<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DR. Yakob Tomatala &#187; Perenungan</title>
	<atom:link href="http://yakobtomatala.com/category/perenungan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://yakobtomatala.com</link>
	<description>Leadership, Thoughts, Books, Writing !</description>
	<lastBuildDate>Sun, 06 May 2012 17:04:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>MENGISI HARI INI DENGAN ARIF, MEMBANGUN MASA DEPAN BERPENGHARAPAN</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2011/01/04/mengisi-hari-ini-dengan-arif-membangun-masa-depan-berpengharapan/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2011/01/04/mengisi-hari-ini-dengan-arif-membangun-masa-depan-berpengharapan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Jan 2011 06:43:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Information]]></category>
		<category><![CDATA[Perenungan]]></category>
		<category><![CDATA[MEMBANGUN MASA DEPAN BERPENGHARAPAN]]></category>
		<category><![CDATA[MENGISI HARI INI DENGAN ARIF]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=327</guid>
		<description><![CDATA[“Sebab itu, perhatikanlah baik-baik cara hidupmu. Jangan hidup seperti orang-orang bodoh; hiduplah seperti orang-orang bijak. Gunakanlah sebaik-baiknya setiap kesempatan yang ada padamu”  (Efesus 5:15-16a &#8211; BIS). PENGANTAR Masa depan di dalam TUHAN adalah “penuh harapan” yang sepenuhnya dijamin oleh janji kesejahteraan dari pada-Nya (Yeremia 29:11). Namun, bagaimana kita mengisinya, sehingga kesejahteraan, sukses dan kemakmuran hidup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p>“<em>Sebab itu, perhatikanlah baik-baik cara hidupmu. Jangan hidup seperti orang-orang bodoh; hiduplah seperti orang-orang bijak. Gunakanlah sebaik-baiknya setiap kesempatan yang ada padamu</em>”  (Efesus 5:15-16a &#8211; BIS).</p>
<p>PENGANTAR</p>
<p>Masa depan di dalam TUHAN adalah “penuh harapan” yang sepenuhnya dijamin oleh janji kesejahteraan dari pada-Nya (Yeremia 29:11). Namun, bagaimana kita mengisinya, sehingga kesejahteraan, sukses dan kemakmuran hidup dapat kita tuai di tahun 2011 ini? <span id="more-327"></span>Menemukan jawaban bagi pertanyaan ini, baiklah kita menyimak apa yang dikatakan Michael Landon yang mengatakan, “<em>Walaupun kita memiliki banyak hari esok, tetapi kita hanya memiliki hari ini untuk digunakan</em>.”<a href="#_ftn1">[1]</a> Apa artinya ini bagi kita, khususnya bagi mereka yang berhasrat mengisi kehidupannya dengan menikmati janji kesejahteraan dari TUHAN Allah? Bagaimana kita mengisi dan menikmati masa depan penuh harapan di dalam TUHAN ini? Marilah kita simak bersama!</p>
<p><strong>1. </strong><strong>MASA DEPAN PENUH HARAPAN HARUS DIISI HARI INI</strong>. Apa maknanya masa depan harus diisi hari ini? Ada alasan kuat mengapa masa depan harus diisi hari ini. <em>Pertama</em>, masa depan harus diisi hari ini karena masa depan adalah produk dari hari ini, sama seperti hari ini adalah produk dari hari kemarin. <em>Kedua</em>, masa depan harus diisi hari ini, karena isi masa depan ialah apa yang diisi hari ini. <em>Ketiga</em>, masa depan harus diisi hari ini, karena dengan mengisi masa depan hari ini, masa depan pasti memiliki isi yang selaras dengan apa yang diisi. <em>Keempat</em>, masa depan harus diisi hari ini karena dengan mengisi masa depan hari ini, masa depan akan datang dengan apa yang diisi hari ini. <em>Kelima</em>, masa depan yang terisi baik dan benar hari ini, akan memproduksikan produk masa depan yang benar, baik alias berkualitas pada hari esok. Firman Allah secara tegas mengatakan: “<em>Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya</em>” (Galatia 6:7).</p>
<p><strong>2. </strong><strong>MASA DEPAN PENUH HARAPAN HARUS DIKERJAKAN HARI INI</strong>. Masa depan harus dikerjakan hari ini, karena kita hanya dapat bekerja pada hari ini, dan bekerja hari inilah yang menentukan hasil kerja hari esok. Kalau hari ini kita menabur dengan mencucurkan ari mata, maka hari esok akan ada tuaian yang dilakukan dengan sorak sorai (Mazmur 126:5). Jika hari ini kita melakukan pekerjaan menabur dengan tindakan berkualitas, kita pasti akan menuai hasil dari tindakan berkualitas itu. Hal ini ditegaskan oleh Firman Allah yang mengatakan: “<em>Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barang siapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu. Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah</em>” (Galatia 6:8-9).</p>
<p><strong>3. </strong><strong>MASA DEPAN PENUH HARAPAN PASTI DITUAI BESOK</strong>. Anda tentu masih mengingat pernyataan: <em>Anda tidak dapat mengharapkan sesuatu terjadi apabila Anda tidak melakukan apa-apa</em>. Kebenaran ini menegaskan bahwa apabila Anda menabur (bekerja dan mengerjakan visi Anda) hari ini, Anda pasti akan menuai (hasil pasti) hari esok. Masa depan penuh harapan pasti akan dituai hari besok, adalah kebenaran yang menjelaskan bahwa “Apabila Anda menabur hari ini, Anda pasti akan menuai besok, dimana kualitas serta cara taburan yang Anda lakukan akan menghasilkan tuaian yang sama kualitasnya.” Kebenaran ini menjelaskan bahwa, hukum tabur tuai ini akan terjadi sepasti Firman Allah yang menegaskan: “<em>Orang yang bejalan maju sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak sorai sambil membawa berkas-berkasnya</em>” (Mazmur 126:6). Dengan demikian, Anda dapat memastikan bahwa masa depan penuh harapan adalah sesuatu kenyataan yang pasti terjadi, dan kenyataan ini ditentukan hari ini oleh Anda. Anda dapat memulai dengan sepenuhnya menyadari apa saja yang Anda tabur hari ini, akan Anda tuai besok. Jadi kalau Anda menanam lima stek ubi kayu hari ini (dengan mengerjakannya secara berkualitas), maka Anda dapat meramalkan bahwa Anda akan menuai setidaknya lima kilogram ubi kayu hari esok, yaitu enam bulan yang akan datang. Jadi dapat dikatakan juga bahwa prinsip tabur tuai ini terukur oleh tindakan yang Anda lakukan hari ini. Ingatlah apa yang dikatakan oleh Peter F. Drucker yang mengatakan, “<em>Jalan terbaik untuk meramal masa depan ialah dengan menciptakannya</em>.” Karena itu, Anda dapat memastikan bahwa masa depan penuh harapan itu dapat terlaksana, sepasti Anda melakukannya sekarang, yang dilakukan dengan segenap hati berbekal ketekunan tinggi dan kerja cerdas. Anda pasti menuai hasil yang menakjubkan hari besok sepasti Anda menabur secara berkualitas pada hari ini.</p>
<p><strong>REFLEKSI</strong>:</p>
<p>Telah dikatakan sebelumnya bahwa secara umum dapat dikatakan bahwa setiap orang memang tidak dapat memastikan masa depannya, namun, ada jaminan bagi orang yang percaya kepada TUHAN Allah, bahwa IA-lah yang telah menetapkan masa depan bagi umat-Nya, menjamin pemenuhannya dalam kehidupan mereka hari ini dan di masa yang akan datang. Karena itu, Anda diminta untuk merenungkan prinsip abadi tentang tabur tuai sebagai perikut:</p>
<ul>
<li><em>Pertama</em>, “Apabila Anda mengisi masa depan pada hari ini dengan sikap, kata dan tindakan apa saja, maka masa depan akan terbukti sepasti kata, sikap dan tindakan Anda pada hari ini.”</li>
<li><em>Kedua</em>, “Apabila Anda mengerjakan masa depan Anda hari ini dengan melakukan tindakan apa saja, dengan menggunakan cara apa saja dan kualitas apa saja, Anda akan menuai apa saja yang telah Anda tabur pada hari ini di masa depan, sesuai cara yang Anda gunakan dan kualitas yang Anda terapkan sekarang ini.”</li>
<li><em>Ketiga</em>, “Anda pasti memasuki masa depan penuh harapan dengan tuaian yang pasti pada hari esok, sepasti Anda menciptakannya pada hari ini.” Alasan kokoh untuk kebenaran ini ialah, karena Anda telah melakukan apa yang Anda inginkan berlandaskan visi kepemimpinan yang memberi tujuan yang jelas, maka Anda pasti menuai hasilnya pada hari besok. Ingatlah ini, “Apabila Anda menjadi yang terbaik dari diri Anda, dan Anda melalukan yang terbaik hari ini dengan mengerjakan hal terbaik dari seluruh potensi Anda, maka Anda akan menuai yang terbaik pada hari esok, dimana hari esok menjadi penuh harapan bagi Anda.</li>
</ul>
<p>Selamat menjalani “Tahun Pengharapan 2011” di dalam TUHAN Allah kita. Salam dan sukses di Tahun Baru 2011. TUHAN Yesus memberkati.</p>
<p>Salam doa,</p>
<p>Dr. Yakob Tomatala</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Lihat buku <em>Ubah Slogan Jadi Tindakan</em>, karya Sulaiman Budiman, PT Bhuana Ilmu Populer,  Jakarta., 2010.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2011/01/04/mengisi-hari-ini-dengan-arif-membangun-masa-depan-berpengharapan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PEMIMPIN BIJAK, MEMIMPIN DENGAN GEMBIRA</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2011/01/03/pemimpin-bijak-memimpin-dengan-gembira/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2011/01/03/pemimpin-bijak-memimpin-dengan-gembira/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Jan 2011 07:18:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Information]]></category>
		<category><![CDATA[Perenungan]]></category>
		<category><![CDATA[MEMIMPIN DENGAN GEMBIRA]]></category>
		<category><![CDATA[PEMIMPIN BIJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=323</guid>
		<description><![CDATA[“Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berja-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yag harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira,” (Ibrani 13:17). PENGANTAR Pemimpin yang bijaksana harus memimpin dengan gembira. Memimpin dengan gembira adalah kualitas kepemimpinan yang memiliki nilai tambah yang positif. Dalam upaya menolong untuk melaksanakan kepemimpinan dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<em>Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berja-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yag harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira</em>,” (Ibrani 13:17).</p>
<p>PENGANTAR</p>
<p>Pemimpin yang bijaksana harus memimpin dengan gembira. Memimpin dengan gembira adalah kualitas kepemimpinan yang memiliki nilai tambah yang positif. Dalam upaya menolong untuk melaksanakan kepemimpinan dengan gembira, kita perlu bertanya, “Apa sesungguhnya makna memimpin dengan gembira ini?” Pola dan gaya kepemimpinan macam apa pula ini? Apakah pemimpin harus selalu menyikapi kepemimpinannya dengan sikap gembira? Kemanfaatan apa yang akan diperoleh melalui memimpin dengan gembira ini? Bagaimana seorang pemimpin dapat memimpin dengan gembira? Bagaimana pula memimpin dengan gembira itu dapat dilaksanakan? Menjawab semua pertanyaan di atas, marilah kita memaknakan bagaimana kita dapat memimpin dengan gembira itu:<span id="more-323"></span></p>
<p>1.      <strong>GEMBIRA ITU SEHAT</strong>. Memimpin dengan gembira dibangun di atas “sikap hati” yang gembira. Sikap hati gembira adalah sikap hati yang sehat. Firman Allah mengatakan, “Hati yang gembira adalah obat” (Amsal 17:22). Sesungguhnya menurut Firman Allah, memimpin dengan gembira itu sehat dan meringankan beban. Memimpin dengan gembira diawali dengan mendahulukan “sikap proaktif” dan menghindari “sikap reaktif.” Sikap proaktif dibangun diatas pikiran sehat dan jernih yang selalu berupaya menggunakan akalnya untuk mencari makna dibalik kata, sikap maupun tindakan orang lain. Sedangkan sikap reaktif muncul dari jiwa, roh dan hati yang kerdil yang akan selalu merasa tersinggung dengan kata, sikap dan tindakan orang, yang bermaksud baik sekalipun. Pemimpin hanya dapat memimpin dengan gembira apabila ia menetapkan untuk gembira, bersikap gembira, bergaya gembira, berkata gembira, dan bertindak gembira, apa pun kata, sikap dan tindakan orang dalam situasi apa saja. Dale Carnegie mengatakan, “<em>Jika kamu ingin hidup bahagia, maka bahagialah</em>.”<a href="#_ftn1">[1]</a> Kalau begitu, kita dapat mengatakan, “Jika kamu ingin hidup gembira, bergembiralah.” Buktinya, “Anda dapat memimpin dengan gembira, karena hati Anda gembira, dan Anda bergembira dalam kepemimpinan dengan menjadikan situasi menyenangkan dan menggembirakan semua orang yang dipimpin”</p>
<p>2.      <strong>GEMBIRA ITU SEMANGAT YANG MENGUNTUNGKAN</strong>. Kegembiraan menyatakan adanya semangat hidup yang positif. Adalah sangat tidak mungkin bergembira yang sejati, bila hati tidak bergembira. Hati yang gembira dibangun di atas kesadaran bahwa kegembiraan sejati itu datang dari TUHAN, dimana Firman Allah mengatakan: “<em>Hati yang gembira membuat muka berseri-seri</em>” (Amsal 15:13). Hati yang gembira tercermin dari wajah yang berseri, dan wajah yang berseri menandakan adanya semangat hidup positif. Dan, semangat hidup positif akan menularkan semangat hidup positif kepada orang lain yang ada disekeliling kita, sehingga pemimpin yang memimpin dengan gembira lebih membawa keuntungan. Dapat dikatakan di sini bahwa pemimpin yang memimpin dengan gembira akan memberikan semangat yang positif kepada orang-orang yang dipimpinnya, dimana mereka akan merasa beruntung dibawah kepemimpinannya. Rasa beruntung seperti ini akan meneguhkan kepemimpinan, sehingga semua komponen orang akan bergerak proaktif yang akan mewujudkan sinergi kerja yang membawa keuntungan bagi semua pihak.</p>
<p>3.      <strong>GEMBIRA ITU SELEBRASI YANG MENYENANGKAN</strong>. Gembira dan kegembiraan adalah situasi yang menggambarkan adanya kesenangan, “celebrations.” Hal ini dibenarkan oleh Firman Allah yang menegaskan: “<em>Orang yang gembira hatinya selalu berpesta</em>” (Amsal 15:15). Kalau begitu dapat dikatakan bahwa hati yang gembira membuat orang selalu merasa senang, dan kesenangan menjadikan semua situasi bagaikan “pesta perayaan.” Dengan demikian dapat dikatakan bahwa memimpin dengan gembira adalah “menyuguhkan situasi pesta” dalam kepemimpinan yang olehnya semua orang disemangati untuk terlibat “proaktif dalam proses kepemimpinan.” Pada sisi lain, gembira sesungguhnya menyediakan “kemampuan untuk menciptakan kondisi yang menyenangkan.” Firman Allah menandaskan: “<em>Hati orang bijak menjadikan mulutnya berakal budi, dan menjadikan bibirnya lebih dapat meyakinkan</em>” (Amsal 16:23-24). Dengan demikian, pemimpin hanya dapat memimpin dengan gembira apabila “hatinya gembira.” Dan hati yang gembira meneguhkan kata-kata bijak yang menyenangkan hati orang lain, sehingga ada kekuatan yang dapat meyakinkan orang yang mendengarnya.</p>
<p>REFLEKSI:</p>
<p>Telah diuraikan di atas tentang prinsip memimpin dengan gembira, cara Alkitab. Dengan demikian, pemimpin dapat mewujudkan kepemimpinannya dengan gembira, melalui penerapan  pola dan gaya kepemimpinan berikut:</p>
<p><em>Pertama</em>, Pemimpin dapat memimpin dengan gembira, melalui mematutkan gaya, pola serta sikap proaktif yang dibangun dari “hati yang gembira.” Pola dan gaya kepemimpinan seperti ini dapat disebut “leading by smiling” yang muncul dari hati yang gembira itu. Berlandaskan pola dan gaya leading by smiling ini, pemimpin menyiapkan situasi kondusif dan mengimpartasi sikap proaktif, sehingga semua komponen memiliki hati, pikiran, sikap dan kebiasaan yang positif yang memberikan andil serta kontribusi kepada terwujudnya kepemimpinan berkualitas dengan adanya hubungan-hubungan yang sehat antara pemimpin dan para bawahannya.</p>
<p><em>Kedua</em>, Pemimpin dapat menerapkan pola dan gaya memimpin dengan gembira melalui hati yang gembira yang nampak dalam sifat dan cara gembira yang mempengaruhi pola serta gaya kepemimpinan. Pola dan gaya kepemimpinan seperti ini dapat disebut “leading by feasting.” Leading by feasting ini diwujudkan melalui pola dan gaya mempertahankan serta mengembangkan sikap gembira, yang menyemangati semua komponen manusia dalam kepemimpinan. Leading by feasting juga merupakan pola dan gaya terbaik, yang ditandai oleh adanya kebiasaan menghargai, menikmati dan menyikapi kepemimpinan sebagai proses yang menyenangkan, yang memberikan tempat bagi paritisipasi semua kompenen manusia, yang melakukan tugasnya dengan penuh semangat.</p>
<p><em>Ketiga</em>, Pemimpin dapat membuktikan kualitas kepemimpinannya dengan menggunakan pola dan gaya “leading by celebrating.” Pola dan gaya  leading by celebrating ini membangun sikap proaktif, yang olehnya semua kompenen manusia dapat bersinergi dengan gembira dalam kepemimpinan. Bersinergi dengan gembira dalam kepemimpinan memberikan nilai tambah bagi pelaksanaan upaya memimpin, dimana akan ada keterlibatan dan peran proaktif semua kompenen SDM dalam kepemimpinan, karena masing-masing menyadari bahwa ia adalah pribadi yang memiliki bagian dalam kepemimpinan, yang harus disabut dan dilaksanakan dengan gembira. Adalah jelas, bahwa pola dan gaya kepemimpinan seperti ini akan membangun hubungan positif yang responsif, sehingga kepemimpinan pasti berjalan secara efektif, efisien dan sehat, yang mambawa hasil berkualitas yang semakin besar, karena semua orang smiling, feasting dan ceberating dalam proses kepemimpinan.<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p><strong>Selamat membuktikan pola dan gaya memimpin dengan gembira cara Alkitab, demi keberhasilan bersama, sekarang dan di masa yang akan datang</strong>!!!</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Jakarta, januari 2011</p>
<p>Dr. Yakob Tomatala</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Lihat Buku Ubah Slogan Jadi Tindakan, karya sulaiman Budiman., PT Bhuana Ilmu Populer, Jakarta., 2010.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Perlu ditegaskan bahwa di sin tidak ada kamus santai dalam pola dan gaya kepemimpinan”memimpin dengan gembira” ini, karena didalamnya ada landasan etika dan moral yang benar, baik dan kuat, yang akan meneguhkan pemimpin dan orang yang dipimpin menjadi manusia berkualitas..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2011/01/03/pemimpin-bijak-memimpin-dengan-gembira/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TAHUN PENGHARAPAN</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2010/12/31/tahun-pengharapan/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2010/12/31/tahun-pengharapan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Dec 2010 01:58:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Information]]></category>
		<category><![CDATA[Perenungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=320</guid>
		<description><![CDATA[“Bukankah Aku sendiri tahu rencana-rencana-Ku bagi kamu? Rencana-rencana itu bukan untuk kecelakaan kamu tetapi untuk kesejahteraanmu dan untuk memberikan kepadamu masa depan penuh harapan”  (Yeremia 29:11 BIS). PENGANTAR Masa depan adalah gelap bagi semua orang. Kenyataan ini membuat ada orang yang ingin tahu tentang masa depannya berupaya untuk mengorakkannya melalui jasa peramalan, dan sebagainya. Walau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="file:///C:/DOCUME%7E1/RIOYOT%7E1/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-11.png" alt="" /></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>“<em>Bukankah Aku sendiri tahu rencana-rencana-Ku bagi kamu? Rencana-rencana itu bukan untuk kecelakaan kamu tetapi untuk kesejahteraanmu dan untuk memberikan kepadamu masa depan penuh harapan</em>”  (Yeremia 29:11 BIS).</p>
<p>PENGANTAR</p>
<p>Masa depan adalah gelap bagi semua orang. Kenyataan ini membuat ada orang yang ingin tahu tentang masa depannya berupaya untuk mengorakkannya melalui jasa peramalan, dan sebagainya. <span id="more-320"></span>Walau pun demikian, dapatlah ditegaskan bahwa “tidak ada seorang pun dapat mengetahui masa depannya dengan pasti.” Kalau seorang peramal misalnya dapat mengetahui masa depannya maka ia dapat berupaya untuk mencegah kecelakaan bahkan kematiannya sekalipun.</p>
<p>Namun, yang benarnya ialah tetap tidak ada seorang yang tahu tentang masa depannya. Berdasarkan kenyataan ini, Seneca mengatakan: “<em>Tidak ada yang pasti di dalam dunia ini kecuali hari kemarin</em>.” Namun, TUHAN Yesus berkata: “<em>Jangan takut! Akulah yang Pertama (Alpha) dan yang Terakhir (Omega). Akulah DIA yang hidup</em>” (Wahyu 1:17b; 18a BIS). Implikasi dari kebenaran ini ialah bahwa masa depan yang tidak dapat diramalkan itu sesungguhnya ada dalam tangan TUHAN, yaitu DIA yang ada sebelum kemarin itu ada, karena ia adalah Maha Pencipta (Yohanes 1:1). Sebagai Pencipta, IA berkuasa atas hari kemarin (kekal yang lalu &#8211; <em>kairos</em>), hari ini (<em>kronos</em> &amp; <em>kairos</em>) dan hari besok (kekal yang akan datang &#8211; <em>kairos</em>), sesudah segala sesuatu tiada.</p>
<p>Melihat kebenaran ini, dapat di katakan bahwa di dalam TUHAN sajalah <strong>ada masa depan penuh harapan</strong>. Mecermati kenyataan ini memasuki Tahun 2011, dapat dikatakan bahwa ada banyak hal yang menjadi teka-teki bagi semua orang, namun di dalam TUHAN ada janji kesejahteraan dalam masa depan yang penuh harapan ini. Bagaimana kita menikmati masa depan penuh harapan di dalam TUHAN ini? Marilah kita simak bersama!</p>
<p><strong>1. </strong><strong>MASA DEPAN PENUH HARAPAN HARUS DIPASTIKAN HARI INI</strong>. Apa maknanya masa depan harus dipastikan hari ini? Bukankah telah dikatakan di atas bahwa tidak ada seseorang jugapun yang dapat mengetahui apalagi memastikan tentang masa depannya? Menegaskan kebenaran bahwa masa depan ada di dalan tangan TUHAN, maka maksud dari pernyataan ini ialah setiap orang sesungguhnya dapat memastikan masa depannya di dalam TUHAN.</p>
<p>Bagaimana sesungguhnya cara untuk memastikan masa depan di dalam TUHAN ini? <em>Pertama</em>, Allah memiliki rencana kekal bagi setiap orang (Yeremia 1:5; Yesaya 49:1b,5) yang adalah miliknya (Yeremia 29:11). karena itu, dapatlah dikatakan bahwa setiap orang yang telah menemukan diri ada di dalam TUHAN, adalah dia yang dapat menegaskan bahwa di dalam TUHAN, masa depannya terjamin hari ini, karena TUHAN sendirilah yang menetapkan rencana masa depan-Nya bagi setiap kita di dalam DIA. <em>Kedua</em>, setiap orang sesungguhnya dapat memastikan masa depannya di dalam TUHAN dengan menegaskan kesadaran diri dan keyakinannya sebagai umat milik Allah (Galatia 3:29; Kejadian 12:1-3). Sebagai umat milik Allah, kita memiliki status dan hak kepemilikan, yang dapat dipastikan dengan menemukan dirinya ada di dalam TUHAN.</p>
<p>Dengan pemastian ini, maka janji kesejahteraan dari TUHAN ini adalah diuntukkan kepadanya, seperti yang telah dinyatakan kepada umat Allah pada masa pelayanan Yeremia (Lihat: Ulangan 28:1-14)..  <em>Ketiga</em>, masa depan kita adalah sepasti hakikat TUHAN yang mahasetia (II Timotius 2:13), sehingga IA sendirilah yang memenuhi janji-Nya bagi kita. Sikap yang terpenting yang harus ada pada kita ialah bahwa kita harus sepenuhnya bersandar kepada janji-Nya, dengan setia memperjuangkan hal besar bagi kemuliaan-Nya (Ulangan 28:1-14; Roma 11:36).</p>
<p><strong>2. </strong><strong>MASA DEPAN PENUH HARAPAN ADALAH SUATU NISCAYA</strong>. Masa depan adalah suatu niscaya bagi umat Allah, karena DIA sendirilah yang menjaminnya. Jaminan TUHAN Allah ini menjadi pasti, tatkala IA menegaskan bahwa “<em>Rencana-rencana itu bukan untuk kecelakaan kamu tetapi untuk kesejahteraanmu</em>” (Yeremia 29:11b). Rencana kesejahteraan ini ada rancangan shalom dari Allah, yang meliputi tiga aspek. <em>Pertama</em>, aspek rohani, yang menjelaskan adanya hubungan yang dipulihkan TUHAN Allah yang memastikan bahwa setiap orang yang ada di dalam Kristus, ia adalah “manusia baru” (II Korintus 5:17), umat kesayangan TUHAN (I Petrus 2;9-10). <em>Kedua</em>, aspek sosial, yang menyangkut kehidupan sejahtera dan hubungan-hubungan “keluarga” atau rumah tangga (Kejadian 17; 12:1-3; Mazmur 127:1-2; 128).</p>
<p>Hubungan keluarga ini akan ditandai dengan adanya kesejahteraan kedamaian, kerukunan dan ketenteraman yang merupakan berkat khusus bagi rumah tangga umat TUHAN (Yesaya 32:17; Yohanes 14:27; Mazmur 133). <em>Ketiga</em>, aspek kesejahteraan ekonomi yang diungkapkan dengan “tanah” atau “negeri perjanjian TUHAN.” Tanah adalah lambang kemakmuran ekonomi, yang menjelaskan “bukti berkat TUHAN” yang nyata dalam kehidupan umat Allah (Kejadian 12:1; lihat Ulangan 28:1-14). Contoh gamblang kebenaran tentang keniscayaan masa depan ini dinyatakan sendiri oleh TUHAN Allah dalam episode penjumpaan-Nya dengan Yakub. Yakub sedang ada dalam pelarian yang meninggalkan rumah tangga orang tuanya yang porak poranda di belakangnya (masa lalu) dengan segudang persoalan pelik (Kejadian 27).</p>
<p>Dalam pelariannya, Yakub memandang masa depan yang kelam dan tidak ada harapan (ketidak pastian masa depan). Namun TUHAN Allah sendirilah yang mendatangi dan memulihkan dirinya untuk menjalani “masa depannya yang penuh harapan” (Kejadian 28:13-22). Dalam penyataan (self disclosure) TUHAN Allah dengan “kuasa transformatif” yang dahsyat ini, IA meneguhkan “<em>Janji Berkat-Nya</em>” (covenant) melalui memulihkan hubungan Yakub yang kelam dengan diri-Nya (<span style="text-decoration: underline;">aspek rohani</span> – Lihat ayat 13a; banding Roma 5:1-11). Pemulihan ini termasuk pemulihan hubungan keluarga atau rumah tangga (<span style="text-decoration: underline;">aspek sosial</span> – ayat 14; Banding Kejadian 12:1-3). Penyataan TUHAN Allah ini juga memulihkan hubungan kehidupan ekonomi yang ditandai dengan adanya “tanah” pemberian TUHAN (<span style="text-decoration: underline;">aspek ekonomi</span> – ayat 13b), yang melambangkan “kemakmuran hidup.” di sini dapat ditegaskan bahwa hubungan yang pulih dengan TUHAN Allah membawa damai sejahtera dan ketenangan hidup. Hubungan keluarga yang pulih menyiapkan kondisi kehidupan dan hubungan harmonis yang menyenangkan.</p>
<p>Hubungan ekonomi yang pulih menjanjikan kemakmuran hidup. Dari sini dapatlah dikatakan bahwa masa depan umat TUHAN merupakan suatu niscaya, karena dijamin oleh TUHAN Allah sendiri. Jaminan TUHAN Allah ini memberikan kepastian bahwa masa lalu dengan masalahnya yang menggerogoti, dapat diatasi oleh TUHAN. Pembebasan TUHAN ini menyebabkan kita dibebaskan untuk memandang masa depan dengan kepastian bahwa di dalam TUHAN masa depan adalah suatu niscaya yang akan dipenuhkan-Nya bagi kita. Di dalam dan dengan TUHAN Allah, ada masa depan penuh harapan bagi kita umat-Nya (Mazmur 60:14; 108:14; I Korintus 15:58).</p>
<p><strong>3. </strong><strong>MASA DEPAN PENUH HARAPAN DAPAT DINIKMATI SECARA NYATA</strong>. Masa depan penuh harapan adalah suatu kenyataan di dalam TUHAN. Masa depan penuh harapan ini bisa menjadi ilusi bagi kebanyakan orang, tetapi bagi kita yang ada di dalam TUHAN, ada jaminan untuk melihat, memasuki, menjalani dan menikmatinya. Bagaimana menikmati masa depan penuh harapan ini secara nyata? <em>Pertama</em>, memasuki masa depan penuh harapan ini, kita harus memandang dengan penuh iman kepada TUHAN yang memimpin kita dalam perjuangan hidup (Ibrani 12:1-2).</p>
<p>Di sini perlu ditekankan bahwa menjalani kehidupan yang penuh dengan tantangan ini, kita harus menyikapinya dengan iman penuh. Alasan kuatnya ialah bahwa karena di dalam iman, ada pengharapan, dimana pengharapan adalah kemenangan akhir setelah segala sesuatu diselesaikan TUHAN bagi kita (Ibrani 11:1). <em>Kedua</em>, memasuki masa depan penuh harapan ini, kita harus setia berjalan dengan TUHAN yang menjamin penyertaan-Nya bagi kita (Matius 1:23; 28:18-20). Penyertaan TUHAN memberikan jaminan keberanian percaya karena kita mengandalkan DIA (Yeremia 17:7-8). <em>Ketiga</em>, memasuki dan menikmati masa depan penuh harapan harus diisi melalui “bertindak” bersama TUHAN untuk “mewujudkan tanggung jawab mengadakan masa depan penuh harapan” di dalam TUHAN  ini (Mazmur 126; Kolose 3:17, 23).</p>
<p>Masa depan penuh harapan adalah sepasti tindakan iman dan pengharapan kita yang dilakukan secara nyata, kini, hari ini, di sini, melalui “taburan yang berkualitas” yang akan mendatangkan masa depan dengan berkat keberhasilan “tuaian  berkualtias” dari TUHAN Allah kita (I Korintus 3:6-7). Peter F. Drucker mangatakan, “<em>Jalan terbaik untuk meramal masa depan ialah dengan menciptakannya</em>.” Lakukanlah visi TUHAN bagi Anda sekarang, maka masa depan akan datang.</p>
<p><strong>REFLEKSI</strong>:</p>
<p>Secara umum dapat dikatakan bahwa setiap orang tidak dapat memastikan masa depannya. Namun, pada sisi lain, ada jaminan bagi orang yang percaya kepada TUHAN Allah, bahwa IA-lah yang telah menetapkan masa depan bagi umat-Nya, menjamin pemenuhannya dalam kehidupan mereka hari ini dan di masa yang akan datang. Menyibak rahasia ini, ada beberapa penekanan yang perlu disimak, yaitu antara lain:</p>
<p><em>Pertama</em>, “Orang yang dapat memastikan masa depannya ialah mereka yang memahami statusnya di hadapan Allah sebagai Umat Kesayangan-Nya” (Yohanes 1:12; I Petrus 2:9-10). Memahami status sebagai umat Allah memberikan kepastian bahwa di dalam DIA ada jaminan bagi masa depannya, karena TUHAN Allah memiliki rancangan masa depan sukses yang pasti bagi setiap orang yang adalah milik-Nya.</p>
<p><em>Kedua</em>, “Rancangan masa depan menjadi suatu niscaya, karena TUHAN Allah sendirilah yang menetapkan dan menjamin terwujudnya rencana kekal-Nya bagi umat-Nya.” Indikator kuat bagi kebenaran masa depan yang merupakan suatu niscaya ini adalah: 1. Ada pemulihan hubungan dengan TUHAN Allah (aspek rohani); 2. Ada pemulihan hubungan rumah tangga mewujudkan hubungan harmonis (aspek sosial); 3. Ada pemulihan hubungan ekonomi yang dilambangkan dengan memasuki serta memperoleh “tanah perjanjian TUHAN” (aspek kemakmuran ekonomi).</p>
<p><em>Ketiga</em>, “TUHAN Allah menjamin masa depan penuh harapan dapat dinikmati secara nyata oleh umat-Nya melalui: 1. Sikap iman dan pengharapan yang teguh kepada-Nya; 2. Ketetapan hati yang nampak dalam keberanian percaya kepada-Nya; 3. Ditandai dengan tindakan berkualitas mengandalkan DIA dengan mengerjakan masa depan dimulai dari hari ini.” Landasan kuat untuk kebenaran ini adalah, “Apabila Anda melalukan sesuatu yang nyata (hari ini), sesuatu yang nyata akan terjadi (hari besok), sepasti menabur (hari ini) di Tanah Perjanjian TUHAN (ladangmu) dan menuai (hari besok) berkat Perjanjian-Nya dengan kelimpahan dari pada-Nya. Kebenaran ini dipastikan oleh TUHAN Allah dalam Sabda-Nya: “<em>Orang pergi menabur benih di ladangnya, sambil bercucuran airmata. Ia pulang dengan menyanyi gembira membawa berkas-berkas panenannya</em>” (Mazmur 126:6 BIS).</p>
<p>Selamat memasuki “Tahun Pengharapan 2011” di dalam TUHAN Allah kita. Salam dan sukses di Tahun Baru 2011.</p>
<p>Salam doa,</p>
<p>Dr. Yakob Tomatala</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2010/12/31/tahun-pengharapan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>REFLEKSI: NATAL MEMBAWA REFORMASI-TRANSFORMASI SEJATI</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2010/12/16/refleksi-natal-membawa-reformasi-transformasi-sejati/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2010/12/16/refleksi-natal-membawa-reformasi-transformasi-sejati/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Dec 2010 09:04:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Information]]></category>
		<category><![CDATA[Perenungan]]></category>
		<category><![CDATA[natal membawa reformasi-transformasi sejati]]></category>
		<category><![CDATA[refleksi natal]]></category>
		<category><![CDATA[reformasi]]></category>
		<category><![CDATA[transformasi]]></category>
		<category><![CDATA[transformasi sejati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=315</guid>
		<description><![CDATA[“Lihatlah Aku menjadikan segala sesuatu baru” (Wahyu 21:5b) PENGANTAR Natal kita rayakan ditengah kenyataan meredupnya gaung REFORMASI yang telah bersusia lebih dari satu decade. Tatkala mengadakan evaluasi mengenai gerakan reformasi yang bergulir sejak tahun 1998, setidak-tidaknya ada tiga pendapat yang dapat dikemukakan, yaitu antara lain: 1. Penilaian optimistik yang mengetengahkan bahwa reformasi telah berhasil dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<em>Lihatlah Aku menjadikan segala sesuatu baru</em>” (Wahyu 21:5b)</p>
<p>PENGANTAR</p>
<p>Natal kita rayakan ditengah kenyataan meredupnya gaung REFORMASI yang telah bersusia lebih dari satu decade. Tatkala mengadakan evaluasi mengenai gerakan reformasi yang bergulir sejak tahun 1998, setidak-tidaknya ada tiga pendapat yang dapat dikemukakan, yaitu antara lain: 1. Penilaian <em>optimistik</em> yang mengetengahkan bahwa reformasi telah berhasil dengan segudang bukti, antara lain tegaknya demokrasi, adanya keterbukaan, tingkat kehidupan ekonomi Negara semakin menguat, dan sebagainya. 2. Penilaian <em>pesimistik</em> yang mengatakan bahwa reformasi gagal total, dengan mengetengahkan sejumlah alasan antara lain, hukum belum dijunjung tinggi, korupsi masih mearajalela, kesejahteraan rakyat masih terabaikan, dsb; dan 3. Penilaian <em>oportunistik</em> yang mengetengahkan sikap: setuju OK, tidak setuju OK, yang penting <em>kepentingan terpenuhi</em>, apapun kondisinya. Penilaian ini sangat bersifat egoisme, yang dijetuskan oleh mereka yang selalu mengail di air keruh, mengail di tambak orang, dengan slogan, “yang penting saya, masa bodoh dengan yang lain, yang penting bukan saya yang menjadi korban.”<span id="more-315"></span></p>
<p>Dalam merayakan Natal tahun ini, kita diajak untuk merenung sejenak tentang bagaimana menempatkan posisi diri terhadap segala sesuatu yang terjadi di dalam kita, di antara kita, dan di luar kita secara inklusif.</p>
<p>Siapa saya, apakah saya orang optimistik atau pesimistik atau oportunistik? Kalau saya optimistik, bagamana dengan kenyataan tentang kekurangan-ketimpangan yang terjadi di republik ini. Kalau saya pesismistik, bagaimana dengan kenyataan perubahan maju yang terjadi secara sektoral? Apakah saya cukup jujur melihat kenyataan dengan kacamata positif? Kalau daya oportunistik, apakah saya adalah manusia Indonesia sejati yang memiliki rasa tanggung jawab tinggi, ataukah saya melihat diri sebagai figuran belaka, bukan sebagai pelakon utama, anak negeri pembangun bangsa. Apakah saya menyadari bahwa dengan sikap ini, saya sesungguhnya pelarian, cangkokan,  bukan anak negeri sejati?</p>
<p>Tatkala merayakan Natal, kita sesungguhnya diajak untuk membatinkan kenyataan kebenaran Firman yang mengetengahkan Sabda TUHAN YESUS, “<em>Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru.</em>” Apa implikasinya bagi kita secara umum dan setiap diri secara individu? Sesungguhnya kebenaran Firman Allah ini menegaskan mengenai jaminan agar kita dapat menjadi pembawa pembaruan, pelakon utama pembangunan. Kebenaran ini juga memastikan bahwa reformasi – transformasi sejati dari Allah sedang bergulir yang memberikan optimisme positif bahwa “pembaruan sejati yang kita dambakan pasti terwujud di republik ini.”  Dalam upaya memahami kebenaran Firman Allah ini, maka ada beberapa kisi prinsipil yang akan kita renungkan, antara lain:</p>
<p>I.        <strong>NATAL MEMASTIKAN BAHWA PEMBARUAN SEJATI ADALAH ANUGERAH ALLAH YANG PASTI TERJADI</strong></p>
<ul>
<li>Apa sesungguhnya dapat dipahami dari kebenaran seputar Natal yang membawa pembaruan atau reformasi sejati yang merupakan anugerah Allah ini?</li>
</ul>
<p>A.      Natal memastikan bahwa Allah menggenapi janji-Nya membebaskan umat manusia dari dosa (Matius 1:21), melalui Yesus Kristus, Juruselamat, Pembaharu Sejati (Kisah Para Rasul 4:12).</p>
<p>B.      Natal memastikan bahwa pembaruan “manusia berdosa” hanya terjadi karena Allah terlibat didalamnya, dengan memberikan FIRMAN AGUNGNYA menjadi “manusia sejati” guna bersolider, berpihak kepada manusia membawa pembaruan sejati melalui pengorbanan Yesus Kristus (Yohanes 1:1-3, 14, 29; Matius 1:22). Dunia terlampau besar untuk dibaharui oleh seorang manusia, apakah dia presiden negara adidaya sekalipun. Dunia terlampau kompleks dan rumit untuk diatur oleh sekelompok orang yang namanya kongres, DPR/ MPR sekalipun. Dunia terlampau kacau untuk ditangani oleh kekuatan sebesar apapun. Namun, semuanya pasti berakhir di dalam sang Putra Natal, Pendamai sejati (Yohanes 14:6; Yesaya 32:17).</p>
<p>C.      Natal meneguhkan jaminan dari Allah bahwa penyertaan-Nya akan meneguhkan pembaruan sejati bersinambung yang menyentuh manusia dan segala bidang kehidupan (Matius 1:23).</p>
<p>IMPLIKASI:</p>
<p>1.      Natal memastikan bahwa Yesus Kristus Penyelamat yang bersabda, Lihatlah Aku menjadikan segala sesuatu baru,” pasti melaksanakannya.</p>
<p>2.      Natal memastikan bahwa “pembaruan Allah atas manusia berdosa” memberikan dinamika untuk mejadi manusia pembangun yang bebas KKN, taat dan menjunjung tinggi hukum dan keadilan, yang dapat pembawa sejahtera yang seadil-adilnya.</p>
<p>3.      Natal memastikan bahwa Allah sendirilah yang menjamin bahwa pembaruan atau reformasi sejati pasti terjadi, kini, di sini, dan masa yang akan datang, sehingga dari pulau dan benua ada pujian bagi-Nya atas shalom yang dianugerahkan-Nya kepada segala bangsa.</p>
<p>II.      <strong>NATAL MENEGASKAN BAHWA PEMBARUAN SEJATI MERUPAKAN SUATU KENISCAYAAN YANG PASTI DIALAMI</strong></p>
<ul>
<li>Apa sebenarnya keniscayaan pembaruan sejati dari Allah bagi manusia dalam kehidupannya kini, di sini dalam menyiarahi sejarah serta melakoni tanggung jawabnya?</li>
</ul>
<p>A.      Sesungguhnya Natal mempertegas bahwa pembaruan (reformasi-transformasi) sejati dari Allah, pasti di alami oleh setiap orang yang diperkenankan-Nya (Lukas 2:14).</p>
<p>B.      Natal mempertengas kepastian bahwa setiap orang yang diperkenankan Allah akan mengalami pembaruan sejati – yang tampak dalam “pembaruan diri, pembaruan budi menjadi manusia baru, manusia yang dimanusiakan Allah” (Roma 12:2a).</p>
<p>C.      Natal mempertegas tanggung jawab pengalaman pembaruan, yang meneguhkan menjadi agen pembaruan, yang membawa pembaruan sehingga dunia conform dengan “kehendak Allah, yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2b).</p>
<p>IMPLIKASI:</p>
<p>1.      Natal mempertegas, bahwa semua orang yang diperkenankan Allah pasti mengalami jamahan-Nya yang membawa pembaruan sejati (Yohanes 3:25).</p>
<p>2.      Natal mempertegas bahwa setiap orang yang telah diperbaharui Allah pasti mengalami pembaruan, sehingga ada pengalaman pembaruan yang membumi, kini dan di sini.</p>
<p>3.      Natal mempertegas bahwa setiap orang yang telah dibaharui pasti diteguhkan Allah menjadi agen pembaruan, yang membawa reformasi – transformasi yang telah dialaminya kepada dunia di makna ia diutus oleh TUHAN – Nya.</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p>Apa yang dinyatakan dan dijamin oleh Allah lewat Natal, diditeguhkan oleh Sabda-Nya, “<em>Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru</em>.” Dalam kaitan ini, kebenaran Natal menyatakan dan menjamin bahwa:</p>
<ol>
<li>Dalam TUHAN Yesus Kritus yang bersabda, “Lihatlah Aku menjadikan      segala sesuatu baru” pasti mengerjakan pembaruan (reformasi-transformasi) itu      bagi kita yang diperkenankan-Nya, yang menyentuh manusia dan segala bidang      hidup, sehingga reformasi – transformasi sejati pasti terjadi.</li>
<li>Dalam TUHAN Yesus      Kristus, pengalaman pembaruan (reformasi-transformasi) sejati akan kita alami, yang memberikan      dinamika menjadi agen pembaruan, sehingga oleh pertolongan-Nya kita dapat      mengamalkan reformasi – transformasi yang membawa shalom kepada      semua orang dalam segala bidang      hidup di tengah  masyarakat sipil di mana Allah mengutus dan menempatkan kita umat-Nya.</li>
</ol>
<p>TUHAN Yesus memberkati. Selamat Natal dan Selamat menyongsong Tahun Baru 2011.</p>
<p>Jakarta, 16 Desember 2010</p>
<p>Pelayan Firman,</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Pdt. Dr. Yakob Tomatala</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2010/12/16/refleksi-natal-membawa-reformasi-transformasi-sejati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>REFLEKSI NATAL: BANGKIT DAN MENJADI TERANG</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2010/12/15/refleksi-natal-bangkit-dan-menjadi-terang/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2010/12/15/refleksi-natal-bangkit-dan-menjadi-terang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Dec 2010 01:11:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Information]]></category>
		<category><![CDATA[Ministry]]></category>
		<category><![CDATA[Perenungan]]></category>
		<category><![CDATA[bangkit dan menjadi terang]]></category>
		<category><![CDATA[jari terang]]></category>
		<category><![CDATA[natal 2010]]></category>
		<category><![CDATA[refleksi natal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=311</guid>
		<description><![CDATA[“Terang yang sesunguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia” (Yohanes 1:9). PENGANTAR Natal 2010 kita syukuri dalam kondisi dunia yang semakin gelap karena berbagai kemelut, mulai dari bencana alam beruntun, pertikaian antar strata dan kelompok masyarakat, persoalan rumah tangga sampai pada kerumitan hidup setiap individu. Kenyataan “gelap” ini dapat dianalogikan dengan melihat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<em>Terang yang sesunguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia</em>” (Yohanes 1:9).</p>
<p>PENGANTAR</p>
<p>Natal 2010 kita syukuri dalam kondisi dunia yang semakin <em>gelap</em> karena berbagai kemelut, mulai dari bencana alam beruntun, pertikaian antar strata dan kelompok masyarakat, persoalan rumah tangga sampai pada kerumitan hidup setiap individu. <span id="more-311"></span></p>
<p>Kenyataan “gelap” ini dapat dianalogikan dengan melihat pengalaman umat TUHAN pada zaman Yesaya, dimana mereka asedang berada dalam kondisi sangat terjepit oleh tekanan musuh-musuh mereka. Kondisi “gelap” ini disebabkan oleh setidak-tidaknya dua faktor: <em>Pertama</em>, secara eksternal, ada persaingan antar bangsa, dimana satu bangsa akan berupaya mengungguli yang lainnya, dalam hal ini ada upaya untuk menaklukkan bangsa-bangsa lainnya. <em> </em></p>
<p><em>Kedua</em>, secara internal, umat Allah ternyata meninggalkan TUHAN-Nya, mereka berubah setia kepada-Nya, sehingga TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangan musuh-musuh mereka (Ulangan 28:15-68). Dalam kondisi seperti ini, tidak ada apa pun yang dapat diandalkan, sehingga Yeremia berucap, TUHAN berkata: “<em>Apabila orang meninggalkan Aku, TUHAN-nya, dan berharap kepada manusia serta bersandar kepada kekuatannya, maka Aku akan menghukum dia. Ia seperti tanaman yang tumbuh di padang, di tanah tandus, sunyi sepih dan bergaram, tak pernah ia mengalami kebaikan</em>” (Yeremia 17:5-6 BIS). Namun dalam hubungan intrinsik Natal, berlandaskan kasih dan setia TUHAN Allah yang kekal, IA bersabda, “<em>Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar. &#8230;. Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan nama-Nya disebut orang Penasehat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa Yang Kelal, Raja Damai. Besar kekuasaan-Nya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas tahta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya</em>” (Yesaya 9:1, 5-6).</p>
<p>Kebenaran ini memberikan cercahan harapan bahwa dalam kemelut sehebat apa pun, TUHAN akan menerangi kehidupan umat-Nya, dan menjadikan mereka teguh serta dapat berperan sebagai alat penerang-Nya bagi dunia yang tidak berpengharapan karena “<em>Terang yang sesunguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia”</em> (Yohanes 1:9). Dalam kaitan itu Allah bersabda: “<em>Terlalu sedikit bagimu hanya menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi</em>” (Yesaya 49:6). Menyimak kebenaran yang menunjuk kepada Yesus Kristus sebagai Putra Natal yang telah dijanjikan TUHAN (Yesaya 9:5-6; Matius 1:21), dan kebenaran seputar kehidupan umat Allah, maka kita bertanya, “apa sesungguhnya yang dimaksudkan-Nya bagi kita dalam berita Natal dari Firman-Nya ini?”</p>
<p><strong>I. </strong><strong>NATAL</strong><strong> ADALAH KUASA TRASFORMASI MENJADI ALAT </strong><strong> </strong><strong>PEM</strong><strong>BEBASAN</strong><strong> INTERNAL</strong><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<ul>
<li>Apa sesungguhnya makna dari pernyataan bahwa Natal adalah kuasa trasformasi menjadi alat pembebasan internal ini?</li>
</ul>
<p>A.      Natal menjelaskan bahwa Putra Natal, Yesus Kristus adalah Juruselamat yang oleh kuasanya IA mentransformasi hidup, meneguhkan status dan peran umat-Nya untuk menjadi alat pembangunan secara internal (Matius 1:21). Kebenaran ini menegaskan bahwa di dalam Putra Natal yang adalah<em> Penasehat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa Yang Kelal, Raja Damai </em>itu TUHAN Allah membawa perubahan yang menjadikan manusia berdosa sebagai hamba-Nya (Kisah para Rasul 4:12), yang memiliki status sebagai umat Allah dan berperan sebagai alat pembangunan internal untuk meneguhkan kehidupan umat-Nya. Alasan kuat untuk ini adalah bahwa TUHAN telah menetapkan kita menjadi umat-Nya, yang di dalamnya ada status sebagai hamba-Nya, yaitu status <em>Umat Perjanjian</em> untuk menikmati segala janji berkat Allah yang telah dijanjikan kepada umat-Nya (Kejadian 12:1-3; Galatia 3:29; Ulangan 28:1-14).</p>
<p>B.      Natal mengharuskan adanya sikap mengambil tanggung jawab untuk membangun diri dan sesama. Dalam hubungan ini, mereka yang telah mengalami pembebasan oleh Putra Natal itu memiliki kuasa serta tanggung jawab yang terkait di dalam panggilannya untuk mempersatukan dan meneguhkan kehidupan umat-Nya, yaitu “<em>menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara</em>” agar terpelihara, menjadi teguh serta tegar menghadapi kenyataan hidup yang merong-rong kehidupan serta persatuan umat TUHAN.</p>
<p>Implikasi:</p>
<p>1.      Natal menegaskan bahwa setiap orang Kristen harus membenahi dan mematutkan keyakinan dan sikapnya bahwa di dalam Kristus, mereka adalah manusia baru (II Korintus 5:17) yang telah mengalami transformasi kehidupan, dari manusia berdosa menjadi <em>umat kesayangan TUHAN Allah</em> (Kolose 3:5-11), yang meiliki jaminan Perjanjian Berkat TUHAN.</p>
<p>2.      Natal menegaskan bahwa mereka yang telah dibebaskan TUHAN Allah menjadi milik-Nya terikat kepada peran untuk membangun sesama, sehingga kehidupan Umat TUHAN menjadi teguh menghadapi kenyataan hidup yang sulit sekali pun (Galatia 6:1-10).  Dengan status sebagai umat Allah, melekat peran untuk menikmati dan menjadi alat shalom secara internal, untuk membangun diri menjadi umat keberkatan di dalam TUHAN.</p>
<p><strong>II. </strong><strong>NATAL </strong><strong>MEMILIKI KUASA REVITALISASI MENJADI ALAT EKSPANSI EKSTERNAL </strong><strong>MEMBAWA SEJAHTERA </strong><strong>BAGI BANGSA-BANGSA</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<ul>
<li>Apa sesungguhnya makna dari kebenaran bahwa Natal memiliki kuasa revitalisasi menjadi alat ekspansi eksternal ini?</li>
</ul>
<p>A.      Natal menegaskan adanya tindakan TUHAN Allah yang meneguhkan kehidupan Umat-Nya, sehingga mereka mejadi alat penerang, menyinari kegelapan. TUHAN Yesus berkata, “<em>Kamu adalah terang dunia</em>” (Matius 5:14a), yang berhubungan dengan sabda TUHAN Allah yang menegaskan:<em> </em>“<em>Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa</em>”<em> </em>yang menunjuk kepada kehendak Allah bagi Umat-Nya. Kehendak Alla ini ialah yaitu bahwa IA akan meneguhkan mereka menjadi alat penerang, untuk menerangi kehidupan bangsa-bangsa yang berada di dalam kegelapan.</p>
<p>B.      Natal memastikan bahwa umat Allah yang telah dijadikan-Nya <em>menjadi terang</em> harus berperan aktif menjadi penerang bagi bangsa-bangsa, guna memenuhi maksud-Nya yang kekal. Maksud TUHAN Allah yang kekal adalah agar shalom dari pada-Nya menggapai seluruh penjuru dunia., yaitu<em> </em>“<em>supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi</em>.” Kebenaran ini menegaskan bahwa tujuan Natal dari Allah itu bersifat inklusif, yaitu untuk memberkati bangsa-bangsa dengan keselamatan sempurna dari pada-Nya.  Keselamatan dari pada TUHAN Allah ini adalah jaminan bahwa <em>terang akan menerangi kegelapan</em>, sehingga kondisi yang semenggenas apa pun akan sirna dengan hadirnya terang TUHAN  yang dinyatakan oleh hidup dan peran serta Umat-Nya.</p>
<p>Implikasi:</p>
<p>1.      Natal memastikan bahwa umat TUHAN telah diteguhkan-Nya, sehingga mereka dapat menjadi alat penerang, guna memberkati bangsa-bangsa.</p>
<p>2.      Natal meneguhkan bahwa umat TUHAN adalah alat penerang yang dipakai-Nya, sehingga shalom-Nya dapat dinikmati oleh bangsa-bangsa.</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kebenaran tentang Natal menegaskan bahwa kondisi segelap apa pun, entahkah itu menyangkut petaka alam, kemelut sosial, persoalan rumah tangga dan kegalauan pribadi, semuanya akan berahkir pada TUHAN, karena Putra Natal itu adalah Penyelamat sempurna yang akan membawa pembaruan dan harapan di tengah kondisi tidak berpengharapan (Roma 5:1-11). Kuasa kehadiran-Nya dalam kehidupan umat Allah akan menerangi dan membawa transformasi internal, serta merevitalisasi untuk menjadi alat ekspansi eksternal membawa terang bagi bangsa-bangsa. Menyimak semua ini, ada beberapa penekanan yang harus ditegaskan, yaitu antara lain:</p>
<p>A.      Natal adalah penyataan kasih Allah yang membebaskan dari dosa dan maut, membawa transformasi kehidupan (II Korintus 5:17), sehingga umat kesayangan-Nya menjadi teguh dan mampu memerankan status sebagai alat pembangunan internal, yang mengokohkan kehidupan umat Allah sehingga mereka bersatu teguh dan menjadi berkat bagi sesama.</p>
<p>B.      Natal memastikan bahwa umat Allah yang telah diteguhkan TUHAN, direvitalisasikan-Nya menjadi alat penerang sehingga mereka dapat menjadi  pembawa berkat shalom, membawa “keselamatan” kepada bangsa-bangsa. Karena Firman TUHAN menegaskan “&#8230; <em>keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam DIA, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatan</em>” (Kisah Para Rasul 4:12). Kebenaran ini menjadi pasti, sebab Natal memastikan bahwa Anak laki-laki itu akan dinamakan Yesus, “<em>karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-nya dari dosa mereka</em>”  (Matius 1:21). Dengan pembebasan total oleh Putra Natal ini, Umat Allah dapat menjadi alat pembebasan bagi dunia yang gelap, sehingga “Terang yang sesunguhnya yang menerangi semua manusia menjadi nyata, kini, di sini, sekarang ini, dengan menjawab tantangan kegelapan yang merambah dunia.”</p>
<p>Dengan demikian Natal memberikan jaminan bahwa apa pun kondisi kehidupan umat TUHAN di tengah dunia yang bergejolak sekali pun, mereka akan diteguhkan-Nya untuk saling meneguhkan serta siap menjadi alat berkat dari TUHAN Allah kepada dunia yang gelap di mana mereka berada.</p>
<p>Selamat menjadi berkat, selamat membawa shalom yang kekal dari TUHAN Allah kepada gereja dan bangsa-bangsa. Selamat menjadi alat penerang TUHAN. Selamat Natal!! TUHAN  memberkati. Amin.</p>
<p>Pelayan Firman,</p>
<p>Pdt. Dr. Yakob Tomatala.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2010/12/15/refleksi-natal-bangkit-dan-menjadi-terang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>REFLEKSI KEPEMIMPINAN: BELAJAR DARI PENGALAMAN DISAKITI, APAKAH PANTAS BAGI PEMIMPIN UNTUK MEMBALAS BILA TERSAKITKAN</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2010/12/15/refleksi-kepemimpinan-belajar-dari-pengalaman-disakiti-apakah-pantas-bagi-pemimpin-untuk-membalas-bila-tersakitkan/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2010/12/15/refleksi-kepemimpinan-belajar-dari-pengalaman-disakiti-apakah-pantas-bagi-pemimpin-untuk-membalas-bila-tersakitkan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Dec 2010 01:03:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Information]]></category>
		<category><![CDATA[Perenungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=308</guid>
		<description><![CDATA[“Berbahagialah kamu, jika kamu dinista &#8230;..”  (I Petrus 4:14a). PENGANTAR Kehidupan adalah suatu proses, yang dahulu dilukiskan sebagai suatu pengembaraan. Pelukisan ini ada benarnya, dimana sebagai anak manusia, kita semua sedang mengembara, berkelana menjalani kehidupan di bumi di mana kita berada. Salah satu dari sekian banyak pengalaman yang dominan dalam pengembaraan kita yang sangat mempengaruhi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<em>Berbahagialah kamu, jika kamu dinista</em> &#8230;..”  (I Petrus 4:14a).</p>
<p>PENGANTAR</p>
<p>Kehidupan adalah suatu proses, yang dahulu dilukiskan sebagai suatu <em>pengembaraan</em>. Pelukisan ini ada benarnya, dimana sebagai anak manusia, kita semua sedang mengembara, berkelana menjalani kehidupan di bumi di mana kita berada. Salah satu dari sekian banyak pengalaman yang dominan dalam pengembaraan kita yang sangat mempengaruhi dari sisi negatif ialah “pengalaman disakitkan” atau “pengalaman perendahan.” Menyikapi pengalaman seperti ini dalam pengembaraan hidup, hal yang perlu untuk meneguhkan kita menjalani pengembaraan sebagai pemenang adalah “belajar dari hidup tentang hidup untuk hidup.”<span id="more-308"></span></p>
<p>Belajar dari hidup tentang hidup dan untuk hidup dapat dilakukan dengan mengadakan retrospeksi dan introspeksi secara retroaktif untuk memaknakan arti kehidupan dari suatu pengalaman yang akan memberikan nilai tambah bagi hidup. Dalam hubungan ini, patutlah ditanyakan, apakah Anda pernah mengalami perendahan dari seseorang atau dari sekelompok orang? Misalnya Anda difitnah, Anda di hina atau dilecehkan, sekali pun Anda  melakukan apa yang Anda anggap benar?</p>
<p>Apa sesungguhnya yang Anda rasakan pada saat-saat seperti ini? Adakah mudah bagi Anda untuk tersenyum menghadapi perendahan ini? Bukankah harga diri Anda sedang dirong-rong, dikoyak-koyakkan? Anda kan sedang tersakiti! Bagaimana kalau Anda membalas dengan merendahkan dia atau mereka yang melecehkan Anda? Bukankah Anda juga mempunyai hak untuk melakukan apa pun jika orang menista dan merendahkan Anda? Apalagi Anda sedang mengerjakan apa yang dianggap benar dan lagi, yang Anda lakukan adalah demi kepentingan organisasi serta banyak orang? Sekarang simaklah, bagaimana Anda menikmati perendahan itu sebagai seorang pemimpin:</p>
<p>1.       <strong>DISAKITKAN, APAKAH ANDA MEMBALAS JAHAT DENGAN JAHAT</strong>. Marilah kita renungkan. Setiap kita secara pribadi mempunyai hak untuk mempertahankan diri. Di sini dapat dikatakan bahwa adalah pantas bagi Anda untuk membela diri bahkan melakukan pembalasan terhadap siapa saja yang menyakitkan Anda.</p>
<p>Dan lagi, biasanya kalau Anda membalas, Anda akan merasa “plong begitu” karena karena Anda merasa impas bukan? Pada sisi lain, tidak membalas akan menanamkan “rasa kalah” yang juga akan merong-rong hidup Anda. Namun, <em>Anda adalah seorang pemimpin</em>! Apakah pantas bagi Anda untuk membalas jahat dengan jahat? Kalau Anda berdiam diri, bukan itu sikap yang merugikan? Sekarang, kalau Anda pernah mengalami perendahan, pertanyaan-pertanyaan di atas tentu dapat menguakkan <em>luka lama yang menyakitkan</em> karena pengalaman perendahan yang Anda alami itu. Namun, “mau tidak mau, Anda perlu menyikapi pengalaman perendahan ini, karena Anda adalah seorang pemimpin.” Melihat pengalaman seperti ini, apa sesungguhnya sikap yang harus ada pada kita? Bob Weiland mengatakan, “<em>Rasa sakit itu muncul ketika Anda menegok ke belakang</em>.”</p>
<p>Bagaimana memaknakan pengalaman seperti ini yang olehnya Anda dapat menempatkan diri sebagai pemenang atas pengalaman tersakitkan ini? Menjawab pertanyaan ini, ada beberapa sikap dasar yang harus diambil. <em>Pertama</em>,<strong> </strong>membalas “jahat dengan jahat” tidaklah selaras dengan kehendak TUHAN Yesus (Matius 5:38-45). Dapatlah ditegaskan, apa saja yang tidak selaras dengan kehendak TUHAN adalah dosa (Roma 14:23b). Kalau begitu, janganlah membalas jahat dengan jahat. <em>Kedua</em>, membalas “jahat dengan jahat” adalah tindakan yang merugikan diri sendiri, karena kita tergoda oleh kemauan orang yang menyakitkan kita, sehingga kita turut kehilangan kemuliaan (Roma 3:23; 14:13-18; Amsal 3:4). <em>Ketiga</em>, membalas “jahat dengan jahat” membuat kita terlilit rantai kejahatan (Matius 7:12).</p>
<p>Rahasia pembebasan dari belenggu ini adalah “mengampuni” sesuai ajaran TUHAN (Matius 6:12a; 18:21-35). <em>Keempat</em>, membalas “jahat dengan kebenaran dan kebaikan” menempatkan kita sebagai pemenang yang memiliki kesaksian bahwa “kita adalah anak-anak terang” yang menang atas kejahatan (Roma 12:19-21; Efesus 5:8-21). <em>Kelima</em>, membalas “kejahatan dengan kebenaran” akan membawa <strong><em>damai sejati</em></strong> bagi diri dan orang lain (Yesaya 32:17).</p>
<p>2.       <strong>DISAKITI, INI SESUNGGUHNYA SUATU PENGALAMAN LANGKA</strong>. Kalau bawahan disakiti dan tersakitkan, ini adalah hal biasa, karena ia tidak memiliki <em>kuasa</em>.<a href="#_ftn1">[1]</a> Bawahan yang disakitkan adalah sesuatu yang lumrah, karena ia ada pada kedudukan yang lemah, sehingga ia rentan tersakitkan oleh atasannya baik secara sengaja, atau pun secara tidak sengaja. Bawahan yang tersakitkan secara sengaja karena pemimpin menetapkan untuk menindakinya, atau memberikan teguran (reprimend) karena pelanggaran atau ketidak-disiplinan serta alasan lainnya. Bawahan pun dapat tersakitkan secara tidak senganja oleh atasan, mau pun rekan sejawatnya, karena berbagai alasan. Misalnya, sikap dan kata-kata pemimpin dapat membuat bawahan merasa tersinggung dan tersakitkan. Jadi adalah tidak mengherankan kalau bawahan tersakitkan dan menjadi pesakitan secara umum.</p>
<p>Namun, apabila pemimpin tersakitkan, ini sesungguhnya adalah pengalaman langkah baginya. Mengapa ini adalah pengalaman langkah? Pemimpin yang tersakitkan adalah pengalaman langkah karena pemimpin memiliki kuasa kepemimpinan yang olehnya ia dapat melakukan apa saja, termasuk membela diri dan menghukum bawahan atau siapa pun yang menyakitinya. Pada sisi lain, pemimpin yang tersakitkan dan balas menyakitkan, sedang menunjukkan “kekerdilan dirinya” sebagai pemimpin.<a href="#_ftn2">[2]</a> Jadi, pemimpin harus membuka hatinya untuk mencerna makna dari pengalaman tersakitkan ini, karena ini pengalaman langka dan unik yang tidak bakal terulang.<a href="#_ftn3">[3]</a> Pengalaman seperti ini tentu memiliki makna yang spesial bagi setiap pemimpin yang menghendaki menjadi arif yang akan bermanfaat bagi diri dan kepemimpinannya.</p>
<p>3.       <strong>DISAKITI, MERUPAKAN SUATU PELUANG BERHARGA UNTUK REFLEKSI DIRI</strong>. Pemimpin yang arif perlu menyikapi pengalaman disakitkan sebagai suatu peluang refleksi diri. Pengalaman disakiti yang dijelaskan sebagai peluang refleksi diri ini menjelaskan bahwa pemimpin yang tersakitkan harus mengadakan retrospeksi dan introspeksi diri untuk menjawab pertanyaan, apa yang sedang terjadi dengan dirinya? Setiap pengalaman interaktif dengan sesama, akan merefleksikan kondisi pengaruh timbal balik yang menarik. Pengalaman ini dapt diuraikan sebagai berikut: <em>Pertama</em>, Apabila pemimpin berniat baik, melakukan hal benar, adil dan diniatkan bagi kepentingan kepemimpinannya, ia bisa disalah mengerti, difitnah oleh mereka yang tidak menyukainya.</p>
<p>Pemimpinyang berniat baik seperti ini harus menyadari bahwa ia ada pada jalan benar. Ini dapat menjadi petanda ia sedang maju, karena pemfitnahan baginya akan lebih meneguhkannya secara positif, khususnya ia akan terbukti benar pada akhirnya, karena “<em>Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya</em>” (Amsal 11:3a). <em>Kedua</em>, Seandainya pemimpin tidak sengaja melakukan sesuatu sehingga ia memperoleh reaksi negatif, maka ia harus berupaya untuk mengkaji, sejauh mana kekeliruan atau pun kesalahan yang ditimbulkan oleh tindakannya. Cara ini dapat menolongnya untuk belajar memperbaiki dirinya. Ia dapat belajar mengatakan apa pun secara terencana dan bertanggung jawab (Pengkhotbah 10:12).</p>
<p>Berdasarkan pengalaman ini, pemimpin yang berhasrat baik untuk meneguhkan diri dan kepemipinannya akan memililih untuk mengubah dirinya ke arah yang positif, agar ia dapat mengubah orang lain. <em>Ketiga</em>, Seandainya pemimpin sengaja melakukan tindakan negatif, ia tentu harus bertobat. Penekanannya ialah karena seorang pemimpin yang bersikap negatif akan menuai dampak negatif dari tindakannya (Matius 7:12). Namun, kalau sang pemimpin mau menjadi arif, ia harus berhenti untuk bersikap negatif, karena sikap negatif hanya menggambarkan “kekonyolan dirinya” sendiri (Amsal 13:6b; Pengkhotbah 10:8). Jadi, periksalah diri, di mana Anda berada, sehingga dapat bebenah diri menjadi pemimpin arif yang memberkati!</p>
<p>4.       <strong>DISAKITI, MENOLONG MEMBUKTIKAN KEDEWASAAN KETAHANAN INTEGRITAS</strong>. Adalah tidak mengenakkan bila tersakiti sebagai seorang individu apa lagi sebagai seorang pemimpin. Persakitan ini dapat melukai jiwa, menggerogoti damai dan menghilangkan sukacita. Dalam hubungan ini, kalau Anda adalah seorang  yang rendah diri, Anda akan semakin terganggu, Anda meradang dan siap untuk bereaksi membalas untuk membuktikan bahwa kalau orang lain bisa melukai, Anda juga bisa balas melukai. Sendainya kalau Anda orang yang percaya diri, Anda bisa saja bersikap santai, tidak peduli, bahkan mengabaikan perendahan yang Anda terima.</p>
<p>Namun, biasanya tidak seperti ini. Siapa pun Anda, Anda akan merasa terganggu oleh perendahan dan penghinaan orang yang menyakitkan Anda, walau pun derajat ketergangguan ini berbeda pada setiap individu. Derajat ketergangguan seseorang sesungguhnya tergantung sepenuhnya pada kemampuan membuktikan kedewasaan diri (I Korintus 3:1).</p>
<p>Kalau Anda seorang yang dewasa, Anda akan bersikap seperti Rasul Paulus, “<em>Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah</em>;” (I Korintus 4:12b-13a). Mengapa sikap seperti ini adalah penting bagi para pemimpin? Sikap seperti ini penting, karena dengannya pemimpin membuktikan bahwa ia adalah pemimpin rohani (I Korintus 3:1-9; Galatia 5:16-26; 6:1-10) yang yang hidup seperti TUHAN-nya (I Yohanes 2:6), dewasa dan memiliki integritas diri yang kuat.</p>
<p>Pemimpin yang dewasa dan memiliki integritas diri yang kuat akan memuktikan bahwa ia adalah pemimpin yang <strong><em>memimpin dari hati</em></strong> (Yesaya 32:8), <strong><em>mengutamakan kasih Kristus</em></strong> (II Korintus 5:13-14: Yohanes 13:1-2, 34-35); dan membuktikan bahwa ia adalah pemimpin rendah hati karena ia belajar dari Kristus (Matius 11:28-130; Filipi 2:1-11; Bilangan 12:3) yang <strong><em>memimpin dalam kebenaran dan kebaikan</em></strong>. Di sini ia meneguhkan kehidupannya dengan hidup dalam kebenaran dan kebaikan (Filipi 4:5, <img src='http://yakobtomatala.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> sehingga ia dapat memimpin secara benar, jujur, adil dan membawa sejahtera bagi orang yang dipimpin, lingkungan dan dirinya (Yesaya 32:1-2; 17; I Petrus 5:1-4; Ibrani 13:7, 17).</p>
<p>5.       <strong>DISAKITI, ADA BAIKNYA SEBAGAI ANUGERAH BAGI PENGHORMATAN ABADI</strong>. Menengok uraian pada poin-poin di depan, dapat dikatakan bahwa “pengalaman disakitkan sebagai seorang pemimpin sesungguhnya sangatlah berharga bagi dirinya.” Pengalaman seperti ini sangatlah berharga, karena ini adalah langka bagi pemimpin, dan juga merupakan sesuatu anugerah TUHAN yang membawa kebaikan tertinggi bagi dirinya. Alasan kuat untuk pernyataan ini adalah: <em>Pertama</em>, kehidupan ini adalah anugerah TUHAN (II Korintus 4:1-18) yang olehnya bila pemimpin menyikapi perendahan bagi dirinya sebagai anugerah Allah, maka ia akan mengalami kebaikan dari sikapnya ini.</p>
<p>Ia akan siap belajar untuk membuat refleksi diri, “jangan-jangan sifat, sikap, pikiran, perasaan, kehendak, kata, dan tindakan saya yang menjadi pemicu perendahan dari orang lain.” Kalau begitu, “saya harus membenahi diri, berpikir benar, baik, sehat dengan mengatakan kebenaran menggunakan cara yang benar, sehingga kebenaran mendarat di hati orang, yang olehnya orang diberkati dan balas memberkati.” <em>Kedua</em>, pengalaman perendahan yang disikapi sebagai anugerah TUHAN menyebabkan pemimpin menjadi lebih dewasa dan tahan banting.</p>
<p>Pemimpin yang dewasa akan lebih peduli dengan orang lain, ia lebih mendahulukan kebenaran dari kepentingan diri, ia akan lebih memperjuangkan kepentingan organisasi. Sikap ini akan meneguhkan kepemimpinan yang indikatornya; “akan ada kesatuan, persatuan dan sejahtera yang terbagi untuk semua pihak.”</p>
<p>Pemimpin dewasa yang tahan banting akan menyikapi perendahan yang akan datang nanti sebagai “hal biasa, bukan luar biasa” karena ia tahu akan ada manfaat baginya, dan akan ada jalan keluar yang hebat dari TUHAN yang akan memberkatinya (I Korintus 10:13). Pemimpin yang mengalami pengalaman tersakitkan dan menyikapinya secara dewasa, membuktikan bahwa ia mendahulukan kehendak Allah (tidak membalas jahat dengan jahat); ia membuktikan diri sebagai pemimpin rohani (yang memimpin dari hati, berlandaskan kasih dari kekuatan kebenaran kebaikkan), dengan memperjuangkan kepentingan yang lebih besar dari dirinya (kepentingan organisasi) sehingga ia menjadi pemimpin yang memberkati banyak orang. Ini adalah pemimpin <strong><em>sejati</em></strong>, pemimpin <strong><em>arif</em></strong><em> </em>yang tahan banting dalam kondisi apa pun menyiarahi pengembaraan hidup dan kepemimpinannya, yang akhirnya ia dihormati Allah dan manusia (Amsal 3:4; Daniel 12:3).</p>
<p><strong>PRINSIP MENYIKAPI PERENDAHAN DALAM KEPEMIMPINAN</strong>:</p>
<p>Berdasarkan uraian di atas, kita tentu dapat belajar bahwa kenyataan pemimpin yang disakitkan ini adalah suatu pengalaman langka, peluang refleksi diri, anugerah Allah, tanda kedewasan serta penghormatan abadi. Pada sisi lain, jika TUHAN Allah berfirman: “<em>Berbahagialah kamu, jika kamu dinista</em> &#8230;..”  (I Petrus 4:14a)., tentu IA memiliki maksud abadi dari penistaan yang dialami oleh anak-anak-Nya. Kalau begitu, pemimpin sejati yang arif yang dapat menikmati perendahan sebagai kebahagiaan, harus menyikapinya secara bijaksana. Dalam hal ini, pemimpin harus menyikapi perendahan dengan menggunakan sikap mulia, sikap anggun yang olehnya ia menikmati berkatnya dan siap memberkati orang lain. Alasan kuat bagi sikap mulia yang memberkati dari pengalaman perendahan ini dapat dilihat pada:</p>
<ul>
<li>Contoh agung dari <em>pemimpin berhati mulia</em> yang tidak bergeming walau pun mengalami penghinaan, dapat dilihat dari kehidupan <strong><em>Yusuf</em></strong> yang tidak mendendam (Kejadian 37; 45), <strong><em>Musa</em></strong> yang memberkati  walau pun dihina (Bilangan 12), dan <strong><em>Daud</em></strong> yang tidak membalas kejahatan dengan kejahatan sekapi pun ada perendahan atas dirinya (I Samuel 24:5-8; 26:7-11; II Samuel 16:5-14). Sikap inilah yang menjelaskan apa dan mengapa perendahan itu adalah suatu berkat TUHAN yang melengkapi pemimpin untuk membuktikan diri sebagai pemimpin arif yang memberkati orang lain.</li>
<li>Pemimpin yang menyikapi perendahan dengan menolak membalas jahat dengan jahat, adalah pemimpin yang keberkatan, karena ia pasti diberkati dengan mendahulukan <em>kehendak Allah</em> (Kejadian 12:1-3; Ulangan 28:1-14), mempertahankan harkatnya sebagai <em>pemimpin rohani</em> (Galatia 6:1), dan memperjuangkan <em>kepentingan orang lain</em>, bukan mempertahankan dirinya (Matius 16:24-26), sehingga ia tidak kehilangan apa-apa. Ia malahan memperoleh semuanya, yaitu bumi (Matius 5:5)</li>
<li>Pemimpin yang menyikapi perendahan sebagai peluang anugerah dari TUHAN Allah adalah dia yang akan bertahan ke akhir, sekali pun yang lain berguguran.  Sikap ini meneguhkan pemimpin untuk menjalani pengembaraan hidup dan kepemimpinannya dengan menerapkan prinsip keabadian dari perendahan sesuai dengan maksud mulia dari TUHAN. Hal ini dapat terjadi karena pemimpin menyadari bahwa penderitaan akibat perendahan itu berakhir pada TUHAN yang dapat memanfaatkan segala seuatu dengan bekerja di dalamnya bagi kebaikan orang yang mengasihi DIA  (II Korintus 4:16-18; Roma 8:28).</li>
<li>Apakah Anda mempunyai pengalaman seperti ini? Berbahagialah Anda dengan menyikapinya secara benar, baik dan sehat, sehingga TUHAN Allah dimuliakan (Roma 11:36); dan Anda telah siap menjadi berkat bagi dunia di mana TUHAN menempatkan Anda.</li>
</ul>
<p><strong>Selamat menyikapi perendahan secara benar demi keberhasilan kepemimpinan</strong>!!!</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Salam dan doa,</p>
<p>Dr. Yakob Tomatala</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Lihat konsep <em>Kuasa Kepemimpinan</em> yang telah diuraikan sebelumnya dalam web ini.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Lihat contoh Yesus Kristus yang tersakitkan oleh penghianatan Yudas Iskariot, namun ia tidak balas menyakiti Yudas, Ia bahkan membiarkan diri disakiti oleh penghianatan itu, ia menikmatinya. Lihat juga pengalaman Raja Daud yang dikutuki Simei dalam II Samuel 16:5-13.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Kalau sang pemimpin adalah orang sulit dan suka menyakitkan sebagai bagian dari karakter, sifat dan caranya, maka tidak usalah diherankan bahwa ia akan memperoleh reaksi setimpal atas kebiasaannya, dimana kepemimpinannya akan ditandai oleh situasi galau, kacau dan tidak menyenangkan (Matius 7:12).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2010/12/15/refleksi-kepemimpinan-belajar-dari-pengalaman-disakiti-apakah-pantas-bagi-pemimpin-untuk-membalas-bila-tersakitkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MEMBANGUN SIKAP: MENGAPA HARUS MENJADI PEMIMPIN PEMBAWA DAMAI</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2010/10/05/membangun-sikap-mengapa-harus-menjadi-pemimpin-pembawa-damai/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2010/10/05/membangun-sikap-mengapa-harus-menjadi-pemimpin-pembawa-damai/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Oct 2010 02:03:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Karakter Kepemimpinan]]></category>
		<category><![CDATA[Perenungan]]></category>
		<category><![CDATA[Damai]]></category>
		<category><![CDATA[Pembawa Damai]]></category>
		<category><![CDATA[Pemimpin]]></category>
		<category><![CDATA[Pemimpin Pembawa Damai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=276</guid>
		<description><![CDATA[“Berbahagialah orang yang membawa damai&#8230;.” (Matius 5:9a) PENGANTAR Damai, peace adalah kata yang merupakan dambaan semua orang. Namun, apa sesungguhnya makna damai itu, dilihat dari sisi hakikat, sifat dan dinamikanya? Menjawab pertanyaan ini, dapatlah dikatakan bahwa secara hakikat, damai adalah “a state of peaceful” yang holistik dengan sifat dan dinamikanya yang kuat. Damai secara substansial [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<em>Berbahagialah orang yang membawa damai</em>&#8230;.” (Matius 5:9a)</p>
<p>PENGANTAR</p>
<p>Damai, <em>peace</em> adalah kata yang merupakan dambaan semua orang. Namun, apa sesungguhnya makna damai itu, dilihat dari sisi hakikat, sifat dan dinamikanya? Menjawab pertanyaan ini, dapatlah dikatakan bahwa secara hakikat, damai adalah “a state of peaceful” yang holistik dengan sifat dan dinamikanya yang kuat. Damai secara substansial adalah <em>keadaan sejahtera yang penuh</em> (whole/ holistic) yang dibangun di atas dan di dalam kebenaran (Yesaya 32:17). Damai yang substansial ini sifatnya teguh karena melekat pada harkat Allah dan atribut-Nya, yang olehnya kehadiran-Nya adalah kehadiran damai, karena IA adalah sumber damai sejati. Dengan demikian, tatkala Allah hadir dalam kehidupan dan pengalaman setiap orang, maka di situ ada damai dalam arti yang sebenarnya (Yohanes 8:31-32). <span id="more-276"></span></p>
<p>Pada sisi lain, patutlah ditanyakan, apa sih dan sejauh mana pentingnya bagi seorang pemimpin untuk menjadi pembawa damai?  Menjadi pemimpin pembawa damai itu penting, sepenting sabda Allah: “<em>Berbahagialah orang yang membawa damai</em>.” Namun patut pula ditanyakan, apa untungnya bersikap sebagai pemimpin pembawa damai dan apa ruginya menjadi pemimpin yang arogan? Simaklah:</p>
<p><strong>1. </strong><strong>MEMBAWA DAMAI ITU KARAKTERISTIK PEMIMPIN BERKUALITAS</strong>.</p>
<p>Pemimpin pembawa damai menjelaskan tentang adanya karakeristik kuat pada diri pemimpin. Karakteristik kuat ini merupakan <em>inner being</em> dari dirinya sebagai seorang pemimpin rohani (Yesaya 32:8). Inner being atau jati diri pemimpin ini ditandai melalui ekspresi diri sebagai hidup dalam kebenaran dan keadilan dengan membawa sejahtera (Yesaya 32:1-2), sebagaimana sabda Allah, “<em>Dimana ada kebenaran, di situ akan tumbuh damai sejahtera</em>” (Yesaya 32:17a). Berdasarkan uraian di depan ini, maka dapatlah dikatakan bahwa pemimpin pembawa damai adalah pemimpin yang hidup dalam kebenaran, keadilan dan sejahtera. Dengan penegasan ini dapat dikatakan bahwa karakteristik utama dari pemimpin pembawa damai adalah “hidup dalam kebenaran yang dihidupi dalam keadilan yang berbuahkan sejahtera.” Dalam hubungan ini, pemimpin yang hidup dalam kebenaran sajalah yang dapat menjadi pembawa damai (Yakobus 3:13, 17-18). Kekuatan kebenaran yang ditandai oleh hikmat akan menguasai pikiran, sikap dan kata dan tindakannya, sehingga ia melahirkan “buah yang terdiri dari kebenaran ditabur dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai” (Yakobus 3:17).</p>
<p><strong>2. </strong><strong>DAMAI DAN MEMBAWA DAMAI ITU ISI HATI PEMIMPIN.</strong></p>
<p>Pemimpin pembawa damai hanya dapat melakukan perannya apabila ia hidup dalam kebenaran, karena kebenaran adalah isi hatinya (Yesaya 32:8). Kebenaran hanya akan ada dalam dan pada pemimpin jika ia telah dibebaskan oleh <strong><em>Sang Kebenaran</em></strong> (Yohanes 14:6), yang olehnya hidupnya dibaharui (II Korintus 5;17) sehingga ia mampu hidup dan mengamalkan kebenaran (Yohanes 8:31-32; 14:27). Dalam hubungan ini dapatlah dikatakan bahwa pemimpin pembawa damai akan selalu hidup dalam kebenaran dan mengimpartasi kebenaran dalam hidup dan baktinya sehingga setiap orang yang dipimpinnya akan mengalami sentuhan nilai dan kekuatan kebenaran yang membawa damai kekal (Daniel 12:3).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>3. </strong><strong>MEMBAWA DAMAI ADALAH KEKUATAN INTEGRITAS PEMIMPIN</strong>.</p>
<p>Pemimpin pembawa damai membuktikan kekuatan integritas karakternya, karena kebenaran yang dihidupinya secara bertanggung jawab, yang dibuktikannnya dengan menjauhkan diri dari kejahatan (Ayub 28:28). Dalam kaitan ini, pemimpin hanya dapat membuktikan diri sebagai pembawa damai, bukan saja karena kebenaran Allah ada padanya, tetapi ia menghidupinya dan menjadikannya sebagai bagian dari dirinya.  Dengan membawa damai, pemimpin mengekspresikan kekuatan integritas dirinya yang tidak kurang dari “pembawa damai” yang dinyatakan dalam kebenaran dalam pikiran, sikap, kata dan tindakan yang memperlihatkan adanya kebenaran, kabaikan hati, kemuliaan, keadilan, kesucian, kemanisan, kesedapan, kejujuran, dan kepatutan (Filipi 4:5, 8-9; Amsal 13:6; 10:28-29, 32), karena “<em>Siapa bersih kelakuannya aman jalannya</em>” (Amsal 10:9).</p>
<p><strong>4. </strong><strong>MEMBAWA DAMAI ADALAH CITRA KEPEMIMPINAN YANG KUAT</strong>.</p>
<p>Membawa damai adalah citra kepemimpinan yang kuat, karena dengan membawa damai, ia sedang mencitrakan kepemimpinannya yang berkualitas.  Pemimpin yang kerjanya membawa damai memahami bahwa “<em>Orang yang menggunakan kekerasan menyesatkan sesamanya, dan membawa dia di jalan yang tidak baik</em>” (Amsal 16;29). Karena itu pemimpin pembawa damai mencitrakan diri sebagai pemimpin yang tahu menjaga hatinya (Amsal 4:23), dengan berbijak hati (Amsal 10:8), sehingga kelakuannya bersih (Amsal 10:9), kata-katanya seperti “perak pilihan” (Amsal 10:20) dan “membawa kehidupan” (Amsal 10:11). Secara praktis, pencitraan diri pemimpin pembawa damai akan membawa ketenteraman, sukacita dan sejahtera kepada semua orang yang ada di sekitarnya. Pemimpin pembawa damai mencitrakan diri sebagai pemimpin berhikmat sehingga kehadirannya diidamkan, kata-katanya bertuah dan tindakannya membawa berkat.</p>
<p><strong>5. </strong><strong>MEMBAWA DAMAI MENEGUHKAN KEPEMIMPINAN. </strong></p>
<p>Dengan membawa damai,<strong> </strong>pemimpin sesungguhnya sedang meneguhkan kepemimpinannya, karena Firman Allah menegaskan, “<em>Kebenaran meninggihkan derajat bangsa, tetapi dosa adalah noda bangsa</em>” (Amsal 14:34). Pemimpin pembawa damai yang hidup dalam kebenaran sedang menegaskan nilai-nilai kuat dari dirinya. Nilai-nilai kuat inilah yang meninggihkan kapasitas dan derajat diri dan kepemimpinannya. Nilai-nilai kuat pemimpin pembawa damai ini pada gilirannya akan berimbas kepada penguatan terhadap organisasi. Pemimpin pembawa damai yang hidup dalam kebenaran akan menampakkan keluhuran dan keagungan nilai anutannya yang akan meneguhkan diri dan orang yang dipimpinnya. Dalam hubungan ini kepemimpinan pemimpin pembawa damai akan ditandai damai sejahtera di tengah kekacauan dan kerumitan hidup, yang menggambarkan keuletan diri dan kekuatan kepemimpinan yang sedang diembannya dengan menghidupi kebenaran.</p>
<p><strong>PRINSIP YANG MENOPANG SIKAP PEMBAWA DAMAI</strong>.</p>
<p>Mencermati uraian di atas, dapat dikatakan bahwa pemimpin pembawa damai adalah pemimpin berkualitas tinggi, yang olehnya ia dapat memimpin secara berkualitas pula. Prinsip yang dapat diangkat dari harkat dan sifat kepemimpinan pembawa damai ini adalah antara lain:</p>
<p><em>Pertama</em>, Pemimpin pembawa damai adalah pemimpin yang hidup dalam kebenaran yang terpatri di hatinya oleh anugerah TUHAN Allah, serta terwujud melalui sifat, sikap, kata dan perbuatannya.</p>
<p><em>Kedua</em>, Pemimpin pembawa damai adalah pemimpin yang selalu mengamalkan kebenaran dalam sikap, kata dan perbuatan yang selalu terbukti konsisten dalam keseharian hidupnya.</p>
<p><em>Ketiga</em>, pemimpin pembawa damai adalah pemimpin yang selalu menandakan integritasnya dengan selalu menjadi pelaku damai dalam lingkungan di mana ia hadir.</p>
<p><em>Keempat</em>, pemimpin pembawa damai selalu mencitrakan diri sebagai pemimpin yang terus menerus membawa pembebasan dan pemerdekaan dengan memberkati semua orang melalui sifat, sikap, kata dan perbuatannya.</p>
<p><em>Kelima</em>, pemimpin pembawa damai akan menjadi peneguh bagi kepemimpinannya, karena dengan membawa damai, kepemimpinannya akan tetap langgeng di tengah kekacauan, dimana dari kepemimpinannya akan mengalir kekuatan yang meneguhkan. Dalam semuanya ini, kepemimpinan pemimpin pembawa damai akan terus eksis di tengah kenyataan tersulit sekalipun, karena di dalamnya ada kekuatan besar (Amsal 14:26).</p>
<p><strong>RAMPUNGAN</strong></p>
<p>Melihat uraian sebelumnya tentang pemimpin pembawa damai, dapatlah dikatakan bahwa pemimpin pembawa damai itu hidup dalam kebenaran yang beranjak dari hatinya yang terjaga baik, sifat, sikap dan kata-kata serta perbuatannya yang memberkati banyak orang. Menjadi pemimpin pembawa damai dalam hal ini adalah pilihan terbaik dan berkualitas, dibanding dengan menjadi pemimpin yang membawa kekacauan. Pemimpin pembawa damai adalah pemimpin yang akan selalu membawa berkat bagi banyak orang melalui hidup, kata dan perbuatannya di mana saja ia berada. Dalam keadaan tersulit sekalipun, pemimpin pembawa damai akan terus hidup dalam kebenaran serta berbagi damai yang membawa sejahtera, dimana “<em>Hati orang bijak menjadikan mulutnya berakal budi dan menjadikan bibirnya lebih dapat dipercaya</em>” (Amsal 16:23). Karena itu, kehadiran pemimpin pembawa damai akan selalu didambakan dan kontribusinya dalam menjalankan upaya memimpin yang membawa kesejahteraan bagi banyak orang selalu ditunggu. Kepemimpinannya akan selalu diidamkan. Karyanya akan terus melegenda dalam jiwa semua yang dipimpinnya. Nilai kehidupan luhurnya akan menjadi kenangan abadi yang dituturkan dari generasi ke generasi dengan aroma berkatnya.</p>
<p>Selamat membuktikan diri sebagai <em>pemimpin pembawa damai</em> bagi kemuliaan TUHAN Yesus Kristus dan selamat menjadi berkat dalam kepemimpinan yang sedang diemban. TUHAN Allah kiranya memberkati dengan limpahnya. Terimakasih</p>
<p>Motivator,</p>
<p>Dr. Yakob Tomatala</p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2010/10/05/membangun-sikap-mengapa-harus-menjadi-pemimpin-pembawa-damai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AWAS, PEMIMPIN JANGAN MEMBIARKAN DIRI DIJILAT-JILAT</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2010/09/22/awas-pemimpin-jangan-membiarkan-diri-dijilat-jilat/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2010/09/22/awas-pemimpin-jangan-membiarkan-diri-dijilat-jilat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Sep 2010 05:02:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Information]]></category>
		<category><![CDATA[Karakter Kepemimpinan]]></category>
		<category><![CDATA[Perenungan]]></category>
		<category><![CDATA[awas penjilat]]></category>
		<category><![CDATA[KEPEMIMPINAN]]></category>
		<category><![CDATA[Pemimpin]]></category>
		<category><![CDATA[penjilat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=270</guid>
		<description><![CDATA[“Orang yang menjilat sesamanya membentangkan jerat di depan kakinya”  (Amsal 29:5). PENGANTAR Kepemimpinan melibatkan banyak orang, mulai dari pemimpin puncak dan para pemimpin, para manajer, para administrator serta semua bawahan. Orang-orang ini terhimpun dalam suatu organisasi yang juga melibatkan berbagai kepentingan. Kepentingan-kepentingan ini dapat digolongkan dalam dua sisi, yaitu 1. Kepentingan organisasi, yang merupakan kepentingan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<em>Orang yang menjilat sesamanya membentangkan jerat di depan kakinya</em>”  (Amsal 29:5).</p>
<p>PENGANTAR</p>
<p>Kepemimpinan melibatkan banyak orang, mulai dari pemimpin puncak dan para pemimpin, para manajer, para administrator serta semua bawahan. Orang-orang ini terhimpun dalam suatu organisasi yang juga melibatkan berbagai kepentingan. Kepentingan-kepentingan ini dapat digolongkan dalam dua sisi, yaitu 1. Kepentingan organisasi, yang merupakan kepentingan utama, kepentingan bersama yang harus diutamakan. 2. Kepentingan pribadi, dari setiap unsur manusia terkait dalam organisasi. Untuk kepentingan pertama, orang cenderung membuktikan secara umum bahwa mereka mementingkan organisasi dengan “bekerja keras” misalnya. Namun, soal pementingan kepentingan organisasi ini akan teruji dengan mencaritahu sejauh mana kepentingan pribadi terkait di dalamnya. Dalam hubungan inilah akan terlihat siapa sesungguhnya yang memperjuangkan kepentingan organisasi dan siapa sesungguhnya yang pemperjuangkan kepentingan pribadi. Pada sisi yang kedua inilah akan terbukti siapa pejuang organisasi yang sejati, siapa manusia asal jadi, siapa penggembira, siapa penonton, dan siapa penjilat. Mencermati semua ini, kini muncul pertanyaan, “apakah pantas bagi pemimpin membiarkan dirinya dijilat-jilat oleh penjilat?” Marilah kita simak bersama:</p>
<p><span id="more-270"></span></p>
<p>1.       <strong>MEMAHAMI PARA PENJILAT DISEKITAR ANDA SEBAGAI PEMIMPIN</strong>. Setiap orang dikenal dari apa yang diperjuangkannya, karena “Anda akan selamanya menjadi apa yang Anda pikirkan, apa yang Anda katakan dan apa yang Anda lakukan.” Ini dapat dibaca lho, hanya, pemimpin sejati tidak cepat curiga, ia mawas diri dan membiarkan waktulah yang membuktikan siapa sesungguhnya para penjilat sejati! Karena itu, pemimpin sejati dapat mengindentifikasi, siapa manusia sejati yang memperjuangkan kepentingan organisasi, dan siapa manusia penjilat di sekitarnya. Para penjilat atau <em>ingrasiator</em> adalah orang yag suka mendekati pemimpin secara berlebihan dengan sikap seolah ingin menjadi tangan kanan utama. Bagaimana mengenal para penjilat ini? <em>Pertama</em>, para penjilat kelihatannya sebagai anjing peliharaan yang jinak pada mulanya. Mereka akan selalu mengatakan <em>ya Pak</em>, <em>baik Pak</em> demi menyenangkan pemimpin bagi kepentingan mengambil hati, mencuri hati, menguasai hati pemimpin untuk merebut kepercayaan pemimpin kepada dirinya, agar ia dapat dijadikan tangan kanan utama dari pemimpin. Di sini penjilat bersikap sangat suka menolong pemimpin. Penjilat secara berlebihan memamerkan bahwa ia membela kepentingan pemimpin, dan selalu berpihak terang-terangan kepada pemimpinan. <em>Kedua</em>, para penjilat biasanya memiliki agenda yang tidak tertulis, tetapi dapat dibaca oleh pemimpin yang bijaksana. Agenda itu isinya adalah “menjadi penguasa dibalik kekuasaan pemimpin.” Keinginan berkuasa ini sesungguhnya sudah nampak dari awal, yaitu “ia berupaya menyita perhatian pemimpin bagi dirinya” yang dikakukan secara licik. Untuk tujuan ini, ia akan menyingkirkan siapa saja yang berupaya mendekati pemimpin yang dilakukannya dengan cara apa pun. Pemimpin sejati perlu tahu bahwa di sini si penjilat sesungguhnya sedang berupaya merebut kekuasaan pemimpin secara licik pula. <em> </em></p>
<p><em>Ketiga</em>, para penjilat akhirnya memperlihatkan taringnya sebagai “serigala sejati,” tatkala ia memperoleh kepercayaan, khususnya berhasil menguasai kepemimpinan. Kalau si penjilat belum berhasil mnenjadi pemimpin tertinggi, ia akan menggunakan tangan pemimpin untuk menindas sesama. Ia akan selalu mengatakan “menurut bos, &#8230; ini perintah bos &#8230;! Kalau ia sudah menjadi penguasa, ia akan terbukti mendominasi semua bagi dirinya. Ia terbukti tidak memperjuangkan kepentingan organisasi! Ia tidak peduli dengan siapa pun kecuali dirinya, ia mendominasi apa pun dan siapa saja! Ia akan bersikap defensif yang arogan atas apa dan siapa saja. Inilah saat-saat loceng kematian organisasi berdentang dengan sendirinya. Indikatornya, akan ada sikap suka-tidak suka, pencideraan, dan pihak memihak, perpecahan. Kesatuan dalam organisasi pecah, banyak persoalan tidak terselesaikan muncul silih berganti, lalu sirna meninggalkan luka-luka batin. Apa akibat dari keadaan seperti ini? (Baca: Amsal 29:2,7-16).</p>
<p>2.       <strong>PEMIMPIN SEJATI DAN PENJILAT SEJATI</strong>. Pemimpin sejati hidup dalam kebenaran dan melakukan keadilan, serta membawa sejahtera bagi semua orang dalam kepemimpinannya (Yesaya 32:8, 1-2, 17; Amsal 29:14). Pemimpin sejati dapat mengenal para penjilat karena ia sendiri bukan penjilat. Pemimpin sejati perlu mengingat bahwa para penjilat itu seungguhnya “serigala berbuluh domba.” Ia mempunyai kepentingan utama yaitu dirinya sendiri, dan agenda utamanya ialah, <em>penjadi penguasa atau pendominasi sesungguhnya</em> dengan berupaya menggunakan tangan pemimpin sebagai langkah awalnya. Di sini, pemimpin sejati harus menetapkan sikap bijak terhadap para penjilat.  <em>Pertama</em>, Pemimpin sejati berhati mulia dan tidak memberikan kesempatan merekrut dan mengangkat “anak emas” bagi dirinya, karena para penjilat suka diangkat menjadi anak emas, anak kesayangannya si bos. Inilah ciri utama para penjilat, “anak emasnya si bos.” <em>Kedua</em>, Pemimpin sejati dengan hati mulia akan menangkal para penjilat dengan memperlakukan setiap orang di sekitarnya dengan sikap bijakasana. Ia akan memberlakukan sikap mengasihi sama rata, dengan memperhatikan dan memperjuangkan kepentingan semua pihak (Yohanes 13:34-35; Filipi 2:1-4). Pemimpin sejati tahu bahwa “kalau kepentingan organisasi diperjuangkan bersama, maka organisasi akan teguh dan kepemimpinan akan berhasil dengan membawa sejahtera bagi semua pihak.” <em>Ketiga</em>, Pemimpin sejati memenangkan pertarungan mengatasi para penjilat melalui sikap pembuktian diri sebagai <em>pemimpin rohani yang altruis</em> yang “mementingkan kepentingan sesama, yaitu sama rata sama rasa” (Galatia 6:1-10) dengan berbuat kebenaran dan kebaikan (Filipi 4:5,8-9), sehingga semua pihak menikmati sejahtera dan diberkati dalam kepemimpinannya.</p>
<p>3.       <strong>PEMIMPIN SEJATI DAN MENJILAT-JILAT</strong>. Pemimpin sejati tidak akan membiarkan dirinya dijilat-jilat, karena ia tidak memiliki borok untuk dijilat oleh anjing. Pemimpin sejati rendah hati dan selalu mawas diri, untuk menjauhkan kejaharan dari padanya (Ayub 28:28). Pemimpin sejati akan bersikap bijaksana sehingga ia akan mampu memisahkan “sanga dari perak,” dengan memberlakukan kebenaran dan kebaikan dengan komitmen bersama yang teguh untuk perjuangan bersama demi kebersamaan, sehingga ia dapat menujuk <em>hidungbelangnya </em>si penjilat (I Raja-raja 3:16-28). Sikap pemimpin seperti ini nanti akan membuat mereka yang suka menjilat akan terjulur lidahnya dan kelelahan, karena pemimpin terbukti kokoh dan tidak dapat dijilat.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>PRINSIP MENYIKAPI PENJILAT DALAM KEPEMIMPINAN</strong>:</p>
<p>Berdasarkan uraian di atas, kita tentu dapat belajar bagaimana menjadi pemimpin sejati yang tidak membesarkan para penjilat, sehingga kesatuan dan kebersamaan organisasi dapat terbina secara harmonis dan mendatangkan keberhasilan dalam kepemimpinan. Kalau begitu, ingatlah prinsip di bawah ini:</p>
<ul>
<li>Jadilah pemimpin sejati yang mengenal serta <em>memberlakukan kebenaran dan keadilan</em> dalam kepemimpinannya (Yesaya 33:15-16; Yohanes 14:6; 8:30-36; Efesus 5:8-11), sehingga ia terhindar dari sikap memihak-mihak yang salah, terhindar dari kekuasaan para penjilat.</li>
<li>Jangan memberi peluang kepada para penjilat dengan <em>bersikap hati mulia</em>, yang nampak dalam sifat, sikap, kata serta tindakan <em>mengasihi yang sama rata</em>, dan memberlakukan kebersamaan dalam  kepemimpinan (Yohanes 13:1, 34-35; 15:17), sehingga tidak ada kesempatan bagi penjilat untuk bergentayangan.</li>
<li><em>Hidarkan diri dari mencipta anak emas</em> dalam kepemimpinan, sehingga para penjilat kehilangan taringnya dan menjadi serigala ompong.</li>
<li>Kalau Anda bawahan sejati yang mau menjadi pemimpin sejati, “jangan menjadi penjilat!”</li>
</ul>
<p><strong>Selamat menyikapi para penjilat secara bijak demi keberhasilan kepemimpinan</strong>!!!</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Salam dan doa,</p>
<p>Dr. Yakob Tomatala</p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2010/09/22/awas-pemimpin-jangan-membiarkan-diri-dijilat-jilat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MEMBANGUN SIKAP: CURIGA, APAKAH PATUT BAGI PEMIMPIN UNTUK MENCURIGAI</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2010/09/01/membangun-sikap-curiga-apakah-patut-bagi-pemimpin-untuk-mencurigai/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2010/09/01/membangun-sikap-curiga-apakah-patut-bagi-pemimpin-untuk-mencurigai/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Sep 2010 02:10:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Perenungan]]></category>
		<category><![CDATA[curiga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=263</guid>
		<description><![CDATA[“Hendaklah engkau bertindak-hati-hati &#8230;.”  (Yosua 1:8). PENGANTAR Apakah Anda pernah curiga dan mencurigai seseorang? Curiga dan mencurigai tentu ada alasan mendasarnya.  Namun, pertanyaannya ialah, apa yang menjadi dasar bagi Anda untuk curiga dan mencurigai itu? Apakah Anda mencurigai dari hati Anda atau mencurigai dari benak Anda? Apa makna mencurigai dari hati dan mencurigai dari benak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<em>Hendaklah engkau bertindak-hati-hati</em> &#8230;.”  (Yosua 1:8).</p>
<p>PENGANTAR</p>
<p>Apakah Anda pernah curiga dan mencurigai seseorang? Curiga dan mencurigai tentu ada alasan mendasarnya.  Namun, pertanyaannya ialah, apa yang menjadi dasar bagi Anda untuk curiga dan mencurigai itu? Apakah Anda <em>mencurigai dari hati </em>Anda atau <em>mencurigai dari benak</em> Anda? Apa makna mencurigai dari hati dan mencurigai dari benak ini? Pertanyaan berikutnya, mengapa Anda mencurigai seseorang itu? Apakah ada alasan khususnya sehingga Anda mencurigainya? Apa indikator kuat yang dapat diambil sebagai alasan bagi Anda untuk mencurigainya? Adakah Anda telah mempertimbangkan keuntungan dan kerugian mencurigai yang biasa Anda sikapi ini? Semua pertanyaan ini tentu memerlukan jawaban dari Anda. Karena itu, Anda harus mencari tahu alasan-alasan mendasar tentang curiga dan mencurigai ini. Simaklah:</p>
<p><span id="more-263"></span></p>
<ol>
<li><strong>CURIGA MENCURIGAI ITU ADA DASARNYA</strong>. Mengapa Anda mencurigai dan dan mengapa Anda tidak mencurigai seseorang tentu ada alasannya. Anda tentu tahu apa sebabnya Anda curiga mau pun tidak curiga kepada seseorang. Ini bicara tentang alasan atau dasar bagi sikap Anda mencurigai seseorang. Telah dipertanyakan di atas tentang apa yang menjadi dasar bagi Anda untuk curiga dan mencurigai seseorang itu. Sambungan pertanyaan ini adalah, “Apakah Anda mencurigai dari hati Anda, atau Anda mencurigai dari benak Anda?” Sekarang, apa sesungguhnya perbedaan antara mencurgai dari hati dan mencurigai dari benak itu? Untuk menjawabnya, kita akan mengulasnya satu persatu.</li>
</ol>
<p><em>Pertama</em>, Mencurigai dari hati. Apa sesungguhnya makna mencurigai dari hati itu? Mecurigai dari hati adalah sikap hati yang terus-menerus mencurigai orang, siapa pun orang itu. Mencurigai dari hati ini merupakan karakter seseorang pencuriga, dimana ia akan selalu bersikap curiga terhadap siapa saja, dan apa saja. Mencurigai dari hati memiliki kekuatan yang mempengaruhi pikiran, perasaan dan kehendak, sehingga mencurigai menjadi sikap batin, yang mempengaruhi pikiran kata dan perbuatan secara negatif. Pencuriga dari hati sesungguhnya dipengaruhi dari faktor pembesaran atau pengalaman traumatis dan hal lain, sehingga ia sangat cederung mengembangkan sikap curiga. Pencuriga dari hati akan selalu memiliki alasan negatif untuk mempertanyakan apa yang ia dengar, apa yang ia lihat dari sikap mau pun kata-kata orang yang berniat baik sekalipun. Pencuriga dari hati ini bersikap seperti anjing penjaga yang selalu siaga mencurigai siapa pun. Bisakah Anda bayangkan apa sesungguhnya yang akan terjadi dengan pencuriga dari hati ini? Ia akan selalu berprasangka buruk terhadap orang lain.</p>
<p><em>Kedua</em>, Mencurigai dari benak. Mencurigai dari benak berhubungan dengan “kemampuan intuitif menganalisis” atas kata, sikap mau pun perbuatan seseorang. Mencurigai dari benak selalu berhubungan dengan kecakapan intuitif yang menjelaskan adanya kemampuan membuat estimasi psikologis atas apa yang ditangkap oleh indra. Seorang polisi mencurigai seseorang bukan dari hatinya, tetapi ia memakai pikirannya, dimana ia telah belajar bagaimana mengintentifikasi sikap seseorang yang “bersalah.” Sebagai contoh, seseorang pengedara mobil tanpa memiliki SIM, akan mudah diidenfikasi polisi. Di sini sang polisi memakai kemampuan otaknya yang oleh hatinya muncul intuisi untuk membenarkan analisah otaknya, yang karenanya ia akan selalu tepat dalam mencurigai. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa apabila seorang pemimpin mencurigai dari hatinya, maka ia akan selalu bersikap negatif terhadap orang lain, entahkah sesama pemimpin atau pun bawahan atau siapa dan apa saja. Sikap mencurigai ini adalah ekspresi karakternya. Sikap ini akan nampak dalam cara ia menalar, bersikap dan bertindak “jangan-jangan orang ini mau menciderai saya.” Ia akan merasa tidak aman terhadap siapa saja yang ada di sekitarnya. Pada sisi lain, mencurigai dari pikiran akan membuat seseorang pemimpin itu intuitif, karena hasil analisisnya beranjak dari pikirannya yang sehat. Dan lagi, ia selalu menyerahkan hasil analisis pikirannya untuk ditimbang oleh hatinya. Pertimbangan nuraninya akan sangat intuitif sehingga perasaan dan kehendaknya akan memberikan dukungan untuk berpikir, bersikap dan bertindak yang baik, benar dan positif.</p>
<ol>
<li><strong>CURIGA MENCURIGAI ITU ADA BAIK DAN BURUKNYA</strong>. Mencurigai dari hati dan mencurigai dari benak seperti yang telah diterangkan di atas akan selalu memiliki dampak dalam kehidupan. Penduriga dari hati akan terlihat selalu mawas diri, namun prasangka negatif menguasi benak, perasaan dan kehendaknya, sehingga ia cenderung berkata, bersikap dan bertindak negatif. Kebaikan dari mencurigai dari hati ini ialah bahwa pencuriga akan selalu waspada, namun keburukannya sang pencuriga akan selalu “nervous” degan siapa dan apa saja. Mencurigai dari hati akan menyusahkan diri sendiri, karena pikiran, perasaan dan kehendkan sang pencuriga akan selalu terganggu. Mencurigai dari benak membuat pencuriga akan selalu bersikap intuitif positif dan bertindak dengan pertimbangan akal sehat. Mencurigai dari benak, membuat pencuriga merasa pasti akan perasaan, dan kehendaknya, karena hatinya membantunya untuk memastikan kebenaran akal sehat yang menyodorkan pertimbangan matang.</li>
</ol>
<ol>
<li><strong>CURIGA MENCURIGAI ITU ADA AKIBATNYA, ADA GUNANYA ADA MANFAAT KEPEMIMPINAN</strong>. Mencurigai itu selau ada akibat, kegunaan, dan manfaatnya dalam kepemimpinan. Seorang pemimpin yang mencurigai dari hati akan bertindak negatif terhadap sesamanya, sehingga ia sendiri menjadi pencipta kekalutan pikiran, perasaan dan kehendaknya. Dengan kekaluan ini akan terciptalah kesusutan yang membawa kesesatan, sehingga tindakan dan keputusannya akan selalu mengganggu. Pencuriga dari hati ini akan selalu membawa “aroma negatif” dalam kepemimpinannya. Ia akan menciderai diri sendiri dan orang-orang lain di sekitarnya (matius 7:12). Sedangkan, pencuriga dari benak yang berpikiran sehat akan memberikan pertimbangan intuitif kepada hatinya yang menjadi dasar untuk “bertindak hati-hati” dalam kata dan perbuatannya. Pencuriga dari benak dapat disebut sebagai pengguna akal sehat, yang berperasaan jernih dan berkehendak kuat yang positif, yang akan selalu membawa akibat positif dalam kata dan tindakannya. Pencuriga dari benak inilah yang akan menciptakan keunggulan membina hubungan-hubungan positif dalam kepemimpinan sebagai landasan untuk memimpin secara berkualitas. Dengan bersikap hati-hati, pemimpin akan cenderung bergaya positif menyikapi setiap orang dan apa saja yang terjadi di sekitarnya, sehingga membawa citra positif yang mewarnai sikap, kata dan tindakannya yang terbukti memberikan keunggulan kepada pemimpin dalam kepemimpinannya.</li>
</ol>
<p><strong>PRINSIP MENCURIGAI YANG BENAR</strong>:</p>
<p>Berdasarkan uraian di atas, kita tentu dapat belajar bahwa mencurigai dari hati dan mencurigai dari benak itu ada perbenaanya. Perbedaan dari keduanya adalah sangat substansial, dengan pengaruh dan akibat yang signifikan. Dengan demikian, adalah beralasan untuk menegaskan sikap mencurigai yang benar, demi keberhasilan kepemimpinan. Bagaimana mengembangkan sikap mencurigai yang benar itu?</p>
<ul>
<li>Mencurigai yang benar beranjak dari hati yang bersih yang terjaga baik, pikiran sehat, perasaan jernih dan kehendak benar serta baik, yang dikendalikan oleh <strong>Otoritas Pencipta</strong> (Amsal 4:23; Fiipi 4:5, 8-9; Mazmur 1; II Timotius 3:15-17).</li>
<li>Mencurigai yang benar akan menopang gaya, sikap dan kata yang positif, yang akan membawa pengaruh positif atas hubungan-hubungan antar orang dalam organisasi.</li>
<li>Mencurigai yang benar akan selalu membawa dampak positif dalam kepemimpinan, karena dilandasi karakter yang baik dan benar yang yang muncul dari hati yang tulus, yang tersirat dalam penggunaan sikap, pikiran, perasaan, kehendak, kata dan tindakan yang akan selalu mengangkat, dan mengatasi hal negatif.</li>
<li>Mencurigai yang benar akan selalu membuat pemimpin dapat <em>bertindak hati-hati</em>, karena ia memiliki hati yang bijaksana, sikap yang arif (Yesaya 32:8), yang dikendalikan oleh kebenaran sejati (Yosua 1:6-9), yang olehnya ia akan terbukti sebagai pemimpin bijak yang berhasil.</li>
</ul>
<p><strong>Selamat mencurigai yang benar demi keberhasilan kepemimpinan</strong>!!!</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Salam dan doa,</p>
<p>Dr. Yakob Tomatala</p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2010/09/01/membangun-sikap-curiga-apakah-patut-bagi-pemimpin-untuk-mencurigai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Spiritualitas Pemimpin Kristen</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2010/09/01/spiritualitas-pemimpin-kristen/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2010/09/01/spiritualitas-pemimpin-kristen/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Sep 2010 02:09:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Perenungan]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritualitas Pemimpin Kristen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=261</guid>
		<description><![CDATA[“&#8230;.. kamu yang rohani harus memimpin orang &#8230; ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut&#8230;.” (Galatia 6:1b) PENGANTAR Tajuk “Spiritualitas Pemimpin Kristen” bersifat tepat waktu.” Unsur tepat waktu dari tema ini didukung oleh kenyataan bahwa kondisi dunia yang berubah dan penuh dengan tantangan ini menuntut adanya pemimpin Kristen dengan kadar spiritualitas tangguh untuk memimpin. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“&#8230;.. <em>kamu yang rohani harus memimpin orang &#8230; ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut</em>&#8230;.” (Galatia 6:1b)</p>
<p>PENGANTAR</p>
<p>Tajuk “Spiritualitas Pemimpin Kristen” bersifat tepat waktu.” Unsur tepat waktu dari tema ini didukung oleh kenyataan bahwa kondisi dunia yang berubah dan penuh dengan tantangan ini menuntut adanya pemimpin Kristen dengan kadar spiritualitas tangguh untuk memimpin. Disadari bahwa pemimpin Kristen sesungguhnya adalah <em>pemimpin rohani</em>, yang harus membuktikan kadar kerohaniannya sebagai dasar integritas dirinya yang merupakan kekuatan moral yang menopang diri serta kepemimpinannya. Pada sisi lain, integritas pemimpin tergantung sepenuhnya pada kadar spiritualitasnya, yang menunjuk kepada kepentingan keteguhan spiritualitas pada pemimpin Kristen. Kenyataan ini mendorong untuk bertanya, apa sesungguhnya spiritualitas itu dan seberapa pentingnya spiritualitas bagi seorang pemimpin Kristen? Dalam upaya menjawab pertanyaan ini, maka ada tiga pokok penting yang akan dipercakapkan dalam diskursus ini, yaitu antara lain: <em>Pertama</em>, Memaknai Spiritualitas Pemimpin; <em>Kedua</em>, Dinamika Spiritualitas Pemimpin Kristen sebagai dasar bagi otoritas kepemimpinan; <em>Ketiga</em>, Kadar Spiritualitas Pemimpin Kristen sebagai tolok ukur kualitas kepemimpinan.<span id="more-261"></span></p>
<p><strong>MEMAKNAI SPIRITUALITAS PEMIMPIN</strong></p>
<p>Spiritualitas atau <em>spirituality </em>adalah natur rohani yang menjelaskan tentang kadar karakter atau kualitas rohani seseorang. Berdasarkan pengertian ini, bisa dikatakan bahwa spiritualitas membayangi kadar karakter setiap orang, dimana karakter dapat merupakan ekspresi kualitas spiritualitas itu sendiri. Dalam hubungan ini dapatlah dikatakan bahwa spiritualitas adalah hakikat dan sifat hidup yang dibangun di atas kadar rohani atau kerohanian. Kebenaran ini menegaskan bahwa kerohanian yang tinggi merefleksikan spiritualitas yang tinggi yang terbayang dalam karakter yang agung. Hubungan spiritualitas dan karakter ini menjelaskan adanya kaitan integral yang saling mempengaruhi, antara kadar kerohanian seseorang dan karakter serta ekspresi dirinya. Spiritualitas di sini dapat dikatakan juga sebagai dasar bagi integritas seseorang. Di sini, percakapan seputar spiritualitas pemimpin dalam diskursus kali ini memiliki relevansi kuat untuk kehidupan kepemimpinan Kristen. Spiritualias juga merupakan ekspresi kesadaran diri akan kepentingan spiritulitas tinggi bagi pemimpin Kristen. Kepentingan spiritualitas tinggi bagi pemimpin Kristen dibangun oleh kenyataan bahwa spiritualitas itu adalah penting yang berfungsi sebagai dasar untuk mewujudkan kepemimpinan yang berkualitas. Tidaklah mengherankan, bahwa Rasul Paulus di dalam Galatia 6:1b mengatakan, “&#8230;.. <em>kamu yang rohani harus memimpin orang &#8230; ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut</em>&#8230;.” Makna dari nasehat ini dalam hubungannya dengan tema “Spiritualitas Pemimpin Kristen” sesungguhnya menekankan kepada faktor pemimpin, dimana kadar dan kekuatan kerohaniannya merupakan landasan bagi kekuatan etika &#8211; moralnya untuk memimpin yang olehnya ia dapat mewujudkan perannya mengangkat orang lain.</p>
<p><strong>DINAMIKA SPIRITUALITAS PEMIMPIN KRISTEN DAN OTORITAS KEPEMIMPINAN</strong>.</p>
<p>Disadari bahwa dinamika spiritualitas pemimpin Kristen bersumber dari Allah. Tatkala Rasul Yohanes berbicara tentang kebenaran seputar otoritas spiritualitas Kristen, ia menegaskan, “<em>Barangsiapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup seperti Kritus telah hidup</em>” (I Yohanes 2:6). Kebenaran ini menunjuk bahwa sesungguhnya Yohanes sedang menegaskan tentang sumber otoritas dari spiritualitas Kristen itu. Kebenaran seputar sumber otoritas Kristen ini mengandung tiga sisi yang harus dipahami dan dihidupi oleh setiap pemimpin Kristen, yaitu antara lain:</p>
<p><em>Pertama</em>, Otoritas spiritualitas pemimpin Kristen hanya ada pada setiap orang yang ada di dalam Kristus. Kebenaran ini diteguhkan oleh Firman yang menegaskan bahwa “<em>Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan yang baru; yang lama sudah berlalu, sesunggunya yang baru sudah datang</em>” (II Korintus 5:17). Di sini otoritas spiritualitas itu menjadi kokoh oleh kekuatan Roh Kudus, yang diteguhkan oleh Firman, bahwa “<em>Allah memberikan kepada kita &#8230; roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban</em>” (II Timotius 2:7b). Indikator dari otoritas rohani ini adalah adanya kekuatan (kuasa) rohani untuk hidup dan mengabdi berlandaskan kasih yang mengangkat dengan kadar penguasan dan ketertiban diri yang tinggi. Kebenaran ini dipastikan melalui tindakan kasih karunia Allah yang menyelamatkan itu, dimana Rasul Paulus mengatakan bahwa “<em>Di dalam Dia kamu</em> &#8230;.. <em>dimeteraikan dengan Roh Kudus yang dijanjikan itu”</em> (Efesus 1:13). Memeteraikan kebenaran ini di dalam jiwa pemimpin Kristen, Profesor J. Robert Clinton mengatakan bahwa “Orang yang memandang otoritas rohani sebagai dasar kekuasaan untuk melayani harus mengakui Sumber dari semua otoritas: (yaitu) Allah.” Pengakuan ini merupakan sikap sambutan iman atas apa yang telah dikaruniakan TUHAN Allah kepada pemimpin Kristen, sebagai dasar otoritas spiritualitas kepemimpinannya. Sikap ini menyebabkan ia berendah hati untuk mengakui bahwa “<em>Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, Firman TUHAN semesta alam</em>” (Zakharia 4:6).</p>
<p><em>Kedua</em>, Otoritas spiritualitas pemimpin Kristen harus dibuktikan dengan adanya tanggung jawab memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus. Indikator kuat bahwa seorang pemimpin adalah pemimpin rohani ialah bahwa ia hidup oleh Roh Kudus, yang olehnya ia dapat menguasai dirinya dengan tidak menuruti keinginan daging (Galatia 5:16-17). Indikator kuasa positif yang pasti ialah bahwa dari kehidupan <em>pemimpin rohani</em> yang dipimpin oleh Roh Kudus, akan nyata kekuatan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Galatia 5:22). Kebenaran inilah yang menjelaskan adanya dinamika kredibilitas pemimpin rohani.</p>
<p><em>Ketiga</em>, Otoritas spiritualitas pemimpin Kristen dibuktikan dengan adanya integritas diri yang teguh. Integritas diri itu kebaikan hati, kebenaran, kemuliaan, keadilan, kesucian, kesedapan, kemanisan, kebaikan dan kepatutan untuk dipuji, keadilan, kesetiaan, ketaatan dan kejujuran yang membawa kemuliaan bagi Allah, karena segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, dan bagi Dialah kemualiaan sampai selama-lamanya (Filipi 4:5,8; Yesaya 32:1-2; Roma 11:36). Dalam hubungan ini dapat ditegaskan bahwa dinamika spiritualitas pemimpin Kristen akan ada dan nampak pada integritas diri pemimpin yang ada di dalam Kristus, yang relah memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus. Penyerahan diri ini adalah dasar kekuatan yang menopang pemimpin membuktikan integritas karakter Kristen yang teguh oleh kuasa Roh Allah. Dengan integritas diri ini pemimpin dapat berdiri teguh sebagai pemimpin rohani yang tangguh dalam menghadapi serta menjawab tantangan perubahan dunia yang mengancam.</p>
<p><strong>KADAR SPIRITUALITAS PEMIMPIN KRISTEN DAN KUALITAS KEPEMIMPINAN</strong>.</p>
<p>Menengok balik akan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa kadar kualitas spiritualitas pemimpin Kristen berbanding sejajar dengan kualitas kepemimpinannya. Maksud dari pernyataan ini adalah bahwa spiritualitas yang berkualitas menentukan adalah kekuatan bagi kualitas kepemimpinan. Dapat juga dikatakan bahwa kadar kualitas spiritualitas menentukan ketahanan dan kelanggengan kualtias kepemimpinan pemimpin rohani. Menguraikan kebenaran tentang kadar kualitas spiritualitas, dapatlah dikatakan bahwa faktor penting bagi peneguhan kadar kualitas spiritualitas  pemimpin Kristen adalah antara lain:</p>
<p><em>Pertama</em>, Pemimpin rohani membangun diri di dalam Firman Allah (Mazmur 1; Yosua 1:7-9), sehingga ia memiliki karakter dan integritas diri yang kuat dimana ia dilengkapi untuk setiap perbuatan benar dan baik (II Timotius 3:15-17);</p>
<p><em>Kedua</em>, Pemimpin rohani menjaga hatinya, sehingga ia rendah hati (Amsal 4:23) dan memimpin seperti Yesus Kristus yang memimpin dari hati (Matius 9:34-38), memimpin berdasarkan kasih yang mengangkat (Yohanes 13:1, 34-35), dan memimpin dengan kekuatan kebenaran dan kebaikan (Yohanes 14:6; Yesaya 32:1-2, 8, 117), sehingga ia mengamalkan damai, keadilan dan kesejahteraan dalam kepemimpinannya.</p>
<p><em>Ketiga</em>, pemimpin rohani memimpin dengan mengandalkan TUHAN Allah (Yeremia 17:7-8; 9:23-24), sehingga ia menjadi bijaksana dan teguh dalam kepemimpinan melewati berbagai kondisi sulit (Amsal 18:10; 24:10; I Raja-raja 3:9, 12, 28).</p>
<p><em>Keempat</em>, pemimpin rohani memimpin sebagai pemimpin teladan yang membawa berkat bagi orang yang dipimpin dan lingkungan kepemimpinan (Ibrani 13:7,17).</p>
<p><em>Kelima</em>, pemimpin rohani memimpin dengan penuh pengabdian sebagai hamba dan pelayan (Markus 10:41-47; Lukas 17:10) yang dibuktikan melalui pelayanan terhadap orang yang dipimpin (I Petrus 5:1-4). Pemimpin yang memimpin dengan melayani seperti Yesus Kristus sajalah yang adalah pemimpin yang dapat membuktikan kualitas kepemimpinan yang tidak lekang karena panas dan tidak lapuk oleh hujan. Kebenaran ini ditegaskan oleh Nabi Daniel yang mengungkapkan, “<em>Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bindatng-bintang, tetap untuk selama-lamanya</em>” (Daniel 12:3).</p>
<p><strong>RAMPUNGAN</strong></p>
<p>Melihat uraian sebelumnya tentang otoritas spiritualitas kepemimpinan dan tentang kualitas kadar spiritualitas yang memiliki pengaruh terhadap kadar kualitas pemimpin Krsten dan kepemimpinannya, dapat dikatakan bahwa “kekuatan dan kualitas pemimpin terletak pada otoritas dan kadar spiritualitasnya.” Di sini dapat ditekankan bahwa “pemimpin Kristen dengan kadar otoritas spiritualitas tinggi sajalah yang akan membuktikan diri sebagai pemimpin yang bekualitas dan dapat mempertahan kualitas diri menghadapi tantangan dan tekanan dalam menjalankan kepemimpinan yang diembannya. Dari sini dapat disimpulkan bahwa “Pemimpin Kristen yang menjaga otoritas spiritualitas dan mengembangkan kadar spiritualitasnya adalah pemimpin berkualitas yang akan bertahan serta siaga menghadapi kenyataan kepemimpnan pada segala masa (II Timotius 4:1-6). Pemimpin seperti ini adalah pemimpin yang disiapkan untuk menghadapi masa depan yang sulit dan akan bertahan serta keluar sebagai pemenang dalam menjalankan kepemimpinannya secara langgeng dan berhasil (Nehemia 2:20).</p>
<p>Akhirnya, spiritualitas sejati hanya ada karena pemimpin Kristen hidup dan mengabdi seperti TUHAN-nya (I Yohanes 2:6), dimana ia mampu memimpin dari hati (yang penuh hikmat; Matius 9:34-38; Yesaya 32:8), berlandaskan kasih (yang mengangkat sesama Yohanes 13:1, 34-35; I Yohanes 4:7-10) dengan kekuatan kebenaran dan kebaikan (yang membawa damai sejahtera; Yesaya 32:17, 1-2; 15:15-16; Yohanes 14:6, 27; Matius 5:9). Dan lagi, spiritualitas sejati meneguhkan hubungan pemimpin dengan TUHAN Allahnya, Sang Pencipta, karena olehnya ia <em>hidup kudus</em> (I Petrus 1:15-16); dan <em>dapat melihat</em> <em>Allah</em> (Matius 5:8), serta bersekutu degan DIA, hidup dalam ketaatan akan Firman berbasis <em>kasih setia</em> yang ditambatkan pada hatinya sehingga ia dihormati oleh TUHAN Allah dan manusia serta berhasil dan menjadi berkat dalam kepemimpinannya (Amsal 3:1-10; Kejadian 12:1-3). Selamat dan sukses bagi kemuliaan TUHAN Yesus Kristus. TUHAN Allah kiranya memberkati dengan limpahnya. Terimakasih</p>
<p>Motivator,</p>
<p>Dr. Yakob Tomatala</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Pokok ini disampaikan dalam Wisuda STT Doulas Jakarta, tanggal 21 Agustus 2010 di Istana Kana, Jakarta.</p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2010/09/01/spiritualitas-pemimpin-kristen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

