<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DR. Yakob Tomatala</title>
	<atom:link href="http://yakobtomatala.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://yakobtomatala.com</link>
	<description>Leadership, Thoughts, Books, Writing !</description>
	<lastBuildDate>Thu, 11 Mar 2010 07:00:01 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>IN-HOUSE TRAINING  PENGEMBANGAN PEMIMPIN ROHANI  2010</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2010/03/11/in-house-training-pengembangan-pemimpin-rohani-2010/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2010/03/11/in-house-training-pengembangan-pemimpin-rohani-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 06:59:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yakob Tomatala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Information]]></category>
		<category><![CDATA[Pusat Pelatihan Kepemimpinan]]></category>
		<category><![CDATA[IN-HOUSE TRAINING PENGEMBANGAN PEMIMPIN ROHANI 2010]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[Motto : Leading to Succeed
Sub Motto: Spiritual Leader with Excellent Spirit
IN-HOUSE TRAINING
Tahap I
16 – 19 Maret 2010
TUJUAN:

Mengembangkan pemimpin Kristen menjadi kompeten dengan integritas karakter Kristen yang teguh, kapasitas pengetahuan yang komprehensif dan khas lebih, serta kapabilitas kecakapan sosial dan teknis yang andal.
Mengembangkan pemimpin Kristen menjadi unggul sehingga mampu menjalankan upaya memimpin secara berkualitas (efektif, efisien [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Motto </strong>: <strong>Leading to Succeed</strong></p>
<p><strong>Sub Motto</strong><strong>: Spiritual Leader with Excellent Spirit</strong></p>
<p><strong>IN-HOUSE TRAINING</strong></p>
<p><strong>Tahap I</strong></p>
<p>16 – 19 Maret 2010</p>
<p><strong>TUJUAN</strong>:</p>
<ol>
<li>Mengembangkan pemimpin Kristen menjadi <strong><em>kompeten</em></strong> dengan <em>integritas</em> karakter Kristen yang teguh, <em>kapasitas</em> pengetahuan yang komprehensif dan khas lebih, serta <em>kapabilitas</em> kecakapan sosial dan teknis yang andal.</li>
<li>Mengembangkan pemimpin Kristen menjadi unggul sehingga mampu menjalankan upaya memimpin secara berkualitas (efektif, efisien dan sehat) pada segala aras.<span id="more-182"></span></li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="36" valign="top"><strong>No.</strong></td>
<td width="217" valign="top"><strong>POKOK</strong></td>
<td width="255" valign="top"><strong>DESKRIPSI</strong></td>
<td width="82" valign="top"><strong>TANGGAL</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="36" valign="top">1.</td>
<td width="217" valign="top"><strong>Tahap I</strong></td>
<td width="255" valign="top">
<ul>
<li>Membangun Dasar</li>
</ul>
</td>
<td width="82" valign="top"><strong>Maret</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="36" valign="top"></td>
<td width="217" valign="top">
<ul>
<li>Kepemimpinan Rohani</li>
<li>Membangunkan Sang Pemimpin   Rohani Dalam Diri Anda: Awaken the Spiritual Leader within You</li>
<li><strong>TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS (TPK)</strong>:</li>
</ul>
</td>
<td width="255" valign="top">
<ul>
<li>Setelah mengikuti In-House Training   Tahap I Sesi 1 ini, pembelajar memperoleh kemanfaatan berikut:</li>
</ul>
<ol>
<li>Mengidentifikasi   pemimpin rohani.</li>
<li>Merumuskan   hakikat hidup pemimpin rohani.</li>
<li>Mendemonstrasikan   dinamika kepemimpinan rohani.</li>
<li>Menunjukkan   perbedaan pemimpin rohani dan pemimpin umum lainnya.</li>
<li>Mengevaluir   untuk membangun kepemimpinan rohani bagi diri sendiri.</li>
</ol>
</td>
<td width="82" valign="top">Selasa, 16</td>
</tr>
<tr>
<td width="36" valign="top"></td>
<td width="217" valign="top">
<ul>
<li>Personality Assesment:</li>
<li>Menggali Potensi Anda: Asesmen   Personalitas</li>
<li>TPK:</li>
</ul>
</td>
<td width="255" valign="top">
<ul>
<li>Setelah mengikuti In-House   Training Tahap I Sesi 2 ini, pembelajar memperoleh kemanfaatan berikut:</li>
</ul>
<ol>
<li>Meletakkan dasar menilai diri   secara benar.</li>
<li>Meresponi proses pengembangan   diri secara proaktif.</li>
<li>Mengembangkan suatu strategi pengembangan   diri yang pas.</li>
<li>Mewujudkan langkah-langkah   pengembangan diri mencapai kompetensi tinggi dengan karir yang pas.</li>
</ol>
</td>
<td width="82" valign="top">Rabu, 17</td>
</tr>
<tr>
<td width="36" valign="top"></td>
<td width="217" valign="top">
<ul>
<li>Membangun Citra Diri</li>
<li>Developing Self Image</li>
<li>TPK:</li>
</ul>
</td>
<td width="255" valign="top">
<ul>
<li>Setelah mengikuti In-House   Training Tahap I Sesi 3 ini, pembelajar memperoleh kemanfaatan berikut:</li>
<li>Memahami dan mengenal   sindroma “the Achilles Heel” (titik lemah) yang menghalangi diri untuk maju.</li>
<li>Mengevaluir untuk mencipta   gambaran diri yang baru ebagai landasan untuk maju.</li>
<li>Mengembangkan diri menjadi   pribadi yang menyenangkan</li>
</ul>
</td>
<td width="82" valign="top">Kamis, 18</td>
</tr>
<tr>
<td width="36" valign="top"></td>
<td width="217" valign="top">
<ul>
<li>Membangun Potensi   Kepemimpinan Anda</li>
<li>Developing Your Leadership   Potentials</li>
<li>TPK:</li>
<li>Setelah mengikuti In-House   Training Tahap I Sesi 4 ini, pembelajar memperoleh kemanfaatan berikut:</li>
<li>Memahami bagaimana membangun   potensi diri ke arah KOMPETENSI penuh.</li>
<li>Menerapkan langkah-langkah   mengembangkan potensi diri dengan mewujudkan <em>Karakter </em>(Integritas) yang tangguh; <em>Pengetahuan </em>yang komprehensif dan khas lebih (Kapasitas) yang   penuh dan distink; <em>Kecakapaan Sosial   dan Teknis</em> (Kapabilitas) yang andal, menjadi Pemimpin yang sukses.</li>
</ul>
</td>
<td width="255" valign="top"></td>
<td width="82" valign="top">Jumat, 19</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>CATATAN</strong>:</p>
<ol>
<li><strong>In-House Training dan Workshop</strong> <em>Bersertifikat</em> untuk setiap Tahap.</li>
<li>Tempat <strong>In-house Training dan Workshop</strong>: <em>Jl. Bimaduta 2/7 Dukuh Bima, Kota Legenda, Lambangsari-Tambun, Bekasi</em> (3 menit dari Pintu Tol: Grand Wisata &#8211; Tambun).</li>
<li>Untuk informasi, hubungi : Welly HP: 0813-11330305; Yahya HP: 0812-8230596; Widi: HP 08888910094</li>
<li>Penjelasan rinci dapat menghubungi <strong>D</strong><strong>r</strong><strong>. Y</strong><strong>akob</strong><strong> Tomatala</strong>; email: <a href="mailto:tomatala.yakob@gmail.com">tomatala.yakob@gmail.com</a>. Lihat Website: <a href="http://www.yakobtomatala.com/">www.yakobtomatala.com</a>.</li>
<li><strong>5. </strong><strong>Bonus Pembayaran : </strong>
<ol>
<li><strong>a. </strong><strong>Tahap    I: Sesi 1 – 2 = 100 %; Tahap    I: Sesi 3 – 4 = 75 %; </strong></li>
<li><strong>b. </strong><strong>Tahap  II: Sesi 1 – 2 =   75 %; Tahap   II: Sesi 3 – 4 = 50 %; </strong></li>
<li><strong>c. </strong><strong>Tahap III: Sesi 1 – 2 =   50 %; Tahap III: Sesi 3 – 4 = Free.</strong></li>
</ol>
</li>
<li>Hubungilah kami untuk memperoleh keterangan tentang Program Pelatihan lain. Terimakasih.</li>
</ol>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2010/03/11/in-house-training-pengembangan-pemimpin-rohani-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PASTORS’ WORKSHOP AND TRAINING  PENGEMBANGAN PEMIMPIN ROHANI 2010</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2010/03/05/pastors%e2%80%99-workshop-and-training-pengembangan-pemimpin-rohani-2010/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2010/03/05/pastors%e2%80%99-workshop-and-training-pengembangan-pemimpin-rohani-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Mar 2010 02:22:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yakob Tomatala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Information]]></category>
		<category><![CDATA[Seminar]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>
		<category><![CDATA[PENGEMBANGAN PEMIMPIN ROHANI 2010]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=180</guid>
		<description><![CDATA[PASTORS’ WORKSHOP AND TRAINING PENGEMBANGAN PEMIMPIN ROHANI 2010
 
Motto :Leading to Succeed
Sub-motto:Spiritual Leader with Excellent Spirit
PASTORS’ BUSINESS
Sesi 1
8 Maret  2010
TUJUAN PEMBELAJARAN UMUM:

Mengembangkan para Gembala Jemaat menjadi pemimpin berpotensi tinggi.
Melengkapi para Gembala dengan kemampuan andal untuk memimpin secara berkualitas dan unggul.




No.
POKOK
DESKRIPSI
JADWAL


1.
Gereja Anda dapat Bertumbuh: Manajemen Strategi   Pertumbuhan Gereja


TUJUAN PEMBELAJARAN   KHUSUS:
Setelah mengikuti workshop [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PASTORS’ WORKSHOP AND TRAINING PENGEMBANGAN PEMIMPIN ROHANI 2010</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Motto </strong>:<strong>Leading to Succeed</strong></p>
<p><strong>Sub-motto:Spiritual Leader with Excellent Spirit</strong></p>
<p><strong>PASTORS’ BUSINESS</strong></p>
<p><strong>Sesi 1</strong></p>
<p>8 Maret  2010</p>
<p><strong>TUJUAN PEMBELAJARAN UMUM</strong>:</p>
<ol>
<li>Mengembangkan para Gembala Jemaat menjadi pemimpin berpotensi tinggi.</li>
<li>Melengkapi para Gembala dengan kemampuan andal untuk memimpin secara berkualitas dan unggul.</li>
</ol>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="36" valign="top"><strong>No.</strong></td>
<td width="217" valign="top"><strong>POKOK</strong></td>
<td width="246" valign="top"><strong>DESKRIPSI</strong></td>
<td width="92" valign="top"><strong>JADWAL</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="36" valign="top">1.</td>
<td width="217" valign="top"><strong>Gereja Anda dapat Bertumbuh</strong>: Manajemen Strategi   Pertumbuhan Gereja</td>
<td width="246" valign="top">
<ul>
<li><strong>TUJUAN PEMBELAJARAN   KHUSUS</strong>:</li>
<li>Setelah mengikuti workshop ini, para pelayan TUHAN   dapat memperoleh kemanfaatan berikut:</li>
</ul>
<ol>
<li>Mengidentifikasi Faktor Penghambat Pertumbuhan Gereja   yang dipimpin-nya.</li>
<li>Mengetahui kehendak Allah bagi Gereja-Nya.</li>
<li>Merancang Suatu Strategi Pertumbuhan Gereja.</li>
</ol>
<ul>
<li><strong>POKOK PEMBELAJARAN</strong>:</li>
</ul>
<ul>
<li>Pokok-pokok yang akan dipelajari dalam <em>Sesi 1 </em>ini ialah:</li>
</ul>
<p>1.    Mengenal Gereja Anda: Apakah Gereja Anda Bertumbuh   (Grow) atau Tidak (Decay).</p>
<p>2.    Apa Hekendak Allah bagi Gereja-Nya.</p>
<p>3.    Merencanakan Strategi Pertumbuhan yang Relevan</td>
<td width="92" valign="top">Maret, 8;</p>
<p>Jam: 10:00 – 13:000</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">CATATAN</span></strong>:</p>
<ol>
<li>Tempat <strong>Pastor’s Workshop</strong>: <em>Jl. Bimaduta 2/7 Dukuh Bima, Kota Legenda, Lambangsari-Tambun, Bekasi</em> (3 menit dari Pintu Tol: Grand Wisata &#8211; Tambun).</li>
<li>Untuk informasi, hubungi : Welly HP: 0813-11330305; Yahya HP: 0812-8230596; Widi: HP 08888910094.</li>
<li>Penjelasan rinci dapat menghubungi <strong>D</strong><strong>r</strong><strong>. Y</strong><strong>akob</strong><strong> Tomatala</strong>; email: <a href="mailto:tomatala.yakob@gmail.com">tomatala.yakob@gmail.com</a>. Lihat Website: <a href="http://www.yakobtomatala.com/">www.yakobtomatala.com</a>.</li>
<li><strong>Bonus Pembayaran</strong>: <strong>Sesi</strong> I <strong>– 100%; Sesi II – 100 %; Sesi III – 75 %; Sesi IV – 50 %; Sesi V – 25 %; Sesi VI – Free</strong>.</li>
<li>Hubungilah kami untuk memperoleh keterangan tentang Program Pelatihan lain. Terimakasih.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2010/03/05/pastors%e2%80%99-workshop-and-training-pengembangan-pemimpin-rohani-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PENGORBANAN YANG MENJADI DASAR BERBAGI KEDAMAIAN SEJATI</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2010/02/28/pengorbanan-yang-menjadi-dasar-berbagi-kedamaian-sejati/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2010/02/28/pengorbanan-yang-menjadi-dasar-berbagi-kedamaian-sejati/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Feb 2010 04:22:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yakob Tomatala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perenungan]]></category>
		<category><![CDATA[kedamaian sejati]]></category>
		<category><![CDATA[pengorbanan dasar kedamaia sejati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=178</guid>
		<description><![CDATA[RENUNGAN
Firman Allah menegaskan: “ Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan. Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus TUHAN kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu” (Roma 5:10-10).
PENGANTAR
Damai dan kedamaian adalah kebutuhan tertinggi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>RENUNGAN</strong></p>
<p>Firman Allah menegaskan: “ <em>Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan. Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus TUHAN kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu</em>” (Roma 5:10-10).</p>
<p>PENGANTAR</p>
<p>Damai dan kedamaian adalah kebutuhan tertinggi dari jiwa manusia. Kebutuhan ini mendorong setiap orang untuk mengusahakannya. Dalam upaya menggapai kedamaian ekonomi, orang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya. Sebagai upaya melindungi kedamaian sosial, orang mengupayakan ketentuan budaya (adat istiadat) yang menjaga hubungan-hubungan. Mewujudkan tanggungjawab menjaga kedamaian dan ketenteraman sipil, masyarakat, negara dan pemerintah menegakkan hukum. <span id="more-178"></span></p>
<p>Tetapi, apa yang terjadi? Manusia yang bertanggungjawab mewujudkan kedamaian di antara sesamanya menjadi penyebab utama hilangnya kedamaian dan ketenteraman, yang begitu mudahnya merusak hubungan pribadi maupun kelompok. Akibatnya, ada yang menyimpulkan, bahwa <em>damai dan rasa aman menjadi amat mahal</em>!!! Apakah kondisi yang sama dapat terjadi di antara orang Kristen? Bisa saja, karena “orang Kristen juga manusia.”</p>
<p>Pada sisi lain, ada perintah Sabda, “<em>Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang</em>” (Roma 12:18). Alasan utama bagi perintah ini ialah, bahwa TUHAN Yesus Kristus juga secara tegas mengatakan, “<em>Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah</em>” (Matius 5:9). Pada sisi lain, berkenan dengan teks Roma 5:10-11 di atas, kita dihadapkan dengan pertanyaan, apa sesungguhnya hubungan pengorbanan Yesus Kristus dengan kedamaian kita? Apa makna kebenaran ini bagi kita, apakah kita menyadari bahwa sebagai gereja, kita bertanggungjawab untuk hidup dalam damai dan menjadi pembawa damai? Bagaimana kita mewujudkan kebenaran ini dalam kehidupan dan kesaksian kita sehari-hari sebagai alat perdamaian? Fiman Allah sebagai teks perenungan kita mengungkapkan rahasianya yang dapat dipahami sebagai berikut:</p>
<ol>
<li><strong>I. </strong><strong>PENGORBANAN</strong><strong> YESUS KRISTUS ADALAH </strong><strong>CARA ALLAH MEWUJUDKAN KEDAMAIAN SEJATI BAGI KITA UMAT-NYA.</strong></li>
</ol>
<ul>
<li>Apa maknanya pernyataan “<em>pengorbanan Yesus Kristus adalah cara Allah mewujudkan kedamaian sejati bagi umat-Nya</em>?” Apa yang terjadi tatkala Yesus Kristus menyerahkan diri-Nya di salib sebagai cara Allah menyediakan dan mewujudkan kedamaian sejati bagi kita umat-Nya itu?</li>
</ul>
<ol>
<li>Di salib Yesus Kristus menanggung dan menyelesaikan masalah dosa kita, yaitu sumber perseteruan dengan Allah, sumber kekacauan hidup. Di salib, Yesus Kristus menyelesaikan utang dosa kita, sehingga kita dapat berdamai dengan Allah. Karena dengan pengorbanan-Nya itulah, Ia memperdamaikan kita manusia berdosa dengan Allah (Roma 5:10a; Banding: Efesus 2:14-28). Oleh-Nya kita memiliki hak istimewa beroleh damai.</li>
</ol>
<ol>
<li>Di salib Yesus Kristus mengerjakan kuasa pembebasan dan pemulihan yang memungkinkan kita menikmati kehidupan kekal, dengan menjadi umat-Nya, anak-anak tebusan, milik kesayangan-Nya (Keluaran 19:5-6; Yohanes 10:28,29; 1:12; 6:47). Penyelamatan yang memulihkan inilah yang menjadi dasar bagi kita untuk mengalami kedamaian yang bebas dari dosa. Pembebasan dan kebebasan dari Allah inilah yang menjadi sumber kekuatan bagi kita untuk hidup damai (Roma 5:10b, 11).</li>
</ol>
<p>IMPLIKASI:</p>
<ol>
<li>Dengan pengorbanan-Nya, Ia memulihkan hubungan perseteruan dengan Allah dan mengaruniakan kedamaian sejati bagi kita, sehingga kita memiliki damai abadi dari Allah (Yohanes 14:27).</li>
<li>Dengan pengorbanan-Nya, Ia menyelamatkan dan memulihkan kita serta memberikan kuasa bagi kita umat-Nya untuk menikmati hidup kekal dan kedamain sejati dari Allah. Kedamaian pemberian Allah inilah yang menjadi kekuatan bagi kita untuk membawa damai, dengan terus menang terhadap dosa dan berbagi damai (Matius 5:9)..</li>
</ol>
<ol>
<li><strong>II. </strong><strong>PENGORBANAN</strong><strong> YESUS KRISTUS ADALAH JALAN YANG DISIAPKAN ALLAH BAGI KITA UNTUK MENJADI ALAT PERDAMAIAN</strong>.</li>
</ol>
<ul>
<li>Apa yang dimaksudkan dengan pernyataan “<em>pengorbanan Yesus Kristus adalah jalan yagn disiapkan Allah bagi kita untuk menjadi alat pendamaian itu</em>”? Apa yang dapat dipahami dari kuasa pengorbanan Yesus Kristus dan hubungannya dengan peran kita sebagai alat perdamaian?</li>
</ul>
<ol>
<li>Pengorbanan Yesus Kristus adalah anugerah Allah yang memperdamaikan kita dengan diri-Nya. Anugerah Allah ini adalah kuasa yang meneguhkan kita untuk berdamai dengan Allah, berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan sesama. Perdamaian dari Allah ini adalah jaminan bagi hidup kita, yang olehnya  kita mampu mengalahkan dosa dan berbagi kedamaian (Roma 12:17-18, 21).</li>
</ol>
<ol>
<li>Pengorbanan Yesus Kristus yang mengaruniakan hidup kekal kepada kita memberi hidup berkualitas. Hidup berkualitas ini ditandai dengan adanya kuasa untuk hidup damai dan menjadi alat pembawa damai (Roma 12:18; Matius 5:9). Dengan demikian, kita akan selalu diteguhkan oleh karya pengorbanan Kristus untuk menjadi alat perdamaian dan hidup dalam damai sejati, dimana tugas pendamaian adalah kepercayaan dari Allah bagi kita umat-Nya (II Korintus 5:17-21).</li>
</ol>
<p>IMPLIKASI:</p>
<ol>
<li>Pengorbanan Yesus Kristus memiliki kuasa yang memperdamaikan kita dengan Allah, sehingga kita mampu berdamai dengan Allah, berdamai dengan diri dan berdamai dengan sesama. Perdamaian dengan Allah inilah yang meneguhkan kita menjadi alat pendamain Allah yang sejati.</li>
<li>Pengorbanan Yesus Kristus memberikan hidup kekal yang bebas dari dosa. Inilah hidup yang berkualitas yang ditandai oleh kedamaian sejati. Hidup berkualitas sebagai umat Allah yang ditandai dengan adanya perdamaian dan kedamaian inilah yang memungkinkan kita menjadi alat perdamaian dari Allah kepada dunia. Dengan kapasitas ini, Allah meneguhkan kita sehingga kita dapat menyerukan kabar perdamaian sebagai bagian dari tanggungjawab iman dengan berita: “&#8230; <em>berilah dirimu diperdamaikan dengan Allah</em>” (II Korintus 5:20).</li>
</ol>
<p><strong> KESIMPULAN</strong></p>
<p>Apa yang dapat kita simpulan dari kebenaran yang telah diuraikan di atas dan apa impikasinya bagi kita umat-Nya?</p>
<ol>
<li>Pengorbanan Yesus Kristus di salib adalah dasar dan jaminan dari Allah yang memperdamaikan kita manusia berdosa yang berseteru dengan Allah. Dengan pengorbanan Yesus Kristus ini kita memperoleh hak sebagai umat-Nya (Keluaran 19:5-6; I Petrus 2:9-10) untuk mengalami perdamainan dengan Dia, dengan diri sendiri dan dengan sesama. Di sinilah Allah melengkapi kita menjadi alat pendamain-Nya.</li>
</ol>
<ol>
<li>Pengorbanan Yesus Kristus yang memberikan hidup kekal kepada kita adalah cara Allah melengkapi kita dengan kuasa untuk menjadi alat perdamaian.  Oleh kuasa atau otoritas pengorbanan Yesus Kristus inilah maka kita dimampukan, sehingga kita dapat membawa damai, yang olehnya semama manusia berdosa dapat diperdamaikan dengan Allah.</li>
</ol>
<p>REFLEKSI:</p>
<ul>
<li>Bagaimana kita dapat membuktikan bahwa kita telah berdamai degan Allah oleh pengorbanan Yesus Kristus?</li>
<li>Apa yang seharusnya kita perbuat sebagai bukti bahwa kita telah menjadi alaat pendamain dari Allah?</li>
</ul>
<p>TUHAN Yesus Kristus memberkati dengan limpahnya dan menjadikan kita alat perdamaian-Nya. Selamat menyiapkan diri menyambut <em>Syukuran Jumat Agung</em> 2 April 2010, dengan menjadi alat perdamaian dari Allah. Kiranya melalui kita umat-Nya, dunia menikmati kedamaian sejati. Amin.</p>
<p>Jakarta, Maret 2010</p>
<p>Pdt. Dr. Yakob Tomatala</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2010/02/28/pengorbanan-yang-menjadi-dasar-berbagi-kedamaian-sejati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MEMBANGUN SIKAP: APAKAH ANDA PERCAYA KEPADA ORANG DI SEKITAR ANDA</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2010/02/28/membangun-sikap-apakah-anda-percaya-kepada-orang-di-sekitar-anda/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2010/02/28/membangun-sikap-apakah-anda-percaya-kepada-orang-di-sekitar-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Feb 2010 03:38:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yakob Tomatala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Perenungan]]></category>
		<category><![CDATA[MEMBANGUN SIKAP: APAKAH ANDA PERCAYA KEPADA ORANG DI SEKITAR ANDA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=174</guid>
		<description><![CDATA[“&#8230; Yesus sendiri tidak mempercayakan diri kepada mereka, karena Ia mengenal mereka semua” (Yohanes 2:24).
PENGANTAR
Apakah Anda cukup mempercayai orang-orang di sekitar Anda? Apakah mereka dapat dipercayai? Apakah mereka mempercayai Anda? Semua pertanyaan ini dapat menjurus kepada mendorong sikap mencurigai orang yang ada di sekitar kita. Tentu saja tidak. Orang berpandangan bahwa mencurigai itu salah. Ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<em>&#8230; Yesus sendiri tidak mempercayakan diri kepada mereka, karena Ia mengenal mereka semua</em>” (Yohanes 2:24).</p>
<p>PENGANTAR</p>
<p><a href="http://yakobtomatala.com/wp-content/uploads/2010/02/foto.gif"><img class="size-medium wp-image-175 alignleft" title="foto" src="http://yakobtomatala.com/wp-content/uploads/2010/02/foto-227x300.gif" alt="" width="136" height="180" /></a>Apakah Anda cukup mempercayai orang-orang di sekitar Anda? Apakah mereka dapat dipercayai? Apakah mereka mempercayai Anda? Semua pertanyaan ini dapat menjurus kepada mendorong sikap <em>mencurigai </em>orang yang ada di sekitar kita. Tentu saja tidak. Orang berpandangan bahwa mencurigai itu salah. Ini benar. Tetapi apakah sikap <em>tidak cepat percaya</em> juga mutlak salah? Sebaliknya, apakah sikap <em>cepat percaya</em> itu mutlak benar? Mari kita pertanyakan terus. Apakah Anda dapat mempercayai orang begitu saja? Apakah Anda mau mempekerjakan orang yang tidak dikenal dengan serta merta? Apakah untungnya percaya dan tidak percaya kepada orang yang ada di sekitar Anda? Apakah Anda memahami sejauhmana mempercayai seseorang, bagaimana mempercayainya dan sejauh mana pula dampak dari mempercayai itu bagi diri serta kepemimpinan Anda? Simaklah:</p>
<p><span id="more-174"></span></p>
<ol>
<li><strong>PERCAYA DAN TIDAK PERCAYA ADA DASARNYA</strong>. Mengapa Anda percaya dan mengapa Anda tidak percaya kepada seseorang tentu ada alasannya. Anda tentu tahu apa sebabnya Anda percaya mau pun tidak percaya kepada seseorang. Ini bicara tentang alasan atau dasar bagi percaya dan tidak percaya. Ingatlah, kalau Anda adalah pemimpin, maka orang akan mendekat dengan berbagai motif, ambisi dan kehendak. Ada yang murni, ada yang ambisius, ada yang menjilat, ada yang ingin tahu, ada yang mau menghancurkan Anda. Hm, &#8230; Anda tentu pikir yang murni itu baik. Tunggu, Anda dapat salah besar. Anda bisa lupa diri dan terjebak di sini. Alasannya ialah bahwa Anda tidak mengetahui motivasi, ambisi dan kehendak sejati dari orang yang dianggap murni tadi. Orang yang dianggap murni bisa saja berubah menjadi tidak murni kelak, karena manusia berkembang, manusia berubah. Kalau yang ambisius, menjilat, dan bersikap memusuhi, Anda gampang saja mengenal mereka. Tetapi yang dianggap murni bisa seperti domba jinak. Ingatlah pula, Anda akan terkecoh oleh “spirit serigala” di balik buluh dombanya. Begini, di sini tidak ada ajakan untuk mencurigai setiap orang, karena semangat mencurigai akan menggerogoti jiwa Anda, dan Anda akan menjadi sakit sendiri, jiwa Anda menjadi tidak sehat. Apa yang harus Anda lakukan? Anda harus menetapkan alasan, mengapa Anda mempercayai dan tidak mempercayai seseorang. Memang faktor integritas karakter (Keluaran 18:21; Filipi 4:5,8) adalah alasan kuat mempercayai seseorang, akan tetapi adalah bijak bila Anda tetap harus menetapkan alasan mengapa Anda mempercayai dan atau  tidak mempercayai. Ini landasannya, yang murni bisa berubah menjadi tidak murni karena kehendak, ambisi, kepentingan dan kesempatan yang diberikan berdasarkan kepercayaan. Ingat catatan ini: “<em>Tidak ada kestabilan dalam dunia kekuasaan, jadi bahkan teman-teman terdekat sekalipun bisa berubah menjadi musuh terburuk Anda</em>” (Robert Greene). Pikirkanlah, mengapa Yesus Kristus tidak mempercayakan diri kepada siapa pun, khususnya orang-orang Yahudi pada zamannya.</li>
</ol>
<ol>
<li><strong>MEMPERCAYAI ITU ADA BAIK DAN BURUKNYA</strong>. Sesungguhnya mempercayai seseorang yang layak dipercayai itu baik. Bahkan tidaklah salah tidak mempercayai orang yang tidak layak dipercaya. Namun, perlu disadari bahwa soal percaya mempercayai dalam kepemimpinan, harus dibedakan dengan konteks rumah tangga dan hubungan keakraban lainnya. Di samping itu, mempercayai dan menolak mempercayai seseorang, harus dilakukan dengan setulus mungkin, sehingga berdampak positif bagi diri dan kepemimpinan. Mempercayai seperti ini berarti memperhitungkan dampak dari peran serta yang aktif dalam kepemimpinan dengan batasan-batasannya. Tidak mempercayai juga berhubungan dengan memperhitungkan peran serta dalam kepemimpinan, dampak dan batasannya. Dalam kaitan ini mempercayai dan tidak mempercayai dibangun di atas kesadaran akan kemanfaatan positif maupun negatif. Pemimpin dalam hal ini bisa terjebak dengan membangun pendekatan di atas <em>preferensi suka tidak suka</em> yang dapat menciptakan sikap pilih buluh, mencipta anak emas. Pelajaran dapat diambil dari Yesus Kristus yang tahu mengapa ia mempercayai dan tidak mempercayai. Ia kenal Petrus sebagai orang yang mendua hati, bercabang lidah, walaupun dekat dengan DIA. Ia tahu, Yudas adalah koruptor. Ia kenal Yohanes yang lemah lembut, Ia tahu Yudas Selotis yang militan. Ia tahu semua, dan tatkala ia mempercayai dan atau tidak mempercayai, Ia memiliki alasan tersendiri, dan Ia adalah penentu batas-batasnya.</li>
</ol>
<ol>
<li><strong>MEMPERCAYAI ITU ADA AKIBATNYA, ADA GUNANYA</strong>. Mempercayai dan tidak mempercayai itu ada resikonya. Apabila seorang pemimpin mempercayai orang yang salah karena ia sesungguhnya penjilat, pemimpin sendirilah yang akan menuai resiko mempercayai seperti ini. Dan lagi, dalam hal pemimpin tidak mempercayai, tetapi orangnya benar-benar layak dipercayai, maka resiko tidak mempercayai juga akan nampak dalam kinerjanya, dimana ia telah mengambil kesimpulan yang juga kurang tepat. Jadi seorang yang bijak akan tahu sejauh mana ia harus percaya dan tidak mempercayai. Dengan demikian, Anda harus menentukan dan menjaga jarak yang pas bila Anda percaya dan tidak percaya, sambil memperhitungkan akibatnya. Orang di sekitar Anda datang dengan mental beragam. Dari sisi moral, ada yang bermental baik dengan karakter yang menyenangkan, ada yang merupakan orang sulit atau “difficult person” dalam organisasi, yang selalu berorientasi negatif. Disamping itu, ada orang yang mencari pengaruh, ada yang cuma iseng, ada yang mau cari untung, ada yang mau populer. Dari sisi kerja, ada yang bermental kuli yang pasif dan sangat bergantung pada pemimpin. Ada juga yang bermental pegawai yang kurang inisiatif dan bekerja untuk memperoleh gaji. Ada pula yang bekerja  dengan mendompleng organisasi sebagai jembatan belaka, dan ada yang bekerja dengan komitmen tinggi membawa keuntungan. Bagaimana Anda mempercayai mereka seperti ini? Anda harus bertanya, “apa gunanya orang ini ada di sekitar saya?” Di sini Anda harus memperhitungkan azas kegunaan atau kemanfaatan setiap individu yang Anda percayai atau menolak mempercayai. Ingatlah, bila Anda mempercayai seseorng tentu ada gunanya maupun tidak ada gunanya, sehingga Anda perlu memperhitungkan faktor “mengapa” dibalik sikap serta keputusan Anda untuk mempercayai dan atau tidak mempercayai.</li>
</ol>
<ol>
<li><strong>MEMPERCAYAI ITU HARUS MEMBAWA MANFAAT KEPEMIMPINAN</strong>. Mempercayai itu bukan saja ada resikonya, tetapi Anda harus <em>memilih resiko</em> mana yang Anda inginkan dari seseorang yang Anda percayai. Anda harus terus bertanya, apakah untungnya dan apa ruginya mempercayai dan tidak mempercayai seseorang? Secara kepemimpinan, ada seseorang yang terlihat sebagai tidak layak dipercayai, tetapi ternyata ia membawa kemanfaatan (keuntungan) bagi organisasi. Orang ini terbukti lebih baik dari pada mempercayai seseorang yang terlihat dapat dipercayai tetapi tidak membawa manfaat (untung) sama sekali. Dalam kaitan ini pemimpin haruslah menetapkan sejauh mana akan ada kemanfaatan/ keuntungan bagi organisasi, apabila ia mempercayai seseorang dan tidak mempercayai yang lainnya. Di sini tidak ada maksud untuk mendorong mengembangkan sikap mencurigai atau mengadili dan memutuskan siapa yang layak dipercaya dan siapa yang tidak. Tetapi, prinsip ini lebih cenderung berhubungan dengan upaya mendorong sikap bertanggung jawab untuk mempercayai. Tujuan dari prinsip ini ialah bahwa dengan mempercayakan tanggung jawab lebih kepada orang yang dipercayai, akan berdampak membawa keuntungan lebih kepada organisasi dan kepemimpinan yang sedang diemban, mau pun bagi diri pemimpin, dan orang yang dipercayai dimaksud.</li>
</ol>
<ol>
<li><strong>SIAPA YANG LAYAK DIPERCAYAI.</strong> Ini pertanyaan penting untuk dijawab oleh setiap pemimpin. Pemimpin yang arif tentu akan <em>memakai hati</em> untuk menakar, dan menimbangkan segala sesuatu (Yesaya 32:8; Yakobus 3:13-18; Efesus 5:15; I Raja-raja 3:18-28). Kearifan yang menggunakan hati adalah penting dalam mengambil keputusan apakah ia mempercayai ataukah tidak mempercayai seseorang. Ada beberapa landasan untuk membuat keputusan tentang percaya-mempercayai dalam kepemimpinan.</li>
<li><strong>a. </strong><em>Prinsip Integritas</em>. Prinsip ini menegaskan bahwa seseorang yang memiliki integritas adalah orang yang dapat dipercaya (Keluaran 18:21), yaitu dia yang berpikir benar, berkata benar dan bertindak benar serta mempertahankan sikap ya adalah ya, tidak adalah tidak (Filipi 4:5,8; I Timotius 6:11; Efesus 5:9; 4:1-6; I Korintus 6:9-10).</li>
<li><strong>b. </strong><em>Prinsip Tanggungjawab Bertujuan</em>. Prinsip ini menegaskan bahwa pemimpin bertanggung jawab atas semua dan seluruh kehidupan organisasinya. Karena itu, setiap pertimbangan untuk melibatkan orang yang dipercaya atau pun tidak, haruslah dilakukan dengan penuh hikmat, sehingga dapat menghasilkan keputusan yang sehat dalam mempercayai atau menolak mempercayai siapa pun (I Korintus 10:31).</li>
<li><strong>c. </strong><em>Prinsip Kemanfaatan</em>. Prinsip ini menegaskan bahwa setiap keputusan untuk mempercayai harus mempertimbangkan kemanfaatan yang utama dan lebih besar, yaitu membawa kefaedahan bagi organisasi, bukan bagi diri. Pemimpin harus menghindari orientasi mempercayai untuk mencari serta memperoleh dukungan. Di sini pemimpin dituntut untuk berbesar hati menetapkan mempercayai demi kepentingan yang lebih besar, bukan mempercayai demi kepentingan diri. Sikap seperti ini akan membawa imbasan besar yang meneguhkan organisasi, sehingga semua orang dalam kepemimpinan akan memperoleh manfaat dari keputusan pemimpin (Yakobus 2:1,8-9; I Korintus 10:23).</li>
<li><strong>d. </strong><em>Prinsip Kelayakan</em>. Prinsip ini menegaskan siapa sesungguhnya yang layak dipercayai. Di sini pemimpin harus mempertimbangkan banyak faktor tentang siapa yang layak mau pun tidak layak untuk dipercayai itu. Dalam kaitan ini, pemimpin perlu memperhatikan faktor <em>pembuktian diri</em> dari setiap individu yang ada di sekitarnya (I Timotius 5:17). Pemimpin sering terkecoh oleh penjilat, atau menyangka bahwa ia memperoleh dukungan tatkala semua dan seseorang mengatakan ya, diam atau pun mengangguk. Semua ini mengandung seribu makna, jadi pemimpin perlu berhikmat menyikapinya. Pemimpin perlu menyadari bahwa sesungguhnya kuasa kepemimpinan yang ada padanyalah yang menyebabkan orang menjadi penjilat, munafik atau pun taat. Dengan demikian, adalah penting bagi pemimpin untuk memperhatikan sejauh mana dan sesejati apa seseorang membuktikan diri dan layak dipercayai.</li>
<li><strong>e. </strong><em>Prinsip Keberlanjutan</em>. Prinsip ini menegaskan bahwa setiap keputusan untuk mempercayai haruslah dibangun di atas perspektif berkelanjutan (II Korintus 4:18). Perspektif ini menunjuk ke depan yang menekankan bahwa apa pun yang dilakukan, haruslah mempertimbangkan dampak dan efek serta eksesnya yang berkelanjutan di hari depan. Pemimpin perlu terus mempertanyakan apakah keputusan mempercayai ini membawa kebaikan panjang yang positif ataukah tidak, pada masa depan. Pemimpin yang arif sajalah akan membuat keputusan untuk mempercayai dan mempercayakan diri kepada siapa pun. Kearifan ini sajalah yang akan membawa sejahtera yang bersinambung dalam soal percaya mempercayai (Yesaya 32:1-2, 8, 17). Pemimpin tidak harus terkecoh kepada keyakinan salah tentang keabadian percaya mempercayai. Tetapi, pemimpin bertanggung jawab untuk menetapkan sejauh mana ia harus mempercayai seseorang. Percaya-mempercayai ini harus dipertimbangkan dengan bertanya, “ini atau itu adalah untuk kepentingan yang mana, hasil macam apa, pada situasi yang mana, karena ia bertanggungjawab atas kepemimpinan yang dipercayakan kepadanya. “</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Selamat mempercayai dan tidak mempercayai demi keberhasilan kepemimpinan</strong>!!!</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Salam dan doa,</p>
<p>Dr. Yakob Tomatala</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2010/02/28/membangun-sikap-apakah-anda-percaya-kepada-orang-di-sekitar-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SEBERAPA PENTINGNYA KOMITMEN DALAM KEPEMIMPINAN</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2010/02/28/seberapa-pentingnya-komitmen-dalam-kepemimpinan/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2010/02/28/seberapa-pentingnya-komitmen-dalam-kepemimpinan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Feb 2010 03:28:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yakob Tomatala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Karakter Kepemimpinan]]></category>
		<category><![CDATA[komitmen pemimpin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=172</guid>
		<description><![CDATA[ 
“&#8230;. kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati ” (Ester 4:16d).
PENGANTAR
Komitmen kepemimpinan merupakan faktor penting yang meneguhkan pemimpin dan orang yang dipimpin dalam suatu organisasi menjalani tanggung jawab kepemimpinan yang diembannya. Apa sesungguhnya komitmen itu dan apa hubungannya dengan keberhasilan kepemimpinan? Istilah komitmen atau commitment berasal dari kata commit, committen (istilah Latin, commitere) yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="text-decoration: underline;"> </span></strong></p>
<p>“<em>&#8230;. kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati </em>” (Ester 4:16d).</p>
<p>PENGANTAR</p>
<p>Komitmen kepemimpinan merupakan faktor penting yang meneguhkan pemimpin dan orang yang dipimpin dalam suatu organisasi menjalani tanggung jawab kepemimpinan yang diembannya. Apa sesungguhnya komitmen itu dan apa hubungannya dengan keberhasilan kepemimpinan? Istilah <em>komitmen</em> atau <em>commitment </em>berasal dari kata <em>commit</em>, <em>committen</em> (istilah Latin, <em>commitere</em>) yang berarti to bring together.</p>
<p>Istilah ini berakar dari kata <em>com</em> yang berarti together, dan <em>mittere</em> yang artinya to send. Istilah komitmen di sini lebih berarti sedang membawa bersama, atau sedang memeteraikan bersama, atau berjanji bersama untuk melakukan sesuatu yang dianggap penting dan merupakan kepentingan bersama. <span id="more-172"></span></p>
<p>Dalam kaitan dengan kepemimpinan, dapat dikatakan bahwa komimen berarti bersama-sama membawa kepemimpinan kepada keberhasilan. Secara khusus, komimen dapat diartikan sebagai “<em>janji hati untuk membawa kepemimpinan secara bersama-sama kepada keberhasilan yang didambakan</em>.” Berdasarkan pengertian ini dapatlah dikatakan bahwa komitmen kepemimpinan ternyata begitu penting bagi keberhasilan kepemimpinan dalam setiap organisasi.</p>
<ol>
<li><strong>KOMITMEN DAN DEDIKASI KEPEMIMPINAN</strong>. Komimen berkaitan erat dengan dedikasi. Istilah dedikasi  berasal dari kata <em>dedicatus</em> bersumber dari <em>dedicare</em> yang berarti  “to consecrate, dan atau to declare.” Istilah ini dipakai untuk menjelaskan sikap mengkhususkan kepada sesuatu yang disembah atau diagungkan, atau sesuatu yang memiliki tujuan tertinggi. Hubungan dedikasi dalam kepemimpinan lebih berarti mengkhususkan diri berdasarkan janji hati untuk membawa kepemimpinan mencapai tujuan tertingginya, yaitu keberhasilan. Dalam kaitan dengan kepemimpinan, pertama-tama, pemimpin dan orang yang dipimpin harus memiliki komitmen yang tinggi kepada yang dipercayai, yang diyakini sebagai sumber keberhasilan. Di sini pemimpin orang-orangnya harus mempertahankan dedikasi dan komitmen teguh kepada TUHAN Allah  yaitu setia. Komitmen ini menjelaskan tentang sikap iman atau kepercayaan yang diwujudkan dengan taat dan setia kepada TUHAN Allah. Kedua, komitmen kepada Gereja atau organisasi, yaitu janji untuk meneguhkan organisasi. Ketiga, komimen kepada tugas (task – duty). Komitmen ini ditandai oleh adanya dedikasi kerja kepada <em>disiplin</em> <em>tangguh </em>seutuhnya<em> (dedicated to self disciplines, family disciplines, and organization disciplines)</em>, dedikasi kepada <em>kualitas total (total quality)</em>, dan dedikasi untuk <em>mengelola dengan</em> <em>kinerja tinggi (high performance management)</em>. Komitmen kerja inilah yang menjamin terwujudnya keberhasilan upaya memimpin yang optimal serta produktif tinggi. Komitmen dan dedikasi tinggi kepada TUHAN, membangun organisasi, komitmen kepada tugas dengan disiplin, kualitas hidup dan kinerja serta performansi tinggi sajalah yang akan membuat kepemimpinan terfokus kepada tujuan ideal dari organisasi yang akan melahirkan keberhasilan.</li>
<li><strong>KOMITMEN DAN BUDAYA ORGANISASI</strong>. Komitmen memiliki unsur sosial kultural yang kental yang melibatkan kebiasaan bersama sebagai cara hidup total dari organisasi.<a href="#_ftn1">[1]</a> Unsur sosial ini menghubungkan pemimpin dan orang yang dipimpin untuk secara bersama-sama memadukan tekad membawa organisasi ke arah keberhasilan. Dalam kaitan ini, komimen memerlukan pewadahan sikap dan kebiasaan bersama. Kebiasaan bersama yang menjadi <em>the total lifeway</em> yang berkualitas inilah yang memadukan kemampuan ke arah keberhasilan. Di sini, pemimpin dan orang yang dipimpin haruslah memadukan komitmen kepada upaya mengembangkan <em>budaya organisasi</em> dengan orientasi kepada budaya kualitas, organisasi pembelajar dan semangat entrepreneurship. Budaya organisasi dengan kebiasaan berkualitas akan memberikan keteguhan kepada prakek hidup dan kerja sinergis berkualitas. Kebiasaan berkualitas yang dibangun di atas pendekatan organisasi pembelajar memberikan dinamika kepada perkembangan organisasi yang terus menjadi relevan. Dan jiwa entrepreneurship memberikan peneguhan kebiasaan dengan kemandirian tinggi. Kemandirian tinggi ini akan tampak dalam kebiasaan mengembangkan keunggulan berpikir, keberanian membuat keputusan merebut dan mencipta peluang, dan kepiawaian merekayasa cara terbaik dalam mewujudkan keberhasilan kerja.</li>
<li><strong>KOMITMEN DAN KEPENTINGAN ORGANISASI</strong>. Komitmen dan dedikasi pemimpin dan orang yang dipimpin yang dibangun di atas budaya kualitas hanya akan berguna apabila terfokus kepada kepentingan organisasi. Yang dimaksudkan dengan fokus kepada kepentingan organisasi di sini ialah tekad dan upaya bersama yang tertuju kepada penguatan organisasi. Penguatan organisasi adalah begitu penting, karena dengan menguatkan organisasi, organisasi akan berkembangkan dan membawa dampak positif kepada semua peserta yang terlibat di dalamnya. Prinsip ini selaras dengan pernyataan mendiang Presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy, “Jangan tanyakan apa yang dapat dibuat negara bagi Anda, tetapi tanyakanlah apa yang dapat Anda buat bagi negara.” Adalah sangat jelas bahwa dampak dari penguatan negara atau organisasi adalah keberhasilan bersama yang akan meneguhkan kehidupan bersama pula. Sebaliknya, organisasi akan runtuh apabila setiap individu baik pemimpin mau pun orang yang dipimpin hanya terfokus kepada kepentingan sendiri.<a href="#_ftn2">[2]</a> Di sini sudah dapat dibayangkan bahwa komitmen kepada kepentingan organisasi ternyata begitu penting, karena akan meneguhkan upaya bersama bagi keberhasilan bersama.</li>
<li><strong>KOMITMEN DAN DAYA JUANG SERTA KETAHANAN ORGANISASI</strong>. Komitmen pada sisi yang khas menjelaskan tentang kadar daya juang manusia pemimpin dan orang yang dipimpin dalam setiap organisasi. Kadar daya juang ini menjelaskan tentang dinamika semangat juang atau <em>fighting spirit</em> yang ada dalam organisasi. Kadar daya juang ini akan nampak dalam ketahanan organisasi menjalani panggilannya. Di sini dapatlah dikatakan bahwa daya juang atau semangat juang yang tinggi memberi ketahanan tinggi kepada organisasi. Sedangkan, semangat juang yang rendah akan memperlemah daya tahan organisasi, sehingga tidak akan mampu menghadapi tekanan danpersaingan nyata.</li>
<li><strong>KOMITMEN DAN KEBERHASILAN KEPEMIMPINAN</strong>. Keberhasilan dan kegagalan bersemi dalam diri (dalam pikiran) pemimpin dan orang yang dipimpin pada setiap organisasi. Pernyataan Ralph W. Emerson yang mengatakan, “Anda akan selamanya menjadi apa yang Anda pikirkan,” menjelaskan prinsip di atas. Dengan demikian, apabila pemimpin dan orang yang dipimpin mewadahkan keberhasilan bersama dalam benak serta tekadnya, maka mereka akan menghasilkan secara bersama pula. Pada sisi lain, dalam perspektif Kristen, <em>keberhasilan adalah karunia TUHAN Allah</em> (Banding: Nehemia 2:20). Di sini, komitmen bersama kepada keberhasilan dengan membangun secara sinergis mewadahkan pembuktian keberhasilan itu (Lihat: Nehemia 2:18). Dalam kaitan ini dapatlah dikatakan bahwa komitmen bersama atau <em>janji hati</em> semua komponen manusia organisasi untuk secara bersama terlibat dalam upaya dan kerja ke arah keberhasilan kepemimpinan, pasti akan berujung kepada keberhasilan, sepasti menabur dan menuai (Mazmur 126:5-6; 133).</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>REFLEKSI:</strong></p>
<p>Sangat jelas di sini bahwa komitmen dan dedikasi pemimpin dan orang yang dipimpin terhadap keberhasilan kepemimpinan adalah landasan kesuksesan setiap organisasi. Dapatlah dibanyangkan bahwa apabila pemimpin dan orang yang dipimpin memiliki komitmen dan dedikasi tinggi ditunjang oleh budaya kualitas dengan semangat juang tinggi yang terfokus kepada keberhasilan bersama, akan melahirkan keberhasilan yang pasti. Renungkanlah kenyataan berikut:</p>
<ol>
<li>Apa yang terjadi dengan orang Yahudi, seandainya Ester tidak memiliki komitmen dan dedikasi tinggi dengan mengatakan “jika terpaksa aku mati, biarlah aku mati?”</li>
<li>Apakah Anda dapat melihat munculnya semangat juang yang tinggi dalam diri Ester dengan adanya komitmen dan dedikasi tinggi kepada kepentingan bersama? Dalam kaitan ini terlihat dengan jelas bahwa komitmen yang melahirkan semangat akan beranak semangat, yang olehnya semua tersemangati dan menjadi tegar yang meneguhkan daya juang bersama.</li>
<li>Adakah Anda sadar bahwa dengan komitmen kepada kepentingan organisasi (seperti Ester kepada kepentingan bangsanya), maka organisasi akan teguh dan berujung kepada keberhasilan?</li>
</ol>
<p>Selamat berjuang bagi keberhasilan dengan komitmen dan dedikasi tinggi.</p>
<p>Salam dan doa,</p>
<p>Yakob Tomatala</p>
<p>Rekan sekepemimpinan</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Pemahaman budaya kebudayaan atau kultur dalam kaitan ini adalah kebiasaan bersama yang merupakan the total lifeway, yang menjelaskan bagaimana orang (sebagai suatu kelompok masyarakat) berpikir, bersikap, berkata dan bekerja dalam upaya mengelola dan mempertahankan keberlangsungan kehidupan mereka.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Kenyataan bahwa korupsi dalam negara atau organisasi menunjuk kepada sikap kepentingan pribadi, yang menjelaskan tidak adanya komitmen dan upaya membangun bersama, yang akhirnya akan meruntuhkan negara mau pun organisasi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2010/02/28/seberapa-pentingnya-komitmen-dalam-kepemimpinan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“Bebas dari ancaman kekuatiran”</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2010/02/16/%e2%80%9cbebas-dari-ancaman-kekuatiran%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2010/02/16/%e2%80%9cbebas-dari-ancaman-kekuatiran%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Feb 2010 02:14:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yakob Tomatala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perenungan]]></category>
		<category><![CDATA[bebas dari ancaman kekuatiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=169</guid>
		<description><![CDATA[Teks   : Lukas 12:22-31; Mazmur 55:23; I Petrus 5:7
Tema : Memenangkan pertarungan dengan kekuatiran dalam hidup
PENDAHULUAN
Bulan Januari dinamakan demikian, berdasarkan nama dewa Romawi, Janus yang bewajah dua. Satu wajah menghadap ke belakang, dan yang lainnya menghadap ke depan dengan raut penuh tanda tanya. Nama ini cocok menyimbolkan nama bulan pertama dalam tahun berjalan, mengingat bahwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Teks   : Lukas 12:22-31; Mazmur 55:23; I Petrus 5:7</p>
<p>Tema : Memenangkan pertarungan dengan kekuatiran dalam hidup</p>
<p><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p>Bulan Januari dinamakan demikian, berdasarkan nama dewa Romawi, Janus yang bewajah dua. Satu wajah menghadap ke belakang, dan yang lainnya menghadap ke depan dengan raut penuh tanda tanya. Nama ini cocok menyimbolkan nama bulan pertama dalam tahun berjalan, mengingat bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang akan terjadi di depan. Tidaklah mengherankan bahwa Seneca mengatakan, “Tidak ada yang pasti di dalam dunia ini, kecuali hari kemarin.” Pernyataan ini menyiratkan kebenaran bahwa tidak ada satu orangpun yang dapat memastikan apa yang akan terjadi sedetik saja di depannya. Yang sudah terjadi, dapat diketahui, tetapi yang akan terjadi di masa depan adalah misteri. Misteri masa depan yang tidak pasti ini cenderung membuat orang menjadi kuatir. Pada sisi lain, dunia di mana kita hidup sekarang penuh dengan berbagai macam tantangan yang kompleks, yang juga memberikan alasan kuat untuk kuatir. <span id="more-169"></span></p>
<p>Di samping itu, ada masalah, pergumulan dan persoalan pribadi yang merong-rong den menkuatirkan kita. Menyikapi semua ini, hal pertama yang harus dibedakan ialah, membedakan antara <em>takut</em> dan <em>kuatir</em>. Takut berhubungan dengan ancaman nyata yang dihadapi secara langsung. Takut memang dapat menimbulkan kegoncangan psikologis secara tiba-tiba, namun akan segera juga berlalu. Sedangkan kuatir, adalah persoalan psikologis yang mengganggu pikiran tentang sesuatu yang ditakutkan sebagai akan terjadi di masa depan, yang sesungguhnya belum tentu terjadi demikian. Kekuatiran ini sesungguhnya mengerogoti jiwa, dan menimbulkan kepanikan psikologis jangka panjang. Hal ini sesungguhnya dapat berujung kepada berbagai macam penyakit, mulai dari <em>mag</em> (sakit lambung) dan berkembang menjadi penyakit kronis yang menghancurkan. Pertanyaan terpenting ialah bagaimana menghadapinya? Tatkala TUHAN Yesus berkata, “<strong><em>Jangan kuatir</em></strong>” (Lukas 12:22); IA sesungguhnya sedang memberikan <em>rahasia jawaban tuntas</em> bagi kekuatiran itu. Pada satu sisi, orang Kristen memiliki jaminan dari TUHAN Yesus bahwa “IA menyertai” (Matius 1:21; 20:18-20), yang memastikan bahwa IA adalah jaminan pembebasan bagi kita. Pada sisi lain, bagaimana orang Kristen menghadapi dan memberikan jawaban terhadap ancaman kekuatiran itu. Dari Firman Allah dalam Lukas 12:22-31, terbesit rahasia penting menjawab pertanyaan di depan, yaitu antara lain:</p>
<ol>
<li><strong>I. </strong><strong>KITA DIMINTA MENANGANI KEKUATIRAN DENGAN MEMAKNAI HIDUP DARI PANDANGAN TUHAN ALLAH</strong></li>
</ol>
<ul>
<li>Apa makna dari pernyataan “menangani kekuatiran dengan memaknainya dari pandangan TUHAN Allah itu?</li>
</ul>
<ol>
<li>Kita harus melihat bahwa menurut TUHAN Yesus, hidup dan tubuh itu lebih penting dari pada makanan atau pun pakaian (ayat 23).</li>
<li>Kita juga diminta untuk menyadari bahwa ada hal yang tidak dapat kita lakukan, karena itu jangan mengkuatirkannya. Semua ini adalah urusan TUHAN (ayat 26).</li>
<li>Kita pun diajak untuk tidak mempersoalkan hal yang sesungguhnya biasa-biasa saja, namun memicu kekuatiran (ayat 29-30). Semua ini ada dalam pengendalian TUHAN Allah.</li>
</ol>
<p>IMPLIKASI:</p>
<ol>
<li>Mengapa kita mengkuatirkan apa yang menjadi urusan TUHAN, serahkanlah semuanya kepada DIA.</li>
<li>Sadarlah bahwa jangan memberatkan diri dengan apa yang tidak dapat kita lakukan, yang hanya daptt dilakukan TUHAN Allah. Ini adalah urusan-Nya.</li>
<li>Kita diajak agar tidak membuang energi untuk menggumuli hal-hal biasa di dalam kehidupan. Kita hanya perlu menyerahkannya kepada TUHAN Allah.</li>
</ol>
<ol>
<li><strong>II. </strong><strong>KITA DIAJAK MENGATASI KEKUATIRAN DENGAN MEMAKNAI KEDAULATAN ALLAH ATAS HIDUP</strong></li>
</ol>
<ul>
<li>Apa sesungguhnya arti dari pernyataan: Mengatasi kekuatiran dengan memaknai kedaulatan Allah  atas kehidupan kita itu?</li>
</ul>
<ol>
<li>TUHAN Allah yang berdaulat itu sesungguhnya maha mengetahui (IA tahu apa yang kita perlu) dan maha mejamin kehidupan kita. Lihatlah betapa IA mempedulikan burung gagak dan bunga di padang, terlebih lagi kita umat-Nya, IA pasti sangat peduli (ayat 27-28, 30).</li>
<li>TUHAN Allah yang berdaulat itu meminta kita mempercayai dan mempercayakan kehidupankita kepada-Nya. Semua ini dapat kita lakukan dengan memberikan tempat yang utama bagi DIA di dalam kehidupan kita, karena IA adalah jawaban tuntas atas segala kebutuhan, pertanyaan dan masalah kita (ayat 31).</li>
</ol>
<p>IMPLIKASI:</p>
<ol>
<li>TUHAN Allah berdaulat, IA mengetahui dan menjamin kebutuhan kita, karena itu serahkanlah semua yang menkuatirkan kita itu kepada-Nya.
<ol>
<li>TUHAN Allah berdaulat, IA adalah jawaban atas semua hal yang mengkuatirkan kita. Karena itu, percayakanlah hidup ini kepada-Nya dan serahkanlah semua kekuatiran itu kepada-Nya, IA pasti mengatasinya bagi kita.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p>Dalam kehidupan ini ada banyak hal yang dapat menjadikan kita kuatir, namun TUHAN Yesus sendiri telah memberikan kepada kita rahasia, bagaimana memenangkan pertarungan dengan kekuatiran di dalam hidup kita. Rahasianya ialah:</p>
<ol>
<li>Kita diminta melihat dan memaknai hidup dari pandangan TUHAN, karena menurut TUHAN Yesus, kehidupan kita berharga di mata Allah, dengan demikian, Ialah yang mengatur kehidupan kita. Jangan mengkuatirkannya.</li>
<li>Kita diajak untuk menyadari bahwa TUHAN Allah kita adalah berdaulat, dimana IA-lah yang mengendalikan dan bertanggung jawab atas hidup yang dikaruniakan-Nya kepada kita. Kita hanya diminta menyerahkan seluruh kehidupan dan persoalan yang mengkuatirkan itu ke dalam tangan-Nya. Karena IA berdaulat dan IA sendirilah yang akan mengatasi semua permasalahan hidup itu bagi kita  (Mazmur 55:23; I Petrus 5:7).</li>
</ol>
<p>Selamat menjadi pemenang yang bebas dari kekuatiran karena TUHAN Allah ada di pihak kita. Amin.</p>
<p>17 Januari 2010</p>
<p>Pdt. Yakob Tomatala</p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2010/02/16/%e2%80%9cbebas-dari-ancaman-kekuatiran%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemimpin Tidak Tercela</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2010/02/11/pemimpin-tidak-tercela/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2010/02/11/pemimpin-tidak-tercela/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Feb 2010 10:18:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yakob Tomatala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Perenungan]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin tidak tercela]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=161</guid>
		<description><![CDATA[RENUNGAN
“&#8230; orang yang menghendaki jabatan penilik (pemimpin) jemaat menginginkan pekerjaan yang indah” (I Timotius 3:1).
Teks        : I Timotius 3:1-7 (Keluaran 18:17-23)
Tema       : “Menjadi Seorang Pemimpin Gereja yang tidak tercela dan dihormati.”
Sub-tema : Rahasia hidup sebagai Pemimpin gereja yang memiliki integritas teguh
PENGANTAR
Seorang pemimpin sejati, sejatinya memiliki integritas yang teguh. Secara umum telah dibuktikan bahwa faktor integritas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>RENUNGAN</strong></p>
<p>“&#8230; <em>orang yang menghendaki jabatan penilik (pemimpin) jemaat menginginkan pekerjaan yang indah</em>” (I Timotius 3:1).</p>
<p>Teks        : I Timotius 3:1-7 (Keluaran 18:17-23)</p>
<p>Tema       : “Menjadi Seorang Pemimpin Gereja yang tidak tercela dan dihormati.”</p>
<p>Sub-tema : Rahasia hidup sebagai Pemimpin gereja yang memiliki integritas teguh</p>
<p><strong>PENGANTAR</strong><strong></strong></p>
<p>Seorang pemimpin sejati, sejatinya memiliki <em>integritas</em> yang teguh. Secara umum telah dibuktikan bahwa faktor integritas ternyata menentukan delapan puluh lima persen dari keberhasilan seorang pemimpin. Kini kita bertanya, apa sesungguhnya makna integritas itu? Arti dasar dari integritas atau <em>integrity</em> ialah “jujur dan dapat dipercaya.” Integritas juga menunjuk kepada arti “quality of being complete,” suatu kualitas hidup yang sempurna dan lengkap. Dalam perspektif Alkitab berdasarkan pandangan Rasul Paulus, integritas berbicara tentang adanya “semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan, dan patut dipuji, &#8230;..” (Filipi 4:8), sehingga kedekatannya dengan TUHAN dan kebaikannya diketahui (Filipi 4:5). Kebenaran ini menegaskan tentang hakikat dan indikator integritas seorang pemimpin sebagai kualitas hidup rohani. Kualitas hidup rohani ini adalah dasar bagi kehidupan seluruhnya. Perjanjian Lama, dalam Keluaran 18:21 secara khusus menegaskan tentang kisi integritas yang harus ada pada seorang pemimpin, yaitu “integritas diri” (cakap), “integritas rohani” (takut akan Allah), “integritas sosial” (dapat dipercaya), “integritas ekonomi” (benci pengejaran suap), dan “integritas kerja” (menjadi pemimpin). Di sini sangatlah terlihat betapa integritas itu penting bagi seorang pemimpin, khususnya pemimpin rohani.<span id="more-161"></span></p>
<p>Mengingat begitu pentingnya integritas yang harus ada pada seorang pemimpin, khususnya pemimpin gereja yang adalah pemimpin rohani, maka adalah bijak untuk mempertanyakan, <em>bagaimana sepatutnya seorang pemimpin itu membuktikan diri memiliki integritas teguh</em>? Dengan integritas teguh ini maka kehidupan pemimpin tidak tercela dan olehnya ia dihormati oleh orang-orang yang dipimpinnya. Rasul Paulus dalam surat penggembalaannya kepada anak binaannya, Timotius, mengungkapkan rahasia tentang bagaimana membangun integritas seorang pemimpin rohani. Kebenaran ini dituangkan di dalam I Timotius 3:1-7, yang rahasianya dapat diungkapkan sebagai berikut:</p>
<ol>
<li><strong>I. </strong><strong>IA HARUS MEMBANGUN INTEGRITAS DIRI DENGAN MENYAMBUT PELAYANAN PEMIMPIN GEREJA SEBAGAI SESUATU YANG MULIA</strong></li>
</ol>
<ul>
<li> Apa makna dari kebenaran bahwa setiap pemimpin gereja harus memulai membangun dirinya dengan menyambut pelayanan memimpin sebagai suatu kehormatan? (ayat 1).</li>
</ul>
<p>A.   Setiap pemimpin rohani harus menyadari bahwa menjadi pemimpin dalam gereja adalah sesuatu <em>pelayanan yang mulia</em> di hadapan Allah.</p>
<ol>
<li> Setiap pemimpin rohani harus membangun kesadaran bahwa pelayanannya sebagai pemimpin gereja adalah suatu <em>pilihan yang mulia</em>.</li>
<li> Setiap pemimpin rohani haruslah memastikan bagi dirinya bahwa pelayanannya sebagai pemimpin adalah sesuatu yang <em>memiliki nilai tinggi</em>.</li>
</ol>
<p>D.   Setiap pemimpin rohani yang melayani sebagai pemimpin gereja haruslah meneguhkan sikapnya bahwa pelayanannya adalah suatu <em>kesempatan yang mulia</em>.</p>
<p>IMPLIKASI:</p>
<ol>
<li> Setiap pemimpin harus membangun integritas dirinya dengan mengingat bahwa ia ada dalam pelayanan yang mulia di hadapan Allah.</li>
<li> Setiap pemimpin harus membangun integritas dirinya dengan menyadari sepenuhnya bahwa ia telah membuat suatu pilihan yang mulia di hadapan Allah.</li>
<li> Setiap pemimpin harus membangun integritas dirinya dengan mematutkan bahwa pelayanannya memiliki nilai yang tinggi.</li>
<li> Setiap pemimpin harus membangun integritas dirinya dengan menyikapi pelayanannya sebagai suatu kesempatan yang mulia di hadapan Allah.</li>
</ol>
<ul>
<li> Bagaimana Anda mewujudkan kebenaran ini di dalam hidup dan pelayananmu? Perlu di tekankan bahwa: “Anda yang melayani TUHAN adalah suatu kehormatan yang harus dipertanggungjawabkan, dengan hidup beintegritas di hadalan Allah.”</li>
</ul>
<ol>
<li><strong>II. </strong><strong>IA HARUS MENEGUHKAN INTEGRITAS DIRI SEBAGAI PEMIMPIN KELUARGA YANG TERHORMAT</strong></li>
</ol>
<ul>
<li> Apa sesungguhnya arti dari kebenaran tentang meneguhkan integritas diri sebagai pemimpin keluarga yang terhornat itu? (Ayat: 2 – 5).</li>
</ul>
<p>A.   Pemimpin harus meneguhkan integritas diri sebagai seorang kepala keluarga yang terhormat melalui pengusaan diri dengan: tidak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka menolong, cakap mengajar.</p>
<ol>
<li> Pemimpin harus meneguhkan integritas diri sebagai seorang kepala keluarga yang terhormat melalui sikap terpuji, yaitu: bukan peminum, bukan pemarah tetapi peramah, pendamai, dan bukan hamba uang.</li>
<li> Pemimpin harus meneguhkan integritas diri sebagai seorang kepala keluarga yang berwibawa dengan cara: menjadi kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati anak-anak, dapat memimpin keluarga dengan hikmat.</li>
</ol>
<p>IMPLIKASI:</p>
<ol>
<li> Pemimpin rohani yang berintegritas ialah pemimpin yang menguasai dirinya, sehingga ia terbukti sebagai kepala keluarga yang tidak bercacat.</li>
<li> Pemimpin rohani yang berintegritas ialah pemimpin yang membuktikan diri sebagai kepala keluarga yang terhormat, disegani dan dihormati di dalam rumah tangganya.</li>
<li> Pemimpin rohani yang berintegritas ialah pemimpin yang membuktikan kewibawaannya yang dapat memimpin dengan benar dan baik sebagai kepala keluarga.</li>
</ol>
<ul>
<li> Bagaimana Anda membuktikan kebenaran ini di dalam kehidupan dan pelayananmu? Sadarilah bahwa “Anda bertanggungjawab untuk konsisten membuktikan diri sebagai seorang kepala keluarga yang hidup benar di hadapan Allah mulai di dalam rumah tangga Anda sendiri.” Sadarilah pula bahwa “Pemimpin yang baik adalah kepala rumah tangga yang baik.”</li>
</ul>
<ol>
<li><strong>III. </strong><strong>IA HARUS MEMBUKTIKAN INTEGRITAS DIRI MELALUI KEDEWASAAN SIKAP TERPUJI</strong></li>
</ol>
<ul>
<li> Apa sesungguhnya maksud dari pernyataan bahwa Anda hanya dapat menghidupi kehidupan yang berintegritas dengan membuktikan bahwa Anda memiliki kedewasaan sikap yang terpuji itu? (Ayat 6-7)</li>
</ul>
<p>A.   Pemimpin rohani harus membuktikan integritasnya dengan penuh kesadaran bahwa ia adalah pemimpin yang telah bertobat. Pertobatannya ini harus diikuti dan dibuktikan dengan sikap redah hati.</p>
<ol>
<li> Pemimpin rohani harus membuktikan integritasnya dengan sikap benar, baik dan hubungan-hubungan sehat, yang olehnya ia dihormati oleh orang luar, yaitu anggota masyarakat umum, sehingga kepemimpinannya tidak dapat digugat orang.</li>
</ol>
<p>IMPLIKASI:</p>
<ol>
<li> Pemimpin rohani hanya dapat membuktikan integritas dirinya dengan pertobatan sejati, dan kerendahan hati.</li>
<li> Pemimpin rohani hanya dapat membuktikan integritas dirinya dengan hidup dalam kebenaran, kebaikkan dan hubungan-hubungan yang sehat, yang olehnya ia mendapat nama baik dari orang luar sebagai afirmasi kepemimpinannya.</li>
</ol>
<ul>
<li> Bagaimana Anda membuktikan integritas Anda sebagai seorang pemimpin rohani? Anda harus memastikan bahwa “Anda telah bertobat, sehingga kehidupan rohani Anda sejati, yang dibuktikan melalui sikap rendah hati, yang olehnya Anda mampu hidup benar, baik dan sehat, yang membuat Anda dihormati.</li>
</ul>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p>Seorang pemimpin gereja yang adalah pemimpin rohani yang sejati, hanya dapat membuktikan bahwa ia layak dihormati, ia tidak tercela melalui kesadaran dan sikap berikut:</p>
<ol>
<li>Ia harus menyambut pelayanan sebai pemimpin dengan penuh kesadaran bahwa ini adalah suatu pelayanan mulia yang harus dihidupi dengan penuh penghormatan.</li>
<li>Ia harus membuktikan dirinya sebagai seorang kepala keluarga yang berwiwaba dan dihormati, sehingga ia terebukti layak meimpin jemaat.</li>
<li>Ia harus membuktikan dirinya sebagai pemimpin rohani yang dewasa melalui pertobatan sejati yang dihidupi dengan rendah hati dalam kebenaran dan kebaikan serta hubungan sehat, yang olehnya ia mendapat penghargaan dari Allah dan manusia.</li>
</ol>
<ul>
<li>Cobalah renungkan, sejauhmana Anda menyadari kebenaran tentang kepemimpinan rohani yang Anda hidupi, serta implikasinya bagi kehidupan serta pengabdian yang Anda emban.</li>
</ul>
<p>Selamat membuktikan panggilan dan pelayanan kepemimpinan rohani di dalam Jemaat sebagai seorang pemimpin yang tidak tercela dan dihormati. TUHAN Yesus memberkati.</p>
<p>Pelayan Firman</p>
<p>Pdt. Yakob Tomatala</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2010/02/11/pemimpin-tidak-tercela/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MEMBANGUN SIKAP: APA BENAR TIDAK ENAK JADI BAWAHAN</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2010/02/11/membangun-sikap-apa-benar-tidak-enak-jadi-bawahan/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2010/02/11/membangun-sikap-apa-benar-tidak-enak-jadi-bawahan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Feb 2010 10:17:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yakob Tomatala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[membangun sikap]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=159</guid>
		<description><![CDATA[ 
“Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka” (Ibrani 13:17a).
PENGANTAR
Menjadi bawahan sering dianggap sebagai nasib, atau takdir yang tidak nyaman. Apa benar ya? Sebagai individu, kepribadian semua orang selalu disertai oleh kehendak. Kehendak (inner will) ini adalah jati diri yang adalah kuasa yang ada di dalam diri. Kehendak biasanya menampakkan diri dengan kemauan untuk berkuasa. Kemauan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="text-decoration: underline;"> </span></strong></p>
<p>“<em>Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka</em>” (Ibrani 13:17a).</p>
<p>PENGANTAR</p>
<p>Menjadi bawahan sering dianggap sebagai nasib, atau takdir yang tidak nyaman. Apa benar ya? Sebagai individu, kepribadian semua orang selalu disertai oleh kehendak. Kehendak (inner will) ini adalah jati diri yang adalah kuasa yang ada di dalam diri. Kehendak biasanya menampakkan diri dengan kemauan untuk berkuasa. Kemauan berkuasa ini akan mendorong untuk berupaya menguasai dengan berusaha memiliki. Jadi rasa tidak enak menjadi seorang bawahan itu adalah karena dorongan kuasa – kehendak yang tidak kesampaian. Namun, menjadi bawahan sesungguhnya memiliki kemanfaatan besar bagi setiap individu. Alasan utamanya ialah karena “dengan menjadi bawahan yang taat, ada harapan kuat bagi Anda untuk menjadi pemimpin kelak.”</p>
<ol>
<li><strong>MENJADI BAWAHAN ITU ANUGERAH</strong>. Seseorang yang menjadi bawahan adalah anugerah dari TUHAN Allah. Menjadi bawahan adalah anugerah, karena TUHAN Allah memberikan kesempatan untuk mengabdi (Yohanes 3:27). Kebenaran ini menegaskan bahwa seseorang yang menjadi bawahan adalah karena dialah yang punya tempat khusus dalam rencana Allah untuk menjadi pemimpin kelak (Yeremia 1:5; Yosua 1:1-18; I Samuel 3:1-4:1a; 16:1-13; dsb). Setiap orang yang menjadi bawahan harus menyambutnya dengan rasa syukur. Dengan sikap rasa syukur ini, seorang bawahan tidak terjebak dalam sikap fatalistik. Ia yang bersyukur juga akan diteguhkan dengan sikap positif atas kesempatan menjadi bawahan. Ia yang beryukur pasti akan dikuatkan untuk menjalankan tanggungjawabnya dengan benar, baik, dan produktif.</li>
<li><strong>MENJADI BAWAHAN ITU KESEMPATAN EMAS</strong>. Menjadi bawahan sesungguhnya adalah kesempatan emas. Kesempatan menjadi bawahan adalah emas, bila sang bawahan menyadari bahwa dengan “menjadi bawahan yang baik, ia dapat menjadi pemimpin yang baik kelak.” Dalam kaitan ini, bawahan yang menyadari akan kebenaran ini selalu berupaya menjadikan pemimpinnya sebagai dasar untuk belajar secara vikariat.<a href="#_ftn1">[1]</a> Belajar secara vicariat ini meneguhkan diri bawahan untuk membangun nilai-nilai kepemimpinan lulur di dalam dirinya. Nilai-nilai ini sekaligus merupakan perangkat falsafah kepemimpinan yang melengkapi, menuntun dan meneguhkan dirinya menjadi pemimpin besar di kemudian hari.<span id="more-159"></span></li>
<li><strong>MENJADI BAWAHAN MEMILIKI MASA DEPAN</strong>. Seseorang yang menjadi bawahan sesungguhnya memiliki masa depan.  Mengapa menjadi bawahan ternyata menjadi pemilik masa depan itu? <em>Pertama</em>, bawahan tidak harus menanggung beban kepemimpinan sekarang ini. Jadi, bawahan tinggal menikmati dengan bekerja. Bawahan yang memiliki komitmen tinggi  kepada kualitas, disiplin dan kinerja tinggi sedang membuktikan diri siap menyambut masa depan yang lebih baik. <em>Kedua</em>, bawahan dapat memanfaatkan peluang belajar dari atasannya bagaimana melaksanakan upaya memimpin dengan benar, baik dan sehat. Peluang ini memberikan kesempatan kepada bawahan untuk belajar menangani kepemimpinan yang efektif, efisien dan sehat di kemudian hari. <em>Ketiga</em>, bawahan sesungguhnya sedang dipersiapkan untuk memasuki masa depan yang disiapkan oleh pemimpin sekarang ini. Janganlah memperdebatkan siapa pemilik usaha di mana Anda bekerja sebagai bawahan sekarang ini. Anda adalah pemilik masa depan, karena Anda akan memiliki usaha sendiri, memimpin sendiri dengan menyiapkan diri dari sekarang.</li>
<li><strong>MENJADI BAWAHAN ADALAH PEUANG MEMBUKTIKAN DIRI</strong>. Bawahan yang tahu diri akan memilki alasan kuat mengapa ia menjadi bawahan sekarang. Bawahan yang tahu diri  haruslah berupaya membuktikan diri bahwa ia <em>dapat dipercaya</em>. Menjadi bawahan yang dapat dipercaya adalah kunci untuk memperoleh kepercayaan dan pemercayaan pekerjaan yang lebih tinggi lagi dari yang ada sekarang ini. Sekarang cobalah menghitung usia Anda. Sesungguhnya usia tidaklah mempengaruhi keberhasilan sesorang, namun dari usialah orang dapat membuat perhitungan perencanaan masa depan yang bertanggungjawab. Kalau Anda berusia 25 tahun, maka dapatlah diandaikan bahwa dalam tenggang waktu lima tahun berikutnya, Anda yang bekerja benar, baik dan optimal dapat melihat hasil pembuktian diri. Hindarilah menjadi penjilat, agar Anda dapat membuktikan diri secara otentik. Sikap pembuktian diri seperti ini menjamin bahwa Anda memiliki integritas yang menjadi kunci memperoleh kepercayaan yang lebih besar lagi, mulai dari sekarang. Masa depan adalah akibat masa kini, jadi akan ada masa depan bagi Anda.</li>
<li><strong>MENJADI BAWAHAN ADALAH CIKAL PEMIMPIN MASA DEPAN</strong>. Menjadi bawahan sesungguhnya mejadi cikal pemimpin masa depan. Tentu Anda tidak boleh terkecoh, karena tidak semua orang akan menjadi <em>top leader</em> di masa depan. Karena itu, menjadi bawahan sesungguhnya adalah batu uji, apakah Anda adalah <em>calon top leader</em> masa depan ataukah Anda akan terus menjadi bawahan yang progresif saja. Lihatlah diri Anda, apakah Anda sedang bersikap sebagai calon pemimpin masa depan? Janganlah berangan-angan besar. Buktikanlah diri Anda dengan tulus melalui integritas, kerja benar, baik dan optimal, hubungan kondusif yang responsif proaktif yang Anda ciptakan dari diri, semuanya akan berbicara banyak tentang Anda. Perhatikanlah ini, “<em>apabila kepemimpinan berjalan dengan benar sekarang, maka orang dapat mengindetifikasi bahwa Anda adalah calon top leader di masa depan</em>.” Anda pasti menjadi pemimpin masa depan yang berhasil karena Anda mengetahuinya sekarang.  Jaminannya ialah Anda sedang  memupuk masa depan yang subur dengan pembuktian diri sekarang ini.</li>
</ol>
<p><strong>PERENUNGAN</strong></p>
<ol>
<li>Coba renungkan, apa yang akan terjadi dengan seorang bawahan yang menerima dengan rasa syukur kesempatan menjadi bawahan?</li>
<li>Apa yang akan terjadi dengan pemimpin yang menghargakan peluang menjadi bawahan dan mengambilnya sebagai peluang emas untuk mengembangkan diri?</li>
<li>Bayangkanlah, apa yang akan terjadi apabila bawahan menyadari bahwa dengan menjadi bawahan yang baik, ia sesungguhnya memiliki masa depan. Renungkanlah aspek-aspek yang disinggung dalam poin 3 di atas.</li>
<li>Bisakah Anda melihat apa yang akan terjadi dengan seorang bawahan yang berupaya membuktikan diri bahwa ia dapat dipercaya?</li>
<li>Apakah Anda Anda dapat mengidentifikasi potensi Anda menjadi top leader masa depan dari sekarang ini?</li>
</ol>
<p>Tentu Anda dapat menentukan sikap mana yang patut bagi Anda untuk menjadi pemimpin sejati di masa depan!!!</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Selamat menjadi bawahan yang tahu diri untuk akhirnya menjadi pemimpin terhormat yang memimpin dengan kehormatan di masa depan</strong>!!!</p>
<p>Jakarta, 10 Februari 2010</p>
<p>Dr. Yakob Tomatala</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Belajar secara vikariat atau vicarious learning adalah pendekatan pembelajaran yang digagas oleh Profesor Dr. J. Robert Clinton, Ahli Teori Pengambangan Kepemimpinan dari Fuller Theological Seminary, Pasadena, California USA. Pendekatan pembalajaran secara vikariat ini menggunakan pemimpin sebagai alat bantu belajar. Pemimpin dalam hal ini diklasifikasikan sebagai pemimpin Alkitabiah atau Biblical leaders (para tokoh Alkitab); pemimpin sejarah atau historical leaders (para pemimpin yang telah berlalu dari sejarah) dan para pemimpin kontemporer atau contemporary leaders yang sedang aktif memimpin.<strong> </strong></p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2010/02/11/membangun-sikap-apa-benar-tidak-enak-jadi-bawahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>APAKAH ANDA PEMIMPIN KOMPETEN</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2010/02/11/apakah-anda-pemimpin-kompeten/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2010/02/11/apakah-anda-pemimpin-kompeten/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Feb 2010 10:15:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yakob Tomatala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Information]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin kompeten]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[ 
“Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bingtang-bintang tetap untuk selama-lamanya ”
(Daniel 12:3).
PENGANTAR
 
Dalam upaya menjawab apakah Anda adalah pemimpin kompeten ataukah tidak, simaklah uraian ini. Seorang pemimpin yang disebut kompeten, menjelaskan bahwa ia memiliki kapasitas penuh. Dengan kapasitas penuh inilah maka ia dapat  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="text-decoration: underline;"> </span></strong></p>
<p>“<em>Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bingtang-bintang tetap untuk selama-lamanya </em>”</p>
<p>(Daniel 12:3).</p>
<p><strong>PENGANTAR</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dalam upaya menjawab apakah Anda adalah pemimpin kompeten ataukah tidak, simaklah uraian ini. Seorang pemimpin yang disebut kompeten, menjelaskan bahwa ia memiliki kapasitas penuh. Dengan kapasitas penuh inilah maka ia dapat  memimpin sebagai pemimpin. Telah diuraikan dalam pokok <em>Panggilan Kepemimpinan</em>, bahwa tatkala seseorang terpanggil oleh TUHAN Allah ke dalam tanggungjawab kepemimpinan, maka ia terbukti memiliki tugas, kewenangan, hak, kewajiban, tanggungjawab dan pertanggungjawaban keorganisasian. Di sini ada asumsi kuat bahwa bila seseorang menjadi pemimpin maka sang pemimpin tentulah dianggap kompeten. Karena ia dianggap kompeten maka ia menjadi pemimpin (diakui, diangkat, dipilih, dsb) secara <em>legitimate</em>. Istilah kompeten itu sendiri berasal dari kata “competent” &lt; competens, competere (Latin) yang artinya “menjadi penuh atau lengkap sehingga dapat menjawab kebutuhan atau tuntutan.”  Apabila seseorang itu adalah pemimpin kompeten, maka  <em>maknanya </em>ialah:</p>
<ol>
<li>Ia dapat menjawab semua persyaratan, cocok, puas dan memadai untuk suatu tujuan kepemimpinan.</li>
<li>Ia telah memenuhi semua kualifikasi dan kapasitas yang dituntut untuk mengerjakan suatu pekerjaan.</li>
<li>Ia sangatlah sesuai untuk mengerjakan pekerjaan, dan telah memenuhi semua ketentuan legal untuk menjadi pemimpin guna melaksanakan upaya memimpin. <span id="more-157"></span></li>
</ol>
<p>Dapat ditegaskan di sini bahwa seorang pemimpin itu dianggap kompeten berarti, ia telah mencapai kualifikasi dan kapasitas lengkap dimana ia dapat memenuhi persyaratan yang dituntut untuk menjadi, serta melaksanakan tugas sebagai seorang pemimpin.  Segi lain dari makna kompeten ini menjelaskan bahwa individu dimaksud memahami ia adalah pemimpin yang dapat memimpin (menggerakkan) / membimbing bawahannya ke arah pemenuhan hidup mereka. Aspek lain dari kompetensi ini ialah  Pemimpin terbukti kompeten dengan adanya <strong><em>integritas</em></strong> karakter (Formasi Rohani yang terfokus kepada pembentuhakan karakter Kristen yang tangguh – dengan Etika – moral yang luhur, benar dan baik, jujur, tulus, setia, taat, disiplin, berdedikasi, dan komital). Ia juga memiliki <strong><em>kapasitas</em></strong> (Formasi Pelayanan – dengan pengetahuan yang  komprehensif dan khas lebih). Ia pun mampu membuktikan diri memiliki <strong><em>kapabilitas</em></strong> andal (Formasi Strategis – dengan kecakapan <em>sosial</em>/ hubungan baik-kondusif-meluas, responsif; dan ia juga memiliki kecakapan <em>teknis</em>/ keandalan manajerial yang tangguh). Tolok kompetensi pemimpin dapat dipahami dengan mencermati kebenaran berikut.</p>
<ol>
<li><strong>1. </strong><strong>PEMIMPIN KOMPETEN DAN POSISI TUGAS KEPEMIMPINAN</strong>. Pada tahap yang paling awal, seorang pemimpin yang kompeten akan selalu dilengkapi dengan kuasa kepemimpinan yang utuh. Kuasa kepemimpinan ini menjelaskan bahwa ia memiliki <em>posisi tugas</em> keorganisasian yang di dalamnya terdapat <em>peran</em> yang meneguhkannya sebagai pemimpin. Menjadi pemimpin  secara formil menggandaikan bahwa ia kompeten dengan ada padanya <em>posisi tugas</em>. Posisi tugas ini dilengkapi dengan <em>kewenangan</em>, <em>hak</em>, <em>kewajiban</em>, <em>tanggungjawab</em> dan <em>pertanggungajawaban </em>untuk memimpin. Posisi tugas melekatkan peran kepemimpinan padanya. Dengan melakonkan perannya secara patut, sang pemimpin akan diakui sebagai pemimpin oleh bawahannya. Pengakuan ini tidak harus selalu berarti setuju atau pun mendukung. Karena itu, apabila pemimpin itu kompeten, maka tugas-peran pemimpin selebihnya adalah berupaya memperoleh pengakuan dan dukungan riil dari semua komponen SDM dalam organisasi untuk meneguhkan kepemimpinannya.</li>
</ol>
<ol>
<li><strong>2. </strong><strong>PEMIMPIN KOMPETEN DAN KEWIBAWAAN KEPEMIMPINAN</strong>. Upaya pemimpin meneguhkan pengaruhnya dari perspektif positif akan membangun kewibaannya. Kewibawaan adalah dinamika kuasa kepemimpinan dalam perspektif keorganisasian. Kewibawaan ini berkembang dalam diri pemimpin karena ada kuasa dan posisi-peran tugas kepemimpinan lengkap padanya, yang menopangnya melaknanakan upaya memimpin. Kewibawaan dari aspek ini merupakan perkembangan dan pengakuan sosio-psikologis kepada pemimpin, karena ia adalah pemimpin. Sebagai pemimpin, ia memiliki <em>privilese</em> untuk berada di atas, dan diakui sebagai pemimpin. Di sini setiap bawahannya adalah tanda bahwa pemimpin adalah pemimpin. Dengan demikian, seorang pemimpin sejati haruslah menyadari bahwa kepemimpinannya adalah hak istimewa, bukan bawaan lahir, yang karenanya ia patut menyikapinya secara bertanggungjawab. Para bawahan yang ada padanya adalah mereka yang <em>rela secara formil</em> untuk mengakui kuasa kepemimpinan sang pemimpin. Pengakuan bawahan karena mereka rela secara formil ini tidak selalu berarti setuju atau pun mendukung. Karena itu, pemimpin harus berupaya sebegitu rupa untuk memperoleh persetujuan dan dukungan riil para bawahan yang akan menambah kewibawaan kepemimpinan kepada dirinya. Dengan kewibawaan inilah maka akan ada nilai tambah yang mendongkrak upaya memimpin sang pemimpin ke tingkat yang lebih tinggi. Kegagalan pemimpin memperoleh pengakuan dan dukungan riil bawahan ini akan menurunkan dinamika upaya memimpin sang pemimpin ke tingkat yang lebih rendah, dimana ia pada akhirnya akan kehilangan pengaruh.</li>
<li><strong>3. </strong><strong>PEMIMPIN KOMPETEN DAN KEPIAWAIAN KEPEMIMPINAN</strong>. Kepiawaian pemimpin menjelaskan tentang kemampuan mewujudkan seni memimpin. Kemampuan mewujudkan seni memimpin ini diawali dengan upaya sang pemimpin memimpin dengan meningkatkan pengaruhnya. <em>Pengaruh</em> (influence) di sini adalah aspek dinamis dari kuasa kepemimpinan. Dengan pengaruh ini pemimpin memiliki daya memimpin dengan kemampuan menggerakkan (memimpin) para bawahannya. Pemimpin yang memimpin dengan hikmat serta memakai pendekatan positif, mewadahkan pengaruh positif yang berkembang dalam dirinya.  Pengaruh positif ini akan menyentuh para bawahan dan mewarnai budaya organisasi yang dipimpinnya. Kepiawaian pemimpin selanjutnya akan terbukti dengan adanya pelaksanaan kerja secara <em>efektif</em> (berkualitas – do the right things), <em>efisien</em> (berkuantitas – do the ringht things rightly), dan <em>sehat</em> (hubungan responsif yang positif) yang menopang upaya memimpin secara sinergis dengan gerakan simultan. Upaya memimpin seperti inilah  yang akan menghasilkan secara optimal (sukses).</li>
<li><strong>4. </strong><strong>PEMIMPIN KOMPETEN DAN PERKEMBANGAN FORMAT KEPEMIMPINAN</strong>. Pemimpin kompeten adalah suatu <em>kahikat </em>dan<em> proses menjadi. </em>Hakikat dan proses menjadi ini perlu disikapi pemimpin secara proaktif. Sebagai <em>hakikat</em>, pemimpin telah membuktikan kompetensi diri, dan diakui serta menjadi pemimpin secara resmi (legitimate). Sebagai <em>proses menjadi</em>, pemimpin bertanggungjawab untuk mengembangkan dirinya secara bersinambung dalam sepanjang kehidupannya melalui kepemimpinan yang diembannya. Pemimpin seperti ini adalah <em>pembelajar sejati</em> yang memiliki <em>postur belajar</em> sepanjang hidup. Postur belajar inilah yang membuatnya terus berkembang menggapai <em>format </em>kepemimpinan yang teguh. Sebagai pembelajar, sang pemimpin terbukti memiliki budaya kualitas yang terbuka, progresif dengan daya penyesuaian diri yang tinggi. Daya suai ini memberi kekuatan untuk menanggapi perubahan serta menyiasati tantangan, menggapai peluang, mencipta tekad serta upaya memimpin yang berhasil. Dalam kaitan ini, pemimpin haruslah  terus menerus berupaya untuk menemukan dan mengembangkan format dirinya secara terfokus yang meneguhkan postur kepemimpinannya. Format diri dalam pengertian ini adalah pembentukan, peningkatan dan pembakuan kapasitas kepemimpinan sang pemimpin. Format diri ini ditandai secara subjektif dengan adanya <em>pembakuan nilai-nilai</em> unggul; <em>penghayatan falsafah</em> pelayanan unggul; dan <em>penguasaan keilmuaan</em> unggul dan <em>penerapannya secara praksis</em> yang terus berkembang. Perkembangan format diri pemimpin secara subjektif dapat terjadi dengan proses pembelajaran <em>vikariat</em>, <em>retrospektif</em> dan <em>introspektif</em> yang positif serta inovatif. Secara objektif, perkembangan format diri pemimpin akan terbukti dengan adanya afirmasi (pengakuan- persetujuan) bawahan yang memberikan penguatan kepada basis sosial pemimpin. Format diri pemimpin inilah yang akan meneguhkan pemimpin dengan kemandirian tinggi yang memastikan keandalannya.</li>
<li><strong>5. </strong><strong>PEMIMPIN KOMPETEN DAN PENCITRAAN KEPEMIMPINAN</strong>. Secara ideal, seorang pemimpin kompeten haruslah <em>tercitrakan</em> secara praksis, yang membuktikan kompetensinya. Dalam kaitan ini, kompetensi pemimpin dengan sendirinya merekatkan daya pencitraan pada diri pemimpin. Daya pencitraan ini menyebabkan adanya kemampuan mencitrakan diri secara subjektif. Secara objektif, efek dari pencitraan ini akan menimbulkan <em>kekaguman </em>para bawahan atas kelebihan yang ada pada pemimpin. Sikap kagum inilah yang menyebabkan mereka mengikuti (memberi diri) dipimpin secara sadar dan bekerja. Sikap kepengikutan bawahan tentu didasarkan pada berbagai faktor, termasuk ambisi, motivasi, dan tujuan khusus pribadi, baik nyata maupun terselubung. Kekaguman yang tulus akan diikuti oleh penghargaan yang lekat, sedangkan kekaguman semu akan berujung kepada upaya menjilat terhadap pemimpin (ingratiation). Pemimpin yang berhikmat, tidak akan mengurus motivasi, ambisi, tujuan maupun kepentingan siapa saja, dan tidak membiarkan diri dijilat. Pemimpin yang arif tidak memiliki “anak emas” karena anak emas dapat sewaktu-waktu berubah menjadi “serigala dewasa” yang tidak pernah kenyang. Pemimpin yang berbudi akan bertanggungjawab dan sadar untuk mencitrakan diri secara proaktif yang diwujudkan dengan rendah hati. Pencitraan seperti ini akan menggambarkan sang pemimpin sebagai berbayangan besar, yang  menguak simbol kekuatan pengayom. Pencitraan sesungguhnya mewadahkan praktek kewibawaan, yang olehnya pemimpin perlu menyikapinya secara sadar, berhikmat dan terencana. Pencitraan seperti ini akan membawa pengaruh positif yang semakin teguh, yang menguatkan upaya memimpin sang pemimpin kearah keberhasilan yang pasti.</li>
<li><strong>6. </strong><strong>PEMIMPIN KOMPETEN DAN KECAKAPAN KEPEMIMPINAN</strong>. Kompetensi pemimpin pada sisi lain mengandaikan adanya kecakapan lebih pada diri pemimpin. Dalam kaitan ini pemimpin diandaikan sebagai seorang <em>strategos</em> (Jenderal) yang memiliki kelebihan di atas mereka yang rata-rata. Kelebihan ini akan nampak melalui <em>keandalan strategi</em>, <em>daya taktis</em> dan <em>performa tinggi</em> yang menempatkan kepemimpinannya pada tataran atas dan depan yang tidak tersaingi. Pemimpin strategos memiliki daya suai tinggi, keteguhan tinggi, kerahasiaan tinggi, kecepatan tinggi,  dengan daya penyelesaiaan tuntas  tinggi, yang menyebabkannya selalu tangguh.</li>
<li><strong>7. </strong><strong>PEMIMPIN KOMPETEN DAN KEBERHASILAN KEPEMIMPINAN</strong>. Pemimpin kompeten pada akhirnya memiliki <em>kemandirian tinggi</em>. Kemandirian tinggi menjelaskan bahwa pemimpin memiliki <em>jiwa entrepreneur</em> yang menjadikannya unggul. Kemandirian tinggi ini nampak pada <em>pikiran strategisnya</em> yang unggul (memiliki <em>innerwill</em> / <em>visi </em>yang teguh); <em>keberanian</em> menyikapi peluang, mengambil keputusan dan menghadapi menyambut setiap resiko yang timbul; dan <em>kepiawaian merekayasa cara unggul</em> tidak tersaingi dalam menjalankan upaya memimpin mewujudkan <em>outerwill</em> yang tidak dapat diungguli lawan. Pemimpin akan selalu berjiwa energetik, dengan daya revitalisasi dan motivasi yang tinggi. Ia pantang menyerah, dan tetap terfokus serta tepat arah. Pemimpin seperti ini tahu momentum tepat. Ia tahu hal tepat untuk dilakukan. Ia menguasai cara tepat yang diambil. Ia piawai melakukan tindakan tepat yang akan menghasilkan. Ia akan bertindak dengan penuh keyakinan, penuh perhitungan, dan dengan kekuatan penuh untuk mencipta keberhasilan kerja. Ia adalah pemimpin kompeten yang pasti berhasil (Nehemia 2:20).</li>
</ol>
<p>Apakah Anda memenuhi tolok ukur ini? Selamat membuktikan diri sebagai pemimpin kompeten.</p>
<p>Salam dan doa,</p>
<p>Yakob Tomatala</p>
<p>Rekan sekepemimpinan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2010/02/11/apakah-anda-pemimpin-kompeten/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PANGGILAN KEPEMIMPINAN</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2010/01/27/panggilan-kepemimpinan/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2010/01/27/panggilan-kepemimpinan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 07:27:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yakob Tomatala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Panggilan Kepemimpinan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=155</guid>
		<description><![CDATA[ 
“Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi (pemimpin) bagi bangsa-bangsa”
(Yeremia 1:5).
 
PENGANTAR:
Panggilan Kepemimpinan merupakan faktor dasar terpenting bagi seseorang menjadi pemimpin. Firman Allah dengan tegas memberikan tempat utama kepada panggilan TUHAN Allah (God’s leadership [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p>“<em>Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi (pemimpin) bagi bangsa-bangsa</em>”</p>
<p>(Yeremia 1:5).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>PENGANTAR:</p>
<p>Panggilan Kepemimpinan merupakan faktor dasar terpenting bagi seseorang menjadi pemimpin. Firman Allah dengan tegas memberikan tempat utama kepada panggilan TUHAN Allah (God’s leadership calling) bagi seseorang untuk masuk ke dalam tugas kepemimpinan (Yeremia 1:5). Panggilan kepemimpinan ini begitu penting karena akan selalu disertai oleh faktor-faktor penunjang utama bagi seseorang untuk menjadi pemimpin yang berhasil. Faktor-faktor berikut adalah:</p>
<ol>
<li><strong><em>Panggilan kepemimpinan dan kuasa lengkap</em></strong>. Panggilan kekepemimpinan bagi seorang pemimpin akan selalu diteguhkan dengan adanya <em>kuasa kepemimpinan lengkap</em> (complete leadership power). Dalam kuasa kepemimpinan lengkap ini ada <em>tugas</em> <em>kepemimpinan</em> (leadership task, atau task position), <em>kewenangan</em> (orotoritas), <em>hak </em>(privilese), <em>kewajiban</em> (obligasi), <em>tanggungjawab</em> (responsibilitas) dan <em>pertanggung-jawaban</em> (akuntabilitas), guna mengambil peran kepemimpinan yang pasti. Kesadaran ini harus didukung oleh pemahaman bahwa sebagai pemimpin, ia dipanggil TUHAN Allah untuk terlibat dalam kepemimpinan (Markus 10:41-42), sehingga ia dapat memimpin dengan benar, baik dan sehat, serta berkualitas.</li>
<li><strong><em>Panggilan kepemimpinan dan visi</em></strong>. Panggilan TUHAN bagi pemimpin diteguhkan oleh adanya <em>innerwil</em>l atau visi yang teguh. Yang dimaksudkan dengan innerwill adalah kehendak suci yaitu <em>jatidiri</em> seseorang yang meneguhkan kesejatian diri dan kepastian panggilan kepemimpinan bagi pemimpin. Innerwill ini adalah visi pribadi yang ditanamkan TUHAN di dalam jiwa pemimpin, yang memberikan kepadanya <em>tujuan</em> (sense of purpose). Innerwill (visi) yang memberikan kesadaran kuat akan tujuan dalam panggilan Allah ini, diteguhkan dengan adanya afirmasi tanggungjawab kepemimpinan yang di dalamnya pemimpin membuktikan <em>outerwill</em>-nya, yang diwujudkan dalam upaya memimpin yang berkualitas. Outerwill yang dibuktikan dengan pelaksanaan kerja yang berkualitas adalah afirmasi bagi panggilan otentik dari TUHAN Allah atas pemimpin, yang olehnya ia mampu membuktikan bahwa innerwill yang menunjuk kepada tujuan yang memberi fokus pencapaian yang jelas akan menuntun kepada keberhasilan kepemimpinan (Matius 4:19, 18-22; Markus 1:16-20; Lukas 5:1-11). <span id="more-155"></span></li>
<li><strong><em>Panggilan kepemimpinan dan passion</em></strong>. Panggilan TUHAN yang diteguhkan dengan innerwill meneguhkan pemimpin dengan <em>passion</em> yang kuat. Passion ini meneguhkan hati pemimpin dengan kasih yang kuat dengan <em>kelekatan</em> dan <em>kedekatan</em> jiwa kepada kepemimpinannya. Passion membuat pemimpin menjadi teguh dengan semangat juang tangguh didukung oleh <em>hikmat</em> serta kepiawaian memimpin, sehingga kepemimpinan yang diembannya terlaksana dengan hasil yang cemerlang dari awal ke akhir (Sebagai contoh, lihat: Kejadian 39, dst., tentang Yusuf; dan Keluaran 4, dst., tentang Musa; Matius 3; 4; 9:35-38, dsb., tentang Yesus Kristus; yang semuanya teguh dalam kepemimpinan karena passion).</li>
<li><strong><em>Panggilan kepemimpinan, kapasitas penuh dan kompetensi</em></strong>. Panggilan TUHAN kepada pemimpin diteguhkan oleh adanya<em> </em>konfirmasi<em> kapasitas kepemimpinan penuh</em> yang pasti (Nehemia 2:6b, 8b). Dalam konfirmasi ini ada pembuktian kapasitas penuh dan <em>kompetensi </em>pemimpin dengan serangkaian kualitas diri yaitu: <em>integritas karakter</em>, <em>kapasitas pengetahuan</em>, dan <em>kapabilitas sosial serta teknis</em> (social base skills &amp; managerial techinical skills). Kualitas diri pemimpin ini terbukti pada dinamika perkembangan kapasitas, format dan pencitraan dirinya sebagai pemimpin dengan kualitas lebih, yang memberikan kepadanya bayangan besar dan hasil cemerlang yang menempatkannya di atas serta di muka dalam percaturan sosial. Sinkron dengan konfirmasi ini ada <em>afirmasi</em> (pengakuan) panggilan kepemimpinan kepada pemimpin, yang olehnya ia dapat membuktikan diri sebagai <em>pemimpin berhati bijak</em> dengan daya juang tangguh (Lihat: Yesaya 32:8; Markus 10:41-42; Banding: I Samuel 16:7 dalam panggilan Daud).</li>
<li><strong><em>Panggilan kepemimpinan dan komitment</em></strong>. Panggilan TUHAN akan seseorang kepada tanggungjawab kepemimpinan akan diteguhkan oleh adanya komitmen yang kuat. Panggilan TUHAN berfungsi sebagai dinamika peneguhan (reinforcement) diri, dimana olehnya pemimpin memiliki komitmen<em> kepada kualitas hidup</em> sehingga ia dapat membuktikan integritasnya sebagai pemimpin rohani yang berhikmat dengan etika dan moral teguh (Keluaran 18:21-26; Kisah Para Rasul 6:3-6). Komitmen ini juga nampak dalam <em>disiplin diri</em> yang teguh, sehingga ia dapat memimpin dengan penuh kebijaksanaan (Yakobus 3:13-18; Yesaya 32:1-2, 8; I Raja-raja 3:7-13, 28; Banding: Daud dalam I Samuel 16:7; 17:12-58; 24:7-8; 26:9-11). Komitmen  ini pun terbukti dalam dinamika kinerja yang dilakukan dengan <em>penuh semangat</em> (high spirit)  dan menghasilkan (Mazmur 126:5-6).</li>
<li><strong><em>Panggilan kepemimpinan dan kekuatan</em></strong>. Panggilan TUHAN adalah dasar kekuatan (strength) bagi pemimpin yang olehnya ia dapat memimpin dengan kebenaran dan keadilan serta bersikap bijaksana terhadap orang yang dipimpinnya (Amsal 28:16; 16:29; 29:2-4) yang membuat kepemimpinannya penuh berkat secara langgeng. Panggilan TUHAN ini jugalah yang menyebabkan pemimpin dapat melihat kehidupan dan kepemimpinannya sebagai anugerah Allah dan olehnya ia dapat meneguhkan diri dengan daya juang teguh serta mampu bertahan ke akhir yang karenanya ia dapat mengatakan “<em>aku telah mengakhiri pertandingan yang baik</em>” oleh anugerah serta kekuatan TUHAN (II Timotius 4:7-8; Kisah Para Rasul 9; II Korintus 4:1-18).</li>
<li><strong><em>Panggilan kepemimpinan dan keberhasilan</em></strong>. Panggilan TUHAN adalah dasar dan dinamika bagi keberhasilan kepemimpinan (Nehemia 2:20; Banding: Filipi 4:13, 19). Di sini dapat dikatakan bahwa panggilan TUHAN bagi pemimpin untuk menggambil tanggungjawab kepemimpinan adalah dasar bagi keberhasilan kepemimpinan  (Lihat: Kejadian 11:6; Yeremia 29:11).</li>
</ol>
<p>Selamat memimpin dengan berhasil berdasarkan panggilan TUHAN, yang disertai dengan kuasa, visi, passion, kompetensi, komitmen,  kekuatan dan keberhasilan dari Allah.</p>
<p>Rekan sekepemimpinan,</p>
<p>Yakob Tomatala</p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2010/01/27/panggilan-kepemimpinan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
