YT Leadership Foundation





Archive for February, 2020

Tapak Sang Sandya Kala yang berurai diri, kembali menapak di Kota Raja Besar, Pusat Perjumpaan Suci

Tapak itu memijak bercak-bercak hitam menoda lorong ber-TUAN dengan “yang jadi” gagal melek, gagal jalan lurus, gagal bangun di atas kaki melunta, memelas harap, menanti tapak Sandya Kala, kala air bergoncang

Namun, rumput bergoyang gagal berkabar tentang desau tapak Sang Abadi menggoncang air, mendebat hati, memupus iman membelenggu harap menanti berjibun tahun, tersisih dalam antrian, menghilang asa, mengelam rasa menanti mendamba tak pasti jadi, datang-Nya Sang Kasap menggoncang air

Yang Abadi tak harus dikejar lewat goncangan air dari Yang Kasap …
Tapak-Nya berdebam dalam hadir Sang Janji dengan Sabda berjawab: “Maukah engkau sembuh?”
Lagi-lagi, percaya dan harap atas Sabda Sang Janji dengan “bangun, mengangkat tilam, berjalan” adalah sembuh

Yang pasti, percaya dan harap, atas Sabda Sang Janji, bangkit serta berjalan memelekkan untuk melihat, menegakkan untuk jalan lurus, mengokoh untuk berkuat di atas kaki Meleceh ulah pengidola “hari suci” gagal gugat “percaya, harap, bangkit dan berjalan, SEMBUH” dari kuasa Sang Abadi dalam Kata Kekal Sang Janji yang pasti jadi, tanpa air bergoncang
Namun besit Pesan Sang Janji, bagi yang sembuh, “jangan berbuat dosa lagi, agar sembuh dan sembuh …”

“Selamat percaya, berharap, bangun, mengangkat tilam, berjalan dan sembuh dalam Kuasa Sang Janji”

www.yakobtomatala.com

Tapak Sang Sandya Kala, Sang Abadi berurai diri di ruang-ruang kehidupan yang terang, yang gelap

Dari ruang gelap di tepi sumur, sampai ke hunian bekas hajatan, dan kini di lapak nelayan
Tapak itu menyampar di baringan pesakitan buah hati kuli istana

Tapak itu menapak ke dalam gelapnya hati, melihat gelap yang gelap, memasgulkan rasa atas yang sekarat, menoreh gundah menantang harap menggugah harapan melihat terang
Karena, tapak dalam hadir Sang Janji berjarak sehari langkahan kaki, menjerat rasa bimbang, melesap rasa percaya, menjerumus ke dalam gelap yang lain

Namun, tapak Sang Janji membesit harapan terang melintas jarak antara yang terang dan yang gelap dengan “percaya”
Percaya mendobrak kelam hati dari Sabda, “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya”
Percaya adalah “pergi” Pergi, adalah menyambut “hidup” dari Sang Janji yang menapak melangkahi jarak, menghadirkan Terang Pemberi Hidup, bagi yang sekarat di tempat gelap
Pergi, adalah jalan melihat hidup, karena Sang Janji adalah Terang Hidup, yang menghidupkan, membinar “Terang Hidup” dalam ruang gelap, “anakmu hidup” …….
Dan, percaya adalah jalan hidup, bagi diri dan keluarga, karena Sang Janji, Sang Terang Hidup sedang menapak masuk ke ruang gelap, memberi Terang bagi yang gelap …

Selamat percaya, pergi, dan menikmati Terang Hidup yang mengatasi gelapnya hidup …

www.yakobtomatala.com

Tapak Sang Abadi tertapak diri di ruang-ruang kehidupan
Tapak lakonan Sang Janji berhengkang dari Kota Damai, menyasar tepi sumur, tempat begundal mengumpet, tergusur …
Dari arena sang kuasa yang satu, ke lahan dipertuan yang lain, melintas petuanan gondokan kebuyutan

Tapak-tapak Sang Abadi mengendus “aroma diskriminasi”
menyusup ruang terata tanah, tepian sumur …
menyentuh rasa rusuh, dalam pinta, “Berilah Aku minum”

Minum…?
Minum, pengorak tabir kisah kasak kusuk lusuh diskriminatif …
“Orang-ku, orang-mu tidak bergaul ….”
Minum, menunjuk Air Hidup, memuas pencari keabadian
Minum, mengurai welas asih Sang Janji, menggilas diskriminasi
Minum, pemuas haus demi mengabadi
Minum, menguak kiat Penyelamat menggapai yang sekarat, mengkangkangi diskriminasi
Minum, merujuk jabat pendamain Sang Abadi, menuntas keperihan keletihan nurani para tersisih
Minum, penguras runyaman rerata keluarga, menjernih pekat rasa rusuh hati berjernih jiwa
Minum, penghadir bebas sang pendosa ditanda kata saksi, “nyata sekarang padaku, bahwa Engkau Jurukata Sang Abadi, Penyelamat Terjanji”
Minum, mematri hati Penyembah dalam Roh, dari yang jadi sang pendosa
Minum, menuntas lerai diskriminasi, menghadir tanya berjawab, “Mungkinkah Dia Yang Diurapi itu?”
Minum, menghubung serpihan diskriminasi berjawab bagi Sang Janji, “Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kau katakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia”

Minum, merujuk “welas non-diskriminatif Sang Abadi”, Keselamatan karya Sang Janji menuntas rasa pahit sang terpinggir, menjadi “Sahabat Sang Abadi” tanpa embel diskriminasi …

“Selamat berjabat damai dengan Sang Janji, Sang Abadi – di ruang tanpa diskriminasi” …

www.yakobtomatala.com

Tapak Abadi Sang Sandya Kala berkelana di Kota Raja Besar di mana Penyuka Langit mencari Sang Langit, dengan bertandang ke hunian Guru Besar

Penyuka Langit, berceloteh tentang Langit, mencari Tapak-Nya bagai tanah berhasrat air dengan melangit dan menjadikan Langit Nan Abadi bersemi, bersemayam di benak nan kesempitan

Dalam Sang Janji, Sang Guru Besar,
Sandya Kala Berkuliah tentang menjadi Warga Langit yang hanya ditapak lewat rahim,
jalan yang memporanda nalar lurus

Hm, bagaimana mungkin…?
Iya, Langit tidak tertekuk
Langit adalah Desau Bayu, mengigau kuping, kasat dipandang, muskil dipaham
Namun, Langit terlihat pada Tapak Sandya Kala di padang gersang, sebagai solusi bagi kaum beringas yang meranggas dipatuk beludak karena mendebat Sang Langit
Di sini, si beludak tembaga yang dipandang, menyandang pengakuan kemenangan Sandya Kala atas pedusta besar
Dengan “menghadirkan kelepasan dari maut kepada hidup Anugerah Sang Langit”
Inilah jalan rahim yang tak kunjung dipaham

Sekarang, lihatlah Tapak Itu,
Welas Sandya Kala yang tak terukur kepada para yang jadi,
“tertapak dalam hadir Sang Janji, yang memijak lebur kepala beludak di Bukit Tengkorak dan bersabda, sudah selesai”
Inilah retasan jalan rahim ke Langit, dari Penjadi Para Warga Langit, di mana jalan rahim adalah “barang siapa percaya” untuk menapak ke Langit yang dipasti Sang Guru Besar bagi penyuka Langit yang mau berguru tentang Langit!

Masih tak terpaham?
Iya, jalan ke Langit hanya terlihat oleh yang terkasap mata menapak jalan rahim yang tertanda darah Sang Janji yang membuka pintu Langit untuk bercanda dengan Langit

Selamat diberkati, bagi “barang siapa” … yang matanya dicelikkan untuk masuk ke Langit, menapak Tapak Sandya Kala bersama Guru Agung, Sang Janji
Kiranya …

www.yakobtomatala.com