Archive for December 5th, 2009
TUJUH AKSIOMA PEMIMPIN AUTENTIK
“Orang yang hidup dalam kebenaran, ….. dialah sperti orang yang tinggal di tempat aman di tempat-tempat tinggi, ” (Yesaya 33:15-16; daniel 12:3).
Tujuh aksioma kepemimpinan autentik adalah the non-negotiable principles yang harus dipahami dan ada pada seorang pemimpin guna menopangnya mewujudkan kepemimpinan yang sejati. Faktor pemimpin adalah wajib ada dalam kepemimpinan, dimana aksioma ini menempatkan 5 hukum (1-5) yang berkepentingan dengan pemimpin, 1 hukum (6) bekaitan dengan kepentingan hubungan-hubungan, dan 1 hukum (7) berkaitan erat dengan pelaksanaan tugas kepemimpinan.
- PANGGILAN KEPEMIMPINAN. Pemimpin harus dengan rendah hati menerima dan memegang keyakinan kuat bahwa ia dipanggil serta terpanggil TUHAN Allah (leadership calling) untuk masuk ke dalam tugas kepemimpinan yang pasti (Yeremia 1:5), yang diteguhkan dengan kuasa kepemimpinan (leadership power) yang pasti, serta visi, misi, dan fokus yang pasti, guna mengambil tanggungjawab kepemimpinan yang pasti. Keyakinan ini harus didukung oleh pemahaman bahwa sebagai pemimpin, ia dipanggil TUHAN Allah untuk terlibat dalam kepemimpinan (Markus 10:41-42). Pemimpin harus dapat berkata: “Saya yakin TUHAN memanggil dan menempatkan saya dalam tugas kepemimpinan ini, IA memberikan potensi tinggi kepada saya, untuk menjalankan kepemimpinan dengan benar, baik, dan sehat mewujudkan sukses sejati.” Read the rest of this entry »
MEMBANGUN SIKAP: MENJADI PEMIMPIN ADALAH SUATU KEHORMATAN
“Jikalau tidak ada pimpinan jatuhlah bangsa, tetapi jikalau penasehat banyak keselamatan ada” (Amsal 11:14).
PENGANTAR
Apakah benar bahwa seseorang yang menjadi pemimpin adalah suatu kehormatan baginya? Pertanyaan ini menarik untuk disimak, dalam upaya meneguhkan setiap orang yang menjadi pemimpin bijak, guna menjalankan kepemimpinannya secara penuh berkat dan langgeng.
- MENJADI PEMIMPIN ITU KEHORMATAN ATAS PANGGILAN TUHAN ALLAH. Seseorang yang menjadi pemimpin adalah kehormatan karena panggilan dari TUHAN Allah. Kebenaran ini menegaskan bahwa seseorang yang menjadi pemimpin adalah dia yang punya tempat khusus dalam rencana Allah untuk menjadi pemimpin (Yeremia 1:5; Matius 20:23; Markus 10:40; Yohanes 3:27; Banding sebagai contoh: Keluaran 2:23-4:17; Yosua 1:1-18; I Samuel 3:1-4:1a; 16:1-13; dsb). Pemimpin yang terpanggil ini memiliki tempat khusus dalam rencana Allah, yang olehnya ia patut mensyukurinya. Dengan demikian, pemimpin yang memimpin secara sadar bahwa ia terpanggil dan dipercayai TUHAN, maka ia akan bersikap menghargai kepemimpinan pemberian TUHAN itu. Di sini pemimpin harus terus bertanya, apakah TUHAN senang dengan hidup saya dan kepemimpinan saya? Tujuan dari pertanyaan ini adalah untuk terus membenahi hubungan dengan TUHAN. Read the rest of this entry »



