YT Leadership Foundation





Archive for the ‘Perenungan’ Category

Firman Allah:
“Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini” (Ulangan 29:29).

Pengantar

Sikap orang Kristen menghadap-hadapkan dan mempertentangkan doktrin atau ajaran yang dianut, telah berakar dalam sejarah yang panjang. Hal seperti ini terjadi, karena ada yang berpendapat, penafsiran saya atas Alkitab lebih benar dan menyalahkan pandangan yang lain. Pada sisi lain, dalam menyikapi wabah Covid-19, orang Kristen cenderung melihatnya dari beberapa sudut pandang dan dapat bersilih paham.

Ada yang percaya bahwa TUHAN Allah berdaulat, dan percaya akan kesembuhan illahi, namun menjadi bingung, karena doanya meminta mujizat seolah tidak terjawab. Ada yang percaya TUHAN, tetapi tidak percaya mujizat, dan menolak ajaran tentang mujizat kesembuhan illahi. Ada juga yang skeptis dan masa bodoh terhadap semua ini. Dalam upaya mendiskusikan pendapat-pendapat di atas, maka ada beberapa pokok yang akan dipercakapkan:

Pertama, PERSPEKTIF BAHASA, TUHAN, DAN IMAN

Melihat dari sudut pandang antropologi, segala sesuatu yang memiliki bentuk, melekatkan padanya arti atau makna, fungsi serta tujuan. Bentuk apa pun, memiliki “nama” yang adalah simbol bentuk, arti, fungsi dan tujuan. Dengan demikian, bentuk apa saja dalam setiap kebudayaan, telah diberi nama sebagai simbol bentuk dengan arti serta fungsi khusus yang melekat padanya. Bentuk ini pun telah diberi nilai yang dibakukan dalam worldview, yang adalah pusat pembakuan nilai.

Dari worldview ini terbentuklah model berpikir (paradigm) yang dari padanya ada titik atau sudut pandang (perspective) untuk melihat dan memaknai serta menyikapi diri dan segala sesuatu di sekitarnya. Dari sisi ini, bahasa adalah sejenis bentuk yang memiliki arti atau makna, fungsi dan tujuan yang melekat dalam worldview.

Bentuk, makna, fungsi dan tujuan “bentuk bahasa” telah menjadi milik korporat suatu masyarakat, dan menjadi realitas yang mendasari paradigma dan perspektif untuk melihat segala hal yang ada pada dirinya dan yang ada di luarnya. Karena itu, sudah dapat diduga bahwa “bentuk bahasa yang sama” dapat memiliki makna atau arti, fungsi dan tujuan berbeda dalam benak setiap orang. Dengan demikian, jika menyebut TUHAN, iman dan mujizat, tentu mengandung implikasi bentuk, arti, fungsi dan tujuan yang berbeda.

A. Perspektif Bahasa:

Melihat uraian di atas, dapat diduga bahwa tatkala berbicara tentang TUHAN, iman, dan mujizat, setiap orang sudah melekatkan arti, fungsi dan tujuan yang berbeda padanya. Orang menggunakan kata TUHAN, iman dan mujizat yang sudah diberikan arti, fungsi dan tujuan yang berbeda-beda, yang menjadi dasar bagi paradigma dan perspektif yang berbeda. TUHAN, iman dan mujizat dari perspektif teologisme dan dari perspektif antropomorfisme memiliki tekanan yang juga berbeda, yang beranjak dari realitas yang berbeda di dalam benak.

Perbedaan realitas dalam benak menghasilkan kesimpulan yang berbeda, dan mempengaruhi sikap yang juga berbeda. Dalam hubungan ini, dapat dikatakan bahwa bahasa TUHAN dalam Pikiran TUHAN adalah “an sic” TUHAN dan hanya dipahami TUHAN. Bahasa TUHAN dalam pengertian bahasa tentang TUHAN haruslah bersifat teologisme, yang bertitik anjak dari Diri-Nya, penyataan-Nya (self disclosure-Nya), pernyataan-Nya (self revelation) dan tindakan-Nya yang Mahalengkap sempurna, yang terdapat di dalam Alkitab (Firman TUHAN Allah). Dengan demikian, jika kita menegaskan bahwa TUHAN Allah berdaulat, maka seharusnya kita menerima bahwa tidak ada yang mustahil bagi DIA.

B. Perspektif TUHAN:

Uraian di atas menjelaskan bahwa pandangan tentang hakikat TUHAN dan cara mengurai pengetahuan tentang DIA yang menegaskan perbedaan ekspresi dengan pendapat yang berbeda. Sebagai contoh jika seseorang menggunakan pendekatan berpikir ilmu yang antropomorfisme tentang TUHAN, maka ia akan menjelaskan kata “Allah mengeraskan hati Firaun” (Keluaran 4:21; 3:19, dsb) dengan cara yang analog manusia, sehingga TUHAN dipahami secara keliru.

“TUHAN dianggap keras, dan bertanggung jawab atas sikap Firaun, karena IA tidak adil jika menghukum raja Mesir ini, sebab IA-lah yang mengeraskan hatinya.” Padahal, jika dilihat dari sudut pandang teologisme, dan perbahasaan, maka dapat dipahami bahwa TUHAN Allah yang berdaulat, memiliki atribut Mahatahu (Keluaran 3:19), Mahakuasa, Mahaadil, Mahabijak, Mahakasih, dsb., (atribut yang terkomunikasi) dan atribut Mahasempurna lainnya (atribut yang tidak terkomunikasikan) di mana IA pasti menetapkan apa pun, mengetahui apa pun, pasti adil dan pasti bijak (Roma 11:36).

TUHAN Allah yang Mahatahu, mengetahui bahwa Firaun akan berkeras dan mengeraskan hatinya (Keluaran 3:19), dan terbukti bahwa Firaun mengeraskan hatinya (Keluaran 4:21,30; 7:13,22-23; 8:15,19,32; 9:7,12,34-35; 10:20). Dengan demikian, istilah “TUHAN mengeraskan hati” seharusnya dijelaskan sebagai “IA membiarkan Firaun dalam kekerasan hati” (Mazmur 81:13; Roma 1:24), maka tatkala IA menghukum IA terbukti Mahaadil (Ibrani 3:7-11; Roma 1:18; 2:8; Pengkhotbah 12:14).

Perlu disadari, bahwa kebiasaan dan cara membahasakan apa pun yang bersumber dari worldview, cenderung menghadirkan perbedaan yang nampak pada sikap, kata serta tindakan nyata. Dalam kaitan ini, setiap upaya tafsir serta berpikir tentang TUHAN, iman dan mujizat, harus diawali dengan bertanya, “apakah saya berpikir seperti TUHAN Allah berpikir, atau saya berpikir seperti saya berpikir dengan kerangka realitas budaya dan kebiasaan tafsir di dalam benak saya?” Berpikir seperti TUHAN berpikir, adalah upaya yang maharumit, karena siapakah yang mengetahui pikiran TUHAN? (I Korintus 2:16; Roma 11:34).

Namun yang dimaksudkan di sini adalah jika berbicara tentang TUHAN, iman dan mujizat, maka titik tumpuh berpikir haruslah dimulai dari TUHAN, yang dimaknai secara tekstual dan kontekstual dalam proses penafsiran.

Disusul dengan membahasakan tentang TUHAN dari perspektif hakikat (substansi, esensi, eksistensi) dan atribut-atribut serta tindakan-tindakan-Nya yang Mahasempurna serta Mahalengkap, terencana dan terlaksana sempurna. Dari uraian di atas ini terlihat bahwa kesalah pahaman dan tafsir yang berbeda tentang TUHAN terletak pada titik tumpuh penalaran yang antropomorfisme atau yang teologisme.

C. Perspektif TUHAN, IMAN, DAN ILMU:

Bahasa TUHAN dan Bahasa Iman serta Bahasa Ilmu adalah hal yang berbeda. Bahasa TUHAN adalah bagaimana TUHAN memandang diri-Nya dan bagaimana seharusnya berbicara tentang TUHAN dengan pendekatan yang teologisme, seperti yang telah diuraikan di atas. Bahasa iman adalah membahasakan TUHAN dari sudut pandang apa yang dipercayai tentang TUHAN. Membahasakan apa yang dipercayai tentang TUHAN cenderung bersifat eksklusif dan diabsolutkan.

Dengan demikian, tatkala orang mengatakan bahwa “saya percaya, atau menurut keyakinan saya, dan seterusnya, … maka orang cenderung mempertahankannya, dan mengabaikan serta bisa merendahkan kepercayaan orang lain.”

Karena itu, sudah dapat diduga bahwa bahasa Iman inilah yang dapat menjadi faktor persilangan pendapat selama ini yang menyisahkan perbedaan sengit, “saya benar, Anda salah.” Pada sisi lain, perlulah disadari bahwa bahasa Iman dan bahasa Ilmu juga memiliki perbedaan substansial.

Bahasa Iman cenderung memutlakan apa yang dipercayai. Sedangkan, bahasa Ilmu dibangun di atas fenomena, fakta, premis dan kaidah ilmiah dengan terma-terma serta metodologi dan metode Ilmiah yang dimaknakan sesuai bidang ilmu, dan dengan proposisi yang berprobabilitas, yang dapat menjadi sarana penalaran dan dialog mencari titik temu.

Dengan demikian, dalam pendekatan berpikir, menalar dan menyimpulkan, setiap orang perlu bertanya, apakah saya sedang menggunakan bahasa TUHAN atau bahasa IMAN atau bahasa ILMU tentang TUHAN, iman dan mujizat?

Kedua, TUHAN, KESEMBUHAN ALLAHI DAN COVID-19

Patutlah diingat, bahwa TUHAN Allah yang berdaulat sedang dalam pengendalian atas semua ciptaan-Nya. Pada sisi lain, perlulah ditanyakan, apakah TUHAN mengisinkan wabah Covid-19 dan mengapa hal ini terjadi?

A. TUHAN dan wabah:

Dalam Alkitab, wabah telah dipahami sebagai bagian dari Covenant TUHAN dengan umat-Nya, yang melibatkan “berkat” (Ulangan 28:1-14) dan atau “hukuman” atau “kutuk” (Ulangan 28:15-68). Dari perspektif ini, wabah, secara khusus tercatat dalam Ulangan 28:21-22, sebagai hukuman TUHAN.

Di sini muncul pertanyaan, apakah Covid-19 adalah hukuman TUHAN atas dunia, umat manusia, masyarakat umum atau pribadi dan atau orang Kristen? (Ulangan 28:21-22; II Samuel 24:14; I Tawarikh 21:11-13).

Pertanyaan lain ialah, apakah Covid-19 ini adalah tanda akhir zaman? (Wahyu 6:8). Jawabannya ialah bahwa penghakiman serta penghukuman adalah hak TUHAN dan semua tindakan-Nya ada pada diri-Nya yang berdaulat. Bagi orang Kristen, jawaban “ya” yang kesusu, dapat berarti mengambil hak TUHAN Allah.

Karena patut ditanyakan, siapa yang berhak untuk mengangkat siapa, menjadi jurubicara Allah atau menjadi hakim atas nama TUHAN? Atau menjadi nabi yang bernubuat atas nama TUHAN? Perlulah disadari bahwa pengalaman Covid-19 ini terjadi dari pihak TUHAN untuk mewujudkan rencana-Nya yang kekal bagi umat-Nya dan seisi dunia.

Kita hanya diingatkan bahwa Covid-19 adalah “tanda-tanda TUHAN” dan kita bertanggung jawab menjadikannya sebagai pelajaran kehidupan, yang belajar dari hidup tentang hidup untuk hidup. Di samping itu, pengalaman ini juga membuat kita waspada dalam iman serta teguh dalam pengharapan akan kedatangan TUHAN Yesus Kristus.

Kita tidak berhak untuk mengambil hak TUHAN dengan menghakimi mereka yang tertular Covid-19. Semua tentu terjadi atas kehendak Allah (Roma 8:28) dan kemanfaatan dari pengalaman Covid-19 hanya dapat dipahami oleh mereka yang mengalaminya.

Covid-19 dapat juga dilihat sebagai cara TUHAN Allah memberkati dunia ciptaan-Nya (Common Grace) yang membawa pemulihan semesta, dan cara IA menuntun kehidupan umat-Nya (Special Grace) untuk menyiarahi anugerah-Nya demi mewujudkan Amanat Agung yang kekal guna memberkati dunia (Matius 28:18-20).

Pada sisi lain, Covid-19 bagi mereka yang meninggal adalah “cara wafat” yang telah ditetapkan TUHAN bagi semua orang sebagai makluk ciptaan-Nya. Di sini kita hanya dapat berkata, TUHAN memberi, TUHAN mengambil, segala puji bagi DIA (Ayub 1:21). Biarlah TUHAN Allah dimuliakan (Roma 11:36), dan kita terhindarkan dari sikap menghakimi sesama.

B. TUHAN dan kesembuhan allahi:

Perlulah ditegaskan bahwa TUHAN Allah berdaulat dan Mahakuasa, yang dapat melakukan apa pun sesuai kehendak-Nya. Masalah yang timbul adalah bahwa ada sementara orang Kristen yang tidak mempercayai mujizat dan menolak kesembuhan illahi (allahi). Dapat diduga bahwa pandangan ini tidak menempatkan TUHAN Allah sebagai berdaulat dalam arti yang sesungguhnya.

Pada sisi lain, ada orang Kristen yang mengklaim Janji TUHAN (Yohanes 14:12-14) sebagai janji kuasa melakukan hal besar, termasuk mujizat. Istilah “melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar” di sini, dapat menimbulkan perbedaan tafsir, yang mempengaruhi iman dan sikap. Bagi mereka yang menghubungkan pekerjaan besar dengan mujizat, harus disadari bahwa “mujizat adalah cara TUHAN Allah bekerja” dan pelayanan kesembuhan adalah bagian dari “karunia mujizat” yang dipercayakan TUHAN (I Korintus 12:9-10).

Dari sisi ini, setiap orang Kristen yang mengatakan bahwa ia dikaruniai karunia kesembuhan dan atau karunia mengadakan mujizat harus menyadari bahwa semua ini adalah sepenuhnya anugerah dan hak TUHAN.

Karena itu siapa pun yang mengklaim dikaruniai karunia kesembuhan dan karunia mengadakan mujizat, hendaklah bertanggung jawab melaksanakannya dengan hormat, rendah hati, dan takut akan TUHAN, karena pekerjaan ROH KUDUS tidak dapat dicopy paste. Sebaliknya mereka yang tidak menerima tafsir ini, kiranya berbijak hati untuk tidak menghakimi.

C. TUHAN dan Covid-19:

Dipahami, bahwa TUHAN Allah dapat mengadakan mujizat dan menghentikan atau membiarkan Covid- 19 menghancurkan dunia, bahwa semua ini adalah urusan-Nya, karena IA berdaulat ada-Nya. Dalam hubungan ini, jika TUHAN Allah menghendaki, IA dapat menghentikan Covid-19 sekarang, mau pun kapan-kapan, sesuai kehendak-Nya.

Apakah orang Kristen dapat berdoa dan memohon TUHAN menghentikan Covid-19? Ya, orang Kristen harus berdoa (I Tesalonika 5:17-18; Efesus 6:19-20), namun doanya haruslah doa iman yang menegaskan, “kehendak-Mu jadilah, di bumi seperti di sorga” (Matius 6:9-10), dan taat menunggu jawaban TUHAN.

Dalam kaitan ini, orang Percaya memiliki jaminan berdoa dan jawaban doa bagi perlindungan dari TUHAN Allah (Mazmur 91). Pada sisi lain, ada tanggung jawab yang harus dilakukan demi mengalami janji perlindungan-Nya dengan mempercayai dan mengharapkan pertolongan Allah.

Sebagai contoh, ada janji, “mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan kena celaka,” – orang Kristen yang menggunakan bahasa iman, dengan serta merta berkata, padaku ada kuasa, aku tidak takut dipagut ular dan tidak takut minum racun … sila! Lihat saja apa akibatnya. Iman kepada janji TUHAN selalu disertai dengan tanggung jawab taat demi berbuat kebenaran, yang tidak sama dengan mendemo kuasa atas nama TUHAN.

Ingatlah juga bahwa konteks janji di atas adalah dalam kaitan dengan “tanggung jawab taat menjalankan Amanat Agung , memberitakan Injil Yesus Kristus.” Dalam ketaatan kepada TUHAN-lah maka IA menggenapkan janji-Nya, melindungi dari racun mau pun sengatan ular (Banding: KPR 28:1-6).

Dengan demikian adalah merupakan tanggung jawab orang percaya untuk berdoa bagi kesembuhan dari Covid-19, bahkan mengharapkan mujizat TUHAN. Pada sisi lain ada juga tanggung jawab menjalankan peran sipil, menjaga jarak, menjaga kesehatan, melindungi diri dan tinggal di rumah, menanti jawaban TUHAN atas ancaman Covid-19. Semua ini punya tempat, berkepatutan dan sinkron satu kepada yang lainnya.

KESIMPULAN

Percakapan tentang TUHAN, iman, mujizat dan Covid-19 masih menyisahkan pertanyaan yang harus terus dikaji guna berbagi jawaban. Mencerahkan dan menggorak hubungan TUHAN, iman, mujizat kesembuhan dari Covid-19, maka ada beberapa catatan yang perlu ditoreh ulang:

Pertama, Kita harus selalu mempertanyakan diri sendiri, jika saya menggunakan istilah TUHAN, iman dan mujizat kesembuhan allahi atas Covid-19, apa yang saya maknakan, serta apa perbedaannya dengan orang lain? Jawaban positif atas pertanyaan di atas merupakan pencerminan sikap yang berterima, dan dapat menghadirkan sikap saling menghargai.

Kedua, TUHAN Allah adalah berdaulat, karena itu, IA dapat melakukan apa pun, termasuk mujizat kesembuhan dari Covid-19, bahkan menghentikan atau membiarkan Covid-19 berlanjut. Tanggung jawab Kristen adalah menghormati TUHAN, taat kepada-Nya, mengimani janji-Nya dan tekun berdoa memohon belas kasihan serta perlindungan-Nya dengan penuh keyakinan, bahwa mujizat dapat terjadi, Covid-19 pasti berlalu
pada waktu TUHAN, sehingga nama-Nya dimuliakan, dan janji-Nya genap atas umat-Nya. Semua ini mengimpartasi ajaran dari hidup dengan TUHAN, untuk hidup bagi DIA dan menjadi kesaksian kepada dunia.

Ketiga, Adalah merupakan tanggung jawab serta peran sipil Kristen yang tidak boleh diabaikan, yaitu taat kepada Pemerintah (Roma 13:-5), bekerja sama untuk menerapkan physical and social distancing, jaga kesehatan (pakai masker, cuci tangan, makan sehat) dan tinggal di rumah demi mengatasi Covid-19 secara bersama. Hm, perlu terus direnungkan dan dielaborasi …

Selamat memahami TUHAN dengan cara TUHAN melalui iman dan pengharapan yang teguh bahwa Covid-19 pasti berlalu …

Salam kerja sama,

www.yakobtomatala.com

FIRMAN TUHAN:

“Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang” (Kolose 4:6; I Petrus 3:15-16)

Catatan: Ayat-ayat di atas ini adalah dasar bagi Teologi Apologetika. Dalam hubungan dengan diskursus Pengantar Teologi ini, maka setiap pengguna harus bertanya, “siapa yang berhak memakainya, bagaimana menerapkannya dan digunakan untuk apa serta kepada siapa?”

Pengantar

Berbicara tentang TUHAN Allah, dapat dianalogikan dengan empat orang buta yang memegang sesuatu dari seekor gajah (ekor, kaki, badan dan belalai) dan masing-masing mempercayai, menjelaskan serta mempertahankan apa yang mereka pegang sebagai kebenaran tentang sang gajah.

Dalam kaitan ini, mereka akan mempercayai, menjelaskan dan mempertahankan “apa yang mereka pikir” bahwa itu dan ini adalah segalanya tentang gajah. Apa yang terjadi? Mereka masing-masing benar, karena gajah memiliki ekor, kaki, badan dan belalai.

Namun mereka tidak benar semuanya, karena gajah tidak sekedar ekor, kaki, badan atau belalai. Gajah ternyata memiliki diri yang “lebih lengkap” dari apa yang dapat dipahami, dipercayai, dijelaskan dan dipertahankan.

Dengan analogi ini, dapat diajukan pertanyaan, “Apa dan bagaimana menjelaskan hubungan TUHAN ALLAH dan Covid-19?” Mengapa TUHAN seolah membiarkan Covid-19, serta seolah tidak mendengar doa dan mengatasinya bagi orang Kristen?

Sudah lama Steven Covey mengangkat pertanyaan sementara orang Kristen yang bertanya tatkala menghadapi ancaman hidup: “Apakah TUHAN menyembunyikan diri, tidak mau mendengar doa, bahkan tidak adil dan membiarkan orang Kristen menderita?” Dalam upaya menjawab pertanyaan ini, maka ada beberapa hal yang dapat direnungkan.

Pertama, TUHAN ALLAH YANG BERDAULAT DAN CARA MEMAHAMI DIA

TUHAN Allah Alkitab adalah berdaulat, yaitu “Allah yang ADA dan ber-ADA dengan sendiri-Nya serta IA-lah sumber dan penyebab azali dari semua yang telah ada, sedang ada dan yang akan ada.”

TUHAN Allah yang berdaulat adalah kekal abadi, Yang ESA, yang menyatakan diri sebagai TUHAN Allah – FIRMAN Allah – ROH Allah, Tritunggal yang ESA.

TUHAN Allah yang ESA, memiliki kehendak yang berdaulat, yang sama selaras dalam diri-Nya, kehendak-Nya, dan tindakan-Nya Yang sempurna.

TUHAN Allah yang berdaulat menyatakan hakikat-Nya (substansi, esensi, dan eksistensi) yang kekal dengan atribut-Nya yang Maha Sempurna dan Tindakan-Nya yang Maha Lengkap, yang menggungkapkan kesempurnaan diri-Nya.

TUHAN Allah adalah Maha Benar, Maha Adil, Maha Baik dan Maha Kasih Yang dinyatakan-Nya dalam kesempurnaan diri serta penyataan-Nya pada lintasan sejarah.

TUHAN Allah yang Maha Sempurna hanya dapat dipahami melalui penyataan diri-Nya (self revelation) yang sempurna untuk dan demi dipahami secara lengkap.

A. TUHAN Allah yang menyatakan diri

Melihat kebenaran tentang hakikat TUHAN Allah yang diuraikan sebelumnya, maka dapat ditegaskan bahwa TUHAN hanya dapat dipahami melalui penyataan diri-Nya (Self Disclosure) dan pernyataan-Nya (Self Discourse).

Pernyataan dan pernyataan TUHAN adalah sesuai kehendak-Nya yang berdaulat, yang dikerjakan-Nya melalui ROH-Nya yang Kudus, yang dinyatakan-Nya di dalam dan melalui konteks faktual (konteks hidup, konteks peradaban, sejarah, kebudayaan dan masyarakat serta konteks kerterjadian dan konteks perbahasaan serta pengalaman iluminatif) untuk dipahami secara benar dalam situasi kekinian sejarah masa lampau, di mana IA menyatakan diri dan berfirman kepada Para Nabi, Penulis dan Umat-Nya.

Puncak penyataan diri TUHAN Allah adalah TUHAN Yesus Kristus, FIRMAN Allah yang Kekal yang menjadi Manusia Kristus, yang berinkarnasi berkenosis secara kontekstual (Yohanes 1:1-18; Ibrani 1:1-4; Filipi 2:1-11), sebagai Penyataan Diri-Nya yang sempurna lengkap, dan tertinggi, serta terakhir (Wahyu 22:18-19).

B. Cara MANUSIA memahami TUHAN Allah

TUHAN Allah yang berdaulat dalam penyataan-Nya (revelation) bekerja di dalam dan melalui konteks kehidupan manusia. Penyataan TUHAN ini diwujudkan melalui penyataan-Nya (Self Disclosure) di mana IA membuka Diri kepada umat-Nya dalam konteks nyata, seperti kepada Adam, Nuh, Abraham, Samuel, Hakim-hakim, Saul, Daud, Salomo, Para Nabi, dan Para Rasul.

Pernyataan Diri TUHAN selalu disertai dengan Pernyataan-Nya (Sabda-Nya, Discourse-Nya), guna menyampaikan kehendak-Nya yang khusus pada situasi khusus, dengan cara yang kontekstual untuk dipahami secara nyata dalam konteks kehidupan penerima Firman yang disampaikan-Nya.

Dalam kaitan ini, cara penerima Sabda memahami TUHAN Allah adalah kontekstual, yang melibatkan “worldview, konsep, nilai dan cara pandang” yang juga kontekstual.

Sejalan dengan ini, cara memahami TUHAN Allah yang kontekstual juga menjelaskan bahwa penerima Firman Allah terkondisi oleh kebudayaan-Nya, sehingga perspektif pemahaman Sabda selalu antroposentris, antroposelfis, dan antropografis, yang nyata serta tampak melalui penulisan dan tulisan atau teks-teks suci dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Dari sini, para pembaca dan penafsir Alkitab harus mendekati Alkitab dengan bertanya, “Apa maksud kekal TUHAN Allah melalui teks Firman-Nya dalam suatu konteks sejarah di mana IA bersabda?

Bagaimana penerima atau penulis Firman memahami dan menulis Sabda TUHAN yang diterimanya dalam konteksnya? Apa konteks sejarah, budaya, masyarakat, dan peristiwa khusus di sekitar teks yang disabdakan-Nya?

Apa maksud TUHAN Allah yang tertuang dalam teks (bahasa) dengan perbahasaan (cara membahasakan) yang digunakan penerima atau penulis Firman dalam konteksnya?” Pertanyaan-pertanyaan ini dan jawabannya adalah cara memahami TUHAN Allah melalui teks-teks suci, dalam cara yang sepatutnya.

C. Kesepakaan dan ketidak sepakatan orang Kristen tentang TUHAN Allah

Berdasarkan observasi, kesepakatan dan ketidak sepakatan orang Kristen dalam berteologi tentang TUHAN Allah, didasarkan atas fakta berikut:

1) Pendekatan berteologi yang antropomorfisme, sehingga perbahasaan tentang TUHAN Allah terikat dengan analogi manusia yang digunakan untuk berbicara menjelaskan tentang TUHAN Allah seperti manusia (berteologi yang antropomorfisme);

2) Orientasi berteologi yang sudah berakar dan terpola dalam sejarah kekristenan, yang memperlihatkan adanya perbedaan ajaran (doktrin), cara pandang, tekanan dan sikap ortodoksi dan ortopraksis yang ketat;

3) Cara berteologi yang memberdaulatkan atau memutlakan ajaran (Doktrin atau Dogmatika) tentang TUHAN Allah bukan tentang TUHAN Allah, siapa DIA dan apa DIA ada-Nya sesuai Alkitab;

4) Pendekatan berteologi yang “antropologisme,” sebagai cara yang bertentangan dengan pendekatan berteologi yang “teologisme,” yang bertitik tumpuh awal pada TUHAN Allah sesuai kesaksian Alkitab tentang Penyataan dan Pernyataan Allah, bukan apa dan bagaimana pemahaman sektarian tentang TUHAN;

5) Kebiasaan berteologi yang tidak membedakan Teologi sebagai Ajaran (Teologi Dogmatika) yang sudah dipatrikan, diterima, dan diajarkan yang dipertahankan mati-matian, dan Teologi sebagai Ilmu (Teologi Ilmu dan atau Ilmu Teologi), yang terbuka bagi diskursus (discourses, dialogues, debating, etc) tentang fakta (premis) Alkitab dengan metodologi dan metode ilmu yang standar, berlandaskan Filsafat Ilmu (Scene of Philosophy, bukan Philosophy Science) untuk menemukan dan menetapkan proposisi (rumusan penyimpulan) teologi;

6) Ketidak pedulian yang tidak dapat membedakan “bahasa Iman” atas ajaran yang cenderung dimutlakkan, dan dipertahankan mati-matian, dibanding dengan “bahasa Teologi” sebagai ilmu yang mengandung probabilitas ilmiah yang dapat disiskusikan atau didebatkan.

7) Arogansi berteologi yang cenderung membenarkan diri, membela pandangan sendiri dan mendiskreditkan orang atas nama kemurnian ajaran Kristen dan kesucian TUHAN;

8) Akhirnya, perlu ditanyakan, “siapa yang memberi hak dan ororitas atas semua ini untuk bersikap dan mengklaim atas nama TUHAN ?”

Kedua, TUHAN ALLAH YANG BERDAULAT DAN TINDAKAN-NYA YANG SEMPURNA

TUHAN Allah yang berdaulat bekerja menurut rencana-Nya yang kekal dan mewujudkannya dengan sempurna.

A. TUHAN Allah yang berdaulat bekerja menurut rencana kekal-Nya
TUHAN Allah bekerja berdasarkan kedaulatan dan rencana-Nya yang kekal dan bertujuan. TUHAN Allah yang berdaulat dalam mewujudkan rencana-Nya yang kekal, “selalu menyatakan” (dalam Alkitab) dan atau “tidak menyatakan” (hanya ada pada diri-Nya, lihat Ulangan 29:29). Sebagai contoh:

1) TUHAN Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan umat-Nya, di mana salah satunya terlihat pada wabah Covid-19;

2) Maksud TUHAN tidak selalu dinyatakan “hitam-putih” untuk diketahui, antata lain: “Apakah wabah Covid-19 adalah hukuman dan murka TUHAN atas dosa satu atau sekelompok orang?

Apakah wabah Covid-19 adalah tanda terakhir akhir zaman? Apakah wabah Covid-19 adalah hukuman TUHAN atas orang Kristen yang tidak taat?

Apakah wabah Covid-19 adalah keputusan cara mati yang diizinkan TUHAN?

Apakah wabah Covid-19 adalah bencana yang akan menghancurkan dunia? Kalau pun Anda menjawab Anda tahu, siapa yang Memberi otoritas kepada Anda untuk bicara atas nama TUHAN?

Setiap jawaban berani atas pertanyaan-pertanyaan di atas adalah probabilitas yang kemungkinan salahnya besar, karena semua adalah rahasia TUHAN;

3) Orang Kristen diajar untuk berdoa, “kehendak-Mu jadilah, di bumi seperti di sorga,” yang ujungnya adalah kemuliaan bagi TUHAN Allah, karena itu, jangan mendahului Dia. Nantikanlah Dia yang akan bertindak pada waktu-Nya. Kenyataan dalam berteologi adalah “kita hanya mengerti kehendak TUHAN Allah yang kekal, sesudah kita mengalami pengalaman TUHAN dalam segala peristiwa, termasuk Covid-19”;

4) Orang Kristen harus berdoa, untuk berserah diri dan memohon belaskasihan serta perlindungan dan tindakan TUHAN atas ancaman Covid-19, dan TUHAN Allah yang menjamin perlindungan, dan berkusa mengadakan mujizat kesembuhan pada waktu-Nya;

5) Orang Kristen harus mempercayai TUHAN Allah, dimana percaya tidaklah sama dengan berusaha mengatur TUHAN dan cara-Nya bekerja melalui seperangkat doa, ajaran dan sikap iman, karena orang Kristen bertanggung jawab mengimani dan menanti jawaban Allah atas doanya secara sabar dan tekun.

B. TUHAN Allah yang berdaulat bekerja mengelola ciptaan-Nya secara universal, korporat dan prifat atau individu

Berdasarkan pemahaman tentang TUHAN Allah seperti yang telah diuraikan di atas, dapat dikatakan bahwa wabah Covid-19 adalah cara TUHAN Allah mengelola alam ciptaan-Nya, yang diwujudkan-Nya secara unik, universal untuk dialami dunia, korporat untuk dialami
kelompok masyarakat; dan partikular untuk dialami setiap pribadi.

Pemahaman cara dan maksud kerja TUHAN adalah “sesudah pengalaman berlalu” dan setiap orang memaknai serta membuat refleksi atas pengalaman Covid-19 sesuai pengalamannya, yang tidak bersifat normatif bagi orang lain.

C. Pertentangan kesetiaan berteologi yang historis

Kenyataan menunjukkan bahwa orang Kristen memiliki kecenderungan mempertahankan dan mendebatkan ajaran apa pun dari kesetiaan berteologi (theological allegiances) sesuai tradisi teologi, bukan membela kebenaran tentang TUHAN Allah “an sich” berdasarkan Alkitab.

Kesetiaan berteologi ini memiliki beberapa kecenderungan:
1) Memutlakkan Penafsiran sendiri yang seolah menggangap diri sebagai juru tafsir Alkitab yang lebih benar, lebih otoritatif, lebih berkuasa dari orang lain;
2) Seolah mengangkat diri menjadi “jurubicara” TUHAN yang memonopoli “hak berbicara atas nama Allah”;
3) Seolah mengangkat diri menjadi “nabi” untuk berbicara atas nama TUHAN;
4) Seolah mengangkat diri menjadi “hakim” untuk menghakimi atas nama Allah; menetapkan siapa benar (diri) dan siapa yang salah (orang lain)
5) Seolah kehilangan rasa kemanusiaan dan solidaritas kekristenan, dengan bertepuk dada, lupa bedoa, memohon berkat …
Akh, ini uraian yang berkepanjangan … namun, siapa yang memberi hak dan otoritas atas semua sikap ini?

KESIMPULAN
Uraian dalam diskursus ini tidak berkesimpulan, hanya mengandung keprihatinan untuk mengajak:

Pertama, Biarlah TUHAN Allah tetap TUHAN Allah, dan belajarlah untuk memahami Dia secara “an sich” Dia, siapa dan apa ADA-Nya menurut Dia dan Sabda-Nya, serta jangan mengecilkan Dia menjadi sesempit otak manusia yang karatan karena dosa.

Kedua, Belajarlah untuk tidak mengambil hak TUHAN Allah dengan memutlakan diri sebagai “nabi” yang berbicara atas nama-Nya dan atau menghakimi sebagai “hakim” yang cenderung membenarkan diri menyalahkan orang lain.

Ketiga, TUHAN Allah berdaulat dan Mahakuasa, dan IA dapat menghentikan wabah Covid-19, bahkan mengadakan mujizat sesuai kehendak-Nya, pada waktu-Nya.

Keempat, TUHAN Allah berdaulat menjawab doa dengan mengadakan mujizat atau tidak samasekali, dan semua terjadi atas kehendak-Nya, sehingga tidak ada yang berhak menghakimi sesama dengan mengambil hak TUHAN sambil mengatakan “harus terjadi” atau “tidak ada mujizat” …

Kelima, Covid-19 ada dalam tangan TUHAN Allah yang berdaulat, yang akan bertindak pada waktunya untuk menghentikan atau meneruskannya, demi mewujudkan rencana-Nya yang kekal bagi isi dunia, Anda dan saya.

Keenam, Sebisanya, janganlah menganggap diri sebagai nabi atau hakim, tetapi jadilah orang Kristen yang bijak, saleh dan setia, yang tidak menggurui atau menghakimi atas nama TUHAN.

Ketujuh, Bersiaplah senantiasa serta siaga menanti TUHAN yang akan beracara …!

Salam dan doa bagi kesehatan serta kesejahteraan dan keselamatan semua …

www.yakobtomatala.com

TUHAN Yesus Kristus bersabda: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5:9)

Shalom!

Beberapa catatan, menyikapi polemik Dogmatika di Medsos:

Sebagai Umat Allah, kita harus berbuka hati dan menyadari bahwa:

Pertama, Situasi Covid-19 dan keadaan dunia saat ini, membuat kondisi tidak kondusif untuk meresponi pernyataan dogmatis apa pun, satu kepada yang lain, dengan “berdebat atau menyerang” ajaran orang lain. Di sini tidak ada yang menang, karena “Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak” (Amsal 25:11, dan lagi, “Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang” (Amsal 16:24)

Kedua, Kalau pun masing-masing mengklaim kebenarannya, tetap saja kedua belah pihak sama-sama kalah dan pada gilirannya sama-sama salah serta sama-sama terluka, dan sama-sama kehilangan damai (Yesaya 32:17). Ingatlah bahwa “Debat Dogmatika (ajaran yang dianut) tidak akan selesai dengan menang – kalah”

Ketiga, Semua pihak harus menahan diri dan kembali ke basis, mewujudkan panggilan Gereja: Memelihara kesatuan, memupuk persekutuan, menguatkan kesaksian bersama, memurnikan pemberitaan, dan menjadi instrumen pembangunan guna membangun sesama dan menjadi berkat kepada dunia, dalam satu TUHAN, satu kasih, satu iman dan satu pengharapan dalam membangun Tubuh Kristus (Efesus 4:1-16), karena “Gereja ada di dalam dunia, gereja ada untuk menjadi berkat kepada dunia” (Yohanes 17:18: 20:21)

Keempat, Pilihan terbaik adalah bersikap bijaksana (dengan integritas teguh: benar, baik, adil, tulus, jujur, mengasihi dan lemah lembut), mengedepankan sikap bijak serta arif berpikir, berkata dan bertindak (Yesaya 32:8; Filipi 4:5,8-9), sehingga semua menjadi berkat satu kepada yang lain, supaya orang lain diberkati …

Kelima, Sebagai orang Kristen, kita harus mengedepankan kasih persaudaraan dan tanggung jawab menjaga perdamaian serta mengalahkan kejahatan, jangan saling membinasakan (Roma 12:9-22; 14:8-12; I Yohanes 4:7-12; Galatia 5:14-15), agar kita dapat memberi teladan iman dan menjadi berkat bagi dunia ke mana Gereja terutus oleh TUHAN-nya (Matius 28:18-20)

Dengan demikian, “kiranya kita bersabar hati satu dengan yang lain dan saling mengampuni di dalam Kristus Yesus TUHAN kita” (Kolose 3:12-13), lalu, “biarlah damai sejahtera Kristus memerintah hati kita demi memenuhi panggilan-Nya” karena: “Gereja ada di dalam dunia, gereja terutus untuk menjadi berkat kepada dunia” …
Kiranya …….!

Dalam doa untuk kedamain bagi semua, karena “jika kita membawa damai, kita memberkati sesama, dan kita pasti berbahagia” (Matius 5:9)

Bersatu demi memenangkan pertarungan atas Covid-19

Selamat Paskha 2020

www.yakobtomatala.com

Teks bacaan:
Roma 8:28; 11:6; I Raja-raja 22:1-40; Mazmur 91; Yesaya 33:15-16; Ibrani 13:6.

Pengantar
Ada kias dalam dunia militer yang mengatakan bahwa “peluru punya mata”. Apa artinya ini? Sederhana, maknanya ialah, “tidak sembarangan orang akan mati dalam pertempuran.” Jika dilihat dari perspektif Alkitab, kita diajarkan bahwa TUHAN Allah kita berdaulat, dimana IA telah menetapkan segala sesuatu untuk terjadi pada waktunya (Pengkhotbah 3:1-8), untuk memenuhi tujuan-Nya yang kekal.

Tidak terkecuali, ini termasuk Covid-19 yang menakutkan dunia, tetapi “tidak semua dan sembarang orang akan terkena, dan mati.” Lihatlah, Raja Israel Ahab yang menyamar dalam peperangan, tetapi “seseorang yang menarik panah dan menembak dengan sembarangan saja dan mengenai raja Israel (Ahab), dan menewaskannya” (I Raja-raja 22).

Hm … Apakah panah memiliki mata? Karena itu, timbul pertanyaan lain, “Apa yang patut diketahui untuk meneguhkan sikap orang percaya di dalam TUHAN Yesus Kristus menghadapi horor Covid-19 ini?

Pertama, Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, maka IA akan meluruskan jalanmu (Amsal 3:5) dan serahkanlah hidupmu pada-Nya (Mazmur 37:3,5,7), karena dengan kepak-Nya IA akan melindungi engkau, karena DIA-lah yang akan melepaskan engkau dari penyakit sampar, oleh-Nya, jangan takut! Dengan-Nya, walau sepuluh ribu orang rebah di sisimu, itu tidak akan menimpamu (Mazmur 91:3-7). Ingatlah, “Dalam takut akan TUHAN ada ketenteraman yang besar” (Amsal 14:26; Ayub 28:28).

Kedua, TUHAN Allah yang berdaulat, bekerja dalam segala sesuatu, untuk “mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi DIA” (Roma 8:28), dan segala sesuatu telah ditetapkan untuk tujuannya masing-masing (Amsal 16:4a), demi memenuhi maksud Allah, “yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya (Efesus 1:11a) bahkan orang fasik telah ditetapkan-Nya untuk hari malapetaka” (Amsal 26:4b). Ingatlah, bahwa Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus (I Tesalonika 5:9).

Karena itu, “lakukanlah yang benar di mata-Nya, maka Covid-19 tidak akan menimpa kita,” (Keluaran 15:26; Ulangan 7:15), sebab “hanya dekat TUHAN Allah saja kita tenang” (Mazmur 62;2-3), dan dalam naungan-Nya kita terlindung (Yesaya 33:15-16).

Ketiga, TUHAN Yesus Kristus mengingatkan kita bahwa pada akhir zaman akan datang berbagai malapetaka termasuk kelaparan dan sampar, tetapi ini baru permulaan dari tanda kedatangan-Nya (Matius 24:7-8; Wahyu 6:8). Sejalan dengan itu, akan timbul berbagai kejahatan (II Timotius 3:1-5), “tetapi orang yang bertahan sampai kepada kesudahannya akan selamat” (Matius 24:13).

Keempat, Covid-19, bisa jadi adalah peringatan TUHAN Allah, apakah kita termasuk “orang murtad yang saling menyerahkan dan saling membenci (Matius 24:10), karena tidak percaya dan berhati jahat?” (Ibrani 3:12).

Karena itu, waspadalah! Tetaplah berdoa ((I Tesalonika 5:27) dan bertahan ke akhir, “kita pasti terlindung dalam tangan TUHAN Yesus.” “Sebab itu berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran yang benar” (II Tesalonika 2:15), “bertegulah dalam TUHAN, dan berlarilah kepada-Nya, kita pasti selamat.

Karena itu, jangan tawar hati agar kekuatan kita besar dalam menghadapi tantangan. Berdirilah teguh, jangan goyah, karena dalam TUHAN, kita pasti selamat menghadapi semua tantangan” (Amsal 18:10; 24:10; I Korintus 15:58).

Akhirnya, ingatlah bahwa “corona punya mata dan tidak akan mengena sembarangan orang”, ingatlah akan Ahab yang terpanah mati, karena panah punya mata! Sadarlah bahwa TUHAN sedang memegang kendali, dan dalam tangan-Nya kita pasti terlindung.” Mari, ikrarkanlah bersama, “Haleluya! TUHAN adalah Penolongku. Aku tidak akan takut terhadap Covid-19” (Ibrani 13:6). Amin …

Selamat berlindung dalam kepak TUHAN Allah (Mazmur 91).

www.yakobtomatala.com

Fiman Allah:
“….. Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk memguduskan bagi diri-Nya suatu umat kepunyaan-Nya sendiri yang rajin berbuat baik” (Titus 2:13b-14).
Read the rest of this entry »

Firman Allah:
“Hai anakku, perhatikanlah hikmatku, arahkanlah telingamu kepada kepandaian yang kuajarkan, supaya engkau berpegang pada kebijaksanaan dan bibirmu memelihara pengetahuan”
(Amsal 5:1-2).
Read the rest of this entry »

Firman TUHAN Allah:
“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (Mazmur 90:12).

Pengantar
Waktu yang di dalamnya terjadi peristiwa, telah diframe dalam detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun. Waktu dalam bentuk ini menempatkan setiap orang dalam tataran matematis. Waktu membuat orang dapat menghitung “berapa lama, berapa banyak, berapa peristiwa dan berapa panjang suatu keterjadian, dst.” Pada sisi lain, TUHAN Allah adalah TUHAN atas waktu baik yang “kairos, kronos mau pun ion.” Read the rest of this entry »

TUHAN,
Dari Sabda-Mu, kami tercelik bahwa toleransi berarti sikap yang memandang sesama sebagai sesama manusia
Tatkala manusia membinatangkan sesamanya dengan mencurigai, memusuhi, merusuhi, bahkan  mengambil nyawa, sadarkanlah kami bahwa sikap ini adalah manusia yang tidak manusiawi, karena menganggap sesamanya sebagai binatang, dan dia berjiwa … sekeji binatang Read the rest of this entry »

HUKUMAN MATI

Death Penalty

Suatu Tinjauan Etis Kristen terhadap Pelaksanaan Hukuman Mati[1]

Oleh: Pdt. Dr. Yakob Tomatala

Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri

(Kejadian 9:6)

Pengantar

Hukum dan hukuman mati adalah dua hal yang berbeda. Hukum (law) dapat dimaknai sebagai “Tatanan norma yuridis legal yang tersistem, yang berfungsi sebagai dasar yang mengatur, melindungi dan mendukung kehidupan masyarakat yang merupakan entiti sipil suatu negara.”

Pembentukan hukum menurut Montesquieu[2] dibangun berlandaskan espirit generale atau common spirit dari suatu masyarakat. Bentuk hukum yang diberlakukan secara positif terdiri dari Hukum Sipil atau Civil Law dan Hukum Komon atau Common Law. Otoritas pembuat dan pelaksana hukum adalah Pemerintah, yang melibatkan eksekutif, legislatif dan yudikaktif. Read the rest of this entry »

MENJUAL YESUS:

TIGA PULUH UANG PERAK

Narasi Pengorbanan Yesus Kristus

Matius 26:14-16; markus 14:10-11; Lukas 22:3-6

 

Pengantar

Aku kebingungan! Biar bagaimana pun, aku telah mengambil keputusan penting yang sangat kuyakini kebenarannya. Betapa tidak, selama aku menyertai Dia, aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri akan hal-hal luar biasa yang terjadi. Ia secara khusus melakukan hal-hal yang tidak dapat dibayangkan sebelumnya. Ajaran dan tindakan-Nya mengingatkan saya akan apa yang merupakan kerinduan bangsa kami. Kerinduan bangsa kami ini dikisahkan turun temurun di antara kami, baik di rumah, mau pun di perkumpulan-perkumpulan keagamaan atau sosial di tengah-tengah masyarakat. Read the rest of this entry »