupmu pada-Nya (Mazmur 37:3,5,7), karena dengan kepak-Nya IA akan melindungi engkau, karena DIA-lah yang akan melepaskan engkau dari penyakit sampar, oleh-Nya, jangan takut! Dengan-Nya, walau sepuluh ribu orang rebah di sisimu, itu tidak akan menimpamu (Mazmur 91:3-7). Ingatlah, “Dalam takut akan TUHAN ada ketenteraman yang besar” (Amsal 14:26; Ayub 28:28).

Kedua, TUHAN Allah yang berdaulat, bekerja dalam segala sesuatu, untuk “mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi DIA” (Roma 8:28), dan segala sesuatu telah ditetapkan untuk tujuannya masing-masing (Amsal 16:4a), demi memenuhi maksud Allah, “yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya (Efesus 1:11a) bahkan orang fasik telah ditetapkan-Nya untuk hari malapetaka” (Amsal 26:4b). Ingatlah, bahwa Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus (I Tesalonika 5:9).

Karena itu, “lakukanlah yang benar di mata-Nya, maka Covid-19 tidak akan menimpa kita,” (Keluaran 15:26; Ulangan 7:15), sebab “hanya dekat TUHAN Allah saja kita tenang” (Mazmur 62;2-3), dan dalam naungan-Nya kita terlindung (Yesaya 33:15-16).

Ketiga, TUHAN Yesus Kristus mengingatkan kita bahwa pada akhir zaman akan datang berbagai malapetaka termasuk kelaparan dan sampar, tetapi ini baru permulaan dari tanda kedatangan-Nya (Matius 24:7-8; Wahyu 6:8). Sejalan dengan itu, akan timbul berbagai kejahatan (II Timotius 3:1-5), “tetapi orang yang bertahan sampai kepada kesudahannya akan selamat” (Matius 24:13).

Keempat, Covid-19, bisa jadi adalah peringatan TUHAN Allah, apakah kita termasuk “orang murtad yang saling menyerahkan dan saling membenci (Matius 24:10), karena tidak percaya dan berhati jahat?” (Ibrani 3:12).

Karena itu, waspadalah! Tetaplah berdoa ((I Tesalonika 5:27) dan bertahan ke akhir, “kita pasti terlindung dalam tangan TUHAN Yesus.” “Sebab itu berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran yang benar” (II Tesalonika 2:15), “bertegulah dalam TUHAN, dan berlarilah kepada-Nya, kita pasti selamat.

Karena itu, jangan tawar hati agar kekuatan kita besar dalam menghadapi tantangan. Berdirilah teguh, jangan goyah, karena dalam TUHAN, kita pasti selamat menghadapi semua tantangan” (Amsal 18:10; 24:10; I Korintus 15:58).

Akhirnya, ingatlah bahwa “corona punya mata dan tidak akan mengena sembarangan orang”, ingatlah akan Ahab yang terpanah mati, karena panah punya mata! Sadarlah bahwa TUHAN sedang memegang kendali, dan dalam tangan-Nya kita pasti terlindung.” Mari, ikrarkanlah bersama, “Haleluya! TUHAN adalah Penolongku. Aku tidak akan takut terhadap Covid-19” (Ibrani 13:6). Amin …

Selamat berlindung dalam kepak TUHAN Allah (Mazmur 91).

www.yakobtomatala.com

Tapak Sandya Kala, Sang Kekal, membumi dari pelataran Kota Raja Besar menelusuri setapak ke dalam keheningan beningnya sumber penglilang dahaga, berjejak di atas “gunung berkat”

Dahaga “para yang jadi” terbius “tanda ajaib” Sang Janji, memviral dari hunian para yang berada sampai ke gubuk tak perpunya
Berbondong menguntit Sang Janji, karena “tanda kekal di mata yang fana,” merongrong rasa menggerak karsa, memuncul tanya,
Apakah DIA Yang Terjanji dari Sandya Kala …….

Sang Janji, merangkum kata, penguji iman, “Di manakah kita dapat membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?”
Sebagai tanya berjawab penggugat iman, penguji takaran rasio, “untuk roti sepotong kecil?”
Terperangah sergah perintah, “Suruhlah orang-orang itu duduk”
Hm, …. duduk untuk sepotong kecil roti?
Namun, … dalam kuasa syukur Sang Janji, lima (5) roti jelai dan dua (2) ikan, mengenyangkan lima ribu (5000) dan tersisa dua belas (12) bakul potongan-potongan roti … semua merujuk jawab abadi, Akulah roti hidup; barang siapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barang siapa percaya kepada-Ku ia tidak akan haus lagi, “makanan yang bertahan sampai hidup kekal”, tanda meterai Sandya Kala, melebihi kuasa raja bumi …

Ini perintah iman …
Semua yang datang dan “duduk”, adalah pemberian Sandya Kala, Bapa Kekal
Semua yang melihat dan percaya, beroleh hidup kekal
Semua yang ditarik Sandya Kala, akan dibangkitkan Sang Janji, setelah semua yang fana berakhir …
Semua, karena Sang Janji adalah Roti Hidup yang turun dari Sorga, sehingga semua yang makan pasti hidup dan tinggal di dalam-Nya, hidup di dalam-Nya …

Yang berkerdil akal, pasti pergi …. dan binasa
Yang terundang dan duduk, pasti dikenyangkan Roti Hidup, dan menyanjung “Sang Janji”, Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah

Sepotong roti dalam tangan Sang Janji, Sang Penghidup bagi yang percaya, dan makan Roti Hidup, meneguhkan hidup abadi yang tidak dapat binasa …

Selamat duduk dan makan Roti Hidup untuk hidup abadi, dalam potongan roti Pemberian Sandya Kala, yang pasti akan tersisa banyak …

www.yakobtomatala.com

Tapak Sang Abadi berjejak kokoh di Kota Raja Besar, di Gunung Keselamatan, menyebar damai berkeadilan

Namun, Tapak Sandya Kala, YANG ESA, yang berjejak dalam hadir Sang Janji demi berbagi keadilan, didebati para “yang jadi”, yang sok tahu tentang Sang Abadi, Bapa Kekal, yang tertanda gugatan atas pelanggar martabat hari suci, dengan bangun, menggangkat tilam, berjalan dan sembuh …

Para sok tahu gagal sadar, bahwa Sang Janji, adalah Yang Terutus dengan Tugas Kekal, Penghadir rasa adil bagi para terpinggir
Ditanda Sapa Abadi, “… barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup

Karena Sang Janji adalah Pemegang Kuasa Anak Manusia
Dimana para sok tahu, dengan Sapa Abadi menjadi terdepak, “Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu” … dan yang mendakwa kamu adalah Musa, yang kepadanya kamu menaruh pengharapan ….

Sang Janji pada giliran-Nya memastikan bahwa “yang bangun, mengangkat tilam dan berjalan memperoleh keadilan dan hidup demi iman, sedangkan para sok tahu, pembaca Kitab Suci, terdepak oleh Tapak Sang Abadi karena tidak percaya … Fatal ….!

Selamat menyambut keadilan dari Sandya Kala dengan memperoleh hidup demi iman kepada Sapa Abadi Sang Janji

www.yakobtomatala.com

Tapak Sang Sandya Kala yang berurai diri, kembali menapak di Kota Raja Besar, Pusat Perjumpaan Suci

Tapak itu memijak bercak-bercak hitam menoda lorong ber-TUAN dengan “yang jadi” gagal melek, gagal jalan lurus, gagal bangun di atas kaki melunta, memelas harap, menanti tapak Sandya Kala, kala air bergoncang

Namun, rumput bergoyang gagal berkabar tentang desau tapak Sang Abadi menggoncang air, mendebat hati, memupus iman membelenggu harap menanti berjibun tahun, tersisih dalam antrian, menghilang asa, mengelam rasa menanti mendamba tak pasti jadi, datang-Nya Sang Kasap menggoncang air

Yang Abadi tak harus dikejar lewat goncangan air dari Yang Kasap …
Tapak-Nya berdebam dalam hadir Sang Janji dengan Sabda berjawab: “Maukah engkau sembuh?”
Lagi-lagi, percaya dan harap atas Sabda Sang Janji dengan “bangun, mengangkat tilam, berjalan” adalah sembuh

Yang pasti, percaya dan harap, atas Sabda Sang Janji, bangkit serta berjalan memelekkan untuk melihat, menegakkan untuk jalan lurus, mengokoh untuk berkuat di atas kaki Meleceh ulah pengidola “hari suci” gagal gugat “percaya, harap, bangkit dan berjalan, SEMBUH” dari kuasa Sang Abadi dalam Kata Kekal Sang Janji yang pasti jadi, tanpa air bergoncang
Namun besit Pesan Sang Janji, bagi yang sembuh, “jangan berbuat dosa lagi, agar sembuh dan sembuh …”

“Selamat percaya, berharap, bangun, mengangkat tilam, berjalan dan sembuh dalam Kuasa Sang Janji”

www.yakobtomatala.com

Tapak Sang Sandya Kala, Sang Abadi berurai diri di ruang-ruang kehidupan yang terang, yang gelap

Dari ruang gelap di tepi sumur, sampai ke hunian bekas hajatan, dan kini di lapak nelayan
Tapak itu menyampar di baringan pesakitan buah hati kuli istana

Tapak itu menapak ke dalam gelapnya hati, melihat gelap yang gelap, memasgulkan rasa atas yang sekarat, menoreh gundah menantang harap menggugah harapan melihat terang
Karena, tapak dalam hadir Sang Janji berjarak sehari langkahan kaki, menjerat rasa bimbang, melesap rasa percaya, menjerumus ke dalam gelap yang lain

Namun, tapak Sang Janji membesit harapan terang melintas jarak antara yang terang dan yang gelap dengan “percaya”
Percaya mendobrak kelam hati dari Sabda, “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya”
Percaya adalah “pergi” Pergi, adalah menyambut “hidup” dari Sang Janji yang menapak melangkahi jarak, menghadirkan Terang Pemberi Hidup, bagi yang sekarat di tempat gelap
Pergi, adalah jalan melihat hidup, karena Sang Janji adalah Terang Hidup, yang menghidupkan, membinar “Terang Hidup” dalam ruang gelap, “anakmu hidup” …….
Dan, percaya adalah jalan hidup, bagi diri dan keluarga, karena Sang Janji, Sang Terang Hidup sedang menapak masuk ke ruang gelap, memberi Terang bagi yang gelap …

Selamat percaya, pergi, dan menikmati Terang Hidup yang mengatasi gelapnya hidup …

www.yakobtomatala.com

Tapak Sang Abadi tertapak diri di ruang-ruang kehidupan
Tapak lakonan Sang Janji berhengkang dari Kota Damai, menyasar tepi sumur, tempat begundal mengumpet, tergusur …
Dari arena sang kuasa yang satu, ke lahan dipertuan yang lain, melintas petuanan gondokan kebuyutan

Tapak-tapak Sang Abadi mengendus “aroma diskriminasi”
menyusup ruang terata tanah, tepian sumur …
menyentuh rasa rusuh, dalam pinta, “Berilah Aku minum”

Minum…?
Minum, pengorak tabir kisah kasak kusuk lusuh diskriminatif …
“Orang-ku, orang-mu tidak bergaul ….”
Minum, menunjuk Air Hidup, memuas pencari keabadian
Minum, mengurai welas asih Sang Janji, menggilas diskriminasi
Minum, pemuas haus demi mengabadi
Minum, menguak kiat Penyelamat menggapai yang sekarat, mengkangkangi diskriminasi
Minum, merujuk jabat pendamain Sang Abadi, menuntas keperihan keletihan nurani para tersisih
Minum, penguras runyaman rerata keluarga, menjernih pekat rasa rusuh hati berjernih jiwa
Minum, penghadir bebas sang pendosa ditanda kata saksi, “nyata sekarang padaku, bahwa Engkau Jurukata Sang Abadi, Penyelamat Terjanji”
Minum, mematri hati Penyembah dalam Roh, dari yang jadi sang pendosa
Minum, menuntas lerai diskriminasi, menghadir tanya berjawab, “Mungkinkah Dia Yang Diurapi itu?”
Minum, menghubung serpihan diskriminasi berjawab bagi Sang Janji, “Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kau katakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia”

Minum, merujuk “welas non-diskriminatif Sang Abadi”, Keselamatan karya Sang Janji menuntas rasa pahit sang terpinggir, menjadi “Sahabat Sang Abadi” tanpa embel diskriminasi …

“Selamat berjabat damai dengan Sang Janji, Sang Abadi – di ruang tanpa diskriminasi” …

www.yakobtomatala.com