PEMIMPIN ARIF, MEMIMPIN DENGAN MENGASIHI SEBAGAI GAYA KEPEMIMPINAN YANG ALTRUIS [1]

PEMIMPIN ARIF, MEMIMPIN DENGAN MENGASIHI SEBAGAI GAYA KEPEMIMPINAN YANG ALTRUIS [1]

Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah kepada mereka yang menganiaya kamu” (Matius 5:44).

PENGANTAR

Kasih, adalah istilah yang sangat populer. Kata yang satu ini sangat dikenal oleh setiap insan secara umum. Pada sisi lain, kasih itu sesungguhnya secara khusus  meneguhkan, menyatukan, mengikat orang-orang yang berbeda satu dengan yang lainnya, laki-laki-perempuan, tua-muda, besar kecil, hitam-putih, dan melewati semua perbedaan, karena sifatnya yang sangat khas (I Korintus 13). Kata ini menyentuh lubuk hati, menyentuh roh dan jiwa manusia, menyentuh pribadi pada level yang terdalam, bahkan dapat mengikat secara multi-individu.  Dari perspektif yang lain, kasih yang begitu melekat pada hati dan lidah setiap orang telah dimaknai secara berbeda, sehingga diekspresikan juga secara berbeda. Dalam upaya mengekspresikan kasih secara benar dalam kepemimpinan, langkah penting adalah memahami maknanya. Read the rest of this entry »

MENGISI HARI INI DENGAN ARIF, MEMBANGUN MASA DEPAN BERPENGHARAPAN

Sebab itu, perhatikanlah baik-baik cara hidupmu. Jangan hidup seperti orang-orang bodoh; hiduplah seperti orang-orang bijak. Gunakanlah sebaik-baiknya setiap kesempatan yang ada padamu”  (Efesus 5:15-16a – BIS).

PENGANTAR

Masa depan di dalam TUHAN adalah “penuh harapan” yang sepenuhnya dijamin oleh janji kesejahteraan dari pada-Nya (Yeremia 29:11). Namun, bagaimana kita mengisinya, sehingga kesejahteraan, sukses dan kemakmuran hidup dapat kita tuai di tahun 2011 ini? Read the rest of this entry »

PEMIMPIN BIJAK, MEMIMPIN DENGAN GEMBIRA

Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berja-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yag harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira,” (Ibrani 13:17).

PENGANTAR

Pemimpin yang bijaksana harus memimpin dengan gembira. Memimpin dengan gembira adalah kualitas kepemimpinan yang memiliki nilai tambah yang positif. Dalam upaya menolong untuk melaksanakan kepemimpinan dengan gembira, kita perlu bertanya, “Apa sesungguhnya makna memimpin dengan gembira ini?” Pola dan gaya kepemimpinan macam apa pula ini? Apakah pemimpin harus selalu menyikapi kepemimpinannya dengan sikap gembira? Kemanfaatan apa yang akan diperoleh melalui memimpin dengan gembira ini? Bagaimana seorang pemimpin dapat memimpin dengan gembira? Bagaimana pula memimpin dengan gembira itu dapat dilaksanakan? Menjawab semua pertanyaan di atas, marilah kita memaknakan bagaimana kita dapat memimpin dengan gembira itu: Read the rest of this entry »

TAHUN PENGHARAPAN

Bukankah Aku sendiri tahu rencana-rencana-Ku bagi kamu? Rencana-rencana itu bukan untuk kecelakaan kamu tetapi untuk kesejahteraanmu dan untuk memberikan kepadamu masa depan penuh harapan”  (Yeremia 29:11 BIS).

PENGANTAR

Masa depan adalah gelap bagi semua orang. Kenyataan ini membuat ada orang yang ingin tahu tentang masa depannya berupaya untuk mengorakkannya melalui jasa peramalan, dan sebagainya. Read the rest of this entry »

REFLEKSI: NATAL MEMBAWA REFORMASI-TRANSFORMASI SEJATI

Lihatlah Aku menjadikan segala sesuatu baru” (Wahyu 21:5b)

PENGANTAR

Natal kita rayakan ditengah kenyataan meredupnya gaung REFORMASI yang telah bersusia lebih dari satu decade. Tatkala mengadakan evaluasi mengenai gerakan reformasi yang bergulir sejak tahun 1998, setidak-tidaknya ada tiga pendapat yang dapat dikemukakan, yaitu antara lain: 1. Penilaian optimistik yang mengetengahkan bahwa reformasi telah berhasil dengan segudang bukti, antara lain tegaknya demokrasi, adanya keterbukaan, tingkat kehidupan ekonomi Negara semakin menguat, dan sebagainya. 2. Penilaian pesimistik yang mengatakan bahwa reformasi gagal total, dengan mengetengahkan sejumlah alasan antara lain, hukum belum dijunjung tinggi, korupsi masih mearajalela, kesejahteraan rakyat masih terabaikan, dsb; dan 3. Penilaian oportunistik yang mengetengahkan sikap: setuju OK, tidak setuju OK, yang penting kepentingan terpenuhi, apapun kondisinya. Penilaian ini sangat bersifat egoisme, yang dijetuskan oleh mereka yang selalu mengail di air keruh, mengail di tambak orang, dengan slogan, “yang penting saya, masa bodoh dengan yang lain, yang penting bukan saya yang menjadi korban.” Read the rest of this entry »

REFLEKSI NATAL: BANGKIT DAN MENJADI TERANG

Terang yang sesunguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia” (Yohanes 1:9).

PENGANTAR

Natal 2010 kita syukuri dalam kondisi dunia yang semakin gelap karena berbagai kemelut, mulai dari bencana alam beruntun, pertikaian antar strata dan kelompok masyarakat, persoalan rumah tangga sampai pada kerumitan hidup setiap individu. Read the rest of this entry »

REFLEKSI KEPEMIMPINAN: BELAJAR DARI PENGALAMAN DISAKITI, APAKAH PANTAS BAGI PEMIMPIN UNTUK MEMBALAS BILA TERSAKITKAN

Berbahagialah kamu, jika kamu dinista …..”  (I Petrus 4:14a).

PENGANTAR

Kehidupan adalah suatu proses, yang dahulu dilukiskan sebagai suatu pengembaraan. Pelukisan ini ada benarnya, dimana sebagai anak manusia, kita semua sedang mengembara, berkelana menjalani kehidupan di bumi di mana kita berada. Salah satu dari sekian banyak pengalaman yang dominan dalam pengembaraan kita yang sangat mempengaruhi dari sisi negatif ialah “pengalaman disakitkan” atau “pengalaman perendahan.” Menyikapi pengalaman seperti ini dalam pengembaraan hidup, hal yang perlu untuk meneguhkan kita menjalani pengembaraan sebagai pemenang adalah “belajar dari hidup tentang hidup untuk hidup.” Read the rest of this entry »

PROMO WORKSHOP KEPEMIMPINAN:

Pengantar

Oleh kemurahan TUHAN Allah, YT Leadership Foundation, Jakarta berkesempatan menyelenggarakan Market Place Leadership Workshop, yang mengetengahkan pokok: “Epiritual EntrepreneurshipAnda juga bisa Menjadi Entrepreneur Kompeten, pada tanggal 27 November 2010, jam 10:00 – 14:00., bertempat di Gedung GKII Bukit Zaitun, Jl. Jamrud No. 24, Jakarta Pusat.

  • ENTREPRENEUR DAN ENTREPRENEURSHIP ROHANI
  • Anda tentu bertanya, apakah ada Entrepreneur Rohani dan Entrepreneurship Rohani? Kalau ada, apa kesamaannya serta apa perbedaannya dengan entrepreneur umum? Simaklah komentar dari Levi Brackman dan Sam Jaffe yang mengatakan, “Kewirausahaan spiritual memandang bisnis sebagai sarana untuk meraih tujuan ketimbang menjadi tujuan itu sendiri. …. Kewirausahaan spiritual sebaliknya, memandang keseluruhan bisnis penghasil uangnya melalui kacamata yang lebih tinggi untuk melihat lebih pada apa yang bisa dilakukan dengan uang. ….. Mereka melihat kekayaan sebagai berkah dari TUHAN yang menjadikan mereka sebagai penjaga kekayaan tersebut. Mereka merasa bertanggung jawab untuk menggunakan uang mereka untuk kepentingan yang lebih tinggi …. ” Melihat ini tentu kita sepakat bahwa ada entrepreneur rohani, tetapi dengan ini, muncul pertanyaan yang lain, “Apakah istilah entrepreneur hanyalah untuk pebisnis Kristen saja dan apakah seorang pelayan dapat disebut entrepreneur rohani?”
  • Temukanlah jawaban untuk pertanyaan ini melalui Market Place Leadership Workshop, yang mengetengahkan pokok: “Spiritual Entrepreneurship: Anda juga bisa menjadi Entrepreneur Kompeten, pada tanggal 27 November 2010, jam 10:00 – 14:00., bertempat di Gedung Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII)  Bukit Zaitun, Jl. Jamrud No. 24, Jakarta Pusat.
  • Pembicara: Pdt. Dr. Yakob Tomatala,  pakar kepemimpinan lulusan Fuller Theological Seminary, California USA., Pendiri Institut Filsafat Theologi dan Kepemimpinan Jaffray Jakarta.

Jakarta, 15 November 2010

Administrator,

Yahya Mailelak, S.Th

MEMANAJEMENI PRIORITAS: MENGELOLA SUMBER-SUMBER

….. mulai dari sekarang, apa pun juga yang mereka rencanakan tidak ada yang tidak dapat terlaksana” (Kejadian 11:6c).

PENGANTAR

Telah ditegaskan sebelumnya bahwa tatkala pemimpin memimpin, maka ia melaksanakan kepemimpinan dengan memasuki kawasan manajemen. Dan lagi, telah ditegaskan bahwa pemimpin yang memimpin perlu mengawali dengan memanejemeni diri-nya. Pemimpin yang memanajemeni diri-nya berarti ia mengelola serta mencitrakan perilaku (behavior) dan pola (style) kepemimpinannya sebagai landasan untuk menjalankan kepemimpinannya (influencing).  Selanjutnya, pemimpin dalam menjalankan upaya memimpin (leading attempt) atau bekerja dengan memimpin seperti ini, harus mewujudkannya melalui pengelolaan sumber-sumber kepemimpinan. Dalam kaitan ini, pemimpin yang melaksanakan tugas menajerial berdasarkan manajemen prima yang telah diterangkan sebelumnya, mengharuskannya untuk menyadari bahwa di dalamnya ada lima (5) matra manajerial, tiga (3) posisi peran manajemen dan delapan (8) aspek sumber-sumber yang perlu dimanajemeni, dengan membangunnya bertulang punggungkan satu (1) orientasi, serta empat (4) langkah siklus implementasi manajemen dalam kepemimpinan yang harus diterapkannya secara strategis dan taktis. Sebagai upaya untuk melajutkan diskusi seputar pemimpin yang memimpin dengan memanejemeni ini, maka pokok percakapan yang akan dibentangkan adalah “mengelola sumber-sumber” dalam kepemimpinan. Selamat mengembara bersama! Read the rest of this entry »

CERMATI, PEMIMPIN SEJATI JANGAN BERCABANG LIDAH

Buanglah mulut serong dari padamu dan jauhkanlah bibir yang dolak-dalik dari padamu.”  (Amsal 4:24).

PENGANTAR

Bercabang lidah, apa pula ini? Makluk yang bercabang lidah adalah ular dan satwa reptil sejenis. Bercabang lidah adalah bagian utuh dari harkat makluk yang satu ini. Bercabang lidah pada sisi lain, adalah juga terma sinistik bagi orang yang suka bercabang kata. Bercabang kata bersumber dari “hati yang tidak selaras dengan kata-kata yang diucapkan.” Hal ini seperti yang diungkapkan dalam Amsal 10:11b, “mulut orang fasik menyembunyikan kelaliman” yang tersembunyi di lubuk hatinya. Di sini ia bicara A, di sana bicara B. Bicara A dan B  ini bukanlah A alias A yang lurus, atau B alias B yang lurus, tetapi A yang dibengkokkan, B yang dipelintirkan, yang dimaknai sesuka hati yang bercabang. Tindakan ini sesungguhnya dilakukan untuk maksud bercabang yang pasti berdampak mencabang-cabangi, mengharu birukan dan menghancurkan hubungan-hubungan dalam kepemimpinan. Dalam kaitan ini, mengingat bahwa “kata-kata pemimpin itu bertuah,” maka pemimpin yang bijak harus menjauhkan diri dari sikap bercabang lidah dengan menyadari bahwa “Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran” (Amsal 21:23), karena “Jika orang benar bertambah, bersukacitalah rakyat, tetapi jika orang fasik memerintah, berkeluhkesahlah rakyat” (Amsal 29:2).  Karena itu, marilah kita simak bersama, bagaimana menjadi pemimpin yang mampu menolak sikap bercabang lidah ini! Read the rest of this entry »

YT Leadership Foundation
February 2012
M T W T F S S
« Jun    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
272829