Archive for the ‘Articles’ Category

MEMBANGUN SIKAP: APAKAH ANDA PERCAYA KEPADA ORANG DI SEKITAR ANDA

… Yesus sendiri tidak mempercayakan diri kepada mereka, karena Ia mengenal mereka semua” (Yohanes 2:24).

PENGANTAR

Apakah Anda cukup mempercayai orang-orang di sekitar Anda? Apakah mereka dapat dipercayai? Apakah mereka mempercayai Anda? Semua pertanyaan ini dapat menjurus kepada mendorong sikap mencurigai orang yang ada di sekitar kita. Tentu saja tidak. Orang berpandangan bahwa mencurigai itu salah. Ini benar. Tetapi apakah sikap tidak cepat percaya juga mutlak salah? Sebaliknya, apakah sikap cepat percaya itu mutlak benar? Mari kita pertanyakan terus. Apakah Anda dapat mempercayai orang begitu saja? Apakah Anda mau mempekerjakan orang yang tidak dikenal dengan serta merta? Apakah untungnya percaya dan tidak percaya kepada orang yang ada di sekitar Anda? Apakah Anda memahami sejauhmana mempercayai seseorang, bagaimana mempercayainya dan sejauh mana pula dampak dari mempercayai itu bagi diri serta kepemimpinan Anda? Simaklah:

Read the rest of this entry »

SEBERAPA PENTINGNYA KOMITMEN DALAM KEPEMIMPINAN

…. kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati ” (Ester 4:16d).

PENGANTAR

Komitmen kepemimpinan merupakan faktor penting yang meneguhkan pemimpin dan orang yang dipimpin dalam suatu organisasi menjalani tanggung jawab kepemimpinan yang diembannya. Apa sesungguhnya komitmen itu dan apa hubungannya dengan keberhasilan kepemimpinan? Istilah komitmen atau commitment berasal dari kata commit, committen (istilah Latin, commitere) yang berarti to bring together.

Istilah ini berakar dari kata com yang berarti together, dan mittere yang artinya to send. Istilah komitmen di sini lebih berarti sedang membawa bersama, atau sedang memeteraikan bersama, atau berjanji bersama untuk melakukan sesuatu yang dianggap penting dan merupakan kepentingan bersama. Read the rest of this entry »

Pemimpin Tidak Tercela

RENUNGAN

“… orang yang menghendaki jabatan penilik (pemimpin) jemaat menginginkan pekerjaan yang indah” (I Timotius 3:1).

Teks        : I Timotius 3:1-7 (Keluaran 18:17-23)

Tema       : “Menjadi Seorang Pemimpin Gereja yang tidak tercela dan dihormati.”

Sub-tema : Rahasia hidup sebagai Pemimpin gereja yang memiliki integritas teguh

PENGANTAR

Seorang pemimpin sejati, sejatinya memiliki integritas yang teguh. Secara umum telah dibuktikan bahwa faktor integritas ternyata menentukan delapan puluh lima persen dari keberhasilan seorang pemimpin. Kini kita bertanya, apa sesungguhnya makna integritas itu? Arti dasar dari integritas atau integrity ialah “jujur dan dapat dipercaya.” Integritas juga menunjuk kepada arti “quality of being complete,” suatu kualitas hidup yang sempurna dan lengkap. Dalam perspektif Alkitab berdasarkan pandangan Rasul Paulus, integritas berbicara tentang adanya “semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan, dan patut dipuji, …..” (Filipi 4:8), sehingga kedekatannya dengan TUHAN dan kebaikannya diketahui (Filipi 4:5). Kebenaran ini menegaskan tentang hakikat dan indikator integritas seorang pemimpin sebagai kualitas hidup rohani. Kualitas hidup rohani ini adalah dasar bagi kehidupan seluruhnya. Perjanjian Lama, dalam Keluaran 18:21 secara khusus menegaskan tentang kisi integritas yang harus ada pada seorang pemimpin, yaitu “integritas diri” (cakap), “integritas rohani” (takut akan Allah), “integritas sosial” (dapat dipercaya), “integritas ekonomi” (benci pengejaran suap), dan “integritas kerja” (menjadi pemimpin). Di sini sangatlah terlihat betapa integritas itu penting bagi seorang pemimpin, khususnya pemimpin rohani. Read the rest of this entry »

MEMBANGUN SIKAP: APA BENAR TIDAK ENAK JADI BAWAHAN

Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka” (Ibrani 13:17a).

PENGANTAR

Menjadi bawahan sering dianggap sebagai nasib, atau takdir yang tidak nyaman. Apa benar ya? Sebagai individu, kepribadian semua orang selalu disertai oleh kehendak. Kehendak (inner will) ini adalah jati diri yang adalah kuasa yang ada di dalam diri. Kehendak biasanya menampakkan diri dengan kemauan untuk berkuasa. Kemauan berkuasa ini akan mendorong untuk berupaya menguasai dengan berusaha memiliki. Jadi rasa tidak enak menjadi seorang bawahan itu adalah karena dorongan kuasa – kehendak yang tidak kesampaian. Namun, menjadi bawahan sesungguhnya memiliki kemanfaatan besar bagi setiap individu. Alasan utamanya ialah karena “dengan menjadi bawahan yang taat, ada harapan kuat bagi Anda untuk menjadi pemimpin kelak.”

  1. MENJADI BAWAHAN ITU ANUGERAH. Seseorang yang menjadi bawahan adalah anugerah dari TUHAN Allah. Menjadi bawahan adalah anugerah, karena TUHAN Allah memberikan kesempatan untuk mengabdi (Yohanes 3:27). Kebenaran ini menegaskan bahwa seseorang yang menjadi bawahan adalah karena dialah yang punya tempat khusus dalam rencana Allah untuk menjadi pemimpin kelak (Yeremia 1:5; Yosua 1:1-18; I Samuel 3:1-4:1a; 16:1-13; dsb). Setiap orang yang menjadi bawahan harus menyambutnya dengan rasa syukur. Dengan sikap rasa syukur ini, seorang bawahan tidak terjebak dalam sikap fatalistik. Ia yang bersyukur juga akan diteguhkan dengan sikap positif atas kesempatan menjadi bawahan. Ia yang beryukur pasti akan dikuatkan untuk menjalankan tanggungjawabnya dengan benar, baik, dan produktif.
  2. MENJADI BAWAHAN ITU KESEMPATAN EMAS. Menjadi bawahan sesungguhnya adalah kesempatan emas. Kesempatan menjadi bawahan adalah emas, bila sang bawahan menyadari bahwa dengan “menjadi bawahan yang baik, ia dapat menjadi pemimpin yang baik kelak.” Dalam kaitan ini, bawahan yang menyadari akan kebenaran ini selalu berupaya menjadikan pemimpinnya sebagai dasar untuk belajar secara vikariat.[1] Belajar secara vicariat ini meneguhkan diri bawahan untuk membangun nilai-nilai kepemimpinan lulur di dalam dirinya. Nilai-nilai ini sekaligus merupakan perangkat falsafah kepemimpinan yang melengkapi, menuntun dan meneguhkan dirinya menjadi pemimpin besar di kemudian hari. Read the rest of this entry »