MEMBANGUN SIKAP: APAKAH ANDA MENGANDALKAN ORANG-ORANG ANDA

Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN” (Yeremia 17:7).

PENGANTAR

Apa dan siapa menjadi tumpuan andalan Anda? Apakah Anda sungguh mengandalkan orang-orang yang ada di sekitar Anda? Apakah benar mereka dapat diandalkan? Apakah mereka andalan utama Anda? Dapatkah Anda memperkirakan dampak yang akan terjadi dari mengandalkan apa dan siapa itu? Tentu Anda akan terusik dengan pertanyaan-pertanyaan di atas ini, karena semuanya mengganggu Anda untuk memikirkan ulang siapa orang-orang yang ada disekitar Anda serta sejauh mana harkat dan kapasitas mereka yang olehnya mereka dapat menjadi andalan Anda. Read the rest of this entry »

PEMIMPIN DALAM MEWUJUDKAN UPAYA MEMIMPIN YANG BERKUALITAS

Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekejaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di depan orang hina ” (Amsal 22:29).

PENGANTAR

Ada pernyataan menarik, “jangan mengharapkan bahwa sesuatu akan terjadi apabila Anda tidak melakukan apa pun.” Kalau begitu, dengan tidak melakukan apa-apa, tidak ada apa-apa yang terjadi. Dan dapat juga dikatakan bahwa, dengan tidak melakukan apa-apa maka sesuatu sedang terjadi, yaitu, tidak terjadi apa-apa. Pernyataan di atas menyiratkan kebenaran bahwa “ada tempat bagi kerja, ada waktu bagi kerja, ada peran bagi kerja, ada guna bagi kerja.” Di sini dapat ditegaskan bahwa dengan bekerja sajalah maka Anda akan melihat ada sesuatu yang terjadi. Sesuatu yang terjadi ini dapat berupa proses, mulai berjalanberakhir dan produk dari kerja, yang dapat dilihat serta dipahami dari berbagai sudut pandang. Dalam kaitan dengan kepemimpinan, kerja bagi pemimpin adalah “upaya memimpin” (leading attempt). Upaya memimpin ini merupakan tugas dan peran penting yang harus dilaksanakan oleh setiap pemimpin. Pemimpin yang melaksanakan upaya memimpin berati ia sedang bekerja dengan memimpin. Dalam hubungan dengan upaya memimpin ini, pemimpin yang memimpin berpikir, bersikap berkata dan bertindak sebagai pemimpin, karena memimpin adalah kerjanya pemimpin. Read the rest of this entry »

MEMBANGUN SIKAP: APAKAH SUNGGUH KATA-KATA PEMIMPIN ITU BERTUAH

Hati orang bijak menjadikan mulutnya berakal budi, dan menjadikan bibirnya lebih dapat meyakinkan” (Amsal 16:23).

PENGANTAR

Pernahkah Anda mengevaluasi kata-kata yang Anda ucapkan atau yang Anda dengar? Apakah kata-kata itu menyenangkan atau menyakitkan? Tahukan Anda bahwa semua itu karena kata-kata itu bertuah dan berkuasa yang nampak pada dampaknya? Apakah benar kata-kata Anda sebagai pribadi mau pun sebagai seorang pemimpin itu bertuah dan berkuasa? Apa bukti bahwa kata-kata seorang pemimpin itu bertuah dan bekuasa? Apa makna dari penyataan “kata bertuah dan berkuasa” ini? Coba renungkan pernyataan berikut ini, “Anda adalah apa yang Anda pikirkan, apa yang Anda katakan, dan apa yang Anda lakukan.[1] Implikasi dari pernyataan ini adalah, pikiran Anda menjelaskan siapa Anda sesungguhnya, kata-kata yang Anda ucapkan mengungkapkan isi hati Anda, dan tindakan Anda menyatakan maksud Anda yang sebenarnya. Kebenaran pernyataan di atas dilukiskan oleh Penulis Amsal yang menegaskan, “Anak-anak pun sudah dapat dikenal dari pada perbuatannya, apakah bersih dan jujur kelakukannya” (Amsal 20:11). Read the rest of this entry »

MEMBANGUN SIKAP: MEMIMPIN DENGAN MELAYANI, APA BISA YA

….. Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya mejadi tebusan bagi banyak orang

(Matius 20:28; Makus 10:45).

PENGANTAR

Memimpin dengan melayani secara umum terlihat sebagai dua hal yang “paradoks.” Betapa tidak, memimpin menjelaskan tentang pemimpin yang posisinya di atas, karena dalam kepemimpinan, tempat pemimpin akan selalu berada di atas. Sedangkan, melayani pada sisi lain, menunjuk kepada tugas pelayan, yang sering dianggap sebagai pekerjaan rendahan. Dari sudut pandang ini, terlihat adanya paradoks yang disinggung di atas. Dari sini orang dapat berkata, “mana mungkin seorang pemimpin memimpin dengan melayani? Pemimpin kan berada di atas, dimana ia dapat melakukan apa saja, termasuk menggunakan tangan besi” (Matius 20:25; Markus 10:42). Namun, dilihat dari perspektif ajaran Yesus Kristus, “memimpin dengan melayani” adalah kebenaran kepemimpinan-Nya yang hakiki, yang memiliki sifat yang “par-excellence” (kepemimpinan terbaik yang tidak ada bandingannya). Memimpin dengan melayani adalah pendekatan falsafah yang menjelaskan tentang suatu kebenaran secara “abiding paradox.”[1] Pendekatan ini menyatakan kebenaran yang terlihat sebagai bertentangan, namun pada dasarnya tidaklah bertentangan karena memiliki makna tersirat.[2] Alasan kuat bagi pemahaman ini ialah bahwa falsafah yang abiding paradox ini sesungguhnya adalah kebenaran yang mengandung makna yang sangat dalam. Kebenaran mengenai pendekatan ini terlihat dalam pernyataan Yesus Kristus yang dapat dipadatkan melalui anak kalimat “memimpin dengan melayani.” Ayo, mari kita maknakan! Read the rest of this entry »