<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DR. Yakob Tomatala &#187; Information</title>
	<atom:link href="http://yakobtomatala.com/category/information/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://yakobtomatala.com</link>
	<description>Leadership, Thoughts, Books, Writing !</description>
	<lastBuildDate>Sun, 06 May 2012 17:04:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>MEMIMPIN SEPERTI YESUS KRISTUS</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2011/04/08/memimpin-seperti-yesus-kristus/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2011/04/08/memimpin-seperti-yesus-kristus/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Apr 2011 16:25:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Information]]></category>
		<category><![CDATA[kepemimpinan Yesus]]></category>
		<category><![CDATA[memimpin seperti Yesus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=355</guid>
		<description><![CDATA[PAR-EXCELLENCE LEADERSHIP: MEMIMPIN SEPERTI YESUS KRISTUS Buku Par-Excellence Leadership Memimpin Seperti Yesus Kristus adalah buku yang menegaskan tentang prinsip agung kepemimpinan Yesus Kristus yang belaku secara universal dengan keunggulan terap yang luar biasa. Buku Memimpin Seperti Yesus Kristus: Kepemimpinan yang Par-ekselens ini adalah suatu penemuan dari Kitab Suci Alkitab tentang “kepemimpinan Yesus Kristus” yang luar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PAR-EXCELLENCE LEADERSHIP: MEMIMPIN SEPERTI YESUS KRISTUS</strong></p>
<p>Buku Par-Excellence Leadership Memimpin Seperti Yesus Kristus adalah buku yang menegaskan tentang prinsip agung kepemimpinan Yesus Kristus yang belaku secara universal dengan keunggulan terap yang luar biasa. Buku <em>Memimpin Seperti Yesus Kristus: Kepemimpinan yang Par-ekselens</em> ini adalah suatu penemuan dari Kitab Suci Alkitab tentang “kepemimpinan Yesus Kristus” yang luar biasa itu, yang telah dibuktikan-Nya sebagai sangat efektif dan efisien.</p>
<p>Kebenaran kehebatan Kepemimpinan Yesus Kristus ini diungkapkan oleh Kenneth Blanchard yang menegaskan,  “Christians have more in <em>Jesus</em> than just a great spiritual leader; we have a <em>practical and effective leadership model</em> for all organizations, for all people, for all situations” (Orang Kristen memiliki hal yang luar biasa dalam Yesus lebih dari sekedar seorang pemimpin rohani besar; kita memiliki model kepemimpinan praktis dan efektif untuk semua organisasi, untuk semua orang, dan untuk semua situasi).</p>
<p><a href="http://yakobtomatala.com/wp-content/uploads/2011/04/memimpin_seperti_yesus.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-356" style="margin: 5px;" title="memimpin_seperti_yesus" src="http://yakobtomatala.com/wp-content/uploads/2011/04/memimpin_seperti_yesus.jpg" alt="" width="207" height="266" /></a>Pembuktitian kepemimpinan-Nya yang par-ekselens ini dicatat dalam Injil, yang menjelaskan tentang bagaimana IA berpikir, bersikap dan bertindak sebagai seorang pemimpin, yang memperjuangkan kepemimpinan-Nya secara konsisten sampai mengakhirnya dengan gemilang, tatkala IA akhirnya menegaskan di Salib, “Telah selesai” (Yohanes 19:30).</p>
<p>Kepemimpinan Yesus Kristus yang par-ekselens yang dituangkan dalam buku ini mengetengahkan <strong>prinsip inti</strong> kepemimpinan-Nya yang diwujudkan dengan “<em>Memimpin dari hati; memimpin berlandaskan kasih; dan memimpin dengan kekuatan kebenaran kebaikan</em>,” yang olehnya IA membuktikan keunggulan kepemimpinan-Nya. Gagasan kepemimpinan Yesus Kristus adalah sangat kaya yang dibahas secata terbatas dalam buku ini. Namun, tulisan ini menjadi acuan dasar yang masih terbuka untuk dikembangkan berlandaskan kebenaran dalam Injil Yohanes, “<em>Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus Kristus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu persatu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu</em>.” Selamat mengembara bersama Yesus Kristus dalam kepemimpinan-Nya yang par-ekselens.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dr. Yakob Tomatala</p>
<p>Penulis</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2011/04/08/memimpin-seperti-yesus-kristus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ENTREPRENEUR SEJATI</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2011/04/08/entrepreneur-sejati/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2011/04/08/entrepreneur-sejati/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Apr 2011 04:37:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Books]]></category>
		<category><![CDATA[Information]]></category>
		<category><![CDATA[Karakter Kepemimpinan]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[ENTREPRENEUR SEJATI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=345</guid>
		<description><![CDATA[“Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan, ia menguatkan lengannya. Ia tahu bahwa pendapatannya menguntungkan, pada malam hari pelitanya tidak padam” (Amsal 31:17-18). PENGANTAR Istilah entrepreneur dan entrepreneurship sangat populer belakangan ini. Dalam memahami entrepreneur dan entrepreneurship, kita perlu bertanya, “siapa dan apa sesungguhnya entrepreneur dan atau entrepreneurship itu, serta apa hubungannya dengan wirausaha atau kewirausahaan?” Secara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<em>Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan, ia menguatkan lengannya. Ia tahu bahwa pendapatannya menguntungkan, pada malam hari pelitanya tidak padam</em>”</p>
<p>(Amsal 31:17-18).</p>
<p><strong>PENGANTAR</strong></p>
<p>Istilah entrepreneur dan entrepreneurship sangat populer belakangan ini. Dalam memahami entrepreneur dan entrepreneurship, kita perlu bertanya, “siapa dan apa sesungguhnya entrepreneur dan atau entrepreneurship itu, serta apa hubungannya dengan wirausaha atau kewirausahaan?” Secara umum, entrepreneur telah dipadankan dengan wirausaha, dan entrepreneurship telah dipadankan dengan kewirausahaan, yang cenderung berkaitan hanya dengan dunia bisnis<a href="#_ftn2">[2]</a> dan pelaku usaha bisnis. Setelah mengadakan pengkajian yang lebih terbuka terhadap entrepreneur dan entrepreneurship, penulis menghasilkan kesimpulan bahwa setiap orang yang sukses sampai ke puncak, sesungguhnya adalah dia yang memiliki <em>jiwa entrepreneur</em>.<a href="#_ftn3">[3]</a> Menguraikan pokok seputar Entrepreneur Sejati, maka ada tiga hal yang akan dibahas, yaitu antara lain: <em>Satu</em>, Memaknai Entrepreneur dan entrepreneurship; <em>Dua</em>, Ciri-ciri entrepreneur; dan <em>Tiga</em>, Membangun budaya entrepreneurship.<span id="more-345"></span></p>
<p><strong>MEMAKNAI ENTREPRENEUR DAN ENTREPRENEURSHIP</strong></p>
<p>Telah dikatakan bahwa selama ini, istilah entrepreneur dan entrepreneurship telah dipadankan dengan wirausaha dan kewirausahaan. Di sini dapat dikatakan bahwa “wirausaha” artinya “berani berusaha, atau berani menjalankan sesuatu usaha secara mandiri sehingga mendatangkan keberhasilan atau keuntungan. Dalam pengertian di atas, dapatlah dikatakan bahwa “<em>Kewirausahaan adalah upaya mengembangkan pengaruh dengan mengelola suatu bisnis atau usaha sebegitu</em><em> </em><em>rupa secara mandiri, sehingga mendatangkan keuntungan</em>.” Selanjutnya, dapat dikatakan bahwa kewirausahaan dalam kaitan ini berarti “<em>proses yang ditandai oleh keberanian memulai, mengelola dan menjalankan suatu usaha khusus secara mandiri yang berorientasi kepada keberhasilan atau keuntungan</em>.” Menurut Pietra Sarosa<em> wirausahawan/ wati </em><em>a</em>dalah “<em>S</em><em>eseorang yang mempunyai visi, semangat dan tindakan-tindakan nyata dalam usaha menciptakan dan mengembangkan sendiri sumber-sumber income-nya tanpa bergantung semata-mata kepada orang lain</em><strong>.</strong>”</p>
<p>Selanjutnya, istlah <em>en</em><em>trepreneur</em><em> </em>dan<em> entrepreneur</em><em>ship</em> yang berasal dari istilah <em>entreprendre</em>, berarti “<em>menjalankan</em>, yang menjelaskan tentang adanya seseorang yang mengorganisir dan menjalankan suatu usaha secara berani dengan tujuan memperoleh keuntungan.” Di sini dapat dikatakan bahwa <em>entrepreneur</em> adalah seseorang yang mandiri dan berani  melakukan sesuatu yang membawa keuntungan dan memberikan keuntungan.  <em>Entrepreneurship</em> dalam kaitan ini berarti “<em>proses yang ditandai oleh keberanian memulai, mengelola dan menjalankan suatu usaha khusus secara mandiri yang berorientasi kepada keberhasilan atau keuntungan</em><em>, sehingga dapat menguntungkan secara lebih luas</em>.” Menyimak pemahaman entrepreneur dan entrepreneur seperti di atas ini, dapat dikatakan bahwa konsep entrepreneur ini bersifat terbuka, yang dapat meliputi segala bidang kehidupan, yang menjelaskan bahwa seorang entrepreneur itu dapat “siapa aja” dalam bidang “apa saja,” karena yang terpenting ialah bahwa ia memiliki <em>jiwa entreprenur</em> dengan ciri, sikap dan tindakan yang jelas, yang menunjukkan adanya kemandirian tinggi padanya.<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>CIRI-CIRI ENTREPRENEUR</strong></p>
<p>Memahami konsep entrepreneur secara terbuka, dapat dikatakan bahwa seorang entrepreneur memiliki ciri-ciri khusus yang unik. <a href="#_ftn5">[5]</a> Ciri-ciri entrepreneur yang unik itu adalah antara lain:</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Entrepreneur adalah seorang yang kompeten. Kompetensi ini menegaskan bahwa entrepreneur memiliki kepenuhan-kelengkapan diri yang bersifat individu, profesional dan formal. Kompetensi enterpreneur ini dibangun diatas faktor berikut:</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Menemukan <em>visi</em> sebagai dasar membangun kompetensi. Seorang entrepreneur harus memulai dengan menemukan, membangun dan meneguhkan visi (keingin suci, keinginan sejati)<a href="#_ftn6">[6]</a> sebagai dasar untuk mengembangkan diri serta karirnya.</li>
<li>Meneguhkan budaya kualitas. Kompetensi diri entrepreneur menjelaskan bahwa ia berhasil membangun diri dalam <em>life way</em> berkualitas, yang menegaskan bagaimana ia mengembangkan paradigma, perspektif, sifat, sikap; dan cara unggul.</li>
<li>Membangun kompetensi, mewujudkan INTEGRITAS karakter, sehingga ia dapat <em>dipercayai</em>; KAPASITAS pengetahuan yang komprehensif dan khas lebih sehingga ia dapat <em>diharapkan</em>; dan KAPABILITAS (kecakapan) sosial dan teknis andal, sehingga ia dapat <em>diandalkan</em>.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Entrepreneur adalah seorang mandiri. Aspek kemandirian ini dapat dijelaskan sebagai berikut:</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Entrepreneur memiliki <em>Keunggulan Pikiran </em>dan<em> Berpikir</em> yang membuatnya andal mengungguli orang kebanyakan (orang rata-rata) di lingkungannya. Keunggulan pikiran dan berpikir ini ditandai oleh keandalan menggunakan pikirannya, dimana ia dapat berpikir dan bersikap terbuka; berpikir dan bersikap kreatif dan inovatif; berpikir dan bersikap asertif; berpikir dan bersikap proaktif &#8211; antisipatif; berpikir dan bersikap besar, berpikir dan bersikap benar; berpikir dan bersikap sinergis simultan; serta berpikir dan bersikap kemungkinan.</li>
<li>Entrepreneur memiliki <em>Keunggulan Keberanian</em> yang menjelaskan bahwa ada kebiasaan unggulan. Kebiasaan unggulan inilah yang menyebabkan seorang entrepreneur itu berani menentukan sikap; berani menemukan, mencipta, mengejar dan menangkap peluang; berani mengubah peluang menjadi produk; berani menanggung akibat dari keputusan; berani mengambil resiko dan petaruhan; berani terbuka melibatkan orang lain untuk bekerja sama dengan penuh kepercayaan serta  penghargaan guna mencipta peluang menjadi uang.</li>
<li>Entrepreneur memiliki Keunggulan MEREKAYASA CARA  yang memberikan keandalan kepadanya. Keunggulan ini membuatnya andal untuk <em>bertindak strategis</em> dan <em>bertindak taktis</em> yang dibuktikan dengan <em>bekerja cakap</em>; bertindak dengan cara unik dan penuh perhitungan, efektif, efisien, sehat, produktif; bertindak dengan gairah penuh; dan bertindak terfokus dan konsisten.</li>
<li>Enterpreneur adalah seorang yang bermental investor.<a href="#_ftn7">[7]</a> Sejatinya, seorang entrepreneur adalah dia yang memiliki kedewasaan dengan mentalitas investor. Mentalitas investor menjelaskan bahwa ia selain memiliki kestabilan income, ia bebas untuk mengembangkan usaha berciri <em>the second</em>, <em>the third</em> atau the <em>fourth income</em> dst., dengan membiarkan uang bekerja baginya. Dalam hubungan ini, sang entrepreneur hanya bekerja dengan orang yang andal, dapat diharapkan dan dapat dipercaya dengan penerapan manajemen yang tidak rumit dan dapat disupervisi secara menyenangkan.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Enterpreneur adalah strategos taktisian andal. Sebagai strategos taktisian, enterepreneur adalah seorang eksekutor atau pelaksana yang pemberani. Gerakannya selalu memperhitungkan bagaimana ia memilih, meraih, mencipta peluang, bersikap tidak terbaca; berani menunjukkan keunggulan; melangkah terus berada di depan orang lain, dengan melangkah cepat; dan bertindak tepat.</li>
<li>Entrepreneur adalah pribadi yang harus membawa keuntungan bagi banyak orang. Seorang enterpreneur pada akhirnya memiliki ciri kemanfaatan tinggi, yaitu ia akan selalu membawa keuntungan dan manfaat yang dapat dinikmati oleh lebih banyak orang ia dapat hidup untuk memberi, hidup untuk menolong dan membuktikan diri sebagai <em>the life giving leader</em>.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>MEMBANGUN BUDAYA ENTREPRENEURSHIP</strong></p>
<p>Mengapa membangun individu-individu berjiwa entrepreneur<a href="#_ftn8">[8]</a> itu sangat penting bagi sebuah negara atau suatu bangsa? Dr. Ir. Ciputra<a href="#_ftn9">[9]</a> senantiasa bertanya, mengapa Indonesia masih tertinggal secara ekonomi dari Singapura, Taiwan, Hongkong, Jepang, apalagi Amerika Serikat? Dan apa yang ditemukannya cukup mengejutkan, yaitu karena Indonesia terlalu sedikit mempunyai wirausaha <em>entrepreneur</em>.<a href="#_ftn10">[10]</a> Pertanyaan Bapak Ciputra ini haruslah disambut sebagai tantangan untuk dijawab sebagai anak bangsa. Dalam upaya menjawab pertanyaan ini, “Sosiolog Pembangunan, David McLelland  menemukan bahwa suatu negara akan makmur apabila mempunyai wirausaha atau <em>entrepreneur</em> sedikitnya 2% dari jumlah penduduk negara itu. TAHUN 2005, Singapura memiliki <em>entrepreneur</em> 7.2% dari total penduduknya, padahal tahun 2001 hanya ada 2.1%. PADA TAHUN 1983, Amerika yang berpenduduk 280 juta memiliki 6 juta <em>entrepreneur,</em> atau sekitar 2.14% dari total penduduknya.<a href="#_ftn11">[11]</a> Berdasarkan observasi Ciputra dan temuan McLelland ini, dapatlah ditegaskan beberapa kebenaran seputar urgensi dan kepentingan membangun budaya entrepreneurship.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Kepentingan membangun Budaya Entrepreneurship. Menjadi seorang entrepreneur sejatinya adalah melibatkan cara hidup unggul yang menuntut adanya suatu <em>budaya entrepreneurship</em>.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Kadar entrepreneur menjelaskan tentang <em>kualitas kemandirian</em> suatu masyarakat yang menggungkapkan tentang kualitas intelektualitas, kualitas sikap dan kualitas tindakan setiap individu. Kadar kemandirian ini menunjuk tentang sejauh mana suatu masyarakat itu dapat mengisi kehidupannya secara berkualitas, dan muncul sebagai ungul dalam persalingan antar kelompok, mau pun antar bangsa.</li>
<li>Kadar entrepreneurship menjelaskan tentang <em>kualitas kebudayaan</em> yang menunjuk kepada <em>the total lifeway</em> dari suatu kelompok masyarakat atau suatu bangsa yang menjelaskan bagaimana mereka berpikir, bersikap, berkata dan bertindak dalam upaya melanjutkan serta mempertahankan eksistensinya. Di sini akan nampak keunggulan berpikir inovatif, kreatif mengembangkan serta menggunakan teknologi; berpikir asertif, proaktif, antisipatif, menggunakan teknologi bagi pengembangan ekonomi; berpikir dan bersikap sosiatif, energetik, sinegetik dan simultan sebagai landasan menggunakan teknologi untuk bertindak mewujudkan praksis ekonomi yang kompetitif serta unggul.</li>
<li>Kadar entrepreneurship menjelaskan tentang <em>kualitas nilai</em> suatu kelompok atau bangsa yang menunjuk kepada sejauh mana proses inkulturasi dijalankan untuk meneguhkan kehidupan kelompok yang menjelaskan tentang daya juang dan daya tahannya; daya saing dan daya jualnya; yang membuktikan keunggulan kelompok dimaksud yang kompetitif.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Pendekatan membangun Budaya Entrepreneurship. Dari perspektif kebudayaan, <em>worldview</em> yang membakukan nilai-nilai agung suatu kelompok, semuanya ini dibangun melalui proses inkulturasi atau enkulturasi, yaitu hakikat dan cara pendidikan dalam kebudayaan setiap masyarakat.<a href="#_ftn12">[12]</a> Dalam perpektif ini, dapat dikatakan bahwa budaya entrepreneur dapat dibangun melalui proses <em>inkulturasi</em>, yaitu pendidikan yang bersifat informil, non-formil dan formil, untuk mencipta, meneruskan dan membakukan nilai-nilai menjadi suatu worldview. Dari sudut pandang inkulturasi atau pendidikan dalam kebudayaan ini, pendekatan membangun budaya entrepreneur menyentuh aspek-aspek berkut:</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Fokus pendidikan – mewadahkan nilai-nilai ke dalam worldview yang berorientasi entrepreneurship untuk mengembangkan manusia mandiri.</li>
<li>Sistem pendidikan – melibatkan pelaksana didik dan nara didik dengan semangat entrepreneurship yang menggunakan falsafah <em>tranformasi – entrepreneuris</em> yang bermuara kepada pembentukan pribadi peserta didik yang  berjiwa entrepreneur.</li>
<li>Wadah pendidikan – membagi (sharing) nilai entrepreneurship melalui mekanisme pendidikan masyarakat atau keluarga (non-formil); pendidikan ketrampilan sosial dan teknis (informil) dan pendidikan umum atau sekolah (formil) yang harus dilakukan secara berkualitas serta konsisten.</li>
<li>Proses pendidikan – menyentuh interaksi nilai-nilai yang merupakan upaya membentuk falsafah hidup dengan worlview entrepreneurship.</li>
<li>Produk pendidikan – menghasilkan “output” berupa <em>manusia mandiri</em> yang <em>berjiwa entrepreneur</em> dengan kemandirian tinggi yang kompetitif, sehingga mereka dapat berkiprah dalam karir apa pun secara unggul, kompetitif dan sukses di <em>market place</em>.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>RANGKUMAN</strong></p>
<p>Telah diuraikan tiga hal penting dalam bahasan seputar entrepreneur dan entrepreneurship. Pemahaman tentang entrepreneur dan entrepreneurship menegaskan tentang adanya seseorang yang <em>berjiwa entrepreneur</em> dengan <em>kemandirian tinggi</em>, sehingga ia dapat berkiprah di <em>market place</em> dalam bidang kehidupan apa pun yang sesuai jatidirinya (inner will) yang merupakan dasar bagi <em>visi </em>dan <em>karir</em> yang ditekuninya.</p>
<p>Telah ditegaskan pula bahwa seorang entrepreneur memiliki ciri-ciri khas, yaitu ia haruslah kompeten dengan <em>integritas karakter</em> dengan etika moral teguh yang membuat ia <em>dapat dipercaya</em>; dan Kapasitas Pengetahuan yang komprehensif dan khas lebih, yang membuat ia <em>dapat diharapkan</em> dan Kapabilitas Kecakapan Sosial dan Teknis yang membuatnya <em>dapat diandalkan</em>. Secara lebih khusus, ujung dari kompetensi entrepreneur adalah “kemandirian tinggi” yang mewadahkan – keandalan penggunaan pikirannya (Pikiran Unggul); keandalah kebiasaan entrepreneur yang nampak pada keberanian membuat keputusan terhadap peluang (Keberanian Unggul); dan keandalan merekayasa cara (Cara Unggul), sehingga sang entrepreneur dapat membuktikan diri menjadi pelaku yang terus berkiprah kepada keberhasilan yang membawa keuntungan yang menguntungkan diri serta orang lain dalam hidup serta karirnya. Selamat membangun dan membuktikan diri sebagai entrepreneur sejati.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Salam doa,</p>
<p>Dr. Yakob Tomatala</p>
<div>
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Pokok ini tidak diberikan judul “wirausahawan sejati,” untuk menegaskan bahwa konsep entrepreneurship bersifat terbuka, dan juga untuk menghindari konotasi bahwa entrepreneur hanyalah milik mereka yang berkiprah dalam dunia bisnis saja.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Lihat pendapat Dr. Ir. Ciputra yang mengatakan, “Indonesia hanya memiliki sekitar 400 ribu wirausaha <em>real</em> <em>entrepreneur,</em> atau sekitar 0.18% dari penduduk. Memang pelaku bisnis tercatat ada 50 juta orang, tetapi yang lain itu bukan <em>entrepreneur</em> yang sesungguhnya, mereka hanya melakukan kegiatan mencari nafkah <em>subsisten. </em>Indonesia memerlukan 12 kali <em>real</em> <em>entrepreneur</em> lebih banyak dari yang ada hari ini,  atau sekitar 4.6 JUTA ORANG.”</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Lihat gagasan ini yan gdikemukakan oleh Levi Bracman dan Sam Jaffe dalam buku Sukses Bisnis Cara Yahudi.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Konsep entrepreneur dan entrepreneurshi ini dapat dipelajari dalam buku, “<strong><em>Entrepreneur Rohani</em></strong>” (Spiritual Entrepreneur) karya Y. Tomatala, terbitan YT Leadership Foundation, terbitan tahun 2010.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Menurut Ciputra, ada tiga ciri penting dalam diri seorang wirausaha <em>(real</em> <em>entrepreneur), </em>yaitu : (1) Penciptaan peluang <em>opportunity creating;</em> (2) Melakukan inovasi <em>innovating;</em> dan (3) Mengambil resiko yang terukur <em>calculated risk taking. </em>Selanjutkan dikatakan bahwa<em> </em><em>wirausahawan</em> atau <em>entrepreneur </em>adalah mereka yang memiliki keandalan mengubah sampah menjadi emas.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Pokok tentang visi sebagai “keinginan suci” ini dapat dipelajari dalam buku “<strong><em>Anda juga dapat menjadi Pemimpin Visioner</em></strong>,” karya Y. Tomatala</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Gagasan mental investor ini dapat dipelajari dari karya tulis Robert T. Kyosaki.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Penyebutan “berjiwa entrepreneur” digunakan di sini untuk menegaskan pendapat bahwa entrepreneurship dan entrepreneur itu bersifat terbuka, mencakup usaha dalam segala bidang kehidupan.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Dr. Ir. ciputra dapat dinobatkan sebagai <strong><em>Bapak Entrepreneur Indonesia</em></strong>.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Data ini diperoleh dari seorang rekan lain, yang sumbernya tidak tercantum.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Ibid.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> Pokok ini dapat dipelajari dalam buku <strong><em>Antropologi Kebudayaan</em></strong>, karya Y. Tomatala.</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2011/04/08/entrepreneur-sejati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KESAKSIAN PASKAH</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2011/03/31/kesaksian-paskah/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2011/03/31/kesaksian-paskah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Mar 2011 23:05:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[cerita paskah]]></category>
		<category><![CDATA[Information]]></category>
		<category><![CDATA[Paskah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=341</guid>
		<description><![CDATA[“Kamu sendiri mengatakan bahwa Aku lah Anak Allah” (Lukas 14:70; 66-71) Aku bukan siapa-siapa. Namaku bahkan tidak penting bagi siapa-siapa. Namaku selalu disebutkan sejalan dengan tugasku. Aku, sekali pun namaku tidak disebut, orang sudah tahu., karena aku adalah aku yang selalu mengerjakan kepentingan majikanku. Itu saja, karena ada banyak hal yang tidak penting mengenai aku. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<em>Kamu sendiri mengatakan bahwa Aku lah Anak Allah</em>”</p>
<p>(Lukas 14:70; 66-71)</p>
<p>Aku bukan siapa-siapa. Namaku bahkan tidak penting bagi siapa-siapa. Namaku selalu disebutkan sejalan dengan tugasku. Aku, sekali pun namaku tidak disebut, orang sudah tahu., karena aku adalah aku yang selalu mengerjakan kepentingan majikanku. Itu saja, karena ada banyak hal yang tidak penting mengenai aku. Yang paling penting bagiku ialah begini, “aku ada di lingkungan orang besar” karena itu, pekerjaanku, peranku, dan namaku menjadi penting, tetapi, aku tetap aku yang selalu identik dengan pekerjaanku.<span id="more-341"></span></p>
<p>Hari ini ada tugas istimewa, karena di tempat aku berkarya ada “tamu penting”, tetapi yang mengherankan ialah, aku tidak ditugasi untuk melayani tamu penting dimaksud seperti biasanya. Tidak ada air pembasuhan yang disediakan baginya untuk membasuh muka dan kaki-tangan, tidak ada handuk kering yang disediakan seperti biasanya bagi tamu terhormat itu sebagai tanda kehormatan.</p>
<p>Tetapi aku tahu orang itu! Betapa tidak? Aku mendengar dari banyak sumber tentang kehebatan-Nya. Ia lebih hebat dari para tabib yang terkenal di negeri ini, karena Ia menyembuhkan berbagai macam penyakit dengan sekali bersabda! Kabarnya, Ia pun memberi makan kepada beribu-ribu orang, membangkitkan orang mati, dan banyak lagi pekerjaan ajaib yang dikerjakan-Nya, karena itu nama-Nya sudah sangat tersohor dikalangan banyak orang.</p>
<p>Bahkan barusan minggu lalu, Ia menimbulkan kehebohan besar. Ia masuk ke Kota Suci dengan mengendarai “anak keledai” yang menandakan bahwa Ia adalah Raja. Orang orang disepanjang jalan berseru, hosanna &#8230;., hosanna &#8230;., bagi Anak Daud. Jalan-jalan menjadi macet dengan kehadiran-Nya. Banyak orang yang datang dari berbagai penjuru menjelang hari Raya Besar tahun ini, terhenyak dan terkagum-kagum akan apa yang sedang terjadi. Ia menuju ke Bait Suci di mana orang biasanya beribadah. Di situ Ia membersihkannya dengan menghalau para pedagang kaki lima dan para penukar uang, sebagai lambang penyucian dan penyataan kesucian dari Sesembahan-Nya. Alasan-Nya yang paling kuat untuk mengerjakan tugas mulia itu adalah seperti yang dikatakan-Nya sendiri., “ini rumah Bapa-Ku, jangan kamu menjadikannya seperti sarang penyamun!” Sementara banyak orang kebingungan dan hiruk pikuk, Ia berseru dengan suara lantang, “kalau kamu mau, runtuhkanlah Tempat Suci ini, dan Aku akan membangunkannya dalam tiga hari.”  Seluruh rakyat terpikat kepada-Nya, dan ingin mendengarkan tentang DIA (Lukas 19:48b). Kondisi saat itu sangat genting menjelang Hari Raya Besar, dan Para Pemimpin Pemerintahan mau pun Agama menjadi ketakutan, kalau-kalau akan ada “revolusi rakyat” oleh karena tindakan serta ajaran-Nya, dan negara menjadi kacau., dan yang penting, bisnis mereka terganggu. Kalau begitu, biangnya harus dibasmi.</p>
<p>Aku sendiri tidak mengerti tentang semua yang sedang terjadi itu, namun yang terpenting ialah bahwa “Orang Penting” itu sekarang ada di rumah majikanku. Tetapi, aku terus bertanya, “bila “Orang Besar” itu tidak diperlakukan sebagai “tamu penting,” maka ada apa gerangan?  Aku coba-coba mencuri berita, pasang telinga! Apa yang terjadi membuatku terperangah! Tangan-Nya dibelenggu, aku, bahkan aku mendengar kata-kata dari bicara kasar yang bernada tuduhan, “Apakah Engkau adalah Mesias, Anak dari Yang Terpuji?” Pertanyaan itu sudah santer di kalangan umum, karena dari banyak kalangan aku dengar bahwa banyak orang sedang mengharapkan kedatangan Mesias, yaitu Juruselamat. Dan berita ini membahayakan posisi para pemimpin saat itu. Selanjutnya, aku bahkan tidak percaya, akan apa yang aku lihat, sesuatu yang ironis terjadi! “Orang Besar” itu ditampar, Ia diejek, dan ludahi di depan banyak orang! Hatiku sedih bercampur gundah, aku bertanya dalam hatiku, “Mengapa Orang Besar ini dihina sedahyat itu? Aku harus tahu jawabannya! Tetapi, yang paling berbahaya ialah kehadiranku ditempat penting ini. Aku harus segera minggat, kalau tidak, bila kedapatan, aku bakalan digampar, dipecat.</p>
<p>Aku terus memutar otak, dari siapa aku dapat memperoleh jawaban atas keanehan yang aku saksikan ini? Mengapa “Orang Besar” yang aku tahu adalah “Orang Benar” itu diperlakukan dengan semena-mena? Aku terus menyelinap ke luar. Apakah di halaman di bawah sana aku dapat memperoleh jawabannya tentang apa yang aku ingin tahu dari seseorang? Aku membinarkan mataku memandang sekeliling. Aku sudah terbiasa menyaksikan kehadiran banyak orang di tempat majikanku, di  pasar, dan di tempat di mana aku menyertai “nyona besar-ku”.</p>
<p>Aku tatap orang-orang di halaman itu satu-satu. Mataku tertumbuk kepada seseorang.  Badannya kekar, tinggi, besar dan wajahnya brewokan. Dugaan kuatku ialah bahwa ia tentu tidak berasal dari daerah sekitar sini. Sangat mungkin ia berasal dari daerah sekeliling danau terkenal di sebelah utara itu. Aku bahkan bisa menduga apa saja pekerjaannya, karena aku pernah melihatnya, minggu lalu kalau tidak salah.</p>
<p>Tetapi yang paling penting ialah bahwa aku bisa memperoleh jawaban dari orang ini. Aku bisa membayangkan tentang orang ini tatkala aku melihat ia tampil gagah mendampingi Orang Besar di dalam sana itu. Aku masih ingat, saat Orang Besar itu memasuki Kota Suci menunggang keledai dan terjadi kemacetan besar di jalan-jalan, orang laki-laki kekar ini tampil perkasa sebagai layaknya kepala “body guard” sambil menghalau kerumunan orang yang menghalang jalan bagi Tuan-nya. Hebat nian laki-laki ini!</p>
<p>Aku terhenyak, dari lamunanku! Aha, aku kira aku bisa memperoleh jawaban tentang Beliau di dalam itu dari pada laki-laki ini. Laki-laki kekar itu berangsut pindah mendekat ke api unggun untuk berdiang, maklum hari semakin larut dan dingin pula. Bagaimana mendekati dia? Aku pura-pura membenahi api unggun itu di mana ia berdiang. Aku dekati laki-laki itu, kutatap wajahnya yang sangar dan memberanikan diriku untuk membuka percakapan. “Om, aku lihat engkau biasa selalu bersama-sama dengan “Orang Penting” (dari Nazaret) itu! Aku pasti tidak salah kenal, Om selalu terlihat bersama-sama dengan Dia, khususnya minggu yang baru berselang, aku menyeletuk penuh keyakinan. Dan, aku menunggu! Tahukah Anda, apa jawabannya? Jawabannya bagi telingaku bagaikan sambaran petir di siang bolong yang menggelegar. “Aku tidak tahu dan tidak mengerti apa yang engkau maksud.” Haa? Inikah jawabnya? Aku pikir aku salah dengar. Aku bertanya sendiri dalam hatiku, inikah jawabannya? Mengapa ia sudi menjawab seperti itu? Hatiku terguncang, aku kecewa. Aku pikir orang ini akan seberani penampilannya di jalan itu sewaktu mendampingi Orang Besar itu. Ternyata ia cuma ayam sayur, berjiwa krupuk, tidak teguh, pengecut! Aku terus penasaran, aku berpikir, “apakah laki-laki ini tidak sadar dan tidak mengerti bahwa hubungan dekatnya dengan Orang Besar itu adalah hak istimewa dan kepercayaan istimewa?” Aku bahkan iri padanya, karena hubungannya dengan Orang Besar itu.</p>
<p>Tetapi, mengapa ia tidak berani teguh mempertahankan identitas hubunganya dengan orang besar itu?  Apa yang salah padanya? Tidak ada jawaban. Selanjutnya aku mulai mengkritik dia dalam hati ku. Aku berbicara sendiri, “macam apa orang ini?” Dia ini orang rendah, orang tidak punya prinsip, orang plin-plan, orang yang tidak tahu diri, orang hina! Aku semakin penasaran, aku menguntit dia terus walau pun ia berusaha menjauhi aku. Ia berupaya menghindar dengan “pergi ke serambi muka” dekat dengan tempat Orang Besar itu diinterogasi. Dia pikir sudah aman di situ. Aku terus mendekati dia, dan kupikir, hah, ini saat yang tepat untuk mendesak dia. Aku menarik perhatian banyak orang di tempat itu dengan menyaringkan suaraku. Hei, dengar, “orang ini adalah salah seorang dari mereka.” Ia berupaya keras untuk menyangkal lagi. Tetapi, orang-orang yang berada di tempat itu mulai memihak kepadaku. Mereka berkata, “Engkau ini pasti salah seorang dari mereka, apalagi engkau orang yang berasal dari danau besar itu!” Kemudian, aku menyaksikan pancaran kengerian pada wajah laki-laki itu! Bahkan aku mendengar kata-kata yang seharusnya tidak diucapkan oleh orang seperti dia itu. Ia berani menipu, mungkin karena ketahutan, ia mulai menyangkal bahwa ia adalah salah seorang dari pengikut Orang Besar yang mulia itu. Ia membela diri dengan mengutuk dan bersumpah. Coba anda bayangkan apa yang dikatakannya, “Aku tidak mengenal orang yang kau sebut-sebut ini.” Hatiku semakin galau, aku mulai menghakimi laki-laki itu dengan sengit dalam hatiku. Ini orang yang tidak tahu diri, orang yang tidak kenal diri, orang yang tidak menghargai hubungan dengan orang lain, orang yang takabur, orang yang bobrok imannya!</p>
<p>Aku kemudian terhenyak sendiri, orang macam apa aku ini? Jangan-jangan aku mulai linglung sendiri, sok mengkritik orang lain! Bagaimana kalau aku sendiri dikritik? Tetapi aku kemudian berkesimpulan, “ah, biasa, dasar manusia, semuanya sia-sia!” Hei, jangan-jangan aku sendiri yang ngantuk dan terdorong karena penasaran saja karena ingin tahu berita tentang Orang Besar dari laki-laki konyol itu, dan ternyata ia tidak teguh bersaksi tentang hubungan istimewanya dengan DIA, Orang Besar itu. Kasihan!!! Aku kemudian tersentak dari lamunanku, karena kudengar ayam berkokok untuk kedua kali. Ini tentu sudah larut, hari menjelang pagi. Tetapi aku kemudian terpana dan terhenyak, tatkala kulihat suatu adengan penuh kuasa, tatkala kusaksikan sorotan mata suci dari Orang Besar itu, yang menoleh dan memandang kepada laki-laki itu. Mata suci Orang Besar itu begitu tajam menusuk sampai ke batin laki-laki itu. Kusaksikan keguncangan jiwa yang hebat, terpancar pada wajahnya oleh tatapan Mata Suci itu. Ia luluh dibawah tatapan Mata Suci itu, ia hancur dan berangsut pergi ke dalam keremangan pagi. Kukuntit dia lagi, aku ingin mengetahui apa yang terjadi padanya. “Ia menangis terseduh sedan.” Ia rupanya menyesal karena telah menyangkal “Junjungan-nya yang mulia itu.”</p>
<p>Menyaksikan adengan itu, aku mulai berubah pikiran. Kusimpulkan sendiri bahwa laki-laki itu pasti ada hubungan dekat dan intim dengan Orang Besar itu. Ia sekarang menyadari kesalahannya, ia bertobat. Rasanya ia mulai bangkit dari kekerdilan jiwanya, keluar dari kekecilan hatinya. Sepertinya ia mulai siap untuk mempertahankan kesaksianya, bahwa ia dekat dengan Orang Besar Yang Benar itu, orang yang dinista walau pun tidak berdosa, orang yang dihina dan direndahkan dengan semena-mena. Namun, dengan satu tatapan suci Ia membaharui hidup laki-laki yang porak poranda itu! Luar biasa!</p>
<p>Kini aku bertanya kepada diri sendiri, apa yang dapat kupelajari dari pengalaman suci di pagi yang remang ini? Paling tidak ada dua hal yang dapat kupelajari dari pengalaman enkonter dengan DIA, yaitu: <em>Pertama</em>, Hubungan dengan Orang Besar itu adalah hak istimewa, yang merupakan dasar kuasa untuk bertahan menghadapi tekanan, ancaman bahkan godaan dalam hidup. <em>Kedua</em>, hubungan dengan Orang Besar itu merupakan anugerah khusus untuk mengalami pembaruan yang membawa pertobatan sejati, mengalami revitalisasi untuk bangkit, teguh dan menjadi saksi-Nya. Salam Paskah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pelayan Firman,</p>
<p>Pdt. Yakob Tomatala</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2011/03/31/kesaksian-paskah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>APAKAH BENAR SABAR ITU MENGUNTUNGKAN</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2011/03/31/apakah-benar-sabar-itu-menguntungkan/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2011/03/31/apakah-benar-sabar-itu-menguntungkan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Mar 2011 23:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Information]]></category>
		<category><![CDATA[Karakter Kepemimpinan]]></category>
		<category><![CDATA[kesabaran]]></category>
		<category><![CDATA[keuntungan]]></category>
		<category><![CDATA[sabar]]></category>
		<category><![CDATA[sabar yang menguntungkan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=338</guid>
		<description><![CDATA[“Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya melebihi orang yang merebut kota” (Amsal 16:32). PENGANTAR Sabar? Sabar sepertinya memberi indikator kalah, menurut pandangan sementara orang. Kata sabar ini bisa menjengkelkan bagi yang tidak menyukai dan melawannya. Karena, sabar mengekang jiwa dan membakar emosi, yang bila tidak diledakkan akan menggetirkan diri. Betapa tidak, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<em>Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya melebihi orang yang merebut kota</em>” (Amsal 16:32).</p>
<p><strong>PENGANTAR</strong></p>
<p>Sabar? Sabar sepertinya memberi indikator kalah, menurut pandangan sementara orang. Kata sabar ini bisa menjengkelkan bagi yang tidak menyukai dan melawannya. Karena, sabar mengekang jiwa dan membakar emosi, yang bila tidak diledakkan akan menggetirkan diri. Betapa tidak, pada sisi lain, orang yang sabar sering dianggap kalah, rendah, tidak memiliki kekuatan dan seterusnya. Karena itu, sabar itu adalah hal yang memalukan. Inilah dia. Sabar sudah diberikan arti yang “keliru dan sumbang.” Mengapa? Sabar telah diberi bobot negatif, pesimis dan permisif. <span id="more-338"></span></p>
<p>Sabar telah menjadi negatif karena menunjukkan sikap orang lemah. Sabar memberi indikasi adanya gaya pesimistis. Sabar, katanya, membuat orang pesimis dan berkata, “inilah saya, saya tidak berdaya melawan,” pikir sementara orang. Sabar diartikan secara permisif, yaitu gaya “kesera-sera what will be will be” karena saya sudah begini, mau apa lagi. Melawan akan tetap kalah juga, jadi sabar saja, <em>jangan buat apa-apa</em>, katanya. Apakah sabar berarti seperti ini?  Namun, dari posisi yang benar, ternyata sabar memiliki keunggulan hebat. Mengapa demikian? Sabar sesungguhnya adalah dasar bagi sikap, sifat, dan kebiasaan hebat yang proaktif yang menghasilkan secara positif. Ingatlah ini: “Sabar itu <em>sober</em>! Sabar itu <em>subur</em>! Sabar itu <em>Zabur</em>! Dan sabar itu <em>shalom</em>!” Apa pula maknanya ini? Marilah kita mulai dengan mencerna makna sabar yang sesungguhnya dan implikasinya bagi keteguhan diri serta keberhasilan dalam hidup serta kepemimpinan.</p>
<p><strong>MAKNA SABAR YANG PAS</strong>. Sabar dan orang sabar dalam Amsal 16:32  Alkitab LAI edisi BIS, dilukiskan dengan pernyataan berikut, “<em>Tidak cepat marah, lebih baik dari pada mempunyai kuasa; menguasai diri lebih baik dari pada menaklukkan kota</em>.” Di sini sabar diartikan sebagai “tidak cepat marah” yang padanannya ialah “menguasai diri.” Makna dari “sabar” terlihat jelas di sini, yaitu <em>sikap tidak cepat marah dengan menguasai diri</em>. Di sini sabar menjelaskan bahwa si penyabar menempatkan <em>kehendak baik</em> (good will), dan <em>pikiran sehat</em> (healthy rationality) di atas <em>emosi</em>.  Sabar menjelaskan bahwa si penyabar berkemauan baik yang ditempatkannya di atas segala yang lain. Ia juga menempatkan pikiran sehat di atas apa pun, sehingga ia tidak membiarkan emosinya mengambil kendali dalam bersikap (menentukan sikap atau menyikapi) apa pun sebagai <em>respon </em>atau <em>reaksi </em>atas <em>aksi </em>atau <em>stimulus</em> yang datang dari luar. Si penyabar dengan menempatkan kehendak baik dan pikiran sehat di atas emosi maka ia terbukti dapat menguasai diri. Di sini emosi diberi tempat yang pas sebagai pendukung kehendak dan pikiran. Perhatikanlah, bahwa “orang yang tidak sabar sebenarnya hanya membiarkan emosinya berada di atas kehendak dan pikiran sehat,” sehingga responnya menjadi emosional.</p>
<p>Dengan respon emosional ini kehendak dan pikirannya dipaksakan untuk menuruti kemauan emosi, maka jadilah “marah” alias “tidak sabaran” kata orang. Sabar dalam artian ini menegaskan adanya <em>kehendak baik</em>, <em>kemauan baik, pikiran sehat</em> untuk menyikapi stimulus (yang dipersepsikan negatif) yang datang dari luar, sehingga sabar dianggap lebih baik dari kekuatan atau kuasa. Sabar menjelaskan tentang kadar penguasan diri yang tinggi serta teguh. Sabar menjelaskan adanya sikap menolak menerapkan kekuatan tanpa kemauan baik. Menerapkan kekuatan atau kuasa tanpa kemauan baik akan terlihat sebagai arogan dengan gaya mendominasi yang egoistis. Sabar adalah sikap menempatkan kemauan baik di atas emosi, dimana emosi berperan mengedepankan kehendak baik yang berapi-api, bukan sikap amarah yang emosional.  Sabar itu benar, baik, indah dan kuat.</p>
<p><strong>SABAR ITU SOBER</strong>. Sabar itu sober. Apa artinya ini? Sabar berati <em>sober</em>, dimana si penyabar sedang menggunakan pikiran jernih, “sober mind.” Sabar yang sober ini bukan saja memberikan tempat kepada pikiran sehat di atas emosi, tetapi <em>menjernihkan pikiran</em> dan menggunakan kejernihan itu untuk memandang dan memaknai stimulus yang datang dari luar, sebelum memberikan reaksi. Sabar yang sober akan membuat si penyabar bersikap empati yang objektif yang olehnya ia akan terlihat sebagai “orang berpengertian.” Penyabar sejati, dapat membuktikan diri sebagai orang berhikmat, dengan sober. Sabar dalam artian ini ialah “berpikir jernih” sebagai dasar untuk melakukan sesuatu tindakan (reaksi).  Sabar yang sober ini terlihat dalam Amsal 15:22b yang menegaskan, “<em>Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan</em>.” Jadi sabar yang sober, adalah jawaban bagi tindakan yang positif dan berhasil. Sabar itu sober, dimana penyabar adalah “pendengar yang bijaksana yang lambat berkata-kata dan lambat marah.” Ia sabar yang dibuktikan dengan pikiran jernih, sikap dan tindakan yang benar serta membawa kebaikan (Yakobus 1:19).</p>
<p><strong>SABAR ITU SUBUR</strong>. Sabar itu subur. Apa maksud dari pernyataan ini? Sabar itu subur mengimplikasikan akan dampak positif dari kesabaran. Sikap sabar mendemonstrasikan kebiasaan benar dan baik pada satu sisi, dimana kebiasaan benar yang baik tentu dilandasi karakter benar dan baik yang bersumber dari nilai etika serta moral yang benar. Sabar menjelaskan bahwa si penyabar berakal budi atau berbudi luhur (Yesaya 32:8), yang dinyatakan dalam sikap dan tindakan yang lemah lembut (Yakobus 3:13-18). Kebenaran tentang sabar yang subur ini disetir dalam Amsal 16:21 yang menegaskan, “<em>Orang yang bijak hati disebut berpengertian</em>” (TB) atau “<em>Orang yang bijaksana dikenal dari pikirannya yang tajam</em>” (BIS), sehingga ia dapat <em>mengendalikan diri</em> dan “<em>berbicara manis lebih dapat meyakinkan</em>” (TB) atau ia membutikan diri sebagai “<em>memiliki cara bicaranya yang menarik, membuat kata-katanya makin menguntungkan</em>” (BIS). Sabar yang subur ini ternyata membawa keuntungan dan kemanfaatan ganda. Pada satu sisi, si penyabar membutikan diri sebagai orang bijak, dan pada sisi lain ia terbukti memelihara hatinya dari yang jahat (Amsal 4:23). Di sini, melalui kesabaran ini, ia menyelamatkan dirinya serta hubungannya dengan orang lain (stimulan) dalam situasi seburuk apa pun. Sabar yang subur ini ternyata membawa kemanfaatan positif dan keuntungan besar.</p>
<p><strong>SABAR ITU ZABUR</strong>. Sabar itu zabur mengandaikan bahwa sabar membuat orang dapat bersyukur atau bermazmur dalam segala sesuatu untuk semua kondisi. Sabar dalam kaitan ini menjelaskan bahwa si penyabar yang mengendalikan emosinya, juga mengendalikan kata-katanya, yang olehnya ia membuktikan bahwa ia adalah “orang beribadah yang sejati” (Yakobus 1:26). Orang sabar menggunakan mulutnya untuk “memuji TUHAN” (I Tesalonika 5:16-18). Karena ia mengerti bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebajikan kepadanya” (Roma 8:28), sehingga ia tidak terpancing untuk bereaksi negatif atas stimulus dari luar, seperti kata-kata dan tidandakan seseorang kepadanya yang negatif dan menyakitkan sekali pun. Dengan sikap sabar seperti ini orang sabar “memelihara nyawanya dengan menjaga mulutnya” (Amsal 13:3, 6). Orang yang sabar menyadari bahwa “Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak” (Amsal 25:11). Sedangkan, orang yang tidak sabar dan tidak sabaran hanya mengucapkan kata-kata yang menghancurkan bagaikan “tikaman pedang” (Amsal 12:18). Sabar menempatkan si penyabar sebagai manusia bijak yang selalu menggunakan kata-katanya untuk memuliakan Allah dan meneguhkan sesama, karena itu sabar itu zabur.</p>
<p><strong>SABAR ITU SHALOM</strong>. Sabar itu shalom. Apa artinya ini? Sabar itu shalom, karena dengan bersikap sabar, si penyabar sedang membuktikan bahwa “ia adalah pengasih sejati” yang mengasihi dan membawa shalom. Si penyabar mengasihi karena ia mengerti bahwa “kasih itu sabar” (I Korintus 13:4a). Ia sabar karena ia menyadari bahwa ia dikasihi Allah, ia diampuni Allah (Kolose 3:12) sehingga ia mengalami damai sejahtera dalam hati, roh,  jiwanya. Dengan jamahan kasih TUHAN ini, si penyabar telah berdamai dengan Allah (Roma 5:9-11) dan menikmati shalom. Dengan kekuatan kasih itulah si penyabar memiliki kemampuan untuk mengampuni sesamanya, seperti ia telah diampuni oleh Allah (Banding: Matius 18:21-22, 23-35). Dengan sikap dan tindakan mengampuni seperti  ini si penyabar sedang menebar kedamaian bagi setiap orang yang ada di sekitarnya. Kualitas hidup baru yang dibangun di atas kasih Allah ini menyebabkan si penyabar mampu membuktikan kinerja yang berkualitas, karena ia dapat melakukan segala sesuatu sama seperti kepada Allah (Kolose 3:17, 23). Si penyabar sabar, karena sabar itu shalom!</p>
<p><strong>IMPLIKASI</strong>:</p>
<p>Anda tentu telah meilhat apa dan bagaimana memaknai serta menikati keuntungan dengan sabar serta mencitrakan diri sebagai penyabar sejati. Lihatlah kebenaran tentang sabar yang dapat meneguhkan, seperti  dibawah ini:</p>
<ul>
<li>Sabar mengandaikan adanya kekuatan pengendalian diri yang teguh, sehingga si penyabar bersikap proaktif positif yang konsisten. Sabar membuat ia mampu untuk tidak melukai dan tidak terluka.</li>
<li>Sabar menunjukkan adanya kualitas penguasaan pikiran yang terus dipertahankan sejernih-jernihnya, sehingga si penyabar akan selalu berpikir positif, sebagai dasar untuk berkata, bersikap dan bertindak positif. Ia akan terbukti selalu altruistik dengan adanya sikap sabar.</li>
<li>Sabar memberikan kekuatan kepada si penyabar untuk membuktikan diri sebagai berbudi luhur yang olehnya ia akan berpikir luhur, berkata luhur dan bertindak luhur. Ia akan selalu membangun.</li>
<li>Sabar memberikan kuasa yang meneguhkan si penyabar sehingga ia mampu untuk bersikap teguh dalam menghadapi kondisi nyata. Sabar meneguhkan si penyabar sehingga ia mampu bersyukur kepada Allah serta menjadi berkat bagi sesama dalam segala kondisi. Ia akan selalu rohani dan manusiawi.</li>
<li>Sabar mengaruniakan damai sejati kepada si penyabar yang olehnya ia menikmati shalom serta mampu menjadi alat perdamaian kepada sesama dalam hidup keseharian serta kerja. Sabar yang membawa damai ini akhirnya akan membawa hasil yang positif dan penuh berkat secara langgeng dalam kehidupan pribadi mau pun kepemimpinan. Ia akan selalu membawa berkat dan memberkati.</li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Praktekanlah, maka Anda akan tajub oleh khasiat sabar. Selamat membuktikan diri sebagai “pemimpin yang sabar” yang merupakan karakteristik pemimpin besar, demi keberhasilan hidup dan kepemimpinan</strong>!!!</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Salam dan doa,</p>
<p>Dr. Yakob Tomatala</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2011/03/31/apakah-benar-sabar-itu-menguntungkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MEMIMPIN DENGAN MEMBAGI HIDUP</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2011/03/31/memimpin-dengan-membagi-hidup/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2011/03/31/memimpin-dengan-membagi-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Mar 2011 22:57:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Information]]></category>
		<category><![CDATA[KEPEMIMPINAN]]></category>
		<category><![CDATA[membagi hidup]]></category>
		<category><![CDATA[memimpin dengan membagi hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=336</guid>
		<description><![CDATA[“&#8230;. Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Matius 20:28; Markus 10:45). PENGANTAR Perlulah disadari bahwa sesungguhnya kepemimpinan dan manajemen serta administrasi memiliki hubungan yang integral. Sebagai Ilmu, Kepemimpinan adalah ilmu induk yang di dalamnya terkait Ilmu Manajemen dan Ilmu Administrasi. Sebagai seni, Kepemimpinan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“&#8230;. <em>Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang</em>”</p>
<p>(Matius 20:28; Markus 10:45).</p>
<p><strong>PENGANTAR</strong></p>
<p>Perlulah disadari bahwa sesungguhnya kepemimpinan dan manajemen serta administrasi memiliki hubungan yang integral. Sebagai <em>Ilmu</em>, Kepemimpinan adalah ilmu induk yang di dalamnya terkait Ilmu Manajemen dan Ilmu Administrasi. Sebagai <em>seni</em>, Kepemimpinan mewadahi Manajemen dan Administrasi, dimana Manajemen adalah “fungsi umum kepemimpinan” yang menjelaskan bahwa tatkala kepemimpinan dijalankan, maka pemimpin memasuki kawasan manajemeni dan memanejemeni. Pada saat yang sama, tatkala Manejer memanejemeni, ia memasuki kawasan administrasi, yang merupakan “fungsi khusus kepemimpinan” yang menyentuh pekerjaan operasional di lapangan. Dalam kaitan ini dapat dikatakan bahwa tatkala pemimpin melaksanakan upaya memimpin (leading attempt) maka ia memanejemeni atau menerapkan manajemen dalam kinerja. Melihat kaitan di atas ini, kini timbul pertanyaan, apa sesunguhnya cara yang terbaik, dan bagaimana pemimpin memimpin, yang olehnya ia dapat mewujudkan upaya memimpin yang berkualitas serta dapat memimpin dengan benar, baik, sehat dan produktif. <span id="more-336"></span></p>
<p>Dalam upaya menjawab pertanyaan di atas, pemimpin yang bijaksana perlu memahami bagaimana ia melaksanakan upaya memimpin yang berkualitas sehingga ia dapat membawa organisasi yang dipimpinnya ke arah keberhasilan. Mewujudkan kepemimpinan yang berhasil, maka ada tiga hal khusus yang harus dicerna, disikapi dan diterapkan oleh setiap pemimpin yang arif, yaitu: <em>Pertama</em>, memanejemeni hati, membangun sikap yang meneguhkan hubungan; <em>Kedua</em>, memanejemeni hubungan mencipta situasi responsif dalam organisasi; dan <em>Ketiga</em>, memanejemeni kerja yang terfokus kepada keberhasilan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>MEMANEJEMENI HATI MEMBANGUN SIKAP YANG MENEGUHKAN HUBUNGAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Setiap pemimpin harus senantiasa menyadari bahwa dalam memimpin, ia akan selalu berhubungan dengan orang, yaitu para staf dan bawahan yang dipercayakan kepadanya. Dalam kaitan ini, tatkala pemimpin memimpin, maka ia dengan sendirinya memanejemeni. Hal yang dimanejemeni pemimpin adalah sumber-sumber, antara lain: orang (<strong>m</strong>en); teknologi (<strong>m</strong>achine), pasar (<strong>m</strong>arket); materi (<strong>m</strong>aterial); uang (<strong>m</strong>oney); waktu (<strong>m</strong>oment); infrastruktur (<strong>m</strong>ain infrasturctures); metode (<strong>m</strong>ethods) dan sistem manajemen (<strong>m</strong>anagement system). Di antara semua sumber yang dimanajemeni, <em>sumber orang</em> (men) atau <em>sumber daya manusia</em> (SDM) menempati kepentingan utama, untuk dimanajemeni pemimpin, sebagai bagian terpenting dari upaya memimpin. Hal pertama yang akan terlihat dalam upaya memimpin seorang pemimpin ialah bahwa ia berhubungan dengan orang dan memanejemeni orang. Soal apakah ia memanejemeni dengan benar dan baik ataukah tidak, adalah faktor lain, yang berkaitan erat dengan indikator memimpin secara berkualitas.</p>
<p>Menghubungkan pemimpin, upaya memimpin dan orang yang dipimpin, ternyata hubungan-hubungan ini difasilitasi oleh aktualisasi memimpin (actuating). Dalam kepemimpinan, hubungan-hubungan ini mengharuskan pemimpin mengawali upaya memimpinnya dengan memanejemeni <em>perilaku</em> (behaviour) dan <em>pola</em> (style) kepemimpinannya, sebagai bagian dari pembuktian upaya memimpin yang benar, baik dan sehat. Dengan kata lain, pemimpin hanya dapat memimpin orang lain dengan baik apabila ia memanejemeni perilaku dan pola kepemimpinannya dengan benar (effektif), baik (efisien) dan sehat (healthy attitude), sehingga ia terbukti dapat memimpin dengan menggerakkan (influencing) orang yang dipimpin secara berkualitas. Rahasia untuk memimpin secara berkualitas yang menghubungkan pemimpin, upaya memimpin dan orang yang dipimpin adalah: <em>Pertama</em>, Memiliki hati yang bijak dengan memintanya dari TUHAN Allah, sumber segala hikmat (I Raja-raja  3:9-14, 28; I Tawarikh 1:1-12). Dengan hati yang bijak, pemimpin memiliki kearifan yang dibuktikan melalui adanya integritas tinggi (benar, baik, adil, setia, jujur, dapat dipercaya, teguh, luhur – Lihat Filipi 4:5,8). <em>Kedua</em>, Menjaga hati sehingga hidup tetap lurus yang dibuktikan dengan pikiran (terbuka, proaktif, asertif), sikap, sifat,  kata, dan tindakan yang ditandai oleh kebaikkan tertinggi (Amsal 4:23-27); <em>Ketiga</em>, Mempercayakan hati kepada TUHAN Allah, yang akan meluruskan jalan, yang ditandai oleh kebijakkan yang sehat dan memuliakan TUHAN (Amsal 3:5-10).</p>
<p>Kebenaran tentang hati ini adalah rahasia memanejemeni diri (perilaku dan pola), sehingga pemimpin akan terbukti arif dalam berpikir (memiliki peradigma dan perspektif positif), bersikap, bersifat, berkata dan bertindak yang altruis (oriented others). Pemimpin yang memanejemeni dirinya dengan benar dan baik, adalah dia yang akan terbukti menguasai diri (self control) yang nampak dalam kata dan tindakan kepemimpinannya yang berbudi luhur (Yesaya 32:8), yang dengan sendirinya akan menyentuh hati orang yang dipimpin secara bijak pula. Dengan menyentuh hatinya sendiri terlebih dahulu, maka pemimpin dapat menyentuh hati orang lain dan dapat membuktikan diri memimpin secara berkualitas, karena penyentuhan dan pengendalian hati akan meneguhkan hubungan dengan orang lain, khususnya orang yang dipimpin (Matius 7:12).<a href="#_ftn1">[1]</a> <em>Keempat</em>, Memimpin dari hati, yang menggerakkan untuk bertindak, menyentuh sesama dengan belas kasihan yang tinggi yang olehnya pemimpin mengangkat, memulihkan menyembuhkan, meneguhkan dan memberkati (Matius 9:35-36). Dalam kaitan ini, dapat dikatakan bahwa pemimpin yang memanejemeni hatinya adalah pemimpin yang siap untuk memimpin dengan berbagi yang terbaik dari hidup, yaitu kehidupan yang berkualitas sebagai dasar bagi kepemimpinan berkualitas.</p>
<p><strong>MEMANEJEMENI HUBUNGAN MENCIPTA SITUASI RESPONSIF DALAM ORGANISASI</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Memanejemeni hubungan yang bersifat pribadi dan sosial dalam kepemimpinan adalah mencipta situasi responsif sebagai landasan untuk mewujudkan proses upaya memimpin yang berkualitas. Memanejemeni hubungan dalam hal ini adalah upaya untuk membangun jejaringan sosial yang harmonis, terbuka, lugas dan dinamis. Melalui jejaringan sosial seperti inilah pemimpin dapat menjalankan kepemimpinannya dengan menggerakkan orang yang dipimpin secara proporsional sehingga mereka dapat mewujudkan performansi tinggi. Sebagai landasan pijak untuk membangun hubungan responsif ini, perlulah disadari bahwa kepemimpinan berkaitan erat dengan sistem sosial atau masinesasi sosial dengan orientasi kemanusiaan yang kuat yang diwadahkan oleh organisasi. Di sini pemimpin bertanggung jawab untuk mencipta hubungan-hubungan kondusif yang akan beroperasi bagaikan mesin.<a href="#_ftn2">[2]</a> Dalam hubungan ini, manusia harus diperlakukan sebagai manusia, dimana hubungan perlakuan ini dengan sendirinya akan meneguhkan sikap pemimpin guna mencipta hubungan responsif di antara pemimpin, staf dan para bawahan. Hubungan responsif inilah yang menandakan adanya dinamika tinggi yang mengerakkan kehidupan organisasi. Dasar-dasar untuk meneguhkan pemimpin guna mencipta hubungan responsif ini dapat ditetapkan sebagai berikut ini. <em> </em></p>
<p><em>Pertama</em>, Pemimpin harus melihat sesama sebagai “mitra sewaris,” dengan status diri dan perannya yang sama sebagai “sesama pelayan, sesama hamba” (Matius 20:26-27; Markus 10:43-44; Lukas 17:10; I Korintus 3:9a). Di sini, sesama bagi pemimpin harus disikapi sebagai subjek, yang perlu diperlakukan dengan penuh penghargaan dengan menerima serta mengakui kompetensi, kapasitas dan andilnya bagi keberhasilan kepemimpnan. <em>Kedua</em>, Pemimpin harus memperlakukan sesama sebagai “pewaris keberhasilan bersama,” dengan sepenuhnya membangun hubungan di atas kepercayaan (trust) yang sama-sama memiliki tanggung jawab bagi keberhasilan bersama dengan komitmen pengabdian bersama yang tinggi  bagi keberhasilan kerja organisasi (Filipi 2:2-4; I Petrus 5:2). Dalam upaya menerapkan sikap ini, pemimpin harus menghargai potensi, kapasitas, cara kerja dan peran, serta kontribusi bawahan, yang olehnya mereka semakin merasa dilibatkan dan dipercayai sebagai pewaris keberhasilan bersama.  <em>Ketiga</em>, Pemimpin harus menjadi model dalam kehidupan etika-moral dan kinerja (benar, baik, sehat) dengan semangat juang tinggi (compelling spirit), sebagai pemimpin panutan dan pemimpin bertanggung jawab, yang berorientasi kepada membawa keuntungan (keberhasilan) bersama (Ibrani 13:7, 17; I Petrus 5:3-4; Nehemia 2:20).</p>
<p>Pemimpin yang menegaskan sikap dan orientasi seperti ini akan mewadahkan situasi kondusif bagi organisasinya, dimana staf dan bawahan akan merasa “memperoleh tempat layak dengan andil yang sama” dalam kepemimpinan, karena penghargaan, kepercayaan dan keteladanan-nya. Kondisi ini akan meneguhkan semua unsur manusia guna mematutkan sikap terhadap sesama, dan tugas, yang ditandai oleh adanya hubungan responsif berlandaskan kesadaran bahwa keberhasilan organisasi adalah keberhasilan bersama. Kesadaran ini hanya akan terwujud dengan adanya komitmen semua kompenen manusia kepada pengabdian serta kinerja berkualitas dan disiplin tinggi, yang olehnya akan tercipta sinergi yang saling mendukung dengan gerakan kerja yang simultan bagi keberhasilan bersama.</p>
<p><strong>MEMENEJEMENI KERJA YANG TERFOKUS KEPADA KEBERHASILAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dalam mewujudkan upaya memimpin dengan kinerja tinggi, pemimpin harus memastikan bahwa ia dan seluruh unsur manusia organisasinya berorientasi kepada memanejemeni kerja yang terfokus kepada keberhasilan. Memastikan upaya kerja yang terfokus kepada keberhasilan seperti ini, pemimpin perlu memanejemeni kerja dengan menemukan dan berbagi visi, dan misi organisasi, membangun suatu perencanaan strategis terpadu, serta menetapkan kerja serta berbagi tugas dengan orotitas, hak, kewajiban, tanggung jawab dan pertangungjawaban yang sepadan. Tindakan ini adalah langkah pemastian agar setiap setiap personel (SDM) organisasi dapat memainkan perannya dengan bekerja efektif, efisien dalam hubungan sehat yang dapat menghasilkan produk kerja yang optimal.</p>
<p>Sebagai landasan membangun upaya memanejemeni kerja yang terfokus kepada keberhasilan, pemimpin harus membangun <em>budaya organisasi</em> yang dilandasi oleh komitmen tinggi kepada kualitas, disiplin dan kinerja tinggi (comitment to quality, discipline and high performance) sebagai dasar untuk membangun manajemen organissi yang dinamis.</p>
<p>Dalam kaitan ini,  pemimpin bertanggung jawab untuk membangun pendekatan berikut. <em>Pertama</em>, Pemimpin membangun budaya kualitas yang diteguhkan di atas pendekatan “Manajemen Kualitas Total” (Total Quality Management) yang akan mewarnai pikiran, sikap, sifat, kata dan tindakan berkualitas, sebagai tulang punggung seluruh kehidupan, orientasi dan performa organisasi dengan daya kerja yang tinggi (Kejadian 41:46-57). <em>Kedua</em>, Pemimpin meneguhkan fokus orientasi kinerja yang terfokus kepada keberhasilan yang terukur (Yeremia 29:11; Kejadian 11:6; Nehemia 2:20a). <em>Ketiga</em>, Pemimpin harus menggalang komitmen bersama untuk mewujudkan kinerja berkualitas dengan etos kerja yang unggul (Kolose 3:17, 23). <em>Keempat</em>, pemimpin memobilisasi, menggerakkan upaya untuk bersinergi mewujudkan kerja yang berkualitas dengan menularkan semangat positif kepada kelompoknya (Nehemia 2:17-20). <em>Kelima</em>, Pemimpin memotivasi, menyemangati dan meneguhkan kinerja berkualitas ke arah keberhasilan bersama dengan memberikan reward (imbalan) dan dorongan positif (praising) yang meneguhkan rasa percaya diri setiap orang dalam kepemimpinannya (Hakim-hakim 4:4-24).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pemimpin sejati adalah “pemimpin pemberi hidup” (the life giving leader), yang memberi hidup (life giving), karena ia memiliki kehidupan (quality life) yang layak untuk dibagi. Pemimpin sejati yang adalah pemberi hidup, memberikannya dengan memanejemeni hatinya, membangun sikap yang meneguhkan hubungan. Ia juga harus memanejemeni hubungan-hubungan kemanusiaan, mencipta situasi kondusif dan mewadahkan hubungan responsif secara internal dengan meneguhkan budaya kualitas  dan memanejemeni meneguhkan kinerja tinggi, yang terfokus kepada keberhasilan. Diyakini, bahwa pemimpin yang memimpin seperti inilah yang akan melihat keberhasilan memihak kepadanya. Selamat membuktikan diri sebagai pemimpin pemberi hidup, yang memimpin dengan berhasil. Kiranya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Salam  dan doa,</p>
<p>Dr. Yakob Tomatala</p>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Sikap seperti ini akan meneguhkan pemimpin guna menjauhkan diri dari memimpin dengan tangan besi, yang akan merugikan dirinya sendiri (Matius 20:25-28; Markus 10:42-45; Amsal 14:34; 1629).</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Uraian lengkap tentang pokok ini dapat ditemukan dalam buku <em>Kepemimpinan yang Dinamis</em>, karya Y. Tomatala</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2011/03/31/memimpin-dengan-membagi-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PEMIMPIN ARIF, MEMIMPIN DENGAN MENGASIHI SEBAGAI GAYA KEPEMIMPINAN YANG ALTRUIS [1]</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2011/02/17/pemimpin-arif-memimpin-dengan-mengasihi-sebagai-gaya-kepemimpinan-yang-altruis-1/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2011/02/17/pemimpin-arif-memimpin-dengan-mengasihi-sebagai-gaya-kepemimpinan-yang-altruis-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Feb 2011 04:01:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Information]]></category>
		<category><![CDATA[PEMIMPIN DENGAN MENGASIHI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=329</guid>
		<description><![CDATA[PEMIMPIN ARIF, MEMIMPIN DENGAN MENGASIHI SEBAGAI GAYA KEPEMIMPINAN YANG ALTRUIS [1] “Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah kepada mereka yang menganiaya kamu” (Matius 5:44). PENGANTAR Kasih, adalah istilah yang sangat populer. Kata yang satu ini sangat dikenal oleh setiap insan secara umum. Pada sisi lain, kasih itu sesungguhnya secara khusus  meneguhkan, menyatukan, mengikat orang-orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PEMIMPIN ARIF, MEMIMPIN DENGAN MENGASIHI SEBAGAI GAYA KEPEMIMPINAN YANG ALTRUIS <a href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a></strong></p>
<p>“<em>Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah kepada mereka yang menganiaya kamu</em>” (Matius 5:44).</p>
<p><strong>PENGANTAR</strong></p>
<p><em>Kasih</em>, adalah istilah yang sangat populer. Kata yang satu ini sangat dikenal oleh setiap insan secara umum. Pada sisi lain, kasih itu sesungguhnya secara khusus  meneguhkan, menyatukan, mengikat orang-orang yang berbeda satu dengan yang lainnya, laki-laki-perempuan, tua-muda, besar kecil, hitam-putih, dan melewati semua perbedaan, karena sifatnya yang sangat khas (I Korintus 13). Kata ini menyentuh lubuk hati, menyentuh roh dan jiwa manusia, menyentuh pribadi pada level yang terdalam, bahkan dapat mengikat secara multi-individu.  Dari perspektif yang lain, kasih yang begitu melekat pada hati dan lidah setiap orang telah dimaknai secara berbeda, sehingga diekspresikan juga secara berbeda. Dalam upaya mengekspresikan kasih secara benar dalam kepemimpinan, langkah penting adalah memahami maknanya. <span id="more-329"></span></p>
<p>Memahami makna kasih, istilah-istilah <em>Yunani</em> untuk kata ini adalah <em>eros</em> (kasih hubungan antara dua jenis kelamin yang berbeda, laki-laki dan perempuan); <em>filea</em> (kasih hubungan persahabatan); <em>storge</em> (kasih hubungan keluarga); dan <em>agape</em> (kasih ilahi, kasih yang ada hanya pada TUHAN Allah). Perbedaan kasih yang lain dengan agape ialah bahwa agape adalah kasih yang tidak bersayarat, yang rela untuk memberi, melepaskan, tidak menuntut, dan yang berkorban tanpa pamrih, bahkan siap untuk hancur demi kebaikan yang dikasihi. Sedangkan semua kasih yang lain adalah kebalikkan dari kasih agape ini. Kasih agape memiliki kekuatan mengikat dan membebaskan yang melampaui segala kekuatan lain. Kasih agape ini dapat memulihkan secara tuntas, walaupun diancam oleh keambrukkan serta kerusakkan hubungan yang terparah sekali pun. Ia dapat merupakan dan menjadi segalanya, karena “kasih agape ini adalah atribut-Nya TUHAN Allah.” Untuk memaknakan, mendalami dan menerapkannya, marilah kita menyimaknya bersama.</p>
<p><strong>KASIH ADALAH HAKIKAT CARA MENG-ADA-NYA TUHAN ALLAH</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Telah diuraikan secara umum makna dari kasih itu, dan secara khusus membedakan kasih agape dari kasih yang lainnya. Dalam pemahaman ini, bila Firman Allah menegaskan bahwa “<strong>Allah adalah KASIH</strong>” (I Yohanes 4:8b), maka kebenaran tentang Allah yang adalah Maha KASIH ini melebihi segala bentuk kasih yang ada dan yang dapat dipahami. KASIH dalam kaitan ini adalah “atribut” (attribute – sifat khas) <strong>TUHAN Allah</strong>, yang menjelaskan tentang HAKIKAT-NYA yang berdaulat dan cara IA meng-ADA (menyatakan keberadaan-Nya) di tengah-tengah ciptaan-Nya. Kebenaran ini menegaskan bahwa Allah dengan sendirinya mengasihi semua manusia di seluruh tempat dan segala abad, tanpa pembedaan agama, suku, ras, bangsa, jenis kelamin, usia, pendidikan, status sosial, hunian secara geografis, denominasi gereja, bahkan kondisi moralitas, dimana Allah mengasihi sebegitu rupa yang olehnya “<em>IA menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang benar dan orang yang tidak benar</em>” (Matius 5:45b). Dengan kekuatan kasih-Nya ini, Allah menyatakan kepedulian-Nya kepada manusia tanpa menuntut, tanpa bersyarat. Karena itu, oleh anugerah-Nya yang kekal, IA menghadirkan rahmat-Nya yang menyelamatkan manusia berdosa di dalam serta melalui YESUS KRISTUS (Yohanes 3:16). Ini adalah kebenaran yang menjelaskan cara Allah menyelesaikan masalah manusia (Roma 3:23; 6:23), yang olehnya <em>manusia dimanusiakan</em> yang salah satu indikatornya ialah “manusia dapat mengasihi sesamanya manusia” sebagai bagian imbasan kasih Allah yang telah diterimanya.</p>
<p><strong>ALLAH ADALAH KASIH MENGHARUSKAN KASIH BAGI SESAMA</strong></p>
<p>Kebenaran tentang “Allah yang adalah kasih” (I Yohanes 4:8b) menegaskan tuntutan kasih itu sendiri, yaitu bahwa “kasih yang berasal dari Allah itu mengharuskan mereka yang telah tersentuh kasih-Nya untuk mengasihi, sebagaimana mereka telah dikasihi” (I Yohanes 4:7-8; Yohanes 13:34-35). Dalam kaitan ini, mereka yang telah mengalami lawatan cara-ber-ADA-Nya Allah, yaitu mereka yang telah mengalami kasih-Nya yang menyelamatkan, memiliki tanggungjawab untuk “mengasihi sesama” tanpa syarat sama seperti mereka telah dikasihi oleh Allah. Bagaimana seharusnya kasih Allah itu dinyatakan dalam realita kehidupan keseharian:</p>
<ul>
<li>Kasih Allah yang membawa transformasi kehidupan itu memberikan kekuatan untuk hidup bagi Allah dengan mengasihi DIA (Ulangan 6:5; Matius 22:37-40) dan mengabdi bagi kemuliaan-Nya (II Korintus 5:17; 13-15). Indikator penting bagi kebenaran ini ialah adanya kemauan baik untuk hidup dalam cara hidup etika-moral yang benar (hidup kudus), sebagai tanda dan bukti bahwa kita memberikan prioritas bagi pengabdian kepada TUHAN Allah yang dinyatakan dalam sepanjang kehidupan pada segala bidang hidup (I Petrus 1:15-16). Indikator lain ialah bahwa kita hidup bagi TUHAN Allah dengan mencerminkan kasih-Nya dalam hidup dan perbuatan, sehingga IA dimuliakan (I Yohanes 3:11-18; Roma 11:36).</li>
</ul>
<ul>
<li>Kasih Allah meneguhkan sikap altruis untuk mengasihi sesama “tanpa batas, dan tanpa syarat” dengan penyentuhan yang manusiawi yang melebihi batas-batas hubungan primordial dan melebihi kepentingan golongan (I Yohanes 4:7-12; 2:7-13; Yohanes 13:34-35; Matius 22:34-40). Sikap altruis ini akan nyata dengan tindakan “menangis dengan mereka yang menangis, berbagi dengan mereka yang sekarat dan tidak berpunya,” siapa pun mereka. Sikap ini harus nyata dalam kehadiran yang menghadirkan kebenaran dan keadilan yang membawa kedamaian, rasa aman, sejahtera, ketenteraman dan kecukupan bagi sesama di mana pun kita berada, sebagai indikator kasih sejati yang dihidupi secara nyata (Yesaya 32:1-2,17).</li>
</ul>
<ul>
<li>Kasih Allah memberikan kekuatan untuk berpihak kepada kebenaran dan keadilan dengan menghargai hak sesama untuk hidup berdampingan dalam masyarakat sebagai insan milik Sang Khalik (Yesaya 32:8). Kekuatan kasih ini meneguhkan untuk menjadi manusia pembangun yang membangun sesama dengan sepenuh hati tanpa sikap tendensius yang negatif. Kenyataan ini dengan sendirinya membenarkan kebenaran yang dinyatakan dalam frasa “<em>Orang benar mengetahui hak orang lemah, tetapi orang fasik tidak mengertinya</em>” (Amsal 29:7). Semua ini dapat terjadi melalui kita, oleh kasih yang dikaruniakan oleh TUHAN Allah kepada mereka yang dikasihi-Nya.</li>
</ul>
<p><strong>REFLEKSI</strong></p>
<p>Menyimak kebenaran tentang pokok, “Pemimpin arif, memimpin dengan mengasihi sebagai gaya kepemimpinan yang altruis,” kini perlu dipertanyakan, mengapa pemimpin perlu mengasihi, dan mengasihi tanpa pandang buluh ini? Dalam upaya menegaskan kebenaran ini, maka beberapa prinsip yang harus ditegakkan adalah antara lain:</p>
<ul>
<li>Pemimpin harus mengasihi tanpa pandang buluh yang merefleksikan pengenalannya akan TUHAN Allah, bahwa ia telah mengalami kasih Allah yang membebaskannya dari dosa; dan bahwa ia hidup mencerminkan kemuliaan Allah dengan mengasihi (Yohanes 3:16, 25). Kasih memampukan pemimpin untuk memberlakukan sikap altruis terhadap setiap orang sebagai sesama yang olehnya ada gambaran serta pembuktian ketaatannya akan kehendak Allah dan memuliakan nama-Nya, menjadi berkat dalam kepemimpinannya (Yohanes 13:34-35; Matius 22:34-40; Roma 13:8; 11:36).</li>
</ul>
<ul>
<li>Pemimpin harus mengasihi sebagai kekuatan etika moral agung yang mampu mengasihi melewati kekuatan kemanusiaan (I Korintus 13), yang olehnya ia menggunakan kuasa kepemimpinan secara bertanggung jawab (I Petrus 5:1-4; Roma 14:1-12). Dengan menggunakan kuasa secara bertanggung jawab, Pemimpin terhindar dari sikap arogan  dimana ia akan lebih manusiawi dalam sikap serta tindakannya.</li>
</ul>
<ul>
<li>Pemimpin harus mengasihi, karena alasannya ialah bahwa dengan mengasihi, pemimpin menunjukkan harkat diri sebagai pemimpin yang memiliki sikap hati mulia sebagai pemimpin bermartabat tinggi (Yesaya 32:8) dan membuktikan kebijaksanaannya sebagai pemimpin sejati yang berjiwa besar, tidak pandang muka, tidak primordialis (I Raja-raja 3:1-28).</li>
</ul>
<ul>
<li>Pemimpin harus mengasihi karena dengannya ia dapat membuktikan adanya kekuatan istimewa padanya untuk membangun sikap dan menyikapi sesama secara altruis, melebihi harkat manusia yang cenderung egois dan memiliki keinginan menguasai atau mendominasi sesama. Dengan mengasihi, pemimpin akan terbukti bersikap bijak (mengatasi kelemahan kemanusiaannya) dan ia dapat memberlakukan gaya yang konsiderat (bersikap penuh pertimbangan kritis positif) dengan sikap arif terhadap orang yang dipimpinnya (I Yohanes 4:7-12).</li>
</ul>
<ul>
<li>Pemimpin harus mengasihi, karena dengan kasih, ia meneguhkan dirinya dengan disiplin dan penguasaan diri yang menggambarkan adanya daya ekstraordinari untuk bertahan menghadapi tekanan serta kesulitan dan rela berkorban dalam menjalankan kepemiminannya. Kasih memampukan Pemimpin untuk mengabaikan kepentingan diri dan kelompok sendiri, serta mengabdi bagi kepentingan yang lebih besar, meneguhkan organisasi, memberkati banyak orang. Kasih memberikan kekuatan kepada pemimpin untuk mengatasi krisis kepemimpinan dengan pertimbangan benar, baik, sehat, matang serta dewasa yang menyelesaikan masalah dan memuaskan semua pihak (I Korintus 13:13; II Korintus 5:13-14).</li>
</ul>
<ul>
<li>Pemimpin sejati harus mengasihi, karena mengasihi adalah cara terbaik meneguhkan persekutuan berkat (Mazmur 133; Filipi 2:1-11) serta membina hubungan harmonis yang mengokohkan kerjasama (sinergi kelompok) untuk menyiapkan tindakan yang simultan dalam kepemimpinan dan menguatkan perannya dengan melayani dari hati (Markus 10:41-45), yang menjamin sukses dalam kepemimpinan. Mengasihi membuat Pemimpin mudah berendah hati, serta menghargai potensi, cara kerja dan sumbangsih setiap semua komponen manusia sehingga proses kepemimpinan dapat berjalan sinergis, simultan dan dinamis yang menghasilkan secara maksimal serta membawa sukses.</li>
</ul>
<p>Selamat memimpin dengan mengasihi tanpa pamrih dan membuktikan diri sebagai pemimpin arif yang sukses karena ia mengasihi yang berorientasi kepada sesama.</p>
<p>Salam dan doa,</p>
<p>Pdt. Dr. Yakob Tomatala</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Pokok ini pernah ditayangkan dalam Acara TVRI yang disponsori oleh YAKOMA PGI dengan judul: “<em>Kasih Allah untuk semua</em>.”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2011/02/17/pemimpin-arif-memimpin-dengan-mengasihi-sebagai-gaya-kepemimpinan-yang-altruis-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENGISI HARI INI DENGAN ARIF, MEMBANGUN MASA DEPAN BERPENGHARAPAN</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2011/01/04/mengisi-hari-ini-dengan-arif-membangun-masa-depan-berpengharapan/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2011/01/04/mengisi-hari-ini-dengan-arif-membangun-masa-depan-berpengharapan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Jan 2011 06:43:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Information]]></category>
		<category><![CDATA[Perenungan]]></category>
		<category><![CDATA[MEMBANGUN MASA DEPAN BERPENGHARAPAN]]></category>
		<category><![CDATA[MENGISI HARI INI DENGAN ARIF]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=327</guid>
		<description><![CDATA[“Sebab itu, perhatikanlah baik-baik cara hidupmu. Jangan hidup seperti orang-orang bodoh; hiduplah seperti orang-orang bijak. Gunakanlah sebaik-baiknya setiap kesempatan yang ada padamu”  (Efesus 5:15-16a &#8211; BIS). PENGANTAR Masa depan di dalam TUHAN adalah “penuh harapan” yang sepenuhnya dijamin oleh janji kesejahteraan dari pada-Nya (Yeremia 29:11). Namun, bagaimana kita mengisinya, sehingga kesejahteraan, sukses dan kemakmuran hidup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p>“<em>Sebab itu, perhatikanlah baik-baik cara hidupmu. Jangan hidup seperti orang-orang bodoh; hiduplah seperti orang-orang bijak. Gunakanlah sebaik-baiknya setiap kesempatan yang ada padamu</em>”  (Efesus 5:15-16a &#8211; BIS).</p>
<p>PENGANTAR</p>
<p>Masa depan di dalam TUHAN adalah “penuh harapan” yang sepenuhnya dijamin oleh janji kesejahteraan dari pada-Nya (Yeremia 29:11). Namun, bagaimana kita mengisinya, sehingga kesejahteraan, sukses dan kemakmuran hidup dapat kita tuai di tahun 2011 ini? <span id="more-327"></span>Menemukan jawaban bagi pertanyaan ini, baiklah kita menyimak apa yang dikatakan Michael Landon yang mengatakan, “<em>Walaupun kita memiliki banyak hari esok, tetapi kita hanya memiliki hari ini untuk digunakan</em>.”<a href="#_ftn1">[1]</a> Apa artinya ini bagi kita, khususnya bagi mereka yang berhasrat mengisi kehidupannya dengan menikmati janji kesejahteraan dari TUHAN Allah? Bagaimana kita mengisi dan menikmati masa depan penuh harapan di dalam TUHAN ini? Marilah kita simak bersama!</p>
<p><strong>1. </strong><strong>MASA DEPAN PENUH HARAPAN HARUS DIISI HARI INI</strong>. Apa maknanya masa depan harus diisi hari ini? Ada alasan kuat mengapa masa depan harus diisi hari ini. <em>Pertama</em>, masa depan harus diisi hari ini karena masa depan adalah produk dari hari ini, sama seperti hari ini adalah produk dari hari kemarin. <em>Kedua</em>, masa depan harus diisi hari ini, karena isi masa depan ialah apa yang diisi hari ini. <em>Ketiga</em>, masa depan harus diisi hari ini, karena dengan mengisi masa depan hari ini, masa depan pasti memiliki isi yang selaras dengan apa yang diisi. <em>Keempat</em>, masa depan harus diisi hari ini karena dengan mengisi masa depan hari ini, masa depan akan datang dengan apa yang diisi hari ini. <em>Kelima</em>, masa depan yang terisi baik dan benar hari ini, akan memproduksikan produk masa depan yang benar, baik alias berkualitas pada hari esok. Firman Allah secara tegas mengatakan: “<em>Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya</em>” (Galatia 6:7).</p>
<p><strong>2. </strong><strong>MASA DEPAN PENUH HARAPAN HARUS DIKERJAKAN HARI INI</strong>. Masa depan harus dikerjakan hari ini, karena kita hanya dapat bekerja pada hari ini, dan bekerja hari inilah yang menentukan hasil kerja hari esok. Kalau hari ini kita menabur dengan mencucurkan ari mata, maka hari esok akan ada tuaian yang dilakukan dengan sorak sorai (Mazmur 126:5). Jika hari ini kita melakukan pekerjaan menabur dengan tindakan berkualitas, kita pasti akan menuai hasil dari tindakan berkualitas itu. Hal ini ditegaskan oleh Firman Allah yang mengatakan: “<em>Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barang siapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu. Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah</em>” (Galatia 6:8-9).</p>
<p><strong>3. </strong><strong>MASA DEPAN PENUH HARAPAN PASTI DITUAI BESOK</strong>. Anda tentu masih mengingat pernyataan: <em>Anda tidak dapat mengharapkan sesuatu terjadi apabila Anda tidak melakukan apa-apa</em>. Kebenaran ini menegaskan bahwa apabila Anda menabur (bekerja dan mengerjakan visi Anda) hari ini, Anda pasti akan menuai (hasil pasti) hari esok. Masa depan penuh harapan pasti akan dituai hari besok, adalah kebenaran yang menjelaskan bahwa “Apabila Anda menabur hari ini, Anda pasti akan menuai besok, dimana kualitas serta cara taburan yang Anda lakukan akan menghasilkan tuaian yang sama kualitasnya.” Kebenaran ini menjelaskan bahwa, hukum tabur tuai ini akan terjadi sepasti Firman Allah yang menegaskan: “<em>Orang yang bejalan maju sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak sorai sambil membawa berkas-berkasnya</em>” (Mazmur 126:6). Dengan demikian, Anda dapat memastikan bahwa masa depan penuh harapan adalah sesuatu kenyataan yang pasti terjadi, dan kenyataan ini ditentukan hari ini oleh Anda. Anda dapat memulai dengan sepenuhnya menyadari apa saja yang Anda tabur hari ini, akan Anda tuai besok. Jadi kalau Anda menanam lima stek ubi kayu hari ini (dengan mengerjakannya secara berkualitas), maka Anda dapat meramalkan bahwa Anda akan menuai setidaknya lima kilogram ubi kayu hari esok, yaitu enam bulan yang akan datang. Jadi dapat dikatakan juga bahwa prinsip tabur tuai ini terukur oleh tindakan yang Anda lakukan hari ini. Ingatlah apa yang dikatakan oleh Peter F. Drucker yang mengatakan, “<em>Jalan terbaik untuk meramal masa depan ialah dengan menciptakannya</em>.” Karena itu, Anda dapat memastikan bahwa masa depan penuh harapan itu dapat terlaksana, sepasti Anda melakukannya sekarang, yang dilakukan dengan segenap hati berbekal ketekunan tinggi dan kerja cerdas. Anda pasti menuai hasil yang menakjubkan hari besok sepasti Anda menabur secara berkualitas pada hari ini.</p>
<p><strong>REFLEKSI</strong>:</p>
<p>Telah dikatakan sebelumnya bahwa secara umum dapat dikatakan bahwa setiap orang memang tidak dapat memastikan masa depannya, namun, ada jaminan bagi orang yang percaya kepada TUHAN Allah, bahwa IA-lah yang telah menetapkan masa depan bagi umat-Nya, menjamin pemenuhannya dalam kehidupan mereka hari ini dan di masa yang akan datang. Karena itu, Anda diminta untuk merenungkan prinsip abadi tentang tabur tuai sebagai perikut:</p>
<ul>
<li><em>Pertama</em>, “Apabila Anda mengisi masa depan pada hari ini dengan sikap, kata dan tindakan apa saja, maka masa depan akan terbukti sepasti kata, sikap dan tindakan Anda pada hari ini.”</li>
<li><em>Kedua</em>, “Apabila Anda mengerjakan masa depan Anda hari ini dengan melakukan tindakan apa saja, dengan menggunakan cara apa saja dan kualitas apa saja, Anda akan menuai apa saja yang telah Anda tabur pada hari ini di masa depan, sesuai cara yang Anda gunakan dan kualitas yang Anda terapkan sekarang ini.”</li>
<li><em>Ketiga</em>, “Anda pasti memasuki masa depan penuh harapan dengan tuaian yang pasti pada hari esok, sepasti Anda menciptakannya pada hari ini.” Alasan kokoh untuk kebenaran ini ialah, karena Anda telah melakukan apa yang Anda inginkan berlandaskan visi kepemimpinan yang memberi tujuan yang jelas, maka Anda pasti menuai hasilnya pada hari besok. Ingatlah ini, “Apabila Anda menjadi yang terbaik dari diri Anda, dan Anda melalukan yang terbaik hari ini dengan mengerjakan hal terbaik dari seluruh potensi Anda, maka Anda akan menuai yang terbaik pada hari esok, dimana hari esok menjadi penuh harapan bagi Anda.</li>
</ul>
<p>Selamat menjalani “Tahun Pengharapan 2011” di dalam TUHAN Allah kita. Salam dan sukses di Tahun Baru 2011. TUHAN Yesus memberkati.</p>
<p>Salam doa,</p>
<p>Dr. Yakob Tomatala</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Lihat buku <em>Ubah Slogan Jadi Tindakan</em>, karya Sulaiman Budiman, PT Bhuana Ilmu Populer,  Jakarta., 2010.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2011/01/04/mengisi-hari-ini-dengan-arif-membangun-masa-depan-berpengharapan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PEMIMPIN BIJAK, MEMIMPIN DENGAN GEMBIRA</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2011/01/03/pemimpin-bijak-memimpin-dengan-gembira/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2011/01/03/pemimpin-bijak-memimpin-dengan-gembira/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Jan 2011 07:18:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Information]]></category>
		<category><![CDATA[Perenungan]]></category>
		<category><![CDATA[MEMIMPIN DENGAN GEMBIRA]]></category>
		<category><![CDATA[PEMIMPIN BIJAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=323</guid>
		<description><![CDATA[“Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berja-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yag harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira,” (Ibrani 13:17). PENGANTAR Pemimpin yang bijaksana harus memimpin dengan gembira. Memimpin dengan gembira adalah kualitas kepemimpinan yang memiliki nilai tambah yang positif. Dalam upaya menolong untuk melaksanakan kepemimpinan dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<em>Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berja-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yag harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira</em>,” (Ibrani 13:17).</p>
<p>PENGANTAR</p>
<p>Pemimpin yang bijaksana harus memimpin dengan gembira. Memimpin dengan gembira adalah kualitas kepemimpinan yang memiliki nilai tambah yang positif. Dalam upaya menolong untuk melaksanakan kepemimpinan dengan gembira, kita perlu bertanya, “Apa sesungguhnya makna memimpin dengan gembira ini?” Pola dan gaya kepemimpinan macam apa pula ini? Apakah pemimpin harus selalu menyikapi kepemimpinannya dengan sikap gembira? Kemanfaatan apa yang akan diperoleh melalui memimpin dengan gembira ini? Bagaimana seorang pemimpin dapat memimpin dengan gembira? Bagaimana pula memimpin dengan gembira itu dapat dilaksanakan? Menjawab semua pertanyaan di atas, marilah kita memaknakan bagaimana kita dapat memimpin dengan gembira itu:<span id="more-323"></span></p>
<p>1.      <strong>GEMBIRA ITU SEHAT</strong>. Memimpin dengan gembira dibangun di atas “sikap hati” yang gembira. Sikap hati gembira adalah sikap hati yang sehat. Firman Allah mengatakan, “Hati yang gembira adalah obat” (Amsal 17:22). Sesungguhnya menurut Firman Allah, memimpin dengan gembira itu sehat dan meringankan beban. Memimpin dengan gembira diawali dengan mendahulukan “sikap proaktif” dan menghindari “sikap reaktif.” Sikap proaktif dibangun diatas pikiran sehat dan jernih yang selalu berupaya menggunakan akalnya untuk mencari makna dibalik kata, sikap maupun tindakan orang lain. Sedangkan sikap reaktif muncul dari jiwa, roh dan hati yang kerdil yang akan selalu merasa tersinggung dengan kata, sikap dan tindakan orang, yang bermaksud baik sekalipun. Pemimpin hanya dapat memimpin dengan gembira apabila ia menetapkan untuk gembira, bersikap gembira, bergaya gembira, berkata gembira, dan bertindak gembira, apa pun kata, sikap dan tindakan orang dalam situasi apa saja. Dale Carnegie mengatakan, “<em>Jika kamu ingin hidup bahagia, maka bahagialah</em>.”<a href="#_ftn1">[1]</a> Kalau begitu, kita dapat mengatakan, “Jika kamu ingin hidup gembira, bergembiralah.” Buktinya, “Anda dapat memimpin dengan gembira, karena hati Anda gembira, dan Anda bergembira dalam kepemimpinan dengan menjadikan situasi menyenangkan dan menggembirakan semua orang yang dipimpin”</p>
<p>2.      <strong>GEMBIRA ITU SEMANGAT YANG MENGUNTUNGKAN</strong>. Kegembiraan menyatakan adanya semangat hidup yang positif. Adalah sangat tidak mungkin bergembira yang sejati, bila hati tidak bergembira. Hati yang gembira dibangun di atas kesadaran bahwa kegembiraan sejati itu datang dari TUHAN, dimana Firman Allah mengatakan: “<em>Hati yang gembira membuat muka berseri-seri</em>” (Amsal 15:13). Hati yang gembira tercermin dari wajah yang berseri, dan wajah yang berseri menandakan adanya semangat hidup positif. Dan, semangat hidup positif akan menularkan semangat hidup positif kepada orang lain yang ada disekeliling kita, sehingga pemimpin yang memimpin dengan gembira lebih membawa keuntungan. Dapat dikatakan di sini bahwa pemimpin yang memimpin dengan gembira akan memberikan semangat yang positif kepada orang-orang yang dipimpinnya, dimana mereka akan merasa beruntung dibawah kepemimpinannya. Rasa beruntung seperti ini akan meneguhkan kepemimpinan, sehingga semua komponen orang akan bergerak proaktif yang akan mewujudkan sinergi kerja yang membawa keuntungan bagi semua pihak.</p>
<p>3.      <strong>GEMBIRA ITU SELEBRASI YANG MENYENANGKAN</strong>. Gembira dan kegembiraan adalah situasi yang menggambarkan adanya kesenangan, “celebrations.” Hal ini dibenarkan oleh Firman Allah yang menegaskan: “<em>Orang yang gembira hatinya selalu berpesta</em>” (Amsal 15:15). Kalau begitu dapat dikatakan bahwa hati yang gembira membuat orang selalu merasa senang, dan kesenangan menjadikan semua situasi bagaikan “pesta perayaan.” Dengan demikian dapat dikatakan bahwa memimpin dengan gembira adalah “menyuguhkan situasi pesta” dalam kepemimpinan yang olehnya semua orang disemangati untuk terlibat “proaktif dalam proses kepemimpinan.” Pada sisi lain, gembira sesungguhnya menyediakan “kemampuan untuk menciptakan kondisi yang menyenangkan.” Firman Allah menandaskan: “<em>Hati orang bijak menjadikan mulutnya berakal budi, dan menjadikan bibirnya lebih dapat meyakinkan</em>” (Amsal 16:23-24). Dengan demikian, pemimpin hanya dapat memimpin dengan gembira apabila “hatinya gembira.” Dan hati yang gembira meneguhkan kata-kata bijak yang menyenangkan hati orang lain, sehingga ada kekuatan yang dapat meyakinkan orang yang mendengarnya.</p>
<p>REFLEKSI:</p>
<p>Telah diuraikan di atas tentang prinsip memimpin dengan gembira, cara Alkitab. Dengan demikian, pemimpin dapat mewujudkan kepemimpinannya dengan gembira, melalui penerapan  pola dan gaya kepemimpinan berikut:</p>
<p><em>Pertama</em>, Pemimpin dapat memimpin dengan gembira, melalui mematutkan gaya, pola serta sikap proaktif yang dibangun dari “hati yang gembira.” Pola dan gaya kepemimpinan seperti ini dapat disebut “leading by smiling” yang muncul dari hati yang gembira itu. Berlandaskan pola dan gaya leading by smiling ini, pemimpin menyiapkan situasi kondusif dan mengimpartasi sikap proaktif, sehingga semua komponen memiliki hati, pikiran, sikap dan kebiasaan yang positif yang memberikan andil serta kontribusi kepada terwujudnya kepemimpinan berkualitas dengan adanya hubungan-hubungan yang sehat antara pemimpin dan para bawahannya.</p>
<p><em>Kedua</em>, Pemimpin dapat menerapkan pola dan gaya memimpin dengan gembira melalui hati yang gembira yang nampak dalam sifat dan cara gembira yang mempengaruhi pola serta gaya kepemimpinan. Pola dan gaya kepemimpinan seperti ini dapat disebut “leading by feasting.” Leading by feasting ini diwujudkan melalui pola dan gaya mempertahankan serta mengembangkan sikap gembira, yang menyemangati semua komponen manusia dalam kepemimpinan. Leading by feasting juga merupakan pola dan gaya terbaik, yang ditandai oleh adanya kebiasaan menghargai, menikmati dan menyikapi kepemimpinan sebagai proses yang menyenangkan, yang memberikan tempat bagi paritisipasi semua kompenen manusia, yang melakukan tugasnya dengan penuh semangat.</p>
<p><em>Ketiga</em>, Pemimpin dapat membuktikan kualitas kepemimpinannya dengan menggunakan pola dan gaya “leading by celebrating.” Pola dan gaya  leading by celebrating ini membangun sikap proaktif, yang olehnya semua kompenen manusia dapat bersinergi dengan gembira dalam kepemimpinan. Bersinergi dengan gembira dalam kepemimpinan memberikan nilai tambah bagi pelaksanaan upaya memimpin, dimana akan ada keterlibatan dan peran proaktif semua kompenen SDM dalam kepemimpinan, karena masing-masing menyadari bahwa ia adalah pribadi yang memiliki bagian dalam kepemimpinan, yang harus disabut dan dilaksanakan dengan gembira. Adalah jelas, bahwa pola dan gaya kepemimpinan seperti ini akan membangun hubungan positif yang responsif, sehingga kepemimpinan pasti berjalan secara efektif, efisien dan sehat, yang mambawa hasil berkualitas yang semakin besar, karena semua orang smiling, feasting dan ceberating dalam proses kepemimpinan.<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p><strong>Selamat membuktikan pola dan gaya memimpin dengan gembira cara Alkitab, demi keberhasilan bersama, sekarang dan di masa yang akan datang</strong>!!!</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Jakarta, januari 2011</p>
<p>Dr. Yakob Tomatala</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Lihat Buku Ubah Slogan Jadi Tindakan, karya sulaiman Budiman., PT Bhuana Ilmu Populer, Jakarta., 2010.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Perlu ditegaskan bahwa di sin tidak ada kamus santai dalam pola dan gaya kepemimpinan”memimpin dengan gembira” ini, karena didalamnya ada landasan etika dan moral yang benar, baik dan kuat, yang akan meneguhkan pemimpin dan orang yang dipimpin menjadi manusia berkualitas..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2011/01/03/pemimpin-bijak-memimpin-dengan-gembira/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TAHUN PENGHARAPAN</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2010/12/31/tahun-pengharapan/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2010/12/31/tahun-pengharapan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Dec 2010 01:58:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Information]]></category>
		<category><![CDATA[Perenungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=320</guid>
		<description><![CDATA[“Bukankah Aku sendiri tahu rencana-rencana-Ku bagi kamu? Rencana-rencana itu bukan untuk kecelakaan kamu tetapi untuk kesejahteraanmu dan untuk memberikan kepadamu masa depan penuh harapan”  (Yeremia 29:11 BIS). PENGANTAR Masa depan adalah gelap bagi semua orang. Kenyataan ini membuat ada orang yang ingin tahu tentang masa depannya berupaya untuk mengorakkannya melalui jasa peramalan, dan sebagainya. Walau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="file:///C:/DOCUME%7E1/RIOYOT%7E1/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-11.png" alt="" /></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>“<em>Bukankah Aku sendiri tahu rencana-rencana-Ku bagi kamu? Rencana-rencana itu bukan untuk kecelakaan kamu tetapi untuk kesejahteraanmu dan untuk memberikan kepadamu masa depan penuh harapan</em>”  (Yeremia 29:11 BIS).</p>
<p>PENGANTAR</p>
<p>Masa depan adalah gelap bagi semua orang. Kenyataan ini membuat ada orang yang ingin tahu tentang masa depannya berupaya untuk mengorakkannya melalui jasa peramalan, dan sebagainya. <span id="more-320"></span>Walau pun demikian, dapatlah ditegaskan bahwa “tidak ada seorang pun dapat mengetahui masa depannya dengan pasti.” Kalau seorang peramal misalnya dapat mengetahui masa depannya maka ia dapat berupaya untuk mencegah kecelakaan bahkan kematiannya sekalipun.</p>
<p>Namun, yang benarnya ialah tetap tidak ada seorang yang tahu tentang masa depannya. Berdasarkan kenyataan ini, Seneca mengatakan: “<em>Tidak ada yang pasti di dalam dunia ini kecuali hari kemarin</em>.” Namun, TUHAN Yesus berkata: “<em>Jangan takut! Akulah yang Pertama (Alpha) dan yang Terakhir (Omega). Akulah DIA yang hidup</em>” (Wahyu 1:17b; 18a BIS). Implikasi dari kebenaran ini ialah bahwa masa depan yang tidak dapat diramalkan itu sesungguhnya ada dalam tangan TUHAN, yaitu DIA yang ada sebelum kemarin itu ada, karena ia adalah Maha Pencipta (Yohanes 1:1). Sebagai Pencipta, IA berkuasa atas hari kemarin (kekal yang lalu &#8211; <em>kairos</em>), hari ini (<em>kronos</em> &amp; <em>kairos</em>) dan hari besok (kekal yang akan datang &#8211; <em>kairos</em>), sesudah segala sesuatu tiada.</p>
<p>Melihat kebenaran ini, dapat di katakan bahwa di dalam TUHAN sajalah <strong>ada masa depan penuh harapan</strong>. Mecermati kenyataan ini memasuki Tahun 2011, dapat dikatakan bahwa ada banyak hal yang menjadi teka-teki bagi semua orang, namun di dalam TUHAN ada janji kesejahteraan dalam masa depan yang penuh harapan ini. Bagaimana kita menikmati masa depan penuh harapan di dalam TUHAN ini? Marilah kita simak bersama!</p>
<p><strong>1. </strong><strong>MASA DEPAN PENUH HARAPAN HARUS DIPASTIKAN HARI INI</strong>. Apa maknanya masa depan harus dipastikan hari ini? Bukankah telah dikatakan di atas bahwa tidak ada seseorang jugapun yang dapat mengetahui apalagi memastikan tentang masa depannya? Menegaskan kebenaran bahwa masa depan ada di dalan tangan TUHAN, maka maksud dari pernyataan ini ialah setiap orang sesungguhnya dapat memastikan masa depannya di dalam TUHAN.</p>
<p>Bagaimana sesungguhnya cara untuk memastikan masa depan di dalam TUHAN ini? <em>Pertama</em>, Allah memiliki rencana kekal bagi setiap orang (Yeremia 1:5; Yesaya 49:1b,5) yang adalah miliknya (Yeremia 29:11). karena itu, dapatlah dikatakan bahwa setiap orang yang telah menemukan diri ada di dalam TUHAN, adalah dia yang dapat menegaskan bahwa di dalam TUHAN, masa depannya terjamin hari ini, karena TUHAN sendirilah yang menetapkan rencana masa depan-Nya bagi setiap kita di dalam DIA. <em>Kedua</em>, setiap orang sesungguhnya dapat memastikan masa depannya di dalam TUHAN dengan menegaskan kesadaran diri dan keyakinannya sebagai umat milik Allah (Galatia 3:29; Kejadian 12:1-3). Sebagai umat milik Allah, kita memiliki status dan hak kepemilikan, yang dapat dipastikan dengan menemukan dirinya ada di dalam TUHAN.</p>
<p>Dengan pemastian ini, maka janji kesejahteraan dari TUHAN ini adalah diuntukkan kepadanya, seperti yang telah dinyatakan kepada umat Allah pada masa pelayanan Yeremia (Lihat: Ulangan 28:1-14)..  <em>Ketiga</em>, masa depan kita adalah sepasti hakikat TUHAN yang mahasetia (II Timotius 2:13), sehingga IA sendirilah yang memenuhi janji-Nya bagi kita. Sikap yang terpenting yang harus ada pada kita ialah bahwa kita harus sepenuhnya bersandar kepada janji-Nya, dengan setia memperjuangkan hal besar bagi kemuliaan-Nya (Ulangan 28:1-14; Roma 11:36).</p>
<p><strong>2. </strong><strong>MASA DEPAN PENUH HARAPAN ADALAH SUATU NISCAYA</strong>. Masa depan adalah suatu niscaya bagi umat Allah, karena DIA sendirilah yang menjaminnya. Jaminan TUHAN Allah ini menjadi pasti, tatkala IA menegaskan bahwa “<em>Rencana-rencana itu bukan untuk kecelakaan kamu tetapi untuk kesejahteraanmu</em>” (Yeremia 29:11b). Rencana kesejahteraan ini ada rancangan shalom dari Allah, yang meliputi tiga aspek. <em>Pertama</em>, aspek rohani, yang menjelaskan adanya hubungan yang dipulihkan TUHAN Allah yang memastikan bahwa setiap orang yang ada di dalam Kristus, ia adalah “manusia baru” (II Korintus 5:17), umat kesayangan TUHAN (I Petrus 2;9-10). <em>Kedua</em>, aspek sosial, yang menyangkut kehidupan sejahtera dan hubungan-hubungan “keluarga” atau rumah tangga (Kejadian 17; 12:1-3; Mazmur 127:1-2; 128).</p>
<p>Hubungan keluarga ini akan ditandai dengan adanya kesejahteraan kedamaian, kerukunan dan ketenteraman yang merupakan berkat khusus bagi rumah tangga umat TUHAN (Yesaya 32:17; Yohanes 14:27; Mazmur 133). <em>Ketiga</em>, aspek kesejahteraan ekonomi yang diungkapkan dengan “tanah” atau “negeri perjanjian TUHAN.” Tanah adalah lambang kemakmuran ekonomi, yang menjelaskan “bukti berkat TUHAN” yang nyata dalam kehidupan umat Allah (Kejadian 12:1; lihat Ulangan 28:1-14). Contoh gamblang kebenaran tentang keniscayaan masa depan ini dinyatakan sendiri oleh TUHAN Allah dalam episode penjumpaan-Nya dengan Yakub. Yakub sedang ada dalam pelarian yang meninggalkan rumah tangga orang tuanya yang porak poranda di belakangnya (masa lalu) dengan segudang persoalan pelik (Kejadian 27).</p>
<p>Dalam pelariannya, Yakub memandang masa depan yang kelam dan tidak ada harapan (ketidak pastian masa depan). Namun TUHAN Allah sendirilah yang mendatangi dan memulihkan dirinya untuk menjalani “masa depannya yang penuh harapan” (Kejadian 28:13-22). Dalam penyataan (self disclosure) TUHAN Allah dengan “kuasa transformatif” yang dahsyat ini, IA meneguhkan “<em>Janji Berkat-Nya</em>” (covenant) melalui memulihkan hubungan Yakub yang kelam dengan diri-Nya (<span style="text-decoration: underline;">aspek rohani</span> – Lihat ayat 13a; banding Roma 5:1-11). Pemulihan ini termasuk pemulihan hubungan keluarga atau rumah tangga (<span style="text-decoration: underline;">aspek sosial</span> – ayat 14; Banding Kejadian 12:1-3). Penyataan TUHAN Allah ini juga memulihkan hubungan kehidupan ekonomi yang ditandai dengan adanya “tanah” pemberian TUHAN (<span style="text-decoration: underline;">aspek ekonomi</span> – ayat 13b), yang melambangkan “kemakmuran hidup.” di sini dapat ditegaskan bahwa hubungan yang pulih dengan TUHAN Allah membawa damai sejahtera dan ketenangan hidup. Hubungan keluarga yang pulih menyiapkan kondisi kehidupan dan hubungan harmonis yang menyenangkan.</p>
<p>Hubungan ekonomi yang pulih menjanjikan kemakmuran hidup. Dari sini dapatlah dikatakan bahwa masa depan umat TUHAN merupakan suatu niscaya, karena dijamin oleh TUHAN Allah sendiri. Jaminan TUHAN Allah ini memberikan kepastian bahwa masa lalu dengan masalahnya yang menggerogoti, dapat diatasi oleh TUHAN. Pembebasan TUHAN ini menyebabkan kita dibebaskan untuk memandang masa depan dengan kepastian bahwa di dalam TUHAN masa depan adalah suatu niscaya yang akan dipenuhkan-Nya bagi kita. Di dalam dan dengan TUHAN Allah, ada masa depan penuh harapan bagi kita umat-Nya (Mazmur 60:14; 108:14; I Korintus 15:58).</p>
<p><strong>3. </strong><strong>MASA DEPAN PENUH HARAPAN DAPAT DINIKMATI SECARA NYATA</strong>. Masa depan penuh harapan adalah suatu kenyataan di dalam TUHAN. Masa depan penuh harapan ini bisa menjadi ilusi bagi kebanyakan orang, tetapi bagi kita yang ada di dalam TUHAN, ada jaminan untuk melihat, memasuki, menjalani dan menikmatinya. Bagaimana menikmati masa depan penuh harapan ini secara nyata? <em>Pertama</em>, memasuki masa depan penuh harapan ini, kita harus memandang dengan penuh iman kepada TUHAN yang memimpin kita dalam perjuangan hidup (Ibrani 12:1-2).</p>
<p>Di sini perlu ditekankan bahwa menjalani kehidupan yang penuh dengan tantangan ini, kita harus menyikapinya dengan iman penuh. Alasan kuatnya ialah bahwa karena di dalam iman, ada pengharapan, dimana pengharapan adalah kemenangan akhir setelah segala sesuatu diselesaikan TUHAN bagi kita (Ibrani 11:1). <em>Kedua</em>, memasuki masa depan penuh harapan ini, kita harus setia berjalan dengan TUHAN yang menjamin penyertaan-Nya bagi kita (Matius 1:23; 28:18-20). Penyertaan TUHAN memberikan jaminan keberanian percaya karena kita mengandalkan DIA (Yeremia 17:7-8). <em>Ketiga</em>, memasuki dan menikmati masa depan penuh harapan harus diisi melalui “bertindak” bersama TUHAN untuk “mewujudkan tanggung jawab mengadakan masa depan penuh harapan” di dalam TUHAN  ini (Mazmur 126; Kolose 3:17, 23).</p>
<p>Masa depan penuh harapan adalah sepasti tindakan iman dan pengharapan kita yang dilakukan secara nyata, kini, hari ini, di sini, melalui “taburan yang berkualitas” yang akan mendatangkan masa depan dengan berkat keberhasilan “tuaian  berkualtias” dari TUHAN Allah kita (I Korintus 3:6-7). Peter F. Drucker mangatakan, “<em>Jalan terbaik untuk meramal masa depan ialah dengan menciptakannya</em>.” Lakukanlah visi TUHAN bagi Anda sekarang, maka masa depan akan datang.</p>
<p><strong>REFLEKSI</strong>:</p>
<p>Secara umum dapat dikatakan bahwa setiap orang tidak dapat memastikan masa depannya. Namun, pada sisi lain, ada jaminan bagi orang yang percaya kepada TUHAN Allah, bahwa IA-lah yang telah menetapkan masa depan bagi umat-Nya, menjamin pemenuhannya dalam kehidupan mereka hari ini dan di masa yang akan datang. Menyibak rahasia ini, ada beberapa penekanan yang perlu disimak, yaitu antara lain:</p>
<p><em>Pertama</em>, “Orang yang dapat memastikan masa depannya ialah mereka yang memahami statusnya di hadapan Allah sebagai Umat Kesayangan-Nya” (Yohanes 1:12; I Petrus 2:9-10). Memahami status sebagai umat Allah memberikan kepastian bahwa di dalam DIA ada jaminan bagi masa depannya, karena TUHAN Allah memiliki rancangan masa depan sukses yang pasti bagi setiap orang yang adalah milik-Nya.</p>
<p><em>Kedua</em>, “Rancangan masa depan menjadi suatu niscaya, karena TUHAN Allah sendirilah yang menetapkan dan menjamin terwujudnya rencana kekal-Nya bagi umat-Nya.” Indikator kuat bagi kebenaran masa depan yang merupakan suatu niscaya ini adalah: 1. Ada pemulihan hubungan dengan TUHAN Allah (aspek rohani); 2. Ada pemulihan hubungan rumah tangga mewujudkan hubungan harmonis (aspek sosial); 3. Ada pemulihan hubungan ekonomi yang dilambangkan dengan memasuki serta memperoleh “tanah perjanjian TUHAN” (aspek kemakmuran ekonomi).</p>
<p><em>Ketiga</em>, “TUHAN Allah menjamin masa depan penuh harapan dapat dinikmati secara nyata oleh umat-Nya melalui: 1. Sikap iman dan pengharapan yang teguh kepada-Nya; 2. Ketetapan hati yang nampak dalam keberanian percaya kepada-Nya; 3. Ditandai dengan tindakan berkualitas mengandalkan DIA dengan mengerjakan masa depan dimulai dari hari ini.” Landasan kuat untuk kebenaran ini adalah, “Apabila Anda melalukan sesuatu yang nyata (hari ini), sesuatu yang nyata akan terjadi (hari besok), sepasti menabur (hari ini) di Tanah Perjanjian TUHAN (ladangmu) dan menuai (hari besok) berkat Perjanjian-Nya dengan kelimpahan dari pada-Nya. Kebenaran ini dipastikan oleh TUHAN Allah dalam Sabda-Nya: “<em>Orang pergi menabur benih di ladangnya, sambil bercucuran airmata. Ia pulang dengan menyanyi gembira membawa berkas-berkas panenannya</em>” (Mazmur 126:6 BIS).</p>
<p>Selamat memasuki “Tahun Pengharapan 2011” di dalam TUHAN Allah kita. Salam dan sukses di Tahun Baru 2011.</p>
<p>Salam doa,</p>
<p>Dr. Yakob Tomatala</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2010/12/31/tahun-pengharapan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>REFLEKSI: NATAL MEMBAWA REFORMASI-TRANSFORMASI SEJATI</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2010/12/16/refleksi-natal-membawa-reformasi-transformasi-sejati/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2010/12/16/refleksi-natal-membawa-reformasi-transformasi-sejati/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Dec 2010 09:04:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Information]]></category>
		<category><![CDATA[Perenungan]]></category>
		<category><![CDATA[natal membawa reformasi-transformasi sejati]]></category>
		<category><![CDATA[refleksi natal]]></category>
		<category><![CDATA[reformasi]]></category>
		<category><![CDATA[transformasi]]></category>
		<category><![CDATA[transformasi sejati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=315</guid>
		<description><![CDATA[“Lihatlah Aku menjadikan segala sesuatu baru” (Wahyu 21:5b) PENGANTAR Natal kita rayakan ditengah kenyataan meredupnya gaung REFORMASI yang telah bersusia lebih dari satu decade. Tatkala mengadakan evaluasi mengenai gerakan reformasi yang bergulir sejak tahun 1998, setidak-tidaknya ada tiga pendapat yang dapat dikemukakan, yaitu antara lain: 1. Penilaian optimistik yang mengetengahkan bahwa reformasi telah berhasil dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<em>Lihatlah Aku menjadikan segala sesuatu baru</em>” (Wahyu 21:5b)</p>
<p>PENGANTAR</p>
<p>Natal kita rayakan ditengah kenyataan meredupnya gaung REFORMASI yang telah bersusia lebih dari satu decade. Tatkala mengadakan evaluasi mengenai gerakan reformasi yang bergulir sejak tahun 1998, setidak-tidaknya ada tiga pendapat yang dapat dikemukakan, yaitu antara lain: 1. Penilaian <em>optimistik</em> yang mengetengahkan bahwa reformasi telah berhasil dengan segudang bukti, antara lain tegaknya demokrasi, adanya keterbukaan, tingkat kehidupan ekonomi Negara semakin menguat, dan sebagainya. 2. Penilaian <em>pesimistik</em> yang mengatakan bahwa reformasi gagal total, dengan mengetengahkan sejumlah alasan antara lain, hukum belum dijunjung tinggi, korupsi masih mearajalela, kesejahteraan rakyat masih terabaikan, dsb; dan 3. Penilaian <em>oportunistik</em> yang mengetengahkan sikap: setuju OK, tidak setuju OK, yang penting <em>kepentingan terpenuhi</em>, apapun kondisinya. Penilaian ini sangat bersifat egoisme, yang dijetuskan oleh mereka yang selalu mengail di air keruh, mengail di tambak orang, dengan slogan, “yang penting saya, masa bodoh dengan yang lain, yang penting bukan saya yang menjadi korban.”<span id="more-315"></span></p>
<p>Dalam merayakan Natal tahun ini, kita diajak untuk merenung sejenak tentang bagaimana menempatkan posisi diri terhadap segala sesuatu yang terjadi di dalam kita, di antara kita, dan di luar kita secara inklusif.</p>
<p>Siapa saya, apakah saya orang optimistik atau pesimistik atau oportunistik? Kalau saya optimistik, bagamana dengan kenyataan tentang kekurangan-ketimpangan yang terjadi di republik ini. Kalau saya pesismistik, bagaimana dengan kenyataan perubahan maju yang terjadi secara sektoral? Apakah saya cukup jujur melihat kenyataan dengan kacamata positif? Kalau daya oportunistik, apakah saya adalah manusia Indonesia sejati yang memiliki rasa tanggung jawab tinggi, ataukah saya melihat diri sebagai figuran belaka, bukan sebagai pelakon utama, anak negeri pembangun bangsa. Apakah saya menyadari bahwa dengan sikap ini, saya sesungguhnya pelarian, cangkokan,  bukan anak negeri sejati?</p>
<p>Tatkala merayakan Natal, kita sesungguhnya diajak untuk membatinkan kenyataan kebenaran Firman yang mengetengahkan Sabda TUHAN YESUS, “<em>Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru.</em>” Apa implikasinya bagi kita secara umum dan setiap diri secara individu? Sesungguhnya kebenaran Firman Allah ini menegaskan mengenai jaminan agar kita dapat menjadi pembawa pembaruan, pelakon utama pembangunan. Kebenaran ini juga memastikan bahwa reformasi – transformasi sejati dari Allah sedang bergulir yang memberikan optimisme positif bahwa “pembaruan sejati yang kita dambakan pasti terwujud di republik ini.”  Dalam upaya memahami kebenaran Firman Allah ini, maka ada beberapa kisi prinsipil yang akan kita renungkan, antara lain:</p>
<p>I.        <strong>NATAL MEMASTIKAN BAHWA PEMBARUAN SEJATI ADALAH ANUGERAH ALLAH YANG PASTI TERJADI</strong></p>
<ul>
<li>Apa sesungguhnya dapat dipahami dari kebenaran seputar Natal yang membawa pembaruan atau reformasi sejati yang merupakan anugerah Allah ini?</li>
</ul>
<p>A.      Natal memastikan bahwa Allah menggenapi janji-Nya membebaskan umat manusia dari dosa (Matius 1:21), melalui Yesus Kristus, Juruselamat, Pembaharu Sejati (Kisah Para Rasul 4:12).</p>
<p>B.      Natal memastikan bahwa pembaruan “manusia berdosa” hanya terjadi karena Allah terlibat didalamnya, dengan memberikan FIRMAN AGUNGNYA menjadi “manusia sejati” guna bersolider, berpihak kepada manusia membawa pembaruan sejati melalui pengorbanan Yesus Kristus (Yohanes 1:1-3, 14, 29; Matius 1:22). Dunia terlampau besar untuk dibaharui oleh seorang manusia, apakah dia presiden negara adidaya sekalipun. Dunia terlampau kompleks dan rumit untuk diatur oleh sekelompok orang yang namanya kongres, DPR/ MPR sekalipun. Dunia terlampau kacau untuk ditangani oleh kekuatan sebesar apapun. Namun, semuanya pasti berakhir di dalam sang Putra Natal, Pendamai sejati (Yohanes 14:6; Yesaya 32:17).</p>
<p>C.      Natal meneguhkan jaminan dari Allah bahwa penyertaan-Nya akan meneguhkan pembaruan sejati bersinambung yang menyentuh manusia dan segala bidang kehidupan (Matius 1:23).</p>
<p>IMPLIKASI:</p>
<p>1.      Natal memastikan bahwa Yesus Kristus Penyelamat yang bersabda, Lihatlah Aku menjadikan segala sesuatu baru,” pasti melaksanakannya.</p>
<p>2.      Natal memastikan bahwa “pembaruan Allah atas manusia berdosa” memberikan dinamika untuk mejadi manusia pembangun yang bebas KKN, taat dan menjunjung tinggi hukum dan keadilan, yang dapat pembawa sejahtera yang seadil-adilnya.</p>
<p>3.      Natal memastikan bahwa Allah sendirilah yang menjamin bahwa pembaruan atau reformasi sejati pasti terjadi, kini, di sini, dan masa yang akan datang, sehingga dari pulau dan benua ada pujian bagi-Nya atas shalom yang dianugerahkan-Nya kepada segala bangsa.</p>
<p>II.      <strong>NATAL MENEGASKAN BAHWA PEMBARUAN SEJATI MERUPAKAN SUATU KENISCAYAAN YANG PASTI DIALAMI</strong></p>
<ul>
<li>Apa sebenarnya keniscayaan pembaruan sejati dari Allah bagi manusia dalam kehidupannya kini, di sini dalam menyiarahi sejarah serta melakoni tanggung jawabnya?</li>
</ul>
<p>A.      Sesungguhnya Natal mempertegas bahwa pembaruan (reformasi-transformasi) sejati dari Allah, pasti di alami oleh setiap orang yang diperkenankan-Nya (Lukas 2:14).</p>
<p>B.      Natal mempertengas kepastian bahwa setiap orang yang diperkenankan Allah akan mengalami pembaruan sejati – yang tampak dalam “pembaruan diri, pembaruan budi menjadi manusia baru, manusia yang dimanusiakan Allah” (Roma 12:2a).</p>
<p>C.      Natal mempertegas tanggung jawab pengalaman pembaruan, yang meneguhkan menjadi agen pembaruan, yang membawa pembaruan sehingga dunia conform dengan “kehendak Allah, yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2b).</p>
<p>IMPLIKASI:</p>
<p>1.      Natal mempertegas, bahwa semua orang yang diperkenankan Allah pasti mengalami jamahan-Nya yang membawa pembaruan sejati (Yohanes 3:25).</p>
<p>2.      Natal mempertegas bahwa setiap orang yang telah diperbaharui Allah pasti mengalami pembaruan, sehingga ada pengalaman pembaruan yang membumi, kini dan di sini.</p>
<p>3.      Natal mempertegas bahwa setiap orang yang telah dibaharui pasti diteguhkan Allah menjadi agen pembaruan, yang membawa reformasi – transformasi yang telah dialaminya kepada dunia di makna ia diutus oleh TUHAN – Nya.</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p>Apa yang dinyatakan dan dijamin oleh Allah lewat Natal, diditeguhkan oleh Sabda-Nya, “<em>Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru</em>.” Dalam kaitan ini, kebenaran Natal menyatakan dan menjamin bahwa:</p>
<ol>
<li>Dalam TUHAN Yesus Kritus yang bersabda, “Lihatlah Aku menjadikan      segala sesuatu baru” pasti mengerjakan pembaruan (reformasi-transformasi) itu      bagi kita yang diperkenankan-Nya, yang menyentuh manusia dan segala bidang      hidup, sehingga reformasi – transformasi sejati pasti terjadi.</li>
<li>Dalam TUHAN Yesus      Kristus, pengalaman pembaruan (reformasi-transformasi) sejati akan kita alami, yang memberikan      dinamika menjadi agen pembaruan, sehingga oleh pertolongan-Nya kita dapat      mengamalkan reformasi – transformasi yang membawa shalom kepada      semua orang dalam segala bidang      hidup di tengah  masyarakat sipil di mana Allah mengutus dan menempatkan kita umat-Nya.</li>
</ol>
<p>TUHAN Yesus memberkati. Selamat Natal dan Selamat menyongsong Tahun Baru 2011.</p>
<p>Jakarta, 16 Desember 2010</p>
<p>Pelayan Firman,</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Pdt. Dr. Yakob Tomatala</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2010/12/16/refleksi-natal-membawa-reformasi-transformasi-sejati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

