YT Leadership Foundation





Archive for the ‘Articles’ Category

Firman Allah:
“Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini” (Ulangan 29:29).

Pengantar

Sikap orang Kristen menghadap-hadapkan dan mempertentangkan doktrin atau ajaran yang dianut, telah berakar dalam sejarah yang panjang. Hal seperti ini terjadi, karena ada yang berpendapat, penafsiran saya atas Alkitab lebih benar dan menyalahkan pandangan yang lain. Pada sisi lain, dalam menyikapi wabah Covid-19, orang Kristen cenderung melihatnya dari beberapa sudut pandang dan dapat bersilih paham.

Ada yang percaya bahwa TUHAN Allah berdaulat, dan percaya akan kesembuhan illahi, namun menjadi bingung, karena doanya meminta mujizat seolah tidak terjawab. Ada yang percaya TUHAN, tetapi tidak percaya mujizat, dan menolak ajaran tentang mujizat kesembuhan illahi. Ada juga yang skeptis dan masa bodoh terhadap semua ini. Dalam upaya mendiskusikan pendapat-pendapat di atas, maka ada beberapa pokok yang akan dipercakapkan:

Pertama, PERSPEKTIF BAHASA, TUHAN, DAN IMAN

Melihat dari sudut pandang antropologi, segala sesuatu yang memiliki bentuk, melekatkan padanya arti atau makna, fungsi serta tujuan. Bentuk apa pun, memiliki “nama” yang adalah simbol bentuk, arti, fungsi dan tujuan. Dengan demikian, bentuk apa saja dalam setiap kebudayaan, telah diberi nama sebagai simbol bentuk dengan arti serta fungsi khusus yang melekat padanya. Bentuk ini pun telah diberi nilai yang dibakukan dalam worldview, yang adalah pusat pembakuan nilai.

Dari worldview ini terbentuklah model berpikir (paradigm) yang dari padanya ada titik atau sudut pandang (perspective) untuk melihat dan memaknai serta menyikapi diri dan segala sesuatu di sekitarnya. Dari sisi ini, bahasa adalah sejenis bentuk yang memiliki arti atau makna, fungsi dan tujuan yang melekat dalam worldview.

Bentuk, makna, fungsi dan tujuan “bentuk bahasa” telah menjadi milik korporat suatu masyarakat, dan menjadi realitas yang mendasari paradigma dan perspektif untuk melihat segala hal yang ada pada dirinya dan yang ada di luarnya. Karena itu, sudah dapat diduga bahwa “bentuk bahasa yang sama” dapat memiliki makna atau arti, fungsi dan tujuan berbeda dalam benak setiap orang. Dengan demikian, jika menyebut TUHAN, iman dan mujizat, tentu mengandung implikasi bentuk, arti, fungsi dan tujuan yang berbeda.

A. Perspektif Bahasa:

Melihat uraian di atas, dapat diduga bahwa tatkala berbicara tentang TUHAN, iman, dan mujizat, setiap orang sudah melekatkan arti, fungsi dan tujuan yang berbeda padanya. Orang menggunakan kata TUHAN, iman dan mujizat yang sudah diberikan arti, fungsi dan tujuan yang berbeda-beda, yang menjadi dasar bagi paradigma dan perspektif yang berbeda. TUHAN, iman dan mujizat dari perspektif teologisme dan dari perspektif antropomorfisme memiliki tekanan yang juga berbeda, yang beranjak dari realitas yang berbeda di dalam benak.

Perbedaan realitas dalam benak menghasilkan kesimpulan yang berbeda, dan mempengaruhi sikap yang juga berbeda. Dalam hubungan ini, dapat dikatakan bahwa bahasa TUHAN dalam Pikiran TUHAN adalah “an sic” TUHAN dan hanya dipahami TUHAN. Bahasa TUHAN dalam pengertian bahasa tentang TUHAN haruslah bersifat teologisme, yang bertitik anjak dari Diri-Nya, penyataan-Nya (self disclosure-Nya), pernyataan-Nya (self revelation) dan tindakan-Nya yang Mahalengkap sempurna, yang terdapat di dalam Alkitab (Firman TUHAN Allah). Dengan demikian, jika kita menegaskan bahwa TUHAN Allah berdaulat, maka seharusnya kita menerima bahwa tidak ada yang mustahil bagi DIA.

B. Perspektif TUHAN:

Uraian di atas menjelaskan bahwa pandangan tentang hakikat TUHAN dan cara mengurai pengetahuan tentang DIA yang menegaskan perbedaan ekspresi dengan pendapat yang berbeda. Sebagai contoh jika seseorang menggunakan pendekatan berpikir ilmu yang antropomorfisme tentang TUHAN, maka ia akan menjelaskan kata “Allah mengeraskan hati Firaun” (Keluaran 4:21; 3:19, dsb) dengan cara yang analog manusia, sehingga TUHAN dipahami secara keliru.

“TUHAN dianggap keras, dan bertanggung jawab atas sikap Firaun, karena IA tidak adil jika menghukum raja Mesir ini, sebab IA-lah yang mengeraskan hatinya.” Padahal, jika dilihat dari sudut pandang teologisme, dan perbahasaan, maka dapat dipahami bahwa TUHAN Allah yang berdaulat, memiliki atribut Mahatahu (Keluaran 3:19), Mahakuasa, Mahaadil, Mahabijak, Mahakasih, dsb., (atribut yang terkomunikasi) dan atribut Mahasempurna lainnya (atribut yang tidak terkomunikasikan) di mana IA pasti menetapkan apa pun, mengetahui apa pun, pasti adil dan pasti bijak (Roma 11:36).

TUHAN Allah yang Mahatahu, mengetahui bahwa Firaun akan berkeras dan mengeraskan hatinya (Keluaran 3:19), dan terbukti bahwa Firaun mengeraskan hatinya (Keluaran 4:21,30; 7:13,22-23; 8:15,19,32; 9:7,12,34-35; 10:20). Dengan demikian, istilah “TUHAN mengeraskan hati” seharusnya dijelaskan sebagai “IA membiarkan Firaun dalam kekerasan hati” (Mazmur 81:13; Roma 1:24), maka tatkala IA menghukum IA terbukti Mahaadil (Ibrani 3:7-11; Roma 1:18; 2:8; Pengkhotbah 12:14).

Perlu disadari, bahwa kebiasaan dan cara membahasakan apa pun yang bersumber dari worldview, cenderung menghadirkan perbedaan yang nampak pada sikap, kata serta tindakan nyata. Dalam kaitan ini, setiap upaya tafsir serta berpikir tentang TUHAN, iman dan mujizat, harus diawali dengan bertanya, “apakah saya berpikir seperti TUHAN Allah berpikir, atau saya berpikir seperti saya berpikir dengan kerangka realitas budaya dan kebiasaan tafsir di dalam benak saya?” Berpikir seperti TUHAN berpikir, adalah upaya yang maharumit, karena siapakah yang mengetahui pikiran TUHAN? (I Korintus 2:16; Roma 11:34).

Namun yang dimaksudkan di sini adalah jika berbicara tentang TUHAN, iman dan mujizat, maka titik tumpuh berpikir haruslah dimulai dari TUHAN, yang dimaknai secara tekstual dan kontekstual dalam proses penafsiran.

Disusul dengan membahasakan tentang TUHAN dari perspektif hakikat (substansi, esensi, eksistensi) dan atribut-atribut serta tindakan-tindakan-Nya yang Mahasempurna serta Mahalengkap, terencana dan terlaksana sempurna. Dari uraian di atas ini terlihat bahwa kesalah pahaman dan tafsir yang berbeda tentang TUHAN terletak pada titik tumpuh penalaran yang antropomorfisme atau yang teologisme.

C. Perspektif TUHAN, IMAN, DAN ILMU:

Bahasa TUHAN dan Bahasa Iman serta Bahasa Ilmu adalah hal yang berbeda. Bahasa TUHAN adalah bagaimana TUHAN memandang diri-Nya dan bagaimana seharusnya berbicara tentang TUHAN dengan pendekatan yang teologisme, seperti yang telah diuraikan di atas. Bahasa iman adalah membahasakan TUHAN dari sudut pandang apa yang dipercayai tentang TUHAN. Membahasakan apa yang dipercayai tentang TUHAN cenderung bersifat eksklusif dan diabsolutkan.

Dengan demikian, tatkala orang mengatakan bahwa “saya percaya, atau menurut keyakinan saya, dan seterusnya, … maka orang cenderung mempertahankannya, dan mengabaikan serta bisa merendahkan kepercayaan orang lain.”

Karena itu, sudah dapat diduga bahwa bahasa Iman inilah yang dapat menjadi faktor persilangan pendapat selama ini yang menyisahkan perbedaan sengit, “saya benar, Anda salah.” Pada sisi lain, perlulah disadari bahwa bahasa Iman dan bahasa Ilmu juga memiliki perbedaan substansial.

Bahasa Iman cenderung memutlakan apa yang dipercayai. Sedangkan, bahasa Ilmu dibangun di atas fenomena, fakta, premis dan kaidah ilmiah dengan terma-terma serta metodologi dan metode Ilmiah yang dimaknakan sesuai bidang ilmu, dan dengan proposisi yang berprobabilitas, yang dapat menjadi sarana penalaran dan dialog mencari titik temu.

Dengan demikian, dalam pendekatan berpikir, menalar dan menyimpulkan, setiap orang perlu bertanya, apakah saya sedang menggunakan bahasa TUHAN atau bahasa IMAN atau bahasa ILMU tentang TUHAN, iman dan mujizat?

Kedua, TUHAN, KESEMBUHAN ALLAHI DAN COVID-19

Patutlah diingat, bahwa TUHAN Allah yang berdaulat sedang dalam pengendalian atas semua ciptaan-Nya. Pada sisi lain, perlulah ditanyakan, apakah TUHAN mengisinkan wabah Covid-19 dan mengapa hal ini terjadi?

A. TUHAN dan wabah:

Dalam Alkitab, wabah telah dipahami sebagai bagian dari Covenant TUHAN dengan umat-Nya, yang melibatkan “berkat” (Ulangan 28:1-14) dan atau “hukuman” atau “kutuk” (Ulangan 28:15-68). Dari perspektif ini, wabah, secara khusus tercatat dalam Ulangan 28:21-22, sebagai hukuman TUHAN.

Di sini muncul pertanyaan, apakah Covid-19 adalah hukuman TUHAN atas dunia, umat manusia, masyarakat umum atau pribadi dan atau orang Kristen? (Ulangan 28:21-22; II Samuel 24:14; I Tawarikh 21:11-13).

Pertanyaan lain ialah, apakah Covid-19 ini adalah tanda akhir zaman? (Wahyu 6:8). Jawabannya ialah bahwa penghakiman serta penghukuman adalah hak TUHAN dan semua tindakan-Nya ada pada diri-Nya yang berdaulat. Bagi orang Kristen, jawaban “ya” yang kesusu, dapat berarti mengambil hak TUHAN Allah.

Karena patut ditanyakan, siapa yang berhak untuk mengangkat siapa, menjadi jurubicara Allah atau menjadi hakim atas nama TUHAN? Atau menjadi nabi yang bernubuat atas nama TUHAN? Perlulah disadari bahwa pengalaman Covid-19 ini terjadi dari pihak TUHAN untuk mewujudkan rencana-Nya yang kekal bagi umat-Nya dan seisi dunia.

Kita hanya diingatkan bahwa Covid-19 adalah “tanda-tanda TUHAN” dan kita bertanggung jawab menjadikannya sebagai pelajaran kehidupan, yang belajar dari hidup tentang hidup untuk hidup. Di samping itu, pengalaman ini juga membuat kita waspada dalam iman serta teguh dalam pengharapan akan kedatangan TUHAN Yesus Kristus.

Kita tidak berhak untuk mengambil hak TUHAN dengan menghakimi mereka yang tertular Covid-19. Semua tentu terjadi atas kehendak Allah (Roma 8:28) dan kemanfaatan dari pengalaman Covid-19 hanya dapat dipahami oleh mereka yang mengalaminya.

Covid-19 dapat juga dilihat sebagai cara TUHAN Allah memberkati dunia ciptaan-Nya (Common Grace) yang membawa pemulihan semesta, dan cara IA menuntun kehidupan umat-Nya (Special Grace) untuk menyiarahi anugerah-Nya demi mewujudkan Amanat Agung yang kekal guna memberkati dunia (Matius 28:18-20).

Pada sisi lain, Covid-19 bagi mereka yang meninggal adalah “cara wafat” yang telah ditetapkan TUHAN bagi semua orang sebagai makluk ciptaan-Nya. Di sini kita hanya dapat berkata, TUHAN memberi, TUHAN mengambil, segala puji bagi DIA (Ayub 1:21). Biarlah TUHAN Allah dimuliakan (Roma 11:36), dan kita terhindarkan dari sikap menghakimi sesama.

B. TUHAN dan kesembuhan allahi:

Perlulah ditegaskan bahwa TUHAN Allah berdaulat dan Mahakuasa, yang dapat melakukan apa pun sesuai kehendak-Nya. Masalah yang timbul adalah bahwa ada sementara orang Kristen yang tidak mempercayai mujizat dan menolak kesembuhan illahi (allahi). Dapat diduga bahwa pandangan ini tidak menempatkan TUHAN Allah sebagai berdaulat dalam arti yang sesungguhnya.

Pada sisi lain, ada orang Kristen yang mengklaim Janji TUHAN (Yohanes 14:12-14) sebagai janji kuasa melakukan hal besar, termasuk mujizat. Istilah “melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar” di sini, dapat menimbulkan perbedaan tafsir, yang mempengaruhi iman dan sikap. Bagi mereka yang menghubungkan pekerjaan besar dengan mujizat, harus disadari bahwa “mujizat adalah cara TUHAN Allah bekerja” dan pelayanan kesembuhan adalah bagian dari “karunia mujizat” yang dipercayakan TUHAN (I Korintus 12:9-10).

Dari sisi ini, setiap orang Kristen yang mengatakan bahwa ia dikaruniai karunia kesembuhan dan atau karunia mengadakan mujizat harus menyadari bahwa semua ini adalah sepenuhnya anugerah dan hak TUHAN.

Karena itu siapa pun yang mengklaim dikaruniai karunia kesembuhan dan karunia mengadakan mujizat, hendaklah bertanggung jawab melaksanakannya dengan hormat, rendah hati, dan takut akan TUHAN, karena pekerjaan ROH KUDUS tidak dapat dicopy paste. Sebaliknya mereka yang tidak menerima tafsir ini, kiranya berbijak hati untuk tidak menghakimi.

C. TUHAN dan Covid-19:

Dipahami, bahwa TUHAN Allah dapat mengadakan mujizat dan menghentikan atau membiarkan Covid- 19 menghancurkan dunia, bahwa semua ini adalah urusan-Nya, karena IA berdaulat ada-Nya. Dalam hubungan ini, jika TUHAN Allah menghendaki, IA dapat menghentikan Covid-19 sekarang, mau pun kapan-kapan, sesuai kehendak-Nya.

Apakah orang Kristen dapat berdoa dan memohon TUHAN menghentikan Covid-19? Ya, orang Kristen harus berdoa (I Tesalonika 5:17-18; Efesus 6:19-20), namun doanya haruslah doa iman yang menegaskan, “kehendak-Mu jadilah, di bumi seperti di sorga” (Matius 6:9-10), dan taat menunggu jawaban TUHAN.

Dalam kaitan ini, orang Percaya memiliki jaminan berdoa dan jawaban doa bagi perlindungan dari TUHAN Allah (Mazmur 91). Pada sisi lain, ada tanggung jawab yang harus dilakukan demi mengalami janji perlindungan-Nya dengan mempercayai dan mengharapkan pertolongan Allah.

Sebagai contoh, ada janji, “mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan kena celaka,” – orang Kristen yang menggunakan bahasa iman, dengan serta merta berkata, padaku ada kuasa, aku tidak takut dipagut ular dan tidak takut minum racun … sila! Lihat saja apa akibatnya. Iman kepada janji TUHAN selalu disertai dengan tanggung jawab taat demi berbuat kebenaran, yang tidak sama dengan mendemo kuasa atas nama TUHAN.

Ingatlah juga bahwa konteks janji di atas adalah dalam kaitan dengan “tanggung jawab taat menjalankan Amanat Agung , memberitakan Injil Yesus Kristus.” Dalam ketaatan kepada TUHAN-lah maka IA menggenapkan janji-Nya, melindungi dari racun mau pun sengatan ular (Banding: KPR 28:1-6).

Dengan demikian adalah merupakan tanggung jawab orang percaya untuk berdoa bagi kesembuhan dari Covid-19, bahkan mengharapkan mujizat TUHAN. Pada sisi lain ada juga tanggung jawab menjalankan peran sipil, menjaga jarak, menjaga kesehatan, melindungi diri dan tinggal di rumah, menanti jawaban TUHAN atas ancaman Covid-19. Semua ini punya tempat, berkepatutan dan sinkron satu kepada yang lainnya.

KESIMPULAN

Percakapan tentang TUHAN, iman, mujizat dan Covid-19 masih menyisahkan pertanyaan yang harus terus dikaji guna berbagi jawaban. Mencerahkan dan menggorak hubungan TUHAN, iman, mujizat kesembuhan dari Covid-19, maka ada beberapa catatan yang perlu ditoreh ulang:

Pertama, Kita harus selalu mempertanyakan diri sendiri, jika saya menggunakan istilah TUHAN, iman dan mujizat kesembuhan allahi atas Covid-19, apa yang saya maknakan, serta apa perbedaannya dengan orang lain? Jawaban positif atas pertanyaan di atas merupakan pencerminan sikap yang berterima, dan dapat menghadirkan sikap saling menghargai.

Kedua, TUHAN Allah adalah berdaulat, karena itu, IA dapat melakukan apa pun, termasuk mujizat kesembuhan dari Covid-19, bahkan menghentikan atau membiarkan Covid-19 berlanjut. Tanggung jawab Kristen adalah menghormati TUHAN, taat kepada-Nya, mengimani janji-Nya dan tekun berdoa memohon belas kasihan serta perlindungan-Nya dengan penuh keyakinan, bahwa mujizat dapat terjadi, Covid-19 pasti berlalu
pada waktu TUHAN, sehingga nama-Nya dimuliakan, dan janji-Nya genap atas umat-Nya. Semua ini mengimpartasi ajaran dari hidup dengan TUHAN, untuk hidup bagi DIA dan menjadi kesaksian kepada dunia.

Ketiga, Adalah merupakan tanggung jawab serta peran sipil Kristen yang tidak boleh diabaikan, yaitu taat kepada Pemerintah (Roma 13:-5), bekerja sama untuk menerapkan physical and social distancing, jaga kesehatan (pakai masker, cuci tangan, makan sehat) dan tinggal di rumah demi mengatasi Covid-19 secara bersama. Hm, perlu terus direnungkan dan dielaborasi …

Selamat memahami TUHAN dengan cara TUHAN melalui iman dan pengharapan yang teguh bahwa Covid-19 pasti berlalu …

Salam kerja sama,

www.yakobtomatala.com

FIRMAN TUHAN:

“Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang” (Kolose 4:6; I Petrus 3:15-16)

Catatan: Ayat-ayat di atas ini adalah dasar bagi Teologi Apologetika. Dalam hubungan dengan diskursus Pengantar Teologi ini, maka setiap pengguna harus bertanya, “siapa yang berhak memakainya, bagaimana menerapkannya dan digunakan untuk apa serta kepada siapa?”

Pengantar

Berbicara tentang TUHAN Allah, dapat dianalogikan dengan empat orang buta yang memegang sesuatu dari seekor gajah (ekor, kaki, badan dan belalai) dan masing-masing mempercayai, menjelaskan serta mempertahankan apa yang mereka pegang sebagai kebenaran tentang sang gajah.

Dalam kaitan ini, mereka akan mempercayai, menjelaskan dan mempertahankan “apa yang mereka pikir” bahwa itu dan ini adalah segalanya tentang gajah. Apa yang terjadi? Mereka masing-masing benar, karena gajah memiliki ekor, kaki, badan dan belalai.

Namun mereka tidak benar semuanya, karena gajah tidak sekedar ekor, kaki, badan atau belalai. Gajah ternyata memiliki diri yang “lebih lengkap” dari apa yang dapat dipahami, dipercayai, dijelaskan dan dipertahankan.

Dengan analogi ini, dapat diajukan pertanyaan, “Apa dan bagaimana menjelaskan hubungan TUHAN ALLAH dan Covid-19?” Mengapa TUHAN seolah membiarkan Covid-19, serta seolah tidak mendengar doa dan mengatasinya bagi orang Kristen?

Sudah lama Steven Covey mengangkat pertanyaan sementara orang Kristen yang bertanya tatkala menghadapi ancaman hidup: “Apakah TUHAN menyembunyikan diri, tidak mau mendengar doa, bahkan tidak adil dan membiarkan orang Kristen menderita?” Dalam upaya menjawab pertanyaan ini, maka ada beberapa hal yang dapat direnungkan.

Pertama, TUHAN ALLAH YANG BERDAULAT DAN CARA MEMAHAMI DIA

TUHAN Allah Alkitab adalah berdaulat, yaitu “Allah yang ADA dan ber-ADA dengan sendiri-Nya serta IA-lah sumber dan penyebab azali dari semua yang telah ada, sedang ada dan yang akan ada.”

TUHAN Allah yang berdaulat adalah kekal abadi, Yang ESA, yang menyatakan diri sebagai TUHAN Allah – FIRMAN Allah – ROH Allah, Tritunggal yang ESA.

TUHAN Allah yang ESA, memiliki kehendak yang berdaulat, yang sama selaras dalam diri-Nya, kehendak-Nya, dan tindakan-Nya Yang sempurna.

TUHAN Allah yang berdaulat menyatakan hakikat-Nya (substansi, esensi, dan eksistensi) yang kekal dengan atribut-Nya yang Maha Sempurna dan Tindakan-Nya yang Maha Lengkap, yang menggungkapkan kesempurnaan diri-Nya.

TUHAN Allah adalah Maha Benar, Maha Adil, Maha Baik dan Maha Kasih Yang dinyatakan-Nya dalam kesempurnaan diri serta penyataan-Nya pada lintasan sejarah.

TUHAN Allah yang Maha Sempurna hanya dapat dipahami melalui penyataan diri-Nya (self revelation) yang sempurna untuk dan demi dipahami secara lengkap.

A. TUHAN Allah yang menyatakan diri

Melihat kebenaran tentang hakikat TUHAN Allah yang diuraikan sebelumnya, maka dapat ditegaskan bahwa TUHAN hanya dapat dipahami melalui penyataan diri-Nya (Self Disclosure) dan pernyataan-Nya (Self Discourse).

Pernyataan dan pernyataan TUHAN adalah sesuai kehendak-Nya yang berdaulat, yang dikerjakan-Nya melalui ROH-Nya yang Kudus, yang dinyatakan-Nya di dalam dan melalui konteks faktual (konteks hidup, konteks peradaban, sejarah, kebudayaan dan masyarakat serta konteks kerterjadian dan konteks perbahasaan serta pengalaman iluminatif) untuk dipahami secara benar dalam situasi kekinian sejarah masa lampau, di mana IA menyatakan diri dan berfirman kepada Para Nabi, Penulis dan Umat-Nya.

Puncak penyataan diri TUHAN Allah adalah TUHAN Yesus Kristus, FIRMAN Allah yang Kekal yang menjadi Manusia Kristus, yang berinkarnasi berkenosis secara kontekstual (Yohanes 1:1-18; Ibrani 1:1-4; Filipi 2:1-11), sebagai Penyataan Diri-Nya yang sempurna lengkap, dan tertinggi, serta terakhir (Wahyu 22:18-19).

B. Cara MANUSIA memahami TUHAN Allah

TUHAN Allah yang berdaulat dalam penyataan-Nya (revelation) bekerja di dalam dan melalui konteks kehidupan manusia. Penyataan TUHAN ini diwujudkan melalui penyataan-Nya (Self Disclosure) di mana IA membuka Diri kepada umat-Nya dalam konteks nyata, seperti kepada Adam, Nuh, Abraham, Samuel, Hakim-hakim, Saul, Daud, Salomo, Para Nabi, dan Para Rasul.

Pernyataan Diri TUHAN selalu disertai dengan Pernyataan-Nya (Sabda-Nya, Discourse-Nya), guna menyampaikan kehendak-Nya yang khusus pada situasi khusus, dengan cara yang kontekstual untuk dipahami secara nyata dalam konteks kehidupan penerima Firman yang disampaikan-Nya.

Dalam kaitan ini, cara penerima Sabda memahami TUHAN Allah adalah kontekstual, yang melibatkan “worldview, konsep, nilai dan cara pandang” yang juga kontekstual.

Sejalan dengan ini, cara memahami TUHAN Allah yang kontekstual juga menjelaskan bahwa penerima Firman Allah terkondisi oleh kebudayaan-Nya, sehingga perspektif pemahaman Sabda selalu antroposentris, antroposelfis, dan antropografis, yang nyata serta tampak melalui penulisan dan tulisan atau teks-teks suci dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Dari sini, para pembaca dan penafsir Alkitab harus mendekati Alkitab dengan bertanya, “Apa maksud kekal TUHAN Allah melalui teks Firman-Nya dalam suatu konteks sejarah di mana IA bersabda?

Bagaimana penerima atau penulis Firman memahami dan menulis Sabda TUHAN yang diterimanya dalam konteksnya? Apa konteks sejarah, budaya, masyarakat, dan peristiwa khusus di sekitar teks yang disabdakan-Nya?

Apa maksud TUHAN Allah yang tertuang dalam teks (bahasa) dengan perbahasaan (cara membahasakan) yang digunakan penerima atau penulis Firman dalam konteksnya?” Pertanyaan-pertanyaan ini dan jawabannya adalah cara memahami TUHAN Allah melalui teks-teks suci, dalam cara yang sepatutnya.

C. Kesepakaan dan ketidak sepakatan orang Kristen tentang TUHAN Allah

Berdasarkan observasi, kesepakatan dan ketidak sepakatan orang Kristen dalam berteologi tentang TUHAN Allah, didasarkan atas fakta berikut:

1) Pendekatan berteologi yang antropomorfisme, sehingga perbahasaan tentang TUHAN Allah terikat dengan analogi manusia yang digunakan untuk berbicara menjelaskan tentang TUHAN Allah seperti manusia (berteologi yang antropomorfisme);

2) Orientasi berteologi yang sudah berakar dan terpola dalam sejarah kekristenan, yang memperlihatkan adanya perbedaan ajaran (doktrin), cara pandang, tekanan dan sikap ortodoksi dan ortopraksis yang ketat;

3) Cara berteologi yang memberdaulatkan atau memutlakan ajaran (Doktrin atau Dogmatika) tentang TUHAN Allah bukan tentang TUHAN Allah, siapa DIA dan apa DIA ada-Nya sesuai Alkitab;

4) Pendekatan berteologi yang “antropologisme,” sebagai cara yang bertentangan dengan pendekatan berteologi yang “teologisme,” yang bertitik tumpuh awal pada TUHAN Allah sesuai kesaksian Alkitab tentang Penyataan dan Pernyataan Allah, bukan apa dan bagaimana pemahaman sektarian tentang TUHAN;

5) Kebiasaan berteologi yang tidak membedakan Teologi sebagai Ajaran (Teologi Dogmatika) yang sudah dipatrikan, diterima, dan diajarkan yang dipertahankan mati-matian, dan Teologi sebagai Ilmu (Teologi Ilmu dan atau Ilmu Teologi), yang terbuka bagi diskursus (discourses, dialogues, debating, etc) tentang fakta (premis) Alkitab dengan metodologi dan metode ilmu yang standar, berlandaskan Filsafat Ilmu (Scene of Philosophy, bukan Philosophy Science) untuk menemukan dan menetapkan proposisi (rumusan penyimpulan) teologi;

6) Ketidak pedulian yang tidak dapat membedakan “bahasa Iman” atas ajaran yang cenderung dimutlakkan, dan dipertahankan mati-matian, dibanding dengan “bahasa Teologi” sebagai ilmu yang mengandung probabilitas ilmiah yang dapat disiskusikan atau didebatkan.

7) Arogansi berteologi yang cenderung membenarkan diri, membela pandangan sendiri dan mendiskreditkan orang atas nama kemurnian ajaran Kristen dan kesucian TUHAN;

8) Akhirnya, perlu ditanyakan, “siapa yang memberi hak dan ororitas atas semua ini untuk bersikap dan mengklaim atas nama TUHAN ?”

Kedua, TUHAN ALLAH YANG BERDAULAT DAN TINDAKAN-NYA YANG SEMPURNA

TUHAN Allah yang berdaulat bekerja menurut rencana-Nya yang kekal dan mewujudkannya dengan sempurna.

A. TUHAN Allah yang berdaulat bekerja menurut rencana kekal-Nya
TUHAN Allah bekerja berdasarkan kedaulatan dan rencana-Nya yang kekal dan bertujuan. TUHAN Allah yang berdaulat dalam mewujudkan rencana-Nya yang kekal, “selalu menyatakan” (dalam Alkitab) dan atau “tidak menyatakan” (hanya ada pada diri-Nya, lihat Ulangan 29:29). Sebagai contoh:

1) TUHAN Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan umat-Nya, di mana salah satunya terlihat pada wabah Covid-19;

2) Maksud TUHAN tidak selalu dinyatakan “hitam-putih” untuk diketahui, antata lain: “Apakah wabah Covid-19 adalah hukuman dan murka TUHAN atas dosa satu atau sekelompok orang?

Apakah wabah Covid-19 adalah tanda terakhir akhir zaman? Apakah wabah Covid-19 adalah hukuman TUHAN atas orang Kristen yang tidak taat?

Apakah wabah Covid-19 adalah keputusan cara mati yang diizinkan TUHAN?

Apakah wabah Covid-19 adalah bencana yang akan menghancurkan dunia? Kalau pun Anda menjawab Anda tahu, siapa yang Memberi otoritas kepada Anda untuk bicara atas nama TUHAN?

Setiap jawaban berani atas pertanyaan-pertanyaan di atas adalah probabilitas yang kemungkinan salahnya besar, karena semua adalah rahasia TUHAN;

3) Orang Kristen diajar untuk berdoa, “kehendak-Mu jadilah, di bumi seperti di sorga,” yang ujungnya adalah kemuliaan bagi TUHAN Allah, karena itu, jangan mendahului Dia. Nantikanlah Dia yang akan bertindak pada waktu-Nya. Kenyataan dalam berteologi adalah “kita hanya mengerti kehendak TUHAN Allah yang kekal, sesudah kita mengalami pengalaman TUHAN dalam segala peristiwa, termasuk Covid-19”;

4) Orang Kristen harus berdoa, untuk berserah diri dan memohon belaskasihan serta perlindungan dan tindakan TUHAN atas ancaman Covid-19, dan TUHAN Allah yang menjamin perlindungan, dan berkusa mengadakan mujizat kesembuhan pada waktu-Nya;

5) Orang Kristen harus mempercayai TUHAN Allah, dimana percaya tidaklah sama dengan berusaha mengatur TUHAN dan cara-Nya bekerja melalui seperangkat doa, ajaran dan sikap iman, karena orang Kristen bertanggung jawab mengimani dan menanti jawaban Allah atas doanya secara sabar dan tekun.

B. TUHAN Allah yang berdaulat bekerja mengelola ciptaan-Nya secara universal, korporat dan prifat atau individu

Berdasarkan pemahaman tentang TUHAN Allah seperti yang telah diuraikan di atas, dapat dikatakan bahwa wabah Covid-19 adalah cara TUHAN Allah mengelola alam ciptaan-Nya, yang diwujudkan-Nya secara unik, universal untuk dialami dunia, korporat untuk dialami
kelompok masyarakat; dan partikular untuk dialami setiap pribadi.

Pemahaman cara dan maksud kerja TUHAN adalah “sesudah pengalaman berlalu” dan setiap orang memaknai serta membuat refleksi atas pengalaman Covid-19 sesuai pengalamannya, yang tidak bersifat normatif bagi orang lain.

C. Pertentangan kesetiaan berteologi yang historis

Kenyataan menunjukkan bahwa orang Kristen memiliki kecenderungan mempertahankan dan mendebatkan ajaran apa pun dari kesetiaan berteologi (theological allegiances) sesuai tradisi teologi, bukan membela kebenaran tentang TUHAN Allah “an sich” berdasarkan Alkitab.

Kesetiaan berteologi ini memiliki beberapa kecenderungan:
1) Memutlakkan Penafsiran sendiri yang seolah menggangap diri sebagai juru tafsir Alkitab yang lebih benar, lebih otoritatif, lebih berkuasa dari orang lain;
2) Seolah mengangkat diri menjadi “jurubicara” TUHAN yang memonopoli “hak berbicara atas nama Allah”;
3) Seolah mengangkat diri menjadi “nabi” untuk berbicara atas nama TUHAN;
4) Seolah mengangkat diri menjadi “hakim” untuk menghakimi atas nama Allah; menetapkan siapa benar (diri) dan siapa yang salah (orang lain)
5) Seolah kehilangan rasa kemanusiaan dan solidaritas kekristenan, dengan bertepuk dada, lupa bedoa, memohon berkat …
Akh, ini uraian yang berkepanjangan … namun, siapa yang memberi hak dan otoritas atas semua sikap ini?

KESIMPULAN
Uraian dalam diskursus ini tidak berkesimpulan, hanya mengandung keprihatinan untuk mengajak:

Pertama, Biarlah TUHAN Allah tetap TUHAN Allah, dan belajarlah untuk memahami Dia secara “an sich” Dia, siapa dan apa ADA-Nya menurut Dia dan Sabda-Nya, serta jangan mengecilkan Dia menjadi sesempit otak manusia yang karatan karena dosa.

Kedua, Belajarlah untuk tidak mengambil hak TUHAN Allah dengan memutlakan diri sebagai “nabi” yang berbicara atas nama-Nya dan atau menghakimi sebagai “hakim” yang cenderung membenarkan diri menyalahkan orang lain.

Ketiga, TUHAN Allah berdaulat dan Mahakuasa, dan IA dapat menghentikan wabah Covid-19, bahkan mengadakan mujizat sesuai kehendak-Nya, pada waktu-Nya.

Keempat, TUHAN Allah berdaulat menjawab doa dengan mengadakan mujizat atau tidak samasekali, dan semua terjadi atas kehendak-Nya, sehingga tidak ada yang berhak menghakimi sesama dengan mengambil hak TUHAN sambil mengatakan “harus terjadi” atau “tidak ada mujizat” …

Kelima, Covid-19 ada dalam tangan TUHAN Allah yang berdaulat, yang akan bertindak pada waktunya untuk menghentikan atau meneruskannya, demi mewujudkan rencana-Nya yang kekal bagi isi dunia, Anda dan saya.

Keenam, Sebisanya, janganlah menganggap diri sebagai nabi atau hakim, tetapi jadilah orang Kristen yang bijak, saleh dan setia, yang tidak menggurui atau menghakimi atas nama TUHAN.

Ketujuh, Bersiaplah senantiasa serta siaga menanti TUHAN yang akan beracara …!

Salam dan doa bagi kesehatan serta kesejahteraan dan keselamatan semua …

www.yakobtomatala.com

TUHAN Yesus Kristus bersabda: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5:9)

Shalom!

Beberapa catatan, menyikapi polemik Dogmatika di Medsos:

Sebagai Umat Allah, kita harus berbuka hati dan menyadari bahwa:

Pertama, Situasi Covid-19 dan keadaan dunia saat ini, membuat kondisi tidak kondusif untuk meresponi pernyataan dogmatis apa pun, satu kepada yang lain, dengan “berdebat atau menyerang” ajaran orang lain. Di sini tidak ada yang menang, karena “Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak” (Amsal 25:11, dan lagi, “Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang” (Amsal 16:24)

Kedua, Kalau pun masing-masing mengklaim kebenarannya, tetap saja kedua belah pihak sama-sama kalah dan pada gilirannya sama-sama salah serta sama-sama terluka, dan sama-sama kehilangan damai (Yesaya 32:17). Ingatlah bahwa “Debat Dogmatika (ajaran yang dianut) tidak akan selesai dengan menang – kalah”

Ketiga, Semua pihak harus menahan diri dan kembali ke basis, mewujudkan panggilan Gereja: Memelihara kesatuan, memupuk persekutuan, menguatkan kesaksian bersama, memurnikan pemberitaan, dan menjadi instrumen pembangunan guna membangun sesama dan menjadi berkat kepada dunia, dalam satu TUHAN, satu kasih, satu iman dan satu pengharapan dalam membangun Tubuh Kristus (Efesus 4:1-16), karena “Gereja ada di dalam dunia, gereja ada untuk menjadi berkat kepada dunia” (Yohanes 17:18: 20:21)

Keempat, Pilihan terbaik adalah bersikap bijaksana (dengan integritas teguh: benar, baik, adil, tulus, jujur, mengasihi dan lemah lembut), mengedepankan sikap bijak serta arif berpikir, berkata dan bertindak (Yesaya 32:8; Filipi 4:5,8-9), sehingga semua menjadi berkat satu kepada yang lain, supaya orang lain diberkati …

Kelima, Sebagai orang Kristen, kita harus mengedepankan kasih persaudaraan dan tanggung jawab menjaga perdamaian serta mengalahkan kejahatan, jangan saling membinasakan (Roma 12:9-22; 14:8-12; I Yohanes 4:7-12; Galatia 5:14-15), agar kita dapat memberi teladan iman dan menjadi berkat bagi dunia ke mana Gereja terutus oleh TUHAN-nya (Matius 28:18-20)

Dengan demikian, “kiranya kita bersabar hati satu dengan yang lain dan saling mengampuni di dalam Kristus Yesus TUHAN kita” (Kolose 3:12-13), lalu, “biarlah damai sejahtera Kristus memerintah hati kita demi memenuhi panggilan-Nya” karena: “Gereja ada di dalam dunia, gereja terutus untuk menjadi berkat kepada dunia” …
Kiranya …….!

Dalam doa untuk kedamain bagi semua, karena “jika kita membawa damai, kita memberkati sesama, dan kita pasti berbahagia” (Matius 5:9)

Bersatu demi memenangkan pertarungan atas Covid-19

Selamat Paskha 2020

www.yakobtomatala.com

Teks: Yosua 1:7-9; Mazmur 91; Wahyu 1:17-18

Pengantar

Takut dan rasa takut adalah hal yang normal bagi setiap orang. Pada sisi lain, ketakutan biasanya disebabkan oleh adanya sesuatu yang dianggap lebih besar serta lebih kuat yang mengancam, apakah dari dalam atau pun dari luar.

Hal terpenting yang harus ditegaskan adalah bagaimana kita menyikapinya dari perspektif Alkitab, sehingga kita dapat mengatasi ketakutan dalam kehidupan kita. Teks Alkitab dari Yosua dan Mazmur memberi landasan bagaimana mengatasi ketakutan, yaitu antara lain:

Pertama, MEMEGANG JAMINAN TUHAN MENGHADAPI KETAKUTAN (Yosua 1:7-8)

A. Jaminan TUHAN (Maz 46:2) adalah tempat perlindungan dan kekuatan kita, karena itu jangan takut, IA menyertai kita (Yosua 1:7-9)

B. Perlindungan TUHAN
TUHAN Allah adalah jaminan kekuatan dan perlindungan kita, karena itu jangan takut (Mazmur 91:9-13)

C. Kecukupan TUHAN adalah jaminan kecukupan kita, karena itu, jangan takut, “kuatkan dan teguhkan hati mempercayai Janji TUHAN” (Yesaya 33:15-16)

Implikasi:

TUHAN Allah yang Mahakuasa adalah jaminan perlindungan dan kekuatan serta kecukupan kita yang akan menyertai kita melewati tantangan apa pun, termasuk wabah Covid-19 (Mazmur 23:1-4).

Karena itu kita harus “menguatkan dan meneguhkan hati kita” dalam menghadapi tantangan Covid-19. Ingatlah TUHAN Allah melindungi kita, jadi, jangan kecut dan tawar hati (Amsal 24:10). Percayalah bahwa TUHAN Yesus menyertai kita, karena IA adalah IMANUEL, yang lebih berkuasa dari kuasa apa pun (Matius 1:23)

Kedua, TANGGUNG JAWAB MEMPERCAYAI PENYERTAAN TUHAN (Yosua 1:9)

A. Percaya kepada TUHAN Allah berarti mempercayai DIA dengan segenap hati, tidak bersandar pada kekuatan sendiri (Amsal 3:5-8)
B. Percaya pada TUHAN Allah berarti melakukan Firman-Nya dengan tekun, tidak melupakan serta memperkatakannya (Yosua 1:7-9; Amsal 3:1-4; Filipi 4:8-9)
C. Percaya kepada TUHAN adalah melakukan yang IA kehendaki, tidak sekedar mendengar, tetapi taat dan bertindak melakukan Firman dengan setia (Matius 7:24-27)

Implikasi:

Percaya kepada TUHAN Allah berarti bersandar kepada janji Firman-Nya dengan sungguh-sungguh. Kuasa dan kekuatan TUHAN meneguhkan yang menaati Firman-Nya dengan melakukan apa yang diperintahkan-Nya. Jika TUHAN bersabda, “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah” (Yohanes 5:7), maka yang percaya dan taat, akan dikuatkan untuk bangun, angkat tilam, berjalan dan sembuh!”

KESIMPULAN

Ada banyak ancaman hidup termasuk wabah Covid-19 yang dapat membuat kita takut serta ketakutan, tetapi TUHAN Allah memastikan bahwa ada jalan bagi kita untuk tidak takut dan tidak gentar.

Menghadapi ketakutan atas ancaman hidup serta ancaman Wabah Covid-19, TUHAN Allah memberikan jaminan yang meneguhkan pengharapan kita kepada, untuk tidak takut, karena:

Pertama, Kita diminta memegang jaminan TUHAN Allah yang Mahakuasa yang adalah tempat perlindungan dan kekuatan kita, sehingga DIA pasti memihak kita serta menjadikan kita sebagai Pemenang dalam menghadapi wabah Covid-19 (Roma 8:28-37)

Kedua, TUHAN Allah menghendaki agar kita mempercayai DIA yang menyertai kita dengan melakukan Firman-Nya serta bertindak, maka kita pasti dikuatkan untuk bangkit menghadapi tantangan dengan berani dan meraih kemenangan atas Covid-19 (Mazmur 60:14; 108:14)

Ingatlah Sabda TUHAN Yesus, “Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan alam maut” (Wahyu 1:17b-18).

“Dengan TUHAN Yesus Kristus yang bangkit, kita adalah pemenang atas Covid-19 dengan tetap berdiri teguh dan tidak goyah” (I Korintus 15:54-58). TUHAN Allah beserta kita.
Amin

Jakarta, 3 April 2020
Pelayanan Firman,
Pdt. Yakob Tomatala

www.yakobtomatala.com

Pengantar

Ralph W. Emerson mengatakan bahwa “Anda akan selamanya menjadi apa yang Anda katakan.” Prinsip ini menegaskan bahwa “apa saja yang Anda katakan, itulah hati Anda, jiwa Anda, roh Anda, itulah Anda sebenarnya.

Pada sisi lain, “kata dan kata-kata adalah bertuah dan berdampak,” sehingga Raja Salomo mengungkapkan rahasia kekuatan kata-kata, “Dengan mulutnya orang fasik membinasakan sesama manusia” (Amsal 11:9a).

Kebenaran ini menggarisbawahi kenyataan, “jika kata-kata Anda membangun, maka Anda adalah orang bijak” (Amsal 10:20a,21a). Sedangkan “jika kata-kata Anda membinasakan, Anda adalah orang fasik.”

Dalam hubungan dengan kata-kata yang membicarakan Covid-19, terlihat adanya orang yang bersikap tidak peduli dan menyebarkan kata-kata “hoax” yang menimbulkan social phobia dan membuat kuatir serta menghancurkan semangat hidup. Dari sini sudah dapat diramalkan bahwa orang seperti ini berjiwa fasik.

Pada sisi lain, jika Anda adalah orang bijak yang berbudi luhur, Anda tentu memilih untuk menggunakan kata-kata yang membangun sesama (Yesaya 32:8). Kini timbul pertanyaan, bagaimana menggunakan kata-kata bijak yang membangun iman, dan pengharapan demi menguatkan semangat serta keberanian untuk bertarung menghadapi dan mengatasi social phobia dan ancaman Covid-19?

Pertama, GUNAKAN KATA-KATA TUHAN YANG MEMBERKATI
Kata-kata TUHAN Allah yang memberkati, mengadung janji dan jaminan Allah yang menguhkan iman dan harapan umat-Nya.

A. Janji JAMINAN: “Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau ke mana pun engkau pergi” (Yosua 1;9b)

B. Janji PEMULIHAN DARI PERTOBATAN:
“Telah Ku dengar doamu dan telah Ku pilih tempat ini bagi-Ku sebagai Rumah Persembahan. Bilamana Aku menutup langit, sehingga tidak ada hujan, dan bilamana Aku menyuruh belalang memakan habis hasil bumi, dan bilamana Aku melepaskan penyakit sampar di antara umat-Ku, dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka” (II Tawarikh 7:13-14)

C. Janji PENEGUH IMAN DAN HARAPAN: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah Firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yeremia 29:11); dan lagi, “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!” (Yeremia 17:7), karena “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; ….. TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap pada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia” (Ratapan 3:22-23,25)

D. Janji PERLINDUNGAN DAN PERTOLONGAN: “TUHAN itu baik; IA adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; IA mengenal orang-orang yang berlindung pada-Nya dan menyeberangkan mereka pada waktu banjir” (Nahun 1:7-8a)

E. Janji KELEPASAN: “Pecobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu IA tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai IA akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya ( I Korintus 10:13); “Karena itu, ….. berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan TUHAN! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan TUHAN jerih payahmu tidak sia-sia” (I Korintus 15:58)

Ingatlah bahwa: “Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang (Amsal 16:24; 17:22; 18:14a). Ingatlah juga bahwa “dengan Kata-kata TUHAN yang memberkati, Anda memberkati diri sendiri dan menjadi berkat bagi banyak orang!”

Hindarilah janji iman picisan yang memberanikan seperti “jangan takut, mengapa harus mengganti ibadah gedongan dengan ibadah rumah, mengapa harus berhenti berjabat tangan? Karena janji iman tanpa disertai rasa tanggung jawab sipil untuk memutuskan mata rantai Covid-19, dengan gereja keluarga di rumah, jaga kesehatan dan jarak sosial yang aman, adalah janji kecap-kecapan Yang memberikan harapan semu. Dengan demikian, perkatakalah Firman dari hati yang bijak, sehingga TUHAN Allah dimuliakan dan banyak orang diberkati.

Kedua, HINDARI KATA-KATA YANG MENGHIDUPKAN SOCIAL PHOBIA
Phobia adalah kekuatan pengaruh suatu penyebab (apa pun bentuknya) atas jiwa yang menyebabkan rasa takut berlebihan dan kepanikan yang eksesif serta irasional. Dengan demikian social phobia dapat disebut sebagai suatu aspek sosial yang membawa pengaruh yang mengancam, yang menimbulkan rasa takut serta kepanikan yang berlebihan dan tidak masuk akal.

Pemahaman seperti ini juga dapat dikenakan pada Covid-19 sebagai sumber ancaman, yang diserbar gencarkan oleh media sosial, sehingga menimbulkan kepanikan serius dalam masyarakat, sehingga dapat disebut Covid Phobia atau Corona Phobia.

Dalam menyikapi Covid Phobia sebagai suatu gejala sosial yang menimbulkan rasa takut dan panik dalam masyarakat, maka ada dua pilihan. 1) Besikap tidak sensitif dengan membesar-besarkan berita Covid-19 yang menimbulkan social phobia; atau 2) Bersikap bijak dengan menyampaikan berita benar tentang Covid-19 secara arif demi membangun semangat serta keberanian untuk hidup. Dengan demikian, jika Anda memilih untuk bersikap bijak, maka Anda adalah orang yang berbudi luhur (Yesaya 32:8).

Dalam meminimalisir social phobia karena Covid-19, maka langkah berikut dapat ditempuh:
A. Katakan kebenaran demi kebenaran yang berkeadilan yang membawa damai (Yesaya 32:17; Daniel 12:3).

B. Hindari penyebaran berita yang sumbernya tidak jelas, atau berita hoax (Amsal 12:17-19), karena “Perkataan orang fasik menghadang darah, tetapi mulut orang jujur menyelamatkan orang” (Amsal 22:6)

C. Sebelum Anda menyebarkan berita apa pun, ingatlah kata bijak ini: “Berpikirlah tiga kali sebelum bicara satu kali” karena “Anda punya dua mata, dua telinga, dua lubang hidung dan satu mulut!” Berpikirlah enam kali baru bicaralah satu kali, jika Anda mau memberkati orang dengan kata-katamu. Jangan diobral kata-katanya sebelum dipikirkan, karena: “Juga orang bodoh akan disangka bijak kalau ia berdiam diri dan disangka berpengertian kalau ia mengatupkan bibirnya” (Amsal 17:28).

Ingatlah bahwa jika Anda mengatakan kata-kata kebenaran dengan menghindari berita hoax atau berita yang sumbernya tidak jelas dan berpikir sebelum mengumbar kata-kata, maka Anda telah menolong banyak orang mengatasi social phobia atau Covid Phobia, yang membuat mereka bersemangat dan bangkit berjuang bersama mengatasi Covid-19.

Ketiga, SEBARKAN KATA-KATA PEMENANG IMAN

Ingatlah kebenaran Firman ini, “Sebab itu …. Jika Allah dipihak kita, siapakah yang akan melawan kita? ….. Tetapi dalam semuanya kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh DIA yang telah mengasihi kita” (Roma 8:31,37).

Dengan demikian, dalam menolong dan meneguhkan sesama, gunakanlah kata-kata Pemenang yang menimbulkan keberanian dan semangat juang, “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. ….. karena aku tahu kepada siapa Aku percaya dan aku yakin bahwa DIA berkuasa nemeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari TUHAN” (II Timotius 1:7,12b). Karena itu, bangkitkanlah semangat dan keberanian sesama dengan mengatakan kata-kata pemenang, antara lain, yaitu:
A. Allah semesta langit Dialah yang membuat kami berhasil melewati tatangan Covid-19 (Nehemia 2:20)
B. Katakan kepada Covid-19, “… aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam Allah barisan ‘umat-Nya’ yang kau tantang itu. Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau …” (I Samuel 16:45-46).

REFLEKSI:
Dalam upaya menolong sesama menghadapi tulah Covid-19 dengan mengatasi Social Phobia Covid-19, maka renungkanlah kebenaran ini:

Pertama, Perkatakanlah Firman TUHAN Allah secara benar, yang meneguhkan iman, pengharapan dan menguatkan semangat serta keberanian untuk hidup dalam siarah iman. Ingatlah bahwa “untuk hidup semua orang memerlukan keberanian, karena mati tidak harus berani, dimana takut dapat berarti mati!”

Kedua, Upayakan untuk selalu menghindari kata-kata yang mencipta social phobia yang menimbulkan kepanikan, kekecutan, ketakutan dan kegentaran atas ancaman Covid-19, seperti, “mengerikan, Covid-19 telah menewaskan jutaan orang diseluruh dunia!” Gunakanlah kata-kata informatif yang benar dan dapat dipertanggung jawabkan.

Ketiga, Hidupkanlah kata-kata pemenang yang menguatkan semangat juang untuk bertegar hati, mempercayai TUHAN Allah bahwa “badai pasti berlalu, peperangan pasti berakhir, dengan kememenangan dari pihak TUHAN Allah, bagi kebahagiaan umat-Nya”
Haleluya!!!

Selamat berbijak hati untuk menghidupkan semangat serta keberanian menghadapi Covid-19 mengatasi Social Phobia, dengan kata-kata arif!

www.yakobtomatala.com

Pengantar

Pemazmur dalam Mazmur Nomor 136 menyanyikan kidung pujian yang mengagungkan kebaikan TUHAN Allah kepada umat-Nya dalam lintasan sejarah. Pemazmur mengawali dengan ajakan, “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” (ayat 1). Alasan penting untuk bersyukur kepada TUHAN antara lain, adalah:

Pertama, TUHAN Allah Sang Pencipta adalah Penjamin yang memastikan jaminan bagi kehidupan umat-Nya (ayat 1-9).

Kedua, TUHAN Allah Pencipta, membuktikan bahwa Ia adalah Pembebas yang telah membebaskan umat-Nya dari penindasan di Mesir dan membawa ke Tanah Perjanjian (ayat 10-15).

Ketiga, TUHAN Allah membuktikan bahwa Ia setia memenuhi janji-Nya mengaruniakan tanah terjanji, melindungi dan memberi kemenangan bagi umat-Nya (ayat 16-22).

Keempat, TUHAN Allah membuktikan bahwa Ia adalah Pemelihara dan Pencukup keperluan hidup umat-Nya, dengan terus membebaskan serta mencukupkan (ayat 23-25). Karena itu, ada alasan kuat untuk berseru, “Bersyukurlah kepada Allah semesta langit! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” (ayat 25).

REFLEKSI:
Memahami kebenaran tentang TUHAN Allah Sang Mahabaik ini, maka tatkala menghadapi ancaman Covid-19, kita diingatkan oleh Nabi Nahum yang mengarahkan perhatian kita kepada TUHAN Allah dengan menegaskan, “TUHAN itu baik; IA adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; IA mengenal orang-orang yang berlindung pada-Nya dan menyeberangkan mereka pada waktu banjir” (Nahum 1:7-8a).

Camkanlah bahwa Covid-19 adalah pengingat bagi kita untuk bersandar pada TUHAN Allah, guna meneguhkan iman dan pengharapan kita, karena Ia adalah tempat pengungsian kita dari ancaman kesusahan karena Covid-19.

Ia adalah Pelindung kita, Ia mengenal kita yang berlindung pada-Nya, dan menyeberangkan kita melewati ancaman banjir kekuatan Covid-19, membawa kita ke seberang dengan selamat. Karena itu, jangan kecut hati, jangan takut, TUHAN Allah beserta kita (Yosua 1:9), dan menjadikan kita lebih dari pemenang (Roma 8:37).

Selamat menikmati kebaikan TUHAN Allah Sang Pelindung yang sedang menggendong, menyeberangkan kita melewati ancaman Covid-19. Salam

www.yakobtomatala.com

Pengantar

Ada pernyataan sementara orang bahwa “Gereja dilumpuhkan oleh Covid-19.” Betapa tidak, katanya, “Ini buktinya! Lihatlah, ibadah-ibadah gereja besar pun menjadi lumpuh.” Hm, ini pernyataan yang super skeptis, dan ignoran akan “TUHAN Allah yang berdaulat” dan yang “bekerja dalam segala sesuatu demi kebaikan umat-Nya, di mana segala sesuatu terjadi sempurna pada waktu-Nya” (Roma 8:28; Pengkhotbah 3:1-8). Ha, ha, ha, ….

Ironis memang, yang terjadi adalah “kantong persembahan menipis, dan pendeta serta pengurus gereja mulai ketar ketir, tentang bagaimana membiayai pengeluaran gereja yang wah …, dan cara hidup yang berlawanan dengan pola Yesus Kristus, yaitu: “memikul salib di atas mobil mercy dan berpelesir atas nama tuhan serta berboros prioritas hidup atas nama dan demi pelayanan” (Lihat: Matius 16:24-26; Markus 10:45).

Ternyata yang benar adalah, Covid-19 adalah “cara dan tangan TUHAN Allah yang secara keras menempeleng gereja agar kembali ke jalan-Nya untuk berjalan sesuai kehendak-Nya.” Covid-19 juga diizinkan TUHAN guna “memberi peluang bagi Gereja menikmati dan menjadi berkat dengan cara yang benar.”

TUHAN Allah yang bekerja dalam segala sesuatu ternyata menghendaki agar umat-Nya memahami Dia dan melihat dunia dengan cara baru, yang selaras dengan kehendak-Nya. Kini timbul pertanyaan, bagaimana memahami TUHAN Allah dengan benar dan melihat dunia dengan cara baru yang berselaras dengan kehendak-Nya?

Pertama, GEREJA TEGUH DAN TIDAK BERUBAH DALAM SEJARAH.

Kenyataan yang terjadi sekarang akibat Covid-19 adalah cara TUHAN Allah untuk membuktikan bahwa Gereja Yesus Kristus teguh dan tidak berubah menyiarahi sejarah dunia. Kebenaran ini telah ditegaskan TUHAN Yesus yang bersabda, “Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasai-Nya” (Matius 16:18). Gereja yang dibangun di atas TUHAN Yesus tidak berubah sedikit pun atas pengaruh Covid-19, karena: “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin, maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibrani 13:8; Wahyu 1:17-18).

Perlulah ditegaskan bahwa “di tengah ancaman Covid-19, Gereja yang hakikatnya kudus tetap kudus, esa, universal (am) dan misioner” (I Petrus 2:9-10; Yohanes 17:18; 20:21). Kebenaran ini memastikan bahwa: “Kehidupan dan ibadah gereja yang rohani, imani, dan sosial kultural tetap sama di tengah dunia serta peradaban yang ter-disrupsi pada Abad XXI” dengan ancaman Covid-19 (Yohanes 4:21-24; Ibrani 10:19-25; 12:28-29).

Kedua, GEREJA DILENGKAPI MENJADI RELEVAN PADA SEGALA ZAMAN.

Covid-19 membuat orang tercengang, karena semua berubah. Tidak ada jabat tangan mesra, yang ternyata munafik. Tidak ada ibadah hura-hura yang ternyata memuaskan hasrat ego. Tidak ada kolekte besar-besaran yang ternyata demi memperkaya, bukan melayani. Gereja dalam hal ini ternyata dipaksa oleh TUHAN untuk menjadi relevan melalui Covid-19, agar kehidupan, iman, dan etika-moral serta misinya kembali sesuai kehendak TUHAN Allah (I Petrus 1:13-16; Imamat 11:44-45).

Melalui pengalaman ini ternyata, Covid-19 adalah cara TUHAN Allah untuk membuat gereja menjadi relevan dengan kembali kepada harkatnya guna menjawab panggilan-Nya “bersekutu (koinonia), melayani (diakonia), bersaksi (marturia), memberitakan Injil (kerygma) dan membangun secara holistik (oikodomen)” dalam dunia yang berubah secara drastis, karena IA bekerja dalam segala sesuatu.

Dalam hubungan ini, Gereja dan orang Kristen harus melihat Covid-19 sebagai cara TUHAN Allah mengelola dan mengkritisi kehidupan umat-Nya agar tetap relevan dalam dunia yang berubah. Orang Kristen harus bertanya, apakah iman dan etika moral saya kudus di tengah dunia yang tidak kudus? Apakah kehidupan gereja menggambarkan adanya tanda TUHAN yang kudus, esa, am dan misioner? Apakah gereja sedang taat dan setia pada panggilannya untuk “bersekutu, melayani, bersaksi, memberitakan Injil serta membangun komunitas umat Allah?”

Covid-19 membuat gereja menjadi sadar dan relevan di hadapan TUHAN Allah, dengan berani mengkritisi diri, mengintrospeksi diri, dan “tidak menghakimi orang lain.” Covid-19 ternyata adalah tangan TUHAN yang membentuk gereja-Nya supaya menjadi kudus, adil serta jujur dengan iman berpengharapan dalam menjalani kehidupannya di bumi secara membumi, sambil menantikan kedatangan TUHAN Yesus yang Ke-2 ke Dunia ini.

Ketiga, GEREJA DIKUATKAN MENJAWAB PANGGILANNYA.

Pada gilirannya, TUHAN Allah memakai Covid-19 untuk menguatkan serta memberkati gereja mengisi dan menikmati kehidupan berkat sesuai Perjanjian Berkat-Nya (Covenant) yang dijanjikan Allah (Ulangan 28:1-14; Galatia 3:29). Dapat dikatakan bahwa Covid-19 adalah “blessings in disguise” dari TUHAN Allah bagi Gereja-Nya.

Lihatlah, bagaimana Covid-19 digunakan Allah guna “merevitalisasi” hubungan orang Kristen dengan TUHAN Allah-nya dengan cara yang semakin mendalam di mana milyaran orang mencari TUHAN secara intens (Mazmur 62:2-3) dengan cara yang benar dalam Roh serta kebenaran (Yohanes 4:23-24) dan sesuai zaman (Yoel 2:28-29; KPR 2).

Ada ibadah keluarga sebagai inti gereja, di mana telah muncul jutaaan pengkhotbah baru dari keluarga dan hubungan dan peran keluarga yang menjadi semakin mesra dan jujur.

Dengan Covid-19, TUHAN juga merevitalisasi semesta, alam, tanah (ekonomi), cara hidup beradab dalam masyarakat, dst. Covid-19 menyadarkan bahwa ternyata dalam kehidupan manusia yang rapuh, ada berjibun kebaikan serta berkat TUHAN yang dapat dilihat dan dinikmati melalui ancaman sampar yang diizinkan ini (Mazmur 136).

Akhirnya, melalui Covid-19, “Amanat Agung Yesus Kristus” terlaksana secara baru dengan dinamika dan jangkauan baru bagi kemuliaan TUHAN Allah (Matius 28:18-20; Roma 11:31). Haleluya!!!

REFLEKSI

Apa yang dapat dipelajari dari Pengalaman Gereja menghadapi Covid-19 ini? Gereja harus belajar dari “pengalaman TUHAN dalam hidup, tentang hidup untuk hidup,” bahwa Covid-19 adalah ikhtiar TUHAN Allah untuk memberkati Gereja-Nya supaya mampu hidup selaras kehendak-Nya dan dapat menikmati serta menjadi berkat dalam arti yang sebenarnya.”

Dengan demikian, dalam menghadapi Covid-19, janganlah panik, jangan takut, dan ingatlah bahwa “jika Anda tawar hati dalam masa kesukaran, maka kekuatanmu menjadi kecil dan rapuh” (Amsal 24:10). “Larilah kepada TUHAN, maka Anda akan memperoleh pertolongan pada waktu-Nya” (Amsal 18:10).

Camkanlah kebenaran ini dalam menghadapi Covid-19:
C = Carilah TUHAN selama IA berkenan ditemui
O = Orang benar akan memperoleh pertolongan TUHAN pada waktu-Nya
V = Vitalisasi TUHAN akan menguatkan untuk menghadapi tantangan
I = Intesitas hubungan dengan TUHAN akan meneguhkan iman, etika moral dan pengharapan
D = Dalam tangan TUHAN kita akan selalu aman dan damai di tengah badai
1 = Angka SATU mutlak adalah SATU TUHAN, SATU Allah, SATU iman, dan SATU pengharapan yang memerdekakan
9 = Angka SATUAN TERBESAR adalah jaminan bekat TUHAN yang melimpah bagi Gereja-Nya melalui Covid-19.

Selamat menikmati berkat TUHAN Allah melalui ancaman Covid-19

www.yakobtomatala.com

Teks bacaan:
Roma 8:28; 11:6; I Raja-raja 22:1-40; Mazmur 91; Yesaya 33:15-16; Ibrani 13:6.

Pengantar
Ada kias dalam dunia militer yang mengatakan bahwa “peluru punya mata”. Apa artinya ini? Sederhana, maknanya ialah, “tidak sembarangan orang akan mati dalam pertempuran.” Jika dilihat dari perspektif Alkitab, kita diajarkan bahwa TUHAN Allah kita berdaulat, dimana IA telah menetapkan segala sesuatu untuk terjadi pada waktunya (Pengkhotbah 3:1-8), untuk memenuhi tujuan-Nya yang kekal.

Tidak terkecuali, ini termasuk Covid-19 yang menakutkan dunia, tetapi “tidak semua dan sembarang orang akan terkena, dan mati.” Lihatlah, Raja Israel Ahab yang menyamar dalam peperangan, tetapi “seseorang yang menarik panah dan menembak dengan sembarangan saja dan mengenai raja Israel (Ahab), dan menewaskannya” (I Raja-raja 22).

Hm … Apakah panah memiliki mata? Karena itu, timbul pertanyaan lain, “Apa yang patut diketahui untuk meneguhkan sikap orang percaya di dalam TUHAN Yesus Kristus menghadapi horor Covid-19 ini?

Pertama, Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, maka IA akan meluruskan jalanmu (Amsal 3:5) dan serahkanlah hidupmu pada-Nya (Mazmur 37:3,5,7), karena dengan kepak-Nya IA akan melindungi engkau, karena DIA-lah yang akan melepaskan engkau dari penyakit sampar, oleh-Nya, jangan takut! Dengan-Nya, walau sepuluh ribu orang rebah di sisimu, itu tidak akan menimpamu (Mazmur 91:3-7). Ingatlah, “Dalam takut akan TUHAN ada ketenteraman yang besar” (Amsal 14:26; Ayub 28:28).

Kedua, TUHAN Allah yang berdaulat, bekerja dalam segala sesuatu, untuk “mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi DIA” (Roma 8:28), dan segala sesuatu telah ditetapkan untuk tujuannya masing-masing (Amsal 16:4a), demi memenuhi maksud Allah, “yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya (Efesus 1:11a) bahkan orang fasik telah ditetapkan-Nya untuk hari malapetaka” (Amsal 26:4b). Ingatlah, bahwa Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus (I Tesalonika 5:9).

Karena itu, “lakukanlah yang benar di mata-Nya, maka Covid-19 tidak akan menimpa kita,” (Keluaran 15:26; Ulangan 7:15), sebab “hanya dekat TUHAN Allah saja kita tenang” (Mazmur 62;2-3), dan dalam naungan-Nya kita terlindung (Yesaya 33:15-16).

Ketiga, TUHAN Yesus Kristus mengingatkan kita bahwa pada akhir zaman akan datang berbagai malapetaka termasuk kelaparan dan sampar, tetapi ini baru permulaan dari tanda kedatangan-Nya (Matius 24:7-8; Wahyu 6:8). Sejalan dengan itu, akan timbul berbagai kejahatan (II Timotius 3:1-5), “tetapi orang yang bertahan sampai kepada kesudahannya akan selamat” (Matius 24:13).

Keempat, Covid-19, bisa jadi adalah peringatan TUHAN Allah, apakah kita termasuk “orang murtad yang saling menyerahkan dan saling membenci (Matius 24:10), karena tidak percaya dan berhati jahat?” (Ibrani 3:12).

Karena itu, waspadalah! Tetaplah berdoa ((I Tesalonika 5:27) dan bertahan ke akhir, “kita pasti terlindung dalam tangan TUHAN Yesus.” “Sebab itu berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran yang benar” (II Tesalonika 2:15), “bertegulah dalam TUHAN, dan berlarilah kepada-Nya, kita pasti selamat.

Karena itu, jangan tawar hati agar kekuatan kita besar dalam menghadapi tantangan. Berdirilah teguh, jangan goyah, karena dalam TUHAN, kita pasti selamat menghadapi semua tantangan” (Amsal 18:10; 24:10; I Korintus 15:58).

Akhirnya, ingatlah bahwa “corona punya mata dan tidak akan mengena sembarangan orang”, ingatlah akan Ahab yang terpanah mati, karena panah punya mata! Sadarlah bahwa TUHAN sedang memegang kendali, dan dalam tangan-Nya kita pasti terlindung.” Mari, ikrarkanlah bersama, “Haleluya! TUHAN adalah Penolongku. Aku tidak akan takut terhadap Covid-19” (Ibrani 13:6). Amin …

Selamat berlindung dalam kepak TUHAN Allah (Mazmur 91).

www.yakobtomatala.com

Pengantar

Konsep dan gagasan HD harus dipahami dan dirumuskan secara benar dan tepat, sebagai landasan bagi tindakan yang benar. Dengan demikian Pemahaman Alkitabiah tentang HD adalah sebagai berikut:

Pertama, HD didasarkan pada Mandat Shalom yang adalah SATU yang menyeluruh (holistik) sehingga dapat disebut “Mandat Pemuridan, Mandat Rohani, Mandat Sosial, Mandat Politik, Mandat Ekonomi, Mandat Pendidikan, Mandat Kebudayaan, Mandat Teknologi, Mandat Bisnis”, dan seterusnya yang memberi otoritas bagi pelayanan gereja dalam segala bidang hidup.

Kedua, Dengan demikian, HD harus dipahami sebagai “Pemuridan Menyeluruh yang melengkapi gereja menjadikan semua warganya MURID Kristus, guna melaksanakan Amanat Agung dalam segala bidang kehidupan”.

Ketiga, HD harus meneguhkan gereja melaksanakan panggilannya yang melibatkan: Persekutuan (bersekutu, bersatu dalam iman dan pengharapan); Pelayanan – (melayani sesama dan yang lain) berlandaskan kasih untuk saling memberkati; Kesaksian – bersaksi (mengamalkan kehidupan berdasarkan ajaran dan cara hidup Kristus di tengah keluarga dan masyarakat); Pemberitaan – memberitakan (Menyebarkan Injil Yesus Kristus memenangkan jiwa dalam keluarga, gereja dan masyarakat); dan Pembangunan (membangun dalam segala bidang: rohani, sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan, politik, bisnis, dst).

Keempat, Semua program gereja harus “terfokus pada Penginjilan” (Misi, PI, Penanaman Gereja, Pertumbuhan Gereja), dengan memuridkan semua anggota Gereja guna menerapkan dan mewujudkan panggilan membawa shalom dalam semua bidang hidup.

Kelima, HD harus dilaksanakan dengan menjawab kebutuhan nyata pada setiap konteks, semisal: “Jika ada orang lapar, beri dia makan, sebagai cara hidup ber-PI, menghadirkan cara hidup Yesus, yang menyiapkan jalan bagi pemberitaan Injil”. Jangan dibalik, jangan dimanipulasi!

Keenam, HD mengharuskan kehadiran gereja dengan menyiapkan (training) komponen “Human Capital Kristen 4.0” sebagai aktivis untuk berkipra dalam segala bidang hidup, termasuk dalam bidang politik, mewujudkan partisipasi bersinergi dengan Pemerintah, menjadi Wakil Rakyat di Parlemen, menjadi Pengurus Partai Politik, dsb, menandahadirkan kesaksian Kristen.

Ketujuh, HD sebagai “Cara hidup total Gereja” meneguhkan orang Kristen untuk Menyadari, “Siapa dirinya (utusan Kristus); mengapa dia ada (terutus oleh Allah); untuk apa (memberitakan Injil); mau ke mana (membawa orang kepada Kristus); dan bagaimana (secara holistik dalam semua bidang hidup, di mana saja ia berada), sehingga Gereja memenuhi panggilan misionernya. Kiranya!

Salam Amanat Agung
www.yakobtomatala.com

Pengantar

Holistic Discipleship (HD) adalah “pemuridan holistik”, yang hakikat, cara, dan penerapannya juga bersifat holistik (menyeluruh dan total). Jika dipahami bahwa Discipleship adalah holistik (holistic), maka turunannya haruslah juga holistik. Dalam kaitan ini, “Holistic Discipleship” harus dipahami sebagai panggilan tugas Gereja, karena alasan berikut:

Pertama, HD bersumber dari Mandat Shalom, Mandat Misi yang SATU, yang menyentuh segala bidang hidup (Kejadian 1:28; Matius 28:18-20). Kedua, HD dengan ini harus dipahami dan didefinisikan secara holistik, yang mewadahkan penyentuhan segala bidang hidup.

Ketiga, HD melibatkan tugas besar mewujudkan Amanat Agung Yesus Krisus, melalui Panca Tugas Gereja, yaitu: Bersekutu, melayani, bersaksi, memberitakan dan membangun.

Keempat, HD dalam penerapannya yang menyentuh semua bidang hidup harus terfokus pada Penginjilan melalui Gereja, dan Penanaman Gereja yang menghasilkan pertumbuhan Gereja.

Kelima, HD dalam penerapannya dengan pendekatan holistik, harus meresponi tuntutan kebutuhan konteks lokal, regional, nasional dan internasional.

Keenam, HD dari sudut pandang di atas ini mengharuskan Gereja merumuskan peran dan respon tanggung jawabnya, termasuk dalam bidang politik.

Ketujuh, HD pada gilirannya harus mencapai idealisme TUHAN Allah, yang mengharuskan Gereja menerapkan HD sebagai cara hidup total (the total life way) untuk menghadirkan misi shalom yang holistik secara mendunia serta membumi, karena “gereja ada di dalam dunia, dan terutus kepada dunia” untuk menghadirkan Yesus Kristus, Juruselamat, Pemilik Shalom (Yohanes 17:18, 20-21; 20:21; 14:6, 27; Matius 1:21; 5:9; KPR 4:12).

Salam Amanat Agung!
www.yakobtomatala.com