<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DR. Yakob Tomatala &#187; Perenungan</title>
	<atom:link href="http://yakobtomatala.com/category/perenungan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://yakobtomatala.com</link>
	<description>Leadership, Thoughts, Books, Writing !</description>
	<lastBuildDate>Wed, 01 Sep 2010 02:10:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>MEMBANGUN SIKAP: CURIGA, APAKAH PATUT BAGI PEMIMPIN UNTUK MENCURIGAI</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2010/09/01/membangun-sikap-curiga-apakah-patut-bagi-pemimpin-untuk-mencurigai/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2010/09/01/membangun-sikap-curiga-apakah-patut-bagi-pemimpin-untuk-mencurigai/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Sep 2010 02:10:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yakob Tomatala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Perenungan]]></category>
		<category><![CDATA[curiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=263</guid>
		<description><![CDATA[“Hendaklah engkau bertindak-hati-hati &#8230;.”  (Yosua 1:8). PENGANTAR Apakah Anda pernah curiga dan mencurigai seseorang? Curiga dan mencurigai tentu ada alasan mendasarnya.  Namun, pertanyaannya ialah, apa yang menjadi dasar bagi Anda untuk curiga dan mencurigai itu? Apakah Anda mencurigai dari hati Anda atau mencurigai dari benak Anda? Apa makna mencurigai dari hati dan mencurigai dari benak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<em>Hendaklah engkau bertindak-hati-hati</em> &#8230;.”  (Yosua 1:8).</p>
<p>PENGANTAR</p>
<p>Apakah Anda pernah curiga dan mencurigai seseorang? Curiga dan mencurigai tentu ada alasan mendasarnya.  Namun, pertanyaannya ialah, apa yang menjadi dasar bagi Anda untuk curiga dan mencurigai itu? Apakah Anda <em>mencurigai dari hati </em>Anda atau <em>mencurigai dari benak</em> Anda? Apa makna mencurigai dari hati dan mencurigai dari benak ini? Pertanyaan berikutnya, mengapa Anda mencurigai seseorang itu? Apakah ada alasan khususnya sehingga Anda mencurigainya? Apa indikator kuat yang dapat diambil sebagai alasan bagi Anda untuk mencurigainya? Adakah Anda telah mempertimbangkan keuntungan dan kerugian mencurigai yang biasa Anda sikapi ini? Semua pertanyaan ini tentu memerlukan jawaban dari Anda. Karena itu, Anda harus mencari tahu alasan-alasan mendasar tentang curiga dan mencurigai ini. Simaklah:</p>
<p><span id="more-263"></span></p>
<ol>
<li><strong>CURIGA MENCURIGAI ITU ADA DASARNYA</strong>. Mengapa Anda mencurigai dan dan mengapa Anda tidak mencurigai seseorang tentu ada alasannya. Anda tentu tahu apa sebabnya Anda curiga mau pun tidak curiga kepada seseorang. Ini bicara tentang alasan atau dasar bagi sikap Anda mencurigai seseorang. Telah dipertanyakan di atas tentang apa yang menjadi dasar bagi Anda untuk curiga dan mencurigai seseorang itu. Sambungan pertanyaan ini adalah, “Apakah Anda mencurigai dari hati Anda, atau Anda mencurigai dari benak Anda?” Sekarang, apa sesungguhnya perbedaan antara mencurgai dari hati dan mencurigai dari benak itu? Untuk menjawabnya, kita akan mengulasnya satu persatu.</li>
</ol>
<p><em>Pertama</em>, Mencurigai dari hati. Apa sesungguhnya makna mencurigai dari hati itu? Mecurigai dari hati adalah sikap hati yang terus-menerus mencurigai orang, siapa pun orang itu. Mencurigai dari hati ini merupakan karakter seseorang pencuriga, dimana ia akan selalu bersikap curiga terhadap siapa saja, dan apa saja. Mencurigai dari hati memiliki kekuatan yang mempengaruhi pikiran, perasaan dan kehendak, sehingga mencurigai menjadi sikap batin, yang mempengaruhi pikiran kata dan perbuatan secara negatif. Pencuriga dari hati sesungguhnya dipengaruhi dari faktor pembesaran atau pengalaman traumatis dan hal lain, sehingga ia sangat cederung mengembangkan sikap curiga. Pencuriga dari hati akan selalu memiliki alasan negatif untuk mempertanyakan apa yang ia dengar, apa yang ia lihat dari sikap mau pun kata-kata orang yang berniat baik sekalipun. Pencuriga dari hati ini bersikap seperti anjing penjaga yang selalu siaga mencurigai siapa pun. Bisakah Anda bayangkan apa sesungguhnya yang akan terjadi dengan pencuriga dari hati ini? Ia akan selalu berprasangka buruk terhadap orang lain.</p>
<p><em>Kedua</em>, Mencurigai dari benak. Mencurigai dari benak berhubungan dengan “kemampuan intuitif menganalisis” atas kata, sikap mau pun perbuatan seseorang. Mencurigai dari benak selalu berhubungan dengan kecakapan intuitif yang menjelaskan adanya kemampuan membuat estimasi psikologis atas apa yang ditangkap oleh indra. Seorang polisi mencurigai seseorang bukan dari hatinya, tetapi ia memakai pikirannya, dimana ia telah belajar bagaimana mengintentifikasi sikap seseorang yang “bersalah.” Sebagai contoh, seseorang pengedara mobil tanpa memiliki SIM, akan mudah diidenfikasi polisi. Di sini sang polisi memakai kemampuan otaknya yang oleh hatinya muncul intuisi untuk membenarkan analisah otaknya, yang karenanya ia akan selalu tepat dalam mencurigai. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa apabila seorang pemimpin mencurigai dari hatinya, maka ia akan selalu bersikap negatif terhadap orang lain, entahkah sesama pemimpin atau pun bawahan atau siapa dan apa saja. Sikap mencurigai ini adalah ekspresi karakternya. Sikap ini akan nampak dalam cara ia menalar, bersikap dan bertindak “jangan-jangan orang ini mau menciderai saya.” Ia akan merasa tidak aman terhadap siapa saja yang ada di sekitarnya. Pada sisi lain, mencurigai dari pikiran akan membuat seseorang pemimpin itu intuitif, karena hasil analisisnya beranjak dari pikirannya yang sehat. Dan lagi, ia selalu menyerahkan hasil analisis pikirannya untuk ditimbang oleh hatinya. Pertimbangan nuraninya akan sangat intuitif sehingga perasaan dan kehendaknya akan memberikan dukungan untuk berpikir, bersikap dan bertindak yang baik, benar dan positif.</p>
<ol>
<li><strong>CURIGA MENCURIGAI ITU ADA BAIK DAN BURUKNYA</strong>. Mencurigai dari hati dan mencurigai dari benak seperti yang telah diterangkan di atas akan selalu memiliki dampak dalam kehidupan. Penduriga dari hati akan terlihat selalu mawas diri, namun prasangka negatif menguasi benak, perasaan dan kehendaknya, sehingga ia cenderung berkata, bersikap dan bertindak negatif. Kebaikan dari mencurigai dari hati ini ialah bahwa pencuriga akan selalu waspada, namun keburukannya sang pencuriga akan selalu “nervous” degan siapa dan apa saja. Mencurigai dari hati akan menyusahkan diri sendiri, karena pikiran, perasaan dan kehendkan sang pencuriga akan selalu terganggu. Mencurigai dari benak membuat pencuriga akan selalu bersikap intuitif positif dan bertindak dengan pertimbangan akal sehat. Mencurigai dari benak, membuat pencuriga merasa pasti akan perasaan, dan kehendaknya, karena hatinya membantunya untuk memastikan kebenaran akal sehat yang menyodorkan pertimbangan matang.</li>
</ol>
<ol>
<li><strong>CURIGA MENCURIGAI ITU ADA AKIBATNYA, ADA GUNANYA ADA MANFAAT KEPEMIMPINAN</strong>. Mencurigai itu selau ada akibat, kegunaan, dan manfaatnya dalam kepemimpinan. Seorang pemimpin yang mencurigai dari hati akan bertindak negatif terhadap sesamanya, sehingga ia sendiri menjadi pencipta kekalutan pikiran, perasaan dan kehendaknya. Dengan kekaluan ini akan terciptalah kesusutan yang membawa kesesatan, sehingga tindakan dan keputusannya akan selalu mengganggu. Pencuriga dari hati ini akan selalu membawa “aroma negatif” dalam kepemimpinannya. Ia akan menciderai diri sendiri dan orang-orang lain di sekitarnya (matius 7:12). Sedangkan, pencuriga dari benak yang berpikiran sehat akan memberikan pertimbangan intuitif kepada hatinya yang menjadi dasar untuk “bertindak hati-hati” dalam kata dan perbuatannya. Pencuriga dari benak dapat disebut sebagai pengguna akal sehat, yang berperasaan jernih dan berkehendak kuat yang positif, yang akan selalu membawa akibat positif dalam kata dan tindakannya. Pencuriga dari benak inilah yang akan menciptakan keunggulan membina hubungan-hubungan positif dalam kepemimpinan sebagai landasan untuk memimpin secara berkualitas. Dengan bersikap hati-hati, pemimpin akan cenderung bergaya positif menyikapi setiap orang dan apa saja yang terjadi di sekitarnya, sehingga membawa citra positif yang mewarnai sikap, kata dan tindakannya yang terbukti memberikan keunggulan kepada pemimpin dalam kepemimpinannya.</li>
</ol>
<p><strong>PRINSIP MENCURIGAI YANG BENAR</strong>:</p>
<p>Berdasarkan uraian di atas, kita tentu dapat belajar bahwa mencurigai dari hati dan mencurigai dari benak itu ada perbenaanya. Perbedaan dari keduanya adalah sangat substansial, dengan pengaruh dan akibat yang signifikan. Dengan demikian, adalah beralasan untuk menegaskan sikap mencurigai yang benar, demi keberhasilan kepemimpinan. Bagaimana mengembangkan sikap mencurigai yang benar itu?</p>
<ul>
<li>Mencurigai yang benar beranjak dari hati yang bersih yang terjaga baik, pikiran sehat, perasaan jernih dan kehendak benar serta baik, yang dikendalikan oleh <strong>Otoritas Pencipta</strong> (Amsal 4:23; Fiipi 4:5, 8-9; Mazmur 1; II Timotius 3:15-17).</li>
<li>Mencurigai yang benar akan menopang gaya, sikap dan kata yang positif, yang akan membawa pengaruh positif atas hubungan-hubungan antar orang dalam organisasi.</li>
<li>Mencurigai yang benar akan selalu membawa dampak positif dalam kepemimpinan, karena dilandasi karakter yang baik dan benar yang yang muncul dari hati yang tulus, yang tersirat dalam penggunaan sikap, pikiran, perasaan, kehendak, kata dan tindakan yang akan selalu mengangkat, dan mengatasi hal negatif.</li>
<li>Mencurigai yang benar akan selalu membuat pemimpin dapat <em>bertindak hati-hati</em>, karena ia memiliki hati yang bijaksana, sikap yang arif (Yesaya 32:8), yang dikendalikan oleh kebenaran sejati (Yosua 1:6-9), yang olehnya ia akan terbukti sebagai pemimpin bijak yang berhasil.</li>
</ul>
<p><strong>Selamat mencurigai yang benar demi keberhasilan kepemimpinan</strong>!!!</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Salam dan doa,</p>
<p>Dr. Yakob Tomatala</p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2010/09/01/membangun-sikap-curiga-apakah-patut-bagi-pemimpin-untuk-mencurigai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Spiritualitas Pemimpin Kristen</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2010/09/01/spiritualitas-pemimpin-kristen/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2010/09/01/spiritualitas-pemimpin-kristen/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Sep 2010 02:09:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yakob Tomatala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Perenungan]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritualitas Pemimpin Kristen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=261</guid>
		<description><![CDATA[“&#8230;.. kamu yang rohani harus memimpin orang &#8230; ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut&#8230;.” (Galatia 6:1b) PENGANTAR Tajuk “Spiritualitas Pemimpin Kristen” bersifat tepat waktu.” Unsur tepat waktu dari tema ini didukung oleh kenyataan bahwa kondisi dunia yang berubah dan penuh dengan tantangan ini menuntut adanya pemimpin Kristen dengan kadar spiritualitas tangguh untuk memimpin. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“&#8230;.. <em>kamu yang rohani harus memimpin orang &#8230; ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut</em>&#8230;.” (Galatia 6:1b)</p>
<p>PENGANTAR</p>
<p>Tajuk “Spiritualitas Pemimpin Kristen” bersifat tepat waktu.” Unsur tepat waktu dari tema ini didukung oleh kenyataan bahwa kondisi dunia yang berubah dan penuh dengan tantangan ini menuntut adanya pemimpin Kristen dengan kadar spiritualitas tangguh untuk memimpin. Disadari bahwa pemimpin Kristen sesungguhnya adalah <em>pemimpin rohani</em>, yang harus membuktikan kadar kerohaniannya sebagai dasar integritas dirinya yang merupakan kekuatan moral yang menopang diri serta kepemimpinannya. Pada sisi lain, integritas pemimpin tergantung sepenuhnya pada kadar spiritualitasnya, yang menunjuk kepada kepentingan keteguhan spiritualitas pada pemimpin Kristen. Kenyataan ini mendorong untuk bertanya, apa sesungguhnya spiritualitas itu dan seberapa pentingnya spiritualitas bagi seorang pemimpin Kristen? Dalam upaya menjawab pertanyaan ini, maka ada tiga pokok penting yang akan dipercakapkan dalam diskursus ini, yaitu antara lain: <em>Pertama</em>, Memaknai Spiritualitas Pemimpin; <em>Kedua</em>, Dinamika Spiritualitas Pemimpin Kristen sebagai dasar bagi otoritas kepemimpinan; <em>Ketiga</em>, Kadar Spiritualitas Pemimpin Kristen sebagai tolok ukur kualitas kepemimpinan.<span id="more-261"></span></p>
<p><strong>MEMAKNAI SPIRITUALITAS PEMIMPIN</strong></p>
<p>Spiritualitas atau <em>spirituality </em>adalah natur rohani yang menjelaskan tentang kadar karakter atau kualitas rohani seseorang. Berdasarkan pengertian ini, bisa dikatakan bahwa spiritualitas membayangi kadar karakter setiap orang, dimana karakter dapat merupakan ekspresi kualitas spiritualitas itu sendiri. Dalam hubungan ini dapatlah dikatakan bahwa spiritualitas adalah hakikat dan sifat hidup yang dibangun di atas kadar rohani atau kerohanian. Kebenaran ini menegaskan bahwa kerohanian yang tinggi merefleksikan spiritualitas yang tinggi yang terbayang dalam karakter yang agung. Hubungan spiritualitas dan karakter ini menjelaskan adanya kaitan integral yang saling mempengaruhi, antara kadar kerohanian seseorang dan karakter serta ekspresi dirinya. Spiritualitas di sini dapat dikatakan juga sebagai dasar bagi integritas seseorang. Di sini, percakapan seputar spiritualitas pemimpin dalam diskursus kali ini memiliki relevansi kuat untuk kehidupan kepemimpinan Kristen. Spiritualias juga merupakan ekspresi kesadaran diri akan kepentingan spiritulitas tinggi bagi pemimpin Kristen. Kepentingan spiritualitas tinggi bagi pemimpin Kristen dibangun oleh kenyataan bahwa spiritualitas itu adalah penting yang berfungsi sebagai dasar untuk mewujudkan kepemimpinan yang berkualitas. Tidaklah mengherankan, bahwa Rasul Paulus di dalam Galatia 6:1b mengatakan, “&#8230;.. <em>kamu yang rohani harus memimpin orang &#8230; ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut</em>&#8230;.” Makna dari nasehat ini dalam hubungannya dengan tema “Spiritualitas Pemimpin Kristen” sesungguhnya menekankan kepada faktor pemimpin, dimana kadar dan kekuatan kerohaniannya merupakan landasan bagi kekuatan etika &#8211; moralnya untuk memimpin yang olehnya ia dapat mewujudkan perannya mengangkat orang lain.</p>
<p><strong>DINAMIKA SPIRITUALITAS PEMIMPIN KRISTEN DAN OTORITAS KEPEMIMPINAN</strong>.</p>
<p>Disadari bahwa dinamika spiritualitas pemimpin Kristen bersumber dari Allah. Tatkala Rasul Yohanes berbicara tentang kebenaran seputar otoritas spiritualitas Kristen, ia menegaskan, “<em>Barangsiapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup seperti Kritus telah hidup</em>” (I Yohanes 2:6). Kebenaran ini menunjuk bahwa sesungguhnya Yohanes sedang menegaskan tentang sumber otoritas dari spiritualitas Kristen itu. Kebenaran seputar sumber otoritas Kristen ini mengandung tiga sisi yang harus dipahami dan dihidupi oleh setiap pemimpin Kristen, yaitu antara lain:</p>
<p><em>Pertama</em>, Otoritas spiritualitas pemimpin Kristen hanya ada pada setiap orang yang ada di dalam Kristus. Kebenaran ini diteguhkan oleh Firman yang menegaskan bahwa “<em>Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan yang baru; yang lama sudah berlalu, sesunggunya yang baru sudah datang</em>” (II Korintus 5:17). Di sini otoritas spiritualitas itu menjadi kokoh oleh kekuatan Roh Kudus, yang diteguhkan oleh Firman, bahwa “<em>Allah memberikan kepada kita &#8230; roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban</em>” (II Timotius 2:7b). Indikator dari otoritas rohani ini adalah adanya kekuatan (kuasa) rohani untuk hidup dan mengabdi berlandaskan kasih yang mengangkat dengan kadar penguasan dan ketertiban diri yang tinggi. Kebenaran ini dipastikan melalui tindakan kasih karunia Allah yang menyelamatkan itu, dimana Rasul Paulus mengatakan bahwa “<em>Di dalam Dia kamu</em> &#8230;.. <em>dimeteraikan dengan Roh Kudus yang dijanjikan itu”</em> (Efesus 1:13). Memeteraikan kebenaran ini di dalam jiwa pemimpin Kristen, Profesor J. Robert Clinton mengatakan bahwa “Orang yang memandang otoritas rohani sebagai dasar kekuasaan untuk melayani harus mengakui Sumber dari semua otoritas: (yaitu) Allah.” Pengakuan ini merupakan sikap sambutan iman atas apa yang telah dikaruniakan TUHAN Allah kepada pemimpin Kristen, sebagai dasar otoritas spiritualitas kepemimpinannya. Sikap ini menyebabkan ia berendah hati untuk mengakui bahwa “<em>Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, Firman TUHAN semesta alam</em>” (Zakharia 4:6).</p>
<p><em>Kedua</em>, Otoritas spiritualitas pemimpin Kristen harus dibuktikan dengan adanya tanggung jawab memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus. Indikator kuat bahwa seorang pemimpin adalah pemimpin rohani ialah bahwa ia hidup oleh Roh Kudus, yang olehnya ia dapat menguasai dirinya dengan tidak menuruti keinginan daging (Galatia 5:16-17). Indikator kuasa positif yang pasti ialah bahwa dari kehidupan <em>pemimpin rohani</em> yang dipimpin oleh Roh Kudus, akan nyata kekuatan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Galatia 5:22). Kebenaran inilah yang menjelaskan adanya dinamika kredibilitas pemimpin rohani.</p>
<p><em>Ketiga</em>, Otoritas spiritualitas pemimpin Kristen dibuktikan dengan adanya integritas diri yang teguh. Integritas diri itu kebaikan hati, kebenaran, kemuliaan, keadilan, kesucian, kesedapan, kemanisan, kebaikan dan kepatutan untuk dipuji, keadilan, kesetiaan, ketaatan dan kejujuran yang membawa kemuliaan bagi Allah, karena segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, dan bagi Dialah kemualiaan sampai selama-lamanya (Filipi 4:5,8; Yesaya 32:1-2; Roma 11:36). Dalam hubungan ini dapat ditegaskan bahwa dinamika spiritualitas pemimpin Kristen akan ada dan nampak pada integritas diri pemimpin yang ada di dalam Kristus, yang relah memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus. Penyerahan diri ini adalah dasar kekuatan yang menopang pemimpin membuktikan integritas karakter Kristen yang teguh oleh kuasa Roh Allah. Dengan integritas diri ini pemimpin dapat berdiri teguh sebagai pemimpin rohani yang tangguh dalam menghadapi serta menjawab tantangan perubahan dunia yang mengancam.</p>
<p><strong>KADAR SPIRITUALITAS PEMIMPIN KRISTEN DAN KUALITAS KEPEMIMPINAN</strong>.</p>
<p>Menengok balik akan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa kadar kualitas spiritualitas pemimpin Kristen berbanding sejajar dengan kualitas kepemimpinannya. Maksud dari pernyataan ini adalah bahwa spiritualitas yang berkualitas menentukan adalah kekuatan bagi kualitas kepemimpinan. Dapat juga dikatakan bahwa kadar kualitas spiritualitas menentukan ketahanan dan kelanggengan kualtias kepemimpinan pemimpin rohani. Menguraikan kebenaran tentang kadar kualitas spiritualitas, dapatlah dikatakan bahwa faktor penting bagi peneguhan kadar kualitas spiritualitas  pemimpin Kristen adalah antara lain:</p>
<p><em>Pertama</em>, Pemimpin rohani membangun diri di dalam Firman Allah (Mazmur 1; Yosua 1:7-9), sehingga ia memiliki karakter dan integritas diri yang kuat dimana ia dilengkapi untuk setiap perbuatan benar dan baik (II Timotius 3:15-17);</p>
<p><em>Kedua</em>, Pemimpin rohani menjaga hatinya, sehingga ia rendah hati (Amsal 4:23) dan memimpin seperti Yesus Kristus yang memimpin dari hati (Matius 9:34-38), memimpin berdasarkan kasih yang mengangkat (Yohanes 13:1, 34-35), dan memimpin dengan kekuatan kebenaran dan kebaikan (Yohanes 14:6; Yesaya 32:1-2, 8, 117), sehingga ia mengamalkan damai, keadilan dan kesejahteraan dalam kepemimpinannya.</p>
<p><em>Ketiga</em>, pemimpin rohani memimpin dengan mengandalkan TUHAN Allah (Yeremia 17:7-8; 9:23-24), sehingga ia menjadi bijaksana dan teguh dalam kepemimpinan melewati berbagai kondisi sulit (Amsal 18:10; 24:10; I Raja-raja 3:9, 12, 28).</p>
<p><em>Keempat</em>, pemimpin rohani memimpin sebagai pemimpin teladan yang membawa berkat bagi orang yang dipimpin dan lingkungan kepemimpinan (Ibrani 13:7,17).</p>
<p><em>Kelima</em>, pemimpin rohani memimpin dengan penuh pengabdian sebagai hamba dan pelayan (Markus 10:41-47; Lukas 17:10) yang dibuktikan melalui pelayanan terhadap orang yang dipimpin (I Petrus 5:1-4). Pemimpin yang memimpin dengan melayani seperti Yesus Kristus sajalah yang adalah pemimpin yang dapat membuktikan kualitas kepemimpinan yang tidak lekang karena panas dan tidak lapuk oleh hujan. Kebenaran ini ditegaskan oleh Nabi Daniel yang mengungkapkan, “<em>Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bindatng-bintang, tetap untuk selama-lamanya</em>” (Daniel 12:3).</p>
<p><strong>RAMPUNGAN</strong></p>
<p>Melihat uraian sebelumnya tentang otoritas spiritualitas kepemimpinan dan tentang kualitas kadar spiritualitas yang memiliki pengaruh terhadap kadar kualitas pemimpin Krsten dan kepemimpinannya, dapat dikatakan bahwa “kekuatan dan kualitas pemimpin terletak pada otoritas dan kadar spiritualitasnya.” Di sini dapat ditekankan bahwa “pemimpin Kristen dengan kadar otoritas spiritualitas tinggi sajalah yang akan membuktikan diri sebagai pemimpin yang bekualitas dan dapat mempertahan kualitas diri menghadapi tantangan dan tekanan dalam menjalankan kepemimpinan yang diembannya. Dari sini dapat disimpulkan bahwa “Pemimpin Kristen yang menjaga otoritas spiritualitas dan mengembangkan kadar spiritualitasnya adalah pemimpin berkualitas yang akan bertahan serta siaga menghadapi kenyataan kepemimpnan pada segala masa (II Timotius 4:1-6). Pemimpin seperti ini adalah pemimpin yang disiapkan untuk menghadapi masa depan yang sulit dan akan bertahan serta keluar sebagai pemenang dalam menjalankan kepemimpinannya secara langgeng dan berhasil (Nehemia 2:20).</p>
<p>Akhirnya, spiritualitas sejati hanya ada karena pemimpin Kristen hidup dan mengabdi seperti TUHAN-nya (I Yohanes 2:6), dimana ia mampu memimpin dari hati (yang penuh hikmat; Matius 9:34-38; Yesaya 32:8), berlandaskan kasih (yang mengangkat sesama Yohanes 13:1, 34-35; I Yohanes 4:7-10) dengan kekuatan kebenaran dan kebaikan (yang membawa damai sejahtera; Yesaya 32:17, 1-2; 15:15-16; Yohanes 14:6, 27; Matius 5:9). Dan lagi, spiritualitas sejati meneguhkan hubungan pemimpin dengan TUHAN Allahnya, Sang Pencipta, karena olehnya ia <em>hidup kudus</em> (I Petrus 1:15-16); dan <em>dapat melihat</em> <em>Allah</em> (Matius 5:8), serta bersekutu degan DIA, hidup dalam ketaatan akan Firman berbasis <em>kasih setia</em> yang ditambatkan pada hatinya sehingga ia dihormati oleh TUHAN Allah dan manusia serta berhasil dan menjadi berkat dalam kepemimpinannya (Amsal 3:1-10; Kejadian 12:1-3). Selamat dan sukses bagi kemuliaan TUHAN Yesus Kristus. TUHAN Allah kiranya memberkati dengan limpahnya. Terimakasih</p>
<p>Motivator,</p>
<p>Dr. Yakob Tomatala</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Pokok ini disampaikan dalam Wisuda STT Doulas Jakarta, tanggal 21 Agustus 2010 di Istana Kana, Jakarta.</p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2010/09/01/spiritualitas-pemimpin-kristen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PENGORBANAN YANG MENJADI DASAR BERBAGI KEDAMAIAN SEJATI</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2010/02/28/pengorbanan-yang-menjadi-dasar-berbagi-kedamaian-sejati/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2010/02/28/pengorbanan-yang-menjadi-dasar-berbagi-kedamaian-sejati/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Feb 2010 04:22:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yakob Tomatala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perenungan]]></category>
		<category><![CDATA[kedamaian sejati]]></category>
		<category><![CDATA[pengorbanan dasar kedamaia sejati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=178</guid>
		<description><![CDATA[RENUNGAN Firman Allah menegaskan: “ Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan. Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus TUHAN kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu” (Roma 5:10-10). PENGANTAR Damai dan kedamaian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>RENUNGAN</strong></p>
<p>Firman Allah menegaskan: “ <em>Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan. Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus TUHAN kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu</em>” (Roma 5:10-10).</p>
<p>PENGANTAR</p>
<p>Damai dan kedamaian adalah kebutuhan tertinggi dari jiwa manusia. Kebutuhan ini mendorong setiap orang untuk mengusahakannya. Dalam upaya menggapai kedamaian ekonomi, orang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya. Sebagai upaya melindungi kedamaian sosial, orang mengupayakan ketentuan budaya (adat istiadat) yang menjaga hubungan-hubungan. Mewujudkan tanggungjawab menjaga kedamaian dan ketenteraman sipil, masyarakat, negara dan pemerintah menegakkan hukum. <span id="more-178"></span></p>
<p>Tetapi, apa yang terjadi? Manusia yang bertanggungjawab mewujudkan kedamaian di antara sesamanya menjadi penyebab utama hilangnya kedamaian dan ketenteraman, yang begitu mudahnya merusak hubungan pribadi maupun kelompok. Akibatnya, ada yang menyimpulkan, bahwa <em>damai dan rasa aman menjadi amat mahal</em>!!! Apakah kondisi yang sama dapat terjadi di antara orang Kristen? Bisa saja, karena “orang Kristen juga manusia.”</p>
<p>Pada sisi lain, ada perintah Sabda, “<em>Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang</em>” (Roma 12:18). Alasan utama bagi perintah ini ialah, bahwa TUHAN Yesus Kristus juga secara tegas mengatakan, “<em>Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah</em>” (Matius 5:9). Pada sisi lain, berkenan dengan teks Roma 5:10-11 di atas, kita dihadapkan dengan pertanyaan, apa sesungguhnya hubungan pengorbanan Yesus Kristus dengan kedamaian kita? Apa makna kebenaran ini bagi kita, apakah kita menyadari bahwa sebagai gereja, kita bertanggungjawab untuk hidup dalam damai dan menjadi pembawa damai? Bagaimana kita mewujudkan kebenaran ini dalam kehidupan dan kesaksian kita sehari-hari sebagai alat perdamaian? Fiman Allah sebagai teks perenungan kita mengungkapkan rahasianya yang dapat dipahami sebagai berikut:</p>
<ol>
<li><strong>I. </strong><strong>PENGORBANAN</strong><strong> YESUS KRISTUS ADALAH </strong><strong>CARA ALLAH MEWUJUDKAN KEDAMAIAN SEJATI BAGI KITA UMAT-NYA.</strong></li>
</ol>
<ul>
<li>Apa maknanya pernyataan “<em>pengorbanan Yesus Kristus adalah cara Allah mewujudkan kedamaian sejati bagi umat-Nya</em>?” Apa yang terjadi tatkala Yesus Kristus menyerahkan diri-Nya di salib sebagai cara Allah menyediakan dan mewujudkan kedamaian sejati bagi kita umat-Nya itu?</li>
</ul>
<ol>
<li>Di salib Yesus Kristus menanggung dan menyelesaikan masalah dosa kita, yaitu sumber perseteruan dengan Allah, sumber kekacauan hidup. Di salib, Yesus Kristus menyelesaikan utang dosa kita, sehingga kita dapat berdamai dengan Allah. Karena dengan pengorbanan-Nya itulah, Ia memperdamaikan kita manusia berdosa dengan Allah (Roma 5:10a; Banding: Efesus 2:14-28). Oleh-Nya kita memiliki hak istimewa beroleh damai.</li>
</ol>
<ol>
<li>Di salib Yesus Kristus mengerjakan kuasa pembebasan dan pemulihan yang memungkinkan kita menikmati kehidupan kekal, dengan menjadi umat-Nya, anak-anak tebusan, milik kesayangan-Nya (Keluaran 19:5-6; Yohanes 10:28,29; 1:12; 6:47). Penyelamatan yang memulihkan inilah yang menjadi dasar bagi kita untuk mengalami kedamaian yang bebas dari dosa. Pembebasan dan kebebasan dari Allah inilah yang menjadi sumber kekuatan bagi kita untuk hidup damai (Roma 5:10b, 11).</li>
</ol>
<p>IMPLIKASI:</p>
<ol>
<li>Dengan pengorbanan-Nya, Ia memulihkan hubungan perseteruan dengan Allah dan mengaruniakan kedamaian sejati bagi kita, sehingga kita memiliki damai abadi dari Allah (Yohanes 14:27).</li>
<li>Dengan pengorbanan-Nya, Ia menyelamatkan dan memulihkan kita serta memberikan kuasa bagi kita umat-Nya untuk menikmati hidup kekal dan kedamain sejati dari Allah. Kedamaian pemberian Allah inilah yang menjadi kekuatan bagi kita untuk membawa damai, dengan terus menang terhadap dosa dan berbagi damai (Matius 5:9)..</li>
</ol>
<ol>
<li><strong>II. </strong><strong>PENGORBANAN</strong><strong> YESUS KRISTUS ADALAH JALAN YANG DISIAPKAN ALLAH BAGI KITA UNTUK MENJADI ALAT PERDAMAIAN</strong>.</li>
</ol>
<ul>
<li>Apa yang dimaksudkan dengan pernyataan “<em>pengorbanan Yesus Kristus adalah jalan yagn disiapkan Allah bagi kita untuk menjadi alat pendamaian itu</em>”? Apa yang dapat dipahami dari kuasa pengorbanan Yesus Kristus dan hubungannya dengan peran kita sebagai alat perdamaian?</li>
</ul>
<ol>
<li>Pengorbanan Yesus Kristus adalah anugerah Allah yang memperdamaikan kita dengan diri-Nya. Anugerah Allah ini adalah kuasa yang meneguhkan kita untuk berdamai dengan Allah, berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan sesama. Perdamaian dari Allah ini adalah jaminan bagi hidup kita, yang olehnya  kita mampu mengalahkan dosa dan berbagi kedamaian (Roma 12:17-18, 21).</li>
</ol>
<ol>
<li>Pengorbanan Yesus Kristus yang mengaruniakan hidup kekal kepada kita memberi hidup berkualitas. Hidup berkualitas ini ditandai dengan adanya kuasa untuk hidup damai dan menjadi alat pembawa damai (Roma 12:18; Matius 5:9). Dengan demikian, kita akan selalu diteguhkan oleh karya pengorbanan Kristus untuk menjadi alat perdamaian dan hidup dalam damai sejati, dimana tugas pendamaian adalah kepercayaan dari Allah bagi kita umat-Nya (II Korintus 5:17-21).</li>
</ol>
<p>IMPLIKASI:</p>
<ol>
<li>Pengorbanan Yesus Kristus memiliki kuasa yang memperdamaikan kita dengan Allah, sehingga kita mampu berdamai dengan Allah, berdamai dengan diri dan berdamai dengan sesama. Perdamaian dengan Allah inilah yang meneguhkan kita menjadi alat pendamain Allah yang sejati.</li>
<li>Pengorbanan Yesus Kristus memberikan hidup kekal yang bebas dari dosa. Inilah hidup yang berkualitas yang ditandai oleh kedamaian sejati. Hidup berkualitas sebagai umat Allah yang ditandai dengan adanya perdamaian dan kedamaian inilah yang memungkinkan kita menjadi alat perdamaian dari Allah kepada dunia. Dengan kapasitas ini, Allah meneguhkan kita sehingga kita dapat menyerukan kabar perdamaian sebagai bagian dari tanggungjawab iman dengan berita: “&#8230; <em>berilah dirimu diperdamaikan dengan Allah</em>” (II Korintus 5:20).</li>
</ol>
<p><strong> KESIMPULAN</strong></p>
<p>Apa yang dapat kita simpulan dari kebenaran yang telah diuraikan di atas dan apa impikasinya bagi kita umat-Nya?</p>
<ol>
<li>Pengorbanan Yesus Kristus di salib adalah dasar dan jaminan dari Allah yang memperdamaikan kita manusia berdosa yang berseteru dengan Allah. Dengan pengorbanan Yesus Kristus ini kita memperoleh hak sebagai umat-Nya (Keluaran 19:5-6; I Petrus 2:9-10) untuk mengalami perdamainan dengan Dia, dengan diri sendiri dan dengan sesama. Di sinilah Allah melengkapi kita menjadi alat pendamain-Nya.</li>
</ol>
<ol>
<li>Pengorbanan Yesus Kristus yang memberikan hidup kekal kepada kita adalah cara Allah melengkapi kita dengan kuasa untuk menjadi alat perdamaian.  Oleh kuasa atau otoritas pengorbanan Yesus Kristus inilah maka kita dimampukan, sehingga kita dapat membawa damai, yang olehnya semama manusia berdosa dapat diperdamaikan dengan Allah.</li>
</ol>
<p>REFLEKSI:</p>
<ul>
<li>Bagaimana kita dapat membuktikan bahwa kita telah berdamai degan Allah oleh pengorbanan Yesus Kristus?</li>
<li>Apa yang seharusnya kita perbuat sebagai bukti bahwa kita telah menjadi alaat pendamain dari Allah?</li>
</ul>
<p>TUHAN Yesus Kristus memberkati dengan limpahnya dan menjadikan kita alat perdamaian-Nya. Selamat menyiapkan diri menyambut <em>Syukuran Jumat Agung</em> 2 April 2010, dengan menjadi alat perdamaian dari Allah. Kiranya melalui kita umat-Nya, dunia menikmati kedamaian sejati. Amin.</p>
<p>Jakarta, Maret 2010</p>
<p>Pdt. Dr. Yakob Tomatala</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2010/02/28/pengorbanan-yang-menjadi-dasar-berbagi-kedamaian-sejati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MEMBANGUN SIKAP: APAKAH ANDA PERCAYA KEPADA ORANG DI SEKITAR ANDA</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2010/02/28/membangun-sikap-apakah-anda-percaya-kepada-orang-di-sekitar-anda/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2010/02/28/membangun-sikap-apakah-anda-percaya-kepada-orang-di-sekitar-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Feb 2010 03:38:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yakob Tomatala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Perenungan]]></category>
		<category><![CDATA[MEMBANGUN SIKAP: APAKAH ANDA PERCAYA KEPADA ORANG DI SEKITAR ANDA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=174</guid>
		<description><![CDATA[“&#8230; Yesus sendiri tidak mempercayakan diri kepada mereka, karena Ia mengenal mereka semua” (Yohanes 2:24). PENGANTAR Apakah Anda cukup mempercayai orang-orang di sekitar Anda? Apakah mereka dapat dipercayai? Apakah mereka mempercayai Anda? Semua pertanyaan ini dapat menjurus kepada mendorong sikap mencurigai orang yang ada di sekitar kita. Tentu saja tidak. Orang berpandangan bahwa mencurigai itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<em>&#8230; Yesus sendiri tidak mempercayakan diri kepada mereka, karena Ia mengenal mereka semua</em>” (Yohanes 2:24).</p>
<p>PENGANTAR</p>
<p><a href="http://yakobtomatala.com/wp-content/uploads/2010/02/foto.gif"><img class="size-medium wp-image-175 alignleft" title="foto" src="http://yakobtomatala.com/wp-content/uploads/2010/02/foto-227x300.gif" alt="" width="136" height="180" /></a>Apakah Anda cukup mempercayai orang-orang di sekitar Anda? Apakah mereka dapat dipercayai? Apakah mereka mempercayai Anda? Semua pertanyaan ini dapat menjurus kepada mendorong sikap <em>mencurigai </em>orang yang ada di sekitar kita. Tentu saja tidak. Orang berpandangan bahwa mencurigai itu salah. Ini benar. Tetapi apakah sikap <em>tidak cepat percaya</em> juga mutlak salah? Sebaliknya, apakah sikap <em>cepat percaya</em> itu mutlak benar? Mari kita pertanyakan terus. Apakah Anda dapat mempercayai orang begitu saja? Apakah Anda mau mempekerjakan orang yang tidak dikenal dengan serta merta? Apakah untungnya percaya dan tidak percaya kepada orang yang ada di sekitar Anda? Apakah Anda memahami sejauhmana mempercayai seseorang, bagaimana mempercayainya dan sejauh mana pula dampak dari mempercayai itu bagi diri serta kepemimpinan Anda? Simaklah:</p>
<p><span id="more-174"></span></p>
<ol>
<li><strong>PERCAYA DAN TIDAK PERCAYA ADA DASARNYA</strong>. Mengapa Anda percaya dan mengapa Anda tidak percaya kepada seseorang tentu ada alasannya. Anda tentu tahu apa sebabnya Anda percaya mau pun tidak percaya kepada seseorang. Ini bicara tentang alasan atau dasar bagi percaya dan tidak percaya. Ingatlah, kalau Anda adalah pemimpin, maka orang akan mendekat dengan berbagai motif, ambisi dan kehendak. Ada yang murni, ada yang ambisius, ada yang menjilat, ada yang ingin tahu, ada yang mau menghancurkan Anda. Hm, &#8230; Anda tentu pikir yang murni itu baik. Tunggu, Anda dapat salah besar. Anda bisa lupa diri dan terjebak di sini. Alasannya ialah bahwa Anda tidak mengetahui motivasi, ambisi dan kehendak sejati dari orang yang dianggap murni tadi. Orang yang dianggap murni bisa saja berubah menjadi tidak murni kelak, karena manusia berkembang, manusia berubah. Kalau yang ambisius, menjilat, dan bersikap memusuhi, Anda gampang saja mengenal mereka. Tetapi yang dianggap murni bisa seperti domba jinak. Ingatlah pula, Anda akan terkecoh oleh “spirit serigala” di balik buluh dombanya. Begini, di sini tidak ada ajakan untuk mencurigai setiap orang, karena semangat mencurigai akan menggerogoti jiwa Anda, dan Anda akan menjadi sakit sendiri, jiwa Anda menjadi tidak sehat. Apa yang harus Anda lakukan? Anda harus menetapkan alasan, mengapa Anda mempercayai dan tidak mempercayai seseorang. Memang faktor integritas karakter (Keluaran 18:21; Filipi 4:5,8) adalah alasan kuat mempercayai seseorang, akan tetapi adalah bijak bila Anda tetap harus menetapkan alasan mengapa Anda mempercayai dan atau  tidak mempercayai. Ini landasannya, yang murni bisa berubah menjadi tidak murni karena kehendak, ambisi, kepentingan dan kesempatan yang diberikan berdasarkan kepercayaan. Ingat catatan ini: “<em>Tidak ada kestabilan dalam dunia kekuasaan, jadi bahkan teman-teman terdekat sekalipun bisa berubah menjadi musuh terburuk Anda</em>” (Robert Greene). Pikirkanlah, mengapa Yesus Kristus tidak mempercayakan diri kepada siapa pun, khususnya orang-orang Yahudi pada zamannya.</li>
</ol>
<ol>
<li><strong>MEMPERCAYAI ITU ADA BAIK DAN BURUKNYA</strong>. Sesungguhnya mempercayai seseorang yang layak dipercayai itu baik. Bahkan tidaklah salah tidak mempercayai orang yang tidak layak dipercaya. Namun, perlu disadari bahwa soal percaya mempercayai dalam kepemimpinan, harus dibedakan dengan konteks rumah tangga dan hubungan keakraban lainnya. Di samping itu, mempercayai dan menolak mempercayai seseorang, harus dilakukan dengan setulus mungkin, sehingga berdampak positif bagi diri dan kepemimpinan. Mempercayai seperti ini berarti memperhitungkan dampak dari peran serta yang aktif dalam kepemimpinan dengan batasan-batasannya. Tidak mempercayai juga berhubungan dengan memperhitungkan peran serta dalam kepemimpinan, dampak dan batasannya. Dalam kaitan ini mempercayai dan tidak mempercayai dibangun di atas kesadaran akan kemanfaatan positif maupun negatif. Pemimpin dalam hal ini bisa terjebak dengan membangun pendekatan di atas <em>preferensi suka tidak suka</em> yang dapat menciptakan sikap pilih buluh, mencipta anak emas. Pelajaran dapat diambil dari Yesus Kristus yang tahu mengapa ia mempercayai dan tidak mempercayai. Ia kenal Petrus sebagai orang yang mendua hati, bercabang lidah, walaupun dekat dengan DIA. Ia tahu, Yudas adalah koruptor. Ia kenal Yohanes yang lemah lembut, Ia tahu Yudas Selotis yang militan. Ia tahu semua, dan tatkala ia mempercayai dan atau tidak mempercayai, Ia memiliki alasan tersendiri, dan Ia adalah penentu batas-batasnya.</li>
</ol>
<ol>
<li><strong>MEMPERCAYAI ITU ADA AKIBATNYA, ADA GUNANYA</strong>. Mempercayai dan tidak mempercayai itu ada resikonya. Apabila seorang pemimpin mempercayai orang yang salah karena ia sesungguhnya penjilat, pemimpin sendirilah yang akan menuai resiko mempercayai seperti ini. Dan lagi, dalam hal pemimpin tidak mempercayai, tetapi orangnya benar-benar layak dipercayai, maka resiko tidak mempercayai juga akan nampak dalam kinerjanya, dimana ia telah mengambil kesimpulan yang juga kurang tepat. Jadi seorang yang bijak akan tahu sejauh mana ia harus percaya dan tidak mempercayai. Dengan demikian, Anda harus menentukan dan menjaga jarak yang pas bila Anda percaya dan tidak percaya, sambil memperhitungkan akibatnya. Orang di sekitar Anda datang dengan mental beragam. Dari sisi moral, ada yang bermental baik dengan karakter yang menyenangkan, ada yang merupakan orang sulit atau “difficult person” dalam organisasi, yang selalu berorientasi negatif. Disamping itu, ada orang yang mencari pengaruh, ada yang cuma iseng, ada yang mau cari untung, ada yang mau populer. Dari sisi kerja, ada yang bermental kuli yang pasif dan sangat bergantung pada pemimpin. Ada juga yang bermental pegawai yang kurang inisiatif dan bekerja untuk memperoleh gaji. Ada pula yang bekerja  dengan mendompleng organisasi sebagai jembatan belaka, dan ada yang bekerja dengan komitmen tinggi membawa keuntungan. Bagaimana Anda mempercayai mereka seperti ini? Anda harus bertanya, “apa gunanya orang ini ada di sekitar saya?” Di sini Anda harus memperhitungkan azas kegunaan atau kemanfaatan setiap individu yang Anda percayai atau menolak mempercayai. Ingatlah, bila Anda mempercayai seseorng tentu ada gunanya maupun tidak ada gunanya, sehingga Anda perlu memperhitungkan faktor “mengapa” dibalik sikap serta keputusan Anda untuk mempercayai dan atau tidak mempercayai.</li>
</ol>
<ol>
<li><strong>MEMPERCAYAI ITU HARUS MEMBAWA MANFAAT KEPEMIMPINAN</strong>. Mempercayai itu bukan saja ada resikonya, tetapi Anda harus <em>memilih resiko</em> mana yang Anda inginkan dari seseorang yang Anda percayai. Anda harus terus bertanya, apakah untungnya dan apa ruginya mempercayai dan tidak mempercayai seseorang? Secara kepemimpinan, ada seseorang yang terlihat sebagai tidak layak dipercayai, tetapi ternyata ia membawa kemanfaatan (keuntungan) bagi organisasi. Orang ini terbukti lebih baik dari pada mempercayai seseorang yang terlihat dapat dipercayai tetapi tidak membawa manfaat (untung) sama sekali. Dalam kaitan ini pemimpin haruslah menetapkan sejauh mana akan ada kemanfaatan/ keuntungan bagi organisasi, apabila ia mempercayai seseorang dan tidak mempercayai yang lainnya. Di sini tidak ada maksud untuk mendorong mengembangkan sikap mencurigai atau mengadili dan memutuskan siapa yang layak dipercaya dan siapa yang tidak. Tetapi, prinsip ini lebih cenderung berhubungan dengan upaya mendorong sikap bertanggung jawab untuk mempercayai. Tujuan dari prinsip ini ialah bahwa dengan mempercayakan tanggung jawab lebih kepada orang yang dipercayai, akan berdampak membawa keuntungan lebih kepada organisasi dan kepemimpinan yang sedang diemban, mau pun bagi diri pemimpin, dan orang yang dipercayai dimaksud.</li>
</ol>
<ol>
<li><strong>SIAPA YANG LAYAK DIPERCAYAI.</strong> Ini pertanyaan penting untuk dijawab oleh setiap pemimpin. Pemimpin yang arif tentu akan <em>memakai hati</em> untuk menakar, dan menimbangkan segala sesuatu (Yesaya 32:8; Yakobus 3:13-18; Efesus 5:15; I Raja-raja 3:18-28). Kearifan yang menggunakan hati adalah penting dalam mengambil keputusan apakah ia mempercayai ataukah tidak mempercayai seseorang. Ada beberapa landasan untuk membuat keputusan tentang percaya-mempercayai dalam kepemimpinan.</li>
<li><strong>a. </strong><em>Prinsip Integritas</em>. Prinsip ini menegaskan bahwa seseorang yang memiliki integritas adalah orang yang dapat dipercaya (Keluaran 18:21), yaitu dia yang berpikir benar, berkata benar dan bertindak benar serta mempertahankan sikap ya adalah ya, tidak adalah tidak (Filipi 4:5,8; I Timotius 6:11; Efesus 5:9; 4:1-6; I Korintus 6:9-10).</li>
<li><strong>b. </strong><em>Prinsip Tanggungjawab Bertujuan</em>. Prinsip ini menegaskan bahwa pemimpin bertanggung jawab atas semua dan seluruh kehidupan organisasinya. Karena itu, setiap pertimbangan untuk melibatkan orang yang dipercaya atau pun tidak, haruslah dilakukan dengan penuh hikmat, sehingga dapat menghasilkan keputusan yang sehat dalam mempercayai atau menolak mempercayai siapa pun (I Korintus 10:31).</li>
<li><strong>c. </strong><em>Prinsip Kemanfaatan</em>. Prinsip ini menegaskan bahwa setiap keputusan untuk mempercayai harus mempertimbangkan kemanfaatan yang utama dan lebih besar, yaitu membawa kefaedahan bagi organisasi, bukan bagi diri. Pemimpin harus menghindari orientasi mempercayai untuk mencari serta memperoleh dukungan. Di sini pemimpin dituntut untuk berbesar hati menetapkan mempercayai demi kepentingan yang lebih besar, bukan mempercayai demi kepentingan diri. Sikap seperti ini akan membawa imbasan besar yang meneguhkan organisasi, sehingga semua orang dalam kepemimpinan akan memperoleh manfaat dari keputusan pemimpin (Yakobus 2:1,8-9; I Korintus 10:23).</li>
<li><strong>d. </strong><em>Prinsip Kelayakan</em>. Prinsip ini menegaskan siapa sesungguhnya yang layak dipercayai. Di sini pemimpin harus mempertimbangkan banyak faktor tentang siapa yang layak mau pun tidak layak untuk dipercayai itu. Dalam kaitan ini, pemimpin perlu memperhatikan faktor <em>pembuktian diri</em> dari setiap individu yang ada di sekitarnya (I Timotius 5:17). Pemimpin sering terkecoh oleh penjilat, atau menyangka bahwa ia memperoleh dukungan tatkala semua dan seseorang mengatakan ya, diam atau pun mengangguk. Semua ini mengandung seribu makna, jadi pemimpin perlu berhikmat menyikapinya. Pemimpin perlu menyadari bahwa sesungguhnya kuasa kepemimpinan yang ada padanyalah yang menyebabkan orang menjadi penjilat, munafik atau pun taat. Dengan demikian, adalah penting bagi pemimpin untuk memperhatikan sejauh mana dan sesejati apa seseorang membuktikan diri dan layak dipercayai.</li>
<li><strong>e. </strong><em>Prinsip Keberlanjutan</em>. Prinsip ini menegaskan bahwa setiap keputusan untuk mempercayai haruslah dibangun di atas perspektif berkelanjutan (II Korintus 4:18). Perspektif ini menunjuk ke depan yang menekankan bahwa apa pun yang dilakukan, haruslah mempertimbangkan dampak dan efek serta eksesnya yang berkelanjutan di hari depan. Pemimpin perlu terus mempertanyakan apakah keputusan mempercayai ini membawa kebaikan panjang yang positif ataukah tidak, pada masa depan. Pemimpin yang arif sajalah akan membuat keputusan untuk mempercayai dan mempercayakan diri kepada siapa pun. Kearifan ini sajalah yang akan membawa sejahtera yang bersinambung dalam soal percaya mempercayai (Yesaya 32:1-2, 8, 17). Pemimpin tidak harus terkecoh kepada keyakinan salah tentang keabadian percaya mempercayai. Tetapi, pemimpin bertanggung jawab untuk menetapkan sejauh mana ia harus mempercayai seseorang. Percaya-mempercayai ini harus dipertimbangkan dengan bertanya, “ini atau itu adalah untuk kepentingan yang mana, hasil macam apa, pada situasi yang mana, karena ia bertanggungjawab atas kepemimpinan yang dipercayakan kepadanya. “</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Selamat mempercayai dan tidak mempercayai demi keberhasilan kepemimpinan</strong>!!!</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Salam dan doa,</p>
<p>Dr. Yakob Tomatala</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2010/02/28/membangun-sikap-apakah-anda-percaya-kepada-orang-di-sekitar-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“Bebas dari ancaman kekuatiran”</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2010/02/16/%e2%80%9cbebas-dari-ancaman-kekuatiran%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2010/02/16/%e2%80%9cbebas-dari-ancaman-kekuatiran%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Feb 2010 02:14:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yakob Tomatala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perenungan]]></category>
		<category><![CDATA[bebas dari ancaman kekuatiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=169</guid>
		<description><![CDATA[Teks   : Lukas 12:22-31; Mazmur 55:23; I Petrus 5:7 Tema : Memenangkan pertarungan dengan kekuatiran dalam hidup PENDAHULUAN Bulan Januari dinamakan demikian, berdasarkan nama dewa Romawi, Janus yang bewajah dua. Satu wajah menghadap ke belakang, dan yang lainnya menghadap ke depan dengan raut penuh tanda tanya. Nama ini cocok menyimbolkan nama bulan pertama dalam tahun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Teks   : Lukas 12:22-31; Mazmur 55:23; I Petrus 5:7</p>
<p>Tema : Memenangkan pertarungan dengan kekuatiran dalam hidup</p>
<p><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p>Bulan Januari dinamakan demikian, berdasarkan nama dewa Romawi, Janus yang bewajah dua. Satu wajah menghadap ke belakang, dan yang lainnya menghadap ke depan dengan raut penuh tanda tanya. Nama ini cocok menyimbolkan nama bulan pertama dalam tahun berjalan, mengingat bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang akan terjadi di depan. Tidaklah mengherankan bahwa Seneca mengatakan, “Tidak ada yang pasti di dalam dunia ini, kecuali hari kemarin.” Pernyataan ini menyiratkan kebenaran bahwa tidak ada satu orangpun yang dapat memastikan apa yang akan terjadi sedetik saja di depannya. Yang sudah terjadi, dapat diketahui, tetapi yang akan terjadi di masa depan adalah misteri. Misteri masa depan yang tidak pasti ini cenderung membuat orang menjadi kuatir. Pada sisi lain, dunia di mana kita hidup sekarang penuh dengan berbagai macam tantangan yang kompleks, yang juga memberikan alasan kuat untuk kuatir. <span id="more-169"></span></p>
<p>Di samping itu, ada masalah, pergumulan dan persoalan pribadi yang merong-rong den menkuatirkan kita. Menyikapi semua ini, hal pertama yang harus dibedakan ialah, membedakan antara <em>takut</em> dan <em>kuatir</em>. Takut berhubungan dengan ancaman nyata yang dihadapi secara langsung. Takut memang dapat menimbulkan kegoncangan psikologis secara tiba-tiba, namun akan segera juga berlalu. Sedangkan kuatir, adalah persoalan psikologis yang mengganggu pikiran tentang sesuatu yang ditakutkan sebagai akan terjadi di masa depan, yang sesungguhnya belum tentu terjadi demikian. Kekuatiran ini sesungguhnya mengerogoti jiwa, dan menimbulkan kepanikan psikologis jangka panjang. Hal ini sesungguhnya dapat berujung kepada berbagai macam penyakit, mulai dari <em>mag</em> (sakit lambung) dan berkembang menjadi penyakit kronis yang menghancurkan. Pertanyaan terpenting ialah bagaimana menghadapinya? Tatkala TUHAN Yesus berkata, “<strong><em>Jangan kuatir</em></strong>” (Lukas 12:22); IA sesungguhnya sedang memberikan <em>rahasia jawaban tuntas</em> bagi kekuatiran itu. Pada satu sisi, orang Kristen memiliki jaminan dari TUHAN Yesus bahwa “IA menyertai” (Matius 1:21; 20:18-20), yang memastikan bahwa IA adalah jaminan pembebasan bagi kita. Pada sisi lain, bagaimana orang Kristen menghadapi dan memberikan jawaban terhadap ancaman kekuatiran itu. Dari Firman Allah dalam Lukas 12:22-31, terbesit rahasia penting menjawab pertanyaan di depan, yaitu antara lain:</p>
<ol>
<li><strong>I. </strong><strong>KITA DIMINTA MENANGANI KEKUATIRAN DENGAN MEMAKNAI HIDUP DARI PANDANGAN TUHAN ALLAH</strong></li>
</ol>
<ul>
<li>Apa makna dari pernyataan “menangani kekuatiran dengan memaknainya dari pandangan TUHAN Allah itu?</li>
</ul>
<ol>
<li>Kita harus melihat bahwa menurut TUHAN Yesus, hidup dan tubuh itu lebih penting dari pada makanan atau pun pakaian (ayat 23).</li>
<li>Kita juga diminta untuk menyadari bahwa ada hal yang tidak dapat kita lakukan, karena itu jangan mengkuatirkannya. Semua ini adalah urusan TUHAN (ayat 26).</li>
<li>Kita pun diajak untuk tidak mempersoalkan hal yang sesungguhnya biasa-biasa saja, namun memicu kekuatiran (ayat 29-30). Semua ini ada dalam pengendalian TUHAN Allah.</li>
</ol>
<p>IMPLIKASI:</p>
<ol>
<li>Mengapa kita mengkuatirkan apa yang menjadi urusan TUHAN, serahkanlah semuanya kepada DIA.</li>
<li>Sadarlah bahwa jangan memberatkan diri dengan apa yang tidak dapat kita lakukan, yang hanya daptt dilakukan TUHAN Allah. Ini adalah urusan-Nya.</li>
<li>Kita diajak agar tidak membuang energi untuk menggumuli hal-hal biasa di dalam kehidupan. Kita hanya perlu menyerahkannya kepada TUHAN Allah.</li>
</ol>
<ol>
<li><strong>II. </strong><strong>KITA DIAJAK MENGATASI KEKUATIRAN DENGAN MEMAKNAI KEDAULATAN ALLAH ATAS HIDUP</strong></li>
</ol>
<ul>
<li>Apa sesungguhnya arti dari pernyataan: Mengatasi kekuatiran dengan memaknai kedaulatan Allah  atas kehidupan kita itu?</li>
</ul>
<ol>
<li>TUHAN Allah yang berdaulat itu sesungguhnya maha mengetahui (IA tahu apa yang kita perlu) dan maha mejamin kehidupan kita. Lihatlah betapa IA mempedulikan burung gagak dan bunga di padang, terlebih lagi kita umat-Nya, IA pasti sangat peduli (ayat 27-28, 30).</li>
<li>TUHAN Allah yang berdaulat itu meminta kita mempercayai dan mempercayakan kehidupankita kepada-Nya. Semua ini dapat kita lakukan dengan memberikan tempat yang utama bagi DIA di dalam kehidupan kita, karena IA adalah jawaban tuntas atas segala kebutuhan, pertanyaan dan masalah kita (ayat 31).</li>
</ol>
<p>IMPLIKASI:</p>
<ol>
<li>TUHAN Allah berdaulat, IA mengetahui dan menjamin kebutuhan kita, karena itu serahkanlah semua yang menkuatirkan kita itu kepada-Nya.
<ol>
<li>TUHAN Allah berdaulat, IA adalah jawaban atas semua hal yang mengkuatirkan kita. Karena itu, percayakanlah hidup ini kepada-Nya dan serahkanlah semua kekuatiran itu kepada-Nya, IA pasti mengatasinya bagi kita.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p>Dalam kehidupan ini ada banyak hal yang dapat menjadikan kita kuatir, namun TUHAN Yesus sendiri telah memberikan kepada kita rahasia, bagaimana memenangkan pertarungan dengan kekuatiran di dalam hidup kita. Rahasianya ialah:</p>
<ol>
<li>Kita diminta melihat dan memaknai hidup dari pandangan TUHAN, karena menurut TUHAN Yesus, kehidupan kita berharga di mata Allah, dengan demikian, Ialah yang mengatur kehidupan kita. Jangan mengkuatirkannya.</li>
<li>Kita diajak untuk menyadari bahwa TUHAN Allah kita adalah berdaulat, dimana IA-lah yang mengendalikan dan bertanggung jawab atas hidup yang dikaruniakan-Nya kepada kita. Kita hanya diminta menyerahkan seluruh kehidupan dan persoalan yang mengkuatirkan itu ke dalam tangan-Nya. Karena IA berdaulat dan IA sendirilah yang akan mengatasi semua permasalahan hidup itu bagi kita  (Mazmur 55:23; I Petrus 5:7).</li>
</ol>
<p>Selamat menjadi pemenang yang bebas dari kekuatiran karena TUHAN Allah ada di pihak kita. Amin.</p>
<p>17 Januari 2010</p>
<p>Pdt. Yakob Tomatala</p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2010/02/16/%e2%80%9cbebas-dari-ancaman-kekuatiran%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemimpin Tidak Tercela</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2010/02/11/pemimpin-tidak-tercela/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2010/02/11/pemimpin-tidak-tercela/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Feb 2010 10:18:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yakob Tomatala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Perenungan]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin tidak tercela]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=161</guid>
		<description><![CDATA[RENUNGAN “&#8230; orang yang menghendaki jabatan penilik (pemimpin) jemaat menginginkan pekerjaan yang indah” (I Timotius 3:1). Teks        : I Timotius 3:1-7 (Keluaran 18:17-23) Tema       : “Menjadi Seorang Pemimpin Gereja yang tidak tercela dan dihormati.” Sub-tema : Rahasia hidup sebagai Pemimpin gereja yang memiliki integritas teguh PENGANTAR Seorang pemimpin sejati, sejatinya memiliki integritas yang teguh. Secara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>RENUNGAN</strong></p>
<p>“&#8230; <em>orang yang menghendaki jabatan penilik (pemimpin) jemaat menginginkan pekerjaan yang indah</em>” (I Timotius 3:1).</p>
<p>Teks        : I Timotius 3:1-7 (Keluaran 18:17-23)</p>
<p>Tema       : “Menjadi Seorang Pemimpin Gereja yang tidak tercela dan dihormati.”</p>
<p>Sub-tema : Rahasia hidup sebagai Pemimpin gereja yang memiliki integritas teguh</p>
<p><strong>PENGANTAR</strong><strong></strong></p>
<p>Seorang pemimpin sejati, sejatinya memiliki <em>integritas</em> yang teguh. Secara umum telah dibuktikan bahwa faktor integritas ternyata menentukan delapan puluh lima persen dari keberhasilan seorang pemimpin. Kini kita bertanya, apa sesungguhnya makna integritas itu? Arti dasar dari integritas atau <em>integrity</em> ialah “jujur dan dapat dipercaya.” Integritas juga menunjuk kepada arti “quality of being complete,” suatu kualitas hidup yang sempurna dan lengkap. Dalam perspektif Alkitab berdasarkan pandangan Rasul Paulus, integritas berbicara tentang adanya “semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan, dan patut dipuji, &#8230;..” (Filipi 4:8), sehingga kedekatannya dengan TUHAN dan kebaikannya diketahui (Filipi 4:5). Kebenaran ini menegaskan tentang hakikat dan indikator integritas seorang pemimpin sebagai kualitas hidup rohani. Kualitas hidup rohani ini adalah dasar bagi kehidupan seluruhnya. Perjanjian Lama, dalam Keluaran 18:21 secara khusus menegaskan tentang kisi integritas yang harus ada pada seorang pemimpin, yaitu “integritas diri” (cakap), “integritas rohani” (takut akan Allah), “integritas sosial” (dapat dipercaya), “integritas ekonomi” (benci pengejaran suap), dan “integritas kerja” (menjadi pemimpin). Di sini sangatlah terlihat betapa integritas itu penting bagi seorang pemimpin, khususnya pemimpin rohani.<span id="more-161"></span></p>
<p>Mengingat begitu pentingnya integritas yang harus ada pada seorang pemimpin, khususnya pemimpin gereja yang adalah pemimpin rohani, maka adalah bijak untuk mempertanyakan, <em>bagaimana sepatutnya seorang pemimpin itu membuktikan diri memiliki integritas teguh</em>? Dengan integritas teguh ini maka kehidupan pemimpin tidak tercela dan olehnya ia dihormati oleh orang-orang yang dipimpinnya. Rasul Paulus dalam surat penggembalaannya kepada anak binaannya, Timotius, mengungkapkan rahasia tentang bagaimana membangun integritas seorang pemimpin rohani. Kebenaran ini dituangkan di dalam I Timotius 3:1-7, yang rahasianya dapat diungkapkan sebagai berikut:</p>
<ol>
<li><strong>I. </strong><strong>IA HARUS MEMBANGUN INTEGRITAS DIRI DENGAN MENYAMBUT PELAYANAN PEMIMPIN GEREJA SEBAGAI SESUATU YANG MULIA</strong></li>
</ol>
<ul>
<li> Apa makna dari kebenaran bahwa setiap pemimpin gereja harus memulai membangun dirinya dengan menyambut pelayanan memimpin sebagai suatu kehormatan? (ayat 1).</li>
</ul>
<p>A.   Setiap pemimpin rohani harus menyadari bahwa menjadi pemimpin dalam gereja adalah sesuatu <em>pelayanan yang mulia</em> di hadapan Allah.</p>
<ol>
<li> Setiap pemimpin rohani harus membangun kesadaran bahwa pelayanannya sebagai pemimpin gereja adalah suatu <em>pilihan yang mulia</em>.</li>
<li> Setiap pemimpin rohani haruslah memastikan bagi dirinya bahwa pelayanannya sebagai pemimpin adalah sesuatu yang <em>memiliki nilai tinggi</em>.</li>
</ol>
<p>D.   Setiap pemimpin rohani yang melayani sebagai pemimpin gereja haruslah meneguhkan sikapnya bahwa pelayanannya adalah suatu <em>kesempatan yang mulia</em>.</p>
<p>IMPLIKASI:</p>
<ol>
<li> Setiap pemimpin harus membangun integritas dirinya dengan mengingat bahwa ia ada dalam pelayanan yang mulia di hadapan Allah.</li>
<li> Setiap pemimpin harus membangun integritas dirinya dengan menyadari sepenuhnya bahwa ia telah membuat suatu pilihan yang mulia di hadapan Allah.</li>
<li> Setiap pemimpin harus membangun integritas dirinya dengan mematutkan bahwa pelayanannya memiliki nilai yang tinggi.</li>
<li> Setiap pemimpin harus membangun integritas dirinya dengan menyikapi pelayanannya sebagai suatu kesempatan yang mulia di hadapan Allah.</li>
</ol>
<ul>
<li> Bagaimana Anda mewujudkan kebenaran ini di dalam hidup dan pelayananmu? Perlu di tekankan bahwa: “Anda yang melayani TUHAN adalah suatu kehormatan yang harus dipertanggungjawabkan, dengan hidup beintegritas di hadalan Allah.”</li>
</ul>
<ol>
<li><strong>II. </strong><strong>IA HARUS MENEGUHKAN INTEGRITAS DIRI SEBAGAI PEMIMPIN KELUARGA YANG TERHORMAT</strong></li>
</ol>
<ul>
<li> Apa sesungguhnya arti dari kebenaran tentang meneguhkan integritas diri sebagai pemimpin keluarga yang terhornat itu? (Ayat: 2 – 5).</li>
</ul>
<p>A.   Pemimpin harus meneguhkan integritas diri sebagai seorang kepala keluarga yang terhormat melalui pengusaan diri dengan: tidak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka menolong, cakap mengajar.</p>
<ol>
<li> Pemimpin harus meneguhkan integritas diri sebagai seorang kepala keluarga yang terhormat melalui sikap terpuji, yaitu: bukan peminum, bukan pemarah tetapi peramah, pendamai, dan bukan hamba uang.</li>
<li> Pemimpin harus meneguhkan integritas diri sebagai seorang kepala keluarga yang berwibawa dengan cara: menjadi kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati anak-anak, dapat memimpin keluarga dengan hikmat.</li>
</ol>
<p>IMPLIKASI:</p>
<ol>
<li> Pemimpin rohani yang berintegritas ialah pemimpin yang menguasai dirinya, sehingga ia terbukti sebagai kepala keluarga yang tidak bercacat.</li>
<li> Pemimpin rohani yang berintegritas ialah pemimpin yang membuktikan diri sebagai kepala keluarga yang terhormat, disegani dan dihormati di dalam rumah tangganya.</li>
<li> Pemimpin rohani yang berintegritas ialah pemimpin yang membuktikan kewibawaannya yang dapat memimpin dengan benar dan baik sebagai kepala keluarga.</li>
</ol>
<ul>
<li> Bagaimana Anda membuktikan kebenaran ini di dalam kehidupan dan pelayananmu? Sadarilah bahwa “Anda bertanggungjawab untuk konsisten membuktikan diri sebagai seorang kepala keluarga yang hidup benar di hadapan Allah mulai di dalam rumah tangga Anda sendiri.” Sadarilah pula bahwa “Pemimpin yang baik adalah kepala rumah tangga yang baik.”</li>
</ul>
<ol>
<li><strong>III. </strong><strong>IA HARUS MEMBUKTIKAN INTEGRITAS DIRI MELALUI KEDEWASAAN SIKAP TERPUJI</strong></li>
</ol>
<ul>
<li> Apa sesungguhnya maksud dari pernyataan bahwa Anda hanya dapat menghidupi kehidupan yang berintegritas dengan membuktikan bahwa Anda memiliki kedewasaan sikap yang terpuji itu? (Ayat 6-7)</li>
</ul>
<p>A.   Pemimpin rohani harus membuktikan integritasnya dengan penuh kesadaran bahwa ia adalah pemimpin yang telah bertobat. Pertobatannya ini harus diikuti dan dibuktikan dengan sikap redah hati.</p>
<ol>
<li> Pemimpin rohani harus membuktikan integritasnya dengan sikap benar, baik dan hubungan-hubungan sehat, yang olehnya ia dihormati oleh orang luar, yaitu anggota masyarakat umum, sehingga kepemimpinannya tidak dapat digugat orang.</li>
</ol>
<p>IMPLIKASI:</p>
<ol>
<li> Pemimpin rohani hanya dapat membuktikan integritas dirinya dengan pertobatan sejati, dan kerendahan hati.</li>
<li> Pemimpin rohani hanya dapat membuktikan integritas dirinya dengan hidup dalam kebenaran, kebaikkan dan hubungan-hubungan yang sehat, yang olehnya ia mendapat nama baik dari orang luar sebagai afirmasi kepemimpinannya.</li>
</ol>
<ul>
<li> Bagaimana Anda membuktikan integritas Anda sebagai seorang pemimpin rohani? Anda harus memastikan bahwa “Anda telah bertobat, sehingga kehidupan rohani Anda sejati, yang dibuktikan melalui sikap rendah hati, yang olehnya Anda mampu hidup benar, baik dan sehat, yang membuat Anda dihormati.</li>
</ul>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p>Seorang pemimpin gereja yang adalah pemimpin rohani yang sejati, hanya dapat membuktikan bahwa ia layak dihormati, ia tidak tercela melalui kesadaran dan sikap berikut:</p>
<ol>
<li>Ia harus menyambut pelayanan sebai pemimpin dengan penuh kesadaran bahwa ini adalah suatu pelayanan mulia yang harus dihidupi dengan penuh penghormatan.</li>
<li>Ia harus membuktikan dirinya sebagai seorang kepala keluarga yang berwiwaba dan dihormati, sehingga ia terebukti layak meimpin jemaat.</li>
<li>Ia harus membuktikan dirinya sebagai pemimpin rohani yang dewasa melalui pertobatan sejati yang dihidupi dengan rendah hati dalam kebenaran dan kebaikan serta hubungan sehat, yang olehnya ia mendapat penghargaan dari Allah dan manusia.</li>
</ol>
<ul>
<li>Cobalah renungkan, sejauhmana Anda menyadari kebenaran tentang kepemimpinan rohani yang Anda hidupi, serta implikasinya bagi kehidupan serta pengabdian yang Anda emban.</li>
</ul>
<p>Selamat membuktikan panggilan dan pelayanan kepemimpinan rohani di dalam Jemaat sebagai seorang pemimpin yang tidak tercela dan dihormati. TUHAN Yesus memberkati.</p>
<p>Pelayan Firman</p>
<p>Pdt. Yakob Tomatala</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2010/02/11/pemimpin-tidak-tercela/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENGISI TAHUN 2010 DENGAN SEMANGAT HIDUP BARU</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2010/01/07/mengisi-tahun-2010-dengan-semangat-hidup-baru/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2010/01/07/mengisi-tahun-2010-dengan-semangat-hidup-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jan 2010 07:31:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yakob Tomatala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Perenungan]]></category>
		<category><![CDATA[2010 semangat hidup baru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=138</guid>
		<description><![CDATA[PENGANTAR Sadar atau pun tidak, Tahun Baru, sering disikapi sebagai sesuatu yang baru, yang berbeda dari yang lama, khususnya tahun yang telah berlalu. Namun, dari segi realitas serta esensi, apa yang disebut “tahun baru” sesungguhnya dapat dikatakan bahwa tidak ada yang baru dalam arti benar-benar baru. Kenyataan ini dipertegas dengan kebenaran Firman Allah: “Apa yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PENGANTAR</p>
<p><em>Sadar atau pun tidak, Tahun Baru, sering disikapi sebagai <strong>sesuatu yang baru</strong>, yang berbeda dari yang lama, khususnya tahun yang telah berlalu. Namun, dari segi realitas serta esensi, apa yang disebut “tahun baru” sesungguhnya dapat dikatakan bahwa tidak ada yang baru dalam arti benar-benar baru. Kenyataan ini dipertegas dengan kebenaran Firman Allah: “Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tidak ada sesuatu yang baru di bawah matahari” (Pengkhotbah 1:9). </em></p>
<p><em>Kenyataan ini memberikan kepada kita sentuhan untuk menyadari bahwa sesungguhnya yang dimaksudkan dengan tahun baru itu adalah peluang baru serta momentum baru dalam suatu rentang waktu 12 bulan, 52 minggu dan 365 hari di depan. Momentum baru ini ternyata tetap berhubungan dengan hal-hal yang lama yang pernah terjadi serta telah berlalu, namun selalu memiliki pengaruh pada masa kini dan masa depan.</em> <em></em></p>
<p><em>Dengan demikian, pertanyaan yang harus digumuli ialah apa sesugguhnya yang harus kita lakukan untuk mengisi peluang dan momentum baru di depan ini dengan kehidupan yang lebih berarti. Menjawab pertanyaan ini maka pokok perenungan kali ini ialah “bagaimana kita mengisi tahun 2010 dengan semangat hidup baru, yang memberi arti kepada diri dan orang lain dalam penyiarahan hidup”.<span id="more-138"></span></em></p>
<p><strong>MENETAPKAN KOMITMEN UNTUK HIDUP SEBAGAI MANUSIA BARU</strong></p>
<p>Hal pertama yang harus dilakukan ialah menetapkan komitmen untuk hidup sebagai manusia baru. Komitmen dapat dikatakan sebagai “janji hati” untuk setia dan teguh terhadap apa yang diyakini sebagai bernilai tinggi dan harus dipertahankan. Kebenaran tentang komitmen ini dapat dilihat dari ajakan Rasul Paulus saat ia memberikan bimbingan kepada Jemaat Kolose. Rasul Paulus mengajak mereka untuk berkomitmen tinggi dengan menyadari  dan menyikapi hidup mereka sebagai “manusia baru” di dalam Kristus.</p>
<p>Ini yang dikatakannya: “&#8230;. <em>kamu</em> &#8230; <em>mengenakan manusia baru yang terus menerus dibaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar khaliknya</em>” (Kolose 3:10). Kebenaran ini berkaitan dengan tanggungjawab orang Kristen untuk menyadari siapa dirinya, apa tanggungjawabnya serta sikapnya terhadap dirinya, sehingga ia dapat membuktikan diri sebagai milik Sang Khalik dengan kehidupan baru yang ada padanya (II Kotrintus 5:17). Implikasi bagi kebenaran ini dapat ditegaskan seperti berikut.</p>
<ol>
<li>Setiap orang Kristen harus menyadari bahwa ia adalah manusia baru di dalam Yesus Kristus (Yohanes 3:16; 10:28-19; 6:47; 1:12; I Yohanes 1:9). Ini berarti bahwa oleh anugerah Allah, ia telah percaya, bertobat dan menerima Yesus Kristus sebagai TUHAN dan Juruselamat-nya, yang olehnya ia telah memiliki “hidup baru” (Efesus 1:13-14; Roma 8:16-17), dengan hak istimewa sebagai <em>umat kesayangan TUHAN</em> (I Petrus 2:9-10; Keluaran 19:4-6).</li>
<li>Setiap orang Kristen yang menyadari bahwa ia adalah manusia baru dengan hak serta status baru (anak-anak Allah) disertai dinamika (kuasa dan kekuatan) baru harus membuktikan diri sebagai manusia baru (Roma 8:14-15) yang terus menang terhadap “kehidupan lama, mematikan “keinginan daging” (Roma 8:13). Orang Kristen yang memiliki “kekuatan baru” (Roma 1:16-17) ini  bertanggungjawab untuk hidup sebagai “manusia baru” yang dibuktikan dengan <em>bertumbuh dalam iman</em> (Kolose 2:6-7), dan <em>mematikan</em>, <em>membuang</em> serta <em>menanggalkan</em> cara hidup/ kebiasaan lama, yang tidak memuliakan TUHAN (Kolose 3:5-9).</li>
</ol>
<p>Kehidupan baru ini menjelaskan bahwa “karena setiap orang Kristen telah mengalami hidup baru didalam TUHAN Yesus” maka ia bertanggungjawab untuk hidup sebagai manusia baru. Kehidupan seperti ini hanya dapat diisi dengan <strong>komitmen tinggi kepada TUHAN</strong> untuk “hidup sebagai manusia baru,” dalam segala situasi.</p>
<p><strong>MENEGUHKAN KOMITMEN UNTUK HIDUP DENGAN CARA BARU</strong></p>
<p>Hal kedua, ialah meneguhkan komitmen untuk hidup dengan cara baru. Sebagai “manusia baru,” setiap orang Kristen bertanggungjawab untuk menyikapi kehidupannya dari perspektif baru. Landasan untuk menerapkan tanggungjawab ini dibangun di atas nasihat Rasul Paulus dalam Roma 12:1-2; II Korintus 4:1; Kolose 3:10.</p>
<p>Kebenaran ini menegaskan bahwa orang Kristen harus membangun komitmen tinggi untuk mempersembahkan diri kepada TUHAN yang menghasilkan pembaruan (transformasi)  budi. Transformasi ini membawa perubahan positif di dalam kehidupannya, dengan “perubahan hati, jiwa/ roh” ditandai dengan “perubahan paradigma” yang menjadi dasar bagi “cara pandang (perspektif) baru”. Cara pandang baru ini meneguhkan sikap dan peran orang Kristen dalam aspek berikut.</p>
<ol>
<li>Orang Kristen tertolong melihat dan menilai dirinya secara positif sebagaimana Allah menilai dan memandangnya (Roma 12:3; Filipi 2:5-8). Perspektif positif ini menyebabkan ia dapat melihat dirinya dari “kacamata” yang benar, sehingga ia pun bisa memandang orang lain dan segala sesuatu di luarnya secara benar dan baik pula.</li>
<li>Perspektif positif yang dibangun di atas kebenaran Firman TUHAN (lihat: Mazmur 1:2; Yosua 1:8), memberikan kemampuan kepada orang Kristen untuk bertanggungjawab<em> ”menjaga hatinya</em>” (Amsal 4:23) sebagai dasar untuk memiliki sikap luhur karena  “&#8230; <em>orang yang berbudi luhur merancang hal-hal yang luhur, dan ia selu bertindak demikian</em>” (Yesaya 32:8; Matius 5:6; Filipi 4:8).</li>
<li>Orang Kristen dengan pikiran positif seperti ini sajalah yang dapat mengekspresikan dirinya secara lebih berkualitas dengan sikap bertanggungjawab dan sengaja “berbagi sukacita” serta “baik hati”  dengan sikap <em>altruis</em> (Filipi 4:5). Sikap altruis ini menyebabkan ia menjadi <em>lebih mementingkan orang lain</em> (Filipi 2:2-4); dengan keinginan luhur untuk “<em>menaruh kasih dan menjadi saudara bagi orang yang dalam kesukaran</em>” (Amsal 17:17; 11:117a).</li>
</ol>
<p>Kebenaran ini menegaskan bahwa orang Kristen memiliki hak istimewa dari TUHAN Allah untuk menjadi lebih baik dalam kehidupannya dengan adanya pembaruan budi yang menjadikannya berbudi luhur. Keluhuran budi ini akan nampak dalam pikiran, sikap, kata dan tindakan yang bersifat altruis, yang olehnya ia mampu membawa kebaikan tertinggi serta menjadi berkat bagi sesama.</p>
<p><strong>MEMBUKTIKAN KOMITMEN UNTUK HIDUP DENGAN SEMANGAT BARU</strong></p>
<p>Ketiga, komitmen untuk hidup dengan semangat baru. Kehidupan adalah suatu perjalanan menyiarahi sejarah pemberian TUHAN. Penyiarahan kehidupan hanya akan berarti dengan adanya komitmen untuk hidup dengan semangat baru menghadapi peluang serta momentum baru di tahun 2010. Dasar bagi dinamika dan komitmen menyiarahi kehidupan dengan semangat baru adalah:</p>
<ol>
<li>TUHAN Allah selalu menjadikan setiap hari sebagai <em>hari baru dengan berkat-Nya yang selalu baru</em> (Ratapan 3:22-26). Pengalaman kita dapat beragam, namun, anugerah Allah-lah yang meneguhkan untuk kuat menghadapi dan menyikapi setiap pengalaman hidup.</li>
<li>TUHAN Allah sajalah yang  meneguhkan kita, untuk mampu menghadapi tantangan seberat apapun, dengan sikap tegar (Habakuk 3:16-17; Nahum 1:7-8a). Kebenaran ini akan menguatkan kita untuk berkata seperti Rasul Paulus, “aku tidak tawar hati sekalipun hidup ini semakin merosot” (II Kotintus 4:16-18). Sikap iman ini meneguhkan kita menjadi “manusia tahan banting,”  yang tidak terkalahkan.</li>
<li>Dinamika untuk hidup sebagai pemenang seperti ini terwujud apabila orang Kristen menyerahkan diri kepada TUHAN Allah (I Petrus 5:6-7; Amsal 3:5-10). Penyerahan diri ini meneguhkan untuk mengalami pembaruan semangat hidup secara terus menerus.</li>
</ol>
<p>Kesadaran bahwa TUHAN Allah, Sang Pencipta sedang mengontrol sejarah akan memberikan kepada kita semangat baru serta kekuatan iman untuk mempercayai DIA. Semangat hidup ini memberikan kekuatan untuk hidup baru dengan kemampuan melihat tangan TUHAN yang terkedang mengatasi semua persoalan, dan menjadikan kita sebagai pemenang (Keluaran 3:14-15).</p>
<p><strong>RANGKUMAN</strong></p>
<p>Menengok kebenaran yang dinyatakan di atas, kita memiliki alasan kuat untuk menyikapi kehidupan ini dengan komitmen serta semangat baru dan cara baru. Alasan untuk hidup dalam semangat dan cara baru adalah karena TUHAN Allah jaminan untuk hidup dalam berkatnya (Ulangan 28). Implikasi jaminan ini dapat dilihat dalam hal berikut.</p>
<ol>
<li>TUHAN menjamin komitmen dengan semangat baru untuk hidup guna berpikir, bersikap, berkata dan bertindak dengan “penuh keyakinan,” bahwa anugerah TUHAN adalah jaminan tetap bersemangat dalam segala situasi.</li>
<li>Semagat baru dapat disikapi secara baru dengan komitmen setia kepada TUHAN Allah, sehingga dalam pengalaman semenggenas apa pun, kita akan terus menjadi berkat bagi sesama.</li>
<li>Komitmen untuk menyerahkan diri kepada TUHAN ini akan meneguhkan kita guna memiliki semangat dan sikap baru dalam menyiarahi kehidupan di  Tahun Baru, sehingga kehidupan menjadi lebih menggairahkan dan bernilai.</li>
</ol>
<p>Selamat membangun komitmen untuk hidup dengan semangat baru di tahun 2010.</p>
<p>Salam saya,</p>
<p>Yakob Tomatala</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2010/01/07/mengisi-tahun-2010-dengan-semangat-hidup-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Natal : The Miracle of Love – Keajaiban Kasih</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2009/12/14/natal-the-miracle-of-love-%e2%80%93-keajaiban-kasih/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2009/12/14/natal-the-miracle-of-love-%e2%80%93-keajaiban-kasih/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Dec 2009 03:08:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yakob Tomatala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perenungan]]></category>
		<category><![CDATA[kejaiban kasih]]></category>
		<category><![CDATA[the miracle of love]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=135</guid>
		<description><![CDATA[RENUNGAN NATAL 09 Natal : The Miracle of Love – Keajaiban Kasih (Yohanes 3:16) PENGANTAR Natal yang kini telah berusia 2009 tahun lebih, sudah dipatenkan dan dianggap ekskulif Kristen. Natal yang eksklusif Kristen ini beranjak dari pandangan bahwa Natal adalah suatu hari raya agama belaka. Namun, patut dipertanyakan, apakah benar, bahwa Natal itu eksklusif Kristen [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>RENUNGAN NATAL 09</strong></p>
<p>Natal : The Miracle of Love – Keajaiban Kasih (Yohanes 3:16)</p>
<p>PENGANTAR</p>
<p>Natal yang kini telah berusia 2009 tahun lebih, sudah dipatenkan dan dianggap ekskulif Kristen. Natal yang eksklusif Kristen ini beranjak dari pandangan bahwa Natal adalah suatu hari raya agama belaka. Namun, patut dipertanyakan, apakah benar, bahwa Natal itu eksklusif Kristen dan sekedar hari raya agama? Atau, ada makna lain yang terkandung di dalam Natal itu. Karena <strong>inti berita Natal</strong> yang berbunyi “<em>Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya tidak bisasa melainkan beroleh hidup yang kekal</em>” (Yohanes 3:16), menjelaskan tentang adanya <strong>suatu rahasia besar dalam Natal</strong> itu. Apa artinya ini? Bukankah ini adalah suatu keajaiban (miracle) yang menegaskan bahwa Allah sesungguhnya mengendaki bahwa Natal itu inklusif bagi semua orang dan spesifik bagi setiap orang.  Bagaimana memahami bahwa Natal itu adalah miracle dan bagaimana pula mamaknainya dalam hidup secara individu? Simaklah rahasianya, bahwa sesungguhnya Natal itu adalah MIRACLE dengan melihat kebenaran berikut.</p>
<p><span id="more-135"></span></p>
<ol>
<li><strong>I. </strong><strong>NATAL ADALAH PENYATAAN </strong><strong>KASIH</strong><strong> ALLAH YANG</strong><strong> MAHAAGUNG KEPADA DUNIA</strong><strong> </strong></li>
</ol>
<ul>
<li>Apa sesungguhnya makna dari kebenaran bahwa Natal adalah penyataan kasih Allah yang Mahaagung ini?</li>
</ul>
<ol>
<li>Kebenaran ini menegaskan bahwa Natal adalah miracle karena didalamnya TUHAN Allah menyatakan, IA yang Mahakasih, mengasihi dengan <em>kasih terbesar</em> yang memberikan tempat kepada dunia (manusia) ciptaan-Nya yang telah berdosa dan yang membelakangi-Nya (Banding: I Yohanes 4:10; Yohanes 10:28-29; Roma 6:23).</li>
<li>Natal yang adalah miracle, karena di dalamnya TUHAN Allah membuktikah bahwa IA yang Mahasuci mengasihi dengan memberikan <em>pemberian yang terbaik</em>, yaitu mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, sebagai miracle <em>pemberian terbesar</em> sepanjang segala masa (Banding: Roma 5:6-11).</li>
</ol>
<p><strong>I</strong><strong>MPLIKASI</strong>:</p>
<ol>
<li>Natal adalah miracle, karena TUHAN Allah yang Mahabesar, telah menetapkan melakukan yang terbesar, yaitu mengasihi manusia berdosa yang tidak layak dikasihi. Mengasihi dalam artian ini berarti dari pihak Allah, Ia <em>mengendaki yang terbaik</em> (summum bonum) bagi umat manusia, sekali pun manusia telah berdosa dan tidak layak bagi apa yang terbaik dari Allah itu.</li>
<li>Natal adalah miracle, karena TUHAN Allah membuktikan bahwa kasih-Nya yang abadi adalah suatu anugerah terbesar. Anugerah terbesar ini adalah tindakan terbesar, yang merupakan <em>pemberian  terbesar dan yang terbaik</em>, yaitu Anak-Nya yang Tunggal. Mengasihi manusia berdosa dan memberikan yang terbaik, yaitu Anak-Nya Yang Tunggal adalah miracle, karena manusia bukan saja tidak layak bagi pemberian Allah ini, tetapi juga diuntukkan agar menerima anugerah yang terbaik dari Allah yang Mahakasih dan Mahabaik.</li>
</ol>
<ol>
<li><strong>II. </strong><strong>NATAL ADALAH </strong><strong>BUKTI TINDAKAN ALLAH YANG MAHAKASIH KEPADA UMAT PILIHAN-NYA</strong><strong></strong></li>
</ol>
<ul>
<li>Apa sesungguhnya makna dari pernyataan bahwa Natal adalah bukti tindakan Allah yang mahakasih kepada umat-Nya pilihan-Nya ini?</li>
</ul>
<ol>
<li>Natal adalah miracle, karena ini adalah bukti bahwa Allah mengaruniakan pemberian khusus kepada “<em>setiap orang yang percaya</em>,” yaitu mereka yang ditentukan-Nya untuk menerima anugerah-Nya yang agung itu, dengan menjadi <em>umat kesayangan-Nya</em> (Banding: Yohanes 3:27; Keluaran 19:4-6; I Petrus 2:9-10).</li>
<li>Natal adalah miracle, karena ini adalah karunia kehidupan pemberian Allah, yaitu kehidupan kekal sebagai anugerah khusus kepada setiap orang yang percaya untuk menjadi umat Allah dengan hak istimewa, yaitu <em>tidak binasa tetapi memiliki hidup yang kekal</em>. Pemberian khusus ini menegaskan bahwa ada <em>pilihan istimewa</em> dari Allah bagi setiap orang yang percaya untuk menerima anugerah hidup kekal Allah ini (Banding: Roma 8:29-20; Efesus 1:4-14; 2:8-10; Yohanes 6:47).</li>
</ol>
<p><strong>IMPLIKASI</strong>:</p>
<ol>
<li>Natal adalah miracle, karena di dalamnya ada pemilihan Allah yang khusus, dengan hak istimewa (privilege) kepada mereka yang khusus yaitu “setiap orang yang percaya” untuk menerima anugerah-Nya yang agung, yaitu hidup kekal didalam TUHAN Yesus Kristus, dan menjadi umat kesayangan Allah (Efesus 2:8-20; Yohanes 6:47).</li>
<li>Natal adalah miracle, karena di dalamnya terbukti bahwa Allah melakukan tindakan agung yang istimewa, yaitu pilihan istimewa atas setiap orang yang percaya untuk menjadi beneficiary-Nya, dengan hak istimewa sebagai penerima dan penikmat hidup kekal dari pada-Nya. Sebagai umat milik Allah, hak istimewa untuk menjadi milik-Nya menempatkan umat-Nya menjadi penikmat semua janji kekayaan berkat-Nya yang mahalimpah (Lihat: II Korintus 8:9; Banding: Yohanes 11:25-26; Ulangan 28:1-14).</li>
</ol>
<p><strong>KESIMPULAN</strong><strong></strong></p>
<ol>
<li>Natal terbukti adalah <em>miracle of love</em>, karena di dalamnya terbukti penyataan kasih Allah yang Mahaagung, yaitu mengaruniakan karunia yang terbaik kepada dunia, yaitu Anak-Nya yang Tuggal, TUHAN Yesus Kristus.</li>
<li>Natal terbukti adalah <em>miracle of love</em>, karena di dalamnya terbukti keagungan Allah dengan tindakan istimewa mengaruniakan hidup kekal, hidup istimewa kepada setiap orang yang percaya, yaitu mereka yang ditentukan dan dipih-Nya untuk menjadi penerima dan penikmat kehidupan kekal pemberian-Nya. Pemberian Allah ini sendiri adalah miracle, karena di dalamnya termasuk semua kekayaan anugerah itu, dengan kehidupan yang istimewa karunia Allah, kehidupan yang melimpah, sekarang, di sini, dan selamanya.</li>
</ol>
<ul>
<li>Apakah Natal adalah miracle of love untuk Anda juga? Selamat, jika jawaban Anda adalah “ya.”</li>
</ul>
<p>TUHAN  Yesus Kristus memberkati dengan limpah. Amin.</p>
<p>Pelayan Firman,</p>
<p>Pdt. Dr. Yakob Tomatala</p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2009/12/14/natal-the-miracle-of-love-%e2%80%93-keajaiban-kasih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>RENUNGAN NATAL 2009</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2009/12/11/renungan-natal-2009/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2009/12/11/renungan-natal-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Dec 2009 10:04:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yakob Tomatala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perenungan]]></category>
		<category><![CDATA[natal 2009]]></category>
		<category><![CDATA[renungan natal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=124</guid>
		<description><![CDATA[Tema   : “Natal untuk Semua”[1] Tekas  :  Lukas 2:10-14. PENGANTAR Natal dalam kaleder umum telah bersusia 2009 tahun lebih. Dalam perkembangannya, Natal telah  menjadi eksklusif Kristen, karena dianggap milik orang Kristen, yang dirayakan sebagai hari raya keagamaan. Dalam kaitan ini, Natal telah memasuki fase kristalisasi – institusionalisasi, yang menyebabkan orang mengaitkannya dengan kekristenan secara eksklusif. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p>Tema   : “Natal untuk Semua”<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Tekas  :  Lukas 2:10-14.</p>
<p>PENGANTAR</p>
<p>Natal dalam kaleder umum telah bersusia 2009 tahun lebih. Dalam perkembangannya, Natal telah  menjadi eksklusif Kristen, karena dianggap milik orang Kristen, yang dirayakan sebagai hari raya keagamaan. Dalam kaitan ini, Natal telah memasuki fase kristalisasi – institusionalisasi, yang menyebabkan orang mengaitkannya dengan kekristenan secara eksklusif. Tidaklah mengherankan bahwa orang memberinya “<em>cap Kristen</em>” yang disikapi dengan perbagai macam serta sikap, baik yang positif mau pun yang negative terhadap Natal itu.</p>
<p>Dalam mensyukuti Natal tahun 2009 ini, kita dipanggil untuk mendasarkan perenungan kita di atas Injil menurut Lukas, Pasal 2 ayat 10-14; yang mendorong kita mempertanyakan ulang sikap terhadap Natal yang telah dirayakan selama ini; dengan bertanya, “apakah Natal itu hanyalah untuk kita (ekslusif),” ataukah “Natal itu adalah untuk semua (inklusif)?” Alkitab dengan tegas menjawab pertanyaan kita ini dengan ungkapan syair pujiaan Para Malaikat-Nya: “<em>Jangan takut, aku memberiktakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa</em>.” Dan lagi,  “<em>Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya</em>.”<span id="more-124"></span></p>
<p>Menilik balik apa yang dikidungkan Malaikat dalam Natal pertama ini, apa sesungguhnya, berita apa yang sedang dikabarkan mereka kepada kita dan dunia sekarang ini tentang Natal itu? Paling tidak, kita dapat melihat bahwa para Malak menempatkan Natal sebagai inklusif bagi dunia, yaitu mereka yang diperkenankan Allah. Kini kita diundang untuk mencermati makna dari kebenaran Natal yang inklusif ini dari perspektif Injil menurut Lukas, yang dapat disingkapkan dalam dua sisi, antara lain:</p>
<ol>
<li><strong>NATAL DIADAKAN ALLAH BAGI KEMULIAAN NAMA-NYA</strong>.</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<ul>
<li>Apa sesungguhnya rahasia Allah yang dinampakkan-NyA dalam Natal itu bagi kita dan seisi dunia?</li>
</ul>
<ol>
<li>Dalam Natal, ada penegasan bahwa Allah harus dimuliakan, karena Ia      setia terhadap janji-Nya yang telah dipenuhi-Nya melalui putra Natal itu, yaitu      TUHAN Yesus Kristus (Kejadian 3:15). Penegasan ini menunjuk kepada Allah sebagai      yang menjanjikannya kepada semua umat manusia, sehingga Natal adalah janji Allah bagi semua,      yang dipenuhi-Nya juga untuk semua (Yesya 9:5-6).</li>
<li>Dalam Natal, Allah mewujudkan janji-Nya dengan kehadiran Putra      Natal, Sang Mesias, Yesus Kristus (Galatia 4:4). Kehadiran Putra      Natal ini adalah untuk semua, karena Allah menguntukkan-nya bagi semua,      yaitu isi dunia.</li>
<li>Natal adalah pemberian khusus dari TUHAN      Allah kepada umat-Nya, sesuai dengan rencana kekal-Nya di dalam Yesus      Kristus (Matius 1:21; efesus 1:4-14).</li>
</ol>
<p>IMPLIKASI:</p>
<ol>
<li>Natal menunjukkan bahwa Allah itu mahasetia, Ia      telah memenuhi janji-Nya dalam Natal,      sehingga      Ia patut dipermuliakan (Roma 11:36).</li>
<li>Natal membuktikan bahwa Allah yang mahasetia mewujudkan janji-Nya      dengan kehadiran Yesus Kristus, yang menggenapkan      Perjanjian Berkat TUHAN Allah bagi dunia (Galatia 4:4-6).</li>
</ol>
<ol>
<li><strong>NATAL DIBUMIKAN ALLAH MEMBAWA SEJAHTERA BAGI MANUSIA</strong>.</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<ul>
<li>Natal merujuk kepada kenyataan bahwa Allah melalui Putra Natal itu berkuasa membumikan sejahtera-Nya kepada dunia secara utuh. Alasan untuk kebenaran ini adalah sebagai berikut:</li>
</ul>
<ol>
<li>Natal menunjukkan bahwa Allah adalah <em>sumber damai sejahtera</em> (shalom) yang sejati, yang diuntukkan-Nya bagi isi dunia (Yesaya 32:1-2, 17; 33:15-16; Yohanes      3:16)..</li>
<li>Natal membuktikan bahwa Allah adalah sumber damai sejahtera itu      berkuasa membumikannya kepada manusia sebagai      pemberian anugerah yang khusus (Yohanes 14:27).</li>
<li>Natal menegaskan bahwa Allah Sang Pemilik damai sejahtera itu      mengaruniakannya kepada mereka yang ditentukan-Nya dari      semula untuk      memikmatinya (I Yohanes 4:7-10; Yohanes 10:28-29; Efesus      1:4-14; 2:8-10).</li>
<li>Natal memastikan bahwa damai sejahtera Allah dapat      dinikmati kini, di sini, dan dimana saja      oleh siapa saja yang diperkenankan-Nya (Yesaya 32:17; Yohanes 14:6),      dimana dengan memiliki-Nya, mereka dapat berbagi shalom itu (Lukas      2:15-20; Matius 5:9) .</li>
</ol>
<p>IMPLIKASI</p>
<ol>
<li>Sebagai Sumber damai sejahtera, Allah menyediakannya untuk semua      manusia.</li>
<li>Sebagai Sumber damai sejahtera, Allah menjamin bahwa Ia apat      mengaruniakan kepada semua mereka yang dikehendaki-Nya.</li>
<li>Sebagai Pemberi damai sejahtera, Allah mengaruniakannya untuk      semua yang ditentukan-Nya, sesuai kebaikan-Nya, sebagai pemberian khusus dari pada-Nya.</li>
<li>Sebagai Pemberi damai sejahtera, TUHAN      Allah      memastikan bahwa “damai sejahtera” itu dapat dinikmati oleh semua, kini di      sini, hari ini, khususnya mereka yang diperkenankan-Nya.</li>
</ol>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<ol>
<li>Natal merujuk bukti bahwa TUHAN Allah mahasetia, yang      memenuhi janji-Nya bagi umat manusia dari segala bangsa, karena itu Natal      adalah bagi semua isi dunia, yang olehnya Ia harus dimuliakan (Kejadian 3:15; Galatia 4:4; Yohanes 3:16).</li>
<li>Natal menegaskan bukti bahwa Allah yang mahasetia      itu oleh kedaulatan-Nya memilih memperkenankan kita untuk menikmati damai      sejahtera-Nya secara khusus, dengan      menerima berkat khusus, yaitu kesukaan besar (great salvation) melalui      Yesus Kristus , Mesias (<em>Al-masih</em>)      Juruselamat dunia (Lukas 4:18-19).</li>
</ol>
<ul>
<li>Apakah Anda adalah bagian dari mereka yang memaknai dan menikmati Natal secara pribadi dan komunitas? Apakah arti Natal bagi orang lain di sekitar Anda? Bila Anda dapat memaknakannya dan berbagi, terimalah ucapan selamat dari saya atas rahasia pemberian Allah bagi Anda yang telah Anda terima. <strong><em>Jadikan natal inklusif bagi semua</em></strong>. Selamat Natal, Tuhan memberkati. Amin.</li>
</ul>
<p>Pelayan Firman,</p>
<p>Pdt. Dr. Yakob Tomatala</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Khotbah ini pernah disampaikan kepada Kelompok Kristen Oikumene di PT Incocement, Tarjun Kalsel, pada tanggal 16 Desember 2006.</p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<p><!--Session data--></p>
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2009/12/11/renungan-natal-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
