<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DR. Yakob Tomatala &#187; Articles</title>
	<atom:link href="http://yakobtomatala.com/category/articles/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://yakobtomatala.com</link>
	<description>Leadership, Thoughts, Books, Writing !</description>
	<lastBuildDate>Sun, 06 May 2012 17:04:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>KEPEMIMPINAN KRISTEN DALAM KANCAH PERUBAHAN</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2012/05/06/kepemimpinan-kristen-dalam-kancah-perubahan/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2012/05/06/kepemimpinan-kristen-dalam-kancah-perubahan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 May 2012 17:04:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Karakter Kepemimpinan]]></category>
		<category><![CDATA[kancah perubahan]]></category>
		<category><![CDATA[KEPEMIMPINAN]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin kristen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=368</guid>
		<description><![CDATA[“Lihatlah, Aku menjadikan segala seuatu baru” (Wahyu 21:5)  PENGANTAR Dunia di mana kita berada ditandai dengan perubahan yang sangat pesat serta dahsyat. Perubahan yang terjadi menyentuh seluruh segi dan aspek kehidupan dari semua kelompok orang di segala penjuru, termasuk kita sebagai bagian dari komunitas makro. Gagasan perubahan ini dilukiskanoleh Alvin dan Heidy Toffler dengan menggambarkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;" align="right">“<em>Lihatlah, Aku menjadikan segala seuatu baru</em>” (Wahyu 21:5)</p>
<p> PENGANTAR</p>
<p><em>Dunia di mana kita berada ditandai dengan perubahan yang sangat pesat serta dahsyat. Perubahan yang terjadi menyentuh seluruh segi dan aspek kehidupan dari semua kelompok orang di segala penjuru, termasuk kita sebagai bagian dari komunitas makro. Gagasan perubahan ini dilukiskanoleh Alvin dan Heidy Toffler dengan menggambarkan bagaimana peradaban dunia mengalami perubahan yang berkembang dalam tiga tahap. <strong>Pertama</strong>, dunia dengan peradaban pertanian (disimbolkan dengan pacul) memakan waktu sekitar tiga ribu tahun; <span id="more-368"></span><strong></strong></em></p>
<p><em><strong>Kedua</strong>, peradaban industri (yang disimbolkan dengan cerobong asap) meliputi tiga ratus tahun; <strong>Ketiga</strong>, dunia dengan peradaban informasi (yang disimbolkan dengan komputer &#8211; sekarang harus memakai simbol HP), yang berubah dengan kecepatan tinggi. Perubahan dalam peradaban informasi ini begitu cepat, dimana setiap tujuh puluh hari tedapat penemuan ilmu pengetahuan baru, dengan produk teknologi informasi yang berkembang sangat pesat. Perkembangan perubahan dunia ini tentu secara khusus mempengaruhi semua organisasi baik langsung, mau pun tidak langsung. Karena itu pertanyaan penting yang perlu ditanyakan ialah, bagaimana kita menyikapi kenyataan perubahan ini. dalam upaya menjawab pertanyaan ini, maka ada dua pokok yang akan dibahas, yaitu; 1. Membangun kepemimpinan Kristen mengantisipasi perubahan; dan 2. Merekayasa strategi kepemimpinan menghadapi perubahan; yang akan diakhiri dengan suatu rangkuman.</em></p>
<p><strong>MEMBANGUN KEPEMIMPINAN KRISTEN MENGANTISIPASI PERUBAHAN</strong></p>
<p>Kepemimpinan Kristen, secara khusus berkaitan dengan kepemimpinan dalam organisasi keagamaan. Di sini, kepemimpinan Kristen, sebagai “Suatu proses terencana yang dinamis dalam konteks pelayanan Kristen (<em>yang menyangkut faktor waktu, tempat, dan situasi khusus</em>) yang di dalamnya oleh campur tangan Allah, Ia memanggil bagi diri-Nya seorang pemimpin (<em>dengan kapasitas penuh</em>) untuk memimpin umat-Nya (<em>yang mengelompokkan diri dalam suatu institusi/organisasi</em>) guna mencapai tujuan Allah<a title="" href="#_ftn1">[1]</a> (<em>yang membawa keuntungan bagi pemimpin, bawahan, dan lingkungan hidup</em>) bagi serta melalui umat-Nya, untuk kejayaan kerajaan-Nya.”<a title="" href="#_ftn2">[2]</a> Pemahaman tentang keunikan kepemimpinan Kristen ini menegaskan bahwa kepemimpinan sebagai proses terencana dan dinamis, mengambil konteks pelayanan Kristen sebagai faktor situasi khusus, yang meliputi waktu serta tempat khusus pula.</p>
<p>Dalam kaitan ini dapat dikatakan bahwa kepemimpinan Kristen adalah kepemimpinan yang mengambil organisasi keagamaan Kristen sebagai lokus di mana kepemimpinan Kristen itu dijalankan. Pemahaman ini berhubungan dengan premis kepemimpinan Kristen, yang menegaskan bahwa dalam proses yang dinamis ini <em>Allah campur tangan</em> dan memanggil bagi diri-Nya seorang pemimpin, ke dalam tanggung jawab kepemimpinan.</p>
<p>Dalam hal yang sama, pemimpin organisasi Kristen adalah juga seseorang yang dipanggil Allah kedalam tanggung jawab kepemimpinan, yang  ditandai oleh adanya kapasitas serta tanggung jawab yang melekat padanya untuk memimpin suatu organisasi keagamaan. Karena itu, dapatlah dikatakan bahwa sebagai seseorang yang dipanggil Allah ke dalam tanggung jawab kepemimpinan, pemimpin Kristen perlu bersikap pasti akan panggilan Allah kepadanya (Markus 10:40; Yohanes 3:27), yang memberikan kepadanya otoritas untuk menjadi pemimpin. Dengan otoritas kepemimpinan berdasarkan panggilan Allah ini, pemimpin dengan sendirinya memiliki <em>kredensi ilahi</em> sehingga ia dapat melakukan upaya memimpin, karena ada padanya kapasitas pemberian Allah untuk menjadi pemimpin yang berkualitas.<a title="" href="#_ftn3">[3]</a> Pada sisi lain, adalah merupakan tanggung jawab pemimpin guna menetapkan rancangan pengembangan formatif bagi dirinya, yang terfokus kepada pengembangan dirinya menjadi pemimpin kompeten.<a title="" href="#_ftn4">[4]</a> Sejalan dengan ini, pemimpin harus menetapkan postur belajar sepanjang hidup (life long learning posture) yang olehnya ia dapat terus berkembang ke arah kompetensi penuh.</p>
<p>Perkembangan ke arah kompetensi penuh ini mengandaikan bahwa pemimpin memiliki kapasitas lengkap yang olehnya ia dapat memimpin secara berkualitas. Pemimpin Kristen yang kompeten seperti ini menunjukkan bahwa ia dapat memimpin organisasi dengan efektif (berkualitas), efisien (berkuantitas) dan sehat (hubungan responsif kondusif), yang akan membawa kemanfaatan bagi semua pihak. Pemimpin seperti inilah yang diharapkan dapat meneguhkan organisasi yang dipimpinnya untuk mengantisipasi perubahan yang terjadi dalam lingkungan di mana kepemimpinannya dijalankan dengan bersikap proaktif.</p>
<p><strong>MEREKAYASA STRATEGI KEPEMIMPINAN MENGHADAPI PERUBAHAN</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menengok balik melihat ulasan di atas, dapat dikatakan bahwa pemimpin Kristen memiliki tanggung jawab besar untuk memimpin organisasinya. Mengemban tanggung jawab ini, pemimpin harus menyikapi perannya sebagai seorang strategos<a title="" href="#_ftn5">[5]</a> yang andal. Sebagai seorang strategos, pemimpin harus meyiasati upaya memimpin secara <em>strategis-taktis</em>, yang olehnya ia dapat melaksanakan upaya memimpin secara efektif, efisien, sehat dan menghasilkan. Pada sisi lain, ia harus menyadari dirinya sebagai pemimpin rohani yang bertanggung jawab utuh atas kehidupan organisasi, khususnya orang-orang yang dipercayakan kepada-nya (I Petrus 5:1-5).</p>
<p>Sebagai pemimpin rohani yang mereprensentasi peran imam, nabi dan rasul Allah, pemimpin Kristen memiliki tugas yang penting yang harus diemban di tengah segala macam kondisi yang juga kompleks. Di sini, sangatlah disadari bahwa tatkala pemimpin memimpin, ia dihadapkan kepada berbagai macam tantangan, salah satunya ialah perubahan yang sejalan dengan kondisi peradaban yang di dalamnya kita menjalani sejarah. Menyikapi tanggung jawab kepemimpinan ini, pemimpin harus memastikan pelaksanaan peran strategosnya pada bidang-bidang berikut, dalam menghadapi serta menjawab tantangan perubahan.</p>
<ol start="1">
<li>Pemimpin harus membangun suatu landasan perencanaan strategis guna menyiapkan perangkat strategi kepemimpinannya, yang dibangun di atas visi, misi, fokus, tujuan dan target kepemimpinan yang jelas.<a title="" href="#_ftn6">[6]</a></li>
<li>Pemimpin harus menyiapkan suatu <em>platform pembekalan</em> orang yang dipimpin melalui pendidikan terpadu, yang melengkapi mereka secara filosofis dan pengetahuan etika-moral etos praktis untuk menjawab tantangan sekurarisme dan pengaruh lain yang menerpa dengan sikap proaktif.</li>
<li>Pemimpin harus menyiapkan suatu strategi pelibatan semua komponen anggota dalam kepemimpinannya, sehingga semuanya menjadi aktif, sebagai landasan mengantisipasi pengaruh perubahan secara responsif.</li>
<li>Pemimpin harus menjalankan upaya memimpin secara terencana dengan mengunakan semua sumber guna melaksanakan tanggung jawab kepemimpinan secara relevan, menjawab kebutuhan anggota pada satu sisi, dan menjawab tantangan dunia pada sisi lainnya.</li>
<li>Pemimpin harus membuka diri, membangun jejaringan dengan organisasi lain untuk saling melengkapi guna menghadapi tantangan bersama, baik secara domestik, mau pun global.</li>
<li>Pemimpin harus membangun pendekatan sosio-kultural dengan pemerintah dan masyarakat untuk membina ketahanan bersama sebagai anggota anak bangsa, menghadapi tantangan perubahan mengglobal yang sedang terjadi dalam dunia di mana kita berada.</li>
<li>Pemimpin harus menjalankan upaya memimpin berkualitas yang membuktikan bahwa ia memiliki ketangguhan untuk meneguhkan, melindungi dan membawa organisasinya ke depan dalam menjalankan tanggung jawab pembangunannya.<a title="" href="#_ftn7">[7]</a></li>
</ol>
<p><strong>RANGKUMAN</strong></p>
<p>Menyimak balik uraian di depan, dapat dikatakan bahwa setiap <em>pemimpin Kristen </em>adalah<em> </em>seseorang yang telah dipanggil Allah ke dalam tanggung jawab kepemimpinan, yang olehnya ia memiliki kapasitas utuh untuk memimpin. Pada sisi lain, pemimpin Kristen adalah manusia baru di dalam TUHAN Yesus Kristus (II Korintus 5:17), umat ketebusan Allah (I Petrus 2:9-10), yang olehnya ia harus hidup sepadan dengan panggilan-nya (Efesus 4:1); yang bertanggung jawab untuk hidup kudus (I Yohanes 2:6; I Petrus 1:13-16; Imamat 11:44-45; 19:2);dan mengasihi sesama (Yohanes 13:34-35; I Yohanes 4:7-10).</p>
<p>Pemimpin Kristen yang adalah representasi pemimpin rohani yang berperan sebagai imam, nabi dan rasul bagi umat Allah  memiliki tanggung jawab yang besar untuk memimpin dan melindungi umat Allah dari pengaruh perubahan dunia serta segala eksesnya, dalam upaya meneguhkan diri menyiarahi perjalanan sejarahnya (I Petrus 5:1-5; Kolose 3:12-17; I Timotius 3:1-7, 8-13; 4:12; 5:1-2). Diyakini, pemimn Kristen yang melaksanakan tanggung jawabnya dengan benar dan baik pada akhirnya akan meneguhkan organisasi yang dipimpinnya dalam menjalankan misinya sehingga TUHAN Allah dipermuliakan  (Roma 11:36). Dengan demikian, apabila pemimpin menyadari panggilan khususnya kepada pelayanan kepemimpinan dan menghidupi diri serta seluruh pelayanannya secara bertangung jawab, maka ia sedang menandakan diri sebagai Pemimpin Rohani yang keberkatan bagi diri, keluarga, gereja dan masyarakat. Perubahan dan tantangan dapat terus terjadi, tetapi pemimpin gereja yang kuat akan memimpin umat secara berkualitas, sehingga gereja dapat melewati segala tantangan baik dari dalam mau pun dari luar, dan akhirnya akan keluar sebagai pemenang. Salam</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jakarta, Mei 2012</p>
<p>Dr. Yakob Tomatala</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Istilah “tujuan Allah” – harus dipahami secara luas, yaitu tujuan yang olehnya gereja/umat Allah itu “ada/berada” di bumi, yaitu untuk membawa kemuliaan bagi Allah.  Secara sempit istilah ini berkenaan dengan visi dasar bagi kepemimpinan seorang pemimpin, bukan alasan pembenaran bagi sikap/keputusan pemimpin (atas nama kehendak Allah yang disalah gunakan).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Lihat <em>Kepemimpinan Kristen</em>, karya Yakob Tomatala, thn 2002., hal 7-20; <em>Kepemimpinan yang Dinamis</em>.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Kapasitas yang dimaksudkan di sini adalah kemampuan seutuhnya yang dikaruniakan TUHAN Allah kepada pemimpin, yaitu kharisma atau karunia rohani (Roma 12:8c), bawaan lahir,  pengalaman khas, pengetahuan yang diperoleh karena pembalajaran serta pengalaman karir, yang melengkapi pemimpin untuk memimpin.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Kompetensi kepemimpinan menjelaskan bahwa pemimpin Kompetensi atau “competent” &lt; competens, competere (Latin) artinya “menjadi penuh atau lengkap sehingga dapat menjawab kebutuhan atau tuntutan.” Arti selengkapnya dari istilah <em>kompeten</em> adalah:  <em>Satu</em>, Dapat menjawab semua persyaratan, cocok, puas dan memadai untuk suatu tujuan tertentu. <em>Dua</em>, Telah memenuhi semua kualifikasi dan kapasitas yang dituntut untuk mengerjakan suatu pekerjaan. <em>Tiga</em>, Sangat sesuai untuk mengerjakan pekerjaan, dan telah memenuhi semua ketentuan legal untuk menjadi sesuatu guna melaksanakan sesuatu itu. Berdasarkan pemahaman ini, maka kompetensi adalah perangkat kapasitas penuh seorang individu sehingga ia diakui sebagai andal dalam melakukan tugas kepemimpinan. Kapasitas penuh ini meliputi tiga rana penting, yaitu: <em>Kompetensi karakter</em> (Integritas etika – motal dan mentalitas proaktif); <em>Kompetensi pengetahuan</em> (Kapasitas kemampuan intelektual yang komprehensif dan khas lebih) dan <em>Kompetentensi kecakapan</em> (Kapabilitas sosial dan teknik “know how” manajerial administratif tangguh) yang membuatnya diperhitungkan.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Strategos dalam konotasi Yunani adalah sama dengan Jenderal, sehingga strategi adalah ilmu kejenderalan, yang memberikan peran yang menentukan jatuhbangunnya organisasi kepada pemimpin.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> Referensi bagi penerjaan perencanaan strategis ini dapat dilihat dari buku “<em>Mastering Planning</em>” karya Y. Tomatala, untun membangun suatu manajemen perencanaan strategis bagi gereja. Banding: Lukas 14:28-32.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> Lihat <em>Kepemimpinan Kristen</em>, Ibid., halaman  81-98 tetang <em>penerapan kepemimpinan Kristen dalam konteks</em>.</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2012/05/06/kepemimpinan-kristen-dalam-kancah-perubahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PEMIMPIN BERKARAKTER LUHUR</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2012/05/06/pemimpin-berkarakter-luhur/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2012/05/06/pemimpin-berkarakter-luhur/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 May 2012 14:55:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Karakter Kepemimpinan]]></category>
		<category><![CDATA[Karakter Luhur]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin luhur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=365</guid>
		<description><![CDATA[Judul             : PEMIMPIN BERKARAKTER LUHUR Penulis         : Dr. Yakob Tomatala Media           : HUT 80 STT  Jaffray Makassar Jumlah kata : 3316 ABSTRAK Firman Allah menegaskan bahwa “&#8230;.. orang yang berbudi luhur merancang hal-hal yang luhur, dan ia selalu bertindak demikian” (Yesaya 32:8). Kebenaran dalam nubuatan Nabi Yesaya ini berbicara tentang pribadi yang berbudi luhur, yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul             : <strong>PEMIMPIN BERKARAKTER LUHUR</strong></p>
<p>Penulis         : Dr. Yakob Tomatala</p>
<p>Media           : HUT 80 STT  Jaffray Makassar</p>
<p>Jumlah kata : 3316</p>
<p>ABSTRAK</p>
<p><em>Firman Allah menegaskan bahwa “&#8230;.. orang yang berbudi luhur merancang hal-hal yang luhur, dan ia selalu bertindak demikian” (Yesaya 32:8). Kebenaran dalam nubuatan Nabi Yesaya ini berbicara tentang pribadi yang berbudi luhur, yang berpikir luhur, bersikap luhur dan bertindak luhur yang akan terwujud dengan sendirinya secara konsisten. Penekanan  ini menerangkan tentang seseorang pribadi, yang apabila ia berbudi luhur, ia akan membuktikannya dengan sifat, sikap, kata serta tindakan yang luhur yang akan selalu menyatakan keluhurannya sebagai karakteristik dirinya. Pada sisi lain, dalam kaitan ini dapat dilihat bahwa seorang individu sesungguhnya memiliki kepribadian utuh yang ditandakan dengan karakter<a title="" href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a> yang menjelaskan tentang karakteristik kepripadian individu dimaksud. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kepribadian diekspresikan melalui karakter dan karakter yang dibangun di atas sejumlah faktor menunjukkan kadar nilai dari kepribadian. Jadi dapatlah dikatakan bahwa apabila pemimpin memiliki karakter yang disebut “berbudi luhur” maka pada tahap pertama, ia telah membangun kepribadiannya di atas nilai yang luhur, dan dari nilai luhur ini, ia mengekspresikan karakternya yang berkarakteristik “berbudi luhur” dimaksud dalam keseharian melalui pikiran, sikap, sifat, kata serta perbuatannya. Dalam upaya menjelaskan hubungan yang integral antara pemimpin dan karakternya, maka tulisan ini akan membahas beberapa pokok penting, yaitu antara lain., Satu, Fondasi karakter individu yang luhur; Kedua, Dinamika mengembangkan karakter yang luhur; yang diakhiri dengan suatu rangkuman</em>.</p>
<p><span id="more-365"></span></p>
<p><strong>FONDASI KARAKTER INDIVIDU YANG LUHUR</strong></p>
<p>Telah disinggung sebelumnya, bahwa karakter sangat erat hubungannya dengan kepribadian setiap individu. Substansi kepribadian setiap orang memiliki <em>ego</em> (diri, hakikat diri), yang dibangun di attas <em>temperamen</em> yang merupakan bawaan lahir. Ego memiliki (dimiliki) tubuh, jiwa, roh yang menjadikan manusia sebagai manusia (yang hidup, yang bukan binatang), dengan kesatuan psiko-somatik (jiwa/roh/tubuh) utuh tidak terpisahkan. Ego yang dimotori oleh temperamen mempengaruhi kepribadian yang melibatkan pikiran (intelek/ kognisi), perasaan (emosi) dan kehendak (volisi) yang beroperasi secara mekanis dan integral. Di sini jelas terlihat bahwa secara substatif, manusia disebut manusia karena ia memiliki ego yang <strong><em>ada menyatu</em></strong> pada tubuh/jiwa/roh, yang olehnya manusia adalah seorang pribadi dengan kepribadian utuh. Ego diwarnai oleh <em>temperamen</em><a title="" href="#_ftn2">[2]</a><em> </em>yang merupakan bawaan lahir, yang memberi pengaruh dasar awal terhadap sifat, sikap, pikiran, perasaan dan kehendak serta tindakan setiap individu.  Kenyataan manusia seperi inilah yang menjadikannya <em>manusia berpribadi</em>, dengan kepribadian sepesifik, khas serta unik. Pada  tataran selanjutnya, perlu disadari bahwa “Kepribadian seseorang <em>sangat dipengaruhi</em> oleh faktor genetika yang nampak pada temperamen atau bawaan lahir, lingkungan, dan pengalaman hidup individu.”<a title="" href="#_ftn3">[3]</a> Di sini terlihat bahwa ada faktor kepribadian dan pengaruh terhadap kepribadian setiap orang yang tidak dapat diubah atau dipengaruhi, karena merupakan destini. <a title="" href="#_ftn4">[4]</a> Faktor-faktor dimaksud secara dominan mempengaruhi kepribadian, tanpa dapat diubah, karena sifatnya yang tetap, namun hanya dapat disikapi.</p>
<p>Menghubungkan kepribadian dengan karakter, perlu diawali dengan menegaskan bahwa ego (ke-AKU-an) yang membentuk seseorang sebagai manusia pribadi adalah bagian dari genetika dan bawaan lahir setiap orang yang menjadikan kepribadian dengan temperamen yang permanen dan tidak berubah. Tatkala seorang individu mengekspresikan dirinya, maka ia sedang menyatakan “karakteristik kepribadiannya” yang dari padanya dapat terlihat karakter khusus yang dimilikinya. Dari sisi ini terlihat faktor pengaruh terhadap kepribadian setiap individu yang dialami, diperoleh dan dijalani dalam lingkungan kehidupan di mana setiap orang berada dan dibesarkan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kepribadian yang permanen itu ditandakan dengan karakter khas yang dipengaruhi sejumlah faktor. Kepribadian yang didominasi oleh karakter inilah yang menyebabkan karakter memiliki sifat “dapat berubah.”<a title="" href="#_ftn5">[5]</a> Dengan adanya sifat ini pada karakter, maka karakter setiap orang dapat dikembangkan menjadi lebih baik dari apa yang ada padanya, karena karakter adalah ekspresi dari kepribadian.<a title="" href="#_ftn6">[6]</a> Dalam upaya mengembangkan karakter menjadi lebih baik, maka landasan yang kuat yang harus dipahami adalah <em>otoritas nilai</em><a title="" href="#_ftn7">[7]</a> yang menjadi anutan setiap orang. Otoritas bagi nilai ini adalah antara lain, TUHAN, keluarga, guru, pemimpin atau atasan, sahabat baik, dan sebagainya, yang menjelaskan bahwa “sesuatu yang dominan baik positif atau pun negatif” akan mempengaruhi karakter individu.<a title="" href="#_ftn8">[8]</a> Nilai-nilai agung yang dapat dijadilakan landasan dan tolok ukur bagi “pribadi yang berbudi luhur” dapat diidentifikasi pada aspek berikut di bawah ini.</p>
<ol>
<li>Kebenaran yang berperan sebagai dasar bagi kepercayaan (iman atau <em>kredo</em>), serta landasan etika dan moral (sikap hati sebagai penggrak  perbuatan atau <em>agenda</em>). Landasan utama bagi nilai individu mau pun masyarakat yang berakar dari adalah kepercayaan atau apa yang dipercayai, ini sangat berhubungan dengan kebenaran sebagai dasar bagi iman. Dalam kaitan ini, kebenaran macam apa pun yang dipercayaai akan sangat mempengaruhi kadar kepercayaan atau iman yang berujung pada terwujudnya integritas<a title="" href="#_ftn9">[9]</a> diri. Mencermati dari perspektif Kristen, kebenaran yang adalah dasar kepercayaan dapat diuraikan sebagai berikut. <em>Pertama</em>, Kebenaran azali adalah milik TUHAN (YHWH) Allah (Elohim) dan yang hanya ada pada Allah. Kebenaran azali milik Allah ini adalah “kudus” (Imamat 11:44-45; I Petrus 1:15-16). Kebenaran azali TUHAN Allah ini adalah bagian dari hakikat (essence), sifat khas (attributes) dan tindakan TUHAN Allah. Kebenaran azali ini hanya ada pada manusia karena diimpartasi oleh TUHAN.<a title="" href="#_ftn10">[10]</a></li>
<li>Inkulturasi keluarga dan masyarakat. Tatkala seseorang individu berada di dalam rahim ibunya, ia dapat saja dipengaruhi oleh faktor “psikologi ibu” melalui <em>prenatal influnces</em> yang diimpartasi sang ibu. dapat dikatakan bahwa dari sisi psikologi ibu ini, nilai bawaan dasar pribadi ditanamkan, namun secara kultural, sasng bayi belumlah menjadi manusia budaya. Setelah sang bayi lahir, ia mulai memasuki proses budaya dengan dibudayakan dan berbudaya, sehingga ia menjadi manusia budaya dari suatu kelompok masyarakat. Pada tatanan ini, mulailah terlihat adanya pengaruh kebudayaan terhadap pembentukkan diri individu yang disebut <em>inkulturasi </em>atau <em>enkulturasi</em>,<a title="" href="#_ftn11">[11]</a> yang dimulai dari pengaruh orang tua dan lingkungan keluarga. dalam kaitan ini, dapatlah dikatakan bahwa salah satu faktor dominan yang mempengaruhi kepribadian seseorang adalah keluarga dan masyarakat yang diwujudkan melalui inkulturasi ini.<a title="" href="#_ftn12">[12]</a></li>
<li>Pendidikan umum, yang mewarnai kecakapan berpikir. Di samping faktor inkulturasi, faktor pendidikan umum juga sangat mewarnai dasar, khasana, kemampuan dan cara berpikir setiap orang. Dengan demikian dapatlah dilihat bahwa pendidikan umum yang ditekuni seseorang sampai pada level apa pun dengan cara apa pun akan mewarnai serta mempengaruhi kepribadiannya secara umum pula. Dari sinilah akan terlihat bahwa kecenderunga berpikir, bersikap, berkata dan berbuat akan memperlihatkan keterpengaruhan pendidikan formal ini.</li>
<li>Pergaulan yang mewarnai hubungan-hubungan sosial. Faktor sosial dasar yang juga berpengaruh atas kepribadian seseorang dan setiap orang adalah pergaulan dengan teman sepermainan atau <em>peer</em>. Di samping faktor sosial yang diwariskan dari pengaruh kehidupan keluarga, pergaulan dengan peer juga memiliki kontribusi dalam pembentukan kepribadian individu. Karena itu, pengaruh atas kepribadian seseorang dapat ditelusuri balik kepada pergaulan dengan peer dalam lingkungan masyarakat di mana ia hidup dan berada pada awalnya.</li>
</ol>
<p>Dalam hubungan dengan uraian di atas ini, dapatlah dikatakan bahwa kebiasaan pribadi yang menunjuk kepada bagaimana seseorang berpikir, bersifat, bersikap atau berkehendak, berperasaan, berkata dan bertindak, dapat ditelusuri balik kepada pengaruh-pengaruh yang melingkupi dirinya terutama pada masa kanak-kanak, dari usia bayi, sampai masa remaja dan pemuda. Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa kadar keluhuran budi seseorang akan ditentukan oleh pengaruh nilai iman, keluarga, pendidikan umum, pergaulan dan hubungan-hubungan di mana ia hidup dan di besarkan. Dari sisi lain dapatlah dikatakan bahwa pengaruh-pengaruh di atas inilah yang membentuk dan mengubah kepribbadian seseorang sehingga ia menjadi apa adanya pada saat ini dengan ekpresi dirinya yang unik dan khas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>DINAMIKA MENGEMBANGKAN KARAKTER YANG LUHUR</strong></p>
<p>Telah diungkapkan bahwa karakter memiliki sifat khas “dapat berubah” yang olehnya karakter dapat dikembangkan dan berkembang menjadi positif atau dibiarkan untuk dipengaruhi sehingga menjadi negatif.<a title="" href="#_ftn13">[13]</a> Dengan demikian, dalam upaya mengembangkan “karakter menjadi luhur” maka ada dua aspek yang akan disinggung, antara lain yaitu: <em>Pertama</em>, Menata perkembangan format diri; dan <em>Kedua</em>, Pencitraan diri yang positif.</p>
<ol>
<li>Menata perkembangan format diri</li>
</ol>
<p>Dalam upaya mengembangkan karakter luhur, setiap individu dan pemimpin Kristen perlu manyadari dengan dalam bahwa menurut Alkitab, “semua orang (manusia) telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23). Kebenaran ini menegaskan bahwa secara <em>natur</em>, manusia adalah berdosa, dan tidak memiliki kekuatan untuk mengembangkan diri menjadi luhur dalam arti yang sebenarnya. Ini tidak berarti bahwa secara umum, manusia tidak dapat “berpikir positif yang alami,” karena pada dasarnya, manusia memiliki kebaikan umum, yang olehnya secara sosial manusia sejahat apapun dia, pasti akan bersikap baik terhadap isteri, suami, atau anak-nya. Namun, kebaikan seperti ini bernilai positif tidak penuh, karena dosa, sehingga manusia sebaik apa pun dia, ia akan membenci musuhnya (ia tentu memiliki musuh) dan dimusuhi orang lain.<a title="" href="#_ftn14">[14]</a> Hal ini berarti secara umum, manusia dapat saja berbicara tentang berpikir positif, tetapi dalam sifat yang tidak murni, karena dosa yang ada padanya (Roma 6:23). Pada sisi lain, bagi orang Kristen, tatkala ia di dalam Kristus, sesungguhnya ia telah menjadi “manusia baru” (II Korintus 5:17), dimana manusia lama (natur keberdosaan) telah diselesaikan TUHAN (I Korintus 15:1-5), sehingga ia telah mengalami pembaruan hidup (Kolose 3:5-11), menjadi “manusia baru” (ciptaan baru) dalam Kristus (II Korintus 5:17). Dalam kaitan ini, tatkala orang Kristen hidup sesuai dengan panggilannya dengan cara hidup “rendah hati, lemah lembut, sabar, mengasihi, memelihara kesatuan dalam ikatan damai sejahtera” (Efesus 4:1-3) dan hidup dalam kasih serta menjauhkan diri dari perbuatan kegelapan dan hidup sebagai anak-anak terang dengan arif sesuai kehendak Allah (Efesus 5:1-18), dan memiliki belas kasihan dengan  sifat serta kata-kata yang membangun (Kolose 3:12-17), kemudian “membangun pikirannya di atas “apa yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, dengan kebajikan dan tindakan yang patut dipuji” (Efesus 4:8), maka ia telah “bersikap, berpikir, dan bertindak positif” dalam arti yang sejati. Dengan berlandaskan kebenaran ini, orang Kristen dapat mengembangkan diri ke arah kedewasaan penuh (Efesus 4:13-16) yang menandakan bahwa ia sedang berada dalam suatu proses perkembangan diri yang formatif.<a title="" href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p>Sebagai seorang individu pemimpin, perkembangan seperti yang dijelaskan di depan ini harus diupayakan sedemikian rupa, sehingga terfokus kepada sasaran: “<strong>mejadi kompeten</strong>” dengan <em>integritas</em>-<em>kredibilitas</em> karakter tinggi (Formasi Rohani); <em>kapasitas</em> pengetahuan yang komprehensif dan khas lebih (Formasi Pelayanan) dan <em>kapabilitas</em> sosial (kemampuan mengembangkan hubungan positif yang luas), ekonomi (naluri dan kecakapan ekonomi) dan teknis (kecakapan memimpin dengan memanejemeni secara andal), yang berkembang secara ajeg ke arah <strong>kovergensi</strong> menjadi pemimpin tangguh.<a title="" href="#_ftn16">[16]</a> Seorang individu pemimpin yang berkembang secara formatif seperti ini menjelaskan bahwa ia sedang membangun karakternya yang dilandasi nilai etika – moral agung (Roma 12:1-2; Mazmur 1; Yeremia 9:23-24; 17:7-8; Yesaya 32:1-3,8, Daniel 12:3), yang memberikan kepadanya landasan kuat untuk berbudi luhur. Perkembangan formatif ini ditandai oleh kemampuan untuk mengendalikan diri dengan “menjaga hati” (Amsal 4:23), yang olehnya dari dalam dirinya mengalir air hidup (Yohanes 7:38), sehingga orang lain yang ada di sekitarnya diberkati TUHAN. Oleh pertolongan Roh Kudus, ia sedang ada dalam “kemampuan tinggi” yang dinyatakan dengan “keagungan hidup berlandaskan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahblembutan, dan penguasaan diri” (Galatia 5:22-23’ I Korintus 13; Yohanes 13:34-35). Cara hidup (<em>lifeway</em>) seperti ini menjelaskan bahwa orang Kristen/ pemimpin Kristen sedang hidup seperi Kristus TUHAN-nya (I Yohanes 2:6). Di sini ia sedang membuktikan diri memiliki keluhuran budi (Yesaya 32:8) yang ditanda-buktikan dengan memimpin banyak orang kepada kebenaran dan damai sejahtera (Daniel 12:3; Yesaya 32:17; Yohanes 14:27). Dalam kaitan dengan pengembangan diri menjadi pemimpin kompeten dengan keluhuran budi seperti ini, setiap individu Kristen/ Pemimpin Kristen harus dengan penuh kesadaran dan secara terencana membangun suatu strategi “pengembangan diri” diawali dengan sikap siap menjadi pembelajar sepanjang hidup yang terus menerus mengembangkan diri melalui belajar secara <em>introspektif</em> (mengkaji pengaman hidup secara internal), <em>retrospektif</em> (mengkaji nilai pengalaman masa lalu bagi kehidupan sekarang)  dan <em>belajar secara vikariat</em> (<em>vicarious learning</em>, yaitu belajar dengan menggunakan pemimpin Alkitab, pemimpn historis yang telah berlalu dari sejarah, dan pemimpin kontempoter) sebagai model  atau patron pembelajaran. Dengan menata perkembangan diri seperti ini, pemimpin sedang dan akan terus berkembang ke arah kepenuhan diri menjadi kompeten, yang ditandai oleh kenyataan bahwa ia terus menghidupi dirinya dengan karakter agung<a title="" href="#_ftn17">[17]</a> di mana ia menjadi berkat kepada lebih banyak orang dari berbagai kalangan. Pemenuhan format diri harus didukung oleh kesadaran bahwa sang pemimpin sedang menghidupi karakter dan menjalankan kepemimpinannya dengan “cara hidup bijak.”  Pada sisi lain kesadaran ini harus ditopang oleh penemuan diri (secara subyektif) bahwa sang pemimpin sedang berkembang dan adanya pengakuan dari orang lain (konfirmasi) bahwa pemimpin sedang menjadi berkat bagi banyak orang. Sang pemimpin dalam kaitan ini tidak dapat bertepuk sebelah tangan (membuat klaim secara sepihak) dengan mengatakan bahwa “saya adalah kompeten dan sedang berkembang,” karena kompetensi dan perkembangan diri seorang pemimpin harus dibuktikan dengan adanya pengakuan dari orang lain secara positif bahwa ia sedang berkembang dengan adanya bukti bahwa ia “menjadi berkat” kepada lebih banyak orang. Pengakuan seperi ini harus disambut oleh pemimpin dengan mawas diri dan berendah hati, agar ia tidak terjebak kepada keangkuhan dan menjadi takabur.</p>
<ol>
<li>Pencitraan diri yang positif</li>
</ol>
<p>Kesadaran diri pemimpin secara subyektif bahwa ia sedang berkembang hanya dapat dipastikan melalui pencitraan dirinya. Pencitraan diri positif yang sejati dibangun di atas <strong>kompetensi diri </strong>yang kuat, antara lain, <em>karakter</em> (Etika-moral = SQ) yang teguh, <em>pengetahuan</em> yang komprehensif dan khas lebih (yang dalam, luas, dan khas atau spesial = IQ) serta <em>kecakapan</em> sosial-ekonomi-teknis (ScETQ) yang andal. Pencitraan diri dalam kaitan ini adalah suatu sikap sadar bertanggung jawab seorang individu. Sikap ini diwujudkan dalam mengekspresikan dirinya yang ditandai oleh pikiran, sikap, kata serta tindakan yang positif yang mewarnai lingkungan pribadi serta kinerja dengan membangun orang lain yang ada di sekirarnya dan membawa keuntungan bagi kepemimpinannya. Pencitraan diri diwali dengan adanya <strong>integritas</strong> karakter Kristen yang kuat,  yang olehnya pemimpin yang membuktikan diri dengan etika moral luhur, akan diakui sebagai kredibel. Pencitraan diri dari sisi karakter ini di awali dari membangun <em>self esteem</em> (sikap penghargaan obyektif terhadap diri) yang mengakui bahwa dirinya berharga di mata TUHAN yang telah memilih dan menetapkannya menjadi seorang pribadi dan seorang pemimpin (Yeremia 1:5). Sikap seperti ini meneguhkan diri dengan kepercayaan yang teguh, yang melahirkan <em>self confidence</em> (rasa percaya diri) yang kuat sebagai pemimpin yang telah dipanggil TUHAN. Self esteem pada sisi lain akan meneguhkan <em>self dignity</em> (kewibawaan diri), sehingga pemimpin dapat berdiri tegak menghadapi kepemimpinannya yang ditandai oleh berbagai gelombang tantangan. Dengan sikap dasar seperti ini, pemimpin dengan sendirinya ditopang untuk berpikir, bersikap, berkata dan bertindak positif terhadap tugasnya (terstruktur objektif) orang lain (konsiderat-altruistik) dan segala sesuatu yang dihadapi (pragmatis-optmistik). Berdasarkan sikap seperti yang telah disinggung di atas, pemimpin akan diteguhkan dengan <em>jiwa positif</em> (hidup benar, baik hati, tulus, jujur, adil, setia, arif) yang olehnya ia memiliki <em>mentalitas positif</em> (keteguhan, ketekunan, kesetiaan, kerajinan, keuletan) yang memberikan kepadanya <em>gaya proaktif</em> (asertif, inovatif, antisipatif, partisipatif, adaptif) dalam menyikapi dan menindaki segala sesuatu.  Pencitraan diri dari sisi pengetahuan akan terlihat pada <strong>kapasitas</strong> diri sebagai narasumber dengan kemampuan intelektual cemerlang. Pada sisi ini, pemimpin telah membangun dirinya dengan perangkat <em>falsafah kehidupan</em> yang lengkap, serta pengetahuan <em>know how</em> yang membuatnya cerdas dengan kemampuan menanggapi segala sesuatu secara cemerlang. Pecitraan diri dari segi kecakapan akan terlihat pada <strong>kapabilitas</strong> kinerja dari sisi sosial, dimana pemimpin piawai dalam mengelola dan membangun hubungan-hubungan dengan jejaringan yang luas pada segala aras., dan  mampu memanejemeni tanggungungjawab kepemimpinan secara efektif, efisien, dan sehat yang produktif optimal.<a title="" href="#_ftn18">[18]</a></p>
<p>Pada tataran lain, pencitraan diri secara praksis hanya akan bernilai positif apabila pemimpin secara bertanggungjawab menghidupi diri serta kepemimpinannya sebegitu rupa sehingga ia menandakan adanya kualitas karakter lebih. Karakter lebih ini <em>pertama-tama</em> ditandakan dengan adanya  keagungan budi. Keagungan  budi yang sejati dibangun di atas kebenaran, kebaikan, keadilan, ketulusan, kesetiaan, ketekunan dan ketahanan, yang menunjukkan adanya integritas dan kredibilitas karakter. <em>Kedua</em>, karakter lebih ini ditunjang oleh adanya komitmen tinggi kepada disiplin serta penguasan diri, kebijaksanaan dan kearifan dalam membangun sikap terhadap orang lain, serta adanya kesetiaan, keuletan dan ketekunan kerja berkualitas (efektif-efisien-sehat-optimal) yang membawa keuntungan bagi diri, orang yang dipimpin, dan organisasi serta masyarakat di mana kepemimpinannya dijalankan.  <em>Ketiga</em>, karakter lebih ini ditandai dengan adanya kearifan dalam melaksanakan upaya memimpin, dengan sikap terbuka, konsiderat serta lugas terhadap orang yang dipimpin dan pekerjaan yang dijalankan. <em>Keempat</em>, karakter lebih pada sisi lain, nampak pada pencitraan diri yang baik dan benar yang diekspresikan melalui pikiran, sikap, kata dan tindakan yang mengangkat dan meneguhkan, sehingga dengan sendirinya akan berimbas kepada adanya pengakuan akan kualitas diri lebih yang ada pada pemimpin. Pengakuan ini merupakan imbasan berupa penghargaan obyektif tulus atas diri pemimpin sebagai refleksi orang lain atas pencitraannya. Dari sisi inilah akan terbukti sejauh mana pemimpin memiliki karakter yang luhur yang ditandai dengan adanya pengakuan dan penghargaan yang diberikan kepadanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>RANGKUMAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Pemimpin Kristen yang memiliki karakter luhur hanya ada karena anugerah Allah yang telah menyelamatkannya, dan menjadikannya sebagai manusia baru (II Korintus 5;17; Yesaya 32:1-2,8,17; Daniel 12:3). Manusia baru yang adalah ciptaan Allah memberikan kepada pemimpin vitalitas yang meneguhkannya untuk membangun diri ke arah kedesawaan sesuai dengan rencana Allah. Secara khusus, keluhuran karakter pemimpin dibangun di atas keluhuran budi, dengan komitmen kuat untuk taat dan setia kepada TUHAN. Dari tataran praktis, keluhuran diri pemimpin akan tampak pada <em>karakternya yang berintegritas tinggi</em> (benar, baik, suci, adil, jujur, tulus, setia, tabah, tekun, tangguh, indah, mulia – Lihat Filipi 4:5,8), <em>kapasitas pengetahuannya yang komprehensif </em>(luas)<em> dan khas lebih</em> (pilihan unggulan); yang menempatkannya pada tataran atas dan lini depan dalam percaturan intelektualitas; serta <em>kapabilitas sosial, ekonomi dan teknis</em> yang andal yang meneguhkan pribadi <em>entrepreneur mandiri</em> yang memiliki basis sosial berjejaring luas serta keandalan memanejemeni secara strategis taktis tinggi, yang membawanya unggul dalam kinerja serta pencapaian. Semua ini akan terwujud melalui pencitraan diri dan tindakan proaktif yang berimbas kepada pengakuan positif dari banyak orang tentang keandalan pemimpin. Keandalan pemimpin ini terbukti karena ia memiliki <em>karakter yang luhur</em>, yang membawa keberhasilan dalam kehidupan serta karirnya yang ditandai dengan keberadaannya yang memberkati banyak orang. Selamat menghidupi diri dengan karakter luhur.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jakarta, Maret 2012</p>
<p>Pdt. Dr. Yakob Tomatala</p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Lihat Buku <em>Manusia Sukses: Teologi Sukses Menurut Alkitab</em>. Tahun 1988 karangan Yakob Tomatala tentang Faktor Karakter yang menentukan 85 % keberhasilan seorang pemimpin.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Temperamen atau bawaan lahir lebih bersifat permanen, karena terkait pada faktor genetika.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Lihat penjelasan Yakob Tomatala dalam buku <em>Manusia Sukses</em>, tahun1998 halaman 31-32.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Temperamen atau bawaan lahir, lingkungan dan pengalaman khas berbekas adalah dasar kepribadian yang tidak dapat diubah.  Faktor-faktor dasar bagi pembentukan karakter ini adalah <em>destini </em>karunia Sang Pencipta yang bersifat permanen, di mana faktor ini hanya dapat disikapi secara positif atau negatif.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> “Karakter Anda terwujud oleh sejumlah faktor. Ada faktor yang tidak mungkin diubah oleh siapa saja, tetapi ada faktor yang dapat dikembangkan dengan “proses positivisasi” untuk menjadikannya positif.” Ibid.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> Karakter adalah hakikat, sifat, dan ekspresi kepribadian seseorang yang dinyatakan melalui pikiran, perasaan, kehendak, pembicaraan serta perilaku dalam lingkungan atau konteks di mana ia hidup. Ibid.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> Lihat buku <em>Anda juga Bisa menjadi Pemimpin Visioner</em>, tahun 2007 karangan Yakob Tomatala tentang Otoritas Nilai. Halaman 51-79.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> Amsal 22:24-25, “Jangan berteman dengan orang yang lekas gusar, &#8230;&#8230;. supaya engkau jangan menjadi biasa dengan tingkah lakunya &#8230;.”</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> Integritas menurut David K. Hatch, “adalah garis merah yang mempertahankan setiap prinsip lain dalam Kehebatan Sehari-hari. Jika dianggap tidak jujur, misalnya, orang yang pemberani akan ditakuti dan dihindari. Jika dipandang sebagai tidak etis, orang yang menampilkan sikap dermawan akan dianggap dalang yang mementingkan diri sendiri. &#8230; Orang yang penuh integritas adalah orang yang ucapannya sesuai dengan perbuatannya, dan perilakunya mencerminkan nilai-nilai luhur yang dianutnya.” (2011:149). Banding Bab II.</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a> Lihat uraian Rasul Paulus di dalam Galatia 2:15-20; dan II Korintus 5:17).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref11">[11]</a> Lihat buku karangan <em>Teologi Kontekstualisasi</em> dan <em>Antropologi Kebudayaan</em> karya Yakob Tomatala tentang pokok inkulturasi atau enkulturasi atau sosialissi atau pendidikan dalam kebudayaan ini.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref12">[12]</a> Lihat tulisan Yakob Tomatal dalam buku: Dr. Marthin Billa: Pemimpin Visioner, Transformator, Futuristik. Tahun 2012 tentang pengaruh keluarda dalam pembesaran.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref13">[13]</a> Salomo menasihatkan agar “tidak bergaul dengan orang jahat” karena akan dipengaruhi oleh karakter mereka (Lihat: Amsal 1:10-16; 23:20; dan Rasul Paulus mengatakan, “Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik” (I Korintus 15:33).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref14">[14]</a> Orang Kristen sejati dapat saja dibenci oleh orang lain, namun kesejatiannya hanya <em>sejati benar</em> bila ia tidak membenci, dan tidak memusuhi siapapun (Kolose 3:12-13; I Yohanes 2:11, 29; 3:7-10, 13-15).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref15">[15]</a> Kenyatan ini disebut <em>Formasi Rohani</em> dalam kepemimpinan.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref16">[16]</a> Sebagai upaya pembelajaran lanjutan untuk mengembangkan diri, dapat dilihat dalam buku Pemimpin yang Handal dan Manajeman Pengembangan Sumber Daya manusia Pemimpin Kristen, karya Yakob Tomatala.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref17">[17]</a> Dengan karakter agung seperi ini, pemimpin dapat berada di atas dengan tidak mengatas-ataskan diri dan merendahkan orang lain, ia bisa besar, namun tidak terjebak membesar-besarkan diri dengan mengecilkan orang lain, ia bisa benar tetapi tidak mebenar-benarkan diri dan melecehkan orang lain, karena ia menyadari bahwa sebagai pemimpin, ia adalah hamba-pelayan, yang memiliki komitmen untuk mengabdi dan memberikan diri untuk melayani bukan untuk dilayani (Markus 10:35-45; Matius 20:20-28; Lukas 17:10)., dimana ia harus hidup bagi TUHAN-Nya dan memberkati orang lain (Amsal 19:11; 21;1-3; 24:5; 29:4; 28:16, 20, 25-28).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref18">[18]</a> Lihat buku <em>Kepemimpinan yang Dinamis</em> karya Yakob Tomatala tentang pokok ini.</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2012/05/06/pemimpin-berkarakter-luhur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENAKAR KEABSAHAN DIRI SEBAGAI PEMIMPIN ROHANI</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2011/06/26/menakar-keabsahan-diri-sebagai-pemimpin-rohani/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2011/06/26/menakar-keabsahan-diri-sebagai-pemimpin-rohani/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Jun 2011 00:43:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Karakter Kepemimpinan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=362</guid>
		<description><![CDATA[“&#8230; kamu yang rohani, harus memimpin orang &#8230; ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut &#8230;”  (Galatia 6:1b). PENGANTAR Seorang pemimpin yang sejati, tahu siapa dirinya, mengapa ia ada, di mana ia berada, ke mana ia akan pergi, dan apa yang akan dicapainya. Kebenaran ini menegaskan bahwa sejatinya, seorang pemimpin harus tahu apa yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<em>&#8230; kamu yang rohani, harus memimpin orang &#8230; ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut &#8230;</em>”  (Galatia 6:1b).</p>
<p>PENGANTAR</p>
<p>Seorang pemimpin yang sejati, tahu siapa dirinya, mengapa ia ada, di mana ia berada, ke mana ia akan pergi, dan apa yang akan dicapainya. Kebenaran ini menegaskan bahwa sejatinya, seorang pemimpin harus tahu apa yang menyebabkan ia ada dan berada serta mengapa ia ada sebagai pemimpin. Hal ini menjelaskan tentang beberapa pertanyaan penting, antara lain., <em>Pertama</em>, apa landasan bagi legitimasi kepemimpinannya yang memberikan otoritas serta keyakinan kepadanya untuk menjadi pemimpin. <span id="more-362"></span>Landasan legitimasi yang memberi otoritas ini sekaligus memberikan indikator tentang landasan, dinamika dan arah kepemimpinan dari organisasi yang dipimpinnya. <em>Kedua</em>, apa motivasi yang mendorongnya untuk berada pada tempat di mana ia berada sekarang sebagai pemimpin. Pertanyaan ini mempertanyakan tentang nilai anutan yang memberikan dorongan kepada pemimpin untuk mewujudkan keberadaannya. <em>Ketiga</em>, apa visi dan misi kepemimpinannya yang memberikan arah dan tugas yang akan dikerjakan untuk menggapai ideaslisme kepemimpinannya. Meneguhkan kebenaran kepemimpinan ini, seorang pemipin sejati harus memastikan faktor-faktor prima yang merupakan dinamika bagi keberadaannya sebagai pemimpin. Menjawab untaian aspek yang membawa seseorang menjadi pemimpin seperti ini, La Rochefoucauld mengatakan: “<em>Kejayaan orang-orang besar harus selalu diukur dari cara yang mereka gunakan untuk mencapai kejayaan tersebut</em>.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pernyataan ini menegaskan bahwa suatu pencapaian kepemimpinan yang absah dan bernilai agung adalah bila dibangun di atas kebenaran yang mendasari motif, sifat, sikap kata, perbuatan dan cara yang digunakan untuk berada sebagai pemimpin. Dari perspektif Kristen, seorang pemimpin yang adalah pemimpin rohani haruslah menjawab pertanyaan penting yang antara lain: “Apakah keberadaannya sebagai pemimpin selaras dengan kehendak Allah yang sejati; Apakah kepemimpinannya digapai dengan motivasi luhur sebagai pemimpin rohani sejati; dan, Apakah kepemimpinannya diuntukkan guna memperjuangkan hal besar bagi kepentingan banyak orang, yang sejatinya merupakan pembuktian diri sebagai pemimpin besar. Dalam upaya menjawab pertanyaan-pertanyaan di depan, maka ada tiga hal yang akan dibincangkan, yaitu antara lain: 1. Membangun kepemimpinan di atas kehendak Allah; 2. Meneguhkan kepemimpinan dengan motivasi agung sebagai pemimpin rohani; dan 3. Membuktikan kepemimpinan dengan memperjuangkan hal besar yang inklusif., yang akan diakhiri dengan suatu refleksi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>1. </strong><strong>MEMBANGUN KEPEMIMPINAN DI ATAS KEHENDAK ALLAH</strong>. Dasar bagi pembuktian keabsahan diri seorang pemimpin adalah memahami apa sesungguhnya kehendak Allah bagi diri, rumah tangga dan kepemimpinannya. Adalah tidak mudah untuk memastikan serta menegaskan apa yang disebut kehendak Allah ini. Sebagai contoh, seseorang bisa saja atas nama “kehendak Allah” memaksakan kehendaknya atas orang lain, atau bertindak licik guna mencapai tujuan dengan menghalalkan berbagai macam cara. Dalam hubungan ini haruslah dipahami, bahwa kehendak Allah itu adalah sepasti hakikat-Nya yang berdaulat, dimana dapat dikatakan bahwa jika TUHAN Allah menghendaki sesuatu, maka kehendak-Nya itu pasti terjadi. Pernyataan seperti begini sungguhlah cukup menarik untuk disimak. <em>Pertama</em>, Kita harus belajar membedakan kehendak Allah dan kehendak atau usaha manusia. Kehendak Allah yang adalah selaras serta sepasti sama dengan hakikat-Nya ini, pasti dan harus sama dengan sifat khas-Nya, yang maha benar, maha suci, maha adil, maha hikmat, maha baik, maha tepat, maha tahu, maha hadir, maha arif, yang nyata dari Firman-Nya serta terbukti dalam tindakan-Nya. Di sini dapat ditegaskan bahwa karena kehendak Allah itu sempurna, maka penggenapannya juga haruslah sempurna.  <em>Kedua</em>, Kita juga melihat dari sisi lain, yang berhubungan dengan meyakini sesuatu sebagai kehendak Allah dan mematutkannya dengan tanggung jawab manusia. Pertanyaan penting yang harus dijawab adalah, sejauh mana sesuatu yang disebut kehendak Allah itu dapat dibedakan  dari sikap membiarkan apa saja terjadi. Atau dengan meyakini bahwa sesuatu itu adalah kehendak Allah maka kita terdorong untuk melakukan apa yang diyakini sebagai kehendak Allah, pada hal, pertanyaan besar yang muncul ialah, apakah kehendak Allah yang sejati yang ada pada diri-Nya itu sejalan dengan tindakan saya? Kalau pun saya mengatakan bahwa itu adalah sejalan, maka pertanyaan berikutnya ialah, apakah benar itu adalah sejalan, dan apa sesungguhnya tolok ukurnya? Karena, jangan-jangan, saya memaksakan kehendak diri saya dan berlindung di balik “kehendak Allah.” <em>Ketiga</em>, Kita pun perlu untuk memastikan apa yang disebut kehendak Allah itu dengan kebenaran Firman, suara batin, faktor hukum, keadilan sosial-ekonomi, nilai luhur kultural sosial dan hak-hak individu, rumah tangga, hak masyarakat serta hak organisasi. Semua ini haruslah menjadi pertimbangan, karena melibatkan orang lain dan banyak orang yang adalah manusia ciptaan Allah, dimana kita semua memiliki tanggung jawab moral yang melekat pada hakikat dan citra diri kita sebagai ciptaan TUHAN yang mulia. Di sini kita dapat berkata bahwa kehendak Allah yang berdaulat itu pasti terlaksana, tetapi pertanyaan penting yang harus ditanyakan ialah, bagaimana hubungannya dengan saya secara pribadi yang menyikapinya? Apakah saya yakin bahwa ini benar-benar kehendak Allah? Apakah Roh Kudus sungguh berperan di dalamnya? Apakah semua ini selaras dengan kebenaran Firman? Apakah suara batin saya selaras dengan kehendak Allah, atau karena demi keinginan berkuasa, keingian mendominasi, keinginan dihormati, keinginan berada di atas orang lain, saya “memelintir kehendak Allah”? <em>Keempat</em>, Kita perlu memastikan apa yang disebut kehendak Allah itu dan akibat-akibat yang akan ditimbulkan oleh apa yang disebut sebagai tindakan yang mengatasnamakan kehendak Allah itu sendiri. Adalah tidak mudah untuk menjawab semua pertanyaan ini, karena suatu tindakan yang dianggap benar oleh seseorang, belum tentu dianggap benar oleh orang lain, sehingga tindakan yang mengatasnamakan kehendak Allah sekalipun belumlah tentu kehendak Allah yang sejati. <em>Kelima</em>, Kita juga harus membedakan apa yang sesungguhnya kehendak Allah itu dengan keputusan-keputusan yang berbasis sistem demokrasi, sistem hukum prifat atau sistem hukum positif atau suatu tindakan yang bersifat formil, yang sering dilihat sebagai pengabsahan kehendak Allah itu. Pokok ini sangatlah perlu untuk disimak dengan seksama oleh mereka yang berniat baik, bermaksud benar dan bertindak dengan kehendak mulia untuk membiarkan kehendak Allah terjadi secara bertanggung jawab. Dalam menerapkan kebenaran tentang kehendak Allah ini, kita diminta arif untuk menyikapinya, baik dari sikap hati, dalam pikiran, sifat, sikap dan kata serta tindakan, sehingga yang kita katakan kehendak TUHAN itu benar-benar kehendak-Nya yang selaras dengan rencana-Nya yang kekal. Dalam hal ini, kita perlu mendengar nasihat Kong Hu Cu (Konfusius) yang mengatakan, “<em>Mengetahui apa yang baik tetapi tidak melakukannya adalah sikap pengecut yang paling buruk</em>.” Lebih dari itu, Firman Allah menegaskan, “&#8230;.. <em>barang siapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya</em>” (Yakobus 2:25). Semua ini harus kita sikapi dengan kerendahan hati serta kemauan untuk taat kepada TUHAN Allah dengan mengingat Firma-Nya yang menegaskan, “<em>Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Turat itu</em>” (Ulangan 29:29). Hm, kehendak TUHAN Allah tetaplah suatu misteri yang kekal !!!</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>2. </strong><strong>MENEGUHKAN KEPEMIMPINAN DENGAN MOTIVASI AGUNG SEBAGAI PEMIMPIN ROHANI</strong>. Dalam upaya menegaskan bahwa saya dan Anda ada dalam kehendak Allah yang sesungguhnya, kita harus meneguhkan sikap kita sebagai pemimpin rohani. Pemimpin rohani, adalah dia yang menyadari bahwa TUHAN Allah demi kemurahan-Nya telah memanggilnya kepada keselamatan. Pemimpin rohani yang terpanggil oleh TUHAN Allah akan selalu berupaya untuk mendahulukan kehendak Allah. Mendahulukan kehendak Allah ini haruslah nyata dalam hati, pikiran, sikap, kata serta tindakan dengan memperhatikan kebenaran berikut., <em>Pertama</em>, Sebagai upaya meneguhkan sikap kita, maka kita perlu menyimak Sabda TUHAN Yesus yang menegaskan, “<em>Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu</em>” (Yohanes 8:31b-32).  Di sini hal yang perlu dipahami ialah bahwa seorang pemimpin rohani, haruslah membuktikan diri sebagai pemimpin yang mengutamakan Firman Allah (Maz 1; 119:105). Keadaan hati, pikiran, sifat, sikap, kata serta tindakannya haruslah diwarnai oleh “kebenaran Firman TUHAN.” Ia akan selalu bertanya, apakah hati saya, pikiran saya, sifat saya, sikap saya, kata-kata saya serta tindakan saya selaras dengan Firman Allah? Semua yang selaras dengan Firman Allah berarti kita ada di dalam kebenaran yang tanpa dosa. Kebenaran yang tanpa dosa ini adalah kebenaran yang tidak boleh dikompormikan dengan dosa. Sebagai contoh, “motivasi saya adalah untuk merebut kedudukan kepemimpinan, tetapi saya menyelubunginya dengan sikap licik, bercicara manis, dan mengakali hukum. Dilihat dari perspektif umum, cara ini bisa dibanggakan, dan disebut strategi, tetapi dalam perspektif rohani, ini adalah sebuah “penipuan.” Selanjutnya, kebenaran yang tanpa dosa ini adalah pembuktian seorang pemimpin ada di dalam kehendak TUHAN yang memberikan kekuatan untuk membuktikan bahwa sang pemimpin rohani sedang mengutamakan TUHAN Allah-nya, karena ia memahami bahwa Firman Allah mengharuskan “Ya” adalah “Ya,” dan “Tidak” adalah “Tidak,” dimana yang bertentangan dengan ini adalah dosa, seperti yang disabdakan TUHAN, “&#8230;. <em>jika seseorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa</em>” (Yakobus 4:17; 1:26; 3:2-11). Mengutamakan kehendak Allah di sini berarti mengenyampingkan kehendak diri, mengabaikan kemauan untuk menang sendiri, dengan tujuan untuk membiarkan kehendak Allah terlaksana di dalam kebenaran, sehingga akan ada kemuliaan bagi nama-Nya (Roma 11:36). <em>Kedua</em>, Pemimpin rohani yang hidup selaras dengan kehendak Allah akan selalu dituntun oleh Roh Kudus. Tuntunan Roh Kudus ini meneguhkan hakikat hidup rohani pemimpin dengan kuasa untuk hidup seperti TUHAN Yesus (I Yohanes 2:6). Pemimpin yang hidup seperti Yesus TUHAN-nya akan dipenuhi dan dituntun Roh Kudus (Matius 3: 13-17; 4:1; Markus 1:12-13; Lukas 4:1-13; Roma 8:14-16). Pemimpin rohani yang dipimpin Roh Kudus akan menampakkan keunggulan karakter yang diwarnai oleh “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri” (Galatia 6:22-23; Banding I Samuel 24:6-8; 26:9-11). <em>Ketiga</em>, Dalam melaksanakan hal ini, tanggung jawab pemimpin ialah membuktikan bahwa ia benar-benar mendahulukan kehendak TUHAN dengan berbuat kebenaran dan kebaikan. Kebenaran dan kebaikan yang dilakukannya itu selalu berujung kepada membawa kemuliaan bagi TUHAN, dan keuntungan bagi banyak orang, dimana tidak selamanya membawa keuntungan bagi diri. Contoh teragung dari kebenaran ini dapat dilihat dari sikap dan doa TUHAN Yesus di Getsemani (Matius 26:36-46; Markus 14:32-42; Lukas 22:39-46), di mana IA membiarkan kehendak ALLAH Bapa-Nya terlaksana yang ditandai dengan hati, pikiran, sifat, sikap dan tindakan-Nya yang mendahulukan kehendak Bapa-Nya dengan kesigapan menanggung resiko dari kehendak TUHAN yang terlaksana itu. <em>Keempat</em>, Pemimpin rohani yang hidup dalam kebenaran yang mewarnai isi hati, pikiran, sifat, sikap dan tindakan akan selalu termotivasi untuk mendahulukan kebenaran dengan hidup dalam kebenaran. Hidup di dalam kebenaran akan terindikasi dengan melakukan kebenaran, keadilan, ketulusan, kejujuran yang nyata dari hati, pikiran, sifat, sikap, kata serta tindakan yang membawa kedamaian kepada sesama (Yesaya 32:1-2; 8, 17).  Dalam hal ini, pemimpin akan selalu berupaya menuntun orang ke dalam kebenaran dengan kesediaan yang tinggi untuk mengangkat serta menolong sesama dengan segenap hati (Galatia 6:1-2). <em>Kelima</em>, Pemimpin rohani yang hidup dalam kebenaran dan mendahulukan kehendak Allah, akan diteguhkan untuk membuktikan integritas diri sebagai seorang pelayan TUHAN. Bukti bahwa pemimpin rohani adalah pemimpin rohani yang berintegritas ialah bahwa ia memahami kehendak Allah yang ditandai oleh hati, pikiran, sifat, sikap dan kehidupan serta tindakan yang arif, sehingga ia menjadi berkat kepada banyak orang dalam kepemimpinannya dan lebih luas lagi (Efesus 5:15-21; I Raja-raja 3:16-28).</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>3. </strong><strong>MEMBUKTIKAN KEPEMIMPINAN DENGAN MEMPERJUANGKAN HAL BESAR YANG INKLUSIF</strong>.  Pemimpin rohani yang mendahulukan kehendak TUHAN Allah dengan hidup di dalam kebenaran dan kebaikan, akan selalu memperjuangkan hal besar. Memperjuangkan hal besar di sini berarti membebaskan diri dari sikap egoisme yang cenderung mendorong kepada upaya pementingan diri, dan kelompok serta berkecenderungan memperjuangkan kepentingan sendiri. Pemimpin rohani akan selalu menyadari beberapa kebenaran penting yang harus disikapi dan dihidupi secara konkrit, yaitu antara lain., <em>Pertama</em>, Pemimpin rohani sepenuhnya hidup dengan kesadaran bahwa menjadi pemimpin itu adalah kasih karunia Allah (Roma 12:1-2,7; II Kor 4:1). Kepemimpinan baginya adalah pekerjaan mulia yang harus disikapi dengan penuh hormat dan tanggung jawab yang tinggi (I Timotius 3:1-7). Dalam hubungan ini, pemimpin haruslah memimpin dengan “sukarela sesuai dengan kehendak Allah, mendahulukan pengabdian dan tidak mencari keuntungan, dan selalu memimpin dengan teladan” (I Petrus 5:2-3; Ibrani 13:7, 17). <em>Kedua</em>, Pemimpin seperti ini menyadari bahwa ia memiliki tanggung jawab untuk senantiasa berupaya mendahulukan kepentingan orang lain (Filipi 2:3-4). Mendahulukan kepentingan orang lain berarti bersikap altruis yang selalu berupaya mengangkat dan meneguhkan orang lain. <em>Ketiga</em>, Pemipin rohani yang mendahulukan kepentingan orang lain, adalah bagian dari upaya memperjuangkan hal besar yang membawa keuntungan kepada banyak orang. Keadaan hati, pikiran, sifat, sikap, kata dan tindakan pemimpin rohani seperti ini adalah dasar bagi pembuktian integritas diri, motivasi, daya juang dan pencapaian yang diakui oleh kalangan luas (Filipi 4:5). Pemimpin seperti ini akan membuktikan bahwa “<em>Orang yang hidup dalam kebenaran, yang berbicara dengan jujur, yang menolak untung hasil pemerasan, yang mengebaskan tangannya, supaya jangan menerima suap, yang menutup telinganya, supaya jangan mendengarkan rencana penumpahan darah, yang menutup matanya, supaya jangan melihat kejahatan, dialah seperti orang yang tinggal aman di tempat-tempat tinggi, bentengnya adalah kubuh di atas bukit batu; rotinya disediakan air minumnya terjamin</em>” (Yesaya 33:15-16). Pemimpin yang memperjuangkan hal besar sesungguhnya memahami Sabda Kristus TUHAN-nya, bahwa “<em>Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka</em>” (matius 7:12). Pemimpin yang mau menjadi besar, akan hidup untuk memperjuangkan hal besar demi kepentingan yang lebih besar. Inilah pemimpin rohani yang memahami kehendak TUHAN, yang setia membuktikan diri dengan terus menjadi berkat.”</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>REFLEKSI</strong>:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Secara umum, upaya mengukur dan membuktikan diri sebagai pemimpin rohani hanya akan terlaksana apabila setiap pemimpin menetapkan untuk mendahulukan kebenaran berikut:</p>
<p><strong><em>Pertama</em></strong>, Pemimpin rohani akan sensitif dengan terus mendahulukan kehendak TUHAN Allah-nya. Mendahulukan kehendak TUHAN di sini tidaklah semudah membalik telapak tangan, dimana ia harus menyerahkan diri kepada Roh Kudus untuk memohon bimbingan-Nya. Pemimin akan selalu berupaya mengedepankan kebenaran Firman Allah di atas kehendak dirinya sendiri. Bukti bahwa seseorang itu mendahulukan kehendak Allah adalah bahwa TUHAN Yesus Kristus akan terus dimuliakan dalam kehidupan serta kepemimpinannya; sekalipun sang pemimpin merungi, kehilangan dan terkalahkan dalam keputusannya mendahulukan kehendak Allah.</p>
<p><strong><em>Kedua</em></strong>, Pemimpin rohani akan selalu berupaya membuktikan komitmennya untuk mengedepankan integritas dirinya sebagai pemimpin rohani. Pembuktian ini didasarkan atas kerelaannya hidup selaras degnan Firman Allah, dituntun Roh Kudus dan membuktikan diri hidup seperti Yesus TUHAN-nya dengan menandakan keagungan kehidupan Kristus di dalam dan melalui hati, pikiran, sifat, sikap kata serta tindakannya, sehingga ada pengakuan bahwa ia adalah pemipin rohani sejati.</p>
<p><strong><em>Ketiga</em></strong>, Pemimpin rohani harus hidup dan membaktikan dirinya untuk memperjuangkan hal besar bagi kemuliaan TUHAN-nya, kebaikan umat kepemimpinan-nya, serta lingkungan di mana ia mengabdi. Di sini pemimpin harus terus hidup dalam kebenaran, membebaskan diri oleh kuasa kebenaran dari egois, dan mempertahankan sikap altruis yang membawa keuntungan serta kebaikan kepada sebanyak mungkin orang yang dilayaninya. Pemimpin seperti ini adalah pemimpin berkat,yang akan terus memberkati dan menikmati berkat dari kehidupan serta pengabdian kepemimpinan yang diembannya. Selamat mengukur keabsahan diri sebagai pemimpin rohani yang hidup, bakti, serta mati-nya adalah untuk memberkati.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Salam doa,</p>
<p>Dr. Yakob Tomatala</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2011/06/26/menakar-keabsahan-diri-sebagai-pemimpin-rohani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENEGUHKAN DIRI MENJADI PEMIMPIN VISIONER</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2011/05/27/meneguhkan-diri-menjadi-pemimpin-visioner/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2011/05/27/meneguhkan-diri-menjadi-pemimpin-visioner/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 May 2011 01:26:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Karakter Kepemimpinan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=358</guid>
		<description><![CDATA[“Dalam tahun ………. aku melihat TUHAN duduk di atas tahta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubahnya memenuhi Bait Suci” (Yesaya 6:1). Pengantar Apa sesungguhnya visi itu? Apakah visi itu adalah monopoli dari orang yang disebut visioner saja? Ada yang berkata bahwa pemimpin visioner sajalah yang memiliki visi, sedangkang visi itu tidak ada pada orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><br />
</strong></p>
<p>“<em>Dalam tahun ………. aku melihat TUHAN duduk di atas tahta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubahnya memenuhi Bait Suci</em>” (Yesaya 6:1).</p>
<p><strong>Pengantar</strong></p>
<p>Apa sesungguhnya visi itu? Apakah visi itu adalah monopoli dari orang yang disebut visioner saja? Ada yang berkata bahwa pemimpin visioner sajalah yang memiliki visi, sedangkang visi itu tidak ada pada orang kebanyakan. Apa sebenarnya yang sedang terjadi? <span id="more-358"></span>Hampir bisa diduga bahwa orang yang seperti ini cenderung mengatakan bahwa ia tidak memiliki visi  karena beberapa alasan. <em>Pertama</em>, Orang sering sulit mengetahui serta menemukan visi karena pada dasarnya mereka tidak memahaminya dengan baik. <em>Kedua</em>, Dari sudut pandang lain, orang juga sering tidak memahami apa dan di mana sumber visi itu, dari mana visi itu datang, bagaimana cara untuk mengetahuinya serta apa cara menggali serta mengembangkannya di dalam diri? <em>Ketiga</em>, visi itu sering disamakan dengan mimpi, sehingga orang sulit menemukannya.<a href="#_ftn1">[1]</a> Dalam membahas pokok seputar VISI, maka ada tujuh pokok perbincangan yang akan didiskusikan dalam Bab ini. Ketujuh pokok percakapan itu adalah antara lain: 1. Apa sebenarnya VISI itu? 2.<em> </em> Karakteristik dari VISI.,  3. Tanda dari VISI., 4. Menggali VISI., 5. VISI dan IMAN., 6. Membagi VISI. dan 7.  Visi dan Perubahan.<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>1. </strong><strong>APA SEBENARNYA VISI ITU? </strong>Anda tentu telah mengetahui bahwa ada banyak definisi dan pemahaman tentang VISI dalam berbagai literatur. Istilah VISI  berasal dari kata VISION (Bahasa Inggris) yang berakar dari kata <em>visoum</em> (Middle English), dan <em>vision </em>(Old France) yang bersumber dari istilah Latin <em>visio</em>, <em>visus</em>, <em>videre</em>, yang arti dasarnya ialah “<em>to see</em> atau <em>melihat</em>.” Arti selengkapnya dari vision ini adalah “tindakan atau kekuatan melihat dengan mata; atau kemampuan intuisi melihat.” Visi dapat juga berarti “kemampuan melihat lebih dari keadaan normal, yaitu suatu kemampuan mental untuk mengimajinasi; dan kemampuan untuk melihat serta memahami sesuatu yang tidak terlihat oleh orang kebanyakan, dsb.” Visi seperti yang diterangkan di atas menjelaskan tentang kekuatan diri untuk <em>melihat </em>karena<em> visi </em>berarti<em> melihat</em>.<a href="#_ftn3">[3]</a> Kini timbul pertanyaan, yaitu, dengan pengertian visi seperti ini, apakah ada kejelasan mengenai apa sebenarnya substansi visi itu? Barangkali pertanyaan ini dapat disederhanakan, yaitu, “kalau visi artinya melihat, apa sesungguhnya yang dilihat?” Visi yang artinya melihat ini sebenarnya tidak menjelaskan <em>apa yang dilihat</em> itu, sehingga pengertian tentang visi itu sendiri perlu diperjelas. Dari perspektif yang substantif, VISI dapat didefinisikan sebagai berikut: “<em>VISI adalah kemampuan untuk melihat keinginan suci yang ditulis oleh Sang Pencipta di dalam batin (guna menjawab kebutuhan) yang berkaitan erat dengan pemenuhan hidup seseorang atau setiap individu bagi diri mau pun organisasi yang dipimpinnya</em>.”<a href="#_ftn4">[4]</a> Defenisi visi yang diungkapkan di atas ini menunjuk kepada <strong>Allah sebagai sumber dan pemberi visi</strong><a href="#_ftn5">[5]</a> yang dilakukan-Nya dengan menuliskannya di dalam batin setiap orang.<a href="#_ftn6">[6]</a> Visi juga menjelaskan tentang kemampuan untuk melihat apa yang telah ditulis oleh Allah di dalam batin setiap orang tersebut. Visi yang diberikan oleh Allah ini memiliki tujuan yang pasti yaitu untuk pemenuhan hidup, baik kehidupan individu, rumah tangga mau pun kelompok dan kepemimpinan. Pemahaman definisi visi seperti ini dapat dihubungkan dengan pendapat George Barna yang mengatakan bahwa “<em>Vision is a clear and precise mental portrait of preferable future, imparted by God to His chosen servants, based on accurate understanding of God, self and circumstances</em>.”<a href="#_ftn7">[7]</a> Pemahaman visi seperti yang ditegaskan oleh Barna ini bersifat ekslusif Kristen, yang juga menempatkan Allah sebagai sumber visi itu. Pada sisi lain ada penekanan yang diberikan pada sisi pemimpin, yang memiliki kemampuan untuk melihat visi dimaksud secara jelas, dimana akhirnya ia dapat mengetahui dengan pasti apa yang dinyatakan Allah mengenai masa depan  yang akan dimasuki kelak. Dalam kaitan dengan pengertian visi seperti yang diungkapkan di atas dan dihubungkan dengan kepemimpinan, maka dapat dikatakan bahwa, “<em>Visi kepemimpinan adalah kemampuan pemimpin untuk melihat serta memahami keinginan suci yang ditulis oleh Allah di dalam batinnya bagi organisasi serta kepemimpinannya.</em>” Pengertian visi seperti ini jelas menunjuk kepada Allah sebagai sumber visi, yang oleh kedaulatan-Nya ia menuliskan keinginan suci itu di dalam batin setiap pemimpin bagi organisasi serta kepemimpinannya. Di sini dapat ditemukan bahwa dalam visi itu ada kehendak Allah yang khusus bagi kepemimpinan seorang pemimpin. Pada sisi lain, visi juga dijelaskan sebagai kemampuan pemimpin untuk melihat secara jelas apa yang tertulis oleh Allah di dalam batinnya untuk dilakukannya. Dalam kaitan ini, Allah sering kali memberikan konfirmasi tentang visi yang ditulis-Nya itu melalui berbagai macam cara. Ia dapat menyatakan visi itu untuk dilihat oleh pemimpin melalui <em>mimpi<a href="#_ftn8"><strong>[8]</strong></a></em> (Yusuf, Daniel, Paulus, dsb) atau <em>penyataan intuitif</em> langsung atau melalui <em>peristiwa krusial</em> seperti kepada Nehemia dengan berita kehancuran Yerusalem atau Esther dengan <em>berita ancaman mau</em>t bagi bangsanya. Visi pun dapat dinyatakan melalui <em>interaksi dinamis</em> dalam kelompok orang<a href="#_ftn9">[9]</a> yang terlibat dalam suatu kepemimpinan yang berupaya menemukan jawaban bersama untuk mejawab pertanyaan “mengapa mereka ada sebagai suatu organisasi.” Kebenaran mengenai VISI ini ditegaskan oleh Andy Stanley, dengan mengatakan: “Visi-visi lahir dalam jiwa seorang pria atau perempuan yang dihadapkan kepada ketegangan tentang apa sebenarnya yang ada dan apa yang dapat terjadi.”<a href="#_ftn10">[10]</a> Hal-hal yang dapat diperhatikan dalam penjelasan Stanley di atas adalah: Visi mulai terlihat dengan adanya <em>kebutuhan terasa</em> dihadapkan dengan <em>kondisi yang tidak memuaskan</em>. Dari sinilah VISI mulai menyatakan diri. Kebutuhan terasa dimaksud menunjuk kepada visi sebagai dasar untuk memberikan jawaban kepadanya. Kebutuhan terasa dan kondisi tidak memuaskan ini kemudian berkembang menjadi suatu <em>gambaran mental yang jelas</em> tentang “apa yang dapat terjadi dari apa yang ada.” Penyataan visi semakin menjadi jelas dengan adanya <em>keyakinan yang kuat</em> atas apa yang mungkin saja terjadi dari apa yang ada itu.<a href="#_ftn11">[11]</a> Dengan penyataan visi ini maka pemimpin kemudian dapat memahami visi yang tertulis oleh Allah di dalam batinnya.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>KARAKTERISTIK DARI VISI</strong>. dalam upaya untuk menjawab apa sebenarnya VISI itu, tercermin pada pertanyaan tentang “Apa saja yang merupakan karakteristik dasar dari VISI itu?” Pertanyaan tentang karakteristik visi ini dapat dijawab dengan menyimak penjelasan berikut:</li>
<li>VISI bersifat Ilahiah, berasal dari Allah, yang <strong>menuliskan  keinginan suci</strong> di dalam batin setiap invidu. Rick Warren berkata, “<em>You exist only because God wills that you exist. You were made by God and for God – and until you understand that, life will never make sense</em>.”<a href="#_ftn12">[12]</a> Dalam kaitan ini, Alkitab memberikan contoh yang jelas melalui pemanggilan Yeremia dimana Allah sendirilah yang  memberikan konfirmasi kepadanya untuk memahami keinginan suci ini (Banding: Yeremia 1:4-10., Kolose 1:16b, dsb).<a href="#_ftn13">[13]</a></li>
</ol>
<ol>
<li>VISI      menjelaskan tentang ‘mengapa anda ber-ADA’ (esse), dan apa TUJUAN      (purpose) keberadaan anda, serta ‘ke arah mana’ (life objective) hidup      anda tertuju’ (yang berhubungan dengan bene esse atau kesejahteraan yang      didambakan). Visi dalam pengertian ini menjelaskan tentang tujuan khusus      keber-<strong>ada</strong>-an setiap individu yang memberikan <strong>sense of purpose</strong> dan <strong>fokus</strong> yang jelas kepadanya. Dengan demikian, apabila ia      menemukan sense of purpose dan fokus ini, maka ia kemudian dapat menjadi      berbeda dengan mencapai tujuan kehidupan bagi diri mau pun organisasi yang      dipimpinnya. Dalam kaitan ini, anda harus memperhatikan faktor yang      disebut di sini bila merumuskan visi itu.<a href="#_ftn14">[14]</a></li>
<li>VISI      bersifat dulu (life root), kini (now) dan besok (future)., untuk itu anda      harus menggali, memimpikannya, dan melihatnya dengan jelas serta      mengambilnya sebagai dasar bagi hidup dan kepemimpinan anda.</li>
<li>VISI      berkenan dengan kebutuhan dasar dari kehidupan; yang berhubungan dengan      kepentingan “pribadi serta kepemimpinan dalam suatu organisasi.” Kebenaran      ini menegaskan bahwa visi sejati akan bersifat <strong>obyektif</strong>, <strong>profitabel</strong> dan <strong>pragmatis</strong> bagi banyak orang, visi itu harus selalu membawa      kebaikan dan kemanfaatan bagi banyak pihak, karena visi yang benar      memiliki unsur <strong>altruistik</strong>.<a href="#_ftn15">[15]</a></li>
<li>VISI      membuka mata untuk melihat <strong>kekuatan</strong><em> </em>saat ini dan <strong>hal-hal      yang mungkin dicapai </strong>di masa depan, serta memberanikan untuk <strong>melompat      ke air yang dalam</strong>. Visi sejati akan menolong setiap orang untuk      memahami bahwa ia memiliki kekuatan dalam dirinya untuk bertindak maju      memasuki masa depan.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>3. </strong><strong>TANDA DARI VISI. </strong>Setelah mempelajari karakteristik visi seperti yang telah diuraikan, sekarang anda dapat merpindah untuk melihat tanda dari visi.<a href="#_ftn16">[16]</a> Ada beberapa tanda yang dapat menolong untuk mengidentifikasi VISi itu. Tanda-tanda itu adalah sebagai berikut:</li>
<li>VISI biasanya berteriak keras (di dalam batin) tetapi tidak terucapkan, karena bertalian erat dengan kebutuhan mendasar yang akan membawa keuntungan bagi diri dan orang lain.<a href="#_ftn17">[17]</a> Tanda pertama ini menerangkan bahwa apa yang disebut visi itu memiliki kekuatan yang sangat mempengaruhi batin setiap individu. Kekuatan dari visi ini membuat individu dimaksud menjadi sadar bahwa ia memiliki sesuatu yang harus diperjuangkan, walau pun pada awalnya ia sulit membaginya kepada orang lain.</li>
</ol>
<ol>
<li>VISI      itu akan terus menerus mendebarkan batin dengan frekuensi yang semakin      tinggi. Visi sejati selalu akan memberikan dinamika bagi individu      (pemimpin), dimana ia akan terus menyala dan menjadi dinamis oleh visi itu.</li>
<li>VISI      bersifat tunggal sebagai dasar bagi fokus satu-satunya dalam hidup dan      kepemimpinan. William Beausay II berkata, “Satu adalah angka yang kuat.”      Seseorang dapat saja memiliki beberapa visi bagi diri, rumah tangga mau      pun pekerjaan atau karir dan kepemimpinan, tetapi setiap visi dimaksud      harus bersifat tunggal, sehingga ia dapat difahami dan dikerjakan secara      terfokus.</li>
<li>VISI      mendorong untuk menetapkan perhatian yang menjurus ke satu arah (tujuan).,      yang menjelaskan tentang adanya ‘sense of purpose.’ Dalam kaitan ini visi      yang memberi fokus itu mendorong sehingga pemimpin memahami tujuan yang      untuknya visi itu diberi..</li>
<li>VISI      menyemangati naluri berpikir yang terus menalar mencari jalan ke luar ke      fokus (yang membara dalam batin dan benak) untuk menjawab setiap kebutuhan      terkait.</li>
<li>VISI      selalu selaras dengan potensi riil yang ada pada seseorang.  Potensi riil ini sering belum disadari      sekarang, tetapi ada tanda-tandanya yang jelas. Dengan kata lain visi itu      dapat disebut  visi sejati karena      selaras dengan potensi riil dalam diri individu (pemimpin).</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>4. </strong><strong>MENGGALI VISI. </strong>Setelah menggumuli dan mengenal tanda-tanda dari visi kini timbul pertanyaan lain, bagaimana menggali, menemukan, serta mengembangkan visi (keinginan suci) yang tertulis oleh Allah di dalam batin anda itu? dalam upaya menggali visi, hal pertama yang harus dibuat dari perspektif Kristen ialah <strong><em>berdoa</em></strong>, dimana Anda secara khusus menyatakan kepada ALLAH tentang kerinduan untuk menemukan tulisan tangan-Nya di dalam batin. Berdoa berarti mengadakan <strong>perenungan introspektif</strong> di hadapan Allah untuk menemukan jawaban atas pertanyaan mengenai <strong>keinginan suci</strong> (visi) yang telah ditulis-Nya di dalam batin. Ada beberapa beberapa langkah yang harus ditempuh dengan melihat tanda-tanda praksisnya seperti di bawah ini:</li>
<li>Awalilah dengan mencermatilah keinginan terdalam yang adalah <strong>keinginan suci</strong>.” Keinginan suci ini harus dibedakan dari keinginan biasa, yang ada pada kebanyakan orang. Ingatlah bahwa keinginan suci ini bersifat khusus dan selalu berhubungan dengan kebutuhan pokok yang terasa.<a href="#_ftn18">[18]</a> Untuk membedakannya dengan keinginan biasa, cermatilah nilai-nilai bagi keinginan itu dan cocokanlah dengan potensi terpendam dalam diri Anda.<a href="#_ftn19">[19]</a></li>
</ol>
<ol>
<li>“Salurkanlah      keinginan suci tersebut dengan jalan mengalimatkannya dengan kalimat      berbobot. Contoh bagi kalimat berbobot dimaksud dapat dilihat dengan      membandingkan pernyataan berikut: ‘Saya ingin banyak uang, hidup senang,’      dan ‘<strong>Saya mau memperkaya orang lain</strong>’.”<a href="#_ftn20">[20]</a> Apabila Anda telah mengalimatkan visi maka anda sedang berpindah dari suatu      <strong>ide </strong>kepada <strong>konsep</strong>. Konsep ini adalah sebagai lambang fakta,      yang dengannya akan terwujud kenyataan yang didambakan secara riil nanti. Sebagai      contoh, anda dapat merangkum pernyataan visi sebagai berikut: “…………. <strong>ada      untuk memuliakan Allah dengan memperkaya banyak orang</strong>.” Perhatikanlah      ini, “…….. ada” menunjuk kepada subyek yang substantif, yang keberadaannya      adalah untuk memuliakan Allah. “Memuliakan Allah” menunjuk kepada utopi;      dan “memperkaya banyak orang,” menunjuk kepada tujuan operasi kerja dari pribadi      mau kepemimpinan dalam suatu organisasi.</li>
<li>Sebagai      dasar untuk melangkah membuat “suatu perencanaan strategis” guna      melaksanakan visi anda dimaksud, maka anda membuat sebuah potret tentang      bagaimana anda mengerjakan dan mengalami pemenuhan (menggapai) visi      dimaksud” (sekarang di suatu masa yang akan datang) sebagai langkah      kegenapan visi anda itu.<a href="#_ftn21">[21]</a> Membuat potret masa depan diawali dengan membuat skenario masa depan      sebagai dasar untuk membangun suatu perencanaan strategis (strategic      planning).<a href="#_ftn22">[22]</a> Dengan adanya perancanaan strategis ini, anda dapat mengetahui dengan      pasti akan visi, misi, fokus dan inti bisnis kepemimpinan yang menjelaskan      tentang tugas-tugas yang akan dikerjakan mencapai tujuan yang telah      dicanangkan dalam organisasi yang anda pimpin.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>5. </strong><strong>VISI DAN IMAN. </strong>Iman sangatlah diperlukan dalam upaya menetapkan dan melaksanakan VISI. Iman di sini merupakan pengukur keabsahan visi dan penentu pelaksaannya. Kini timbul pertanyaan, apa sebenarnya IMAN itu, dan apa hubungannya dengan VISI? Dalam perspektif Kristen, Kitab Suci secara gambling menegaskan, “<em>Iman adalah bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat</em>” (Ibrani 11:1). Di sini iman menjelaskan tentang visi sebagai sesuatu yang memiliki dasar pembuktian. Merumuskan hubungan ini lebih jauh, dapat dikatakan bahwa IMAN adalah VISI, yaitu “<em>Melihat hal yang ingin kita capai, jauh sebelum itu ada</em>” (J.C. Bowling). Beberapa unsur penting dari hubungan VISI dan IMAN (Iman dan Visi) dapat dijelaskan sebagai berikut ini:</li>
<li>IMAN adalah dasar bagi VISI, yang merupakan landasan bagi pencapaian gambaran “<strong>mimpi masa depan</strong>” yang didambakan.<a href="#_ftn23">[23]</a> Dapat dikatakan bahwa iman menjadikan visi sebagai suatu kenyataan, dan iman memastikan bahwa visi adalah sejati.</li>
</ol>
<ol>
<li>IMAN      meneguhkan VISI, dan berperan sebagai BUKTI bahwa<em> </em>visi yang<em> </em><strong>didasarkan      atas iman itu adalah nyata</strong> (riil), <strong>dapat dikerjakan</strong> serta <strong>dapat      dicapai</strong>. Dalam kaitan ini, visi menjadi pasti sepasti iman akan TUHAN,      dan ada hal-hal nyata yang akan dilakukan untuk mencapai hal-hal nyata      lainnya di masa depan yang juga pasti.</li>
<li>VISI      yang dibangun di atas iman menjelaskan tujuan organisasi dan <strong>meneguhkan </strong>untuk berjalan ke depan mencapainya. Dengan adanya visi, maka individu      (pemimpin) dapat <strong>melihat tujuan</strong> yang jelas ke depan,  serta dapat mengetahui <strong>apa-apa saja      yang patut dikerjakan</strong> untu mencapai tujuan dimaksud.</li>
<li>VISI      dan IMAN meneguhkan kepemimpinan, sehingga pemimpin dapat memimpin orang      lain yang diawali dengan <strong>membagi visi</strong>. Dengan adanya visi      (kepemimpinan) maka pemimpin dengan sendirinya memiliki kuasa untuk memimpin,      karena dengan visi dimaksud ia dapat membuat sesuatu terjadi. Dengan visi      yang sama, ia  pun dapat menggerakan      orang lain (bawahan) untuk bertindak secara sinergis dengan berbagi visi      dimaksud. Dengan berbagi visi, pemimpin dapat memastikan bahwa upaya      memimpinnya (leadership attempt) pasti akan terlaksana.</li>
<li>VISI      dan IMAN memastikan masa depan bertujuan, meneguhkan harapan mencapainya,      karena VISI dan IMAN adalah “FAITH LEAP.”<a href="#_ftn24">[24]</a> Dengan adanya visi bertujuan ini, individu (pemimpin) dapat melihat jalan      ke masa depan yang memberikan kekuatan dan memberanikannya untuk melompat      ke dalam peluang (melompat ke air yang dalam), mencipta masa depan yang      cerah.</li>
<li>VISI      dan IMAN memberi semangat untuk membangun motivasi tinggi dan mendukung      guna mengatasi tantangan bersama untuk maju secara konsisten.<a href="#_ftn25">[25]</a></li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>6. </strong><strong>MEMBAGI VISI. </strong>Telah dikatakan sebelumnya bahwa VISI memiliki kekuatan yang ampuh untuk mengangkat dan membawa seseorang ke atas serta ke depan. Secara khusus dapat dikatakan bahwa, VISI memberi kuasa bagi pelaksanaan kepemimpinan, karena itu, VISI KEPEMIMPINAN itu harus dibagi. Dalam kaitan ini, visi harus dilihat sebagai api yang membinarkan kekuatan yang menghangatkan. Bill Newman mengatakan: “<em>Visi adalah seperti api unggun di perkemahan, dimana orang-orang akan berkumpul mengelilinginya, karena di sana ada cahaya, energi, kehangatan dan kebersamaan</em>.” Visi yang memiliki kekuatan seperti yang digambarkan di sini menjelaskan bahwa visi dapat dibagi, sehingga menjadi milik semua orang. Sekarang bagaimana VISI itu dapat Anda bagi? Visi itu dapat dibagi dengan memperhatikan langkah penting berikut ini.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Gunakanlah visi itu untuk melihat gambaran suatu akhir dengan jelas, sebagai dasar untuk melibatkan orang lain. Aristoteles berkata, “Jiwa tidak dapat berpikir tanpa adanya suatu gambaran.”  Dalam kaitan ini, visi memberi kemampuan untuk <strong>membuat dan membagi gambar</strong> visi, pemimpin dapat membuat visualisasi profil masa depan serta siap membaginya kepada orang lain.</li>
</ol>
<ol>
<li>Perhatikanlah      perubahan yang akan terjadi dengan adanya <strong>gambaran akhir</strong> atau <strong>gambaran      profil masa depan</strong> dari visi ini, dan keuntungan apa yang saja yang      akan dicapai, serta alasan kuat untuk mencapainya. Dengan gambaran akhir      ini, seorang pemimpin dapat mengetahui secara pasti tentang apa yang dapat      dan harus dilakukan untuk menggapai visi itu.</li>
<li>Anda      dapat berbagi visi itu dengan memberikan gambaran masa depan secara jelas.      Dengan gambaran masa depan yang jelas ini anda memiliki alat untuk      mengambarkan masa depan. dimana Anda juga dapat membangunkan keyakinan dan      semangat semua orang yang anda pimpin bahwa <strong>visi dimaksud dapat dicapai</strong> secara bersama.</li>
<li>Kunci      untuk berbagi VISI dalam perspektif Kristen memiliki kekuatan khas.      Kekuatan khas ini adalah seperti yang dikatakan oleh Larry Crabb, bahwa      “Suatu visi yang dibagi berkenan dengan bagaimana seseorang adanya dan      dapat menjadi kemudian, memiliki kuasa apabila Roh Kudus telah berbicara      kepada jiwanya.”<a href="#_ftn26">[26]</a> Di sini terlihat jelas bahwa Roh Kudus sendirilah yang meneguhkan visi di      dalam jiwa seorang pemimpin. Di atas visi inilah pemimpin dapat membangun      gambaran masa depan yang bisa diungkapkannya secara dinamis oleh      pertolongan Roh Kudus.</li>
<li>Kebenaran      tentang berbagi visi yang memiliki daya dorong kuat ini ditegaskan oleh      Burt Nanus dengan mengatakan, “Tidak ada mesin penggerak organisasi ke      arah ekselensi dan sukses jangka panjang dari pada membagi secara luas      suatu visi yang atraktif, bermanfaat, dan dapat dilaksanakan untuk      mencapai masa depan.”<a href="#_ftn27">[27]</a> Dari uraian Burt Nanus ini dapat dikatakan dengan tegas bahwa visi harus      dirumuskan secara atraktif, pragmatis dan aplikatif yang olehnya pemimpin      dapat membaginya kepada orang yang dipimpinnya. Berbagi visi seperti      inilah yang menyebabkan adanya daya dorong yang menggerakan semua komponen      organisasi untuk terlibat aktif dalam kinerja kepemimpinan.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>VISI DAN PERUBAHAN</strong>. Telah dibincangkan sebelumnya bahwa visi yang adalah keinginan suci memberikan <em>kemampuan untuk memahami kehendak Allah</em> dan melihat ke depan akan apa yang akan terjadi. Kondisi ini dapat disebut sebagai “<strong>perubahan</strong>.” Perubahan dapat dijelaskan sebagai <em>keadaan yang dinamis yang terus bergerak ke arah bentuk yang baru ke depan</em>. Perubahan ini dapat berbentuk berubahan internal atau pun perubahan eksternal, yang menyangkut perubahan esensi, bentuk, makna, fungsi dan peran yang dapat terjadi secara penuh maupun setengah, mengganti, modifikasi, dan sebagainya. Mengaitkan perubahan dimaksud dengan visi, maka Rick Warren mengatakan, “<em>Visi adalah kemapuan untuk menilai dengan tepat perubahan-perubahan yang terjadi dewasa ini dan menarik manfaat dari perubahan-perubahan tersebut</em>.” Mencermati apa yang diuraikan oleh Rick Warren ini dapatlah dikatakan bahwa dengan keinginan suci pemberian Allah (visi), pemimpin dapat belajar untuk melihat adanya perubahan-perubahan pesat yang terjadi dan menyesuaikan strategi serta tindakannya untuk melangkah secara baru menjawab tantangan perubahan dengan menginisiasi perubahan ke depan. Dalam kaitan ini, pemimpin perlu peka terhadap kondisi perubahan dalam arti yang sebenarnya. Hal inilah yang dikatakan oleh Rick Warren bahwa “<em>visi adalah perasaan peka terhadap setiap kesempatan</em>”<a href="#_ftn28">[28]</a> Menghadapi kondisi perubahan dimaksud, ada dua hal yang dapat dikerjakan secara simultan yaitu:</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Mengembangkan sikap kepekaan terhadap masa depan. Dalam upaya mengembangkan kepekaan terhadap masa depan maka ada beberapa langkah yang perlu di cermati. Langkah-langkah tersebut adalah  antara lain:</li>
</ol>
<p>1)      Membangun pendekatan yang konstruktif sebagai upaya mengidentifikasi hakikat, bentuk, dan kadar perubahan yang sedang terjadi .</p>
<p>2)      Mendefinisikan perubahan dengan melihat gejala-gejala dan mengadakan isolasi dari hakikat, bentuk dan makna perubahan yang sesungguhnya.</p>
<p>3)      Mengantisipasi konflik yang terjadi akibat dari setiap perubahan dan memberikan batas sekat kepadanya sehingga tidak membawa akibat negatif.</p>
<p>4)      Memberi arah yang tegas untuk mengendalikan perubahan terarah seseuai dengan visi yang ada untuk menciptakan masa depan yang di dambakan.</p>
<ol>
<li>Mencipta skenario masa depan menjawab tuntutan perubahan.<a href="#_ftn29">[29]</a> Menagani perubahan yang sedang terjadi, pemimpin bertanggung jawab untuk mencipta skenario untuk menghadapi masa depan yang telah dicanangkan. Skenario masa depan itu dapat dilakukan dengan mengambil langkah berikut ini:</li>
</ol>
<p>1)      Menegaskan kembali akan visi yang telah ditetapkan untuk menetapkan arah yang jelas ke masa depan.</p>
<p>2)      Menggali info dari pengalaman masa lalu terhadap isu yang berkaitan dengan visi untuk mempelajari kecenderungan-kecenderungan yang akan ditimbulkan oleh perubahan.</p>
<p>3)      Menemukan indikator dari apa yang telah terjadi guna menemukan jawaban bagi apa yang mungkin terjadi nanti.</p>
<p>4)      Menetapkan langkah-langkah strategis yang akan ditempuh ke depan untuk membawa perubahan, sehingga anda tidak digilas oleh perubahan itu.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>RANGKUMAN.</strong></p>
<p>Di sini telah didiskusikan tentang VISI dengan  mempertanyakan apakah sebenarnya VISI itu, apa pula karakteristik dan tanda-tanda-nya serta hubungannya dengan iman, serta bagaimana menggali dan membaginya di tengah perubahan yang nyata. Pokok-pokok dimaksud telah dijabarkan secara rinci sehingga diharapkan bahwa setiap aspek dari visi sudah menjadi jelas bagi anda. Kiranya anda dapat memahami, memiliki dan membatinkannya dalam hidup, yang menjadi landasan bagi anda untuk melaksanakannya. Telah ditegaskan bahwa visi dapat diumpamakan seperti api kecil yang dapat membakar hutan rimba dengan akibat yang dahyat. Dengan kekuatan visi, seorang individu (pemimpin) dapat melihat rencana Allah, ia dapat mamahami masa lalu yang memberikan kepastian tentang kebenaran visi masa kini untuk melangkah ke depan. Dengan visi seorang individu (pemimpin) dapat melihat masa depan dengan jelas dan ia pun akan mampu untuk mengajak orang lain untuk berjalan bersama-sama memasukinya. Bagaimana seseorang pemimpin dapat mengajak orang lain untuk turut bersama dengannya menuju ke masa depan? Hal penting yang perlu dilakukan seorang pemimpin untuk melibatkan orang yang dipimpinnya dengan visi kepemimpinan yang TUHAN berikan kepadanya, ialah:</p>
<ol>
<li>Berdoalah      dengan tekun atas apa yang perlu diketahui dari TUHAN Allah berkenan      dengan visi yang diberikannya.</li>
<li>Berpikirlah      sejernih mungkin untuk mencari secara introspektif dengan sensitivitas      rohani yang tinggi.</li>
<li>Berpikirlah      sebesar (berpikir besar) dan seluas (berpikir mendalam) mungkin untuk      memahami, dengan melihatnya secara jelas melalui gambaran mental yang      lengkap.</li>
<li>Kembangkanlah      visi dimaksud melalui suatu gambaran mental dengan melakukan ‘brain      storming’ untuk pemahaman lengkap.</li>
<li>Padukan      dengan nilai-nilai Anda untuk menetapkan suatu rumusan visi pribadi atau      kepemimpinan.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sekarang Anda telah memiliki suatu pernyataan visi, yang olehnya anda dapat berbagi dan mengajak orang lain untuk memahaminya serta mengikut Anda ke depan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Salam doa,</p>
<p>Dr. Yakob Tomatala</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Perlu di sadari bahwa mimpi adalah konfirmasi visi, sehingga dapat dikatakan bahwa visi yang benar tentu tidak sama dengan mimpi, walau pun visi dapat saja dipahami melalui mimpi, dimana visi dapat disebut sebagai mimpi siang hari., dan mimpi juga adalah gambaran dari visi itu.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Tulisan ini diangkat dari buku <em>Anda juba bisa menjadi Pemimpin Visioner</em>, karya Y. Tomatala.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Jonathan Swift mengatakan, “Vision  is the art of seeing things invisible” (Andy Stanley, 1999:29).</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Aplikasi dari definisi ini bersifat terbuka karena dapat dikenakan bagi semua orang dalam segala lingkungan kehidupan.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Andy Stanley mengatakan bahwa visi memiliki “divine element.”  Ibid., halaman 12-14. Banding halaman 24-25.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Penjelasan tentang sumber visi seperti ini menjelaskan akan tindakan Allah yang sama kepada semua orang dari sudut pandang “<em>common grace</em>” yang diuntukan bagi semua manusia ciptaan-Nya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa visi yang ada pada semua orang adalah pemberian Allah yang oleh keadilan dan hikmat-Nya, Ia memperlakukan semua manusia secara adil (Matius 5:45). Levi Brackman dan Sam Jaffe meneybut visi sebagai <em>innerwil</em>.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> G. Barna, <em>Turning Vision into Action</em>, tahun 1987., halaman 35-36.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Ada sementara orang menyamakan visi dengan mimpi, tetapi dalam mengaitkan mimpi dengan visi yang sejati, mimpi adalah sebagai “kemampuan untuk melihat/ memimpikan hal besar yang akan terjadi pada masa depan.” John E. Haggai dalam bukunya Lead On cenderung menyamakan visi dengan mimpi, yang dalam kenyataan memang visi berhubungan dengan mimpi, dimana visi hanya dapat dipahami dan dicapai melalui kemampuan memimpikannya (Lihat Lead On, Part I. The Dream). Aubrey Malphurs mengatakan bahwa “<em>Vision is not a dream</em>” (1999:32).</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Di sini Allah dapat menyatakan visi kepemimpinan melalui kelompok orang dalam suatu organisasi.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Andy Stanley, Op. Cit., halaman 17.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Kebenaran ini mengaitkan visi dengan iman yang akan dijelaskan kemudian dalam Bab ini.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> Rick Warren, The Purpose Driven Life, tahun 2002., halaman 18-19.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> Dalam kaitan ini, keingian suci dapat disebut sebagai kehendak Allah yang khusus bagi setiap individu untuk membawa kepenuhan bagi kehidupannya. Kepenuhan di sini dapat berarti keberhasilan atau sukses dari perspektif Alkitab yang berimbang. Lihat konsep sukses menurut Alkitab dalam buku <em>Manusia Sukses</em>: Suatu Teologi Berkat dari Perspektif Alkitab, karya Y. Tomatala.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> Lihat Andy Stanley, Loc. Cit.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> Visi yang <em>altruistis </em>artinya visi yang berorientasi kepada orang lain. Untuk memahami hal ini, bandingkanlah dengan definisi kepemimpinan filosofis yang tertuang dalam buku karya Y. Tomatala, Kepemimpinan Yang Dinamis, dimana tujuan yang dicapai oleh kepemimpinan sejati adalah <em>altruistik</em> yaitu yang memiliki orientasi self dan others,  yang  membawa keuntungan bagi pemimpin, orang yang dipimpin dan situasi kepemimpinan. Dengan demikian, adalah beralasan untuk mengatakan bahwa visi yang benar bersifat altruistik. Inilah visi sejati.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> Andy Stanley mengatakan bahwa visi itu cenderung menenun empat hal dalam pengalaman keseharian yaitu: <strong><em>passion, motivation, direction dan purpose</em></strong> (1999:9-14).</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a> Apabila anda dapat mengungkapkan visi itu dengan gampang, maka ini adalah keinginan biasa. Sebagai  contoh, anda melihat bahwa menjadi sarjana itu keren, maka anda juga ingin menjadi sarjana tanpa mengetahui kemanfaatan menjadi sarjana itu, sehingga sekali pun anda seorang sarjana, anda akan nampak seperti orang biasa-biasa saja.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a> Kebutuhan pokok terasa dapat dijelaskan sebagai kebutuhan individu untuk <em>menjadi apa</em> dan <em>untuk apa</em>. Kebutuhan pokok ini juga adalah kebutuhan nyata dalam kepemimpinan bagi kemaslahatan banyak orang.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref19">[19]</a> Ingatlah bawa keinginan suci itu bersifat altruis, sehingga apabila seseorang menginginkan sesuatu yang disebutnya sebagai keinginan suci tetapi keinginan itu memiliki nilai yang bersifat egoistis serta rendah dan  ia ternyata tidak memiliki potensi yang sesuai untuk mengerjakannya maka dapat diduga bahwa ini adalah keinginan yang biasa-biasa saja. Kalau seseorang ingin menjadi kaya, bernama besar dan berada di depan, ini dapat disebut ambisi yang pantas, tetapi belum tentu adalah visi sejati.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref20">[20]</a> Pernyataan <em>pertama</em> dapat disebut sebagai keinginan biasa-biasa dari orang biasa dan pernyataan <em>kedua</em> merupakan indikasi pernyataan visi.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref21">[21]</a> Uraian ini menghubungkan visi dengan kemampuan untuk membuat <em>peta keinginan masa depan organisasi</em>, sebagai bagian dari kemampuan seorang pemimpin melihat visi kepemimpinan dengan jelas.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref22">[22]</a> Lihat buku “<em>Mastering Planning</em>” yang membahas tentang “<em>Manajemen Perencanaan Strategis</em>” karya Y. Tomatala, terbitan YT Leadership Foundation, Jakarta., untuk pembelajaran lanjutan.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref23">[23]</a> Dalam kaitan ini, visi yang sesungguhnya hanya dapat diterima dengan iman, dimana iman menentukan sejauh mana kebenaran visi itu, serta semungkin mana visi itu dapat tercapai. Rich DeVos berkata, “Saya percaya bahwa sukses sejati dalam setiap aspek kehidupan kita tergantung pada landasan iman Kristiani saya yang tak tergoyahkan.” Dan katanya lagi, “Iman itu melampaui nalar: iman mengisi jurang ketika anda tidak tahu apa yang harus anda perbuat atau apa yang akan terjadi.” (2004: 112, 114).</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref24">[24]</a> Istilah <em>Faith Leap </em>menjelaskan tentang suatu lompatan dengan kekuatan kepercayaan besar memasuki masa depan yang hanya dapat dilakukan dengan iman yang teguh akan TUHAN Allah.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref25">[25]</a> George Barna memberikan contoh hubungan visi dengan iman ini pada Musa dengan mengatakan, “Moses caught the vision, articulated the visin and implemented the vision basedon his faith and wholehearted trust in an omnipotent and loving God” (1996:53).</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref26">[26]</a> Lihat Andy Stanley, Op. Cit., halaman 109.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref27">[27]</a> G. Barna, Op. Cit., halaman 35.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref28">[28]</a> Lihat karya Rick Warren, Pertumbuhan Gereja Masa Kini, Penerbit Gandum Mas, tahun 2003., halaman 32.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref29">[29]</a> Lihat buku <em>Mastering Planning</em>, halaman karya Y. Tomatala, tahun 2001., halaman 14-15, untuk mempelajari tentang bagaimana membuat <em>Skenario Masa Depan</em>.</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2011/05/27/meneguhkan-diri-menjadi-pemimpin-visioner/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ENTREPRENEUR SEJATI</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2011/04/08/entrepreneur-sejati/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2011/04/08/entrepreneur-sejati/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Apr 2011 04:37:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Books]]></category>
		<category><![CDATA[Information]]></category>
		<category><![CDATA[Karakter Kepemimpinan]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[ENTREPRENEUR SEJATI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=345</guid>
		<description><![CDATA[“Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan, ia menguatkan lengannya. Ia tahu bahwa pendapatannya menguntungkan, pada malam hari pelitanya tidak padam” (Amsal 31:17-18). PENGANTAR Istilah entrepreneur dan entrepreneurship sangat populer belakangan ini. Dalam memahami entrepreneur dan entrepreneurship, kita perlu bertanya, “siapa dan apa sesungguhnya entrepreneur dan atau entrepreneurship itu, serta apa hubungannya dengan wirausaha atau kewirausahaan?” Secara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<em>Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan, ia menguatkan lengannya. Ia tahu bahwa pendapatannya menguntungkan, pada malam hari pelitanya tidak padam</em>”</p>
<p>(Amsal 31:17-18).</p>
<p><strong>PENGANTAR</strong></p>
<p>Istilah entrepreneur dan entrepreneurship sangat populer belakangan ini. Dalam memahami entrepreneur dan entrepreneurship, kita perlu bertanya, “siapa dan apa sesungguhnya entrepreneur dan atau entrepreneurship itu, serta apa hubungannya dengan wirausaha atau kewirausahaan?” Secara umum, entrepreneur telah dipadankan dengan wirausaha, dan entrepreneurship telah dipadankan dengan kewirausahaan, yang cenderung berkaitan hanya dengan dunia bisnis<a href="#_ftn2">[2]</a> dan pelaku usaha bisnis. Setelah mengadakan pengkajian yang lebih terbuka terhadap entrepreneur dan entrepreneurship, penulis menghasilkan kesimpulan bahwa setiap orang yang sukses sampai ke puncak, sesungguhnya adalah dia yang memiliki <em>jiwa entrepreneur</em>.<a href="#_ftn3">[3]</a> Menguraikan pokok seputar Entrepreneur Sejati, maka ada tiga hal yang akan dibahas, yaitu antara lain: <em>Satu</em>, Memaknai Entrepreneur dan entrepreneurship; <em>Dua</em>, Ciri-ciri entrepreneur; dan <em>Tiga</em>, Membangun budaya entrepreneurship.<span id="more-345"></span></p>
<p><strong>MEMAKNAI ENTREPRENEUR DAN ENTREPRENEURSHIP</strong></p>
<p>Telah dikatakan bahwa selama ini, istilah entrepreneur dan entrepreneurship telah dipadankan dengan wirausaha dan kewirausahaan. Di sini dapat dikatakan bahwa “wirausaha” artinya “berani berusaha, atau berani menjalankan sesuatu usaha secara mandiri sehingga mendatangkan keberhasilan atau keuntungan. Dalam pengertian di atas, dapatlah dikatakan bahwa “<em>Kewirausahaan adalah upaya mengembangkan pengaruh dengan mengelola suatu bisnis atau usaha sebegitu</em><em> </em><em>rupa secara mandiri, sehingga mendatangkan keuntungan</em>.” Selanjutnya, dapat dikatakan bahwa kewirausahaan dalam kaitan ini berarti “<em>proses yang ditandai oleh keberanian memulai, mengelola dan menjalankan suatu usaha khusus secara mandiri yang berorientasi kepada keberhasilan atau keuntungan</em>.” Menurut Pietra Sarosa<em> wirausahawan/ wati </em><em>a</em>dalah “<em>S</em><em>eseorang yang mempunyai visi, semangat dan tindakan-tindakan nyata dalam usaha menciptakan dan mengembangkan sendiri sumber-sumber income-nya tanpa bergantung semata-mata kepada orang lain</em><strong>.</strong>”</p>
<p>Selanjutnya, istlah <em>en</em><em>trepreneur</em><em> </em>dan<em> entrepreneur</em><em>ship</em> yang berasal dari istilah <em>entreprendre</em>, berarti “<em>menjalankan</em>, yang menjelaskan tentang adanya seseorang yang mengorganisir dan menjalankan suatu usaha secara berani dengan tujuan memperoleh keuntungan.” Di sini dapat dikatakan bahwa <em>entrepreneur</em> adalah seseorang yang mandiri dan berani  melakukan sesuatu yang membawa keuntungan dan memberikan keuntungan.  <em>Entrepreneurship</em> dalam kaitan ini berarti “<em>proses yang ditandai oleh keberanian memulai, mengelola dan menjalankan suatu usaha khusus secara mandiri yang berorientasi kepada keberhasilan atau keuntungan</em><em>, sehingga dapat menguntungkan secara lebih luas</em>.” Menyimak pemahaman entrepreneur dan entrepreneur seperti di atas ini, dapat dikatakan bahwa konsep entrepreneur ini bersifat terbuka, yang dapat meliputi segala bidang kehidupan, yang menjelaskan bahwa seorang entrepreneur itu dapat “siapa aja” dalam bidang “apa saja,” karena yang terpenting ialah bahwa ia memiliki <em>jiwa entreprenur</em> dengan ciri, sikap dan tindakan yang jelas, yang menunjukkan adanya kemandirian tinggi padanya.<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>CIRI-CIRI ENTREPRENEUR</strong></p>
<p>Memahami konsep entrepreneur secara terbuka, dapat dikatakan bahwa seorang entrepreneur memiliki ciri-ciri khusus yang unik. <a href="#_ftn5">[5]</a> Ciri-ciri entrepreneur yang unik itu adalah antara lain:</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Entrepreneur adalah seorang yang kompeten. Kompetensi ini menegaskan bahwa entrepreneur memiliki kepenuhan-kelengkapan diri yang bersifat individu, profesional dan formal. Kompetensi enterpreneur ini dibangun diatas faktor berikut:</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Menemukan <em>visi</em> sebagai dasar membangun kompetensi. Seorang entrepreneur harus memulai dengan menemukan, membangun dan meneguhkan visi (keingin suci, keinginan sejati)<a href="#_ftn6">[6]</a> sebagai dasar untuk mengembangkan diri serta karirnya.</li>
<li>Meneguhkan budaya kualitas. Kompetensi diri entrepreneur menjelaskan bahwa ia berhasil membangun diri dalam <em>life way</em> berkualitas, yang menegaskan bagaimana ia mengembangkan paradigma, perspektif, sifat, sikap; dan cara unggul.</li>
<li>Membangun kompetensi, mewujudkan INTEGRITAS karakter, sehingga ia dapat <em>dipercayai</em>; KAPASITAS pengetahuan yang komprehensif dan khas lebih sehingga ia dapat <em>diharapkan</em>; dan KAPABILITAS (kecakapan) sosial dan teknis andal, sehingga ia dapat <em>diandalkan</em>.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Entrepreneur adalah seorang mandiri. Aspek kemandirian ini dapat dijelaskan sebagai berikut:</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Entrepreneur memiliki <em>Keunggulan Pikiran </em>dan<em> Berpikir</em> yang membuatnya andal mengungguli orang kebanyakan (orang rata-rata) di lingkungannya. Keunggulan pikiran dan berpikir ini ditandai oleh keandalan menggunakan pikirannya, dimana ia dapat berpikir dan bersikap terbuka; berpikir dan bersikap kreatif dan inovatif; berpikir dan bersikap asertif; berpikir dan bersikap proaktif &#8211; antisipatif; berpikir dan bersikap besar, berpikir dan bersikap benar; berpikir dan bersikap sinergis simultan; serta berpikir dan bersikap kemungkinan.</li>
<li>Entrepreneur memiliki <em>Keunggulan Keberanian</em> yang menjelaskan bahwa ada kebiasaan unggulan. Kebiasaan unggulan inilah yang menyebabkan seorang entrepreneur itu berani menentukan sikap; berani menemukan, mencipta, mengejar dan menangkap peluang; berani mengubah peluang menjadi produk; berani menanggung akibat dari keputusan; berani mengambil resiko dan petaruhan; berani terbuka melibatkan orang lain untuk bekerja sama dengan penuh kepercayaan serta  penghargaan guna mencipta peluang menjadi uang.</li>
<li>Entrepreneur memiliki Keunggulan MEREKAYASA CARA  yang memberikan keandalan kepadanya. Keunggulan ini membuatnya andal untuk <em>bertindak strategis</em> dan <em>bertindak taktis</em> yang dibuktikan dengan <em>bekerja cakap</em>; bertindak dengan cara unik dan penuh perhitungan, efektif, efisien, sehat, produktif; bertindak dengan gairah penuh; dan bertindak terfokus dan konsisten.</li>
<li>Enterpreneur adalah seorang yang bermental investor.<a href="#_ftn7">[7]</a> Sejatinya, seorang entrepreneur adalah dia yang memiliki kedewasaan dengan mentalitas investor. Mentalitas investor menjelaskan bahwa ia selain memiliki kestabilan income, ia bebas untuk mengembangkan usaha berciri <em>the second</em>, <em>the third</em> atau the <em>fourth income</em> dst., dengan membiarkan uang bekerja baginya. Dalam hubungan ini, sang entrepreneur hanya bekerja dengan orang yang andal, dapat diharapkan dan dapat dipercaya dengan penerapan manajemen yang tidak rumit dan dapat disupervisi secara menyenangkan.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Enterpreneur adalah strategos taktisian andal. Sebagai strategos taktisian, enterepreneur adalah seorang eksekutor atau pelaksana yang pemberani. Gerakannya selalu memperhitungkan bagaimana ia memilih, meraih, mencipta peluang, bersikap tidak terbaca; berani menunjukkan keunggulan; melangkah terus berada di depan orang lain, dengan melangkah cepat; dan bertindak tepat.</li>
<li>Entrepreneur adalah pribadi yang harus membawa keuntungan bagi banyak orang. Seorang enterpreneur pada akhirnya memiliki ciri kemanfaatan tinggi, yaitu ia akan selalu membawa keuntungan dan manfaat yang dapat dinikmati oleh lebih banyak orang ia dapat hidup untuk memberi, hidup untuk menolong dan membuktikan diri sebagai <em>the life giving leader</em>.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>MEMBANGUN BUDAYA ENTREPRENEURSHIP</strong></p>
<p>Mengapa membangun individu-individu berjiwa entrepreneur<a href="#_ftn8">[8]</a> itu sangat penting bagi sebuah negara atau suatu bangsa? Dr. Ir. Ciputra<a href="#_ftn9">[9]</a> senantiasa bertanya, mengapa Indonesia masih tertinggal secara ekonomi dari Singapura, Taiwan, Hongkong, Jepang, apalagi Amerika Serikat? Dan apa yang ditemukannya cukup mengejutkan, yaitu karena Indonesia terlalu sedikit mempunyai wirausaha <em>entrepreneur</em>.<a href="#_ftn10">[10]</a> Pertanyaan Bapak Ciputra ini haruslah disambut sebagai tantangan untuk dijawab sebagai anak bangsa. Dalam upaya menjawab pertanyaan ini, “Sosiolog Pembangunan, David McLelland  menemukan bahwa suatu negara akan makmur apabila mempunyai wirausaha atau <em>entrepreneur</em> sedikitnya 2% dari jumlah penduduk negara itu. TAHUN 2005, Singapura memiliki <em>entrepreneur</em> 7.2% dari total penduduknya, padahal tahun 2001 hanya ada 2.1%. PADA TAHUN 1983, Amerika yang berpenduduk 280 juta memiliki 6 juta <em>entrepreneur,</em> atau sekitar 2.14% dari total penduduknya.<a href="#_ftn11">[11]</a> Berdasarkan observasi Ciputra dan temuan McLelland ini, dapatlah ditegaskan beberapa kebenaran seputar urgensi dan kepentingan membangun budaya entrepreneurship.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Kepentingan membangun Budaya Entrepreneurship. Menjadi seorang entrepreneur sejatinya adalah melibatkan cara hidup unggul yang menuntut adanya suatu <em>budaya entrepreneurship</em>.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Kadar entrepreneur menjelaskan tentang <em>kualitas kemandirian</em> suatu masyarakat yang menggungkapkan tentang kualitas intelektualitas, kualitas sikap dan kualitas tindakan setiap individu. Kadar kemandirian ini menunjuk tentang sejauh mana suatu masyarakat itu dapat mengisi kehidupannya secara berkualitas, dan muncul sebagai ungul dalam persalingan antar kelompok, mau pun antar bangsa.</li>
<li>Kadar entrepreneurship menjelaskan tentang <em>kualitas kebudayaan</em> yang menunjuk kepada <em>the total lifeway</em> dari suatu kelompok masyarakat atau suatu bangsa yang menjelaskan bagaimana mereka berpikir, bersikap, berkata dan bertindak dalam upaya melanjutkan serta mempertahankan eksistensinya. Di sini akan nampak keunggulan berpikir inovatif, kreatif mengembangkan serta menggunakan teknologi; berpikir asertif, proaktif, antisipatif, menggunakan teknologi bagi pengembangan ekonomi; berpikir dan bersikap sosiatif, energetik, sinegetik dan simultan sebagai landasan menggunakan teknologi untuk bertindak mewujudkan praksis ekonomi yang kompetitif serta unggul.</li>
<li>Kadar entrepreneurship menjelaskan tentang <em>kualitas nilai</em> suatu kelompok atau bangsa yang menunjuk kepada sejauh mana proses inkulturasi dijalankan untuk meneguhkan kehidupan kelompok yang menjelaskan tentang daya juang dan daya tahannya; daya saing dan daya jualnya; yang membuktikan keunggulan kelompok dimaksud yang kompetitif.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Pendekatan membangun Budaya Entrepreneurship. Dari perspektif kebudayaan, <em>worldview</em> yang membakukan nilai-nilai agung suatu kelompok, semuanya ini dibangun melalui proses inkulturasi atau enkulturasi, yaitu hakikat dan cara pendidikan dalam kebudayaan setiap masyarakat.<a href="#_ftn12">[12]</a> Dalam perpektif ini, dapat dikatakan bahwa budaya entrepreneur dapat dibangun melalui proses <em>inkulturasi</em>, yaitu pendidikan yang bersifat informil, non-formil dan formil, untuk mencipta, meneruskan dan membakukan nilai-nilai menjadi suatu worldview. Dari sudut pandang inkulturasi atau pendidikan dalam kebudayaan ini, pendekatan membangun budaya entrepreneur menyentuh aspek-aspek berkut:</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Fokus pendidikan – mewadahkan nilai-nilai ke dalam worldview yang berorientasi entrepreneurship untuk mengembangkan manusia mandiri.</li>
<li>Sistem pendidikan – melibatkan pelaksana didik dan nara didik dengan semangat entrepreneurship yang menggunakan falsafah <em>tranformasi – entrepreneuris</em> yang bermuara kepada pembentukan pribadi peserta didik yang  berjiwa entrepreneur.</li>
<li>Wadah pendidikan – membagi (sharing) nilai entrepreneurship melalui mekanisme pendidikan masyarakat atau keluarga (non-formil); pendidikan ketrampilan sosial dan teknis (informil) dan pendidikan umum atau sekolah (formil) yang harus dilakukan secara berkualitas serta konsisten.</li>
<li>Proses pendidikan – menyentuh interaksi nilai-nilai yang merupakan upaya membentuk falsafah hidup dengan worlview entrepreneurship.</li>
<li>Produk pendidikan – menghasilkan “output” berupa <em>manusia mandiri</em> yang <em>berjiwa entrepreneur</em> dengan kemandirian tinggi yang kompetitif, sehingga mereka dapat berkiprah dalam karir apa pun secara unggul, kompetitif dan sukses di <em>market place</em>.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>RANGKUMAN</strong></p>
<p>Telah diuraikan tiga hal penting dalam bahasan seputar entrepreneur dan entrepreneurship. Pemahaman tentang entrepreneur dan entrepreneurship menegaskan tentang adanya seseorang yang <em>berjiwa entrepreneur</em> dengan <em>kemandirian tinggi</em>, sehingga ia dapat berkiprah di <em>market place</em> dalam bidang kehidupan apa pun yang sesuai jatidirinya (inner will) yang merupakan dasar bagi <em>visi </em>dan <em>karir</em> yang ditekuninya.</p>
<p>Telah ditegaskan pula bahwa seorang entrepreneur memiliki ciri-ciri khas, yaitu ia haruslah kompeten dengan <em>integritas karakter</em> dengan etika moral teguh yang membuat ia <em>dapat dipercaya</em>; dan Kapasitas Pengetahuan yang komprehensif dan khas lebih, yang membuat ia <em>dapat diharapkan</em> dan Kapabilitas Kecakapan Sosial dan Teknis yang membuatnya <em>dapat diandalkan</em>. Secara lebih khusus, ujung dari kompetensi entrepreneur adalah “kemandirian tinggi” yang mewadahkan – keandalan penggunaan pikirannya (Pikiran Unggul); keandalah kebiasaan entrepreneur yang nampak pada keberanian membuat keputusan terhadap peluang (Keberanian Unggul); dan keandalan merekayasa cara (Cara Unggul), sehingga sang entrepreneur dapat membuktikan diri menjadi pelaku yang terus berkiprah kepada keberhasilan yang membawa keuntungan yang menguntungkan diri serta orang lain dalam hidup serta karirnya. Selamat membangun dan membuktikan diri sebagai entrepreneur sejati.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Salam doa,</p>
<p>Dr. Yakob Tomatala</p>
<div>
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Pokok ini tidak diberikan judul “wirausahawan sejati,” untuk menegaskan bahwa konsep entrepreneurship bersifat terbuka, dan juga untuk menghindari konotasi bahwa entrepreneur hanyalah milik mereka yang berkiprah dalam dunia bisnis saja.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Lihat pendapat Dr. Ir. Ciputra yang mengatakan, “Indonesia hanya memiliki sekitar 400 ribu wirausaha <em>real</em> <em>entrepreneur,</em> atau sekitar 0.18% dari penduduk. Memang pelaku bisnis tercatat ada 50 juta orang, tetapi yang lain itu bukan <em>entrepreneur</em> yang sesungguhnya, mereka hanya melakukan kegiatan mencari nafkah <em>subsisten. </em>Indonesia memerlukan 12 kali <em>real</em> <em>entrepreneur</em> lebih banyak dari yang ada hari ini,  atau sekitar 4.6 JUTA ORANG.”</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Lihat gagasan ini yan gdikemukakan oleh Levi Bracman dan Sam Jaffe dalam buku Sukses Bisnis Cara Yahudi.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Konsep entrepreneur dan entrepreneurshi ini dapat dipelajari dalam buku, “<strong><em>Entrepreneur Rohani</em></strong>” (Spiritual Entrepreneur) karya Y. Tomatala, terbitan YT Leadership Foundation, terbitan tahun 2010.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Menurut Ciputra, ada tiga ciri penting dalam diri seorang wirausaha <em>(real</em> <em>entrepreneur), </em>yaitu : (1) Penciptaan peluang <em>opportunity creating;</em> (2) Melakukan inovasi <em>innovating;</em> dan (3) Mengambil resiko yang terukur <em>calculated risk taking. </em>Selanjutkan dikatakan bahwa<em> </em><em>wirausahawan</em> atau <em>entrepreneur </em>adalah mereka yang memiliki keandalan mengubah sampah menjadi emas.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Pokok tentang visi sebagai “keinginan suci” ini dapat dipelajari dalam buku “<strong><em>Anda juga dapat menjadi Pemimpin Visioner</em></strong>,” karya Y. Tomatala</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Gagasan mental investor ini dapat dipelajari dari karya tulis Robert T. Kyosaki.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Penyebutan “berjiwa entrepreneur” digunakan di sini untuk menegaskan pendapat bahwa entrepreneurship dan entrepreneur itu bersifat terbuka, mencakup usaha dalam segala bidang kehidupan.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Dr. Ir. ciputra dapat dinobatkan sebagai <strong><em>Bapak Entrepreneur Indonesia</em></strong>.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Data ini diperoleh dari seorang rekan lain, yang sumbernya tidak tercantum.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Ibid.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> Pokok ini dapat dipelajari dalam buku <strong><em>Antropologi Kebudayaan</em></strong>, karya Y. Tomatala.</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2011/04/08/entrepreneur-sejati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KESAKSIAN PASKAH</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2011/03/31/kesaksian-paskah/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2011/03/31/kesaksian-paskah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Mar 2011 23:05:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[cerita paskah]]></category>
		<category><![CDATA[Information]]></category>
		<category><![CDATA[Paskah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=341</guid>
		<description><![CDATA[“Kamu sendiri mengatakan bahwa Aku lah Anak Allah” (Lukas 14:70; 66-71) Aku bukan siapa-siapa. Namaku bahkan tidak penting bagi siapa-siapa. Namaku selalu disebutkan sejalan dengan tugasku. Aku, sekali pun namaku tidak disebut, orang sudah tahu., karena aku adalah aku yang selalu mengerjakan kepentingan majikanku. Itu saja, karena ada banyak hal yang tidak penting mengenai aku. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<em>Kamu sendiri mengatakan bahwa Aku lah Anak Allah</em>”</p>
<p>(Lukas 14:70; 66-71)</p>
<p>Aku bukan siapa-siapa. Namaku bahkan tidak penting bagi siapa-siapa. Namaku selalu disebutkan sejalan dengan tugasku. Aku, sekali pun namaku tidak disebut, orang sudah tahu., karena aku adalah aku yang selalu mengerjakan kepentingan majikanku. Itu saja, karena ada banyak hal yang tidak penting mengenai aku. Yang paling penting bagiku ialah begini, “aku ada di lingkungan orang besar” karena itu, pekerjaanku, peranku, dan namaku menjadi penting, tetapi, aku tetap aku yang selalu identik dengan pekerjaanku.<span id="more-341"></span></p>
<p>Hari ini ada tugas istimewa, karena di tempat aku berkarya ada “tamu penting”, tetapi yang mengherankan ialah, aku tidak ditugasi untuk melayani tamu penting dimaksud seperti biasanya. Tidak ada air pembasuhan yang disediakan baginya untuk membasuh muka dan kaki-tangan, tidak ada handuk kering yang disediakan seperti biasanya bagi tamu terhormat itu sebagai tanda kehormatan.</p>
<p>Tetapi aku tahu orang itu! Betapa tidak? Aku mendengar dari banyak sumber tentang kehebatan-Nya. Ia lebih hebat dari para tabib yang terkenal di negeri ini, karena Ia menyembuhkan berbagai macam penyakit dengan sekali bersabda! Kabarnya, Ia pun memberi makan kepada beribu-ribu orang, membangkitkan orang mati, dan banyak lagi pekerjaan ajaib yang dikerjakan-Nya, karena itu nama-Nya sudah sangat tersohor dikalangan banyak orang.</p>
<p>Bahkan barusan minggu lalu, Ia menimbulkan kehebohan besar. Ia masuk ke Kota Suci dengan mengendarai “anak keledai” yang menandakan bahwa Ia adalah Raja. Orang orang disepanjang jalan berseru, hosanna &#8230;., hosanna &#8230;., bagi Anak Daud. Jalan-jalan menjadi macet dengan kehadiran-Nya. Banyak orang yang datang dari berbagai penjuru menjelang hari Raya Besar tahun ini, terhenyak dan terkagum-kagum akan apa yang sedang terjadi. Ia menuju ke Bait Suci di mana orang biasanya beribadah. Di situ Ia membersihkannya dengan menghalau para pedagang kaki lima dan para penukar uang, sebagai lambang penyucian dan penyataan kesucian dari Sesembahan-Nya. Alasan-Nya yang paling kuat untuk mengerjakan tugas mulia itu adalah seperti yang dikatakan-Nya sendiri., “ini rumah Bapa-Ku, jangan kamu menjadikannya seperti sarang penyamun!” Sementara banyak orang kebingungan dan hiruk pikuk, Ia berseru dengan suara lantang, “kalau kamu mau, runtuhkanlah Tempat Suci ini, dan Aku akan membangunkannya dalam tiga hari.”  Seluruh rakyat terpikat kepada-Nya, dan ingin mendengarkan tentang DIA (Lukas 19:48b). Kondisi saat itu sangat genting menjelang Hari Raya Besar, dan Para Pemimpin Pemerintahan mau pun Agama menjadi ketakutan, kalau-kalau akan ada “revolusi rakyat” oleh karena tindakan serta ajaran-Nya, dan negara menjadi kacau., dan yang penting, bisnis mereka terganggu. Kalau begitu, biangnya harus dibasmi.</p>
<p>Aku sendiri tidak mengerti tentang semua yang sedang terjadi itu, namun yang terpenting ialah bahwa “Orang Penting” itu sekarang ada di rumah majikanku. Tetapi, aku terus bertanya, “bila “Orang Besar” itu tidak diperlakukan sebagai “tamu penting,” maka ada apa gerangan?  Aku coba-coba mencuri berita, pasang telinga! Apa yang terjadi membuatku terperangah! Tangan-Nya dibelenggu, aku, bahkan aku mendengar kata-kata dari bicara kasar yang bernada tuduhan, “Apakah Engkau adalah Mesias, Anak dari Yang Terpuji?” Pertanyaan itu sudah santer di kalangan umum, karena dari banyak kalangan aku dengar bahwa banyak orang sedang mengharapkan kedatangan Mesias, yaitu Juruselamat. Dan berita ini membahayakan posisi para pemimpin saat itu. Selanjutnya, aku bahkan tidak percaya, akan apa yang aku lihat, sesuatu yang ironis terjadi! “Orang Besar” itu ditampar, Ia diejek, dan ludahi di depan banyak orang! Hatiku sedih bercampur gundah, aku bertanya dalam hatiku, “Mengapa Orang Besar ini dihina sedahyat itu? Aku harus tahu jawabannya! Tetapi, yang paling berbahaya ialah kehadiranku ditempat penting ini. Aku harus segera minggat, kalau tidak, bila kedapatan, aku bakalan digampar, dipecat.</p>
<p>Aku terus memutar otak, dari siapa aku dapat memperoleh jawaban atas keanehan yang aku saksikan ini? Mengapa “Orang Besar” yang aku tahu adalah “Orang Benar” itu diperlakukan dengan semena-mena? Aku terus menyelinap ke luar. Apakah di halaman di bawah sana aku dapat memperoleh jawabannya tentang apa yang aku ingin tahu dari seseorang? Aku membinarkan mataku memandang sekeliling. Aku sudah terbiasa menyaksikan kehadiran banyak orang di tempat majikanku, di  pasar, dan di tempat di mana aku menyertai “nyona besar-ku”.</p>
<p>Aku tatap orang-orang di halaman itu satu-satu. Mataku tertumbuk kepada seseorang.  Badannya kekar, tinggi, besar dan wajahnya brewokan. Dugaan kuatku ialah bahwa ia tentu tidak berasal dari daerah sekitar sini. Sangat mungkin ia berasal dari daerah sekeliling danau terkenal di sebelah utara itu. Aku bahkan bisa menduga apa saja pekerjaannya, karena aku pernah melihatnya, minggu lalu kalau tidak salah.</p>
<p>Tetapi yang paling penting ialah bahwa aku bisa memperoleh jawaban dari orang ini. Aku bisa membayangkan tentang orang ini tatkala aku melihat ia tampil gagah mendampingi Orang Besar di dalam sana itu. Aku masih ingat, saat Orang Besar itu memasuki Kota Suci menunggang keledai dan terjadi kemacetan besar di jalan-jalan, orang laki-laki kekar ini tampil perkasa sebagai layaknya kepala “body guard” sambil menghalau kerumunan orang yang menghalang jalan bagi Tuan-nya. Hebat nian laki-laki ini!</p>
<p>Aku terhenyak, dari lamunanku! Aha, aku kira aku bisa memperoleh jawaban tentang Beliau di dalam itu dari pada laki-laki ini. Laki-laki kekar itu berangsut pindah mendekat ke api unggun untuk berdiang, maklum hari semakin larut dan dingin pula. Bagaimana mendekati dia? Aku pura-pura membenahi api unggun itu di mana ia berdiang. Aku dekati laki-laki itu, kutatap wajahnya yang sangar dan memberanikan diriku untuk membuka percakapan. “Om, aku lihat engkau biasa selalu bersama-sama dengan “Orang Penting” (dari Nazaret) itu! Aku pasti tidak salah kenal, Om selalu terlihat bersama-sama dengan Dia, khususnya minggu yang baru berselang, aku menyeletuk penuh keyakinan. Dan, aku menunggu! Tahukah Anda, apa jawabannya? Jawabannya bagi telingaku bagaikan sambaran petir di siang bolong yang menggelegar. “Aku tidak tahu dan tidak mengerti apa yang engkau maksud.” Haa? Inikah jawabnya? Aku pikir aku salah dengar. Aku bertanya sendiri dalam hatiku, inikah jawabannya? Mengapa ia sudi menjawab seperti itu? Hatiku terguncang, aku kecewa. Aku pikir orang ini akan seberani penampilannya di jalan itu sewaktu mendampingi Orang Besar itu. Ternyata ia cuma ayam sayur, berjiwa krupuk, tidak teguh, pengecut! Aku terus penasaran, aku berpikir, “apakah laki-laki ini tidak sadar dan tidak mengerti bahwa hubungan dekatnya dengan Orang Besar itu adalah hak istimewa dan kepercayaan istimewa?” Aku bahkan iri padanya, karena hubungannya dengan Orang Besar itu.</p>
<p>Tetapi, mengapa ia tidak berani teguh mempertahankan identitas hubunganya dengan orang besar itu?  Apa yang salah padanya? Tidak ada jawaban. Selanjutnya aku mulai mengkritik dia dalam hati ku. Aku berbicara sendiri, “macam apa orang ini?” Dia ini orang rendah, orang tidak punya prinsip, orang plin-plan, orang yang tidak tahu diri, orang hina! Aku semakin penasaran, aku menguntit dia terus walau pun ia berusaha menjauhi aku. Ia berupaya menghindar dengan “pergi ke serambi muka” dekat dengan tempat Orang Besar itu diinterogasi. Dia pikir sudah aman di situ. Aku terus mendekati dia, dan kupikir, hah, ini saat yang tepat untuk mendesak dia. Aku menarik perhatian banyak orang di tempat itu dengan menyaringkan suaraku. Hei, dengar, “orang ini adalah salah seorang dari mereka.” Ia berupaya keras untuk menyangkal lagi. Tetapi, orang-orang yang berada di tempat itu mulai memihak kepadaku. Mereka berkata, “Engkau ini pasti salah seorang dari mereka, apalagi engkau orang yang berasal dari danau besar itu!” Kemudian, aku menyaksikan pancaran kengerian pada wajah laki-laki itu! Bahkan aku mendengar kata-kata yang seharusnya tidak diucapkan oleh orang seperti dia itu. Ia berani menipu, mungkin karena ketahutan, ia mulai menyangkal bahwa ia adalah salah seorang dari pengikut Orang Besar yang mulia itu. Ia membela diri dengan mengutuk dan bersumpah. Coba anda bayangkan apa yang dikatakannya, “Aku tidak mengenal orang yang kau sebut-sebut ini.” Hatiku semakin galau, aku mulai menghakimi laki-laki itu dengan sengit dalam hatiku. Ini orang yang tidak tahu diri, orang yang tidak kenal diri, orang yang tidak menghargai hubungan dengan orang lain, orang yang takabur, orang yang bobrok imannya!</p>
<p>Aku kemudian terhenyak sendiri, orang macam apa aku ini? Jangan-jangan aku mulai linglung sendiri, sok mengkritik orang lain! Bagaimana kalau aku sendiri dikritik? Tetapi aku kemudian berkesimpulan, “ah, biasa, dasar manusia, semuanya sia-sia!” Hei, jangan-jangan aku sendiri yang ngantuk dan terdorong karena penasaran saja karena ingin tahu berita tentang Orang Besar dari laki-laki konyol itu, dan ternyata ia tidak teguh bersaksi tentang hubungan istimewanya dengan DIA, Orang Besar itu. Kasihan!!! Aku kemudian tersentak dari lamunanku, karena kudengar ayam berkokok untuk kedua kali. Ini tentu sudah larut, hari menjelang pagi. Tetapi aku kemudian terpana dan terhenyak, tatkala kulihat suatu adengan penuh kuasa, tatkala kusaksikan sorotan mata suci dari Orang Besar itu, yang menoleh dan memandang kepada laki-laki itu. Mata suci Orang Besar itu begitu tajam menusuk sampai ke batin laki-laki itu. Kusaksikan keguncangan jiwa yang hebat, terpancar pada wajahnya oleh tatapan Mata Suci itu. Ia luluh dibawah tatapan Mata Suci itu, ia hancur dan berangsut pergi ke dalam keremangan pagi. Kukuntit dia lagi, aku ingin mengetahui apa yang terjadi padanya. “Ia menangis terseduh sedan.” Ia rupanya menyesal karena telah menyangkal “Junjungan-nya yang mulia itu.”</p>
<p>Menyaksikan adengan itu, aku mulai berubah pikiran. Kusimpulkan sendiri bahwa laki-laki itu pasti ada hubungan dekat dan intim dengan Orang Besar itu. Ia sekarang menyadari kesalahannya, ia bertobat. Rasanya ia mulai bangkit dari kekerdilan jiwanya, keluar dari kekecilan hatinya. Sepertinya ia mulai siap untuk mempertahankan kesaksianya, bahwa ia dekat dengan Orang Besar Yang Benar itu, orang yang dinista walau pun tidak berdosa, orang yang dihina dan direndahkan dengan semena-mena. Namun, dengan satu tatapan suci Ia membaharui hidup laki-laki yang porak poranda itu! Luar biasa!</p>
<p>Kini aku bertanya kepada diri sendiri, apa yang dapat kupelajari dari pengalaman suci di pagi yang remang ini? Paling tidak ada dua hal yang dapat kupelajari dari pengalaman enkonter dengan DIA, yaitu: <em>Pertama</em>, Hubungan dengan Orang Besar itu adalah hak istimewa, yang merupakan dasar kuasa untuk bertahan menghadapi tekanan, ancaman bahkan godaan dalam hidup. <em>Kedua</em>, hubungan dengan Orang Besar itu merupakan anugerah khusus untuk mengalami pembaruan yang membawa pertobatan sejati, mengalami revitalisasi untuk bangkit, teguh dan menjadi saksi-Nya. Salam Paskah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pelayan Firman,</p>
<p>Pdt. Yakob Tomatala</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2011/03/31/kesaksian-paskah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>APAKAH BENAR SABAR ITU MENGUNTUNGKAN</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2011/03/31/apakah-benar-sabar-itu-menguntungkan/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2011/03/31/apakah-benar-sabar-itu-menguntungkan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Mar 2011 23:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Information]]></category>
		<category><![CDATA[Karakter Kepemimpinan]]></category>
		<category><![CDATA[kesabaran]]></category>
		<category><![CDATA[keuntungan]]></category>
		<category><![CDATA[sabar]]></category>
		<category><![CDATA[sabar yang menguntungkan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=338</guid>
		<description><![CDATA[“Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya melebihi orang yang merebut kota” (Amsal 16:32). PENGANTAR Sabar? Sabar sepertinya memberi indikator kalah, menurut pandangan sementara orang. Kata sabar ini bisa menjengkelkan bagi yang tidak menyukai dan melawannya. Karena, sabar mengekang jiwa dan membakar emosi, yang bila tidak diledakkan akan menggetirkan diri. Betapa tidak, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<em>Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya melebihi orang yang merebut kota</em>” (Amsal 16:32).</p>
<p><strong>PENGANTAR</strong></p>
<p>Sabar? Sabar sepertinya memberi indikator kalah, menurut pandangan sementara orang. Kata sabar ini bisa menjengkelkan bagi yang tidak menyukai dan melawannya. Karena, sabar mengekang jiwa dan membakar emosi, yang bila tidak diledakkan akan menggetirkan diri. Betapa tidak, pada sisi lain, orang yang sabar sering dianggap kalah, rendah, tidak memiliki kekuatan dan seterusnya. Karena itu, sabar itu adalah hal yang memalukan. Inilah dia. Sabar sudah diberikan arti yang “keliru dan sumbang.” Mengapa? Sabar telah diberi bobot negatif, pesimis dan permisif. <span id="more-338"></span></p>
<p>Sabar telah menjadi negatif karena menunjukkan sikap orang lemah. Sabar memberi indikasi adanya gaya pesimistis. Sabar, katanya, membuat orang pesimis dan berkata, “inilah saya, saya tidak berdaya melawan,” pikir sementara orang. Sabar diartikan secara permisif, yaitu gaya “kesera-sera what will be will be” karena saya sudah begini, mau apa lagi. Melawan akan tetap kalah juga, jadi sabar saja, <em>jangan buat apa-apa</em>, katanya. Apakah sabar berarti seperti ini?  Namun, dari posisi yang benar, ternyata sabar memiliki keunggulan hebat. Mengapa demikian? Sabar sesungguhnya adalah dasar bagi sikap, sifat, dan kebiasaan hebat yang proaktif yang menghasilkan secara positif. Ingatlah ini: “Sabar itu <em>sober</em>! Sabar itu <em>subur</em>! Sabar itu <em>Zabur</em>! Dan sabar itu <em>shalom</em>!” Apa pula maknanya ini? Marilah kita mulai dengan mencerna makna sabar yang sesungguhnya dan implikasinya bagi keteguhan diri serta keberhasilan dalam hidup serta kepemimpinan.</p>
<p><strong>MAKNA SABAR YANG PAS</strong>. Sabar dan orang sabar dalam Amsal 16:32  Alkitab LAI edisi BIS, dilukiskan dengan pernyataan berikut, “<em>Tidak cepat marah, lebih baik dari pada mempunyai kuasa; menguasai diri lebih baik dari pada menaklukkan kota</em>.” Di sini sabar diartikan sebagai “tidak cepat marah” yang padanannya ialah “menguasai diri.” Makna dari “sabar” terlihat jelas di sini, yaitu <em>sikap tidak cepat marah dengan menguasai diri</em>. Di sini sabar menjelaskan bahwa si penyabar menempatkan <em>kehendak baik</em> (good will), dan <em>pikiran sehat</em> (healthy rationality) di atas <em>emosi</em>.  Sabar menjelaskan bahwa si penyabar berkemauan baik yang ditempatkannya di atas segala yang lain. Ia juga menempatkan pikiran sehat di atas apa pun, sehingga ia tidak membiarkan emosinya mengambil kendali dalam bersikap (menentukan sikap atau menyikapi) apa pun sebagai <em>respon </em>atau <em>reaksi </em>atas <em>aksi </em>atau <em>stimulus</em> yang datang dari luar. Si penyabar dengan menempatkan kehendak baik dan pikiran sehat di atas emosi maka ia terbukti dapat menguasai diri. Di sini emosi diberi tempat yang pas sebagai pendukung kehendak dan pikiran. Perhatikanlah, bahwa “orang yang tidak sabar sebenarnya hanya membiarkan emosinya berada di atas kehendak dan pikiran sehat,” sehingga responnya menjadi emosional.</p>
<p>Dengan respon emosional ini kehendak dan pikirannya dipaksakan untuk menuruti kemauan emosi, maka jadilah “marah” alias “tidak sabaran” kata orang. Sabar dalam artian ini menegaskan adanya <em>kehendak baik</em>, <em>kemauan baik, pikiran sehat</em> untuk menyikapi stimulus (yang dipersepsikan negatif) yang datang dari luar, sehingga sabar dianggap lebih baik dari kekuatan atau kuasa. Sabar menjelaskan tentang kadar penguasan diri yang tinggi serta teguh. Sabar menjelaskan adanya sikap menolak menerapkan kekuatan tanpa kemauan baik. Menerapkan kekuatan atau kuasa tanpa kemauan baik akan terlihat sebagai arogan dengan gaya mendominasi yang egoistis. Sabar adalah sikap menempatkan kemauan baik di atas emosi, dimana emosi berperan mengedepankan kehendak baik yang berapi-api, bukan sikap amarah yang emosional.  Sabar itu benar, baik, indah dan kuat.</p>
<p><strong>SABAR ITU SOBER</strong>. Sabar itu sober. Apa artinya ini? Sabar berati <em>sober</em>, dimana si penyabar sedang menggunakan pikiran jernih, “sober mind.” Sabar yang sober ini bukan saja memberikan tempat kepada pikiran sehat di atas emosi, tetapi <em>menjernihkan pikiran</em> dan menggunakan kejernihan itu untuk memandang dan memaknai stimulus yang datang dari luar, sebelum memberikan reaksi. Sabar yang sober akan membuat si penyabar bersikap empati yang objektif yang olehnya ia akan terlihat sebagai “orang berpengertian.” Penyabar sejati, dapat membuktikan diri sebagai orang berhikmat, dengan sober. Sabar dalam artian ini ialah “berpikir jernih” sebagai dasar untuk melakukan sesuatu tindakan (reaksi).  Sabar yang sober ini terlihat dalam Amsal 15:22b yang menegaskan, “<em>Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan</em>.” Jadi sabar yang sober, adalah jawaban bagi tindakan yang positif dan berhasil. Sabar itu sober, dimana penyabar adalah “pendengar yang bijaksana yang lambat berkata-kata dan lambat marah.” Ia sabar yang dibuktikan dengan pikiran jernih, sikap dan tindakan yang benar serta membawa kebaikan (Yakobus 1:19).</p>
<p><strong>SABAR ITU SUBUR</strong>. Sabar itu subur. Apa maksud dari pernyataan ini? Sabar itu subur mengimplikasikan akan dampak positif dari kesabaran. Sikap sabar mendemonstrasikan kebiasaan benar dan baik pada satu sisi, dimana kebiasaan benar yang baik tentu dilandasi karakter benar dan baik yang bersumber dari nilai etika serta moral yang benar. Sabar menjelaskan bahwa si penyabar berakal budi atau berbudi luhur (Yesaya 32:8), yang dinyatakan dalam sikap dan tindakan yang lemah lembut (Yakobus 3:13-18). Kebenaran tentang sabar yang subur ini disetir dalam Amsal 16:21 yang menegaskan, “<em>Orang yang bijak hati disebut berpengertian</em>” (TB) atau “<em>Orang yang bijaksana dikenal dari pikirannya yang tajam</em>” (BIS), sehingga ia dapat <em>mengendalikan diri</em> dan “<em>berbicara manis lebih dapat meyakinkan</em>” (TB) atau ia membutikan diri sebagai “<em>memiliki cara bicaranya yang menarik, membuat kata-katanya makin menguntungkan</em>” (BIS). Sabar yang subur ini ternyata membawa keuntungan dan kemanfaatan ganda. Pada satu sisi, si penyabar membutikan diri sebagai orang bijak, dan pada sisi lain ia terbukti memelihara hatinya dari yang jahat (Amsal 4:23). Di sini, melalui kesabaran ini, ia menyelamatkan dirinya serta hubungannya dengan orang lain (stimulan) dalam situasi seburuk apa pun. Sabar yang subur ini ternyata membawa kemanfaatan positif dan keuntungan besar.</p>
<p><strong>SABAR ITU ZABUR</strong>. Sabar itu zabur mengandaikan bahwa sabar membuat orang dapat bersyukur atau bermazmur dalam segala sesuatu untuk semua kondisi. Sabar dalam kaitan ini menjelaskan bahwa si penyabar yang mengendalikan emosinya, juga mengendalikan kata-katanya, yang olehnya ia membuktikan bahwa ia adalah “orang beribadah yang sejati” (Yakobus 1:26). Orang sabar menggunakan mulutnya untuk “memuji TUHAN” (I Tesalonika 5:16-18). Karena ia mengerti bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebajikan kepadanya” (Roma 8:28), sehingga ia tidak terpancing untuk bereaksi negatif atas stimulus dari luar, seperti kata-kata dan tidandakan seseorang kepadanya yang negatif dan menyakitkan sekali pun. Dengan sikap sabar seperti ini orang sabar “memelihara nyawanya dengan menjaga mulutnya” (Amsal 13:3, 6). Orang yang sabar menyadari bahwa “Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak” (Amsal 25:11). Sedangkan, orang yang tidak sabar dan tidak sabaran hanya mengucapkan kata-kata yang menghancurkan bagaikan “tikaman pedang” (Amsal 12:18). Sabar menempatkan si penyabar sebagai manusia bijak yang selalu menggunakan kata-katanya untuk memuliakan Allah dan meneguhkan sesama, karena itu sabar itu zabur.</p>
<p><strong>SABAR ITU SHALOM</strong>. Sabar itu shalom. Apa artinya ini? Sabar itu shalom, karena dengan bersikap sabar, si penyabar sedang membuktikan bahwa “ia adalah pengasih sejati” yang mengasihi dan membawa shalom. Si penyabar mengasihi karena ia mengerti bahwa “kasih itu sabar” (I Korintus 13:4a). Ia sabar karena ia menyadari bahwa ia dikasihi Allah, ia diampuni Allah (Kolose 3:12) sehingga ia mengalami damai sejahtera dalam hati, roh,  jiwanya. Dengan jamahan kasih TUHAN ini, si penyabar telah berdamai dengan Allah (Roma 5:9-11) dan menikmati shalom. Dengan kekuatan kasih itulah si penyabar memiliki kemampuan untuk mengampuni sesamanya, seperti ia telah diampuni oleh Allah (Banding: Matius 18:21-22, 23-35). Dengan sikap dan tindakan mengampuni seperti  ini si penyabar sedang menebar kedamaian bagi setiap orang yang ada di sekitarnya. Kualitas hidup baru yang dibangun di atas kasih Allah ini menyebabkan si penyabar mampu membuktikan kinerja yang berkualitas, karena ia dapat melakukan segala sesuatu sama seperti kepada Allah (Kolose 3:17, 23). Si penyabar sabar, karena sabar itu shalom!</p>
<p><strong>IMPLIKASI</strong>:</p>
<p>Anda tentu telah meilhat apa dan bagaimana memaknai serta menikati keuntungan dengan sabar serta mencitrakan diri sebagai penyabar sejati. Lihatlah kebenaran tentang sabar yang dapat meneguhkan, seperti  dibawah ini:</p>
<ul>
<li>Sabar mengandaikan adanya kekuatan pengendalian diri yang teguh, sehingga si penyabar bersikap proaktif positif yang konsisten. Sabar membuat ia mampu untuk tidak melukai dan tidak terluka.</li>
<li>Sabar menunjukkan adanya kualitas penguasaan pikiran yang terus dipertahankan sejernih-jernihnya, sehingga si penyabar akan selalu berpikir positif, sebagai dasar untuk berkata, bersikap dan bertindak positif. Ia akan terbukti selalu altruistik dengan adanya sikap sabar.</li>
<li>Sabar memberikan kekuatan kepada si penyabar untuk membuktikan diri sebagai berbudi luhur yang olehnya ia akan berpikir luhur, berkata luhur dan bertindak luhur. Ia akan selalu membangun.</li>
<li>Sabar memberikan kuasa yang meneguhkan si penyabar sehingga ia mampu untuk bersikap teguh dalam menghadapi kondisi nyata. Sabar meneguhkan si penyabar sehingga ia mampu bersyukur kepada Allah serta menjadi berkat bagi sesama dalam segala kondisi. Ia akan selalu rohani dan manusiawi.</li>
<li>Sabar mengaruniakan damai sejati kepada si penyabar yang olehnya ia menikmati shalom serta mampu menjadi alat perdamaian kepada sesama dalam hidup keseharian serta kerja. Sabar yang membawa damai ini akhirnya akan membawa hasil yang positif dan penuh berkat secara langgeng dalam kehidupan pribadi mau pun kepemimpinan. Ia akan selalu membawa berkat dan memberkati.</li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Praktekanlah, maka Anda akan tajub oleh khasiat sabar. Selamat membuktikan diri sebagai “pemimpin yang sabar” yang merupakan karakteristik pemimpin besar, demi keberhasilan hidup dan kepemimpinan</strong>!!!</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Salam dan doa,</p>
<p>Dr. Yakob Tomatala</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2011/03/31/apakah-benar-sabar-itu-menguntungkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MEMIMPIN DENGAN MEMBAGI HIDUP</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2011/03/31/memimpin-dengan-membagi-hidup/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2011/03/31/memimpin-dengan-membagi-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Mar 2011 22:57:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Information]]></category>
		<category><![CDATA[KEPEMIMPINAN]]></category>
		<category><![CDATA[membagi hidup]]></category>
		<category><![CDATA[memimpin dengan membagi hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=336</guid>
		<description><![CDATA[“&#8230;. Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Matius 20:28; Markus 10:45). PENGANTAR Perlulah disadari bahwa sesungguhnya kepemimpinan dan manajemen serta administrasi memiliki hubungan yang integral. Sebagai Ilmu, Kepemimpinan adalah ilmu induk yang di dalamnya terkait Ilmu Manajemen dan Ilmu Administrasi. Sebagai seni, Kepemimpinan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“&#8230;. <em>Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang</em>”</p>
<p>(Matius 20:28; Markus 10:45).</p>
<p><strong>PENGANTAR</strong></p>
<p>Perlulah disadari bahwa sesungguhnya kepemimpinan dan manajemen serta administrasi memiliki hubungan yang integral. Sebagai <em>Ilmu</em>, Kepemimpinan adalah ilmu induk yang di dalamnya terkait Ilmu Manajemen dan Ilmu Administrasi. Sebagai <em>seni</em>, Kepemimpinan mewadahi Manajemen dan Administrasi, dimana Manajemen adalah “fungsi umum kepemimpinan” yang menjelaskan bahwa tatkala kepemimpinan dijalankan, maka pemimpin memasuki kawasan manajemeni dan memanejemeni. Pada saat yang sama, tatkala Manejer memanejemeni, ia memasuki kawasan administrasi, yang merupakan “fungsi khusus kepemimpinan” yang menyentuh pekerjaan operasional di lapangan. Dalam kaitan ini dapat dikatakan bahwa tatkala pemimpin melaksanakan upaya memimpin (leading attempt) maka ia memanejemeni atau menerapkan manajemen dalam kinerja. Melihat kaitan di atas ini, kini timbul pertanyaan, apa sesunguhnya cara yang terbaik, dan bagaimana pemimpin memimpin, yang olehnya ia dapat mewujudkan upaya memimpin yang berkualitas serta dapat memimpin dengan benar, baik, sehat dan produktif. <span id="more-336"></span></p>
<p>Dalam upaya menjawab pertanyaan di atas, pemimpin yang bijaksana perlu memahami bagaimana ia melaksanakan upaya memimpin yang berkualitas sehingga ia dapat membawa organisasi yang dipimpinnya ke arah keberhasilan. Mewujudkan kepemimpinan yang berhasil, maka ada tiga hal khusus yang harus dicerna, disikapi dan diterapkan oleh setiap pemimpin yang arif, yaitu: <em>Pertama</em>, memanejemeni hati, membangun sikap yang meneguhkan hubungan; <em>Kedua</em>, memanejemeni hubungan mencipta situasi responsif dalam organisasi; dan <em>Ketiga</em>, memanejemeni kerja yang terfokus kepada keberhasilan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>MEMANEJEMENI HATI MEMBANGUN SIKAP YANG MENEGUHKAN HUBUNGAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Setiap pemimpin harus senantiasa menyadari bahwa dalam memimpin, ia akan selalu berhubungan dengan orang, yaitu para staf dan bawahan yang dipercayakan kepadanya. Dalam kaitan ini, tatkala pemimpin memimpin, maka ia dengan sendirinya memanejemeni. Hal yang dimanejemeni pemimpin adalah sumber-sumber, antara lain: orang (<strong>m</strong>en); teknologi (<strong>m</strong>achine), pasar (<strong>m</strong>arket); materi (<strong>m</strong>aterial); uang (<strong>m</strong>oney); waktu (<strong>m</strong>oment); infrastruktur (<strong>m</strong>ain infrasturctures); metode (<strong>m</strong>ethods) dan sistem manajemen (<strong>m</strong>anagement system). Di antara semua sumber yang dimanajemeni, <em>sumber orang</em> (men) atau <em>sumber daya manusia</em> (SDM) menempati kepentingan utama, untuk dimanajemeni pemimpin, sebagai bagian terpenting dari upaya memimpin. Hal pertama yang akan terlihat dalam upaya memimpin seorang pemimpin ialah bahwa ia berhubungan dengan orang dan memanejemeni orang. Soal apakah ia memanejemeni dengan benar dan baik ataukah tidak, adalah faktor lain, yang berkaitan erat dengan indikator memimpin secara berkualitas.</p>
<p>Menghubungkan pemimpin, upaya memimpin dan orang yang dipimpin, ternyata hubungan-hubungan ini difasilitasi oleh aktualisasi memimpin (actuating). Dalam kepemimpinan, hubungan-hubungan ini mengharuskan pemimpin mengawali upaya memimpinnya dengan memanejemeni <em>perilaku</em> (behaviour) dan <em>pola</em> (style) kepemimpinannya, sebagai bagian dari pembuktian upaya memimpin yang benar, baik dan sehat. Dengan kata lain, pemimpin hanya dapat memimpin orang lain dengan baik apabila ia memanejemeni perilaku dan pola kepemimpinannya dengan benar (effektif), baik (efisien) dan sehat (healthy attitude), sehingga ia terbukti dapat memimpin dengan menggerakkan (influencing) orang yang dipimpin secara berkualitas. Rahasia untuk memimpin secara berkualitas yang menghubungkan pemimpin, upaya memimpin dan orang yang dipimpin adalah: <em>Pertama</em>, Memiliki hati yang bijak dengan memintanya dari TUHAN Allah, sumber segala hikmat (I Raja-raja  3:9-14, 28; I Tawarikh 1:1-12). Dengan hati yang bijak, pemimpin memiliki kearifan yang dibuktikan melalui adanya integritas tinggi (benar, baik, adil, setia, jujur, dapat dipercaya, teguh, luhur – Lihat Filipi 4:5,8). <em>Kedua</em>, Menjaga hati sehingga hidup tetap lurus yang dibuktikan dengan pikiran (terbuka, proaktif, asertif), sikap, sifat,  kata, dan tindakan yang ditandai oleh kebaikkan tertinggi (Amsal 4:23-27); <em>Ketiga</em>, Mempercayakan hati kepada TUHAN Allah, yang akan meluruskan jalan, yang ditandai oleh kebijakkan yang sehat dan memuliakan TUHAN (Amsal 3:5-10).</p>
<p>Kebenaran tentang hati ini adalah rahasia memanejemeni diri (perilaku dan pola), sehingga pemimpin akan terbukti arif dalam berpikir (memiliki peradigma dan perspektif positif), bersikap, bersifat, berkata dan bertindak yang altruis (oriented others). Pemimpin yang memanejemeni dirinya dengan benar dan baik, adalah dia yang akan terbukti menguasai diri (self control) yang nampak dalam kata dan tindakan kepemimpinannya yang berbudi luhur (Yesaya 32:8), yang dengan sendirinya akan menyentuh hati orang yang dipimpin secara bijak pula. Dengan menyentuh hatinya sendiri terlebih dahulu, maka pemimpin dapat menyentuh hati orang lain dan dapat membuktikan diri memimpin secara berkualitas, karena penyentuhan dan pengendalian hati akan meneguhkan hubungan dengan orang lain, khususnya orang yang dipimpin (Matius 7:12).<a href="#_ftn1">[1]</a> <em>Keempat</em>, Memimpin dari hati, yang menggerakkan untuk bertindak, menyentuh sesama dengan belas kasihan yang tinggi yang olehnya pemimpin mengangkat, memulihkan menyembuhkan, meneguhkan dan memberkati (Matius 9:35-36). Dalam kaitan ini, dapat dikatakan bahwa pemimpin yang memanejemeni hatinya adalah pemimpin yang siap untuk memimpin dengan berbagi yang terbaik dari hidup, yaitu kehidupan yang berkualitas sebagai dasar bagi kepemimpinan berkualitas.</p>
<p><strong>MEMANEJEMENI HUBUNGAN MENCIPTA SITUASI RESPONSIF DALAM ORGANISASI</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Memanejemeni hubungan yang bersifat pribadi dan sosial dalam kepemimpinan adalah mencipta situasi responsif sebagai landasan untuk mewujudkan proses upaya memimpin yang berkualitas. Memanejemeni hubungan dalam hal ini adalah upaya untuk membangun jejaringan sosial yang harmonis, terbuka, lugas dan dinamis. Melalui jejaringan sosial seperti inilah pemimpin dapat menjalankan kepemimpinannya dengan menggerakkan orang yang dipimpin secara proporsional sehingga mereka dapat mewujudkan performansi tinggi. Sebagai landasan pijak untuk membangun hubungan responsif ini, perlulah disadari bahwa kepemimpinan berkaitan erat dengan sistem sosial atau masinesasi sosial dengan orientasi kemanusiaan yang kuat yang diwadahkan oleh organisasi. Di sini pemimpin bertanggung jawab untuk mencipta hubungan-hubungan kondusif yang akan beroperasi bagaikan mesin.<a href="#_ftn2">[2]</a> Dalam hubungan ini, manusia harus diperlakukan sebagai manusia, dimana hubungan perlakuan ini dengan sendirinya akan meneguhkan sikap pemimpin guna mencipta hubungan responsif di antara pemimpin, staf dan para bawahan. Hubungan responsif inilah yang menandakan adanya dinamika tinggi yang mengerakkan kehidupan organisasi. Dasar-dasar untuk meneguhkan pemimpin guna mencipta hubungan responsif ini dapat ditetapkan sebagai berikut ini. <em> </em></p>
<p><em>Pertama</em>, Pemimpin harus melihat sesama sebagai “mitra sewaris,” dengan status diri dan perannya yang sama sebagai “sesama pelayan, sesama hamba” (Matius 20:26-27; Markus 10:43-44; Lukas 17:10; I Korintus 3:9a). Di sini, sesama bagi pemimpin harus disikapi sebagai subjek, yang perlu diperlakukan dengan penuh penghargaan dengan menerima serta mengakui kompetensi, kapasitas dan andilnya bagi keberhasilan kepemimpnan. <em>Kedua</em>, Pemimpin harus memperlakukan sesama sebagai “pewaris keberhasilan bersama,” dengan sepenuhnya membangun hubungan di atas kepercayaan (trust) yang sama-sama memiliki tanggung jawab bagi keberhasilan bersama dengan komitmen pengabdian bersama yang tinggi  bagi keberhasilan kerja organisasi (Filipi 2:2-4; I Petrus 5:2). Dalam upaya menerapkan sikap ini, pemimpin harus menghargai potensi, kapasitas, cara kerja dan peran, serta kontribusi bawahan, yang olehnya mereka semakin merasa dilibatkan dan dipercayai sebagai pewaris keberhasilan bersama.  <em>Ketiga</em>, Pemimpin harus menjadi model dalam kehidupan etika-moral dan kinerja (benar, baik, sehat) dengan semangat juang tinggi (compelling spirit), sebagai pemimpin panutan dan pemimpin bertanggung jawab, yang berorientasi kepada membawa keuntungan (keberhasilan) bersama (Ibrani 13:7, 17; I Petrus 5:3-4; Nehemia 2:20).</p>
<p>Pemimpin yang menegaskan sikap dan orientasi seperti ini akan mewadahkan situasi kondusif bagi organisasinya, dimana staf dan bawahan akan merasa “memperoleh tempat layak dengan andil yang sama” dalam kepemimpinan, karena penghargaan, kepercayaan dan keteladanan-nya. Kondisi ini akan meneguhkan semua unsur manusia guna mematutkan sikap terhadap sesama, dan tugas, yang ditandai oleh adanya hubungan responsif berlandaskan kesadaran bahwa keberhasilan organisasi adalah keberhasilan bersama. Kesadaran ini hanya akan terwujud dengan adanya komitmen semua kompenen manusia kepada pengabdian serta kinerja berkualitas dan disiplin tinggi, yang olehnya akan tercipta sinergi yang saling mendukung dengan gerakan kerja yang simultan bagi keberhasilan bersama.</p>
<p><strong>MEMENEJEMENI KERJA YANG TERFOKUS KEPADA KEBERHASILAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dalam mewujudkan upaya memimpin dengan kinerja tinggi, pemimpin harus memastikan bahwa ia dan seluruh unsur manusia organisasinya berorientasi kepada memanejemeni kerja yang terfokus kepada keberhasilan. Memastikan upaya kerja yang terfokus kepada keberhasilan seperti ini, pemimpin perlu memanejemeni kerja dengan menemukan dan berbagi visi, dan misi organisasi, membangun suatu perencanaan strategis terpadu, serta menetapkan kerja serta berbagi tugas dengan orotitas, hak, kewajiban, tanggung jawab dan pertangungjawaban yang sepadan. Tindakan ini adalah langkah pemastian agar setiap setiap personel (SDM) organisasi dapat memainkan perannya dengan bekerja efektif, efisien dalam hubungan sehat yang dapat menghasilkan produk kerja yang optimal.</p>
<p>Sebagai landasan membangun upaya memanejemeni kerja yang terfokus kepada keberhasilan, pemimpin harus membangun <em>budaya organisasi</em> yang dilandasi oleh komitmen tinggi kepada kualitas, disiplin dan kinerja tinggi (comitment to quality, discipline and high performance) sebagai dasar untuk membangun manajemen organissi yang dinamis.</p>
<p>Dalam kaitan ini,  pemimpin bertanggung jawab untuk membangun pendekatan berikut. <em>Pertama</em>, Pemimpin membangun budaya kualitas yang diteguhkan di atas pendekatan “Manajemen Kualitas Total” (Total Quality Management) yang akan mewarnai pikiran, sikap, sifat, kata dan tindakan berkualitas, sebagai tulang punggung seluruh kehidupan, orientasi dan performa organisasi dengan daya kerja yang tinggi (Kejadian 41:46-57). <em>Kedua</em>, Pemimpin meneguhkan fokus orientasi kinerja yang terfokus kepada keberhasilan yang terukur (Yeremia 29:11; Kejadian 11:6; Nehemia 2:20a). <em>Ketiga</em>, Pemimpin harus menggalang komitmen bersama untuk mewujudkan kinerja berkualitas dengan etos kerja yang unggul (Kolose 3:17, 23). <em>Keempat</em>, pemimpin memobilisasi, menggerakkan upaya untuk bersinergi mewujudkan kerja yang berkualitas dengan menularkan semangat positif kepada kelompoknya (Nehemia 2:17-20). <em>Kelima</em>, Pemimpin memotivasi, menyemangati dan meneguhkan kinerja berkualitas ke arah keberhasilan bersama dengan memberikan reward (imbalan) dan dorongan positif (praising) yang meneguhkan rasa percaya diri setiap orang dalam kepemimpinannya (Hakim-hakim 4:4-24).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pemimpin sejati adalah “pemimpin pemberi hidup” (the life giving leader), yang memberi hidup (life giving), karena ia memiliki kehidupan (quality life) yang layak untuk dibagi. Pemimpin sejati yang adalah pemberi hidup, memberikannya dengan memanejemeni hatinya, membangun sikap yang meneguhkan hubungan. Ia juga harus memanejemeni hubungan-hubungan kemanusiaan, mencipta situasi kondusif dan mewadahkan hubungan responsif secara internal dengan meneguhkan budaya kualitas  dan memanejemeni meneguhkan kinerja tinggi, yang terfokus kepada keberhasilan. Diyakini, bahwa pemimpin yang memimpin seperti inilah yang akan melihat keberhasilan memihak kepadanya. Selamat membuktikan diri sebagai pemimpin pemberi hidup, yang memimpin dengan berhasil. Kiranya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Salam  dan doa,</p>
<p>Dr. Yakob Tomatala</p>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Sikap seperti ini akan meneguhkan pemimpin guna menjauhkan diri dari memimpin dengan tangan besi, yang akan merugikan dirinya sendiri (Matius 20:25-28; Markus 10:42-45; Amsal 14:34; 1629).</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Uraian lengkap tentang pokok ini dapat ditemukan dalam buku <em>Kepemimpinan yang Dinamis</em>, karya Y. Tomatala</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2011/03/31/memimpin-dengan-membagi-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PEMIMPIN BIJAK: MEMIMPIN DENGAN PENGARUH POSITIF</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2011/03/11/pemimpin-bijak-memimpin-dengan-pengaruh-positif/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2011/03/11/pemimpin-bijak-memimpin-dengan-pengaruh-positif/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Mar 2011 02:29:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[memimpin dengan pengaruh positif]]></category>
		<category><![CDATA[PEMIMPIN BIJAK]]></category>
		<category><![CDATA[pengaruh positif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=333</guid>
		<description><![CDATA[“Telah nyata kepadaku, bahwa TUHAN memberkati aku karena engkau” (Kejadian 30:27). PENGANTAR Kepemimpinan dapat dipahami dari berbagai sudut pandang. Salah satu sudut pandang tentang kepemimpinan adalah bahwa kepemimpinan itu melibatkan proses, pengaruh (influence), dan hubungan-hubungan. Karena itu, dapatlah dikatakan bahwa memimpin berarti mengisi proses upaya memimpin (leading attempt/ actuating) kepemimpinan dengan mempengaruhi orang yang dipimpin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<em>Telah nyata kepadaku, bahwa TUHAN memberkati aku karena engkau</em>” (Kejadian 30:27).</p>
<p>PENGANTAR</p>
<p>Kepemimpinan dapat dipahami dari berbagai sudut pandang. Salah satu sudut pandang tentang kepemimpinan adalah bahwa kepemimpinan itu melibatkan <em>proses</em>, <em>pengaruh</em> (influence), dan <em>hubungan-hubungan</em>. Karena itu, dapatlah dikatakan bahwa memimpin berarti mengisi proses upaya memimpin (leading attempt/ actuating) kepemimpinan dengan mempengaruhi orang yang dipimpin dalam hubungan-hubungan keorganisasian. Dari sini dapatlah dikatakan bahwa pengaruh secara spesifik beranjak dari kepribadian pemimpin,yang kalau karakternya positif, akan menularkan pengaruh positif, dan sebaliknya bila karakternya didominasi oleh unsur negatif, maka pengaruhnya tentu akan negatif. Philip Pulaski berkata, “<em>Orang yang berpengaruh andalah dia yang membawa dampak dalam kehidupan orang lain</em>.” Kalau begitu, kita tentu bertanya, bagaimana kita dapat membawa pangaruh positif yang memberkati orang lain dalam kepemimpinan kita? Dalam upaya menjawab pertanyaan ini, marilah kita memaknakan bagaimana kita dapat memimpin dengan membawa pengaruh positif yang memberkati.</p>
<p>1.       <strong>MEMBAWA PENGARUH POSITIF DARI HATI YANG BIJAK</strong>. Seorang pemimpin yang arif memahami bahwa  menjadi pemimpin baginya adalah suatu kehormatan. Kesadaran ini dibangun di atas kenyataan bahwa adalah kehendak TUHAN bagi seseorang untuk menjadi pemimpin dalam setiap organisasi, apa pun alasan dan caranya (Yohanes 3:27). Dari sudut pandang yang lain, menjadi seorang pemimpin dibangun di atas pembuktian diri sebagai seseorang individu yang kompeten. Ujung dari pembuktian diri ini ialah adanya pengakuan dari orang-orang yang memberikannya penghargaan dan kesempatan baginya menjadi pemimpin melalui berbagai macam cara (memilih, mewariskan, mengangkat, mencipta, dan atau merampas, dsb). <span id="more-333"></span></p>
<p>Apa pun cara dan alasannya seseorng menjadi pemimpin, pada saat seseorang terbukti menjadi pemimpin, ia memiliki kuasa kepemimpinan lengkap (complete leadership power, yaitu: kuasa keahlian, kuasa penghargaan sosial, kuasa mengimbali, kuasa bertindak tegas, kuasa legitimat, kuasa rohani) pada dirinya. Dengan kuasa kepemimpinan inilah maka pemimpin memiliki <em>pengaruh yang lengkap</em> untuk memimpin. Dalam hubungan ini, dapat diakatakan bahwa pengaruh adalah dinamika kuasa, dimana dengan pengaruh kepemimpinan inilah seorang pemimpin memimpin, yaitu mempengaruhi bawahannya secara terencana. Melihat hubungan integral antara pribadi pemimpin dan kuasa kepemimpinan yang melahirkan pengaruh kepemimpinan yang ada pada setiap pemimpin, dapat dikatakan bahwa pengaruh kepemimpinannya akan diwarnai oleh faktor pribadi, faktor kuasa kepemimpinan serta  sikap yang muncul dari kombinasi kedua faktor ini. Sikap yang mendominasi pengaruh kepemimpinan seorang pemimpin inilah yang akan nampak dalam proses memimpin, yang menghubungkan pemimpin dan bawahan dalam situasi yang tercipta oleh gaya dan perilaku pemimpin. Dalam hubungan ini akan nampak kadar kepribadian pemimipin yang mempengaruhi situasi kepemimpinan dari organisasi yang dipimpinnya. Di sini akan terlihat bahwa apabila kepribadian pemimpin adalah dominan positif, maka dari kepribadiannya akan terwujudlah  pengaruh kepemimpinan yang beorientasi positif dan sebaliknya. Karena itu, adalah merupakan pilihan sadar yang harus dilakukan pemimpin, berkenan dengan bagaimana ia merefleksikan dan mengekspresikan pengaruh kepemimpinan yang ada padanya dalam upaya memimpin yang dilakukannya. Meneguhkan sikap yang membawa pengaruh positif, Firman TUHAN menegaskan bahwa “ &#8230; <em>orang yang luhur budinya merencanakan hal-hal yang luhur dan bertindak luhur pula</em> (Yesaya 32:8 BIS). Karena itu, Firman Allah menasihatkan, “<em>Sebab itu, perhatikanlah baik-baik cara hidupmu. Jangan hidup seperti orang-orang bodoh; hiduplah seperti orang-orang bijak</em>” (Efesus 5:15 BIS). Berdasarkan kebenaran Firman ini, dapatlah ditegaskan bahwa pemimpin hanya dapat mengimpartasi pengaruh positif dari hati yang bijak, melalui gaya dan perilaku khas untuk memimpin (mempengaruhi) para bawahan.</p>
<p>2.       <strong>MEMBAWA PENGARUH POSITIF DARI HATI YANG MEMBERKATI</strong>. Pemimpin yang bijak akan menyadari bahwa kepemimpinan yang ada padanya yang merupakan kepercayaan dan pemercayaan, adalah suatu kesempatan yang langkah, yang tidak akan terulang dua kali. Kesempatan langkah ini sesungguhnya merupakan momentum yang akan mewarnai upaya memimpin sang pemimpin dengan dampak serta efeknya yang panjang. Dalam kaitan ini, seorang pemimpin yang bijak akan menyadari betapa penting baginya untuk melaksanakan upaya memimpin dalam oprganisasinya dengan orientasi pengaruh positif, yang akan membawa akibat positif bagi kepemimpinannya. Berdasarkan uraian terdahulu, dapatlah dikatakan bahwa pengaruh positif pemimpin sesungguhnya beranjak dari sikap hati yang merupakan pilihan bertanggung jawab untuk menerapkan gaya dan perilaku positif. Gaya dan perilaku positif pemimpin inilah yang akan terbukti melalui pengaruh positif yang menyentuh dan menggerakkan setiap orang di sekitarnya. Dapat pula ditegaskan bahwa dari sikap hati yang positif sajalah pemimpin dapat memberkati kepemimpinannya dengan mengimpartasi kehidupan melalui pengaruh positif (Amsal 4:23). Penegasan ini membenarkan bahwa pemimpin yang melaksanakan upaya memimpin melalui gaya dan perilaku positif sajalah yang akan mampu menggerakkan bawahan secara positif, karena mereka termotivasi oleh faktor positif yang mempengaruhi mereka dalam proses memimpin. Dari sini dapatlah dikatakan bahwa pemimpin yang menjaga hatinya selalu bersih akan menemukan bahwa ia terbukti dapat menjalankan upaya memimpin secara positif dengan dampak dan hasil positif yang memperkati. Di sini seorang pemimpin yang arif akan selalu meneguhkan dirinya dengan kesadaran bahwa apabila ia bertanggung jawab menjaga hatinya, maka akan ada pengaruh positif yang memberkati sesama, seperti yang dikatakan oleh Dallas Willard, “<em>Mereka yang memiliki hati yang terjaga baik adalah orang-orang yang dipersiapkan dan mampu menanggapi situasi kehidupan dengan cara yang baik dan benar</em>.” Di sini dapat disimpulkan bahwa orang yang hatinya terjaga baik sajalah yang dipersiapkan untuk menjadi pemimpin yang memberkati dengan pengaruh positif. Kalau begitu, dapatlah dikatakan bahwa pengaruh positif dari hati pemimpin yang terjaga sajalah yang akan membawa berkat melalui sifat, sikap, kata dan tindakan pemimpin yang nyata dalam mengekspresikan pengaruh positif melalui upaya memimpin yang membawa berkat.</p>
<p>3.       <strong>MEMBAWA PENGARUH POSITIF DENGAN HIDUP SEBAGAI TELADAN PEMIMPIN ROHANI</strong>. Telah ditegaskan sebelumnya bahwa kepribadian pemimpin dan kuasa kepemimpinan dari seorang pemimpin melahirkan pengaruh kepemimpinan yang mewarnai gaya dan periakunya. Karena itu telah dikatakan bahwa pemimpin yang bijak sajalah yang akan mampu untuk mengembangkan gaya dan perilalu yang positif dalam kepemimpinan melalui hidup, sifat, sikap, kata dan perbuatannya. Dalam upaya membawa pengaruh positif melalui hidup dan kepemimpinan, Rasul Paulus sebagai Pemimpin Senior menasihati Timotius denganmengatakan, “<em>Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kesetiaanmu, dalam kesucianmu. &#8230; Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertelunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau</em>” (I Timotius 4:12b, 16). Penegasan Firman Allah ini memberikan tanggung jawab bagi pemimpin untuk membuktikan diri sebagai pemimpin teladan dalam kehidupan keseharian. Dapat dikatakan bahwa pemimpin yang mematutkan dan mengontrol dirinya adalah dia yang mampu memberikan teladan yang membawa pengaruh positif bagi orang-orang yang dipimpinnya. Pemimpin yang membawa pengaruh positif, menjelaskan bahwa ia sedang memimpin ke arah yang benar (efektif), baik (efisien) dan sehat (healthy relations), yang dengan sendirinya akan meneguhkan orang-orang yang dipimpinnya. Di sini dapat dikatakan bahwa pemimpin yang memimpin dengan mempengaruhi secara positif akan meneguhkan kepemimnipinan dan membawa organisasinya ke arah sukses. Landasan bagi sukses seperti ini adalah karena pengaruh positif akan menggairahkan semua komponen manusia untuk terlibat aktif karena merasa dihargai, dan akan menghambat pengaruh negatif yang menimbulkan ketegangan. Mempengaruhi secara positif melalui teladan seperi ini dengan sendirinya akan menularkan lingkaran efek positif yang meneguhkan hubungan kemanusiaan, yang pada gilirannya menopang sinergi yang bergerak simultan menggapai sukses organisasi.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>REFLEKSI</strong>:</p>
<p>Telah diuraikan di atas tentang prinsip memimpin dengan pengaruh positif, cara Alkitab. Dengan demikian, pemimpin dapat mewujudkan kepemimpinannya dengan gaya dan perilaku yang berkualitas, melalui penerapan  prinsip  kepemimpinan berikut:</p>
<p><em>Pertama</em>, Pemimpin dapat memimpin dengan pengaruh positif yang berakar dari hati yang membentuk kepribadian dan kuasa kepemimpinan yang melahirkan gaya dan perilaku dengan pengaruh positif. Pengaruh positif dalam diri pemimpin hanya dapat dibangun dari hati yang terjaga oleh kasih karunia TUHAN. Dengan menjaga hati sajalah pemimpin dapat mempengaruhi secara positif melalui kekuatan positif yang membuatnya menjadi proaktif dalam melaksanakan upaya memimpin yang berkualitas.</p>
<p><em>Kedua</em>, Pemimpin dapat menerapkan pola dan perilaku memimpin dengan pengaruh positif yang memberkati orang yang dipimpin, apabila ia membuktikan bahwa dari hatinya yang terjaga baik, ia memberkati orang-orang yang dipimpin melalui mempengaruhi secara positif. Dapat dipastikan bahwa pemimpin yang memberkati melalui sifat, sikap, kata dan perbuatan benar, baik dan sehat dalam upaya memimpin, adalah dia yang pasti mampu menyiapkan situasi positif yang kondusif yang meneguhkan organisasi untuk menjadi organisasi pemberkat.</p>
<p><em>Ketiga</em>, Pemimpin dapat membuktikan kualitas kepemimpinannya dengan menggunakan pola dan perilaku kepemipinan yang bijak melalui keteladanan hidup positif. Pemimpin dengan keteladanan hidup positif adalah dia yang layak serta mampu mengimpartasi kehidupan dan harapan sukses dalam kepemimpinan yang diembannya melalui mempengaruhi secara proaktif. Pemimpin yang menerapkan memimpin dengan mempengaruhi yang positif bukan saja tidak terkejar, tetapi sekaligus menyiapkan jalan sukses yang langgeng bagi oraganisasinya, dimana akan ada sikap saling menghargai dan saling mendukung dalam proses kepemimpinan yang pasti membawa sukses.</p>
<p><strong>Selamat membuktikan pola dan perilaku memimpin dengan pengaruh positif cara Alkitab, demi sukses organisasi yang memberkati setiap orang dalam kepemimpinan yang diemban, sekarang dan di masa yang akan datang</strong>!!!</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Jakarta, Maret 2011</p>
<p>Dr. Yakob Tomatala</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2011/03/11/pemimpin-bijak-memimpin-dengan-pengaruh-positif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PEMIMPIN ARIF, MEMIMPIN DENGAN MENGASIHI SEBAGAI GAYA KEPEMIMPINAN YANG ALTRUIS [1]</title>
		<link>http://yakobtomatala.com/2011/02/17/pemimpin-arif-memimpin-dengan-mengasihi-sebagai-gaya-kepemimpinan-yang-altruis-1/</link>
		<comments>http://yakobtomatala.com/2011/02/17/pemimpin-arif-memimpin-dengan-mengasihi-sebagai-gaya-kepemimpinan-yang-altruis-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Feb 2011 04:01:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Information]]></category>
		<category><![CDATA[PEMIMPIN DENGAN MENGASIHI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakobtomatala.com/?p=329</guid>
		<description><![CDATA[PEMIMPIN ARIF, MEMIMPIN DENGAN MENGASIHI SEBAGAI GAYA KEPEMIMPINAN YANG ALTRUIS [1] “Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah kepada mereka yang menganiaya kamu” (Matius 5:44). PENGANTAR Kasih, adalah istilah yang sangat populer. Kata yang satu ini sangat dikenal oleh setiap insan secara umum. Pada sisi lain, kasih itu sesungguhnya secara khusus  meneguhkan, menyatukan, mengikat orang-orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PEMIMPIN ARIF, MEMIMPIN DENGAN MENGASIHI SEBAGAI GAYA KEPEMIMPINAN YANG ALTRUIS <a href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a></strong></p>
<p>“<em>Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah kepada mereka yang menganiaya kamu</em>” (Matius 5:44).</p>
<p><strong>PENGANTAR</strong></p>
<p><em>Kasih</em>, adalah istilah yang sangat populer. Kata yang satu ini sangat dikenal oleh setiap insan secara umum. Pada sisi lain, kasih itu sesungguhnya secara khusus  meneguhkan, menyatukan, mengikat orang-orang yang berbeda satu dengan yang lainnya, laki-laki-perempuan, tua-muda, besar kecil, hitam-putih, dan melewati semua perbedaan, karena sifatnya yang sangat khas (I Korintus 13). Kata ini menyentuh lubuk hati, menyentuh roh dan jiwa manusia, menyentuh pribadi pada level yang terdalam, bahkan dapat mengikat secara multi-individu.  Dari perspektif yang lain, kasih yang begitu melekat pada hati dan lidah setiap orang telah dimaknai secara berbeda, sehingga diekspresikan juga secara berbeda. Dalam upaya mengekspresikan kasih secara benar dalam kepemimpinan, langkah penting adalah memahami maknanya. <span id="more-329"></span></p>
<p>Memahami makna kasih, istilah-istilah <em>Yunani</em> untuk kata ini adalah <em>eros</em> (kasih hubungan antara dua jenis kelamin yang berbeda, laki-laki dan perempuan); <em>filea</em> (kasih hubungan persahabatan); <em>storge</em> (kasih hubungan keluarga); dan <em>agape</em> (kasih ilahi, kasih yang ada hanya pada TUHAN Allah). Perbedaan kasih yang lain dengan agape ialah bahwa agape adalah kasih yang tidak bersayarat, yang rela untuk memberi, melepaskan, tidak menuntut, dan yang berkorban tanpa pamrih, bahkan siap untuk hancur demi kebaikan yang dikasihi. Sedangkan semua kasih yang lain adalah kebalikkan dari kasih agape ini. Kasih agape memiliki kekuatan mengikat dan membebaskan yang melampaui segala kekuatan lain. Kasih agape ini dapat memulihkan secara tuntas, walaupun diancam oleh keambrukkan serta kerusakkan hubungan yang terparah sekali pun. Ia dapat merupakan dan menjadi segalanya, karena “kasih agape ini adalah atribut-Nya TUHAN Allah.” Untuk memaknakan, mendalami dan menerapkannya, marilah kita menyimaknya bersama.</p>
<p><strong>KASIH ADALAH HAKIKAT CARA MENG-ADA-NYA TUHAN ALLAH</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Telah diuraikan secara umum makna dari kasih itu, dan secara khusus membedakan kasih agape dari kasih yang lainnya. Dalam pemahaman ini, bila Firman Allah menegaskan bahwa “<strong>Allah adalah KASIH</strong>” (I Yohanes 4:8b), maka kebenaran tentang Allah yang adalah Maha KASIH ini melebihi segala bentuk kasih yang ada dan yang dapat dipahami. KASIH dalam kaitan ini adalah “atribut” (attribute – sifat khas) <strong>TUHAN Allah</strong>, yang menjelaskan tentang HAKIKAT-NYA yang berdaulat dan cara IA meng-ADA (menyatakan keberadaan-Nya) di tengah-tengah ciptaan-Nya. Kebenaran ini menegaskan bahwa Allah dengan sendirinya mengasihi semua manusia di seluruh tempat dan segala abad, tanpa pembedaan agama, suku, ras, bangsa, jenis kelamin, usia, pendidikan, status sosial, hunian secara geografis, denominasi gereja, bahkan kondisi moralitas, dimana Allah mengasihi sebegitu rupa yang olehnya “<em>IA menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang benar dan orang yang tidak benar</em>” (Matius 5:45b). Dengan kekuatan kasih-Nya ini, Allah menyatakan kepedulian-Nya kepada manusia tanpa menuntut, tanpa bersyarat. Karena itu, oleh anugerah-Nya yang kekal, IA menghadirkan rahmat-Nya yang menyelamatkan manusia berdosa di dalam serta melalui YESUS KRISTUS (Yohanes 3:16). Ini adalah kebenaran yang menjelaskan cara Allah menyelesaikan masalah manusia (Roma 3:23; 6:23), yang olehnya <em>manusia dimanusiakan</em> yang salah satu indikatornya ialah “manusia dapat mengasihi sesamanya manusia” sebagai bagian imbasan kasih Allah yang telah diterimanya.</p>
<p><strong>ALLAH ADALAH KASIH MENGHARUSKAN KASIH BAGI SESAMA</strong></p>
<p>Kebenaran tentang “Allah yang adalah kasih” (I Yohanes 4:8b) menegaskan tuntutan kasih itu sendiri, yaitu bahwa “kasih yang berasal dari Allah itu mengharuskan mereka yang telah tersentuh kasih-Nya untuk mengasihi, sebagaimana mereka telah dikasihi” (I Yohanes 4:7-8; Yohanes 13:34-35). Dalam kaitan ini, mereka yang telah mengalami lawatan cara-ber-ADA-Nya Allah, yaitu mereka yang telah mengalami kasih-Nya yang menyelamatkan, memiliki tanggungjawab untuk “mengasihi sesama” tanpa syarat sama seperti mereka telah dikasihi oleh Allah. Bagaimana seharusnya kasih Allah itu dinyatakan dalam realita kehidupan keseharian:</p>
<ul>
<li>Kasih Allah yang membawa transformasi kehidupan itu memberikan kekuatan untuk hidup bagi Allah dengan mengasihi DIA (Ulangan 6:5; Matius 22:37-40) dan mengabdi bagi kemuliaan-Nya (II Korintus 5:17; 13-15). Indikator penting bagi kebenaran ini ialah adanya kemauan baik untuk hidup dalam cara hidup etika-moral yang benar (hidup kudus), sebagai tanda dan bukti bahwa kita memberikan prioritas bagi pengabdian kepada TUHAN Allah yang dinyatakan dalam sepanjang kehidupan pada segala bidang hidup (I Petrus 1:15-16). Indikator lain ialah bahwa kita hidup bagi TUHAN Allah dengan mencerminkan kasih-Nya dalam hidup dan perbuatan, sehingga IA dimuliakan (I Yohanes 3:11-18; Roma 11:36).</li>
</ul>
<ul>
<li>Kasih Allah meneguhkan sikap altruis untuk mengasihi sesama “tanpa batas, dan tanpa syarat” dengan penyentuhan yang manusiawi yang melebihi batas-batas hubungan primordial dan melebihi kepentingan golongan (I Yohanes 4:7-12; 2:7-13; Yohanes 13:34-35; Matius 22:34-40). Sikap altruis ini akan nyata dengan tindakan “menangis dengan mereka yang menangis, berbagi dengan mereka yang sekarat dan tidak berpunya,” siapa pun mereka. Sikap ini harus nyata dalam kehadiran yang menghadirkan kebenaran dan keadilan yang membawa kedamaian, rasa aman, sejahtera, ketenteraman dan kecukupan bagi sesama di mana pun kita berada, sebagai indikator kasih sejati yang dihidupi secara nyata (Yesaya 32:1-2,17).</li>
</ul>
<ul>
<li>Kasih Allah memberikan kekuatan untuk berpihak kepada kebenaran dan keadilan dengan menghargai hak sesama untuk hidup berdampingan dalam masyarakat sebagai insan milik Sang Khalik (Yesaya 32:8). Kekuatan kasih ini meneguhkan untuk menjadi manusia pembangun yang membangun sesama dengan sepenuh hati tanpa sikap tendensius yang negatif. Kenyataan ini dengan sendirinya membenarkan kebenaran yang dinyatakan dalam frasa “<em>Orang benar mengetahui hak orang lemah, tetapi orang fasik tidak mengertinya</em>” (Amsal 29:7). Semua ini dapat terjadi melalui kita, oleh kasih yang dikaruniakan oleh TUHAN Allah kepada mereka yang dikasihi-Nya.</li>
</ul>
<p><strong>REFLEKSI</strong></p>
<p>Menyimak kebenaran tentang pokok, “Pemimpin arif, memimpin dengan mengasihi sebagai gaya kepemimpinan yang altruis,” kini perlu dipertanyakan, mengapa pemimpin perlu mengasihi, dan mengasihi tanpa pandang buluh ini? Dalam upaya menegaskan kebenaran ini, maka beberapa prinsip yang harus ditegakkan adalah antara lain:</p>
<ul>
<li>Pemimpin harus mengasihi tanpa pandang buluh yang merefleksikan pengenalannya akan TUHAN Allah, bahwa ia telah mengalami kasih Allah yang membebaskannya dari dosa; dan bahwa ia hidup mencerminkan kemuliaan Allah dengan mengasihi (Yohanes 3:16, 25). Kasih memampukan pemimpin untuk memberlakukan sikap altruis terhadap setiap orang sebagai sesama yang olehnya ada gambaran serta pembuktian ketaatannya akan kehendak Allah dan memuliakan nama-Nya, menjadi berkat dalam kepemimpinannya (Yohanes 13:34-35; Matius 22:34-40; Roma 13:8; 11:36).</li>
</ul>
<ul>
<li>Pemimpin harus mengasihi sebagai kekuatan etika moral agung yang mampu mengasihi melewati kekuatan kemanusiaan (I Korintus 13), yang olehnya ia menggunakan kuasa kepemimpinan secara bertanggung jawab (I Petrus 5:1-4; Roma 14:1-12). Dengan menggunakan kuasa secara bertanggung jawab, Pemimpin terhindar dari sikap arogan  dimana ia akan lebih manusiawi dalam sikap serta tindakannya.</li>
</ul>
<ul>
<li>Pemimpin harus mengasihi, karena alasannya ialah bahwa dengan mengasihi, pemimpin menunjukkan harkat diri sebagai pemimpin yang memiliki sikap hati mulia sebagai pemimpin bermartabat tinggi (Yesaya 32:8) dan membuktikan kebijaksanaannya sebagai pemimpin sejati yang berjiwa besar, tidak pandang muka, tidak primordialis (I Raja-raja 3:1-28).</li>
</ul>
<ul>
<li>Pemimpin harus mengasihi karena dengannya ia dapat membuktikan adanya kekuatan istimewa padanya untuk membangun sikap dan menyikapi sesama secara altruis, melebihi harkat manusia yang cenderung egois dan memiliki keinginan menguasai atau mendominasi sesama. Dengan mengasihi, pemimpin akan terbukti bersikap bijak (mengatasi kelemahan kemanusiaannya) dan ia dapat memberlakukan gaya yang konsiderat (bersikap penuh pertimbangan kritis positif) dengan sikap arif terhadap orang yang dipimpinnya (I Yohanes 4:7-12).</li>
</ul>
<ul>
<li>Pemimpin harus mengasihi, karena dengan kasih, ia meneguhkan dirinya dengan disiplin dan penguasaan diri yang menggambarkan adanya daya ekstraordinari untuk bertahan menghadapi tekanan serta kesulitan dan rela berkorban dalam menjalankan kepemiminannya. Kasih memampukan Pemimpin untuk mengabaikan kepentingan diri dan kelompok sendiri, serta mengabdi bagi kepentingan yang lebih besar, meneguhkan organisasi, memberkati banyak orang. Kasih memberikan kekuatan kepada pemimpin untuk mengatasi krisis kepemimpinan dengan pertimbangan benar, baik, sehat, matang serta dewasa yang menyelesaikan masalah dan memuaskan semua pihak (I Korintus 13:13; II Korintus 5:13-14).</li>
</ul>
<ul>
<li>Pemimpin sejati harus mengasihi, karena mengasihi adalah cara terbaik meneguhkan persekutuan berkat (Mazmur 133; Filipi 2:1-11) serta membina hubungan harmonis yang mengokohkan kerjasama (sinergi kelompok) untuk menyiapkan tindakan yang simultan dalam kepemimpinan dan menguatkan perannya dengan melayani dari hati (Markus 10:41-45), yang menjamin sukses dalam kepemimpinan. Mengasihi membuat Pemimpin mudah berendah hati, serta menghargai potensi, cara kerja dan sumbangsih setiap semua komponen manusia sehingga proses kepemimpinan dapat berjalan sinergis, simultan dan dinamis yang menghasilkan secara maksimal serta membawa sukses.</li>
</ul>
<p>Selamat memimpin dengan mengasihi tanpa pamrih dan membuktikan diri sebagai pemimpin arif yang sukses karena ia mengasihi yang berorientasi kepada sesama.</p>
<p>Salam dan doa,</p>
<p>Pdt. Dr. Yakob Tomatala</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Pokok ini pernah ditayangkan dalam Acara TVRI yang disponsori oleh YAKOMA PGI dengan judul: “<em>Kasih Allah untuk semua</em>.”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakobtomatala.com/2011/02/17/pemimpin-arif-memimpin-dengan-mengasihi-sebagai-gaya-kepemimpinan-yang-altruis-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

