DEBAT ATAU DIALOG DALAM MEMBUMIKAN KEBENARAN

Firman Allah:
“Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai TUHAN! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat” (I Petrus 3:15).

Pengantar
Kebenaran sejati tidak dapat dimenangkan dengan perdebatan. Alasan memdasarnya ialah bahwa “kebenaran sesungguhnya dapat membuktikan dirinya sendiri sebagai kebenaran” (Yohanes 14:6; Yesaya 32:17; Yohanes 8:30-36,46; 24:27; Matius 5:6,9).

Perlulah dicamkan bahwa dalam kancah pembuktian ajaran atau doktrin sebagai “kebenaran yang dipercayai” dan “kebenaran pengetahuan atau ilmu” atau pun “kebenaran hukum” adalah hal-hal yang berbeda. Semua proses pembuktian ini harus didudukkan pada tempatnya sebagai dasar untuk berdebat, sehingga alur percakapan dapat dipertanggung jawabkan.

Kebenaran ilmu adalah “benar sebatas dirinya sendiri,” yang ditemukan dengan pendekatan berpikir kefilsafatan. Kebenaran hukum dibuktikan dengan fakta hukum yang diteguhkan dengan pendekatan filsafat hukum.

Kebenaran yang dipercayai dari sisi sumber, “dianggap bersifat mutlak, dan didasarkan atas Kitab Suci” sehingga orang akan cenderung tertutup dan ngotot demi mempertahankan apa yang diyakini sebagai kebenaran. Alasannya ialah bahwa kebenaran yang dipercayai dari perspektif pemercaya sangat bersifat subjektif bahkan dianggap hal yang mutlak.

Dalam kaitan ini, kebenaran yang dipercayai harus dihidupi dan disikapi secara persuasif guna mempertahankan dan mengimpartasinya secara efektif.

Dengan demikian, kini timbul pertanyaan: “apakah pendekatan debat diperlukan dalam mempertahankan atau mengimpartasi kebenaran?”

Dalam kaitan ini, pertanyaan khusus yang diajukan adalah, “apakah kebenaran Kitab Suci Injil” harus dipertahankan dengan debat?

Menjernihkan perspektif tentang pertanyaan di atas, maka akan dibahas tentang pokok mengenai debat (debate) dan dialog (dialogue) guna memberikan pencerahan tentang cara terbaik membicangkan apa yang dianggap sebagai kebenaran.

BERDEBAT

Apa sesungguhnya debat atau berdebat itu? Berdebat lebih cenderung dijelaskan sebagai “upaya mempertahankan pendapat dengan menggunakan ‘kebenaran’ sebagai instrumen.”

Orang yang berdebat selalu mendasarkan pendapatnya di atas apa yang disebutnya “prinsip” yang pada dasarnya adalah “pendapat pribadi yang disikapi sebagai benar atau kebenaran.” Debat dalam perspektif ini tidak akan menghasilkan kemenangan atas kebenaran.

Debat di sini adalah upaya untuk mempertahankan diri atau ngotot memegang pendapat sendiri ketimbang kebenaran yang sesungguhnya. Dalam lingkungan kekristenan dikenal dua pendekatan debat.

Pertama, Apologetika. Apologetika adalah pendekatan debat dengan gaya kefilasafaan. Pendekatan ini didasarkan atas penguasaan dan pemahan akan kekuatan kebenaran yang diyakini serta berupaya untuk mempertahankannya secara “defensif.”

Kedua, Polemika. Polemika adalah pendekatan yang berupaya memahami dan menguasai ajaran “lawan debat” dan berupaya untuk menyerang dan menundukkannya secara “ofensif.”

Perlu disadari bahwa dalam perdebatan, kedua pendekatan di atas tidak membuat orang terbuka dan menerima. Alasan mendasarnya ialah bahwa orang yang dikalahkan akan menjadi malu serta marah dan mengambil sikap tertutup.

DIALOG
Apa sesungguhnya dialog itu? Dialog adalah “percakapan dua arah ditujang komukasi dua arah yang terbuka, yang dilandasi sikap menghargai lawan bicara.” Dialog diawali dengan menetapkan pokok percakapan dan kemudian dipresentasi oleh kedua belah pihak.

Selanjutnya diberi peluang kepada kedua belah pihak untuk menanggapi secara terbuka dengan penjelasan rinci. Kesimpulan pendapat dialog dapat saja diterima atau ditolak, namun lawan bicara tidak akan tersinggung karena adanya sikap saling menghormati.

Keuntungan dialog adalah jika kebenaran yang disampaikan menyakinkan, maka lawan akan cenderung mengakui tanpa merasa dipermalukan. Keuntungan lain adalah berdasarkan prinsip komunikasi, jika kebenaran yang sama direnungkan berulang oleh lawan bicara, maka lambat laun ia akan menerimanya. Sebagai contoh, dialog tentang TRITUNGGAL yang adalah doktrin dasar Kristen.

Dialog tentang konsep Tritunggal yang sudah dipahami secara keliru atau disikapi secara negatif oleh lawan bicara cenderung memancing debat. Jangan diteruskan, karena hasilnya sudah bisa diduga atau diramalkan sebelumnya.

Sesungguhnya ada cara lain untuk berdialog tentang Tritunggal. Hal yang harus dipastikan: Pertama, Kembali ke Alkitab dan renungkan ulang cara memahami ajaran Tritunggal. Hal ini tidak akan dibicarakan di sini.

Kedua, Gunakan cara yang benar untuk berdialog.
Ketiga, Pertahankan keyakinan Kristen bahwa Yesus adalah TUHAN dengan sikap lemah lembut, sabar dan hormat kepada lawan dialog.

Keempat, Berikanlah peluang untuk klarifikasi kepada lawan bicara. Kelima, Ingatlah, jangan berupaya “mencari menang” dalam dialog, apalagi dialog seperti ini bertujuan menyatakan kesaksian Kristen.

Prinsip utama yang dikedepankan dalam dialog ialah “mendahulukan rasa hormat dengan sikap lemah lembut dan tidak berupaya untuk menang, tetapi untuk dipahami secara benar dan tepat.”

PROLOG:
Perlulah disadari bahwa “orang hanya akan terbuka untuk menerima apa saja jika ia dengan sadar menyenanginya.” Jika seseorang senang atas apa saja, maka ia akan terbuka untuk menerima, sebaliknya, ia akan menolak apa yang mengganggunya serta menutup diri.

Karena itu, bersikaplah bijak dalam dialog dengan berupaya menghindari perdebatan. Ingatlah, “tidak ada yang menang dalam debat, karena debat membuat orang tertutup, sakit hati dan mempertahankan diri.” Karena itu, gunakanlah dialog untuk berbagi kebenaran secara empatif positif.

Sadarlah bahwa “dialog dari sudut pandang Kristen dituntun oleh kuasa Roh Kudus, sehingga setiap orang akan sentuh TUHAN yang menarik manusia berdosa kepada-Nya” (Roma 1:16-17; 8:15-17, 26; Yohanes 16:6-11; 3:27; 15:16; 10:28-29; 6:47; KPR 13:48).

Akhirnya dapat dikatakan bahwa “Dialog dengan sendirinya adalah “cara terbaik untuk berbagi dan menyebarkan kebenaran secara terhormat.” Selamat berdialog dengan cara berhikmat.

Salam doa,
Yakob Tomatala

Comments (0)
Add Comment